Senin, 30 Maret 2009

4. Sastra Jawa Baru

Sastra Jawa Baru kurang-lebih muncul setelah masuknya agama Islam di pulau Jawa dari Demak antara abad kelima belas dan keenam belas Masehi.
Dengan masuknya agama Islam, orang Jawa mendapatkan ilham baru dalam menulis karya sastra mereka. Maka, pada masa-masa awal, zaman Sastra Jawa Baru, banyak pula digubah karya-karya sastra mengenai agama Islam. Suluk Malang Sumirang adalah salah satu yang terpenting.
Kemudian pada masa ini muncul pula karya-karya sastra bersifat ensiklopedis seperti Serat Jatiswara dan Serat Centhini. Para penulis 'ensiklopedia' ini rupanya ingin mengumpulkan dan melestarikan semua ilmu yang (masih) ada di pulau Jawa, sebab karya-karya sastra ini mengandung banyak pengetahuan dari masa yang lebih lampau, yaitu masa sastra Jawa Kuna.
Gaya bahasa pada masa-masa awal masih mirip dengan Bahasa Jawa Tengahan. Setelah tahun ~ 1650, bahasa Jawa gaya Surakarta menjadi semakin dominan. Setelah masa ini, ada pula renaisans Sastra Jawa Kuna. Kitab-kitab kuna yang bernapaskan agama Hindu-Buddha mulai dipelajari lagi dan digubah dalam bahasa Jawa Baru.
Sebuah jenis karya yang khusus adalah babad, yang menceritakan sejarah. Jenis ini juga didapati pada Sastra Jawa-Bali.
//
Daftar Cuplikan Karya Sastra Jawa Baru
Masa Islam
Kidung Rumeksa ing Wengi
Kitab Sunan Bonang
Primbon Islam
Suluk Sukarsa
Serat Koja Jajahan
Suluk Wujil
Suluk Malang Sumirang
Serat Nitisruti
Serat Nitipraja
Serat Sewaka
Serat Menak
Serat Yusup
Serat Rengganis
Serat Manik Maya
Serat Ambiya
Serat Kandha
Masa Renaisans dan sesudahnya
Serat Rama Kawi
Serat Bratayuda, Kyai Yasadipura
Serat Panitisastra
Serat Arjunasasra
Serat Mintaraga, Ingkang Sinuwun Pakubuwana III
Serat Darmasunya
Serat Dewaruci
Serat Ambiya Yasadipuran, Kyai Yasadipura
Serat Tajusalatin
Serat Cebolek
Serat Sasanasunu
Serat Wicara Keras
Serat Kalatidha, Raden Ngabehi Ranggawarsita
Serat Paramayoga, Raden Ngabehi Ranggawarsita
Serat Jitapsara
Serat Pustaka Raja
Serat Cemporet
Serat Damar Wulan, Raden Panji Jayasubrata, 1871
Serat Darmagandhul
Babad-Babad
Babad Giyanti
Babad Prayut
Babad Pakepung
Babad Tanah Jawi

66 komentar: