Senin, 30 Maret 2009

Tugas terstruktur

Kirimkan tulisan anda pada kolom komentar mengenai hal-hal yang berhubungan dengan
1. Informasi tentang salah satu karya Sastra Jawa Kuna yang belum dibahas dalam blog ini
2. Informasi tentang salah satu karya Sastra Jawa Pertengahan yang belum dibahas dalam blog ini
3. Informasi tentang salah satu karya Sastra Babad di Jawa
4. Informasi tentang salah satu karya Sastra Menak
5. Informasi tentang salah satu karya Sastra Suluk
6. Informasi tentang salah satu karya Sastra Piwulang
7. Informasi tentang salah satu kumpulan Puisi Jawa Modern
8. Informasi tentang salah satu karya Novel Berbahasa Jawa
9. Informasi tentang salah satu karya Drama Berbahasa Jawa
10. Informasi tentang salah satu Pengarang/ Sastrawan Jawa yang produktif beserta karya dan penjelasannya.

Catatan :
Tugas ini merupakan tugas individu yang berbeda antara satu dan lainnya serta wajib dikirimkan oleh setiap mahasiswa peserta kuliah Sejarah Sastra Jawa.

124 komentar:

  1. Adiparwa

    Adiparwa versi Jawa Kuna yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Daerah Tingkat I provinsi Bali
    Adiparwa adalah buku pertama atau bagian (parwa) pertama dari kisah Mahabharata. Pada dasarnya bagian ini berisi ringkasan keseluruhan cerita Mahabharata, kisah-kisah mengenai latar belakang ceritera, nenek moyang keluarga Bharata, hingga masa muda Korawa dan Pandawa). Kisahnya dituturkan dalam sebuah cerita bingkai dan alur ceritanya meloncat-loncat sehingga tidak mengalir dengan baik. Penuturan kisah keluarga besar Bharata tersebut dimulai dengan percakapan antara Bagawan Ugrasrawa yang mendatangi Bagawan Sonaka di hutan Nemisa.
    Bagian-bagian
    Bagian-bagian kitab Adiparwa itu di antaranya:
    Cerita Begawan Ugrasrawa (Ugraçrawā) mengenai terjadinya pemandian Samantapañcaka dan tentang dituturkannya kisah Mahabharata oleh Begawan Waisampayana (Waiçampāyana). Kisah panjang tersebut dituturkan atas permintaan maharaja Janamejaya, raja Hastinapura, anak mendiang prabu Parikesit (Parīkşit) dan cicit Pandawa. Begawan Waisampayana bermaksud menghibur sang maharaja atas kegagalan kurban ular (sarpayajña) yang dilangsungkan untuk menghukum naga Taksaka, yang telah membunuh raja Pariksit.
    Selain itu sang Ugrasrawa juga menjelaskan ringkasan delapan belas parwa yang menyusun Mahabharata; jumlah bab, seloka (çloka) dan isi dari masing-masing parwa.

    Cerita dikutuknya maharaja Janamejaya oleh sang Sarama, yang berakibat kegagalan kurban yang dilangsungkan oleh sang maharaja.

    Cerita Begawan Dhomya beserta ketiga orang muridnya; sang Arunika, sang Utamanyu dan sang Weda. Dilanjutkan dengan ceritera Posya, mengenai kisah asal mula sang Uttangka murid sang Weda bermusuhan dengan naga Taksaka. Oleh karenanya sang Uttangka lalu membujuk Maharaja Janamejaya untuk melaksanakan sarpayajña atau upacara pengorbanan ular.

    Cerita asal mula Hyang Agni (dewa api) memakan segala sesuatu, apa saja dapat dibakarnya, dengan tidak memilah-milah. Serta nasihat dewa kepada sang Ruru untuk mengikuti jejak sang Astika, yang melindungi para ular dan naga dari kurban maharaja Janamejaya.
    Ceritera Astika; mulai dari kisah sang Jaratkāru mengawini sang Nāgini (naga perempuan) dan beranakkan sang Astika, kisah lahirnya naga dan garuda, dikutuknya para naga oleh ibunya agar dimakan api pada kurban ular, permusuhan naga dengan garuda, hingga upaya para naga menghindarkan diri dari kurban ular. Di dalam ceritera ini terselip pula kisah mengenai upaya para dewa untuk mendapatkan tirta amrta atau air kehidupan, serta asal-usul gerhana matahari dan bulan.
    Cerita asal-usul Raja Parikesit dikutuk Begawan Çrunggī dan karenanya mati digigit naga Taksaka.
    Cerita pelaksanaan kurban ular oleh maharaja Janamejaya, dan bagaimana Begawan Astika mengurungkan kurban ular ini.
    Cerita asal-usul dan sejarah nenek moyang Kurawa dan Pandawa. Kisah Sakuntala (Çakuntala) yang melahirkan Bharata, yang kemudian menurunkan keluarga Bharata. Sampai kepada sang Kuru, yang membuat tegal Kuruksetra; sang Hasti, yang mendirikan Hastinapura; maharaja Santanu (Çantanu) yang berputra Bhîsma Dewabrata, lahirnya Begawan Byasa (Byâsa atau Abiyasa) –sang pengarang kisah ini– sampai kepada lahirnya Dhrestarastra (Dhŗţarāstra) –ayah para Kurawa, Pandu (Pãņdu) –ayah para Pandawa, dan sang Widura.
    Cerita kelahiran dan masa kecil Kurawa dan Pandawa. Permusuhan Kurawa dan Pandawa kecil, kisah dang hyang Drona, hingga sang Karna menjadi adipati di Awangga.
    Cerita masa muda Pandawa. Terbakarnya rumah damar, kisah sang Bima (Bhîma) mengalahkan raksasa Hidimba dan mengawini adiknya Hidimbî (Arimbi) serta kelahiran Gatutkaca, kemenangan Pandawa dalam sayembara Drupadi, dibaginya negara Hâstina menjadi dua untuk Kurawa dan Pandawa, pengasingan sang Arjuna selama 12 tahun dalam hutan, lahirnya Abimanyu (Abhimanyu) ayah sang Pariksit, hingga terbakarnya hutan Kandhawa tempat naga Taksaka bersembunyi.
    Catatan: Cerita-cerita ini dianyam dalam bentuk cerita bingkai.
    Ringkasan isi Kitab Adiparwa
    Adiparwa dituturkan seperti sebuah narasi. Penuturan isi kitab tersebut bermula ketika Sang Ugrasrawa mendatangi Bagawan Sonaka yang sedang melakukan upacara di hutan Nemisa[1]. Sang Ugrasrawa menceritakan kepada Bagawan Sonaka tentang keberadaan sebuah kumpulan kitab yang disebut Astadasaparwa, pokok ceritanya adalah kisah perselisihan Pandawa dan Korawa, keturunan Sang Bharata. Dari penuturan Sang Ugrasrawa, mengalirlah kisah besar keluarga Bharata tersebut (Mahābhārata).
    Perhatian: Bagian di bawah ini mungkin akan membeberkan isi cerita yang penting atau akhir kisahnya.
    Mangkatnya Raja Parikesit
    Dikisahkan, ada seorang Raja bernama Parikesit, putera Sang Abimanyu, yang bertahta di Hastinapura. Beliau merupakan keturunan Sang Kuru, maka disebut juga Kuruwangsa[1]. Pada suatu hari, beliau berburu kijang ke tengah hutan. Kijang diikutinya sampai kehilangan jejak. Di hutan beliau berpapasan dengan seorang pendeta bernama Bagawan Samiti. Sang Raja menanyakan kemana kijang buruannya pergi, namun sang pendeta membisu (bertapa dengan bisu). Hal tersebut membuat Raja Parikesit marah. Beliau mengambil bangkai ular, kemudian mengalungkannya di leher sang pendeta.
    Putera sang pendeta yang bernama Srenggi, mengetahui hal tersebut dari penjelasan Sang Kresa, kemudian ia menjadi marah. Ia mengutuk Sang Raja, agar beliau wafat karena digigit ular, tujuh hari setelah kutukan diucapkan. Setelah Sang Raja menerima kutukan tersebut, maka ia berlindung di sebuah menara yang dijaga dan diawasi dengan ketat oleh prajurit dan para patihnya. Di sekeliling menara juga telah siap para tabib yang ahli menangani bisa ular. Pada hari ketujuh, yaitu hari yang diramalkan menjadi hari kematiannya, seekor naga yang bernama Taksaka menyamar menjadi ulat pada jambu yang dihaturkan kepada Sang Raja. Akhirnya Sang Raja mangkat setelah digigit Naga Taksaka yang menyamar menjadi ulat dalam jambu[1].
    Raja Janamejaya mengadakan upacara korban ular
    Setelah Maharaja Parikesit mangkat, puteranya yang bernama Janamejaya menggantikan tahtanya. Pada waktu itu beliau masih kanak-kanak, namun sudah memiliki kesaktian, kepandaian, dan wajah yang tampan. Raja Janamejaya dinikahkan dengan puteri dari Kerajaan Kasi, bernama Bhamustiman. Raja Janamejaya memerintah dengan adil dan bijaksana sehingga dunia tenteram, setiap musuh pasti dapat ditaklukkannya. Ketika Sang Raja berhasil menaklukkan desa Taksila, Sang Uttangka datang menghadap Sang Raja dan mengatakan niatnya yang benci terhadap Naga Taksaka, sekaligus menceritakan bahwa penyebab kematian ayahnya adalah karena ulah Naga Taksaka.
    Sang Raja meneliti kebenaran cerita tersebut dan para patihnya membenarkan cerita Sang Uttangka. Sang Raja dianjurkan untuk mengadakan upacara pengorbanan ular untuk membalas Naga Taksaka. Singkat cerita, beliau menyiapakan segala kebutuhan upacara dan mengundang para pendeta dan ahli mantra untuk membantu proses upacara. Melihat Sang Raja mengadakan upacara tersebut, Naga Taksaka menjadi gelisah. Kemudian ia mengutus Sang Astika untuk menggagalkan upacara Sang Raja. Sang Astika menerima tugas tersebut lalu pergi ke lokasi upacara. Sang Astika menyembah-nyembah Sang Raja dan memohon agar Sang Raja membatalkan upacaranya. Sang Raja yang memiliki rasa belas kasihan terhadap Sang Astika, membatalkan upacaranya. Akhirnya, Sang Astika mohon diri untuk kembali ke Nagaloka. Naga Taksaka pun selamat dari upacara tersebut.
    Wesampayana menuturkan Mahabharata
    Maharaja Janamejaya yang sedih karena upacaranya tidak sempurna, meminta Bagawan Byasa untuk menceritakan kisah leluhurnya, sekaligus kisah Pandawa dan Korawa yang bertempur di Kurukshetra. Karena Bagawan Byasa sibuk dengan urusan lain, maka Bagawan Wesampayana disuruh mewakilinya. Beliau adalah murid Bagawan Byasa, penulis kisah besar keluarga Bharata atau Mahābhārata. Sesuai keinginan Raja Janamejaya, Bagawan Wesampayana menuturkan sebuah kisah kepada Sang Raja, yaitu kisah sebelum sang raja lahir, kisah Pandawa dan Korawa, kisah perang di Kurukshetra, dan kisah silsilah leluhur sang raja. Wesampayana mula-mula menuturkan kisah leluhur Maharaja Janamejaya (Sakuntala, Duswanta, Bharata, Yayati, Puru, Kuru), kemudian kisah buyutnya, yaitu Pandawa dan Korawa.
    Garis keturunan Maharaja Yayati
    Artikel utama: Silsilah Dinasti Kuru dan Yadu
    Leluhur Maharaja Janamejaya yang menurunkan pendiri Dinasti Puru dan Yadu bernama Maharaja Yayati, beliau memiliki dua permaisuri, namanya Dewayani dan Sarmishta. Dewayani melahirkan Yadu dan Turwasu, sedangkan Sarmishta melahirkan Anu, Druhyu, dan Puru. Keturunan Sang Yadu disebut Yadawa sedangkan keturunan Sang Puru disebut Paurawa.[1]
    Dalam silsilah generasi Paurawa, lahirlah Maharaja Dushyanta, menikahi Sakuntala, yang kemudian menurunkan Sang Bharata. Sang Bharata menaklukkan dunia dan daerah jajahannya kemudian dikenal sebagai Bharatawarsha[1]. Sang Bharata menurunkan Dinasti Bharata. Dalam Dinasti Bharata lahirlah Sang Kuru, yang menyucikan sebuah tempat yang disebut Kurukshetra, kemdian menurunkan Kuruwangsa, atau Dinasti Kuru[1].
    Setelah beberapa generasi, lahirlah Prabu Santanu, yang mewarisi tahta Hastinapura. Prabu Santanu memiliki dua istri, yaitu Dewi Gangga dan Satyawati. Dewi Gangga melahirkan Bhisma, sedangkan Satyawati melahirkan Chitrāngada dan Wicitrawirya. Karena Chitrāngada wafat di usia muda dan Bhisma bersumpah tidak akan mewarisi tahta, maka Wicitrawirya melanjutkan pemerintahan ayahnya. Wicitrawirya memiliki dua permaisuri, yaitu Ambika dan Ambalika. Dari Ambika lahirlah Drestarastra dan dari Ambalika lahirlah Pandu. Drestarastra memiliki seratus putera yang disebut Korawaçata (seratus Korawa) sedangkan Pandu memiliki lima putera yang disebut Panca Pandawa (lima putera Pandu).


    Sumber : Wikipedia Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. kami sekeluarga tak lupa mengucapkan puji syukur kepada ALLAH S,W,T
      dan terima kasih banyak kepada AKI atas nomor togel.nya yang AKI
      berikan 4 angka 4189 alhamdulillah ternyata itu benar2 tembus AKI.
      dan alhamdulillah sekarang saya bisa melunasi semua utan2 saya yang
      ada sama tetangga.dan juga BANK BRI dan bukan hanya itu AKI. insya
      allah saya akan coba untuk membuka usaha sendiri demi mencukupi
      kebutuhan keluarga saya sehari-hari itu semua berkat bantuan AKI..
      sekali lagi makasih banyak ya AKI… bagi saudara yang suka main togel
      yang ingin merubah nasib seperti saya silahkan hubungi AKI SOLEH,,di no (((082-313-336-747)))
      insya allah anda bisa seperti saya…menang togel 275
      juta, wassalam.


      dijamin 100% jebol saya sudah buktikan...sendiri....







      Apakah anda termasuk dalam kategori di bawah ini !!!!


      1"Dikejar-kejar hutang

      2"Selaluh kalah dalam bermain togel

      3"Barang berharga anda udah habis terjual Buat judi togel


      4"Anda udah kemana-mana tapi tidak menghasilkan solusi yg tepat


      5"Udah banyak Dukun togel yang kamu tempati minta angka jitunya
      tapi tidak ada satupun yang berhasil..







      Solusi yang tepat jangan anda putus asah....AKI SOLEH akan membantu
      anda semua dengan Angka ritwal/GHOIB:
      butuh angka togel 2D 3D 4D SGP / HKG / MALAYSIA / TOTO MAGNUM / dijamin
      100% jebol
      Apabila ada waktu
      silahkan Hub: AKI SOLEH DI NO: (((082-313-336-747)))






      KLIK DISINI 2D-3D-4D-5D-6D-




      angka GHOIB: singapur 2D/3D/4D/



      angka GHOIB: hongkong 2D/3D/4D/



      angka GHOIB; malaysia



      angka GHOIB; toto magnum 4D/5D/6D/



      angka GHOIB; laos











      Hapus
    2. Buat saudara punya permasalahan ekonomi:hub aki santoro,karna saya sudah membuktikan bantuan aki santoro,yang berminat,silahkan hubungi aki santoro di no:0823 1294 9955, ATAUKLIK DISINI

      Hapus
  2. Nama : Dhesy Purnawati
    NIM : 2102408061



    Kakawin Bhomântaka atau juga disebut sebagai Kakawin Bhomakawya adalah sebuah kakawin dalam bahasa Jawa Kuna. Kakawin ini merupakan salah satu yang terpanjang dalam Sastra Jawa Kuna, panjangnya mencapai 1.492 bait. Isinya ialah kisah cerita peperangan antara Prabu Kresna dan sang raksasa Bhoma.

    1. Masa penulisan dan penggubah syair
    Tidak diketahui kapan kakawin Bhomântaka ditulis. Penulisnya juga tidak diketahui. Namun menurut P.J. Zoetmulder (1974) yang jelas diketahui ialah bahwa kakawin ini merupakan kakawin terpanjang yang berasal dari Jawa Timur dan kemungkinan bisa dijajarkan dengan kakawin Arjunawiwāha untuk masa penggubahan.
    2. Mengenai nama kakawin
    Friedrich, sang pakar sastra Jawa Kuna dari Prusia yang menerbitkan kakawin ini untuk pertama kalinya pada tahun 1852, menyebutnya sebagai kakawin Bhomakāwya. Nama ini memang disebut pada bait ketiga pupuh pertama kakawin ini.. Namun pada kolofon-kolofon naskah-naskah manuskrip nama yang disebutkan adalah Bhomântaka. Selain itu di tradisi Jawa dan Bali nama yang dikenal adalah Bhomântaka pula sehingga para pakar seperti Teeuw (1946, 2005), Zoetmulder (1974), dan Robson (2005) akhirnya menggunakan nama Bhomântaka pula.
    3. Ringkasan
    Di bawah ini ringkasan kisah yang terkandung dalam kakawin Bhomântaka disajikan. Ringkasan dibagi menurut adegan yang termuat.
    3. 1. Pembukaan 1-2
    Kakawin dimulai dengan manggala sang penyair. Prabu Kresna dan saudaranya; Baladewa diperkenalkan. Lukisan ibu kota Dwārawati diberikan; sebuah adegan audiensi dan datangnya tamu dari sorga dilukiskan, di mana mereka meminta perlindungan dari Naraka, sang raksasa.
    Diceritakanlah bagaima sang Naraka dilahirkan sebagai putra batara Wisnu dan batari Pertiwi, oleh karena itu Naraka memiliki nama Bhoma. Bhoma artinya adalah “Putra Bumi”. Lalu ia menjadi raja dan batara Brahma bertitah bahwa ia akan memerintah tiga dunia. Kresna memutuskan bahwa Samba, putra tertuanya akan dikirimkan untuk melindungi para tapa di Himālaya. Kresna mengajarkan Sāmba kewajiban atau dharmanya sebagai seorang anak lelaki.
    3. 2. Kepergian Samba 3-13
    Sāmba bertemu dengan ibunya Jambawatī dan lalu berangkat dari istana. Sang raja memberinya wejangan mengenai dharma seorang ksatria; lalu iapun dan pengikutnya berangkat ke daerah pedesaan.
    Lalu lukisan daerah pedesaan diberikan; mereka bermalam di sebuah pertapaan dan diterima di sana. Para balatentara bercakap-cakap dan bercengkerama. Pertapaan dan daerah pedesaan sampai gunung Himalaya dilukiskan lebih lanjut.
    Pertapaan-pertapaan yang dirusak oleh bala Naraka dilukiskan; para raksasa mencium keberadaan mereka dan menyerang pada malam hari. Terjadilah pertempuran sengit; kaum raksasa berhasil dipukul mundur.
    Samba lalu berlawat pada sebuah pertapaan terpencil dan bercengkerama di sana. Sebuah pertapaan dilukiskan. Sisa-sisa kaum raksasa menyerang kembali; mereka berhasil dipukul mundur oleh para tapa dan Samba. Perjalanan lalu dilanjutkan ke tempat larangan Wiśwamitra; Sāmba disambut di sana.
    3. 3. Dharmadewa dan Yajñawatī 14-29
    Seorang siswa Wiśwamitra, Guņadewa, menceritakan tentang komunitas di pegunungan, termasuk yang sekarang telah ditinggalkan dan sebelumnya dihuni oleh putra batara Wisnu, Dharmadewa yang merupakan kekasih Yajñawatī.
    Sāmba teringat bahwa ia pernah terlahirkan sebagai Dharmadewa dan bagaimana ia meninggalkan Yajñawatī. Ia lalu berusaha keras untuk menemukannya, dan Guņadewa memberinya pelajaran akan anitya. Semetara itu Tilottamā, seorang bidadari datang. Sāmba mengenalnya sebagai dayang Yajñawatī.
    Tilottamā memberi tahu bahwa Yajñawatī telah lahir kembali sebagai seorang putri, namun sekarang ia dicekal oleh Naraka. Tilottamā tahu ia dicekal di mana dan berjanji akan mengantar Sāmba.
    Lalu kecantikan sang putri diperikan; Saharşā berkata bahwa ia sudah datang. Sang putri lalu menyiapkan diri.
    Sāmba dan Tillottamā datang; Tilottamā yang pertama masuk dan mendatangi sang putri yang mengharapkan kekasihnya. Sāmba masuk, namun sang putri kelihatannya enggan menjumpainya.
    Sāmba berusaha keras untuk melayu sang putri dan mengingatkan bahwa mereka pada kehidupan sebelumnya merupakan kekasih. Mereka dipersatukan. Tilottamā merasa cemas, namun Sāmba berkata bahwa ia ingin memerangi para raksasa. Para dayang-dayang masuk dan melihat pasangan ini sedang bermain cinta.
    Dāruki, seorang kusir, masuk dan memperingatkan pangeran Sāmba bahwa mereka dalam keadaan bahaya: para raksasa telah datang. Sāmba meninggalkan sang putri dan pertempuran mulai.
    3. 4. Sang putri dibawa ke istana Bhoma 30-43
    Para wanita menjadi panik dan para dayang-dayang lalu mengungsikan sang putri ke istana Bhoma, Prāgjyotişa. Para raksasa terusir kembali, dan Sāmba lalu mencari kekasihnya lagi.
    Ia berusaha mengejarnya, namun dihalangi oleh Nārada dan menyuruhnya untuk pulang. Pada perjalanan pulang, ia berjumpa dengan Tilottamā dan meminta untuk menyampaikan rasa rindunya kepada sang putri.
    Sang pangeran kembali, namun Krĕsna mencemaskannya. Dāruki berusaha memberi tahu apakah yang telah terjadi. Prabu Citraratha diterima di balai audiensi, dikirim oleh Indra, karena para Dewata terdesak berperang melawan Naraka.
    Sang raja berjanji akan memberikan bantuan dan meminta saran Uddhawa kebijakan apa yang harus diambil. Uddhawa memberi jawaban dengan bicara panjang lebar mengenai kewajiban seorang raja dan bagaimana harus memerangi para raksasa.
    Maka sang prabu memberi perintah untuk bersiap. Dalam waktu tiga hari balatentara Yadu berangkat. Mereka mencapai lereng Himālaya dan membuat sebuah perkemahan di luar pemukiman musuh. Yajñawatī mendengar bagaimana Sāmba telah datang dan mengirimkan Puşpawatī dengan sebuah pesan.
    3. 5. Pernyataan cinta Yajñawati 41-43
    Yajñawatī lalu bercerita akan cinta sang putri dan meminta Sāmba untuk mengambilnya. Hari selanjutnya kaum Yadu menyerang; sesudah sebuah pertempuran sengit, para raksasa melarikan diri.
    Si raksasa Mura menyerang kembali, namun dibunuh dan kaum Yadu memasuki istana. Sāmba hadir dan menemukan Yajñawatī; kaum Yadu lalu pergi.
    3. 6. Sāmba berhasil melarikan Yajñawatī 44-49
    Kaum Yadu sungguh lelah dan mereka berkemah untuk bermalam di daerah Magadha. Prabu Jarāsandha mendengar dan menyerang dibantu oleh selimut kegelapan. Sāmba terluka namun bisa melarikan diri dengan sang putri di dalam keretanya; setelah jauh roda kereta patah. Sang pangeran lalu jatuh terpingsan.
    Yajñawatī menangis; seorang biku lewat dan merasa iba. Ia merasa kasihan atas keduanya dan memandikan sang pangeran dengan air yang dibawa sebagai bekal.
    Sang pangeran siuman dan diurusi di dalam pertapaan. Sāmba bermimpi bahwa Batara Wisnu memberinya jiwa-Nya. Dāruki datang dan bercerita apa yang terjadi terhadapnya, lalu Sāmba kembali ke Dwārawatī dengan Yajñawatī.
    3. 7. Prabu Druma 50-72
    Prabu Druma telah terusir dari negerinya dan sekarang meminta perlindungan Krĕsna. Druma berbicara dengan sebuah dewan penghulu dan Basudewa memberikan sokongannya yang lalu diterimanya. Ia lalu menjelaskan siapa saja yang berada di sisi Bhoma.
    Kaum Yadu menyatakan dukungan mereka dan lalu pergi bercengkerama di gunung Rewataka.
    Seorang gadis, bernama Kokajā, jatuh cinta dan bercerita kepada sahabatnya bahwa ia menggandrungi putra Prabu Druma, Suratha. Lalu sahabatnya pergi mencarinya..
    Isi sebuah surat cinta dilukiskan. Selain itu ada pula lukisan alam. Para selir membicarakan kewajiban mereka.
    Kaum Yadu bercengkerama di gunung Rewataka dan kembali ke negeri.
    3. 8. Pernyataan perang Bhoma 73-84
    Bhoma sungguh murka atas apa yang terjadi dan kembali dari sorga. Ia bercerita kepada Mahodara bahwa ia berencana untuk memerangi Dwārawatī. Ia dibantu oleh Cedi, Awangga, Magadha, dan Kalingga. Bhoma bermusyawarah harus mengambil kebijakan apa. Ia lalu mengirimkan Śatruntapa dan sebagai duta ke Krĕsna untuk mencari tahu apakah ia ingin menyerah atau berperang.
    Para duta datang dan diterima. Śatruntapa berbicara kepada Baladewa dan Kresna, menyampaikan pesan Bhoma. Gada menjawab dan menyangkal semua argumennya. Āhuka (Ugrasena) berbicara dengan damai. Śatruntapa murka dan Mahodara berbicara, diikuti oleh Wabhru. Mereka saling menghina dan para duta pergi menuju sang Bhoma.
    Bhoma menyatakan perang dan mengambil posisi di gunung Rewataka dengan bala tentara raksasanya. Kaum Yadu dan sekutu mereka berkumpul dan mendiskusikan rencana yang harus mereka ambil. Kresna memberikan perintahnya dan para hulubalang telah siap. Malam itu sebuah pesta diberikan.
    Keesokan harinya, pagi-pagi Prabu Kresna didatangi oleh Dewi Ganggā yang telah dikirim oleh para Dewata untuk membawa air dan memandikannya. Kresna lalu berangkat dengan para putranya.
    Bala tentara yang telah berkumpul kelihatan. Tiba-tiba sang resi Durwaśa datang untuk menjumpai Kresna, dan memintanya untuk menyiapkan makanan untuknya. Kresna lalu pergi dan menyerahkan kepemimpinan kepada Arjuna dan Rukma.
    3. 9. Perang di Rewataka 85-113
    Ketika melihat gunung Rewataka, kedua bala tentara berjumpa. Bhoma memerintahkan Cedi, Karna dan Magadha untuk menantang kaum Yadu. Bhoma memiliki tentara berjumlah lima divisi sedangkan kaum Yadu memiliki tiga.
    Para prajurit Bhoma menyerang bala tentara Prabu Bāhlika; bala tentara Cedi menyerang Prabu Drupada; Somadatta bertanding dengan Karna; Windu dan Anuwinda dengan Yawana. Kegelapan menimpa medan pertempuran.
    Pertempuran sengit berlangsung. Maka Suratha terluka parah dan tewas. Prabu Śiśupāla (Cedi) tewas. Karna tewas dibunuh Sāmba. Hiraņya terbunuh. Prabu Magadha yang maju tewas dibunuh Gada. Para raksasa ditahan oleh kaum Yadu.
    Rukma dibunuh oleh Mahodara; Sāmba dan Dāruki dibunuh oleh Bhoma. Arjuna dan Bhoma bertanding; Arjuna sekarat sementara Bhoma bisa sadar.
    Kresna segera diberi tahu yang lalu datang dengan sang Baladewa untuk memerangi para raksasa.
    Dāruki bercerita kepada Krĕsna mengenai rahasia bunga Wijaya Bhoma.
    Arjuna akhirnya tewas. Sang resi Durwaśa datang dan memberi anugerah untuk mengembalikan seorang yang telah tewas; Kresna memilih Prabu Druma. Durwaśa memberikan ajaran kepada Krĕsna dan menghilang. Pertempuran sementara tetap berlangsung. Nisunda dan Pañcajana tewas. Hayagrīwa dan Tāra juga tewas.
    Bhoma dan Kresna berperang; kereta Maņipuşpaka dihancurkan. Kresna mengambil wujudnya sebagai Wisnu, diiringi oleh Garuda, wahananya yang merebut bunga. Bhoma dibunuh oleh Kresna.
    Para raksasa melarikan diri. Baladewa menemukan sebuah gunung permata di angkasa dan mengambilnya. Brahmā datang dan memberikan sembah kepada Kresna sebagai raja utama.
    Dewa-dewa lain datang dan Wisnu memberi ajaran mereka atas dharma atau kewajiban masing-masing. Batara Śakra (Indra) memberi anugerah, sehingga Krĕsna meminta supaya semua raja yang telah tewas dan kaum Yadu dihidupkan kembali, dan tidak melupakan musuh-musuhnya Cedi, Karna dan Jarāsandha.
    Setelah dihidupkan kembali, mereka mengira perang masih berlangsung; Kresna meladeni mantan musuh-musuhnya.
    3. 10. Perang berakhir 114-118
    Kresna berpulang ke Dwārawatī dan asmanya yang termasyhur dikenal kembali.
    Para ksatria diberi penghargaan dan hadiah. Para pangeran diberi anugerah pula; Sāmba juga diberi hadiah dan Suratha diberi seorang tuan putri untuk diperistri. Keberanian Kresna dikenal seluruh dunia. Ia lalu bersanggama dengan empat putri pada waktu yang bersamaan sebagai Wisnu. Semua kasta melaksanakan kewajiban mereka.
    Berakhir di sini.
    4. Ajaran anitya
    Kakawin Bhomântaka sarat dengan ajaran-ajaran yang berhubungan dengan agama Hindu dan Buddha. Salah satu ajaran yang dibahas dalam kakawin ini dan akan dibahas lebih lanjut adalah suatu uraian mengenai "anitya" atau seringkali diterjemahkan dengan “ketidakkekalan” atau “fana” dalam bahasa Indonesia (Inggris impermanence). Ajaran ini terdapat pada pupuh 17 di mana sang Gunadewa yang merupakan seorang putra pertapa mengajari sang Sāmba. Di bawah diberikan kutipan pupuh ini dalam bahasa Jawa Kuna beserta terjemahannya.
    Teks Jawa Kuna Alihbahasa 5. munisuta marma temen sira ri lara narèndrasutângaça Putra sang pertama terharu atas rasa masygul sang pangeran yang besar irika matangguh ujar t-adiwasa bapa denta wimūrcha dahat lalu iapun mengajarinya dan berkata: “Janganlah terlalu bersedih hati bapak. purih ikanang dadi duhkha gatinika matangnyan ade hid.epen sebab duka memang bagian dari kehidupan oleh karena itu janganlah dipikirkan lilang i manah nrepaputra panguşadha sang ārya rikang prihatin hati yang bebas dari hasrat oh sang pangeran itulah obat sakit hati seorang bangsawan. 6. hana laki tatwanikang dadi ginaway anitya dadinya kabèh Wahai anakku, intisari kehidupan ialah bahwa semuanya adalah tidak kekal (anitya) anili-anilih wişaya ng manemu sukha bhinukti mawèh prihati jika seseorang tetap mengambil kenikmatan indria sebagai tujuannya, maka hal yang telah dinikmati akan membawa kesedihan prawalanikā sang angenak-inaki ng anilih sukha mogha jenek tanda seseorang yang secara tenang menerima pengalaman sukacita ialah bahwa ia melakukannya dengan santai sang anemu bhoga ta yan wruha ta sira pinan.d.ita yogya tirun ia yang menikmati kesenangan mengetahui hal ini, maka ia adalah pandai dan patut ditiru 7. lawan ikahen ing wwang akuren apasah ta wasānanikā sedangkan hasil orang menikah ialah akhirnya berpisah
    sihika sināhaken ing pati kalawan inaknya winas.t.a kabèh || cinta dikalahkan oleh kematian dan semua kenikmatannya hilang
    kunang ikanang kari mogha karaketan i ramyaniki n kabharan tetapi yang ditinggalkan bagaimanapun rekat dengan keindahannya dan kewalahan ikang alarê tekaning pati niyata turung wruh ikān mangaji yang tetap bersedih hati sampai mati, jelas belum mengerti pelajaran secara penuh.” 5. Suntingan teks

    Suntingan teks edisi Teeuw dan Robson
    Kakawin Bhomântaka pertama kali diterbitkan oleh sang pakar sastra Jawa Kuna dari Prusia, Friedrich pada tahun 1852 menggunakan aksara Jawa. Namun terjemahan pertama, dalam bahasa Belanda, baru muncul pada tahun 1946 dan digarap oleh Teeuw. Lalu hampir 60 tahun kemudian, Teeuw bersama Robson menyajikan terjemahan dalam bahasa Inggris.

    BalasHapus
  3. Rizka Rosyida1 April 2009 23.01

    NAMA : RIZKA ROSYIDA
    NIM : 2102408042

    Kakawin Sutasoma adalah sebuah kakawin dalam bahasa Jawa Kuna. Kakawin ini termasyhur, sebab setengah bait dari kakawin ini menjadi motto nasional Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika.Motto atau semboyan Indonesia tidaklah tanpa sebab diambil dari kitab kakawin ini. Kakawin ini mengenai sebuah cerita epis dengan pangeran Sutasoma sebagai protagonisnya. Amanat kitab ini mengajarkan toleransi antar agama, terutama antar agama Hindu-Siwa dan Buddha. Kakawin ini digubah oleh mpu Tantular pada abad ke-14.
    ISI
    Buddha berreinkarnasi dan menitis kepada putra raja Hastina, prabu Mahaketu. Putranya ini bernama Sutasoma. Maka setelah dewasa Sutasoma sangat rajin beribadah, cinta akan agama Buddha (Mahayana). Ia tidak senang akan dinikahkan dan dinobatkan menjadi raja. Maka pada suatu malam, sang Sutasoma melarikan diri dari negara Hastina.
    Maka setelah kepergian sang pangeran diketahui, timbullah huru-hara di istana, sang raja beserta sang permaisuri sangat sedih, lalu dihibur oleh orang banyak.
    Setibanya di hutan, sang pangeran bersembahyang dalam sebuah kuil. Maka datanglah dewi Widyukarali yang bersabda bahwa sembahyang sang pangeran telah diterima dan dikabulkan. Kemudian sang pangeran mendaki pegunungan Himalaya diantarkan oleh beberapa orang pendeta. Sesampainya di sebuah pertapaan, maka sang pangeran mendengarkan riwayat cerita seorang raja, reinkarnasi seorang raksasa yang senang makan manusia.
    Alkisah adalah seorang raja bernama Purusada atau Kalmasapada. Syahdan pada suatu waktu daging persediaan santapan sang prabu, hilang habis dimakan anjing dan babi. Lalu si juru masak bingung dan tergesa-gesa mencari daging pengganti, tetapi tidak dapat. Lalu ia pergi ke sebuah pekuburan dan memotong paha seorang mayat dan menyajikannya kepada sang raja. Sang raja sungguh senang karena merasa sangat sedap masakannya, karena beliau memang reinkarnasi raksasa. Kemudian beliau bertanya kepada sang juru masak, tadi daging apa. Karena si juru masak diancam, maka iapun mengaku bahwa tadi itu adalah daging manusia. Semenjak saat itu beliaupun gemar makan daging manusia. Rakyatnyapun sudah habis semua; baik dimakan maupun melarikan diri. Lalu sang raja mendapat luka di kakinya yang tak bisa sembuh lagi dan iapun menjadi raksasa dan tinggal di hutan.
    Sang raja memiliki kaul akan mempersembahkan 100 raja kepada batara Kala jika beliau bisa sembuh dari penyakitnya ini.
    Sang Sutasoma diminta oleh para pendeta untuk membunuh raja ini tetapi ia tidak mau, sampai-sampai dewi Pretiwi keluar dan memohonnya. Tetapi tetap saja ia tidak mau, ingin bertapa saja.
    Maka berjalanlah ia lagi. Di tengah jalan syahdan ia berjumpa dengan seorang raksasa ganas berkepala gajah yang memangsa manusia. Sang Sutasoma hendak dijadikan mangsanya. Tetapi ia melawan dan si raksasa terjatuh di tanah, tertimpa Sutasoma. Terasa seakan-akan tertimpa gunung. Si raksasa menyerah dan ia mendapat khotbah dari Sutasoma tentang agama Buddha bahwa orang tidak boleh membunuh sesama makhluk hidup. Lalu si raksasa menjadi muridnya.
    Lalu sang pangeran berjalan lagi dan bertemu dengan seekor naga. Naga ini lalu dikalahkannya dan menjadi muridnya pula.
    Maka akhirnya sang pangeran menjumpai seekor harimau betina yang lapar. Harimau ini memangsa anaknya sendiri. Tetapi hal ini dicegah oleh sang Sutasoma dan diberinya alasan-alasan. Tetapi sang harimau tetap saja bersikeras. Akhirnya Sutasoma menawarkan dirinya saja untuk dimakan. Lalu iapun diterkamnya dan dihisap darahnya. Sungguh segar dan nikmat rasanya. Tetapi setelah itu si harimau betina sadar akan perbuatan buruknya dan iapun menangis, menyesal. Lalu datanglah batara Indra dan Sutasoma dihidupkan lagi. Lalu harimaupun menjadi pengikutnya pula. Maka berjalanlah mereka lagi.
    Hatta tatkala itu, sedang berperanglah sang Kalmasapada melawan raja Dasabahu, masih sepupu Sutasoma. Secara tidak sengaja ia menjumpai Sutasoma dan diajaknya pulang, ia akan dikawinkan dengan anaknya. Lalu iapun berkawinlah dan pulang ke Hastina. Ia mempunyai anak dan dinobatkan menjadi prabu Sutasoma.
    Maka diceritakanlah lagi sang Purusada. Ia sudah mengumpulkan 100 raja untuk dipersembahkan kepada batara Kala, tetapi batara Kala tidak mau memakan mereka. Ia ingin menyantap prabu Sutasoma. Lalu Purusada memeranginya dan karena Sutasoma tidak melawan, maka beliau berhasil ditangkap.
    Setelah itu beliau dipersembahkan kepada batara Kala. Sutasoma bersedia dimakan asal ke 100 raja itu semua dilepaskan. Purusada menjadi terharu mendengarkannya dan iapun bertobat. Semua raja dilepaskan.
    Penggubah dan masa penggubahan
    Kakawin Sutasoma digubah oleh mpu Tantular pada masa keemasan Majapahit di bawah kekuasaan prabu Rajasanagara atau raja Hayam Wuruk. Tidak diketahui secara pasti kapan karya sastra ini digubah. Oleh para pakar diperkirakan kakawin ini ditulis antara tahun 1365 dan 1389. Tahun 1365 adalah tahun diselesaikannya kakawin Nagarakretagama sementara pada tahun 1389, raja Hayam Wuruk mangkat. Kakawin Sutasoma lebih muda daripada kakawin Nagarakretagama.
    Selain menulis kakawin Sutasoma, mpu Tantular juga jelas diketahui telah menulis kakawin Arjunawijaya. Kedua kakawin ini gaya bahasanya memang sangat mirip satu sama lain.
    Kakawin Sutasoma sebagai sebuah karya sastra Buddhis
    Kakawin Sutasoma bisa dikatakan unik dalam sejarah sastra Jawa karena bisa dikatakan merupakan satu-satunya kakawin bersifat epis yang bernafaskan agama Buddha.
    Penurunan kakawin Sutasoma


    Lontar Sutasoma dari Jawa Tengah dalam aksara Buda.
    Kakawin Sutasoma diturunkan sampai saat ini dalam bentuk naskah tulisan tangan, baik dalam bentuk lontar maupun kertas. Hampir semua naskah kakawin ini berasal dari pulau Bali. Namun ternyata ada satu naskah yang berasal dari pulau Jawa dan memuat sebuah fragmen awal kakawin ini dan berasal dari apa yang disebut "Koleksi Merapi-Merbabu". Koleksi Merapi-Merbabu ini merupakan kumpulan naskah-naskah kuna yang berasal dari daerah sekitar pegunungan Merapi dan Merbabu di Jawa Tengah. Dengan ini bisa dipastikan bahwa teks ini memang benar-benar berasal dari pulau Jawa dan bukan pulau Bali.

    BalasHapus
  4. Nama :Yunus Sofianto
    NIM :2102408044


    Kidung Sunda adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa Pertengahan berbentuk tembang (syair) dan kemungkinan besar berasal dari Bali. Dalam kidung ini dikisahkan prabu Hayam Wuruk dari Majapahit yang ingin mencari seorang permaisuri, kemudian beliau menginginkan putri Sunda yang dalam cerita ini tak memiliki nama. Namun patih Gajah Mada tidak suka karena orang Sunda dianggapnya harus tunduk kepada orang Majapahit. Kemudian terjadi perang besar-besaran di Bubat, pelabuhan tempat berlabuhnya rombongan Sunda. Dalam peristiwa ini orang Sunda kalah dan putri Sunda yang merasa pilu akhirnya bunuh diri. Dalam peristiwa ini terdiri dari tiga bagian sebagai berikut :

    Pupuh I

    Hayam Wuruk, raja Majapahit ingin mencari seorang permaisuri untuk dinikahi. Maka beliau mengirim utusan-utusan ke seluruh penjuru Nusantara untuk mencarikan seorang putri yang sesuai. Mereka membawa lukisan-lukisan kembali, namun tak ada yang menarik hatinya. Maka prabu Hayam Wuruk mendengar bahwa putri Sunda cantik dan beliau mengirim seorang juru lukis ke sana. Setelah ia kembali maka diserahkan lukisannya. Saat itu kebetulan dua orang paman prabu Hayam Wuruk, raja Kahuripan dan raja Daha berada di sana hendak menyatakan rasa keprihatinan mereka bahwa keponakan mereka belum menikah.
    Maka Sri Baginda Hayam Wuruk tertarik dengan lukisan putri Sunda. Kemudian prabu Hayam Wuruk menyuruh Madhu, seorang mantri ke tanah Sunda untuk melamarnya.
    Madhu tiba di tanah Sunda setelah berlayar selama enam hari kemudian menghadap raja Sunda. Sang raja senang, putrinya dipilih raja Majapahit yang ternama tersebut. Tetapi putri Sunda sendiri tidak banyak berkomentar.
    Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil.
    Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “jung Tatar (Mongolia/China) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” (bait 1. 43a.)
    Sementara di Majapahit sendiri mereka sibuk mempersiapkan kedatangan para tamu. Maka sepuluh hari kemudian kepala desa Bubat datang melapor bahwa rombongan orang Sunda telah datang. Prabu Hayam Wuruk beserta kedua pamannya siap menyongsong mereka. Tetapi patih Gajah Mada tidak setuju. Beliau berkata bahwa tidaklah seyogyanya seorang maharaja Majapahit menyongsong seorang raja berstatus raja vazal seperti Raja Sunda. Siapa tahu dia seorang musuh yang menyamar.
    Maka prabu Hayam Wuruk tidak jadi pergi ke Bubat menuruti saran patih Gajah Mada. Para abdi dalem keraton dan para pejabat lainnya, terperanjat mendengar hal ini, namun mereka tidak berani melawan.
    Sedangkan di Bubat sendiri, mereka sudah mendengar kabar burung tentang perkembangan terkini di Majapahit. Maka raja Sunda pun mengirimkan utusannya, patih Anepakěn untuk pergi ke Majapahit. Beliau disertai tiga pejabat lainnya dan 300 serdadu. Mereka langsung datang ke rumah patih Gajah Mada. Di sana beliau menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak pulang dan mengira prabu Hayam Wuruk ingkar janji. Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya vazal-vazal Nusantara Majapahit. Hampir saja terjadi pertempuran di kepatihan kalau tidak ditengahi oleh Smaranata, seorang pandita kerajaan. Maka berpulanglah utusan raja Sunda setelah diberi tahu bahwa keputusan terakhir raja Sunda akan disampaikan dalam tempo dua hari.
    Sementara raja Sunda setelah mendengar kabar ini tidak bersedia berlaku seperti layaknya seorang vazal. Maka beliau berkata memberi tahukan keputusannya untuk gugur seperti seorang ksatria. Demi membela kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi dihina orang Majapahit. Para bawahannya berseru mereka akan mengikutinya dan membelanya.
    Kemudian raja Sunda menemui istri dan anaknya dan menyatakan niatnya dan menyuruh mereka pulang. Tetapi mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani sang raja.
    Pupuh II (Durma)
    Maka semua sudah siap siaga. Utusan dikirim ke perkemahan orang Sunda dengan membawa surat yang berisikan syarat-syarat Majapahit. Orang Sunda pun menolaknya dengan marah dan perang tidak dapat dihindarkan.
    Tentara Majapahit terdiri dari prajurit-prajurit biasa di depan, kemudian para pejabat keraton, Gajah Mada dan akhirnya prabu Hayam Wuruk dan kedua pamannya.
    Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit banyak yang gugur. Tetapi akhirnya hampir semua orang Sunda dibantai habisan-habisan oleh orang Majapahit. Anepakěn dikalahkan oleh Gajah Mada sedangkan raja Sunda ditewaskan oleh besannya sendiri, raja Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya perwira Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara mayat-mayat serdadu Sunda. Kemudian ia lolos dan melaporkan keadaan kepada ratu dan putri Sunda. Mereka bersedih hati dan kemudian bunuh diri. Semua istri para perwira Sunda pergi ke medan perang dan melakukan bunuh diri massal di atas jenazah-jenazah suami mereka.


    Pupuh III (Sinom)
    Prabu Hayam Wuruk merasa cemas setelah menyaksikan peperangan ini. Beliau kemudian menuju ke pesanggaran putri Sunda. Tetapi putri Sunda sudah tewas. Maka prabu Hayam Wurukpun meratapinya ingin dipersatukan dengan wanita idamannya ini.
    Setelah itu, upacara untuk menyembahyangkan dan mendoakan para arwah dilaksanakan. Tidak selang lama, maka mangkatlah pula prabu Hayam Wuruk yang merana.
    Setelah beliau diperabukan dan semua upacara keagamaan selesai, maka berundinglah kedua pamannya. Mereka menyalahkan Gajah Mada atas malapetaka ini. Maka mereka ingin menangkapnya dan membunuhnya. Kemudian bergegaslah mereka datang ke kepatihan. Saat itu patih Gajah Mada sadar bahwa waktunya telah tiba. Maka beliau mengenakan segala upakara (perlengkapan) upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan (niskala).
    Maka raja Kahuripan dan raja Daha, yang mirip "Siwa dan Buddha" berpulang ke negara mereka karena Majapahit mengingatkan mereka akan peristiwa memilukan yang terjadi.

    BalasHapus
  5. Nama : Ayuk Ari Susanti
    NIM : 2102408033
    ROMBEL : 2

    SULUK MALANG SUMIRANG

    Sunan Panggung Sunan Panggung dihukum oleh kraton Demak dengan dibakar hidup-hidup karena dianggap telah melanggar sarak dan menyebarkan ajaran sesat. Saat itu Sunan Panggung memang memimpin barisan oposisi yang selalu mengkritik kebijaksanaan Sultan Demak yang selalu didukung oleh para wali. Kraton Demak berdiri kokoh salah satunya karena sokongan cendekiawan yang tergabung dalam Dewan Wali Sanga. Kitab-kitab yang terbit pada jaman ini yaitu: 1) Suluk Sunan Bonang, 2) Suluk Sukarsa, 3) Suluk Malang Sumirang, 4) Koja-Kojahan, dan 5) Niti Sruti. Pengertian Wali Sanga dapat dipahami secara denotatif maupun konotatif. Dalam pengertian denotatif nama Wali Sanga berarti sejumlah guru besar atau ulama yang diberi tugas untuk dakwah dalam wilayah tertentu. Dalam pengertian konotatif bahwa seseorang yang mampu mengendalikan babahan hawa sanga (9 lubang pada diri manusia), maka dia akan memperoleh predikat kewalian yang mulia dan Selamat dunia akhirat.

    Tanggab Sasmita Tanggap sasmita adalah responsif terhadap informasi simbolik. Orang yang tanggap sasmita mempunyai perasaan yang halus sehingga dirinya mudah menyesuaikan diri. Tanda-tanda yang bersifat semiotis memerlukan ketajaman perasaan untuk menangkap maknanya. Tinggi rendahnya kepemimpinan Jawa salah satunya ditandai dengan kemampuannya dalam mengolah isyarat alamiah. Bahkan untuk memberi instruksi pun kadang-kadang lebih mengena dengan pasemon atau perlambang. Semiotika Jawa mengandung makna yang menekankan pada perasaan. Ada ungkapan ing sasmita amrih lantip berarti supaya dapat menangkap arti simbolik dengan ketajaman batin.

    Suluk Malang Sumirang adalah ajaran Sunan panggung dari Kasultanan Demak. Ajaran ini berupa kritik atau sindiran kepada para ahli Sariat. Selanjutnya Sunan Panggung dihukum denga cara dibakar sebab dianggep menyebarkab aliran sesat.

    Berikut ini petikan Suluk Malang Sumirang :

    PUPUH
    DHANDHANGGULA

    01

    Malang sumirang amurang niti, anrang baya dènira mong gita, raryw anom akèh duduné, anggelar ujar luput, anrang baya tan wruh ing wisthi, angucap tan wruh ing trap, kaduk andalurung, pangucapé lalaluya, ambalasar dhahat amalangsengiti, tan kena winikalpa.

    02

    Andaluya kadadawan angling, tan apatut lan ujar ing sastra, lan murang dadalan gedhé, ambawur tatar-tutur, anut marga kang dèn-singkiri, anasar ambalasar, amegat kekuncung, tan ana ujar kerasa, liwang-liwung pangucapé burak barik, nulya kaya wong édan.

    03

    Idhep-idhepé kadya raryalit, tan angrasa dosa yèn dinosan, tan angricik tan angroncé, datan ahitang-hitung, batal karam tan dèn-singgahi, wus manjing abirawa, liwung tanpa tutur, anganggé sawenang-wenang, sampun kèrem makamé wong kupur kapir, tan ana dèn-sèntaha.

    04

    Angrusak sarak ujar sarèhing, acawengah lan ajar ing sastra, asuwala lan wong akèh, winangsitan andarung, kedah anut lampah tan yukti, mulané ambalasar, wus amanggé antuk, jatining apurohita, marminipun tan ana dèn-walangati, sakèhing pringgabaya.

    05

    Pangucapé wus tanpa kekering, oranana bayané kang wikan, dhateng kawula jatiné, tan ana bayanipun, anging tan wruh jatinirêki, pan jatining sarira, tan roro tetelu, kady angganing reringgitan, duk sang Panjy asusupan rahina wengi, kesah saking nagara.

    06

    Anêng Gegelang lumampah carmin, anukma aran dhalang Jaruman, dèn-pendhem kulabangsané, ndatan ana kang weruh, lamun Panji ingkang angringgit, baloboken ing rupa, pan jatine tan wruh, akèh ngarani dhadhalang, dhahat tan wruh yen sira putra ing Ke1ing, kang amindha dhadhalang.

    07

    Adoh kadohan tingalirêki, aparek reké tan kaparekan, yèn sang Panji rupané, dèn-senggèh baya dudu, lamun sira Panji angringgit, balokloken ing tingal, pan jatining kawruh, lir Wisnu kelayan Kresna, ora Wisnu anging Kresna Dwarawati, amumpuni nagara.

    08

    Wisésa Kresna jati tan sipi, kang pinujyêng jagad pramudita, tan ana wruh ing polahé, lir Kresna jati Wisnu, kang amanggih datan pinanggih, pan iya déning nyata, kajatenirêku, mulané lumbrah ing jagad, angestoken kawignyan sang Wisnumurti, nyatané arya Kresna.

    09

    Mangkana kang wus awas ing jati, oranana jatining pangéran, anging kawula jatiné, kang tan wruh kéngar korup, pan kabandhang idhepirêki, katimpur déning sastra, milu kapiluyu, ing wartaning wong akathah, pangèstiné dèn-senggèh wonten kakalih, kang murba kang wisésa.

    10

    Yèn ingsun masih ngucap kang lair, angur matiya duk lagi jabang, ora ngangka ora ngamé, akèh wong angrempelu, tata lapal kang dèn-rasani, sembayang lan puwasa, dèn-gunggung tan surud, den-senggèh anelamna, tambuh gawé awuwuh kadya raragi, akèh dadi brahala.

    11

    Pangrungunisun duk raré alit, nora selam déning wong sembayang, nora selam déning anggèn, tan selam déning saum, nora selam déning kulambi, tan selam déning dhestar, ing pangrungunisun, éwuh tegesé wong selam, nora selam déning anampik amilih, ing karam lawan kalal.

    12

    Kang wus prapta ing selamé singgih, kang wisésa tuwin adi mulya, sampun teka ing omahé, wulu salembar iku, brestha geseng tan ana kari, angganing anêng donya, kadya adedunung, lir sang Panji angumbara, sajatiné yèn mantuk ing gunung urip, mulya putrêng Jenggala.

    13

    Akèh wong korup déning sejati, sotaning wong dèrèng purohita, dèn-pisah-pisah jatiné, dèn-senggèh seos wujud, sajatiné kang dèn-rasani, umbang ing kapiran, tambuh kang den-temu, iku ora iki ilang, mider-mider jatiné kang dèn-ulati, tan wruh kang ingulatan.

    14

    Brahalane den-gendong den-indit malah kabotan dening daadapen mangke dereng wruh jatine dening wong tanga guru amungakĕn wartaning tulis kang ketang jatining lyan den-tutur anggalur den-turut kadya dadalan kajatene deweke nora kalingling lali pejah min-Wang.

    15

    Dosa gung alit kang den-singgahi ujar kupur-kapir tan den-ucap iku wong anom kawruhe sembayang tan surud puwasane den ati-ati tan ayun kaselanan kalimput ing hukum kang sampun tekeng kasidan sembah puji puwasa tan den-wigati nora rasa-rinasan.

    16

    Sakeh ing doss tan den-singgahi ujar kupur-kapir tan den-tulak wus liwang-liwung polahe tan andulu dinulu tan angrasa tan den-rasani tan amaran pinaran wus jatining suwung ing suwunge iku ana ing anane iku surasa sejati tan kĕna den-ucapna.

    17

    Dudu rasa kang kĕraseng lati dudu rasa rasaning pacuwan dudu rasa kang ginawe dudu rasa rasaning guyu dudu rasa rasaning lati dudu rasa rĕrasan rasaku amengku salir ing rasa surasa. mulya putreng Jènggala rasa jati kang kerasa jiwa jisim rasa mulya wisesa.

    18

    Kang wus tumeka ing rasa jati panĕmbahe da tanpa lawanan lir banyu mili pujine ing ĕnĕnge anebut ing unine iya amuji solahe raganira dadi pujinipun tĕkeng wulune salĕmbar ing osike tan sipi dadi pamuji pamuji dawakira.

    19

    Ingkang tan awas puniku pasti dadi kawulane kang wus awas tĕka ing sĕmbah pujine amung jatining wĕruh pamujine rahina wĕngi mantĕp paran kang awas ujar iku luput ananging aran tokidan lawan ujar kupur-kapir iku kaki aja masih rĕrasan.

    20

    Yen tan wruha ujar k„p„r-”pir pasti woog iku durung ~”„, maksih bakai pangawruhe pan kupur-kapir iku iya iku sampurna jati pan wèkas ing kasidan kupur-kapir iku iya sadat iya salat iya idĕp iya urip iya jati iku jatining salat.

    21

    Sun-marenana angedarneling sun-sapiye ta bok kadĕdawan mĕnawa mèdal cucude ajana milu-milu mapan iku ujar tan yakti pan mangkana ing lampah anrang baya iku rare anom ambĕlasar tanpa gawe gawene sok murmg niti anggung malang sumirang.

    PUPUH

    KINANTHI

    01

    Dosa gung alit tan dèn singgahi, ujar kupur kapir kang dèn ambah, wus liwung pasikepane, tan andulu dinulu, tan angrasa tan angrasani, wus tan ana pinaran, pan jatining suwung, ing suwunge iku ana, ing anane iku surasa sajati, wus tan ana rinasa.

    02

    Pan dudu rasa karasèng lathi, dudu rasane apa pa lawan, dudu rasa kang ginawe, dudu rasaning guyu, dudu rasa kang angrasani, rasa dudu rarasan, kang rasa amengku, sakèhing rasa karasa, rasa jati tan karasa jiwa jisim, rasa mulya wisesa.

    03

    Kang wus tumeka ing rasa jati, sembahyanging tan mawas nalika, luwir banyu mili jatine, tan ana jatinipun, mona muni turu atangi, saosiking sarira, pujine lumintu, rahina wengi tan pegat, puji iku rahina wengi sirèki, akèh dadi brahala.

    04

    Pengunguningsun duk lare cilik, nora Selam dening asembahyang, tan Selam dening pangangge,

    tan Selam dening saum, nora Selam dening nastiti, tan Selam dening tapa, nora dening laku, tan Selam dening aksara, nora Selam yèn anut aksara iki, tininggal ora esah.

    05

    Selame ika kadi punendi, kang ingaranan Selam punika, dening punapa Selame, pan ing kapir iku, nora dening mangan bawi, yadyan asembahyanga, yèn durung aweruh, ing sejatining wong Selam, midera anglikasan amontang manting, jatine kapir kawak.

    KIDUNG PURJAWATI

    1. Ana kidung rumeksa ing wengi,teguh ayu luputa ing lara,luputa bilahi kabeh,jin setan datan purun, paneluhan tan ana wani, miwah panggawe ala, gunane wong luput, geni anemahan tirta, maling adoh tan ana ngarah ing kami, guna duduk pan sirna.

    2. Sakehin lara pan samja bali, sakehing ama sami miruda, welas asih pandulune, sakehing bradja luput, kadi kapuk tibanireki, sakehing wisa tawa, sato kuda tutut, kayu aeng lemah sangar songing landak, guwaning mong lemah miring, mjang pakiponing merak.

    3. Pagupakaning warak sakalir, nadyan artja mjang sagara asat, satemah rahayu kabeh, dadi sarira aju, ingideran mring widhadari, rinekseng malaekat, sakatahing rusuh, pan dan sarira tunggal, ati Adam utekku Bagenda Esis, pangucapku ya Musa.

    4. Napasingun Nabi Isa luwih, Nabi Yakub pamiyarsaningwang, Yusuf ing rupaku mangke, Nabi Dawud swaraku, Yang Suleman kasekten mami, Ibrahim nyawaningwang, Idris ing rambutku, Bagendali kulitingwang, Abu Bakar getih, daging Umar singgih, balung Bagenda Usman.

    5. Sungsumingsun Fatimah Linuwih, Siti Aminah bajuning angga, Ayub minangka ususe, sakehing wulu tuwuh, ing sarira tunggal lan Nabi, Cahyaku ya Muhammad, panduluku Rasul, pinajungan Adam syara”, sampun pepak sakatahing para nabi, dadi sarira tunggal.

    6. Wiji sawiji mulane dadi, pan apencar dadiya sining jagad, kasamadan dening Dzate, kang maca kang angrungu, kang anurat ingkang nimpeni, rahayu ingkang badan, kinarya sesembur, winacaknaing toja, kinarya dus rara tuwa gelis laki, wong edan dadi waras.

    7. Lamun arsa tulus nandur pari puwasaa sawengi sadina, iderana gelengane, wacanen kidung iki, sakeh ama tan ana wani, miwah yen ginawa prang wateken ing sekul, antuka tigang pulukan, mungsuhira lerep datan ana wani, teguh ayu pajudan.

    8. Lamun ora bisa maca kaki, winawera kinarya ajimat, teguh ayu penemune, lamun ginawa nglurug, mungsuhira datan udani, luput senjata uwa, iku pamrihipun, sabarang pakaryanira, pan rineksa dening Yang Kang Maha Suci, sakarsane tineken.

    9. Lamun ana wong kabanda kaki, lan kadenda kang kabotan utang, poma kidung iku bae, wacakna tengah dalu, ping salawe den banget mamrih, luwaring kang kabanda, kang dinenda wurung, dedosane ingapura, wong kang utang sinauran ing Yang Widdhi, kang dadi waras.

    10. Sing sapa reke arsa nglakoni, amutiha amawa, patang puluh dina wae, lan tangi wektu subuh, lan den sabar sukur ing ati, Insya Allah tineken, sakarsanireku, njawabi nak - rakyatira, saking sawab ing ilmu pangiket mami, duk aneng Kalijaga. Kuwasaning Artadaya.

    11. Sapa kang wruh Artadaya iki, pan jumeneng sujanma utama, kang wruh namane Artate, masyrik magrib kawengku, sabdaning kang pandita luwih, prapteng sagara wetan angumbara iku, akekasih Sidanglana, Sidajati ingaranan Ki Artati, nyata jati sampurna.

    12. Ana kidung reke Ki Artati, sapa wruha reke araning wang, duk ingsun ing ngare, miwah duk aneng gunung, Ki Artati lan Wisamatti, ngalih aran ping tiga, Artadaya tengsun araningsun duk jejaka, mangka aran Ismail Jatimalengis, aneng tengeahing jagad.

    13. Sapa kang wruh kembang tepus kaki, sasat weruh reke Artadaya, tunggal pancer lan somahe, sing sapa wruh panu……sasat sugih pagere wesi, rineksa wong sajagad, ingkang….iku, lamun kinarya ngawula, bratanana pitung dina….gustimu asih marma.

    14. Kang cinipta katekan Yang Widhhi, kang….. madakan kena, tur rineksa Pangerane, nadyan….. lamun nedya muja samadi, sesandi ing nagara, …..dumadi sarira tunggal, tunggal jati swara, …..aran Sekar jempina.

    15. Somahira ingaran Panjari, milu urip lawan milu pejah, tan pisah ing saparane, paripurna satuhu, jen nirmala waluya jati, kena ing kene kana, ing wusananipun, ajejuluk Adimulya Cahya ening jumeneng aneng Artati, anom tan keneng tuwa.

    16. Tigalan kamulanireki, Nilehening arane duk gesang, duk mati Lajangsukmane, lan Suksma ngambareku, ing asmara mor raga jati, durung darbe peparab, duk rarene iku, awajah bisa dedolan, aranana Sang Tyasjati Sang Artati, jeku sang Artadaya.

    17. Dadi wisa mangka amartani, lamun marta temah amisaya, marma Artadaya rane, duk laga aneng gunung, ngalih aran Asmarajati, wajah tumekeng tuwa, eling ibunipun, linari lunga mangetan, Ki Artati nurut gigiring Marapi, wangsul ngancik Sundara.

    18. Wiwitane duk anemu candi, gegedongan reke kang winrangkan, sihing Yang kabesmi mangke, tan ana janma kang wruh, yen weruha purwane dadi.

    21. Sagara gunung myang bumi langit, lawan ingkang amengku buwana, kasor ing Artadajane, sagara sat lan gunung, guntur sirna guwa pesagi, sapa wruh Artadaya, dadya teguh timbul, dadi paliyasing aprang, yen lelungan kang kepapag wedi asih, sato galak suminggah.

    22. Jin prayangan pada wedi asih, wedi asih sagunging drubigsa, rineksa siang-dalune, ingkang anempuh lumpuh, tan tumama mring awak mami, kang nedya tan raharja, sadaya linebur, sakehing kang nedya ala, larut sirna kang nedya becik basuki, kang sinedya waluya.

    23. Gunung guntur penglebur guweki, sagara sat bengawan sjuh sirna, kang wruh Artadaya reke, pan dadi teguh timbul, kang jumeneng manusa jati, ngadeg bumi sampurna, Yang Suksma sih lulut, kang manusa tan asiha, Sang Yang Tunggal parandene wedi asih, Yang Asmara mong raga.

    24. Sagara agung amengku bumi, surya lintang mjang wong sabuwana, wedi angidep sakehe, kang kuwasa anebut, dadya paliyasing prang dadi, paser panah sumimpang, tumbak bedil luput, liwat sakatahing braja, yen linakon adoh ing lara bilahi, yen dipun apalena.

    25. Siang dalu rineksa Yang Widhhi, sasedyane tinekan Yang Suksma, kinedepan janma akeh, karan wikuning wiku wikan liring puja samadi, tinekan sedyanira, kang mangunah luhung, peparab Yang Tigalana, ingkang simpen kang tuwayuh jroning ati, adoh ingkang bebaya.

    26. Sakehing wisa tan ana mandi, sakehing lenga datan tumama, lebur muspa ilang kabeh, duduk tenung pan ayu, taragnyana tan ana mandi, sambang dengan suminggah, samya lebur larut, ingkang sedya ora teka, ingkang teka ora nedya iku singgih lebur sakehing wisa.

    27. Yen kinarya atunggu wong sakit, ejin setan datan wani ngambah, rinekseng malaekate, nabi wali angepung, sakeh ama pada sumingkir, ingkang sedya mitenah, miwah gawe dudu, rinu sak maring Pangeran, iblis na’nat sato mara mati, tumpes tapis sadaya.

    BalasHapus
  6. Nama : EVI CHRISTIN
    NIM : 2102408063
    ROMBEL : 2

    BABAD ALAS NANGKA DHOYONG : Dumadine kutha 'Wonosari'

    Wiwitaning carita ing wewengkon Sumingkar (saikine wilayah Sambi Pitu, Gunungkidul). Sumingkar iki miturut gotheking crita iki minangka Kutha Praja Kabupaten Gunungkidul wektu iku; rikala Sultan Hamengkubuwana I madeg ratu ing Kraton Ngayogyakarta. Sumingkar cedhak karo tembung ‘sumingkir’. Mirid saka kahanan lan sejarahe masyarakat sakiwatengen Sambi Pitu, wong-wong ing wewengkon iki minangka playon saka Majapahit, wong-wong kang ‘sumingkir’ ing alas Gunungkidul biyene. Crita lesane wong-wong kana nerangake manawa Brawijaya pungkasan keplayu tekan alas Gunungkidul, ngulandara ing sawetara papan lan mbukaki alas-alas dumadi desa-desa sarta ninggalake maneka kabudayan. Brawijaya pungkasan moksa ing Guwa Bribin, Semanu, jalaran rikala disuwun malik ngrasuk Islam dening Sunan Kalijaga ora kersa. Kaya dene masyarakat kang sumebar manggon luwih dhisik ing Rongkop, Semanu, Karangmojo, Ngawen, Nglipar, Sambi Pitu, saperangan Pathuk, uga Panggang, wong-wong iki wis dumunung ing sajembaring alas Gunungkidul sadurunge kedaden Palihan Nagari (Prajanjen Giyanti) ing Surakarta. Kabukti kanthi ananing maneka warna kabudayan kang gregete nuduhake semangat Jawa Asli-Hindhu-Buda-praIslam, kaya ta: tledhek, rasulan, cing nggoling, babad alas, reyog, petilasan Hindhu, petilasan Buda, lsp. kang tansah diuri-uri tekane saiki. Crita iki uga minangka bukti stereotip ‘babad’ kaya kang dumadi ing desantaraning pulo Jawa lumrahe; kepara ing nusa-antara.

    Ing Sumingkar Adipati Wiranagara madeg dadi adipati. Piyambake kagungan garwa cacahe loro, sing siji wanita Sumingkar, sing siji garwa triman saka Sultan. Ateges, garwa sing siji saka kraton Ngayogyakarta. Wus dadi kalumrahan yen para adipati pikantuk bebungah awujud apa wae saka ratune, bisa kalungguhan, kalebu garwa triman. Angkahe warna-warna: kanggo lintu tandang gawe, kanggo nerusake trahing kusuma, minangka tandha panguwasaning raja utawa kosok balene; teluke panggedhe ing dhaerah-dhaerah marang Nagaragung. Duk semana, rikala Adipati Wiranagara sowan ing Kraton Ngayogyakarta, piyambake oleh prentah saka Kanjeng Sultan supaya mindhah Kutha Praja Kabupaten Gunungkidul wektu iku kang dumunung ing Sumingkar (Sambi Pitu) menyang Alas Nangka Dhoyong, kang penere ing Kutha Praja Kabupaten Gunungkidul ing wektu iki. Kutha praja kabupaten Gunungkidul prelu dipindhah amarga miturut tata jagading keblat papat, kurang pener manengah. Dadi, rinasa dening Sultan kurang mangaribawani tumrap wewengkon kabupaten Gunungkidul liyane. Mangkono alesan ing crita rakyat dikandhakake. Sawuse kondur saka Kraton Ngayogyakarta, Adipati Wiranagara nimbali kabeh pangembating praja ing Sumingkar supaya sowan ing pendhapa kabupaten.

    Demang Wanapawira, yaiku Demang Piyaman (wilayah Piyaman tekane Nglipar saiki), durung katon sowan ing pendhapa kabupaten. Para pangembating praja padha duwe beda penggalihan babagan durung sowane Demang Wanapawira. Wekasane, Demang Wanapawira tumeka sowan. Rangga Puspawilaga, sawijining rangga asal Siraman, matur marang Adipati Wiranagara supaya Demang Wanapawira diparingi ukuman marga telat anggone sowan. Rangga siji iki pancen wong kang gumunggung, seneng tumindak culika. Ananging usul mau ora ditanduki dening Sang Adipati. Adipati Wiranagara paring dhawuh marang Demang Wanapawira supaya ngayahi jejibahan mbabad Alas Nangka Dhoyong kanggo mangun kutha praja Kabupaten Gunungkidul, kaya dene kang tinitahake Sultan Hamengkubuwana. Demang Wanapawira siyaga mundhi dhawuh. Rangga Puspawilaga ora sarujuk yen Demang Wanapawira kang pinilih ngemban titahe Sultan iku. Angkahe, dheweke kang madeg duta. Rangga Puspawilaga ndhisiki metu saka pasewakan marga ora narima kahanan iku.

    Ing kademangan Piyaman, cinarita ana sawijining perewangan kanthi nama Mbok Nitisari, kawentar jejuluk Nyi Niti. Nyi Niti dimangerteni dening wong-wong ing sakiwatengening Piyaman, kepara ing sawetara wewengkon Gunungkidul wektu iku, minangka perewangan; wong kang linuwih, mligine gayut karo roh alus lan lelembat. Nyi Niti duwe garwa inaran Ki Niti. Nyi Niti satemene mbakyune Demang Wanapawira. Nyi Niti lan Demang Wanapawira iki kalebu keturunane wong-wong playon saka Majapahit jaman semana. Tekane Piyaman, Demang Wanapawira marahake babagan apa kang tinitahake marang piyambake: mbukak Alas Nangka Dhoyong didadekake kutha praja. Demang Wanapawira nyuwun pretimbangan marang kangmboke. Satemene, sawuse ngrungu titah iku Mbok Niti rumangsa yen iku titah kang abot sanggane. Sakehing wong kang dumunung ing wewengkon Gunungkidul wektu iku wus priksa yen Alas Nangka Dhoyong iku alas kang gawat kaliwat, punjere jim lelembut, lan omahe dhanyang Nyi Gadhung Mlathi. Nanging, Mbok Niti saguh nyengkuyung lan ngrewangi Demang Wanapawira. Mbok Niti ndhawuhi Demang Wanapawira: sadurunge ngayahi babad alas supaya nglakoni sesuci lan ngadani slametan. Upacara iki syarat kang wus ditindakake para leluwure kawit biyen lan minangka sarana supaya manungsa bisa nyawiji lan nguwasani alam, kalebu roh-roh kang manggon ing alas wingit Nangka Dhoyong. Dene Nyi Niti bakal nyoba ‘rembugan’ karo Nyi Gadhung Mlathi; dhanyange Alas Nangka Dhoyong!

    Demang Wanapawira, dirowangi Nyi Niti, semadi ing sangisoring wit ringin putih kang eyub, yaiku wit ringin kang mapan ing tengahing Alas Nangka Dhoyong. Nyi Gadhung Mlathi mapan ing wit iku (dhanyang panguwasa Alas Nangka Dhoyong). Demang Wanapawira lan Nyi Niti wus rila yen mengkone dimangsa Nyi Gadhung Mlathi uger titah mbukak alas dadi kutha praja bisa kasembadan. Ana sawenehing banaspati kang ngreridhu Demang Wanapawira lan Nyi Niti kang lagi samadi, nanging bisa ditelukake. Nyi Gadhung Mlati marani saklorone. Dumadi peperangan rame antarane Nyi Gadhung Mlathi lan Nyi Niti. Marga ora ana kang kasoran, mula padha ngadani pirembagan. Nyi Gadhung Mlati menehi palilah alase bisa dibukak didadekke kutha praja kanthi sarat: digawekke sajen Mahesa Lawung. Uwit panggone Nyi Gadhung Mlathi ora pikantuk ditegor lan Gadhung Mlati diwenehi panguripan dumadi dhanyang penunggu; yaiku roh kang njaga masyarakat mengkone. Nanging, Nyi Gadhung Mlati njaluk supaya digawekke sesajen saben taune minangka wujud panjagane masyarakat sing bakal ngenggoni alas iku mengkone. Nyi Niti nyarujuki panjaluke Nyi Gadhung Mlathi. Dene Nyi Gadhung Mlathi banjur mrentah para lelembut supaya nyengkuyung ngewangi pagawean mbukak alas supaya gancar anggone nandangi.

    Sawuse nyekel rembug karo Gadhung Mlathi, Demang Wanapawira sowan ing ngarsane Adipati Wiranegara kanggo nyuwun panyengkuyung manawa enggal dilaksanakake babad alas. Demang Wanapawira lan Nyi Niti ngumpulke rakyat Piyaman lan sakiwatengene banjur gawe sesajen. Rakyat Paliyan dicritakake uga melu ngrewangi mbabad alas. Dene masyarakat Paliyan rewang-rewang mbabad alas iki marga wus kulina ngayahi mbabad alas; yaiku mbabad Alas Giring rikala semana, sadurunge adage Kraton Mataram. Rakyat Piyaman lan Paliyan gotong-royong mbukak alas. Rangga Puspawilaga rumangsa lingsem lan meri marang tandang gawene Wanapawira. Pakaryan mbabad Alas Nangka Dhoyong rampung. Alas wus dumadi kutha praja. Demang Wanapawira kasil ngayahi titahing ratu lan nunggu bebungah saka Sultane.

    Pasar dibukak dening Adipati Wiranegara kanggo ngembangake lan ngrembakakake ajuning kutha. Pasar Nangka Dhoyong, tengere pasar iku, mapan ing wilayah Seneng lan minangka pasar kang rame banget. Adipati Wiranegara ngalembana Wanapawira kang bisa malik alas gung mijil kutha. Kacarita, ana sawijining putri saka Kepanjen Semanu (putra-putrine Panji Harjadipura) aran Rara Sudarmi ditutake Mbok Tuminah teka ing Pasar Seneng. Angkahe Sang Putri kanggo nonton lan ngrasakake kahanan pasar anyar kang lagi wae dibukak. Tekane Rara sudarmi ing Pasar Seneng bareng karo jumedhule Puspayuda, putrane Rangga Puspawilaga. Weruh Rara Sudarmi, Puspayuda rena marang dheweke. Puspayuda banjur nggodha Rara Sudarmi. Rara Sudarmi ora sudi. Banjur, dumadi padudon rame. Demang Wanapawira kang kepeneran uga ana ing Pasar Seneng ngleremke loro-lorone. Kaya dene Puspayuda, mangerteni Rara Sudarmi kang sulistya, ing manahe Demang Wanapawira sajatine uga tuwuh rasa tresna marang Rara Sudarmi. Puspayuda banget murkane marang Demang Wanapawira. Puspayuda ngelek-elek lan nantang Demang Wanapawira. Ananging ora dumadi pasulayan. Demang Wanapawira nglilih Rara Sudarmi lan Mbok Tuminah supaya enggal sumingkir saka pasar. Dene Puspayuda bali ing Siraman, banjur matur marang bapane: nyuwun supaya dilamarake Rara Sudarmi ing Kepanjen Semanu.

    Rara Sudarmi lan Mbok Tuminah mampir ing daleme Nyi Niti. Ing crita iki diterangake yen Nyi Niti iku satemene isih kaprenah sadulur karo Rara Sudarmi, yaiku sadulur adoh saka ramane, Panji Harjadipura. Rara Sudarmi nyuwun pitulungan marang Ki Niti lan Nyi Niti prakara kang lagi wae ditemahi ing Pasar Seneng: dheweke bakal dicidrani Puspayuda, putrane Rangga Puspawilaga. Ora watara suwe, Demang Wanapawira tumekeng kana lan tansaya gedhe krentege marang Rara Sudarmi meruhi Rara Sudarmi prapta ing omahe mbakyune. Ing jroning manah, Demang Wanapawira ngersakke Rara Sudarmi. Candhaking pangangkah, kanyata Mbok Nitisari njodhokake Demang Wanapawira klawan Rara Sudarmi. Cekaking carita, Demang Wanapawira lan Rara Sudarmi padha prajanji disekseni Ki Niti dan Mbok Nitisari.

    Rangga Harjadipura ing Kepanjen Semanu nampa praptane Rangga Puspawilaga kang duwe maksud nglamar Rara Sudarmi kanggo putrane, Puspayuda. Panji Harjadipura nulak kanthi alus marga akeh pawongan wus nglamar Rara Sudarmi. Praptane Puspawilaga kesaru tekane Demang Wanapawira, Ki Niti, lan Mbok Niti kang tindak Semanu kanggo ndherekke Rara Sudarmi lan Mbok Tuminah. Mrangguli kasunyatan iku Rangga Puspawilaga ngelek-elek lan murka marang Demang Wanapawira: geneya Demang Wanapawira tansah munggel pangangkahe. Rangga Puspawilaga banjur oncat saka Semanu. Sawuse Panji Harjadipura diaturi kedadeyan kang ditemahi Rara Sudarmi, piyambake nyrengeni putrane marga ora pantes lan ngisinake sawijining putri panji lelungan ing pasar tanpa lilah. Ananging, Mbok Tuminah lan Demang Wanapawira nyritakake kedadeyan sanyatane lan wewatekane Puspayuda marang Panji Harjadipura. Saengga, Harjadipura lerem dukane.

    Wewangunan ing Kutha Praja tilase Alas Nangka Dhoyong tansaya akeh, rame, lan ngancik rampung. Sanajan mangkono, marga rasa kuciwane kang rumangsa tansah dialang-alangi Wanapawira, Rangga Puspawilaga ngirim ‘para jago’ sarta sakehing bala kanggo merjaya Demang Wanapawira apa dene Nyi Niti. Upaya iku tansah ora kasil. Mriksani lan mireng trekahe Rangga Puspawilaga kang kaya mangkono, Adipati Wiranegara ngawasi tindak-tanduke Rangga Puspawilaga. Samantara, Kutha Praja wus dumadi lan bakal diresmekake dening Sultan Hamengkubuwana I. Kanggo mahargya acara,Panji Harjadipura usul diadani sayembara njemparing, kanggo golek jodho tumrape Rara Sudarmi, uger akeh para punggawa sarta pawongan kang nglamar Rara Sudarmi. Sayembara njemparing bakal kaleksanan kanggo ngramekake peresmian kutha praja Gunungkidul kang anyar.

    Adipati Wiranegara sepisan maneh ngalembana Demang Wanapawira marga bisa mangun kutha praja kang asri lan endah. Adipati Wiranegara nglapurake karyane Demang Wanapawira marang Sultan Hamengkubuwana lumantar Patih Danureja. Alas Nangka Dhoyong malih dadi kutha kang asri. Rakyat padha remen lan muji Demang Wanapawira. Mangerteni kahanan iki, Rangga Puspawilaga panas tambah panas atine lan irine. Marga wus peteng pikire, Rangga Puspawilaga minta sraya Maling Aguna (sawijining tokoh saka wewengkon Bantul) lan sagrombolan jago liyane supaya merjaya Adipati Wiranegara, Demang Wanapawira, Nyi Niti, lan Panji Harjadipura kanthi maksud madeg Adipati Gunungkidul lan musna kabeh wong-wong kang dianggep mungsuh. Panji Harjadipura meruhi rencana ala iku banjur lapuran marang Patih Danureja. Patih Danureja ngutus Raden Mas Baskara kanggo nggulung komplotane Puspawilaga.

    Peresmian kutha kabupaten ing tilase Alas Nangka Dhoyong kalaksanan. Sadurunge gawe ontran-ontran, Maling Aguna lan balane ditangkep. Sayembara njemparing kawiwitan. Puspawilaga melu sayembara. Demang Wanapawira menang ing sayembara. Sultan Hamengkubuwana I maringi tetenger Kutha Nangka Dhoyong kanthi njupuk nama saka ‘Wanapawira’ digabungke nama ‘Nitisari’, dumadi ‘Wanasari’. Saiki lumrah kaserat ‘Wonosari’. Ana maneh sawetara panemu yen nama kutha praja Gunungkidul kang dumadi saka mbabad alas iki asal saka ‘Wana’ kang ateges ‘alas’, lan tembung ‘asri’ kang marga gotheking pocapan dadi ‘sari’ ateges ‘endah’. Minangka sesulih, Demang Wanapawira diangkat dadi adipati kanthi gelar Adipati Wiranegara II. Panji Harjadipura diangkat dadi patih panitipraja Kabupaten Gunungkidul. Ing wekasan, Wanapawira lan Rara Sudarmi nyawiji. Mangkono Wanapawira, [‘Wana’ memper ‘wono’ ateges ‘alas’, ‘pawira’ ateges ‘wong lanang-kendel-prajurit’], bisa ‘mbabad’ samubarang kadurakan kang ana ing sakiwatengene, kepara kang tumanem jero ing manahe, dhewe. Yaiku ‘alas rowe’ ing atine. Tamtu wae sinengkuyung ‘ngelmu’ lan ‘sadulur’ kang bisa ndadekake piyambake ‘tukang babad’, kang satemene.

    (Sumber crita iki saka crita lesan [waca: crita rakyat] kang ‘sawetara’ isih ngrembaka ing wewengkon Gunungkidul sisih lor-kulon. Katuturake dening Sastra Suwarna, mantan Kadhus Piyaman I-Gunungkidul, kanthi owah-owahan kang rinasa prelu kanggo panulisan. Ana maneh sawetara carangan kang ‘uga’ isih ngrembaka ing wewengkon Karangmojo-Ponjong-Semanu babagan dumadine Kutha Wonosari Kabupaten Gunungkidul; kang surasane rada beda ‘kepentingan’ karo crita lesan versi iki. Utawa versi babad sing ateges ‘buku, naskah’, kang ‘sumimpen rapet’ ing jeroning Kraton Ngayogyakarta. Mbokmenawa, versi liya ‘crita lesan’ iki bakal kaaturake ing beda wektu, utawa ing beda kolong. Mbokmenawa..)

    BABAD MANIK ANGKERAN

    Sebagai pendahuluan ceritera, tersebutlah di kawasan Jawa, ada pendeta maha sakti bernama Danghyang Bajrasatwa. Ada putranya Iakilaki seorang bernama Danghyang Tanuhun atau Mpu Lampita, beliau memang pendeta Budha, memiliki kepandaian luar biasa serta bijaksana dan mahasakti seperti ayahnya Danghyang Bajrasatwa. Ida Danghyang Tanuhun berputra lima orang, dikenal dengan sebutan Panca Tirtha. Beliau Sang Panca Tirtha sangat terkenal keutamaan beliau semuanya.

    Beliau yang sulung bernama Mpu Gnijaya. Beliau membuat pasraman di Gunung Lempuyang Madya, Bali Timur, datang di Bali pada tahun Isaka 971 atau tahun Masehi 1049. Beliaulah yang menurunkan Sang Sapta Resi - tujuh pendeta yang kemudian menurunkan keluarga besar Pasek di Bali. Adik beliau bernama Mpu Semeru, membangun pasraman di Besakih, turun ke Bali tahun Isaka 921, tahun Masehi 999. Beliau mengangkat putra yakni Mpu Kamareka atau Mpu Dryakah yang kemudian menurunkan keluarga Pasek Kayuselem. Yang nomor tiga bernama Mpu Ghana, membangun pasraman di Dasar Gelgel, Klungkung datang di Bali pada tahun Isaka 922 atau tahun Masehi 1000. Yang nomor empat, bernama Ida Empu Kuturan atau Mpu Rajakretha, datang di Bali tahun Isaka 923 atau tahun Masehi 1001, membangun pasraman di Silayukti, Teluk Padang atau Padangbai, Karangasem. Nomor lima bernama Ida Mpu Bharadah atau Mpu Pradah, menjadi pendeta kerajaan Prabu Airlangga di Kediri, Daha, Jawa Timur, berdiam di Lemah Tulis, Pajarakan, sekitar tahun Masehi 1000.

    Beliau Mpu Kuturan demikian tersohornya di kawasan Bali, dikenal sebagai Pendeta pendamping Maharaja Sri Dharma Udayana Warmadewa, serta dikenal sebagai perancang pertemuan tiga sekte agama Hindu di Bali, yang disatukan di Samuan Tiga , Gianyar. Beliau pula yang merancang keberadaan desa pakraman - desa adat serta Kahyangan Tiga - tiga pura desa di Bali, yang sampai kini diwarisi masyarakat. Demikian banyaknya pura sebagai sthana Bhatara dibangun di Bali semasa beliau menjabat pendeta negara, termasuk Sad Kahyangan serta Kahyangan Jagat dan Dhang Kahyangan di kawasan Bali ini. Nama beliau tercantum di dalam berbagai prasasti dan lontar yang memuat tentang pura, upacara dan upakara atau sesajen serta Asta Kosala - kosali yang memuat tata cara membangun bangunan di Bali. Tercantum dalam lempengan prasasti seperti ini.

    “Ida sane ngawentenang pawarah - warah silakramaning bwana rwa nista madhya utama. lwirnya ngawangun kahyangan, mahayu palinggih Bhatara - Bhatari ring Bali lwirnya Puseh desa Walyagung Ulunswi Dalem sopana hana tata krama maring Bali, ayun sapara Bhatara lumingga maring Sad Kahyangan, neher sira umike sila krama” yang artinya: Beliau Mpu Kuturan yang mengadakan aturan tentang tatacara di dunia ini yang berhubungan dengan mikro dan makrokosmos dalam tingkat nista madya utama (sederhana, menengah dan utama), seperti membangun pura kahyangan, menyelenggarakan upacara sthana Bhatara-bhatari di Bali. Seperti Pura Puseh Desa, Baleagung, Ulunswi, Dalem, dan karena ada tata cara di Bali seperti itu berkenanlah para Bhatara bersthana di Sad Kahyangan, karena beliau yang mengadakan tata aturan tersebut.

    Adiknya bernama Danghyang Mpu Bharadah mempunyai putra Iaki-laki dan keutamaan yoga beliau bernama Mpu Bahula. Bahula berarti utama. Kepandaian dan kesaktian beliau di dunia sama dengan ayahandanya Mpu Bharadah. Beliau memperistri putri dari Rangdeng Jirah - janda di Jirah atau Girah yang bernama Ni Dyah Ratna Manggali. Kisah ini terkenal dalam ceritera Calonarang. Beliau Empu Bahula berputra Iaki bernama Mpu Tantular, yang sangat pandai di dalam berbagai ilmu filsafat. Tidak ada menyamai dalam soal kependetaan, sama keutamaannya dengan Mpu Bahula, ayahandanya. Mpu Tantular adalah yang dikenal sebagai penyusun Kakawin Sutasoma di mana di dalamnya tercantum “Bhinneka Tunggal lka” yang menjadi semboyan negara Indonesia. Beliau juga bergelar Danghyang Angsokanata. Keberadaan beliau di Bali diperkirakan sejaman dengan pemerintahan raja Bali, Sri Haji Wungsu pada tahun Masehi 1049.

    Ida Mpu Tantular atau Danghyang Angsokanata, berputra empat orang semuanya Iaki-laki. Yang sulung bernama Mpu Danghyang Panawasikan. Yang nomor dua bergelar Mpu Bekung atau Danghyang Siddhimantra. Yang nomor tiga bernama Mpu Danghyang Smaranatha. Yang terkecil bernama Mpu Danghyang Soma Kapakisan.

    Ida Danghyang Panawasikan, bagaikan Sanghyang Jagatpathi wibawa beliau, Ida Danghyang Siddhimantra bagaikan Dewa Brahma wibawa serta kesaktian beliau. Ida Danghyang Asmaranatha bagaikan Dewa Manobawa yang menjelma, terkenal kebijaksanaan dan kesaktian beliau, serta Danghyang Soma Kapakisan, yang menjadi guru dari Mahapatih Gajahmada di Majapahit, bagaikan Dewa Wisnu menjelma, pendeta yang pandai dan bijaksana. Ida Danghyang Panawasikan memiliki putri seorang, demikian cantiknya, diperistri oleh Danghyang Nirartha.

    Ida Danghyang Smaranatha, memiliki dua orang putra, yang sulung bernama Danghyang Angsoka, berdiam di Jawa melaksanakan paham Budha. Adik beliau bernama Danghyang Nirartha, atau Danghyang Dwijendra, Peranda Sakti Wawu Rawuh dan dikenal juga dengan sebutan Tuan Semeru. Beliau melaksanakan paham Siwa, serta menurunkan keluarga besar Brahmana Siwa di Bali yakni, Ida Kemenuh, Ida Manuaba, Ida Keniten, Ida Mas serta Ida Patapan. Danghyang Angsoka sendiri berputra Danghyang Astapaka, yang membangun pasraman di Taman Sari, yang kemudian menurunkan Brahmana Budha di Pulau Bali.

    Ida Danghyang Soma Kapakisan yang berdiam di kawasan kerajaan Majapahit. berputra Ida Kresna Wang Bang Kapakisan, ketika Sri Maharaja Kala Gemet memegang kekuasaan di Majapahit. Ida Kresna Wang Bang Kapakisan mempunyai putra empat orang, semuanya diberi kekuasaan oleh Raja Majapahit, yakni beliau yang sulung menjadi raja di Blambangan, adiknya di Pasuruhan, yang wanita di Sumbawa. dan yang paling bungsu di kawasan Bali. Yang menjadi raja di Bali bernama Dalem Ketut Kresna Kapakisan menurunkan para raja yang bergelar Dalem keturunan Kresna Kepakisan di Bali. Dalem Ketut Kresna Kepakisan datang di Bali, menjadi raja dikawal oleh Arya Kanuruhan, Arya Wangbang - Arya Demung, Arya Kepakisan, Arya Temenggung, Arya Kenceng. Arya Dalancang, Arya Belog, Arya Manguri, Arya Pangalasan, dan Arya Kutawaringin, Arya Gajah Para serta Arya Getas dan tiga wesya: Si Tan Kober, Si Tan Kawur, Si Tan Mundur. Ida Dalem beristana di Samprangan, didampingi oleh l Gusti Nyuh Aya di Nyuh Aya sebagai mahapatih Dalem. Tatkala itu Ida Dalem memerintahkan para menterinya untuk mengambil tempat masing-masing. Ida Arya Demung Wang Bang asal Kediri di Kertalangu, Arya Kanuruhan di Tangkas, Arya Temenggung di Patemon, Arya Kenceng di Tabanan, Arya Dalancang di Kapal, Arya Belog di Kaba-Kaba, Arya Kutawaringin di Klungkung, Arya Gajah Para dan adiknya Arya Getas di Toya Anyar, Arya Belentong di Pacung, Arya Sentong di Carangsari, Kriyan Punta di Mambal, Arya Jerudeh di Tamukti , Arya Sura Wang Bang asal Lasem di Sukahet, Arya Wang Bang asal Mataram tidak berdiam di mana-mana. Arya Melel Cengkrong di Jembrana, Arya Pamacekan di Bondalem, Sang Tri Wesya: Si Tan Kober di Pacung, Si Tan Kawur di Abiansemal dan Si Tan Mundur di Cegahan Demikian dikatakan di Babad Dalem.

    IDA DANGHYANG SIDDHIMANTRA BERPUTRA IDA BANG MANIK ANGKERAN

    Diceriterakan kembali putra Ida Danghyang Angsokanata atau Danghyang Mpu Tantular yang nomor dua yakni Ida Mpu Bekung atau Danghyang Siddhimantra Beliau bernama Mpu Bekung karena beliau tidak bisa mempunyai putra. Kemudian beliau bergelar Danghyang Siddhimantra disebabkan memang beliau pendeta atau Bhujangga yang sakti serta bijaksana. Beliau menjadi sesuhunan sakti Bhujangga luwih (Junjungan sakti, pendeta yang bijaksana) di kawasan Bali ini tatkala itu. Perihal gelar Ida Mpu Bekung menjadi Danghyang Siddhimantra, akan diceriterakan di bawah ini

    Diceriterakan, Ida Mpu Bekung berkeinginan untuk memiliki putra yang akan menjadi penerusnya kelak. Karena itu beliau melaksanakan upacara homa, memuja Sanghyang Brahmakunda Wijaya.

    Karena kesaktian beliau, dan karena permohonannya itu, beliau dianugerahi manik besar yang keluar dari api homa tersebut. Kemudian nampak keluar bayi dari tengah-tengah api pahoman itu. Anak itu kemudian diberi nama Ida Bang Manik Angkeran. Artinya: Bang dari merah warna api itu. Manik dari manik mutu manikam yang menjadi anugerah, dan Angkeran dari keangkeran pemujaan sang pendeta yang demikian makbulnya. Demikian asal mulanya Ida Mpu Bekung memiliki putera.

    Setelah beliau memiliki putera, sangat sukacita beliau Mpu Bekung, diperhatikan dan dimanjakan betul putera beliau. Setiap yang diinginkan putranya dipenuhi.

    Setelah Ida Bang Manik Angkeran menginjak remaja, mungkin diakibatkan oleh kehendak Yang Maha Kuasa, agar supaya Ida Mpu Bekung menemui ganjalan pikiran atau kesusahan, ternyata kemudian putra beliau sehari-hari pekerjaannya hanya berjudi melulu, tidak pernah tinggal diam di rumah, selalu berada di tempat perjudian semata. Di mana saja ada perjudian, di sana Ida Bang Manik Angkeran bermalam. Diceriterakan perjalanan beliau berjudi tidak pernah menang. Selalu kalah saja.

    Hingga habis milik ayahnya dipergunakan untuk berjudi. Yang membuat Mpu Bekung duka cita tiada lain karena putranya tidak pernah pulang ke Griya. itu menyebabkan resah gelisah perasaan beliau, seraya pergi mencari putra beliau Ida Bang Manik Angkeran ke desa-desa. Setiap ada orang yang dijumpai di tengah jalan, ditanyai oleh beliau apakah ada menemui putra beliau yang bernama Ida Bang Manik Angkeran. Namun semuanya mengatakan tidak pernah mengetahui dan menemuinya.

    Diceriterakan, konon, sudah lama beliau mengembara mencari putra beliau itu tidak juga dijumpai, sampai akhirnya tiba di kawasan Tohlangkir pengembaraan beliau Setibanya di Tohlangkir - Gunung Agung, di sana beliau baru merasa lesu lelah kemudian duduk seraya bersamadi menyatukan pikiran beliau, memuja Dewa seraya membunyikan genta beliau yang bernama Ki Brahmara .

    Karena keutamaan puja mantra beliau diiringi dengan suara genta beliau Ki Brahmara yang demikian menakjubkan, menjadi heboh keluar Ida Sanghyang Basukih, seraya berkata: “Ah Mpu Bekung yang datang, apa keinginan Mpu, memuja saya ? Segera katakan. agar saya menjadi tahu !”.

    Berkatalah Ida Mpu Bekung: “Singgih paduka Sanghyang, hamba memiliki anak seorang tidak pernah sama sekali pulang, sejak lama hamba mencarinya, namun belum juga ketemu. Maksud hamba agar dengan senang hati pukulun Sanghyang memberitahu keadaan sebenarnya, apakah dia masih hidup, atau apakah dia sudah .mati. Kalau misalnya dia masih hidup agar supaya pukulun Sanghyang sudi memberi tahu, di mana dia berada”.

    Dengan sukacita Ida Bhatara Basukih berkata: “Ah Mpu, hendaknya Mpu jangan bersedih hati, sebenarnya putra Mpu masih hidup berada di desa-desa, bermalam di sana. Sekarang saya yang akan mengarad (menarik) Jiwa - putra Mpu, agar segera pulang kembali. Namun, Mpu saya minta sarinya susu lembu, sebagai imbalan saya mengarad putra sang Mpu”. Demikian wacana Ida Bhatara Nagaraja, seraya meminta Ida Mpu Bekung agar pulang ke rumahnya .

    Singkat ceritera. pulanglah Ida Mpu memohon diri dari Tohlangkir. Tidak diceriterakan perjalanan beliau, maka sampailah beliau kembali di rumahnya di Griya Daha, dan dilihatnya sang putera telah berada di rumah. ltu sebabnya sangat sukacita beliau Mpu Bekung, seraya berkata: “Duh, putraku Sang Bang, dengarkanlah apa yang ayah katakan sekarang. Jangan lagi ananda mengulangi perbuatan yang sudah - sudah. Ayah tidak sama sekali melarang ananda untuk bermain judi, namun agar ananda ingat juga dengan rumah Ananda. Payah Ayah mencari ananda keluar masuk desa-desa”.

    Kemudian berkatalah putranya: “Singgih palungguh Mpu, ayahandaku, janganlah sekali-kali palungguh Mpu marah serta duka ananda sudah menginjak dewasa sejak dahulu, ananda tidak pernah sama sekali berani ingkar, karena ananda ingin sekali dengan keberadaan diri sebagai seorang putra Brahmana”. Demikian kata putranya Sang Bang Manik Angkeran.

    Setelah usai Ida Mpu Bekung memberikan nasihat kepada putranya, ingat beliau kepada permintaan Ida Bhatara Naga Basukih yang menginginkan susu lembu.

    Pada hari yang baik. lengkap dengan gentanya, beliau melakukan perjalanan menuju Tohlangkir. Sesampainya di Tohlangkir, kemudian beliau mempersiapkan diri dan melakukan yoga semadi memuja Ida Sanghyang Nagaraja seraya membunyikan genta beliau. Karena kemakbulan weda mantra beliau memuja Ida Sanghyang Naga raja, segera Ida Bhatara keluar seraya bersabda: “Ah, Mpu Bekung yang datang.


    Apa keinginan sang Mpu datang lagi?”.

    Kemudian berkatalah Ida Mpu Bekung: “Singgih pukulun Sanghyang, hamba menghadap pada paduka Bhatara, bermaksud menghaturkan sarinya susu, sesuai dengan keinginan Sanghyang. Anak hamba sudah ketemu, ada di rumah”. Tatkala didengarnya kata-kata Mpu Bekung seperti itu, sangat sukacita perasaan Ida Bhatara Basukih seraya berganti rupa menjadi Nagaraja Agung, kemudian meminum sarinya susu, sampai beliau kenyang.

    Setelah beliau kenyang meminum susu lembu itu, seraya berbalik, beliau mengeluarkan emas, saat itu diminta Ida Mpu Bekung agar mengambil emas itu.

    Singkat ceritera, setelah beliau mengambil emas itu yang kemudian dibungkus sebesar kelapa besarnya, lalu beliau memohon diri kepada Ida Sanghyang Basukih Tidak diceriterakan perjalanan Ida Mpu Bekung, akhirnya tiba jugalah beliau di Griya Daha seraya membawa emas. Diketahui emas itu oleh putranya. Ida Bang Manik Angkeran yang gencar bertanya, meminta kepada ayahandanya agar diberi tahu di mana memperoleh emas itu

    Ida Mpu Bekung sangat merahasiakan perihal kepergian beliau mendapat emas itu. Putra beliau tetap saja gencar mencari tahu. Lalu Ida Mpu berkata kepada putranya. “Aduh ananda, jangan hendaknya ananda gencar bertanya seperti itu akan perihal ayah mendapat emas ini. Kalau ada keinginan ananda untuk mengambil, Ayahanda berikan”. Walaupun demikian kasih sayang beliau kepada putranya, tetap saja Sang Bang memohon kepada ayahandanya untuk diberi tahu di mana memperoleh emas itu Karena tidak sampai hati dan rasa kasih sayang yang amat sangat, lalu Ida Mpu memberitahukan perihal beliau mendapatkan harta itu.

    Karena sekarang sudah memiliki emas, maka pergilah Ida Bang Manik Angkeran bermain judi. Mungkin memang sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa, sehari-harinya beliau selalu kalah berjudi. Akhirnya tidak sampai satu bulan habislah sudah emas yang diberikan ayahandanya dijual, dipakai modal di tempat perjudian.

    Karena keadaannya demikian, lalu beliau berpikir keras, dan kemudian Ingat beliau pada perjalanan ayahandanya mendapatkan emas itu, yang merupakan anugerah dari Bhatara di Tohlangkir. Segera beliau pulang, tetapi secara sembunyi - sembunyi agar tidak diketahui ayahandanya, beliau bertolak menuju Tohlangkir seraya membawa susu lembu, serta genta milik ayahandanya, Ki Brahmara.

    Tidak diceriterakan perjalanannya, sampailah beliau di Tohlangkir, di depan gua. Lalu beliau duduk mengheningkan cipta, memuja Dewa, seraya membunyikan genta.

    Rupanya pemujaan beliau yang khusuk, serta diiringi dengan bunyi genta yang Utama itu, membuat geger, keluar Bhatara Naga Basukih dari gua itu seraya berkata “Ah siapa anda ini datang, segera katakan !”.

    Segera Ida Bang Manik Angkeran menyembah: “Singgih paduka Sanghyang, hamba bernama Sang Bang Manik Angkeran. Hamba mengikuti jalan Ayahanda hamba, menghaturkan sarinya susu lembu ke hadapan paduka Sanghyang. “Demikian hatur beliau. Karena demikian, sangat sukacitalah perasaan Ida Bhatara Basukih. Lalu diminumlah susu itu, setelah berganti rupa menjadi ular naga besar berwibawa, seraya meminum susu itu. Seusai meminum susu itu, bersabdalah beliau kepada Ida Bang Manik Angkeran: “lh, Sang Bang, sekarang apa yang kamu inginkan, apapun yang ananda minta akan kuberikan .”

    Berkatalah Ida Bang Manik Angkeran: “Singgih paduka Bhatara, hamba bermaksud untuk memohon modal, nista sekali hamba berjudi, selalu kalah setiap hari “.

    Saat itu Ida Bhatara Basukih mengambil emas, bagaikan sebutir kelapa besarnya. diberikan kepada Ida Bang Manik Angkeran, seraya bersabda: “Ambillah emas ini, segera ananda pulang, poma, poma”. Lalu diambil emas itu, disertai sembah bakti sekaligus memohon pamit ke hadapan Ida Bhatara Nagaraja.

    Singkat ceritera. tibalah Ida Bang Manik Angkeran kembali di rumah di Griya Daha, menyimpan genta saja, lalu beliau pergi lagi untuk bermain judi. Atas kehendak Hyang Widhi, tidak sampai satu bulan, habis juga modalnya, itu sebabnya kembali beliau mengelana, berhutang di perjudian tidak dapat, meminjam tidak diberi. Karena itu, lalu beliau mengambil lagi genta milik ayahandanya, seraya mencari sarinya Susu lembu, dan menyengkelit pedang yang bernama Ki Gepang, lalu segera menuju Tohlangkir.

    Setibanya beliau di Tohlangkir, lalu beliau duduk seperti yang dilakukan sebelumnya, mengheningkan cipta, memuja Dewa, serta membunyikan gentanya. Karena genta itu betul-betul genta utama, gegerlah Ida Sanghyang Basukih ke luar guanya seraya bersabda: “Ah Sang Bang Manik Angkeran kiranya yang datang. Datang lagi ananda membawa susu. Apa lagi permintaanmu, katakan, semaumu akan kuberikan”.

    Karena kewibawaan Ida Bhatara Basukih demikian mempesona dan menggetarkan perasaan, menjadi tak enak perasaan Ida Sang Bang, lalu mengatakan tidak memohon apa-apa. Karena demikian kata Ida Sang Bang, lalu Ida Bhatara berganti rupa kembali menjadi ular naga yang besar, seraya meminum susu lembu tersebut Setelah menyantap susu lembu itu, Ida Bhatara kembali ke gua . Karena beliau berbadan panjang, ketika bagian kepala beliau sudah tiba di tempat peraduan, maka bagian ekor beliau masih berada di luar gua. Dilihat oleh Ida Bang Manik Angkeran ekor Ida Bhatara menyala karena di tempat itu terdapat intan besar bagai ratna mutu manikam beralaskan emas dan mirah yang menyala gemerlapan.

    Ketika itulah muncul rasa angkara loba Ida Bang Manik Angkeran, disusupi oleh niat tamak untuk memiliki permata itu. Lalu beliau menghunus pedang Ki Gepang yang dibawanya segera memenggal ekor Ida Sanghyang Nagaraja, sehingga terputus mata intan yang ada di bagian ekor yang segera diambil dan dilarikan oleh Ida Manik Angkeran.

    Karena demikian tingkah Sang Bang Manik Angkeran, tak terkira murka Ida Bhatara Nagaraja, sebab merasa ekor beliau terluka, lalu beliau kembali bergerak ke luar gua. Dilihat oleh beliau busana beliau dilarikan oleh Ida Bang Manik Angkeran.


    Segera beliau menyemburkan api, yang mengikuti arah perjalanan Ida Bang Manik Angkeran yang kemudian terbakar habis menjadi abu. Tempat itu belakangan bernama Cemara Geseng dan menjadi lokasi Pura Manik Mas Besakih. Sementara itu permata milik Ida Bang Manik Angkeran ditempatkan sebagai pusaka junjungan di Pura Dalem Lagaan, Bebalang, Bangli.

    Diceriterakan Ida Mpu Bekung gundah perasaan beliau, karena putranya tidak pernah pulang ke rumah. Desa-desa diselusuri mencari putranya, namun tiada juga ditemukan. Segera beliau mengheningkan cipta. Karena kesaktian beliau, terlihat oleh beliau putranya sudah menjadi abu. Segera beliau pergi menuju Bali, Besakih yang ditujunya, berkehendak mengikuti perjalanan putranya. Tidak diceriterakan di jalan tibalah beliau di Besakih. Di sana beliau melihat onggokan abu, sementara buah genta berada di sebelah abu itu. Segera diketahui dengan jelas, bahwa genta itu adalah milik beliau yang bernama Ki Brahmara. Jelas sudah abu itu merupakan jasad putranya. Di sana beliau kemudian menumpahkan rasa duka-citanya, seraya berpikir-pikir, jelas meninggalnya Ida Bang Manik Angkeran disebabkan perbuatannya yang tak terpuji, disembur api oleh Ida Sanghyang Nagaraja. Kemudian diambilnya genta Ki Brahmara yang sakti itu.

    Karena sudah jelas diketahui, maka beliau kemudian melanjutkan perjalanan berkehendak untuk menghadap Ida Sanghyang Basukih. Setibanya di depan gua, seperti sebelumnya, beliau kemudian duduk melakukan pemujaan utama memohon ke hadapan Ida Sanghyang Basukih.

    Lama sudah beliau melakukan pemujaan. Lama beliau menunggu, tidak juga keluar Ida Sanghyang Basukih, disebabkan demikian besar amarahnya, ingat diperdaya oleh suara genta.

    ltu sebabnya beliau Mpu Bekung melanjutkan lagi pujastutinya dengan mengujarkan Asta Puja, Basukih Stawa dan Utpeti, Stiti Mantra diiringi dengan suara genta beliau. Karenanya, barulah Ida Bhatara keluar dan dilihatnya Ida Mpu ada di sana yang kemudian merangkul, seraya menghaturkan sembah panganjali agar Ida Bhatara memberikan anugrah dan berkata: “Om paduka Bhatara, ampunilah anak hamba. Tahu betul hamba akan perbuatan anakku yang demikian tak berbudi dan tak terpuji. Bila mana berkenan, sudilah Bhatara menceriterakan perbuatan anak hamba itu . Lama Ida Bhatara berdiam diri. Mukanya cemberut, menunjukkan kekesalan perasaannya yang tak terhingga. Namun, karena Ida Sang Mpu sudah memohon maaf dengan tulus dan suci, maka Ida Bhatara berkata perlahan. Menceriterakan segala perbuatan yang dilakukan Ida Sang Bang Manik Angkeran yang mengatakan diutus oleh Sang Mpu untuk menghaturkan susu lembu, sampai akhirnya dihanguskan menjadi abu oleh beliau.

    Mana kala Ida Mpu mendengar ceritera Ida Bhatara, meleleh air mata Ida Sang Mpu Bekung, dan sesudah Ida Bhatara selesai bersabda, beliau kemudian kembali menghaturkan sembah seraya berkata: “Singgih pukulun paduka Bhatara, demikian memang dosa anakku itu, namun rupanya dia sudah menjalani kematian, habis sudah dosanya. Inggih, hamba sekarang memohon anugerah pukulun Bhatara, sudilah kiranya paduka Bhatara menghidupkan kembali Manik Angkeran, karena dialah anak hamba satu-satunya, sebagai pewaris keturunan yang akan melanjutkan keberadaan hamba kelak. Bila mana dia nanti hidup kembali, hamba akan menyerahkan dirinya kepada paduka Bhatara, agar menghamba di sini sampai kelak kemudian hari”.

    Mendengar hatur Ida Sang Mpu Bekung sedemikian itu, merasa sedikit malu Ida Bhatara seraya bersabda: “Ah, Sang Mpu, bila demikian permintaanmu, aku dengan suka rela menghidupkan anakmu, namun agar sudi kiranya Sang Mpu menyambung kembali ekorku”.

    Lalu menyembah Mpu Bekung: “Singgih paduka Sanghyang, bila demikian keinginan paduka hamba bersedia untuk menyambung kembali ekor paduka Bhatara: Namun, sebelumnya, maafkanlah hamba berani berhatur sembah bila mana paduka Bhatara berkenan, permata intan yang sebelumnya berada di ekor paduka, sebaiknya ditempatkan saja di bagian mahkota paduka Bhatara, karena akan nampak sangat maha utama, dan pula mereka yang jahat tidak akan tergoda untuk ingin memilikinya Dan juga bila mana masih di bagian ekor, di samping terlihat nista, juga membuat paduka Bhatara tidak bisa terbang karena keberatan di bagian ekor”.

    Demikian sukacita perasaan Ida Sanghyang Nagaraja tatkala mendengar hatur Ida Mpu Bekung. Setelah usai bertemu wirasa, lalu Sang Mpu melaksanakan yoga samadhi menghaturkan puja mantra, menyatukan batin beliau memuja Ida Bhagawan Wiswakarma sebagai Dewanya sangging dan undagi (pekerja khusus bangunan tradisional) di Surga.

    Seusai sempurna pujastuti serta permohonan beliau, segera beliau membuat gelung mahkota, dengan hiasan candi kurung, garuda mungkur, dengan anting anting, bergundala dan memakai sekar taji. Demikian indahnya memang kalau dilihat.

    Singkat ceritera, selesai sudah gelung agung itu, kemudian dipakai oleh Ida Bhatara. Memang, demikian menakjubkan. Nampak semakin mempesona prabawa Ida Bhatara, dan juga beliau sekarang bisa terbang. Demikian sukacita hati Ida Bhatara Nagaraja.

    Karena itu, segera pula Ida Bhatara menghidupkan jasad Sang Bang Manik Angkeran, didahului dengan pujastuti weda mantra. Perlahan, Ida Sang Bang Manik Angkeran bangun, seperti baru habis tidur layaknya, hidup seperti semula, dan ketika sadar, beliau cepat lari. Tempat itu kemudian bernama Pura Bangun Sakti.

    Segera Ida Sang Bang diikuti oleh ayahandanya, kemudian dipegang dan diajak untuk menghadap Ida Bhatara Hyang Basukih. Sesuai perjanjian, maka Ida Sang Bang Manik Angkeran dihaturkan kepada Ida Bhatara untuk mengabdi di Basukih sampai kelak di kemudian hari.

    Demikian suka citanya beliau berdua, karena semuanya sudah berhasil, disebabkan kesaktian beliau masing-masing. Ida Sang Nagaraja sudah menghidupkan kembali Ida Sang Bang Manik Angkeran. Juga Ida Mpu Bekung demikian saktinya bisa menyambung kembali ekor Ida Bhatara Nagaraja. Ida Mpu Bekung kemudian menghaturkan sembah terimakasih kepada Ida Sanghyang Basukih. Ida Sanghyang Basukih kemudian bersabda: “Duh, Mpu Bekung, memang demikian saktinya anda ini. Pantas anda bergelar Siddhimantra. demikian sakti dan makbulnya japa - mantra anda. Sejak sekarang, tidak lagi Mpu Bekung nama anda, namun Danghyang Siddhimantra nama anda sang pandita. Silakan, pulanglah sahabat karibku, semoga Dirgahayu, panjang usia anda !” lalu Ida Sanghyang Nagaraja terbang menuju Surga Loka. Sejak saat itu Ida Mpu Bekung bergelar Danghyang Siddhimantra.

    Sebelum Ida Danghyang Siddhimantra kembali ke Griya Daha, tidak lupa beliau memberikan petuah kepada putranya Ida Sang Bang Manik Angkeran: ” Uduh mas juwita permata hati ayah, engkau anakku Manik Angkeran. Ananda akan ayah tinggal sekarang ini. Sebab Ayahanda akan kembali ke Jawa. l Dewa akan ayahanda haturkan kepada Ida Sanghyang Basukih, sesuai dengan janji ayah kepada Ida Bhatara. Mungkin ananda belum jelas tahu perihal keberadaan ananda sendiri yang sebelumnya dihanguskan oleh Ida Bhatara sampai habis menjadi abu, disebabkan karena marah beliau tak terhingga, perilaku ananda sungguh tak terpuji, memenggal ekor Ida Bhatara. Lalu ayahandamu ini memohon kepada Ida Bhatara, agar beliau dengan senang hati menghidupkan kembali ananda, dengan janji, kalau ananda bisa hidup kembali, ananda akan ayah haturkan kepada Ida Bhatara untuk mengabdi di sini di Besakih. Selain itu, kalau ananda kembali ke Jawa, jelas perilaku ananda akan kembali seperti yang sudah-sudah, sebab lingkungan ananda di sana sudah demikian rupa. Diamlah dan tinggal ananda di sini, ayahanda akan kembali ke Jawa. Jangan ananda salah terima dan salah paham, sebab sebenarnya, perihal perasaan ayahanda dan kasih sayang ayahanda kepada ananda, tidak pernah kurang sejak dahulu sampai kapanpun. Ada petuah ayahanda ini yang sangat Penting, agar diteruskan dharma bakti ananda ke hadapan Ida Bhatara di sini di Tohlangkir, Besakih. Jangan sampai menurun, sebab kalau demikian, menjadi ingkar ayahanda dengan janji ayahanda, sangat nista disebut orang. Kemudian ada lagi nasehat ayahanda, sebab ananda sudah pernah pralina atau wafat menjadi abu kemudian disucikan menjadi hidup kembali, hidup untuk keduakalinya, berdwijati namanya, sekarang ananda berwenang menjadi pendeta, agar ananda senantiasa menyelenggarakan, mengatur dan memimpin penyelenggaraan segenap upakara dan upacara di sini di Besakih. Juga agar ananda mengatur semua masyarakat umat di seluruh Bali, agar semakin meningkat bhakti dan sradha imannya, kepada Ida Bhatara serta kepada sthana Ida Bhatara semuanya”.

    Ida Sang Bang Manik Angkeran mengiakan semua yang disampaikan oleh ayahandanya. Di samping petuah tersebut, Ida Sang Bang juga diberikan pengetahuan suci yang memberikan wewenang Ida Sang Bang untuk mengucapkan weda mantra, menyelesaikan upacara, di samping diberikan pengetahuan kerohanian daya kebathinan yang tinggi.

    Seusai Ida Sang Bang Manik Angkeran mendapat pengetahuan suci dan kerohanian, beliau ditinggalkan oleh ayahandanya yang kemudian melakukan perjalanan pulang kembali ke Jawa.

    Tidak diceriterakan perjalanan beliau, tibalah beliau di tanah genting - tempat perbatasan antara Jawa dan Bali. Di sana beliau termenung -menung. teringat beliau akan kelakuan putranya yang tak senonoh. ltu sebabnya timbul kekhawatiran dalam perasaan beliau. seandainya Ida Sang Bang Manik Angkeran kembali lagi ke Jawa, sehingga beliau berkeinginan mengupayakan bagai mana caranya agar putranya tidak bisa lagi kembali, sebab janji beliau sudah demikian pasti. ltu sebabnya kawasan itu akan diubah agar menjadi laut. Di sana kemudian beliau menggelar yoga semadinya. Menyatukan batinnya, memuja Bhatara di pegunungan agar berkenan dan tidak beliau menjadi kualat. Sudah bersatu pikiran beliau dan juga sudah mendapatkan ijin anugrah, lalu tanah genting itu digores dengan tongkat beliau. Bergetar dengan dahsyat kawasan Bali dan Jawa, lindu dan gempa terjadi, kilat dan halilintar bertubi - tubi ! Terpisah dan putuslah kawasan Bali dengan Jawa ! Laut memisahkan keduanya. Lalu laut itu dinamakan dengan Segara Rupek. Tidak terhingga sukacita Dang Hyang Siddhimantra. karena yakin putranya tidak akan bisa kembali lagi ke Jawa. Lalu beliau kembali pulang ke Griya Daha di Jawa.

    IDA BANG MANIK ANGKERAN BERJUMPA DUKUH SAKTI BELATUNG

    Kembali diceriterakan keberadaan Ida Bang Manik Angkeran di Besakih. Beliau membuat pasraman di sebelah Utara gua, sekitar 300 depa jaraknya dari Gua itu. pekerjaan beliau sehari-hari melaksanakan tapa brata yoga samadhi, serta menjaga kebersihan dan kesucian kawasan Pura Besakih. Tak sekalipun beliau lalai. Perilaku beliau berbeda benar jika dibandingkan dengan sebelum beliau wafat dibakar oleh Ida Bhatara Nagaraja. Beliau melaksanakan Kadharmaan, mengikuti ajaran dan perilaku seorang pendeta pura yang suci. Setiap hari beliau menggelar Surya Sewana, memuja Sanghyang Parama Wisesa.

    Suatu ketika tatkala hari sukla paksa pananggalan menjelang purnama, beliau bermaksud untuk membersihkan diri dengan mandi di Toya Sah, Besakih. Setelah membersihkan diri, berkeinginan beliau berjalan-jalan meninjau kawasan Besakih. Lalu terlihat oleh beliau seorang Iaki-laki tua sedang bekerja di ladang, membersihkan padi gaga, membersihkan rumput dan menyiangi. Orang tua itu bernama Ki Dukuh Belatung yang demikian saktinya, namun tindak-tanduknya bagaikan anak kecil senang dipuji serta senang pamer. Baru dilihat seseorang datang ke tempat beliau dan menyaksikan beliau bekerja, keluarlah keisengannya untuk pamer, sengaja berhenti bekerja kemudian menaruh alat siangnya dan melompat duduk di atas alat itu seraya mengambil sirih dan melumatkan sirih itu di atas alat siang tadi.

    Pikir Ki Dukuh ingin supaya yang baru datang menjadi kagum. Namun Sang Bang Manik Angkeran malahan menjadi sangat jengkel melihat aksi pamer Ki Dukuh, karena jelas maksudnya untuk mencoba diri beliau. Lalu, dihampirinya Ki Dukuh seraya berkata: “lh Bapak, kalau begini cara Bapak bekerja, sepertinya bermain-main, sebanyak apa yang bisa Bapak hasilkan?”.

    Lalu berkata Ki Dukuh sedikit gugup: “Siapa pula anda yang bertanya ? Kok rasanya Bapak tidak jelas tahu?”.

    Berkata Ida Bang Manik Angkeran: “Ah saya ini Sang Bang Manik Angkeran, putra beliau Mpu Bekung dari tanah Jawa. Namun saya ini sekarang menghamba kepada Ida Bhatara di Besakih, menjadi tukang sapu”.

    Berkata lagi Ki Dukuh: “Tidak mengerti saya, kalau demikian halnya. Sebab janggal keberadaan sang brahmana seperti itu. Baru sekarang saya mendengar orang bekung (tak punya anak) memiliki putera. Dan lagi ada brahmana menjadi tukang sapu, kalau tidak anda ini brahmana hina”.

    Sedikit marah Sang Bang berkata: “lh Bapak, jangan berbicara sembarangan! Ayah saya memang bekung, namun karena kesaktian beliau, berhasil beliau mengadakan putera. Saya ini memang benar putra seorang Mpu, bukan brahmana hina.

    Serta saya berhak diperintah oleh Ida Bhatara, walaupun pekerjaan yang diperintahkan itu menyapu, itu juga pekerjaan utama, kalau sudah Ida Bhatara yang memerintahkan. Sekarang saya balik bertanya. Kakek ini siapa, serta dari golongan apa ?”

    Ki Dukuh kemudian berkata: “Saya ini bernama Ki Dukuh Belatung, sebagai penua di desa Bukcabe, namun saya membuat tempat tinggal di sini”.

    Berkata lagi Sang Bang, masih perasaannya jengkel: “lh Bapak Dukuh, saya bertanya lagi Itu ada sampah bertimbun akan Bapak bagaimanakan ? Tidak akan Bapak bersihkan ? “

    “Akan saya bersihkan !”.
    “Bagaimana cara Bapak membersihkan ?”
    “Akan saya bakar !”
    “Apa yang akan Bapak pakai membakar ?”


    “Wah, ini benar-benar brahmana aneh”. Ki Dukuh menjawab agak marah, apa lagi dipakai membakar, kalau bukan api. Lalu kalau Ida Bagus apa yang dipakai membakar ?”.

    “Wah” demikian Sang Bang menjawab seperti mencibir, “kalau Bapak Dukuh masih membakar sampah dengan memakai prakpak daun kelapa kering jelas tidak benar Bapak Dukuh tahu dengan falsafah Tri Agni, yang berada di dalam diri sebenarnya. Kalau saya, melalui air kencing saya saja sampah ini akan terbakar tidak bersisa”

    Tatkala didengarnya kata Ida Sang Bang demikian itu, menjadi terhenyak Dukuh, berdiam diri, seraya lama termenung, kemudian menghaturkan sembah “Singgih, Ratu Sang Bang, kalau benar seperti perkataan l Ratu, bisa membakar sampah ini dengan air kencing l Ratu, hamba akan menghaturkan diri, serta semua milik hamba beserta rakyat, serta pula anak hamba akan hamba serahkan semuanya kepada Cokor I Ratu”

    Usai Sang Bang mendengar hatur Ki Dukuh, menjadi pulih kembali perasaan beliau. Lalu beliau berkata perlahan: “Nah, kalau benar seperti perkataan Bapak saya akan memperlihatkan bukti. Namun agar semuanya sanggup datang dan hadir serta disaksikan oleh Ida Sanghyang Triyodasa Saksi”.

    “Jangan sekali-kali l Ratu ragu. Memang dari lubuk hati hamba yang ikhlas tidak akan ingkar dengan janji”. Demikian hatur Ki Dukuh.

    “Nah, kalau begitu, ke sana Bapak pulang, beritahu sanak keluarga serta rakyat Bapak agar datang manakala saya memberikan bukti di hadapan Bapak”. Demikian perjanjian Ida Sang Bang Manik Angkeran.

    Setelah selesai janji itu, Ki Dukuh lalu memberitahukan kepada anak, isteri serta keluarganya, perihal janjinya kepada Ida Bang Manik Angkeran, serta imbalan yang dimasukkan ke dalam janji itu sebagai taruhan. Yang mendengar semuanya sama-sama paham di dalam hatinya menjadi taruhan.

    Tersebutlah pada hari yang telah disepakati, pagi - pagi hari Ida Sang Bang sudah membersihkan diri dengan mandi di Tirtha Mas, serta kemudian melakukan yoga samadhi memuja Sanghyang Agni agar memberikan anugrah. Setelah melakukan yoga dan samadhi, lalu beliau berjalan menuju tempat tinggal Ki Dukuh.

    Setelah dekat dengan tempat Ki Dukuh, nampaknya semuanya lengkap hadir, Ki Dukuh dengan isterinya, keduanya memakai pakaian putih-putih, ditemani dengan anak dan kerabatnya, hanya tinggal menunggu kedatangan Ida Sang Bang. Setelah tepat benar matahari di atas kepala, lalu beliau menuju tempat sampah yang bertimbun, di sana beliau mengheningkan cipta-mamusti, menyatukan pikirannya, menegakkan keteguhan batin Iaksana Gunung Mahameru. Tidak berapa lama, matang sudah yoga beliau, seraya mengeluarkan air kencing di sampah itu. Dan sekejap air kencing itu menjadi api yang menyala-nyala, berkobar. Terbakar semua sampah kebun di tempat itu, hampir-hampir terbakar seluruh hutan di sana.

    Keadaan itu dilihat oleh Ki Dukuh serta semua iringannya, sangat kagum mereka pada kesaktian Ida Sang Bang. Ki Dukuh merasa kalah, namun sekaligus merasa untung, karena merasa mendapatkan jalan baik untuk pulang ke Sorga Loka. Tatkala api itu berkobar. saat itu pula Ida Sang Bang Manik Angkeran membelokkan ujung api itu ke arah timur laut. Lalu beliau berkata kepada Ki Dukuh: “Bapak Dukuh, saya memberi bekal Bapak dengan ganten. Turuti asap itu ke arah timur laut”

    Saat itu Ki Dukuh menemukan jalan baik seraya melihat ada Meru bertingkat 11 (sebelas). Ki Dukuh menuju api itu serta mengheningkan cipta dengan sikap angeranasika mengheningkan cipta dengan melihat hidung, lalu beliau melompat ke tengah-tengah api yang sedang memuncak kobarannya itu. Ki Dukuh naik moksa seiring dengan asap yang mengepul tinggi itu serta kemudian tidak nampak lagi. Keadaan itu diikuti oleh isteri Ki Dukuh yang memakai kerudung dan berkain putih, kemudian mamusti, selanjutnya melompat juga ke api, sebagai tanda setia bhakti kepada suami serta berkeinginan juga menemui jalan terbaik menuju Sorga. Beliau berdua pulang ke Nirwana, melalui Jalan ke Sorga Loka yang utama, serta Juga berdasarkan sasupatan - penyucian oleh Ida Bang Manik Angkeran, yang telah menjadi pendeta yang bijak. Sejak saat itu Ki Dukuh Sakti dikenal dengan gelar Dukuh Lepas atau Dukuh Sorga. Lama kelamaan tempat Ida Sang Bang Manik Angkeran bersengketa dengan Ki Dukuh Sakti itu dinamai Gumawang,

    Sekarang diceriterakan yang masih hidup. Sesudah Ki Dukuh Sakti meninggal semua milik Ki Dukuh serta rakyat se kawasan Desa Bukcabe, diserahkan kepada lda Sang Bang, termasuk putri beliau yang merupakan seorang dara yang bijak, cantik tiada bandingnya, bernama Ni Luh Warsiki. Kedua beliau itu sama-sama saling mencintai, disebabkan yang satunya merupakan seorang jejaka yang tampan bersanding dengan seorang dara yang jelita. Kemudian diselenggarakan Upacara Perkawinan.

    Setelah upacara selesai, lalu keduanya kembali ke Pasraman di Besakih. Sesampai di Tegehing Munduk-tempat ketinggian, Ni Luh Warsiki menoleh ke tempat bekas sampah dibakar, terhenyak beliau, lalu menangis, teringat akan ayah ibunya yang sudah berpulang. Beliau tidak mau melanjutkan perjalanan sebelum pulih perasaan beliau. Rakyat beliau kemudian membuatkan tempat beristirahat di sana. Lama kelamaan tempat itu dikenal dengan nama Munduk Jengis.

    Diceriterakan kemudian rakyat semuanya sangat gembira pada perasaan mereka, disebabkan sekarang mereka memiliki pujaan yang tampan serta sakti, pintar, bijaksana serta dibya caksu, memiliki kesaktian bisa melihat kejadian tanpa hadir langsung.

    Setelah lama beliau berdua bersuami isteri saling mencintai, saling mengasihi maka lahirlah seorang putra Iaki-laki, rupanya tampan serta memiliki prabawa yang agung dinamai Ida Wang Bang Banyak Wide.

    IDA BANG MANIK ANGKERAN BERJUMPA DENGAN BIDADARI

    Tidak terasa berapa tahun lamanya beliau bersuami-isteri, tatkala hari Purnama bulan ke sepuluh, Ida Sang Pendeta keluar dari pasraman, membawa tempat air serta seperangkat alat untuk mandi. Memang sudah menjadi kebiasaan beliau setiap hari baik atau pada hari Purnama-Tilem, selalu beliau bepergian ke Tirtha Pingit untuk mandi. Beliau berjalan naik perlahan sebab merasa senang beliau melihat segala bunga yang tumbuh di tepi jurang, serta pula di berbagai tempat di daerah Besakih. Banyak jenis bunganya serta beraneka rupa warnanya. Demikian senang perasaan Ida Sang Pendeta melihat keadaan seperti itu, sampai beliau menggumam bagaikan berbincang dengan bunga itu semua.

    Setelah beliau memasuki hutan, terdengar oleh beliau suara burung semakin ramai saling bersahutan, Iaksana menyambut kedatangan Sang Pendeta. Beraneka macam memang suara burung itu. Semua itu menambah gembira hati sang pendeta. Tahu-tahu beliau sudah berada dekat dengan tempat Tirtha Pingit yang akan dituju.

    Tiba-tiba beliau berhenti. Karena terlihat oleh beliau seorang wanita sudah ada lebih dahulu di tempat air suci itu, kemungkinan juga akan mandi. Beliau Sang Pendeta lalu memperhatikan wanita itu. Demikian cantiknya serta berwibawa wanita itu. Kemudian beliau merasa-rasa. Sepertinya beliau sudah pernah bertemu dengan wanita itu, namun tidak ingat lagi beliau, di mana, siapa gerangan wanita itu. Ingat lagi, kemudian lupa kembali. Tatkala itu, wanita itu juga diam menunduk, sepertinya acuh.

    Setelah agak lama mengingat-ingat, juga tidak bisa beliau mengingat, maka didekatinya wanita itu, seraya menyampaikan pertanyaan: “Inggih, tuan puteri yang bijak, siapakah gerangan tuan puteri ini, Kok sendiri di tengah hutan begini. Dari mana tuan puteri, apakah tuan puteri benar manusia, apa Wong samar orang maya, ataukah Dewa ?”

    Menjawab wanita itu: “Inggih Sang Pendeta, yang sangat bijaksana, hamba ini bukanlah manusia maya, dan juga bukan manusia”.

    “Kalau demikian, sebenarnya tuan puteri Bidadari ?”.
    “Ya, benar sekali seperti yang Sang Pendeta katakan, hamba memang bidadari dari Sorga”.
    “Aduh, sudah hamba sangka, tentu tuan puteri adalah Bidadari, karena kagum benar hamba melihat kecantikan paras tuan puteri”.

    “Inggih, memang demikian Sang Pendeta. Kalau wanita, kecantikannya yang menyebabkan orang itu kagum. Kalau Iaki-laki jelas kebijaksanaan dan keperwiraannya yang membuat orang kagum serta bertekuk lutut di kakinya”. Demikian kata Sang Bidadari.

    Ketika mendengar perkataan Sang Bidadari sedemikian itu, seperti terkena sindiran Sang Pendeta. Seraya menyembunyikan rasa gugupnya, lalu beliau berkata: “Apa yang mungkin tuan puteri cari, datang ke sini di tengah hutan seorang diri ?” Menjawab Sang Bidadari: “Tidak ada yang hamba cari. Kedatangan hamba ke sini, hanya bersenang-senang”.

    Apa yang menyebabkan tuan puteri datang ke sini untuk bersenang-senang. Apakah di Sorga kurang tempat yang indah untuk bersenang-senang?” “Ya, memang demikian Sang Pendeta. Di Sorga, memang tidak kurang tempat yang indah. Tetapi sebenarnya sekali, yang membuat hati ini senang, tidak tempat yang indah saja, namun senang atau sedih, suka atau duka, hanya tergantung pada hati perasaan kita masing-masing. Kalau seperti hamba, sekarang ini, hanya tempat ini yang paling indah, yang bisa memberikan kesenangan pada perasaan hamba. Sebenarnya Sang Pendeta, bagaikan ditarik hati hamba, jadi berkeinginan hamba untuk datang ke mari, mungkin ada sesuatu hal yang sangat indah di sini”.

    Lagi seperti dikenai sindiran, sampai Sang Pendeta menjadi makin gugup, lalu kemudian beliau berkata lagi: “Memang betul tuan puteri datang dari Sorga, sangat pintar dan bijak tuan puteri berkata, semakin menjadi kagum hamba kepada tuan puteri”.

    “Janganlah berkata demikian Ratu Sang Pendeta. Terlalu banyak l Ratu memuji diri hamba. Sebenarnya sekali, hamba masih terlalu muda”. Demikian Sang Bidadari segera menjawab.

    Setelah lama berbincang-bincang serta keduanya merasa di hati masing -masing sudah akrab serta bersemi lagi rasa cinta, lalu beliau Sang Pendeta memaksakan dirinya untuk berkata: “Duh Dewa Sang Bidadari, perkenankanlah hamba memohon maaf, kalau-kalau perkataan hamba tidak berkenan di hati, karena tidak bisa sama sekali hamba akan menghentikan perasaan hamba yang mungkin bisa dikatakan kurang baik, namun bisa juga disebut baik sekali”.

    Lalu menjawab Sang Bidadari: “Silakan Sang Pendeta, apa yang akan tuan sampaikan. Hamba bersedia untuk mendengarnya. Jangan lagi Sang Pendeta merasa ragu dan khawatir”.

    Berkata Sang Pendeta: “Duh, Dewa, terlebih dahulu hamba menghaturkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas anugerah Tuan Puteri. Pendek kata hamba ingin mengatakan, jangan sekali Tuan Puteri marah, mudah-mudahan Tuan Putri berkenan. Ya, begini …. diri hamba akan hamba serahkan ke hadapan Tuan Putri Namun karena hamba belum bisa ikut ke Sorga Loka mengikuti Tuan Puteri, kalau berkenan, Tuan Puteri akan hamba ajak di sini di dunia, di kawasan Besakih ini, menghamba dan mengabdi kepada Ida Bhatara di sini”.

    Menjawab Sang Bidadari: “Ya kanda, sebelum hamba menjawab keinginan kanda tersebut, berikan saya menceriterakan terlebih dahulu perihal kita berdua kala berada di Kendran. Sebenarnya, dahulu, sebelum kanda diutus untuk turun ke dunia ini, atas permohonan Ida Danghyang Siddhimantra, dinda sudah memilih hubungan-bertunangan dengan kanda. Namun setelah kanda turun ke Marcapada ini dinda masih sendirian berada di Sorga Loka. Lama dinda menunggu kedatangan kanda, tidak juga ada datang-datang. ltu sebabnya dinda sekarang turun ke dunia mengikuti jejak kakanda, agar bisa segera bertemu dengan kakanda, menyatukan tali asih yang sudah bersemi di Sorga Loka. Karena itu, kalau memang benar ada maksud kakanda akan bersatu dengan dinda, dinda tidak lagi berpanjang kata, dinda bersedia mendampingi kanda, walaupun di sini di dunia, semasih kakanda berada di sini”.

    Setelah mendengar perkataan Sang Bidadari demikian itu, merasa gugup dan terhenyak perasaan Ida Sang Pendeta. Namun di lain pihak merasa gembira perasaan beliau, seraya berkata: “Duh, permata hati kanda, l Dewa, dindaku, barangkali memang betul sekali apa yang dinda katakan baru saja, kanda juga merasa-rasa dengan perihal itu. Namun terasa sangat samar hal itu. Sekali lagi kanda ingin menyampaikan terimakasih sebesar-besarnya, karena demikian besar kesetiaan dinda kepada kanda, sampai-sampai dinda mau turun ke dunia ini, meninggalkan semua keindahan yang ada di Sorgaloka. Ya, kalau demikian, kanda sanggup, agar kanda bisa bersama dengan dinda sampai kelak di kemudian hari, ke mana pergi dinda, kanda akan ikut. Namun demikian ada yang kanda ragukan dalam hati kanda, perihal keadaan dinda akan menetap di dunia ini bersama kanda, apakah tidak akan membuat ribut di Sorgaloka, ke sana kemari para Dewa mencari dinda. Itu yang sangat kanda khawatirkan di hati, agar tidak karena kanda yang menyebabkan dinda menemui kesulitan, apalagi dinda sudah demikian berkenan memberikan anugerah kepada kanda”.

    Menjawab Sang Bidadari dengan senyum manis: “Ya kanda, memang sepantasnya kanda memikirkan keadaan dinda. Namun jangan kanda merasa khawatir. Sebab dinda sudah memohon pamit kepada Ida Bhatara serta keluarga dinda semuanya di Sorga, serta dinda sudah mendapatkan ijin dari Ida Bhatara. Memang benar dinda sedikit bersikeras memohon diri kepada Ida Bhatara, karena janji Ida Bhatara dahulu, konon kanda hanya sebentar saja diutus turun ke sini ke dunia.

    Namun, sesudah kanda selesai diruwat Ida Sang Nagaraja, seyogyanya kanda sudah kembali pulang ke Sorga. Memang kanda sudah dapat pulang sekejap, namun karena keras permohonan Ida Sang Nagaraja, yang sudah berjanji kepada Ida Danghyang Siddhimantra, ayah kakanda, lagi pula memang kebetulan ada lain pekerjaan yang harus kanda selesaikan di sini, jadi hambalah yang dikalahkan. Kanda dikembalikan lagi ke dunia. Karena dinda tidak mau ditinggalkan oleh kanda sedemikian lama, jadi dinda menghadap Ida Bhatara, memohon agar dinda diperkenankan turun ke dunia ini, mengikuti perjalanan kanda. Mungkin permohonan dinda dianggap pantas, itu sebabnya dinda diberi ijin untuk mohon pamit serta diberikan wara nugraha untuk bisa turun seperti ini ke dunia, tidak lagi menjalani hal yang sudah lazim, yakni menjelma sejak bayi seperti kelahiran kanda dahulu. Sebab bila demikian perihalnya, jelas tidak bisa dinda bertemu dengan palungguh kanda, seperti sekarang”.

    Memang demikian kagumnya beliau Sang Pendeta pada kadibyacaksuana wawasan Sang Bidadari, kemudian beliau bertanya kembali: “Jadi, kalau demikian halnya, semua perbuatan Kanda di dunia ini sudah dinda ketahui ?”

    “Ya, semua dinda ketahui”.

    Baru demikian Sang Bidadari berkata, menjadi merah muka Ida Pendeta akibat malunya. Hal itu diketahui oleh Sang Bidadari. Lalu, seraya tersenyum, Sang Bidadari melanjutkan: “Namun semua itu merupakan titah atau kehendak dari Ida Bhatara di Sorgaloka. Kanda hanya melaksanakan. Kalau kanda tidak dijadikan anak yang durhaka, tidak bisa kanda akan nyupat- meruwat Ida Sang Nagaraja, sebab tidak lama kanda memenggal ekor beliau yang menjadi tempat berkumpulnya angkara. Namun Beliau Sang Nagaraja tidak berhutang supata kepada kanda, karena beliau sudah pula nyupat-menyucikan diri kanda, beliau melebur badan jasmani - stula sarira kanda yang banyak berisikan dosa, kemudian diganti oleh beliau dengan badan jasmani baik seperti sekarang “.

    Sang Bidadari berhenti sebentar, kemudian melanjutkan lagi: “Dinda lanjutkan sedikit lagi. Begini, perihal beliau Ki Dukuh Belatung. Memang beliau sangat sakti matang sekali dalam hal yoga samadhi. Namun ada kekurangan beliau sedikit. Yaitu beliau sedikit tinggi hati dan senang pujian. ltu sebabnya beliau bersedia diruwat pada api yang keluar dari air kencing kanda. Namun sebenarnya, hal itu merupakan kehendak Ida Bhatara, sebab kalau Ki Dukuh tidak tinggi hati, dan senang pujian, tidak berhasil kanda akan memperlihatkan kesaktian membakar sampah di hutan dengan memakai air kencing, yang menjadi jalan Ki Dukuh untuk moksa. Sebab kalau kanda yang langsung bertindak lebih dahulu, jadi kanda akan dianggap mendahului dan berlaku kurang senonoh. Kesaktian yang kemudian memunculkan hal yang tidak baik jelas akan hilang keutamaannya”. Demikian kata-kata Sang Bidadari.

    Menjadi semakin kagum Sang Pendeta. Merah warna paras muka beliau sudah sirna. Beliau kemudian berkata dengan manis: “Ah, muda-mudanya mereka yang ada di Sorgaloka, lebih bijaksana jika dibandingkan dengan yang ada di dunia. Ya, kalau demikian halnya, menjadi tenang dan hening hati kanda tanpa ganjalan lagi sekarang. Sekarang, kanda temani dinda menuju Pasraman. Namun jangan sekali disamakan keadaan di sini dengan di Sorga”.

    Cepat berkata Sang Bidadari: “Janganlah itu lagi disinggung. Bisa bertemu dengan kanda seperti ini saja, dinda sudah sangat dan lebih bahagia dibandingkan dengan di Sorgaloka”.

    Singkat ceritera, pada akhirnya bersuami-istrilah Ida Sang Pendeta dengan Sang Bidadari, kemudian mengadakan putera Iaki seorang, tampan, berprabawa cerdas, mengagumkan sekali walaupun masih bayi, dinamai Ida Wang Bang Tulusdewa.

    Semakin lama, kawasan Bukcabe, Besakih, Tegenan serta Batusesa, semakin subur makmur, tiada kurang makan dan minum. Itu sebabnya semakin bhakti rakyat di sana kepada Sang Pendeta. Diceriterakan di kawasan Besakih, ada pendamping Ida Sang Pendeta, sebagai pemuka warga Pasek di sana yang bernama Ki Pasek Wayabiya. Beliau sangat bhakti kepada Sang Pendeta, Danghyang Bang Manik Angkeran, karena anugerah beliau memberikan pelajaran tatwa, pengetahuan serta kaparamarthan-kebathinan kepada Ki Pasek. Itu sebabnya Ki Pasek menghaturkan puterinya yang bernama Ni Luh Murdani, seorang wanita yang cantik jelita, sebagai tanda pengikat bhakti beliau kepada Ki Pasek sekeluarga sampai kelak di kemudian hari. Beliau Sang Pendeta tidak menolak keinginan Ki Pasek Wayabiya.

    Dengan demikian sudah tiga orang Sang Pendeta memiliki isteri, semuanya menjadi wikuni - pendeta wanita yang sangat fasih dengan weda mantra serta pula melaksanakan tapa brata yoga samadhi. Dari isterinya - Ni Luh Murdani, lahir seorang putera Iaki-laki, yang juga berprabawa agung, tampan, dinamai Ida Wang Bang Wayabiya atau Ida Wang Bang Kajakauh.

    Bagaikan Brahma, Wisnu, Iswara rupa putra beliau bertiga: Ida Bang Banyak Wide, Ida Bang Tulusdewa miwah Ida Bang Wayabiya. Singkat ceritera, semua putranya itu meningkat dewasa. Karena memang putera orang yang bijak, maka ketiga putranya itu sangat setia dan akrab bersaudara, serta sangat berbakti kepada ayah bundanya. Semuanya pandai, karena segala yang dikatakan oleh ayah-bundanya berisikan Kadharman serta Kawicaksanaan. Isi dari Sanghyang Kamahayanikan, Sanghyang Sarasamuscaya dan Manawa Dharmasastra, sudah ditekuni dan dilaksanakan. Serta tidak ingkar kepada isi dari Tri Ratna dan Asta Marga Utama. Serta oleh Sang Pandita, putranya diberikan nasehat mengenai Putra Sasana dan Tri Guna serta Tri Rna. Pendeknya segala ilmu filsafat yang baik- baik ditekuni oleh Sang Tiga.

    Selain dengan memberikan nasehat kepandaian, kebijaksanaan kepada para putera itu, Sang Pendeta juga sering melakukan perjalanan ke desa-desa memberikan nasehat dan petuah keagamaan serta ilmu kebathinan kepada masyarakat banyak ltu sebabnya, kelak di kemudian hari beliau dibuatkan sthana-pelinggih di pura-pura sebagai bukti sujud bhakti masyarakat kepada beliau.

    IDA BANG MANIK ANGKERAN BERJUMPA KI DUKUH MURTHI

    Diceriterakan sekarang, pada suatu hari. Ida Sang Pendeta Danghyang Bang Manik Angkeran berjalan menuju ke arah Barat Laut, ke arah tempat kediaman Ki Dukuh Murthi. Tidak diceriterakan di jalan, sampailah beliau di hutan Jehem, kemudian, menuju Padukuhan, dan berjumpa dengan Ki Dukuh Murthi. Keduanya kemudian berbincang-bincang mengenai mertua Sang Pendeta yakni Ki Dukuh Belatung yang sudah moksa. Ki Dukuh Murthi memang bersaudara dengan Ki Dukuh Belatung. Pada saat itu Ki Dukuh Murthi memiliki seorang anak wanita yang sangat cantik bernama Ni Luh Canting. Putrinya itu dipersembahkan oleh Ki Dukuh kepada Sang Pendeta, sebagai haturan utama yang tulus ikhlas, bukti besar bhaktinya Sang Dukuh kepada Sang Pendeta, sebagai pengikat hingga kelak di kemudian hari. Beliau Sang Pendeta sangat mencintai dan mengasihi Ni Luh Canting, serta bertemu cinta didasari rasa kasih sayang yang suci. Namun karena ada pekerjaan yang sangat mendesak serta didatangi oleh warga desa-desa lain untuk memberikan pelajaran pengetahuan keagamaan, tergesa-gesa beliau meninggalkan Ni Luh Canting untuk melanjutkan perjalanan memberikan petuah kepada warga desa-desa lainnya.

    Ni Luh Canting kemudian hamil, dan lama-kelamaan melahirkan seorang putra yang tampan, diberi nama Sira Agra Manik. Belakangan Sira Agra Manik kembali ke Besakih, sehubungan dengan pesan ayahandanya untuk menghaturkan Lawangan Agung.

    Dengan demikian Ida Danghyang Bang Manik Angkeran memiliki putra empat orang, yakni Ida Bang Banyak Wide, Ida Bang Tulusdewa, Ida Bang Wayabiya dan Si Agra Manik, yang keturunannya kemudian bernama Catur Warga.

    6. IDA DANGHYANG BANG MANIK ANGKERAN BERPULANG KE SUNYALOKA

    Patut diketahui perihal kesaktian Sang Bidadari sehari-hari, menanak nasi dengan sebulir padi. Sehelai bulu ayam, jika dimasak, menjadi ikan ayam. Keadaan demikian itu jelas tidak boleh dilihat oleh orang lain. Hal itu sudah dipermaklumkan kepada Sang Pendeta, agar beliau jangan mencoba kesaktian Sang Bidadari, agar kesaktian Sang Bidadari tidak hilang. Itu sebabnya keberadaan sehari-hari Sang Pendeta dengan isteri dan putranya di Besakih, tiada kurang suatu apapun.

    Setelah berapa tahun lamanya, Ida Danghyang Bang Manik Angkeran melaksanakan swadharma berkeluarga dengan istri beliau bertiga beserta putranya tiga orang di Besakih, maka tibalah waktunya perjanjian Sang Bidadari harus kembali ke Sorgaloka. Keluar pikiran Ida Sang Pendeta mencoba kesaktian sang istri. Beliau mengintip isterinya Sang Bidadari sedang memasak, manakala isterinya menaruh sebulir padi. Setelah lama nian memasak, dibukanya kekeb - penutup alat masak- itu oleh Sang Bidadari. Dilihat padinya sebulir itu masih seperti sediakala. Saat itu, berpikir Sang Bidadari, kemungkinan memang sampai saat itu Sang Bidadari bersuamikan Sang Pendeta. Kemudian beliau menghadap dan menghaturkan sembah: “Inggih kakandaku, Sang Pandita, rupanya sampai di sini dinda mengabdikan diri - bersuamikan kanda. Sudah usai rupanya perjanjian kita. Dinda sekarang, akan memohon diri ke hadapan palungguh kanda, untuk pulang kembali ke Sorgaloka”.

    Sang Pandita kemudian berkata halus: “Nah, kalau begitu Silakan adinda pulang lebih dahulu, kanda akan mengikuti perjalanan dinda”. Sang Bidadari lalu kembali ke Indraloka.

    Sejak saat itu Ida Sang Pendeta Danghyang Bang Manik Angkeran selalu melaksanakan Yoga Panglepasan untuk pulang ke alam baka. Dan lagi, beliau menyadari akan segera kembali pulang ke Sunyaloka, lalu beliau memanggil putranya bertiga, memberitahukan bahwa putranya bertiga memiliki kakek di Jawa, yang bernama Ida Danghyang Siddhimantra. Bersama isterinya yang dua orang itu, beliau memberikan petuah yang sangat bermakna: ” l Dewa, Bang Banyak Wide, l Dewa, Bang Tulusdewa, l Dewa Bang Wayabiya, anakku bertiga yang sangat ayahanda cintai dan kasihi, ayahanda sekarang bersama ibu-ibumu berdua, akan meninggalkan ananda. Ayahanda akan pulang ke Sorgaloka. Satukan diri ananda dalam bersaudara. Ala Ayu tunggal ! Duka maupun suka hendaknya tetap satu! Kemudian juga agar selalu ingat kepada Bhatara Kawitan, serta senantiasa bhakti menyembah Ida Bhatara semua di sini di Besakih serta Ida Bhatara Basukih. Tidak boleh ananda lalai serta ingkar dengan petuah ayahandamu ini”. Demikian nasehat Ida Sang Pendeta, dicamkan betul oleh para putranya bertiga.

    Pada hari yang baik, beliau kemudian berpulang ke Nirwana, moksa dengan Adhi Moksa-moksa yang utama, diiringkan oleh isterinya berdua, karena keduanya memang setia dan bhakti kepada beliau.

    Diceriterakan, beliau-beliau itu sudah menyatu dengan Tuhan. Tinggallah para putranya bertiga, ditinggal oleh ayah serta bundanya. Namun demikian masyarakat se wilayah desa Bukcabe, masih tulus bhaktinya, karena ingat kepada petuah Ki Dukuh Sakti Belatung dahulu. Pada saat itu, putera Ida Bang Manik Angkeran yang nomor empat dari Ni Luh Canting yakni Sira Agra Manik, belum ada dan belum berdiam di Besakih.

    Tidak terhitung berapa tahun ketiga putera itu ditinggal oleh ayah ibunya semua, lalu ada keinginan Ida Sang Bang Banyak Wide akan berbincang dengan kedua adiknya. Setelah semuanya duduk, maka berkatalah Ida Bang Banyak Wide “Inggih, adikku berdua, yang kanda kasihi dan cintai. Teringat kanda dengan petuah Ida l Aji, kata beliau Kakek kita yang bernama, mohon maaf, Ida Danghyang Siddhimantra, bertempat tinggal di Pulau Jawa, tepatnya di daerah Daha. Kalau sekiranya dinda berdua menyetujui, marilah kita pergi ke sana, bersembah sujud menghadap kepada Ida l Kakiyang- kakek kita, agar kita mengetahui keberadaan beliau, agar jangan seperti ungkapan yang mengatakan , tahu akan nama namun tidak tahu akibat rupa. Lagi pula kalau Kanda pikir, mungkin sekali Ida l Kakiyang - kakek kita tidak tahu sama sekali akan keberadaan kanda dinda, karena tidak ada yang menceriterakan perihal keberadaan ayahanda kita serta kita bertiga”.

    Baru didengar perkataan kakaknya demikian, maka menjawablah Ida Sang Bang Tulusdewa dengan sangat sopan: “Inggih palungguh kanda, mengenai perihal itu, perkenankanlah dinda menyampaikan pendapat, namun mohon dimaklumi, bila mana ada yang tidak berkenan di hati kanda. Perihal keinginan kanda , disebabkan niat bhakti kehadapan Ida l Kakiyang, memang wajar sekali. Dinda sangat berbesar hati. Namun bila mana kanda akan pergi ke Jawa, untuk menghadap kepada Ida Kakiyang kakek kita, apalagi berkeinginan untuk bertempat tinggal di sana, mohon maaf dan mohon perkenan kakanda, bahwa dinda tidak bisa mengikuti kehendak kanda itu. Biarkanlah hamba di sini di Bali, agar ada yang melanjutkan yadnya dari ayahanda Ida Sang Pendeta, sebagai tukang sapu di sini di Besakih, seperti menjadi petuah dari ayahanda”.!

    Kemudian Ida Bang Wayabiya menghaturkan sembah: “Inggih palungguh kanda Sang Bang Banyak Wide yang sangat dinda hormati, dinda juga, bukan karena kurang bhakti dinda kepada Ida l Kakiyang, walaupun belum dinda ketahui. Yang nomor dua, tidak kurang bhakti serta kasih dinda bersaudara dengan kakanda. Namun kalau berpindah tempat meninggalkan Bali ini, berat rasanya bagi dinda, karenanya, mohon maaf pula, dinda juga tidak ikut mendampingi kanda, seperti pula pada yang dikatakan kanda Tulusdewa baru. Dinda tidak sekali akan menghalangi niat luhur kakanda untuk pergi ke Jawa, menghadap kepada Ida l Kakiyang. Itu juga sangat pantas. Kalau kakanda berkehendak akan pergi, silakan kakanda pergi sendiri, agar ada yang memberitakan keberadaan di Bali ke hadapan Ida l Kakiyang. Biarkan dinda berdua di sini di Bali “.

    Baru mendengar hatur adik-adiknya berdua, lama Ida Sang Banyak Wide berdiam, berpikir-pikir. Karena memang tidak pernah berpisah dan mereka saling mengasihi satu sama lainnya. Kemudian beliau berkata: “Inggih, kalau demikian pendapat dinda berdua, patut juga, di Bali agar ada, ke Jawa, menurut kanda, juga agar ada yang memberitahukan perihal keadaan kita di Bali ini, seperti yang dikatakan dinda Wayabiya baru. ltu sebabnya perkenankan kanda akan sendirian pergi ke Jawa, untuk menghadap kepada Ida l Kakiyang. Namun ada petuah kanda kepada dinda berdua. Walaupun kanda tidak lagi berada di sini bersama dinda berdua, di mana saja mungkin kanda - dinda berdiam, kalaupun kanda - dinda menemui kebaikan atau keburukan, agar supaya tidak kita lupa bersaudara sampai nanti kepada keturunan kita di kelak kemudian hari. Ingat betul nasehat suci dari Ayahanda kita: Ala Ayu Tunggal! Ayu tunggal, Ayu kabeh. Ala tunggal, ala kabeh! Duka dan suka tunggal! Kalau satu orang mendapatkan kegembiraan, agar semuanya bisa ikut menikmatinya.

    Demikian juga kalau salah satu mengalami kedukaan agar semuanya merasakannya. Mudah-mudahan kita semuanya bisa bertemu kembali. Kalau tidak kanda yang bisa bertemu dengan dinda, semoga anak cucu kita bisa bertemu serta mengingatkan persaudaraan kita di kelak kemudian hari”.

    Inggih, silakan palungguh kanda pergi, dinda menuruti semua apa yang kanda katakan, Semoga kanda selamat, serta bisa bertemu dengan Ida l Kakiyang”. Demikian hatur adiknya berdua.

    Pada hari yang baik, Ida Bang Banyak Wide mohon diri kepada saudaranya berdua, seraya berangkat. Diceriterakan perjalanan Ida Bang Banyak Wide, demikian banyaknya desa, perumahan serta hutan dilewatinya, lembah dan jurang yang dituruninya, jarang sekali berjumpa dengan manusia. Banyak sekali kesulitan yang ditemuinya di jalan tak usah diceriterakan, namun Ida Bang Banyak Wide, walau masih jejaka muda-belia, demikian teguhnya kepada tekadnya, tidak pernah takut dan khawatir menghadapi kesulitan dan hambatan di jalan.

    Pada siang hari beliau berjalan, di mana beliau merasa lesu, di sana berharap untuk beristirahat. Kalau hari sudah menjelang malam, beliau bermalam di mana beliau mendapatkan tempat. Kalau kemalaman di desa, berupaya beliau menumpang di tempat orang, namun seringkali beliau berada di tengah hutan, dan paksa tidur di pohon-pohon kayu. Setiap kali beliau berjumpa dengan orang, tidak lupa beliau menanyakan di mana negeri Daha itu.

    Singkat ceritera, sampailah beliau di perbatasan negeri Daha. Terkesan beliau akan keadaan negeri itu yang demikian ramai dan indah. Berbeda sekali kalau dibandingkan dengan desa Besakih, yang sedikit bangunannya. Bangunan di sana semua besar-megah serta memakai tembok yang tinggi dari batu bata. Orang di sana semuanya memakai pakaian yang bagus - bagus. Jalannya juga lebar, setiap beberapa meter ada lampu yang berderet di sisi jalan.

    Setelah tenggelam sang mentari, kala itu nampak oleh beliau ada sebuah bangunan seperti Jero, bertembok bata dengan memakai pintu gerbang kori agung Di bagian luar dari bangunan yang serupa jero itu, ada balai-balai kecil: bale panjang layaknya seperti tempat orang berteduh dan beristirahat. Di sana lalu beliau berteduh dan beristirahat. Demikian gembiranya beliau, sebab mendapatkan tempat beristirahat yang nyaman.

    Tidak lama, karena demikian lesunya, sekejap beliau sudah terlelap. Ternyata itu ternyata sebuah Griya - tempat seorang pendeta yang bernama Ida Mpu Sedah Di sana, di bagian luar dari Griya Ida Pandita terdapat sebuah batu ceper yang berukuran besar, sebagai tempat Pendeta Mpu Sedah duduk-duduk tatkala beliau beranjangsana. Konon, dahulunya, di tempat batu itu, tak seorangpun berani bermain atau lewat di sana, apalagi untuk mendudukinya. Walau hanya seekor capungpun, kalau hinggap di tempat itu,. langsung akan hangus terbakar.

    Singkat ceritera, ketika hari itu Ida Pandita keluar untuk berjalan-jalan, tiba-tiba beliau berhenti sejenak ketika melihat ada seorang jejaka duduk di batu ceper itu. Lalu didekatinya seraya berkata: ” Uduh kaki, ndi sang kayeng tuan, agia tunggal-tunggal, eman-eman warnanta masmasku. Mwang siapa puspatanira ? Was duga-duga kawongane sira, dadine sira Kaki pasti maweruha. Nah, anakku, dari megerangan sebenarnya ananda ini datang sendirian ke mari. Kagum kakek menyatakan prabawamu . Siapa namamu, serta apa keluarga dan kelahiran ananda? Ayuh jelaskan agar kakek mengetahuinya !”

    Kemudian Ida Sang Bang Banyak Wide berkata, seraya menghaturkan sembah bakti “Singgih pukulun Sang Pendeta, hamba adalah cucu dari Sang Pendeta Siddhimantra, ayahanda hamba adalah Sang Pendeta Angkeran. Nama hamba Sang Banyak Wide, maksud tujuan hamba adalah ingin bertemu dengan kakek Kakiyang hamba di Griya Daha, Ida Sang Pendeta Siddhimantra itu”.

    Baru didengar hatur Ida Sang Banyak Wide demikian, menjadi sangat terharu perasaan Ida Pandita, seraya berkata: “Aum cucuku tercinta, kalau demikian maksud tujuan cucunda, ketahuilah bahwa kakek cucunda ini memiliki hubungan saudara dengan kakekmu itu yang kini sudah tiada. Karena itu sekarang yang paling baik, dengarkan kakekmu ini, jangan dilanjutkan keinginan cucunda pulang ke Griya kakekmu. Di sini saja cucunda berdiam, mendampingi kakekmu ini yang sudah tua renta. Cucuku menjadi pewaris keturunanku, sebab kakekmu ini tidak memiliki keturunan atau anak. Dulu putera kakek ada Iaki-laki seorang, bernama Sira Bang Guwi. Sudah dibunuh oleh sang raja, dosanya karena membangkang kepada raja. Sebab itu sekarang putung - tidak berketurunan kakekmu ini, semoga berkenan cucunda menjadi sentana-keturunan pewarisku, yang akan memelihara tempat kediaman ini kelak di kemudian hari. Sekarang cucunda yang memerintah di kawasan ini. Di samping itu ada petuah Kakek, sebab cucunda memakai pegangan Ke-Budhaan, sementara kakekmu ini melaksanakan Kesiwaan, karena itu sekarang cucunda janganlah lagi menggelar Kebudhaan, gelaran Siwa yang cucunda jadikan pegangan “.Demikian wacana Ida Mpu Sedah kepada Ida Bang Banyak Wide yang memahami dan menyetujui kehendak Ida Pandita, sehingga akhirnya Ida Bang Banyak Wide diresmikan sebagai putera angkat - kadharma putera.

    Sangatlah sukacita perasaan Sang Pendeta. sangat dimanja putranya Ida Bang Banyak Wide. Singkat ceritera, sekarang telah berdiam Ida Sang Bang Banyak Wide di Griya Daha mendampingi kakeknya Ida Mpu Sedah.

    BalasHapus
  7. Evi Christin2 April 2009 00.27

    Nama : EVI CHRISTIN
    NIM : 2102408063
    ROMBEL : 2

    BABAD ALAS NANGKA DHOYONG : Dumadine kutha 'Wonosari'

    Wiwitaning carita ing wewengkon Sumingkar (saikine wilayah Sambi Pitu, Gunungkidul). Sumingkar iki miturut gotheking crita iki minangka Kutha Praja Kabupaten Gunungkidul wektu iku; rikala Sultan Hamengkubuwana I madeg ratu ing Kraton Ngayogyakarta. Sumingkar cedhak karo tembung ‘sumingkir’. Mirid saka kahanan lan sejarahe masyarakat sakiwatengen Sambi Pitu, wong-wong ing wewengkon iki minangka playon saka Majapahit, wong-wong kang ‘sumingkir’ ing alas Gunungkidul biyene. Crita lesane wong-wong kana nerangake manawa Brawijaya pungkasan keplayu tekan alas Gunungkidul, ngulandara ing sawetara papan lan mbukaki alas-alas dumadi desa-desa sarta ninggalake maneka kabudayan. Brawijaya pungkasan moksa ing Guwa Bribin, Semanu, jalaran rikala disuwun malik ngrasuk Islam dening Sunan Kalijaga ora kersa. Kaya dene masyarakat kang sumebar manggon luwih dhisik ing Rongkop, Semanu, Karangmojo, Ngawen, Nglipar, Sambi Pitu, saperangan Pathuk, uga Panggang, wong-wong iki wis dumunung ing sajembaring alas Gunungkidul sadurunge kedaden Palihan Nagari (Prajanjen Giyanti) ing Surakarta. Kabukti kanthi ananing maneka warna kabudayan kang gregete nuduhake semangat Jawa Asli-Hindhu-Buda-praIslam, kaya ta: tledhek, rasulan, cing nggoling, babad alas, reyog, petilasan Hindhu, petilasan Buda, lsp. kang tansah diuri-uri tekane saiki. Crita iki uga minangka bukti stereotip ‘babad’ kaya kang dumadi ing desantaraning pulo Jawa lumrahe; kepara ing nusa-antara.

    Ing Sumingkar Adipati Wiranagara madeg dadi adipati. Piyambake kagungan garwa cacahe loro, sing siji wanita Sumingkar, sing siji garwa triman saka Sultan. Ateges, garwa sing siji saka kraton Ngayogyakarta. Wus dadi kalumrahan yen para adipati pikantuk bebungah awujud apa wae saka ratune, bisa kalungguhan, kalebu garwa triman. Angkahe warna-warna: kanggo lintu tandang gawe, kanggo nerusake trahing kusuma, minangka tandha panguwasaning raja utawa kosok balene; teluke panggedhe ing dhaerah-dhaerah marang Nagaragung. Duk semana, rikala Adipati Wiranagara sowan ing Kraton Ngayogyakarta, piyambake oleh prentah saka Kanjeng Sultan supaya mindhah Kutha Praja Kabupaten Gunungkidul wektu iku kang dumunung ing Sumingkar (Sambi Pitu) menyang Alas Nangka Dhoyong, kang penere ing Kutha Praja Kabupaten Gunungkidul ing wektu iki. Kutha praja kabupaten Gunungkidul prelu dipindhah amarga miturut tata jagading keblat papat, kurang pener manengah. Dadi, rinasa dening Sultan kurang mangaribawani tumrap wewengkon kabupaten Gunungkidul liyane. Mangkono alesan ing crita rakyat dikandhakake. Sawuse kondur saka Kraton Ngayogyakarta, Adipati Wiranagara nimbali kabeh pangembating praja ing Sumingkar supaya sowan ing pendhapa kabupaten.

    Demang Wanapawira, yaiku Demang Piyaman (wilayah Piyaman tekane Nglipar saiki), durung katon sowan ing pendhapa kabupaten. Para pangembating praja padha duwe beda penggalihan babagan durung sowane Demang Wanapawira. Wekasane, Demang Wanapawira tumeka sowan. Rangga Puspawilaga, sawijining rangga asal Siraman, matur marang Adipati Wiranagara supaya Demang Wanapawira diparingi ukuman marga telat anggone sowan. Rangga siji iki pancen wong kang gumunggung, seneng tumindak culika. Ananging usul mau ora ditanduki dening Sang Adipati. Adipati Wiranagara paring dhawuh marang Demang Wanapawira supaya ngayahi jejibahan mbabad Alas Nangka Dhoyong kanggo mangun kutha praja Kabupaten Gunungkidul, kaya dene kang tinitahake Sultan Hamengkubuwana. Demang Wanapawira siyaga mundhi dhawuh. Rangga Puspawilaga ora sarujuk yen Demang Wanapawira kang pinilih ngemban titahe Sultan iku. Angkahe, dheweke kang madeg duta. Rangga Puspawilaga ndhisiki metu saka pasewakan marga ora narima kahanan iku.

    Ing kademangan Piyaman, cinarita ana sawijining perewangan kanthi nama Mbok Nitisari, kawentar jejuluk Nyi Niti. Nyi Niti dimangerteni dening wong-wong ing sakiwatengening Piyaman, kepara ing sawetara wewengkon Gunungkidul wektu iku, minangka perewangan; wong kang linuwih, mligine gayut karo roh alus lan lelembat. Nyi Niti duwe garwa inaran Ki Niti. Nyi Niti satemene mbakyune Demang Wanapawira. Nyi Niti lan Demang Wanapawira iki kalebu keturunane wong-wong playon saka Majapahit jaman semana. Tekane Piyaman, Demang Wanapawira marahake babagan apa kang tinitahake marang piyambake: mbukak Alas Nangka Dhoyong didadekake kutha praja. Demang Wanapawira nyuwun pretimbangan marang kangmboke. Satemene, sawuse ngrungu titah iku Mbok Niti rumangsa yen iku titah kang abot sanggane. Sakehing wong kang dumunung ing wewengkon Gunungkidul wektu iku wus priksa yen Alas Nangka Dhoyong iku alas kang gawat kaliwat, punjere jim lelembut, lan omahe dhanyang Nyi Gadhung Mlathi. Nanging, Mbok Niti saguh nyengkuyung lan ngrewangi Demang Wanapawira. Mbok Niti ndhawuhi Demang Wanapawira: sadurunge ngayahi babad alas supaya nglakoni sesuci lan ngadani slametan. Upacara iki syarat kang wus ditindakake para leluwure kawit biyen lan minangka sarana supaya manungsa bisa nyawiji lan nguwasani alam, kalebu roh-roh kang manggon ing alas wingit Nangka Dhoyong. Dene Nyi Niti bakal nyoba ‘rembugan’ karo Nyi Gadhung Mlathi; dhanyange Alas Nangka Dhoyong!

    Demang Wanapawira, dirowangi Nyi Niti, semadi ing sangisoring wit ringin putih kang eyub, yaiku wit ringin kang mapan ing tengahing Alas Nangka Dhoyong. Nyi Gadhung Mlathi mapan ing wit iku (dhanyang panguwasa Alas Nangka Dhoyong). Demang Wanapawira lan Nyi Niti wus rila yen mengkone dimangsa Nyi Gadhung Mlathi uger titah mbukak alas dadi kutha praja bisa kasembadan. Ana sawenehing banaspati kang ngreridhu Demang Wanapawira lan Nyi Niti kang lagi samadi, nanging bisa ditelukake. Nyi Gadhung Mlati marani saklorone. Dumadi peperangan rame antarane Nyi Gadhung Mlathi lan Nyi Niti. Marga ora ana kang kasoran, mula padha ngadani pirembagan. Nyi Gadhung Mlati menehi palilah alase bisa dibukak didadekke kutha praja kanthi sarat: digawekke sajen Mahesa Lawung. Uwit panggone Nyi Gadhung Mlathi ora pikantuk ditegor lan Gadhung Mlati diwenehi panguripan dumadi dhanyang penunggu; yaiku roh kang njaga masyarakat mengkone. Nanging, Nyi Gadhung Mlati njaluk supaya digawekke sesajen saben taune minangka wujud panjagane masyarakat sing bakal ngenggoni alas iku mengkone. Nyi Niti nyarujuki panjaluke Nyi Gadhung Mlathi. Dene Nyi Gadhung Mlathi banjur mrentah para lelembut supaya nyengkuyung ngewangi pagawean mbukak alas supaya gancar anggone nandangi.

    Sawuse nyekel rembug karo Gadhung Mlathi, Demang Wanapawira sowan ing ngarsane Adipati Wiranegara kanggo nyuwun panyengkuyung manawa enggal dilaksanakake babad alas. Demang Wanapawira lan Nyi Niti ngumpulke rakyat Piyaman lan sakiwatengene banjur gawe sesajen. Rakyat Paliyan dicritakake uga melu ngrewangi mbabad alas. Dene masyarakat Paliyan rewang-rewang mbabad alas iki marga wus kulina ngayahi mbabad alas; yaiku mbabad Alas Giring rikala semana, sadurunge adage Kraton Mataram. Rakyat Piyaman lan Paliyan gotong-royong mbukak alas. Rangga Puspawilaga rumangsa lingsem lan meri marang tandang gawene Wanapawira. Pakaryan mbabad Alas Nangka Dhoyong rampung. Alas wus dumadi kutha praja. Demang Wanapawira kasil ngayahi titahing ratu lan nunggu bebungah saka Sultane.

    Pasar dibukak dening Adipati Wiranegara kanggo ngembangake lan ngrembakakake ajuning kutha. Pasar Nangka Dhoyong, tengere pasar iku, mapan ing wilayah Seneng lan minangka pasar kang rame banget. Adipati Wiranegara ngalembana Wanapawira kang bisa malik alas gung mijil kutha. Kacarita, ana sawijining putri saka Kepanjen Semanu (putra-putrine Panji Harjadipura) aran Rara Sudarmi ditutake Mbok Tuminah teka ing Pasar Seneng. Angkahe Sang Putri kanggo nonton lan ngrasakake kahanan pasar anyar kang lagi wae dibukak. Tekane Rara sudarmi ing Pasar Seneng bareng karo jumedhule Puspayuda, putrane Rangga Puspawilaga. Weruh Rara Sudarmi, Puspayuda rena marang dheweke. Puspayuda banjur nggodha Rara Sudarmi. Rara Sudarmi ora sudi. Banjur, dumadi padudon rame. Demang Wanapawira kang kepeneran uga ana ing Pasar Seneng ngleremke loro-lorone. Kaya dene Puspayuda, mangerteni Rara Sudarmi kang sulistya, ing manahe Demang Wanapawira sajatine uga tuwuh rasa tresna marang Rara Sudarmi. Puspayuda banget murkane marang Demang Wanapawira. Puspayuda ngelek-elek lan nantang Demang Wanapawira. Ananging ora dumadi pasulayan. Demang Wanapawira nglilih Rara Sudarmi lan Mbok Tuminah supaya enggal sumingkir saka pasar. Dene Puspayuda bali ing Siraman, banjur matur marang bapane: nyuwun supaya dilamarake Rara Sudarmi ing Kepanjen Semanu.

    Rara Sudarmi lan Mbok Tuminah mampir ing daleme Nyi Niti. Ing crita iki diterangake yen Nyi Niti iku satemene isih kaprenah sadulur karo Rara Sudarmi, yaiku sadulur adoh saka ramane, Panji Harjadipura. Rara Sudarmi nyuwun pitulungan marang Ki Niti lan Nyi Niti prakara kang lagi wae ditemahi ing Pasar Seneng: dheweke bakal dicidrani Puspayuda, putrane Rangga Puspawilaga. Ora watara suwe, Demang Wanapawira tumekeng kana lan tansaya gedhe krentege marang Rara Sudarmi meruhi Rara Sudarmi prapta ing omahe mbakyune. Ing jroning manah, Demang Wanapawira ngersakke Rara Sudarmi. Candhaking pangangkah, kanyata Mbok Nitisari njodhokake Demang Wanapawira klawan Rara Sudarmi. Cekaking carita, Demang Wanapawira lan Rara Sudarmi padha prajanji disekseni Ki Niti dan Mbok Nitisari.

    Rangga Harjadipura ing Kepanjen Semanu nampa praptane Rangga Puspawilaga kang duwe maksud nglamar Rara Sudarmi kanggo putrane, Puspayuda. Panji Harjadipura nulak kanthi alus marga akeh pawongan wus nglamar Rara Sudarmi. Praptane Puspawilaga kesaru tekane Demang Wanapawira, Ki Niti, lan Mbok Niti kang tindak Semanu kanggo ndherekke Rara Sudarmi lan Mbok Tuminah. Mrangguli kasunyatan iku Rangga Puspawilaga ngelek-elek lan murka marang Demang Wanapawira: geneya Demang Wanapawira tansah munggel pangangkahe. Rangga Puspawilaga banjur oncat saka Semanu. Sawuse Panji Harjadipura diaturi kedadeyan kang ditemahi Rara Sudarmi, piyambake nyrengeni putrane marga ora pantes lan ngisinake sawijining putri panji lelungan ing pasar tanpa lilah. Ananging, Mbok Tuminah lan Demang Wanapawira nyritakake kedadeyan sanyatane lan wewatekane Puspayuda marang Panji Harjadipura. Saengga, Harjadipura lerem dukane.

    Wewangunan ing Kutha Praja tilase Alas Nangka Dhoyong tansaya akeh, rame, lan ngancik rampung. Sanajan mangkono, marga rasa kuciwane kang rumangsa tansah dialang-alangi Wanapawira, Rangga Puspawilaga ngirim ‘para jago’ sarta sakehing bala kanggo merjaya Demang Wanapawira apa dene Nyi Niti. Upaya iku tansah ora kasil. Mriksani lan mireng trekahe Rangga Puspawilaga kang kaya mangkono, Adipati Wiranegara ngawasi tindak-tanduke Rangga Puspawilaga. Samantara, Kutha Praja wus dumadi lan bakal diresmekake dening Sultan Hamengkubuwana I. Kanggo mahargya acara,Panji Harjadipura usul diadani sayembara njemparing, kanggo golek jodho tumrape Rara Sudarmi, uger akeh para punggawa sarta pawongan kang nglamar Rara Sudarmi. Sayembara njemparing bakal kaleksanan kanggo ngramekake peresmian kutha praja Gunungkidul kang anyar.

    Adipati Wiranegara sepisan maneh ngalembana Demang Wanapawira marga bisa mangun kutha praja kang asri lan endah. Adipati Wiranegara nglapurake karyane Demang Wanapawira marang Sultan Hamengkubuwana lumantar Patih Danureja. Alas Nangka Dhoyong malih dadi kutha kang asri. Rakyat padha remen lan muji Demang Wanapawira. Mangerteni kahanan iki, Rangga Puspawilaga panas tambah panas atine lan irine. Marga wus peteng pikire, Rangga Puspawilaga minta sraya Maling Aguna (sawijining tokoh saka wewengkon Bantul) lan sagrombolan jago liyane supaya merjaya Adipati Wiranegara, Demang Wanapawira, Nyi Niti, lan Panji Harjadipura kanthi maksud madeg Adipati Gunungkidul lan musna kabeh wong-wong kang dianggep mungsuh. Panji Harjadipura meruhi rencana ala iku banjur lapuran marang Patih Danureja. Patih Danureja ngutus Raden Mas Baskara kanggo nggulung komplotane Puspawilaga.

    Peresmian kutha kabupaten ing tilase Alas Nangka Dhoyong kalaksanan. Sadurunge gawe ontran-ontran, Maling Aguna lan balane ditangkep. Sayembara njemparing kawiwitan. Puspawilaga melu sayembara. Demang Wanapawira menang ing sayembara. Sultan Hamengkubuwana I maringi tetenger Kutha Nangka Dhoyong kanthi njupuk nama saka ‘Wanapawira’ digabungke nama ‘Nitisari’, dumadi ‘Wanasari’. Saiki lumrah kaserat ‘Wonosari’. Ana maneh sawetara panemu yen nama kutha praja Gunungkidul kang dumadi saka mbabad alas iki asal saka ‘Wana’ kang ateges ‘alas’, lan tembung ‘asri’ kang marga gotheking pocapan dadi ‘sari’ ateges ‘endah’. Minangka sesulih, Demang Wanapawira diangkat dadi adipati kanthi gelar Adipati Wiranegara II. Panji Harjadipura diangkat dadi patih panitipraja Kabupaten Gunungkidul. Ing wekasan, Wanapawira lan Rara Sudarmi nyawiji. Mangkono Wanapawira, [‘Wana’ memper ‘wono’ ateges ‘alas’, ‘pawira’ ateges ‘wong lanang-kendel-prajurit’], bisa ‘mbabad’ samubarang kadurakan kang ana ing sakiwatengene, kepara kang tumanem jero ing manahe, dhewe. Yaiku ‘alas rowe’ ing atine. Tamtu wae sinengkuyung ‘ngelmu’ lan ‘sadulur’ kang bisa ndadekake piyambake ‘tukang babad’, kang satemene.

    (Sumber crita iki saka crita lesan [waca: crita rakyat] kang ‘sawetara’ isih ngrembaka ing wewengkon Gunungkidul sisih lor-kulon. Katuturake dening Sastra Suwarna, mantan Kadhus Piyaman I-Gunungkidul, kanthi owah-owahan kang rinasa prelu kanggo panulisan. Ana maneh sawetara carangan kang ‘uga’ isih ngrembaka ing wewengkon Karangmojo-Ponjong-Semanu babagan dumadine Kutha Wonosari Kabupaten Gunungkidul; kang surasane rada beda ‘kepentingan’ karo crita lesan versi iki. Utawa versi babad sing ateges ‘buku, naskah’, kang ‘sumimpen rapet’ ing jeroning Kraton Ngayogyakarta. Mbokmenawa, versi liya ‘crita lesan’ iki bakal kaaturake ing beda wektu, utawa ing beda kolong. Mbokmenawa..)

    BABAD MANIK ANGKERAN

    Sebagai pendahuluan ceritera, tersebutlah di kawasan Jawa, ada pendeta maha sakti bernama Danghyang Bajrasatwa. Ada putranya Iakilaki seorang bernama Danghyang Tanuhun atau Mpu Lampita, beliau memang pendeta Budha, memiliki kepandaian luar biasa serta bijaksana dan mahasakti seperti ayahnya Danghyang Bajrasatwa. Ida Danghyang Tanuhun berputra lima orang, dikenal dengan sebutan Panca Tirtha. Beliau Sang Panca Tirtha sangat terkenal keutamaan beliau semuanya.

    Beliau yang sulung bernama Mpu Gnijaya. Beliau membuat pasraman di Gunung Lempuyang Madya, Bali Timur, datang di Bali pada tahun Isaka 971 atau tahun Masehi 1049. Beliaulah yang menurunkan Sang Sapta Resi - tujuh pendeta yang kemudian menurunkan keluarga besar Pasek di Bali. Adik beliau bernama Mpu Semeru, membangun pasraman di Besakih, turun ke Bali tahun Isaka 921, tahun Masehi 999. Beliau mengangkat putra yakni Mpu Kamareka atau Mpu Dryakah yang kemudian menurunkan keluarga Pasek Kayuselem. Yang nomor tiga bernama Mpu Ghana, membangun pasraman di Dasar Gelgel, Klungkung datang di Bali pada tahun Isaka 922 atau tahun Masehi 1000. Yang nomor empat, bernama Ida Empu Kuturan atau Mpu Rajakretha, datang di Bali tahun Isaka 923 atau tahun Masehi 1001, membangun pasraman di Silayukti, Teluk Padang atau Padangbai, Karangasem. Nomor lima bernama Ida Mpu Bharadah atau Mpu Pradah, menjadi pendeta kerajaan Prabu Airlangga di Kediri, Daha, Jawa Timur, berdiam di Lemah Tulis, Pajarakan, sekitar tahun Masehi 1000.

    Beliau Mpu Kuturan demikian tersohornya di kawasan Bali, dikenal sebagai Pendeta pendamping Maharaja Sri Dharma Udayana Warmadewa, serta dikenal sebagai perancang pertemuan tiga sekte agama Hindu di Bali, yang disatukan di Samuan Tiga , Gianyar. Beliau pula yang merancang keberadaan desa pakraman - desa adat serta Kahyangan Tiga - tiga pura desa di Bali, yang sampai kini diwarisi masyarakat. Demikian banyaknya pura sebagai sthana Bhatara dibangun di Bali semasa beliau menjabat pendeta negara, termasuk Sad Kahyangan serta Kahyangan Jagat dan Dhang Kahyangan di kawasan Bali ini. Nama beliau tercantum di dalam berbagai prasasti dan lontar yang memuat tentang pura, upacara dan upakara atau sesajen serta Asta Kosala - kosali yang memuat tata cara membangun bangunan di Bali. Tercantum dalam lempengan prasasti seperti ini.

    “Ida sane ngawentenang pawarah - warah silakramaning bwana rwa nista madhya utama. lwirnya ngawangun kahyangan, mahayu palinggih Bhatara - Bhatari ring Bali lwirnya Puseh desa Walyagung Ulunswi Dalem sopana hana tata krama maring Bali, ayun sapara Bhatara lumingga maring Sad Kahyangan, neher sira umike sila krama” yang artinya: Beliau Mpu Kuturan yang mengadakan aturan tentang tatacara di dunia ini yang berhubungan dengan mikro dan makrokosmos dalam tingkat nista madya utama (sederhana, menengah dan utama), seperti membangun pura kahyangan, menyelenggarakan upacara sthana Bhatara-bhatari di Bali. Seperti Pura Puseh Desa, Baleagung, Ulunswi, Dalem, dan karena ada tata cara di Bali seperti itu berkenanlah para Bhatara bersthana di Sad Kahyangan, karena beliau yang mengadakan tata aturan tersebut.

    Adiknya bernama Danghyang Mpu Bharadah mempunyai putra Iaki-laki dan keutamaan yoga beliau bernama Mpu Bahula. Bahula berarti utama. Kepandaian dan kesaktian beliau di dunia sama dengan ayahandanya Mpu Bharadah. Beliau memperistri putri dari Rangdeng Jirah - janda di Jirah atau Girah yang bernama Ni Dyah Ratna Manggali. Kisah ini terkenal dalam ceritera Calonarang. Beliau Empu Bahula berputra Iaki bernama Mpu Tantular, yang sangat pandai di dalam berbagai ilmu filsafat. Tidak ada menyamai dalam soal kependetaan, sama keutamaannya dengan Mpu Bahula, ayahandanya. Mpu Tantular adalah yang dikenal sebagai penyusun Kakawin Sutasoma di mana di dalamnya tercantum “Bhinneka Tunggal lka” yang menjadi semboyan negara Indonesia. Beliau juga bergelar Danghyang Angsokanata. Keberadaan beliau di Bali diperkirakan sejaman dengan pemerintahan raja Bali, Sri Haji Wungsu pada tahun Masehi 1049.

    Ida Mpu Tantular atau Danghyang Angsokanata, berputra empat orang semuanya Iaki-laki. Yang sulung bernama Mpu Danghyang Panawasikan. Yang nomor dua bergelar Mpu Bekung atau Danghyang Siddhimantra. Yang nomor tiga bernama Mpu Danghyang Smaranatha. Yang terkecil bernama Mpu Danghyang Soma Kapakisan.

    Ida Danghyang Panawasikan, bagaikan Sanghyang Jagatpathi wibawa beliau, Ida Danghyang Siddhimantra bagaikan Dewa Brahma wibawa serta kesaktian beliau. Ida Danghyang Asmaranatha bagaikan Dewa Manobawa yang menjelma, terkenal kebijaksanaan dan kesaktian beliau, serta Danghyang Soma Kapakisan, yang menjadi guru dari Mahapatih Gajahmada di Majapahit, bagaikan Dewa Wisnu menjelma, pendeta yang pandai dan bijaksana. Ida Danghyang Panawasikan memiliki putri seorang, demikian cantiknya, diperistri oleh Danghyang Nirartha.

    Ida Danghyang Smaranatha, memiliki dua orang putra, yang sulung bernama Danghyang Angsoka, berdiam di Jawa melaksanakan paham Budha. Adik beliau bernama Danghyang Nirartha, atau Danghyang Dwijendra, Peranda Sakti Wawu Rawuh dan dikenal juga dengan sebutan Tuan Semeru. Beliau melaksanakan paham Siwa, serta menurunkan keluarga besar Brahmana Siwa di Bali yakni, Ida Kemenuh, Ida Manuaba, Ida Keniten, Ida Mas serta Ida Patapan. Danghyang Angsoka sendiri berputra Danghyang Astapaka, yang membangun pasraman di Taman Sari, yang kemudian menurunkan Brahmana Budha di Pulau Bali.

    Ida Danghyang Soma Kapakisan yang berdiam di kawasan kerajaan Majapahit. berputra Ida Kresna Wang Bang Kapakisan, ketika Sri Maharaja Kala Gemet memegang kekuasaan di Majapahit. Ida Kresna Wang Bang Kapakisan mempunyai putra empat orang, semuanya diberi kekuasaan oleh Raja Majapahit, yakni beliau yang sulung menjadi raja di Blambangan, adiknya di Pasuruhan, yang wanita di Sumbawa. dan yang paling bungsu di kawasan Bali. Yang menjadi raja di Bali bernama Dalem Ketut Kresna Kapakisan menurunkan para raja yang bergelar Dalem keturunan Kresna Kepakisan di Bali. Dalem Ketut Kresna Kepakisan datang di Bali, menjadi raja dikawal oleh Arya Kanuruhan, Arya Wangbang - Arya Demung, Arya Kepakisan, Arya Temenggung, Arya Kenceng. Arya Dalancang, Arya Belog, Arya Manguri, Arya Pangalasan, dan Arya Kutawaringin, Arya Gajah Para serta Arya Getas dan tiga wesya: Si Tan Kober, Si Tan Kawur, Si Tan Mundur. Ida Dalem beristana di Samprangan, didampingi oleh l Gusti Nyuh Aya di Nyuh Aya sebagai mahapatih Dalem. Tatkala itu Ida Dalem memerintahkan para menterinya untuk mengambil tempat masing-masing. Ida Arya Demung Wang Bang asal Kediri di Kertalangu, Arya Kanuruhan di Tangkas, Arya Temenggung di Patemon, Arya Kenceng di Tabanan, Arya Dalancang di Kapal, Arya Belog di Kaba-Kaba, Arya Kutawaringin di Klungkung, Arya Gajah Para dan adiknya Arya Getas di Toya Anyar, Arya Belentong di Pacung, Arya Sentong di Carangsari, Kriyan Punta di Mambal, Arya Jerudeh di Tamukti , Arya Sura Wang Bang asal Lasem di Sukahet, Arya Wang Bang asal Mataram tidak berdiam di mana-mana. Arya Melel Cengkrong di Jembrana, Arya Pamacekan di Bondalem, Sang Tri Wesya: Si Tan Kober di Pacung, Si Tan Kawur di Abiansemal dan Si Tan Mundur di Cegahan Demikian dikatakan di Babad Dalem.

    IDA DANGHYANG SIDDHIMANTRA BERPUTRA IDA BANG MANIK ANGKERAN

    Diceriterakan kembali putra Ida Danghyang Angsokanata atau Danghyang Mpu Tantular yang nomor dua yakni Ida Mpu Bekung atau Danghyang Siddhimantra Beliau bernama Mpu Bekung karena beliau tidak bisa mempunyai putra. Kemudian beliau bergelar Danghyang Siddhimantra disebabkan memang beliau pendeta atau Bhujangga yang sakti serta bijaksana. Beliau menjadi sesuhunan sakti Bhujangga luwih (Junjungan sakti, pendeta yang bijaksana) di kawasan Bali ini tatkala itu. Perihal gelar Ida Mpu Bekung menjadi Danghyang Siddhimantra, akan diceriterakan di bawah ini

    Diceriterakan, Ida Mpu Bekung berkeinginan untuk memiliki putra yang akan menjadi penerusnya kelak. Karena itu beliau melaksanakan upacara homa, memuja Sanghyang Brahmakunda Wijaya.

    Karena kesaktian beliau, dan karena permohonannya itu, beliau dianugerahi manik besar yang keluar dari api homa tersebut. Kemudian nampak keluar bayi dari tengah-tengah api pahoman itu. Anak itu kemudian diberi nama Ida Bang Manik Angkeran. Artinya: Bang dari merah warna api itu. Manik dari manik mutu manikam yang menjadi anugerah, dan Angkeran dari keangkeran pemujaan sang pendeta yang demikian makbulnya. Demikian asal mulanya Ida Mpu Bekung memiliki putera.

    Setelah beliau memiliki putera, sangat sukacita beliau Mpu Bekung, diperhatikan dan dimanjakan betul putera beliau. Setiap yang diinginkan putranya dipenuhi.

    Setelah Ida Bang Manik Angkeran menginjak remaja, mungkin diakibatkan oleh kehendak Yang Maha Kuasa, agar supaya Ida Mpu Bekung menemui ganjalan pikiran atau kesusahan, ternyata kemudian putra beliau sehari-hari pekerjaannya hanya berjudi melulu, tidak pernah tinggal diam di rumah, selalu berada di tempat perjudian semata. Di mana saja ada perjudian, di sana Ida Bang Manik Angkeran bermalam. Diceriterakan perjalanan beliau berjudi tidak pernah menang. Selalu kalah saja.

    Hingga habis milik ayahnya dipergunakan untuk berjudi. Yang membuat Mpu Bekung duka cita tiada lain karena putranya tidak pernah pulang ke Griya. itu menyebabkan resah gelisah perasaan beliau, seraya pergi mencari putra beliau Ida Bang Manik Angkeran ke desa-desa. Setiap ada orang yang dijumpai di tengah jalan, ditanyai oleh beliau apakah ada menemui putra beliau yang bernama Ida Bang Manik Angkeran. Namun semuanya mengatakan tidak pernah mengetahui dan menemuinya.

    Diceriterakan, konon, sudah lama beliau mengembara mencari putra beliau itu tidak juga dijumpai, sampai akhirnya tiba di kawasan Tohlangkir pengembaraan beliau Setibanya di Tohlangkir - Gunung Agung, di sana beliau baru merasa lesu lelah kemudian duduk seraya bersamadi menyatukan pikiran beliau, memuja Dewa seraya membunyikan genta beliau yang bernama Ki Brahmara .

    Karena keutamaan puja mantra beliau diiringi dengan suara genta beliau Ki Brahmara yang demikian menakjubkan, menjadi heboh keluar Ida Sanghyang Basukih, seraya berkata: “Ah Mpu Bekung yang datang, apa keinginan Mpu, memuja saya ? Segera katakan. agar saya menjadi tahu !”.

    Berkatalah Ida Mpu Bekung: “Singgih paduka Sanghyang, hamba memiliki anak seorang tidak pernah sama sekali pulang, sejak lama hamba mencarinya, namun belum juga ketemu. Maksud hamba agar dengan senang hati pukulun Sanghyang memberitahu keadaan sebenarnya, apakah dia masih hidup, atau apakah dia sudah .mati. Kalau misalnya dia masih hidup agar supaya pukulun Sanghyang sudi memberi tahu, di mana dia berada”.

    Dengan sukacita Ida Bhatara Basukih berkata: “Ah Mpu, hendaknya Mpu jangan bersedih hati, sebenarnya putra Mpu masih hidup berada di desa-desa, bermalam di sana. Sekarang saya yang akan mengarad (menarik) Jiwa - putra Mpu, agar segera pulang kembali. Namun, Mpu saya minta sarinya susu lembu, sebagai imbalan saya mengarad putra sang Mpu”. Demikian wacana Ida Bhatara Nagaraja, seraya meminta Ida Mpu Bekung agar pulang ke rumahnya .

    Singkat ceritera. pulanglah Ida Mpu memohon diri dari Tohlangkir. Tidak diceriterakan perjalanan beliau, maka sampailah beliau kembali di rumahnya di Griya Daha, dan dilihatnya sang putera telah berada di rumah. ltu sebabnya sangat sukacita beliau Mpu Bekung, seraya berkata: “Duh, putraku Sang Bang, dengarkanlah apa yang ayah katakan sekarang. Jangan lagi ananda mengulangi perbuatan yang sudah - sudah. Ayah tidak sama sekali melarang ananda untuk bermain judi, namun agar ananda ingat juga dengan rumah Ananda. Payah Ayah mencari ananda keluar masuk desa-desa”.

    Kemudian berkatalah putranya: “Singgih palungguh Mpu, ayahandaku, janganlah sekali-kali palungguh Mpu marah serta duka ananda sudah menginjak dewasa sejak dahulu, ananda tidak pernah sama sekali berani ingkar, karena ananda ingin sekali dengan keberadaan diri sebagai seorang putra Brahmana”. Demikian kata putranya Sang Bang Manik Angkeran.

    Setelah usai Ida Mpu Bekung memberikan nasihat kepada putranya, ingat beliau kepada permintaan Ida Bhatara Naga Basukih yang menginginkan susu lembu.

    Pada hari yang baik. lengkap dengan gentanya, beliau melakukan perjalanan menuju Tohlangkir. Sesampainya di Tohlangkir, kemudian beliau mempersiapkan diri dan melakukan yoga semadi memuja Ida Sanghyang Nagaraja seraya membunyikan genta beliau. Karena kemakbulan weda mantra beliau memuja Ida Sanghyang Naga raja, segera Ida Bhatara keluar seraya bersabda: “Ah, Mpu Bekung yang datang.


    Apa keinginan sang Mpu datang lagi?”.

    Kemudian berkatalah Ida Mpu Bekung: “Singgih pukulun Sanghyang, hamba menghadap pada paduka Bhatara, bermaksud menghaturkan sarinya susu, sesuai dengan keinginan Sanghyang. Anak hamba sudah ketemu, ada di rumah”. Tatkala didengarnya kata-kata Mpu Bekung seperti itu, sangat sukacita perasaan Ida Bhatara Basukih seraya berganti rupa menjadi Nagaraja Agung, kemudian meminum sarinya susu, sampai beliau kenyang.

    Setelah beliau kenyang meminum susu lembu itu, seraya berbalik, beliau mengeluarkan emas, saat itu diminta Ida Mpu Bekung agar mengambil emas itu.

    Singkat ceritera, setelah beliau mengambil emas itu yang kemudian dibungkus sebesar kelapa besarnya, lalu beliau memohon diri kepada Ida Sanghyang Basukih Tidak diceriterakan perjalanan Ida Mpu Bekung, akhirnya tiba jugalah beliau di Griya Daha seraya membawa emas. Diketahui emas itu oleh putranya. Ida Bang Manik Angkeran yang gencar bertanya, meminta kepada ayahandanya agar diberi tahu di mana memperoleh emas itu

    Ida Mpu Bekung sangat merahasiakan perihal kepergian beliau mendapat emas itu. Putra beliau tetap saja gencar mencari tahu. Lalu Ida Mpu berkata kepada putranya. “Aduh ananda, jangan hendaknya ananda gencar bertanya seperti itu akan perihal ayah mendapat emas ini. Kalau ada keinginan ananda untuk mengambil, Ayahanda berikan”. Walaupun demikian kasih sayang beliau kepada putranya, tetap saja Sang Bang memohon kepada ayahandanya untuk diberi tahu di mana memperoleh emas itu Karena tidak sampai hati dan rasa kasih sayang yang amat sangat, lalu Ida Mpu memberitahukan perihal beliau mendapatkan harta itu.

    Karena sekarang sudah memiliki emas, maka pergilah Ida Bang Manik Angkeran bermain judi. Mungkin memang sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa, sehari-harinya beliau selalu kalah berjudi. Akhirnya tidak sampai satu bulan habislah sudah emas yang diberikan ayahandanya dijual, dipakai modal di tempat perjudian.

    Karena keadaannya demikian, lalu beliau berpikir keras, dan kemudian Ingat beliau pada perjalanan ayahandanya mendapatkan emas itu, yang merupakan anugerah dari Bhatara di Tohlangkir. Segera beliau pulang, tetapi secara sembunyi - sembunyi agar tidak diketahui ayahandanya, beliau bertolak menuju Tohlangkir seraya membawa susu lembu, serta genta milik ayahandanya, Ki Brahmara.

    Tidak diceriterakan perjalanannya, sampailah beliau di Tohlangkir, di depan gua. Lalu beliau duduk mengheningkan cipta, memuja Dewa, seraya membunyikan genta.

    Rupanya pemujaan beliau yang khusuk, serta diiringi dengan bunyi genta yang Utama itu, membuat geger, keluar Bhatara Naga Basukih dari gua itu seraya berkata “Ah siapa anda ini datang, segera katakan !”.

    Segera Ida Bang Manik Angkeran menyembah: “Singgih paduka Sanghyang, hamba bernama Sang Bang Manik Angkeran. Hamba mengikuti jalan Ayahanda hamba, menghaturkan sarinya susu lembu ke hadapan paduka Sanghyang. “Demikian hatur beliau. Karena demikian, sangat sukacitalah perasaan Ida Bhatara Basukih. Lalu diminumlah susu itu, setelah berganti rupa menjadi ular naga besar berwibawa, seraya meminum susu itu. Seusai meminum susu itu, bersabdalah beliau kepada Ida Bang Manik Angkeran: “lh, Sang Bang, sekarang apa yang kamu inginkan, apapun yang ananda minta akan kuberikan .”

    Berkatalah Ida Bang Manik Angkeran: “Singgih paduka Bhatara, hamba bermaksud untuk memohon modal, nista sekali hamba berjudi, selalu kalah setiap hari “.

    Saat itu Ida Bhatara Basukih mengambil emas, bagaikan sebutir kelapa besarnya. diberikan kepada Ida Bang Manik Angkeran, seraya bersabda: “Ambillah emas ini, segera ananda pulang, poma, poma”. Lalu diambil emas itu, disertai sembah bakti sekaligus memohon pamit ke hadapan Ida Bhatara Nagaraja.

    Singkat ceritera. tibalah Ida Bang Manik Angkeran kembali di rumah di Griya Daha, menyimpan genta saja, lalu beliau pergi lagi untuk bermain judi. Atas kehendak Hyang Widhi, tidak sampai satu bulan, habis juga modalnya, itu sebabnya kembali beliau mengelana, berhutang di perjudian tidak dapat, meminjam tidak diberi. Karena itu, lalu beliau mengambil lagi genta milik ayahandanya, seraya mencari sarinya Susu lembu, dan menyengkelit pedang yang bernama Ki Gepang, lalu segera menuju Tohlangkir.

    Setibanya beliau di Tohlangkir, lalu beliau duduk seperti yang dilakukan sebelumnya, mengheningkan cipta, memuja Dewa, serta membunyikan gentanya. Karena genta itu betul-betul genta utama, gegerlah Ida Sanghyang Basukih ke luar guanya seraya bersabda: “Ah Sang Bang Manik Angkeran kiranya yang datang. Datang lagi ananda membawa susu. Apa lagi permintaanmu, katakan, semaumu akan kuberikan”.

    Karena kewibawaan Ida Bhatara Basukih demikian mempesona dan menggetarkan perasaan, menjadi tak enak perasaan Ida Sang Bang, lalu mengatakan tidak memohon apa-apa. Karena demikian kata Ida Sang Bang, lalu Ida Bhatara berganti rupa kembali menjadi ular naga yang besar, seraya meminum susu lembu tersebut Setelah menyantap susu lembu itu, Ida Bhatara kembali ke gua . Karena beliau berbadan panjang, ketika bagian kepala beliau sudah tiba di tempat peraduan, maka bagian ekor beliau masih berada di luar gua. Dilihat oleh Ida Bang Manik Angkeran ekor Ida Bhatara menyala karena di tempat itu terdapat intan besar bagai ratna mutu manikam beralaskan emas dan mirah yang menyala gemerlapan.

    Ketika itulah muncul rasa angkara loba Ida Bang Manik Angkeran, disusupi oleh niat tamak untuk memiliki permata itu. Lalu beliau menghunus pedang Ki Gepang yang dibawanya segera memenggal ekor Ida Sanghyang Nagaraja, sehingga terputus mata intan yang ada di bagian ekor yang segera diambil dan dilarikan oleh Ida Manik Angkeran.

    Karena demikian tingkah Sang Bang Manik Angkeran, tak terkira murka Ida Bhatara Nagaraja, sebab merasa ekor beliau terluka, lalu beliau kembali bergerak ke luar gua. Dilihat oleh beliau busana beliau dilarikan oleh Ida Bang Manik Angkeran.


    Segera beliau menyemburkan api, yang mengikuti arah perjalanan Ida Bang Manik Angkeran yang kemudian terbakar habis menjadi abu. Tempat itu belakangan bernama Cemara Geseng dan menjadi lokasi Pura Manik Mas Besakih. Sementara itu permata milik Ida Bang Manik Angkeran ditempatkan sebagai pusaka junjungan di Pura Dalem Lagaan, Bebalang, Bangli.

    Diceriterakan Ida Mpu Bekung gundah perasaan beliau, karena putranya tidak pernah pulang ke rumah. Desa-desa diselusuri mencari putranya, namun tiada juga ditemukan. Segera beliau mengheningkan cipta. Karena kesaktian beliau, terlihat oleh beliau putranya sudah menjadi abu. Segera beliau pergi menuju Bali, Besakih yang ditujunya, berkehendak mengikuti perjalanan putranya. Tidak diceriterakan di jalan tibalah beliau di Besakih. Di sana beliau melihat onggokan abu, sementara buah genta berada di sebelah abu itu. Segera diketahui dengan jelas, bahwa genta itu adalah milik beliau yang bernama Ki Brahmara. Jelas sudah abu itu merupakan jasad putranya. Di sana beliau kemudian menumpahkan rasa duka-citanya, seraya berpikir-pikir, jelas meninggalnya Ida Bang Manik Angkeran disebabkan perbuatannya yang tak terpuji, disembur api oleh Ida Sanghyang Nagaraja. Kemudian diambilnya genta Ki Brahmara yang sakti itu.

    Karena sudah jelas diketahui, maka beliau kemudian melanjutkan perjalanan berkehendak untuk menghadap Ida Sanghyang Basukih. Setibanya di depan gua, seperti sebelumnya, beliau kemudian duduk melakukan pemujaan utama memohon ke hadapan Ida Sanghyang Basukih.

    Lama sudah beliau melakukan pemujaan. Lama beliau menunggu, tidak juga keluar Ida Sanghyang Basukih, disebabkan demikian besar amarahnya, ingat diperdaya oleh suara genta.

    ltu sebabnya beliau Mpu Bekung melanjutkan lagi pujastutinya dengan mengujarkan Asta Puja, Basukih Stawa dan Utpeti, Stiti Mantra diiringi dengan suara genta beliau. Karenanya, barulah Ida Bhatara keluar dan dilihatnya Ida Mpu ada di sana yang kemudian merangkul, seraya menghaturkan sembah panganjali agar Ida Bhatara memberikan anugrah dan berkata: “Om paduka Bhatara, ampunilah anak hamba. Tahu betul hamba akan perbuatan anakku yang demikian tak berbudi dan tak terpuji. Bila mana berkenan, sudilah Bhatara menceriterakan perbuatan anak hamba itu . Lama Ida Bhatara berdiam diri. Mukanya cemberut, menunjukkan kekesalan perasaannya yang tak terhingga. Namun, karena Ida Sang Mpu sudah memohon maaf dengan tulus dan suci, maka Ida Bhatara berkata perlahan. Menceriterakan segala perbuatan yang dilakukan Ida Sang Bang Manik Angkeran yang mengatakan diutus oleh Sang Mpu untuk menghaturkan susu lembu, sampai akhirnya dihanguskan menjadi abu oleh beliau.

    Mana kala Ida Mpu mendengar ceritera Ida Bhatara, meleleh air mata Ida Sang Mpu Bekung, dan sesudah Ida Bhatara selesai bersabda, beliau kemudian kembali menghaturkan sembah seraya berkata: “Singgih pukulun paduka Bhatara, demikian memang dosa anakku itu, namun rupanya dia sudah menjalani kematian, habis sudah dosanya. Inggih, hamba sekarang memohon anugerah pukulun Bhatara, sudilah kiranya paduka Bhatara menghidupkan kembali Manik Angkeran, karena dialah anak hamba satu-satunya, sebagai pewaris keturunan yang akan melanjutkan keberadaan hamba kelak. Bila mana dia nanti hidup kembali, hamba akan menyerahkan dirinya kepada paduka Bhatara, agar menghamba di sini sampai kelak kemudian hari”.

    Mendengar hatur Ida Sang Mpu Bekung sedemikian itu, merasa sedikit malu Ida Bhatara seraya bersabda: “Ah, Sang Mpu, bila demikian permintaanmu, aku dengan suka rela menghidupkan anakmu, namun agar sudi kiranya Sang Mpu menyambung kembali ekorku”.

    Lalu menyembah Mpu Bekung: “Singgih paduka Sanghyang, bila demikian keinginan paduka hamba bersedia untuk menyambung kembali ekor paduka Bhatara: Namun, sebelumnya, maafkanlah hamba berani berhatur sembah bila mana paduka Bhatara berkenan, permata intan yang sebelumnya berada di ekor paduka, sebaiknya ditempatkan saja di bagian mahkota paduka Bhatara, karena akan nampak sangat maha utama, dan pula mereka yang jahat tidak akan tergoda untuk ingin memilikinya Dan juga bila mana masih di bagian ekor, di samping terlihat nista, juga membuat paduka Bhatara tidak bisa terbang karena keberatan di bagian ekor”.

    Demikian sukacita perasaan Ida Sanghyang Nagaraja tatkala mendengar hatur Ida Mpu Bekung. Setelah usai bertemu wirasa, lalu Sang Mpu melaksanakan yoga samadhi menghaturkan puja mantra, menyatukan batin beliau memuja Ida Bhagawan Wiswakarma sebagai Dewanya sangging dan undagi (pekerja khusus bangunan tradisional) di Surga.

    Seusai sempurna pujastuti serta permohonan beliau, segera beliau membuat gelung mahkota, dengan hiasan candi kurung, garuda mungkur, dengan anting anting, bergundala dan memakai sekar taji. Demikian indahnya memang kalau dilihat.

    Singkat ceritera, selesai sudah gelung agung itu, kemudian dipakai oleh Ida Bhatara. Memang, demikian menakjubkan. Nampak semakin mempesona prabawa Ida Bhatara, dan juga beliau sekarang bisa terbang. Demikian sukacita hati Ida Bhatara Nagaraja.

    Karena itu, segera pula Ida Bhatara menghidupkan jasad Sang Bang Manik Angkeran, didahului dengan pujastuti weda mantra. Perlahan, Ida Sang Bang Manik Angkeran bangun, seperti baru habis tidur layaknya, hidup seperti semula, dan ketika sadar, beliau cepat lari. Tempat itu kemudian bernama Pura Bangun Sakti.

    Segera Ida Sang Bang diikuti oleh ayahandanya, kemudian dipegang dan diajak untuk menghadap Ida Bhatara Hyang Basukih. Sesuai perjanjian, maka Ida Sang Bang Manik Angkeran dihaturkan kepada Ida Bhatara untuk mengabdi di Basukih sampai kelak di kemudian hari.

    Demikian suka citanya beliau berdua, karena semuanya sudah berhasil, disebabkan kesaktian beliau masing-masing. Ida Sang Nagaraja sudah menghidupkan kembali Ida Sang Bang Manik Angkeran. Juga Ida Mpu Bekung demikian saktinya bisa menyambung kembali ekor Ida Bhatara Nagaraja. Ida Mpu Bekung kemudian menghaturkan sembah terimakasih kepada Ida Sanghyang Basukih. Ida Sanghyang Basukih kemudian bersabda: “Duh, Mpu Bekung, memang demikian saktinya anda ini. Pantas anda bergelar Siddhimantra. demikian sakti dan makbulnya japa - mantra anda. Sejak sekarang, tidak lagi Mpu Bekung nama anda, namun Danghyang Siddhimantra nama anda sang pandita. Silakan, pulanglah sahabat karibku, semoga Dirgahayu, panjang usia anda !” lalu Ida Sanghyang Nagaraja terbang menuju Surga Loka. Sejak saat itu Ida Mpu Bekung bergelar Danghyang Siddhimantra.

    Sebelum Ida Danghyang Siddhimantra kembali ke Griya Daha, tidak lupa beliau memberikan petuah kepada putranya Ida Sang Bang Manik Angkeran: ” Uduh mas juwita permata hati ayah, engkau anakku Manik Angkeran. Ananda akan ayah tinggal sekarang ini. Sebab Ayahanda akan kembali ke Jawa. l Dewa akan ayahanda haturkan kepada Ida Sanghyang Basukih, sesuai dengan janji ayah kepada Ida Bhatara. Mungkin ananda belum jelas tahu perihal keberadaan ananda sendiri yang sebelumnya dihanguskan oleh Ida Bhatara sampai habis menjadi abu, disebabkan karena marah beliau tak terhingga, perilaku ananda sungguh tak terpuji, memenggal ekor Ida Bhatara. Lalu ayahandamu ini memohon kepada Ida Bhatara, agar beliau dengan senang hati menghidupkan kembali ananda, dengan janji, kalau ananda bisa hidup kembali, ananda akan ayah haturkan kepada Ida Bhatara untuk mengabdi di sini di Besakih. Selain itu, kalau ananda kembali ke Jawa, jelas perilaku ananda akan kembali seperti yang sudah-sudah, sebab lingkungan ananda di sana sudah demikian rupa. Diamlah dan tinggal ananda di sini, ayahanda akan kembali ke Jawa. Jangan ananda salah terima dan salah paham, sebab sebenarnya, perihal perasaan ayahanda dan kasih sayang ayahanda kepada ananda, tidak pernah kurang sejak dahulu sampai kapanpun. Ada petuah ayahanda ini yang sangat Penting, agar diteruskan dharma bakti ananda ke hadapan Ida Bhatara di sini di Tohlangkir, Besakih. Jangan sampai menurun, sebab kalau demikian, menjadi ingkar ayahanda dengan janji ayahanda, sangat nista disebut orang. Kemudian ada lagi nasehat ayahanda, sebab ananda sudah pernah pralina atau wafat menjadi abu kemudian disucikan menjadi hidup kembali, hidup untuk keduakalinya, berdwijati namanya, sekarang ananda berwenang menjadi pendeta, agar ananda senantiasa menyelenggarakan, mengatur dan memimpin penyelenggaraan segenap upakara dan upacara di sini di Besakih. Juga agar ananda mengatur semua masyarakat umat di seluruh Bali, agar semakin meningkat bhakti dan sradha imannya, kepada Ida Bhatara serta kepada sthana Ida Bhatara semuanya”.

    Ida Sang Bang Manik Angkeran mengiakan semua yang disampaikan oleh ayahandanya. Di samping petuah tersebut, Ida Sang Bang juga diberikan pengetahuan suci yang memberikan wewenang Ida Sang Bang untuk mengucapkan weda mantra, menyelesaikan upacara, di samping diberikan pengetahuan kerohanian daya kebathinan yang tinggi.

    Seusai Ida Sang Bang Manik Angkeran mendapat pengetahuan suci dan kerohanian, beliau ditinggalkan oleh ayahandanya yang kemudian melakukan perjalanan pulang kembali ke Jawa.

    Tidak diceriterakan perjalanan beliau, tibalah beliau di tanah genting - tempat perbatasan antara Jawa dan Bali. Di sana beliau termenung -menung. teringat beliau akan kelakuan putranya yang tak senonoh. ltu sebabnya timbul kekhawatiran dalam perasaan beliau. seandainya Ida Sang Bang Manik Angkeran kembali lagi ke Jawa, sehingga beliau berkeinginan mengupayakan bagai mana caranya agar putranya tidak bisa lagi kembali, sebab janji beliau sudah demikian pasti. ltu sebabnya kawasan itu akan diubah agar menjadi laut. Di sana kemudian beliau menggelar yoga semadinya. Menyatukan batinnya, memuja Bhatara di pegunungan agar berkenan dan tidak beliau menjadi kualat. Sudah bersatu pikiran beliau dan juga sudah mendapatkan ijin anugrah, lalu tanah genting itu digores dengan tongkat beliau. Bergetar dengan dahsyat kawasan Bali dan Jawa, lindu dan gempa terjadi, kilat dan halilintar bertubi - tubi ! Terpisah dan putuslah kawasan Bali dengan Jawa ! Laut memisahkan keduanya. Lalu laut itu dinamakan dengan Segara Rupek. Tidak terhingga sukacita Dang Hyang Siddhimantra. karena yakin putranya tidak akan bisa kembali lagi ke Jawa. Lalu beliau kembali pulang ke Griya Daha di Jawa.

    IDA BANG MANIK ANGKERAN BERJUMPA DUKUH SAKTI BELATUNG

    Kembali diceriterakan keberadaan Ida Bang Manik Angkeran di Besakih. Beliau membuat pasraman di sebelah Utara gua, sekitar 300 depa jaraknya dari Gua itu. pekerjaan beliau sehari-hari melaksanakan tapa brata yoga samadhi, serta menjaga kebersihan dan kesucian kawasan Pura Besakih. Tak sekalipun beliau lalai. Perilaku beliau berbeda benar jika dibandingkan dengan sebelum beliau wafat dibakar oleh Ida Bhatara Nagaraja. Beliau melaksanakan Kadharmaan, mengikuti ajaran dan perilaku seorang pendeta pura yang suci. Setiap hari beliau menggelar Surya Sewana, memuja Sanghyang Parama Wisesa.

    Suatu ketika tatkala hari sukla paksa pananggalan menjelang purnama, beliau bermaksud untuk membersihkan diri dengan mandi di Toya Sah, Besakih. Setelah membersihkan diri, berkeinginan beliau berjalan-jalan meninjau kawasan Besakih. Lalu terlihat oleh beliau seorang Iaki-laki tua sedang bekerja di ladang, membersihkan padi gaga, membersihkan rumput dan menyiangi. Orang tua itu bernama Ki Dukuh Belatung yang demikian saktinya, namun tindak-tanduknya bagaikan anak kecil senang dipuji serta senang pamer. Baru dilihat seseorang datang ke tempat beliau dan menyaksikan beliau bekerja, keluarlah keisengannya untuk pamer, sengaja berhenti bekerja kemudian menaruh alat siangnya dan melompat duduk di atas alat itu seraya mengambil sirih dan melumatkan sirih itu di atas alat siang tadi.

    Pikir Ki Dukuh ingin supaya yang baru datang menjadi kagum. Namun Sang Bang Manik Angkeran malahan menjadi sangat jengkel melihat aksi pamer Ki Dukuh, karena jelas maksudnya untuk mencoba diri beliau. Lalu, dihampirinya Ki Dukuh seraya berkata: “lh Bapak, kalau begini cara Bapak bekerja, sepertinya bermain-main, sebanyak apa yang bisa Bapak hasilkan?”.

    Lalu berkata Ki Dukuh sedikit gugup: “Siapa pula anda yang bertanya ? Kok rasanya Bapak tidak jelas tahu?”.

    Berkata Ida Bang Manik Angkeran: “Ah saya ini Sang Bang Manik Angkeran, putra beliau Mpu Bekung dari tanah Jawa. Namun saya ini sekarang menghamba kepada Ida Bhatara di Besakih, menjadi tukang sapu”.

    Berkata lagi Ki Dukuh: “Tidak mengerti saya, kalau demikian halnya. Sebab janggal keberadaan sang brahmana seperti itu. Baru sekarang saya mendengar orang bekung (tak punya anak) memiliki putera. Dan lagi ada brahmana menjadi tukang sapu, kalau tidak anda ini brahmana hina”.

    Sedikit marah Sang Bang berkata: “lh Bapak, jangan berbicara sembarangan! Ayah saya memang bekung, namun karena kesaktian beliau, berhasil beliau mengadakan putera. Saya ini memang benar putra seorang Mpu, bukan brahmana hina.

    Serta saya berhak diperintah oleh Ida Bhatara, walaupun pekerjaan yang diperintahkan itu menyapu, itu juga pekerjaan utama, kalau sudah Ida Bhatara yang memerintahkan. Sekarang saya balik bertanya. Kakek ini siapa, serta dari golongan apa ?”

    Ki Dukuh kemudian berkata: “Saya ini bernama Ki Dukuh Belatung, sebagai penua di desa Bukcabe, namun saya membuat tempat tinggal di sini”.

    Berkata lagi Sang Bang, masih perasaannya jengkel: “lh Bapak Dukuh, saya bertanya lagi Itu ada sampah bertimbun akan Bapak bagaimanakan ? Tidak akan Bapak bersihkan ? “

    “Akan saya bersihkan !”.
    “Bagaimana cara Bapak membersihkan ?”
    “Akan saya bakar !”
    “Apa yang akan Bapak pakai membakar ?”


    “Wah, ini benar-benar brahmana aneh”. Ki Dukuh menjawab agak marah, apa lagi dipakai membakar, kalau bukan api. Lalu kalau Ida Bagus apa yang dipakai membakar ?”.

    “Wah” demikian Sang Bang menjawab seperti mencibir, “kalau Bapak Dukuh masih membakar sampah dengan memakai prakpak daun kelapa kering jelas tidak benar Bapak Dukuh tahu dengan falsafah Tri Agni, yang berada di dalam diri sebenarnya. Kalau saya, melalui air kencing saya saja sampah ini akan terbakar tidak bersisa”

    Tatkala didengarnya kata Ida Sang Bang demikian itu, menjadi terhenyak Dukuh, berdiam diri, seraya lama termenung, kemudian menghaturkan sembah “Singgih, Ratu Sang Bang, kalau benar seperti perkataan l Ratu, bisa membakar sampah ini dengan air kencing l Ratu, hamba akan menghaturkan diri, serta semua milik hamba beserta rakyat, serta pula anak hamba akan hamba serahkan semuanya kepada Cokor I Ratu”

    Usai Sang Bang mendengar hatur Ki Dukuh, menjadi pulih kembali perasaan beliau. Lalu beliau berkata perlahan: “Nah, kalau benar seperti perkataan Bapak saya akan memperlihatkan bukti. Namun agar semuanya sanggup datang dan hadir serta disaksikan oleh Ida Sanghyang Triyodasa Saksi”.

    “Jangan sekali-kali l Ratu ragu. Memang dari lubuk hati hamba yang ikhlas tidak akan ingkar dengan janji”. Demikian hatur Ki Dukuh.

    “Nah, kalau begitu, ke sana Bapak pulang, beritahu sanak keluarga serta rakyat Bapak agar datang manakala saya memberikan bukti di hadapan Bapak”. Demikian perjanjian Ida Sang Bang Manik Angkeran.

    Setelah selesai janji itu, Ki Dukuh lalu memberitahukan kepada anak, isteri serta keluarganya, perihal janjinya kepada Ida Bang Manik Angkeran, serta imbalan yang dimasukkan ke dalam janji itu sebagai taruhan. Yang mendengar semuanya sama-sama paham di dalam hatinya menjadi taruhan.

    Tersebutlah pada hari yang telah disepakati, pagi - pagi hari Ida Sang Bang sudah membersihkan diri dengan mandi di Tirtha Mas, serta kemudian melakukan yoga samadhi memuja Sanghyang Agni agar memberikan anugrah. Setelah melakukan yoga dan samadhi, lalu beliau berjalan menuju tempat tinggal Ki Dukuh.

    Setelah dekat dengan tempat Ki Dukuh, nampaknya semuanya lengkap hadir, Ki Dukuh dengan isterinya, keduanya memakai pakaian putih-putih, ditemani dengan anak dan kerabatnya, hanya tinggal menunggu kedatangan Ida Sang Bang. Setelah tepat benar matahari di atas kepala, lalu beliau menuju tempat sampah yang bertimbun, di sana beliau mengheningkan cipta-mamusti, menyatukan pikirannya, menegakkan keteguhan batin Iaksana Gunung Mahameru. Tidak berapa lama, matang sudah yoga beliau, seraya mengeluarkan air kencing di sampah itu. Dan sekejap air kencing itu menjadi api yang menyala-nyala, berkobar. Terbakar semua sampah kebun di tempat itu, hampir-hampir terbakar seluruh hutan di sana.

    Keadaan itu dilihat oleh Ki Dukuh serta semua iringannya, sangat kagum mereka pada kesaktian Ida Sang Bang. Ki Dukuh merasa kalah, namun sekaligus merasa untung, karena merasa mendapatkan jalan baik untuk pulang ke Sorga Loka. Tatkala api itu berkobar. saat itu pula Ida Sang Bang Manik Angkeran membelokkan ujung api itu ke arah timur laut. Lalu beliau berkata kepada Ki Dukuh: “Bapak Dukuh, saya memberi bekal Bapak dengan ganten. Turuti asap itu ke arah timur laut”

    Saat itu Ki Dukuh menemukan jalan baik seraya melihat ada Meru bertingkat 11 (sebelas). Ki Dukuh menuju api itu serta mengheningkan cipta dengan sikap angeranasika mengheningkan cipta dengan melihat hidung, lalu beliau melompat ke tengah-tengah api yang sedang memuncak kobarannya itu. Ki Dukuh naik moksa seiring dengan asap yang mengepul tinggi itu serta kemudian tidak nampak lagi. Keadaan itu diikuti oleh isteri Ki Dukuh yang memakai kerudung dan berkain putih, kemudian mamusti, selanjutnya melompat juga ke api, sebagai tanda setia bhakti kepada suami serta berkeinginan juga menemui jalan terbaik menuju Sorga. Beliau berdua pulang ke Nirwana, melalui Jalan ke Sorga Loka yang utama, serta Juga berdasarkan sasupatan - penyucian oleh Ida Bang Manik Angkeran, yang telah menjadi pendeta yang bijak. Sejak saat itu Ki Dukuh Sakti dikenal dengan gelar Dukuh Lepas atau Dukuh Sorga. Lama kelamaan tempat Ida Sang Bang Manik Angkeran bersengketa dengan Ki Dukuh Sakti itu dinamai Gumawang,

    Sekarang diceriterakan yang masih hidup. Sesudah Ki Dukuh Sakti meninggal semua milik Ki Dukuh serta rakyat se kawasan Desa Bukcabe, diserahkan kepada lda Sang Bang, termasuk putri beliau yang merupakan seorang dara yang bijak, cantik tiada bandingnya, bernama Ni Luh Warsiki. Kedua beliau itu sama-sama saling mencintai, disebabkan yang satunya merupakan seorang jejaka yang tampan bersanding dengan seorang dara yang jelita. Kemudian diselenggarakan Upacara Perkawinan.

    Setelah upacara selesai, lalu keduanya kembali ke Pasraman di Besakih. Sesampai di Tegehing Munduk-tempat ketinggian, Ni Luh Warsiki menoleh ke tempat bekas sampah dibakar, terhenyak beliau, lalu menangis, teringat akan ayah ibunya yang sudah berpulang. Beliau tidak mau melanjutkan perjalanan sebelum pulih perasaan beliau. Rakyat beliau kemudian membuatkan tempat beristirahat di sana. Lama kelamaan tempat itu dikenal dengan nama Munduk Jengis.

    Diceriterakan kemudian rakyat semuanya sangat gembira pada perasaan mereka, disebabkan sekarang mereka memiliki pujaan yang tampan serta sakti, pintar, bijaksana serta dibya caksu, memiliki kesaktian bisa melihat kejadian tanpa hadir langsung.

    Setelah lama beliau berdua bersuami isteri saling mencintai, saling mengasihi maka lahirlah seorang putra Iaki-laki, rupanya tampan serta memiliki prabawa yang agung dinamai Ida Wang Bang Banyak Wide.

    IDA BANG MANIK ANGKERAN BERJUMPA DENGAN BIDADARI

    Tidak terasa berapa tahun lamanya beliau bersuami-isteri, tatkala hari Purnama bulan ke sepuluh, Ida Sang Pendeta keluar dari pasraman, membawa tempat air serta seperangkat alat untuk mandi. Memang sudah menjadi kebiasaan beliau setiap hari baik atau pada hari Purnama-Tilem, selalu beliau bepergian ke Tirtha Pingit untuk mandi. Beliau berjalan naik perlahan sebab merasa senang beliau melihat segala bunga yang tumbuh di tepi jurang, serta pula di berbagai tempat di daerah Besakih. Banyak jenis bunganya serta beraneka rupa warnanya. Demikian senang perasaan Ida Sang Pendeta melihat keadaan seperti itu, sampai beliau menggumam bagaikan berbincang dengan bunga itu semua.

    Setelah beliau memasuki hutan, terdengar oleh beliau suara burung semakin ramai saling bersahutan, Iaksana menyambut kedatangan Sang Pendeta. Beraneka macam memang suara burung itu. Semua itu menambah gembira hati sang pendeta. Tahu-tahu beliau sudah berada dekat dengan tempat Tirtha Pingit yang akan dituju.

    Tiba-tiba beliau berhenti. Karena terlihat oleh beliau seorang wanita sudah ada lebih dahulu di tempat air suci itu, kemungkinan juga akan mandi. Beliau Sang Pendeta lalu memperhatikan wanita itu. Demikian cantiknya serta berwibawa wanita itu. Kemudian beliau merasa-rasa. Sepertinya beliau sudah pernah bertemu dengan wanita itu, namun tidak ingat lagi beliau, di mana, siapa gerangan wanita itu. Ingat lagi, kemudian lupa kembali. Tatkala itu, wanita itu juga diam menunduk, sepertinya acuh.

    Setelah agak lama mengingat-ingat, juga tidak bisa beliau mengingat, maka didekatinya wanita itu, seraya menyampaikan pertanyaan: “Inggih, tuan puteri yang bijak, siapakah gerangan tuan puteri ini, Kok sendiri di tengah hutan begini. Dari mana tuan puteri, apakah tuan puteri benar manusia, apa Wong samar orang maya, ataukah Dewa ?”

    Menjawab wanita itu: “Inggih Sang Pendeta, yang sangat bijaksana, hamba ini bukanlah manusia maya, dan juga bukan manusia”.

    “Kalau demikian, sebenarnya tuan puteri Bidadari ?”.
    “Ya, benar sekali seperti yang Sang Pendeta katakan, hamba memang bidadari dari Sorga”.
    “Aduh, sudah hamba sangka, tentu tuan puteri adalah Bidadari, karena kagum benar hamba melihat kecantikan paras tuan puteri”.

    “Inggih, memang demikian Sang Pendeta. Kalau wanita, kecantikannya yang menyebabkan orang itu kagum. Kalau Iaki-laki jelas kebijaksanaan dan keperwiraannya yang membuat orang kagum serta bertekuk lutut di kakinya”. Demikian kata Sang Bidadari.

    Ketika mendengar perkataan Sang Bidadari sedemikian itu, seperti terkena sindiran Sang Pendeta. Seraya menyembunyikan rasa gugupnya, lalu beliau berkata: “Apa yang mungkin tuan puteri cari, datang ke sini di tengah hutan seorang diri ?” Menjawab Sang Bidadari: “Tidak ada yang hamba cari. Kedatangan hamba ke sini, hanya bersenang-senang”.

    Apa yang menyebabkan tuan puteri datang ke sini untuk bersenang-senang. Apakah di Sorga kurang tempat yang indah untuk bersenang-senang?” “Ya, memang demikian Sang Pendeta. Di Sorga, memang tidak kurang tempat yang indah. Tetapi sebenarnya sekali, yang membuat hati ini senang, tidak tempat yang indah saja, namun senang atau sedih, suka atau duka, hanya tergantung pada hati perasaan kita masing-masing. Kalau seperti hamba, sekarang ini, hanya tempat ini yang paling indah, yang bisa memberikan kesenangan pada perasaan hamba. Sebenarnya Sang Pendeta, bagaikan ditarik hati hamba, jadi berkeinginan hamba untuk datang ke mari, mungkin ada sesuatu hal yang sangat indah di sini”.

    Lagi seperti dikenai sindiran, sampai Sang Pendeta menjadi makin gugup, lalu kemudian beliau berkata lagi: “Memang betul tuan puteri datang dari Sorga, sangat pintar dan bijak tuan puteri berkata, semakin menjadi kagum hamba kepada tuan puteri”.

    “Janganlah berkata demikian Ratu Sang Pendeta. Terlalu banyak l Ratu memuji diri hamba. Sebenarnya sekali, hamba masih terlalu muda”. Demikian Sang Bidadari segera menjawab.

    Setelah lama berbincang-bincang serta keduanya merasa di hati masing -masing sudah akrab serta bersemi lagi rasa cinta, lalu beliau Sang Pendeta memaksakan dirinya untuk berkata: “Duh Dewa Sang Bidadari, perkenankanlah hamba memohon maaf, kalau-kalau perkataan hamba tidak berkenan di hati, karena tidak bisa sama sekali hamba akan menghentikan perasaan hamba yang mungkin bisa dikatakan kurang baik, namun bisa juga disebut baik sekali”.

    Lalu menjawab Sang Bidadari: “Silakan Sang Pendeta, apa yang akan tuan sampaikan. Hamba bersedia untuk mendengarnya. Jangan lagi Sang Pendeta merasa ragu dan khawatir”.

    Berkata Sang Pendeta: “Duh, Dewa, terlebih dahulu hamba menghaturkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas anugerah Tuan Puteri. Pendek kata hamba ingin mengatakan, jangan sekali Tuan Puteri marah, mudah-mudahan Tuan Putri berkenan. Ya, begini …. diri hamba akan hamba serahkan ke hadapan Tuan Putri Namun karena hamba belum bisa ikut ke Sorga Loka mengikuti Tuan Puteri, kalau berkenan, Tuan Puteri akan hamba ajak di sini di dunia, di kawasan Besakih ini, menghamba dan mengabdi kepada Ida Bhatara di sini”.

    Menjawab Sang Bidadari: “Ya kanda, sebelum hamba menjawab keinginan kanda tersebut, berikan saya menceriterakan terlebih dahulu perihal kita berdua kala berada di Kendran. Sebenarnya, dahulu, sebelum kanda diutus untuk turun ke dunia ini, atas permohonan Ida Danghyang Siddhimantra, dinda sudah memilih hubungan-bertunangan dengan kanda. Namun setelah kanda turun ke Marcapada ini dinda masih sendirian berada di Sorga Loka. Lama dinda menunggu kedatangan kanda, tidak juga ada datang-datang. ltu sebabnya dinda sekarang turun ke dunia mengikuti jejak kakanda, agar bisa segera bertemu dengan kakanda, menyatukan tali asih yang sudah bersemi di Sorga Loka. Karena itu, kalau memang benar ada maksud kakanda akan bersatu dengan dinda, dinda tidak lagi berpanjang kata, dinda bersedia mendampingi kanda, walaupun di sini di dunia, semasih kakanda berada di sini”.

    Setelah mendengar perkataan Sang Bidadari demikian itu, merasa gugup dan terhenyak perasaan Ida Sang Pendeta. Namun di lain pihak merasa gembira perasaan beliau, seraya berkata: “Duh, permata hati kanda, l Dewa, dindaku, barangkali memang betul sekali apa yang dinda katakan baru saja, kanda juga merasa-rasa dengan perihal itu. Namun terasa sangat samar hal itu. Sekali lagi kanda ingin menyampaikan terimakasih sebesar-besarnya, karena demikian besar kesetiaan dinda kepada kanda, sampai-sampai dinda mau turun ke dunia ini, meninggalkan semua keindahan yang ada di Sorgaloka. Ya, kalau demikian, kanda sanggup, agar kanda bisa bersama dengan dinda sampai kelak di kemudian hari, ke mana pergi dinda, kanda akan ikut. Namun demikian ada yang kanda ragukan dalam hati kanda, perihal keadaan dinda akan menetap di dunia ini bersama kanda, apakah tidak akan membuat ribut di Sorgaloka, ke sana kemari para Dewa mencari dinda. Itu yang sangat kanda khawatirkan di hati, agar tidak karena kanda yang menyebabkan dinda menemui kesulitan, apalagi dinda sudah demikian berkenan memberikan anugerah kepada kanda”.

    Menjawab Sang Bidadari dengan senyum manis: “Ya kanda, memang sepantasnya kanda memikirkan keadaan dinda. Namun jangan kanda merasa khawatir. Sebab dinda sudah memohon pamit kepada Ida Bhatara serta keluarga dinda semuanya di Sorga, serta dinda sudah mendapatkan ijin dari Ida Bhatara. Memang benar dinda sedikit bersikeras memohon diri kepada Ida Bhatara, karena janji Ida Bhatara dahulu, konon kanda hanya sebentar saja diutus turun ke sini ke dunia.

    Namun, sesudah kanda selesai diruwat Ida Sang Nagaraja, seyogyanya kanda sudah kembali pulang ke Sorga. Memang kanda sudah dapat pulang sekejap, namun karena keras permohonan Ida Sang Nagaraja, yang sudah berjanji kepada Ida Danghyang Siddhimantra, ayah kakanda, lagi pula memang kebetulan ada lain pekerjaan yang harus kanda selesaikan di sini, jadi hambalah yang dikalahkan. Kanda dikembalikan lagi ke dunia. Karena dinda tidak mau ditinggalkan oleh kanda sedemikian lama, jadi dinda menghadap Ida Bhatara, memohon agar dinda diperkenankan turun ke dunia ini, mengikuti perjalanan kanda. Mungkin permohonan dinda dianggap pantas, itu sebabnya dinda diberi ijin untuk mohon pamit serta diberikan wara nugraha untuk bisa turun seperti ini ke dunia, tidak lagi menjalani hal yang sudah lazim, yakni menjelma sejak bayi seperti kelahiran kanda dahulu. Sebab bila demikian perihalnya, jelas tidak bisa dinda bertemu dengan palungguh kanda, seperti sekarang”.

    Memang demikian kagumnya beliau Sang Pendeta pada kadibyacaksuana wawasan Sang Bidadari, kemudian beliau bertanya kembali: “Jadi, kalau demikian halnya, semua perbuatan Kanda di dunia ini sudah dinda ketahui ?”

    “Ya, semua dinda ketahui”.

    Baru demikian Sang Bidadari berkata, menjadi merah muka Ida Pendeta akibat malunya. Hal itu diketahui oleh Sang Bidadari. Lalu, seraya tersenyum, Sang Bidadari melanjutkan: “Namun semua itu merupakan titah atau kehendak dari Ida Bhatara di Sorgaloka. Kanda hanya melaksanakan. Kalau kanda tidak dijadikan anak yang durhaka, tidak bisa kanda akan nyupat- meruwat Ida Sang Nagaraja, sebab tidak lama kanda memenggal ekor beliau yang menjadi tempat berkumpulnya angkara. Namun Beliau Sang Nagaraja tidak berhutang supata kepada kanda, karena beliau sudah pula nyupat-menyucikan diri kanda, beliau melebur badan jasmani - stula sarira kanda yang banyak berisikan dosa, kemudian diganti oleh beliau dengan badan jasmani baik seperti sekarang “.

    Sang Bidadari berhenti sebentar, kemudian melanjutkan lagi: “Dinda lanjutkan sedikit lagi. Begini, perihal beliau Ki Dukuh Belatung. Memang beliau sangat sakti matang sekali dalam hal yoga samadhi. Namun ada kekurangan beliau sedikit. Yaitu beliau sedikit tinggi hati dan senang pujian. ltu sebabnya beliau bersedia diruwat pada api yang keluar dari air kencing kanda. Namun sebenarnya, hal itu merupakan kehendak Ida Bhatara, sebab kalau Ki Dukuh tidak tinggi hati, dan senang pujian, tidak berhasil kanda akan memperlihatkan kesaktian membakar sampah di hutan dengan memakai air kencing, yang menjadi jalan Ki Dukuh untuk moksa. Sebab kalau kanda yang langsung bertindak lebih dahulu, jadi kanda akan dianggap mendahului dan berlaku kurang senonoh. Kesaktian yang kemudian memunculkan hal yang tidak baik jelas akan hilang keutamaannya”. Demikian kata-kata Sang Bidadari.

    Menjadi semakin kagum Sang Pendeta. Merah warna paras muka beliau sudah sirna. Beliau kemudian berkata dengan manis: “Ah, muda-mudanya mereka yang ada di Sorgaloka, lebih bijaksana jika dibandingkan dengan yang ada di dunia. Ya, kalau demikian halnya, menjadi tenang dan hening hati kanda tanpa ganjalan lagi sekarang. Sekarang, kanda temani dinda menuju Pasraman. Namun jangan sekali disamakan keadaan di sini dengan di Sorga”.

    Cepat berkata Sang Bidadari: “Janganlah itu lagi disinggung. Bisa bertemu dengan kanda seperti ini saja, dinda sudah sangat dan lebih bahagia dibandingkan dengan di Sorgaloka”.

    Singkat ceritera, pada akhirnya bersuami-istrilah Ida Sang Pendeta dengan Sang Bidadari, kemudian mengadakan putera Iaki seorang, tampan, berprabawa cerdas, mengagumkan sekali walaupun masih bayi, dinamai Ida Wang Bang Tulusdewa.

    Semakin lama, kawasan Bukcabe, Besakih, Tegenan serta Batusesa, semakin subur makmur, tiada kurang makan dan minum. Itu sebabnya semakin bhakti rakyat di sana kepada Sang Pendeta. Diceriterakan di kawasan Besakih, ada pendamping Ida Sang Pendeta, sebagai pemuka warga Pasek di sana yang bernama Ki Pasek Wayabiya. Beliau sangat bhakti kepada Sang Pendeta, Danghyang Bang Manik Angkeran, karena anugerah beliau memberikan pelajaran tatwa, pengetahuan serta kaparamarthan-kebathinan kepada Ki Pasek. Itu sebabnya Ki Pasek menghaturkan puterinya yang bernama Ni Luh Murdani, seorang wanita yang cantik jelita, sebagai tanda pengikat bhakti beliau kepada Ki Pasek sekeluarga sampai kelak di kemudian hari. Beliau Sang Pendeta tidak menolak keinginan Ki Pasek Wayabiya.

    Dengan demikian sudah tiga orang Sang Pendeta memiliki isteri, semuanya menjadi wikuni - pendeta wanita yang sangat fasih dengan weda mantra serta pula melaksanakan tapa brata yoga samadhi. Dari isterinya - Ni Luh Murdani, lahir seorang putera Iaki-laki, yang juga berprabawa agung, tampan, dinamai Ida Wang Bang Wayabiya atau Ida Wang Bang Kajakauh.

    Bagaikan Brahma, Wisnu, Iswara rupa putra beliau bertiga: Ida Bang Banyak Wide, Ida Bang Tulusdewa miwah Ida Bang Wayabiya. Singkat ceritera, semua putranya itu meningkat dewasa. Karena memang putera orang yang bijak, maka ketiga putranya itu sangat setia dan akrab bersaudara, serta sangat berbakti kepada ayah bundanya. Semuanya pandai, karena segala yang dikatakan oleh ayah-bundanya berisikan Kadharman serta Kawicaksanaan. Isi dari Sanghyang Kamahayanikan, Sanghyang Sarasamuscaya dan Manawa Dharmasastra, sudah ditekuni dan dilaksanakan. Serta tidak ingkar kepada isi dari Tri Ratna dan Asta Marga Utama. Serta oleh Sang Pandita, putranya diberikan nasehat mengenai Putra Sasana dan Tri Guna serta Tri Rna. Pendeknya segala ilmu filsafat yang baik- baik ditekuni oleh Sang Tiga.

    Selain dengan memberikan nasehat kepandaian, kebijaksanaan kepada para putera itu, Sang Pendeta juga sering melakukan perjalanan ke desa-desa memberikan nasehat dan petuah keagamaan serta ilmu kebathinan kepada masyarakat banyak ltu sebabnya, kelak di kemudian hari beliau dibuatkan sthana-pelinggih di pura-pura sebagai bukti sujud bhakti masyarakat kepada beliau.

    IDA BANG MANIK ANGKERAN BERJUMPA KI DUKUH MURTHI

    Diceriterakan sekarang, pada suatu hari. Ida Sang Pendeta Danghyang Bang Manik Angkeran berjalan menuju ke arah Barat Laut, ke arah tempat kediaman Ki Dukuh Murthi. Tidak diceriterakan di jalan, sampailah beliau di hutan Jehem, kemudian, menuju Padukuhan, dan berjumpa dengan Ki Dukuh Murthi. Keduanya kemudian berbincang-bincang mengenai mertua Sang Pendeta yakni Ki Dukuh Belatung yang sudah moksa. Ki Dukuh Murthi memang bersaudara dengan Ki Dukuh Belatung. Pada saat itu Ki Dukuh Murthi memiliki seorang anak wanita yang sangat cantik bernama Ni Luh Canting. Putrinya itu dipersembahkan oleh Ki Dukuh kepada Sang Pendeta, sebagai haturan utama yang tulus ikhlas, bukti besar bhaktinya Sang Dukuh kepada Sang Pendeta, sebagai pengikat hingga kelak di kemudian hari. Beliau Sang Pendeta sangat mencintai dan mengasihi Ni Luh Canting, serta bertemu cinta didasari rasa kasih sayang yang suci. Namun karena ada pekerjaan yang sangat mendesak serta didatangi oleh warga desa-desa lain untuk memberikan pelajaran pengetahuan keagamaan, tergesa-gesa beliau meninggalkan Ni Luh Canting untuk melanjutkan perjalanan memberikan petuah kepada warga desa-desa lainnya.

    Ni Luh Canting kemudian hamil, dan lama-kelamaan melahirkan seorang putra yang tampan, diberi nama Sira Agra Manik. Belakangan Sira Agra Manik kembali ke Besakih, sehubungan dengan pesan ayahandanya untuk menghaturkan Lawangan Agung.

    Dengan demikian Ida Danghyang Bang Manik Angkeran memiliki putra empat orang, yakni Ida Bang Banyak Wide, Ida Bang Tulusdewa, Ida Bang Wayabiya dan Si Agra Manik, yang keturunannya kemudian bernama Catur Warga.

    6. IDA DANGHYANG BANG MANIK ANGKERAN BERPULANG KE SUNYALOKA

    Patut diketahui perihal kesaktian Sang Bidadari sehari-hari, menanak nasi dengan sebulir padi. Sehelai bulu ayam, jika dimasak, menjadi ikan ayam. Keadaan demikian itu jelas tidak boleh dilihat oleh orang lain. Hal itu sudah dipermaklumkan kepada Sang Pendeta, agar beliau jangan mencoba kesaktian Sang Bidadari, agar kesaktian Sang Bidadari tidak hilang. Itu sebabnya keberadaan sehari-hari Sang Pendeta dengan isteri dan putranya di Besakih, tiada kurang suatu apapun.

    Setelah berapa tahun lamanya, Ida Danghyang Bang Manik Angkeran melaksanakan swadharma berkeluarga dengan istri beliau bertiga beserta putranya tiga orang di Besakih, maka tibalah waktunya perjanjian Sang Bidadari harus kembali ke Sorgaloka. Keluar pikiran Ida Sang Pendeta mencoba kesaktian sang istri. Beliau mengintip isterinya Sang Bidadari sedang memasak, manakala isterinya menaruh sebulir padi. Setelah lama nian memasak, dibukanya kekeb - penutup alat masak- itu oleh Sang Bidadari. Dilihat padinya sebulir itu masih seperti sediakala. Saat itu, berpikir Sang Bidadari, kemungkinan memang sampai saat itu Sang Bidadari bersuamikan Sang Pendeta. Kemudian beliau menghadap dan menghaturkan sembah: “Inggih kakandaku, Sang Pandita, rupanya sampai di sini dinda mengabdikan diri - bersuamikan kanda. Sudah usai rupanya perjanjian kita. Dinda sekarang, akan memohon diri ke hadapan palungguh kanda, untuk pulang kembali ke Sorgaloka”.

    Sang Pandita kemudian berkata halus: “Nah, kalau begitu Silakan adinda pulang lebih dahulu, kanda akan mengikuti perjalanan dinda”. Sang Bidadari lalu kembali ke Indraloka.

    Sejak saat itu Ida Sang Pendeta Danghyang Bang Manik Angkeran selalu melaksanakan Yoga Panglepasan untuk pulang ke alam baka. Dan lagi, beliau menyadari akan segera kembali pulang ke Sunyaloka, lalu beliau memanggil putranya bertiga, memberitahukan bahwa putranya bertiga memiliki kakek di Jawa, yang bernama Ida Danghyang Siddhimantra. Bersama isterinya yang dua orang itu, beliau memberikan petuah yang sangat bermakna: ” l Dewa, Bang Banyak Wide, l Dewa, Bang Tulusdewa, l Dewa Bang Wayabiya, anakku bertiga yang sangat ayahanda cintai dan kasihi, ayahanda sekarang bersama ibu-ibumu berdua, akan meninggalkan ananda. Ayahanda akan pulang ke Sorgaloka. Satukan diri ananda dalam bersaudara. Ala Ayu tunggal ! Duka maupun suka hendaknya tetap satu! Kemudian juga agar selalu ingat kepada Bhatara Kawitan, serta senantiasa bhakti menyembah Ida Bhatara semua di sini di Besakih serta Ida Bhatara Basukih. Tidak boleh ananda lalai serta ingkar dengan petuah ayahandamu ini”. Demikian nasehat Ida Sang Pendeta, dicamkan betul oleh para putranya bertiga.

    Pada hari yang baik, beliau kemudian berpulang ke Nirwana, moksa dengan Adhi Moksa-moksa yang utama, diiringkan oleh isterinya berdua, karena keduanya memang setia dan bhakti kepada beliau.

    Diceriterakan, beliau-beliau itu sudah menyatu dengan Tuhan. Tinggallah para putranya bertiga, ditinggal oleh ayah serta bundanya. Namun demikian masyarakat se wilayah desa Bukcabe, masih tulus bhaktinya, karena ingat kepada petuah Ki Dukuh Sakti Belatung dahulu. Pada saat itu, putera Ida Bang Manik Angkeran yang nomor empat dari Ni Luh Canting yakni Sira Agra Manik, belum ada dan belum berdiam di Besakih.

    Tidak terhitung berapa tahun ketiga putera itu ditinggal oleh ayah ibunya semua, lalu ada keinginan Ida Sang Bang Banyak Wide akan berbincang dengan kedua adiknya. Setelah semuanya duduk, maka berkatalah Ida Bang Banyak Wide “Inggih, adikku berdua, yang kanda kasihi dan cintai. Teringat kanda dengan petuah Ida l Aji, kata beliau Kakek kita yang bernama, mohon maaf, Ida Danghyang Siddhimantra, bertempat tinggal di Pulau Jawa, tepatnya di daerah Daha. Kalau sekiranya dinda berdua menyetujui, marilah kita pergi ke sana, bersembah sujud menghadap kepada Ida l Kakiyang- kakek kita, agar kita mengetahui keberadaan beliau, agar jangan seperti ungkapan yang mengatakan , tahu akan nama namun tidak tahu akibat rupa. Lagi pula kalau Kanda pikir, mungkin sekali Ida l Kakiyang - kakek kita tidak tahu sama sekali akan keberadaan kanda dinda, karena tidak ada yang menceriterakan perihal keberadaan ayahanda kita serta kita bertiga”.

    Baru didengar perkataan kakaknya demikian, maka menjawablah Ida Sang Bang Tulusdewa dengan sangat sopan: “Inggih palungguh kanda, mengenai perihal itu, perkenankanlah dinda menyampaikan pendapat, namun mohon dimaklumi, bila mana ada yang tidak berkenan di hati kanda. Perihal keinginan kanda , disebabkan niat bhakti kehadapan Ida l Kakiyang, memang wajar sekali. Dinda sangat berbesar hati. Namun bila mana kanda akan pergi ke Jawa, untuk menghadap kepada Ida Kakiyang kakek kita, apalagi berkeinginan untuk bertempat tinggal di sana, mohon maaf dan mohon perkenan kakanda, bahwa dinda tidak bisa mengikuti kehendak kanda itu. Biarkanlah hamba di sini di Bali, agar ada yang melanjutkan yadnya dari ayahanda Ida Sang Pendeta, sebagai tukang sapu di sini di Besakih, seperti menjadi petuah dari ayahanda”.!

    Kemudian Ida Bang Wayabiya menghaturkan sembah: “Inggih palungguh kanda Sang Bang Banyak Wide yang sangat dinda hormati, dinda juga, bukan karena kurang bhakti dinda kepada Ida l Kakiyang, walaupun belum dinda ketahui. Yang nomor dua, tidak kurang bhakti serta kasih dinda bersaudara dengan kakanda. Namun kalau berpindah tempat meninggalkan Bali ini, berat rasanya bagi dinda, karenanya, mohon maaf pula, dinda juga tidak ikut mendampingi kanda, seperti pula pada yang dikatakan kanda Tulusdewa baru. Dinda tidak sekali akan menghalangi niat luhur kakanda untuk pergi ke Jawa, menghadap kepada Ida l Kakiyang. Itu juga sangat pantas. Kalau kakanda berkehendak akan pergi, silakan kakanda pergi sendiri, agar ada yang memberitakan keberadaan di Bali ke hadapan Ida l Kakiyang. Biarkan dinda berdua di sini di Bali “.

    Baru mendengar hatur adik-adiknya berdua, lama Ida Sang Banyak Wide berdiam, berpikir-pikir. Karena memang tidak pernah berpisah dan mereka saling mengasihi satu sama lainnya. Kemudian beliau berkata: “Inggih, kalau demikian pendapat dinda berdua, patut juga, di Bali agar ada, ke Jawa, menurut kanda, juga agar ada yang memberitahukan perihal keadaan kita di Bali ini, seperti yang dikatakan dinda Wayabiya baru. ltu sebabnya perkenankan kanda akan sendirian pergi ke Jawa, untuk menghadap kepada Ida l Kakiyang. Namun ada petuah kanda kepada dinda berdua. Walaupun kanda tidak lagi berada di sini bersama dinda berdua, di mana saja mungkin kanda - dinda berdiam, kalaupun kanda - dinda menemui kebaikan atau keburukan, agar supaya tidak kita lupa bersaudara sampai nanti kepada keturunan kita di kelak kemudian hari. Ingat betul nasehat suci dari Ayahanda kita: Ala Ayu Tunggal! Ayu tunggal, Ayu kabeh. Ala tunggal, ala kabeh! Duka dan suka tunggal! Kalau satu orang mendapatkan kegembiraan, agar semuanya bisa ikut menikmatinya.

    Demikian juga kalau salah satu mengalami kedukaan agar semuanya merasakannya. Mudah-mudahan kita semuanya bisa bertemu kembali. Kalau tidak kanda yang bisa bertemu dengan dinda, semoga anak cucu kita bisa bertemu serta mengingatkan persaudaraan kita di kelak kemudian hari”.

    Inggih, silakan palungguh kanda pergi, dinda menuruti semua apa yang kanda katakan, Semoga kanda selamat, serta bisa bertemu dengan Ida l Kakiyang”. Demikian hatur adiknya berdua.

    Pada hari yang baik, Ida Bang Banyak Wide mohon diri kepada saudaranya berdua, seraya berangkat. Diceriterakan perjalanan Ida Bang Banyak Wide, demikian banyaknya desa, perumahan serta hutan dilewatinya, lembah dan jurang yang dituruninya, jarang sekali berjumpa dengan manusia. Banyak sekali kesulitan yang ditemuinya di jalan tak usah diceriterakan, namun Ida Bang Banyak Wide, walau masih jejaka muda-belia, demikian teguhnya kepada tekadnya, tidak pernah takut dan khawatir menghadapi kesulitan dan hambatan di jalan.

    Pada siang hari beliau berjalan, di mana beliau merasa lesu, di sana berharap untuk beristirahat. Kalau hari sudah menjelang malam, beliau bermalam di mana beliau mendapatkan tempat. Kalau kemalaman di desa, berupaya beliau menumpang di tempat orang, namun seringkali beliau berada di tengah hutan, dan paksa tidur di pohon-pohon kayu. Setiap kali beliau berjumpa dengan orang, tidak lupa beliau menanyakan di mana negeri Daha itu.

    Singkat ceritera, sampailah beliau di perbatasan negeri Daha. Terkesan beliau akan keadaan negeri itu yang demikian ramai dan indah. Berbeda sekali kalau dibandingkan dengan desa Besakih, yang sedikit bangunannya. Bangunan di sana semua besar-megah serta memakai tembok yang tinggi dari batu bata. Orang di sana semuanya memakai pakaian yang bagus - bagus. Jalannya juga lebar, setiap beberapa meter ada lampu yang berderet di sisi jalan.

    Setelah tenggelam sang mentari, kala itu nampak oleh beliau ada sebuah bangunan seperti Jero, bertembok bata dengan memakai pintu gerbang kori agung Di bagian luar dari bangunan yang serupa jero itu, ada balai-balai kecil: bale panjang layaknya seperti tempat orang berteduh dan beristirahat. Di sana lalu beliau berteduh dan beristirahat. Demikian gembiranya beliau, sebab mendapatkan tempat beristirahat yang nyaman.

    Tidak lama, karena demikian lesunya, sekejap beliau sudah terlelap. Ternyata itu ternyata sebuah Griya - tempat seorang pendeta yang bernama Ida Mpu Sedah Di sana, di bagian luar dari Griya Ida Pandita terdapat sebuah batu ceper yang berukuran besar, sebagai tempat Pendeta Mpu Sedah duduk-duduk tatkala beliau beranjangsana. Konon, dahulunya, di tempat batu itu, tak seorangpun berani bermain atau lewat di sana, apalagi untuk mendudukinya. Walau hanya seekor capungpun, kalau hinggap di tempat itu,. langsung akan hangus terbakar.

    Singkat ceritera, ketika hari itu Ida Pandita keluar untuk berjalan-jalan, tiba-tiba beliau berhenti sejenak ketika melihat ada seorang jejaka duduk di batu ceper itu. Lalu didekatinya seraya berkata: ” Uduh kaki, ndi sang kayeng tuan, agia tunggal-tunggal, eman-eman warnanta masmasku. Mwang siapa puspatanira ? Was duga-duga kawongane sira, dadine sira Kaki pasti maweruha. Nah, anakku, dari megerangan sebenarnya ananda ini datang sendirian ke mari. Kagum kakek menyatakan prabawamu . Siapa namamu, serta apa keluarga dan kelahiran ananda? Ayuh jelaskan agar kakek mengetahuinya !”

    Kemudian Ida Sang Bang Banyak Wide berkata, seraya menghaturkan sembah bakti “Singgih pukulun Sang Pendeta, hamba adalah cucu dari Sang Pendeta Siddhimantra, ayahanda hamba adalah Sang Pendeta Angkeran. Nama hamba Sang Banyak Wide, maksud tujuan hamba adalah ingin bertemu dengan kakek Kakiyang hamba di Griya Daha, Ida Sang Pendeta Siddhimantra itu”.

    Baru didengar hatur Ida Sang Banyak Wide demikian, menjadi sangat terharu perasaan Ida Pandita, seraya berkata: “Aum cucuku tercinta, kalau demikian maksud tujuan cucunda, ketahuilah bahwa kakek cucunda ini memiliki hubungan saudara dengan kakekmu itu yang kini sudah tiada. Karena itu sekarang yang paling baik, dengarkan kakekmu ini, jangan dilanjutkan keinginan cucunda pulang ke Griya kakekmu. Di sini saja cucunda berdiam, mendampingi kakekmu ini yang sudah tua renta. Cucuku menjadi pewaris keturunanku, sebab kakekmu ini tidak memiliki keturunan atau anak. Dulu putera kakek ada Iaki-laki seorang, bernama Sira Bang Guwi. Sudah dibunuh oleh sang raja, dosanya karena membangkang kepada raja. Sebab itu sekarang putung - tidak berketurunan kakekmu ini, semoga berkenan cucunda menjadi sentana-keturunan pewarisku, yang akan memelihara tempat kediaman ini kelak di kemudian hari. Sekarang cucunda yang memerintah di kawasan ini. Di samping itu ada petuah Kakek, sebab cucunda memakai pegangan Ke-Budhaan, sementara kakekmu ini melaksanakan Kesiwaan, karena itu sekarang cucunda janganlah lagi menggelar Kebudhaan, gelaran Siwa yang cucunda jadikan pegangan “.Demikian wacana Ida Mpu Sedah kepada Ida Bang Banyak Wide yang memahami dan menyetujui kehendak Ida Pandita, sehingga akhirnya Ida Bang Banyak Wide diresmikan sebagai putera angkat - kadharma putera.

    Sangatlah sukacita perasaan Sang Pendeta. sangat dimanja putranya Ida Bang Banyak Wide. Singkat ceritera, sekarang telah berdiam Ida Sang Bang Banyak Wide di Griya Daha mendampingi kakeknya Ida Mpu Sedah.

    BalasHapus
  8. Indra Purnamasari2 April 2009 00.28

    Nama : Indra Purnamasari
    NIM : 2102408096
    Rombel : 4
    Ing buku punika pak Poerbatjaraka ngwedharaken sajarah sastra Jawi. Sajarah sastra Jawi kapérang wonten ing pitung jinis ingkang ugi saged dipunanggep pitung jaman:

    1. Serat-serat Jawi Kina ingkang golongan sepuh mawi sekar ageng utawi kakawin saha gancaran
    2. Serat-serat Jawi Kina ingkang mawi sekar kakawin
    3. Serat-serat Jawi Kina ingkang kagolong enèm, ugi taksih mawi sekar kakawin
    4. Serat-serat mawi basa Jawi Tengahan gancaran
    5. Kidung utawi serat mawi sekar tengahan
    6. Serat-serat jaman Islam awal
    7. Serat-serat saking jaman Surakarta

    Sedayanipun kirang langkung wonten 80 (wolung dasa) serat-serat Jawi ingkang kawedhar wonten ing buku punika. Ing andhap inggih serat-serat ingkang dipunamot ing buku puniki:

    * Serat-serat Jawi Kina ingkang golongan sepuh mawi sekar ageng utawi kakawin saha gancaran

    1. Serat Canda-karana
    2. Kakawin Ramayana
    3. Sang Hyang Kamahâyanikan
    4. Brahman.d.puran.a
    5. Agastyaparwa
    6. Uttarakand.a
    7. Mahabharata ing basa Jawi kina
    8. Kunjarakarna
    9. Kakawin Arjunawiwaha
    10. Kakawin Kresnayana
    11. Kakawin Sumanasantaka
    12. Smaradahana
    13. Bhomakawya
    14. Bharatayuddha
    15. Hariwangsa
    16. Gatotkacasraya
    17. Wretasancaya
    18. Lubdhaka

    * Serat-serat Jawi Kina ingkang mawi sekar kakawin

    1. Kakawin Brahmandapurana
    2. Kakawin Kunjarakarna
    3. Kakawin Nagarakretagama
    4. Kakawin Arjunawijaya
    5. Kakawin Sutasoma
    6. Kakawin Parthayajña
    7. Kakawin Nitisastra
    8. Kakawin Nirarthaprakreta
    9. Kakawin Dharmasunya
    10. Kakawin Harisraya

    * Serat-serat Jawi Kina ingkang kagolong enèm, ugi taksih mawi sekar kakawin:

    1. Tantu Panggelaran
    2. Calon Arang
    3. Tantri Kamandaka
    4. Korawasrama
    5. Pararaton

    * Kidung mawi basa Jawai Tengahan

    1. Nawaruci (Dewa Ruci)
    2. Kidung Sudamala
    3. Kidung Subrata
    4. Panji Angrèni
    5. Kidung Sri Tanjung

    * Serat-serat jaman Islam awal

    1. Het boek van Bonang
    2. Een Javaans Geschrift uit de 16e eeuw
    3. Suluk Sukarsa
    4. Koja Jajahan
    5. Suluk Wujil
    6. Suluk Malang Sumirang
    7. Nitisruti
    8. Nitipraja
    9. Serat Séwaka
    10. Serat Ménak
    11. Serat Rengganis
    12. Serat Manik Maya
    13. Serat Ambiya
    14. Serat Kandha

    * Serat-serat saking jaman Surakarta

    1. Serat Bratayuda
    2. Serat Panitisastra
    3. Serat Arjunasastra utawi Lokapala
    4. Serat Darmasunya
    5. Serat Dewaruci
    6. Serat Ménak
    7. Serat Ambiya Yasadipuran
    8. Serat Tajusalatin
    9. Serat Cebolèk
    10. Serat Babad Giyanti
    11. Serat Sasasanasunu
    12. Serat Wicara Keras
    13. Serat Paramayoga
    14. Serat Jitapsara
    15. Serat Pustakaraja
    16. Serat Cemporèt
    17. Babad Prayut
    18. Babad Pakepung

    BalasHapus
  9. Septi Susanti2 April 2009 00.36

    Nama : Septi Susanti
    NIM : 2102408039
    Rombel : 2

    NITISRUTI

    Niti = aturan , sruti = kitab suci.
    Layang Nitisruti kaanggit dening Pangeran Karanggayam ing Pajang. Rampung panulise disengkalani nganggo tetembungan "Jaladri bahni mahastra candra" (1534 C ) utawa taun 1612 M. Ing sakawit layang iki ditulis nganggo basa Kawi utawa basa Jawa Kuna, banjur di gubah nganggo basa Jawa anyar dening Ki Mangunwijaya, awujud tembang macapat ing taun 1928 M.
    Isine piwulang kabecikan, lan carane wong urip ing alam donya. Layang iki moncer banget nalika taun 1900 an.
    Nitisruti kedadeyan saka 8 pupuh yaiku :
    1. Pupuh Dhandhanggula : 31 pada
    2. Pupuh Sinom : 34 pada.
    3. Pupuh Asmaradana : 35 pada.
    4. Pupuh Mijil : 27 pada.
    5. Pupuh Durma : 23 pada.
    6. Pupuh Pucung : 38 pada.
    7. Pupuh Kinanthi : 22 pada.
    8. Pupuh Megatruh : 39 pada.

    Ing ngisor iki cuplikan saka Nitisruti pupuh Pucung

    Pucung

    1.
    Kang sinebut ing gesang ambeg linuhung,
    kang wus tanpa sama,
    iya iku wong kang bangkit,
    amenaki manahe sasama-sama.

    (Sing diarani nduweni watak luhur sing ora ana tandhingane yaiku wong sing bisa ngenaki (gawe kepenak) marang atine wong sapadha-padha.)


    2.
    Saminipun kawuleng Hyang kang tumuwuh,
    kabeh ywa binada,
    anancepna welas asih,
    mring wong tuwa kang ajompo tanpa daya.

    (Sapepadhane kawulane Gusti kang urip kabeh aja dibedak-bedakake, nandura rasa welas asih marang wong tuwa sing jompo tanpa daya.)


    3.
    Malihipun rare lola kawlas ayun,
    myang pekir kasiyan,
    para papa anak yatim,
    openana pancinen sakwasanira.

    (Lan maneh bocah lola sing mesakake, marang pekir miskin, wong papa, anak yatim iku openana sakuwasamu.)


    4.
    Mring wong luput den agung apuranipun,
    manungsa sapraja,
    peten tyase supadya sih,
    pan mangkana wosing tapa kang sanyata.

    (Marang wong sing luput sing gedhe pangapuramu. Manungsa sanegara dipek (diambil) atine supaya asih tresna. Sing mangkono wosing (inti) tapa kang sanyatane.)


    5.
    Yen amuwus ywa umres rame kemruwuk,
    brabah kabrabeyan,
    lir menco ngoceg ngecuwis,
    menek lali kalimput kehing wicara,

    (Yen ngomong aja umres kemruwuk, mesthi akeh sing rumangsa kaganggu, kaya menco ngoceh, lali niyate jalaran kakehan gunem.)


    6.
    Nora weruh wosing rasa kang winuwus,
    tyase katambetan,
    tan uninga ulat liring,
    lena weya pamawasing ciptamaya.

    (Ora ngerti apa sing diomongake, jalaran atine katutup, ora weruh ulat (pasemon), ora ngati-ati anggone mawas nalare.)


    7.
    Dene lamun tan miraos yen amuwus,
    luwung umendela,
    anging ingkang semu wingit,
    myang den dumeh ing pasmon semu dyatmika.

    (Yen ora mirasa yen kandha aluwung menenga. Ing prakara kang wingit,lan duwea pasemon sing anteng.)


    8.
    Yen nengipun alegog-legog lir tugu,
    basengut kang ulat,
    pasmon semu nginggit-inggit,
    yen winulat nyenyengit tan mulat driya.

    (Yen anggonmu meneng legog-legog kaya tugu, lan ulat besengut, semune ngigit-igit , yen dideleng nyenyengit ora ngresepake ati.)


    9.
    Kang kadyeku saenggon-enggon kadulu,
    ngregedi paningal,
    nora ngresepake ati,
    nora patut winor aneng pasamuwan.

    (Kang kaya iku saenggon-enggon ketara ngregedi mripat, ora ngresepake ati, ora patut diwor ing pasamuan.)


    10.
    Wong amuwus aneng pasamuwan agung,
    yeka den sembada,
    sakedale den patitis,
    mengetanawarahe Panitisastra.

    (Wong kandha ing pasamuwan agung kudu sembada, saunine kudu patitis, elinga wewarahe Panitisastra.)


    11.
    Kang kalebu musthikaning rat puniku,
    sujanma kang bisa,
    ngarah-arah wahyaning ngling,
    yektinira aneng ngulat kawistara.

    (Kang kalebu manungsa kang unggul ing jagad yaiku wong sing bisa ngarah-arah wetuning wicara, kang satemene ana ing ulat (pasemin) wis katon.)


    12.
    Ulat iku nampani rasaning kalbu,
    wahyaning wacana,
    pareng lan netya kaeksi,
    kang waspada wruh pamoring pasang cipta.

    (Ulat (wadana, praen) iku nuduhake rasaning ati, wetuning kandha bareng karo soroting mripat. Sing waspada weruh marang pamoring pasang cipta.)


    13.
    Milanipun sang Widhayaka ing dangu,
    kalangkung waskitha,
    uninga salwiring wadi,
    saking sampun putus ing cipta sasmita.

    (Mulane ing dhek biyen sang Widhayaka banget waskitha, weruh sakabehe wadi (rahasia) saka wis putus ing cipta sasmita.)


    14.
    Wit wosipun ngagesang raosing kalbu,
    kumedah sinihan,
    ing sasamaning dumadi,
    nging purwanya sinihan samaning janma.

    (Jalaran wose urip iku rasaning ati, kudu ditresnani ing sapepadhane urip, jalaran wiwitane ditresanani sapadhane manungsa.)


    15.
    Iku kudu sira asiha rumuhun,
    kang mangka lantaran,
    kudu bangkit miraketi,
    mring sabarang kang kapyarsa katingalan.

    (Yaiku kowe kudu tresna asih luwih dhisik, sing dadi lantaran, kudu bisa ngraketi marang sabarang sing kaprungu lan sing katon. )


    16.
    Iya iku kang mangka pangilonipun,
    bangkita ambirat,
    ingkang kawuryan ing dhiri,
    anirnakna panacad maring sasama.

    (Yaiku sing kanggo pengilon bisaa ngilangake sing katon ing awake, ngilangake panacad marang sapepadhane manungsa.)


    17.
    Kabeh mau tepakna ing sariramu,
    paran bedanira,
    kalamun sira mangeksi,
    solah bawa kang ngewani lawan sira.

    (Kabeh iku tepakna awakmu, kepriye bedane yen kowe ndeleng solah bawa sing njengkelake atimu.)


    18.
    Nadyan ratu ya tan ana paenipun,
    nanging sri narendra,
    iku pangiloning bumi,
    enggonira ngimpuni sihing manungsa.

    (Sanadyang ratu iya ora ana bedane. Nanging ratu kanggo pengilon donya anggone ngimpun tresnaning manungsa.)


    19.
    Mapan sampun panjenengan sang aprabu,
    sinebut narendra,
    ratuning kang tata krami,
    awit denya amenaki tyasing janma.

    (Jalaran wis diangkat dadi ratu, diarani narendra, ratune tata krama. Jalaran anggone ngenaki marang atine para manungsa.)


    20.
    Kang kawengku sajagad sru kapiluyu,
    kelu angawula,
    labet piniluta ing sih,
    ing wusana penuh aneng pasewakan.

    (Sing diwengku kabeh padha kapiluyu (seneng) katut ngawula jalaran saka tresna. Ing wusana kebah ana ing pasewakan.)


    21.
    Milanipun bangkit nentremaken kayun,
    saking anggenira,
    bangkit mrih arjaning bumi,
    de genira angraharjaken bawana.

    (Mulane sing bisa nentremake ati saka anggone ngupaya tentreme bumi, ngraharjakake (mensejahterakan) bawana.)


    22.
    Wit genipun anggung anggelar wuwuruk,
    wuwulang ing kuna,
    tinulad linuru-luri,
    winarahken lawan manising wacana.

    (Jalaran tansah nggelar anggone mulang, wulangan kuna-kuna, diconto lan diuri-uri. Diwulangake kanthi manising tembung.)

    23.
    Kanthi alus raras aris wahyeng wuwus,
    winantu santosa,
    ing tyas nityasa prihatin,
    sing dennyarsa amamayu ayuningrat.

    (Kanthi alus laras, sareh anggone kandha (gomong) dilambari kasantosane ati kang tansah prihatin . Sing dikarepake amemayu ayuning bumi.)


    24.
    Yeku ratu tetap kawawah amengku,
    murba amisesa,
    sesining kang bumi-bumi,
    wibawanya mrabawani sabawana.

    (Yaiku ratu kawasa amengku, mrentah lan nguwasani saisine bumi. Wibawane mrebawani sajagad. )

    25.
    Trusing kayun sih marma mring kawlas-ayun,
    mring pekir kasiyan,
    para papa anak yatim,
    wong pariman pinupu lan ingopenan.

    (Terusing ati tresna marang wong sangsara uripe, marang pekir miskin, wong kang kesrakat, anak yatim, wong pepriman dirawat lan diopeni. )

    26.
    Para pandung dursila binujung-bujung,
    sesukering jagad,
    sinrang siningkerken tebih,
    para cidra doracara pinisesa.

    (Maling, lan wong ala diuber-uber jalaran dadi malane jagad, ditumpes, disingkirake sing adoh, wong ngapusi padha diukum.)


    27.
    Pinrih ayu maria alaku dudu,
    dadi santa setya,
    yen meksih meksa tan yukti,
    pinrawasa siyasate sinangetan.

    (Supaya dadi becik, mareni anggone tindak ala, dadi becik. Yen isih meksa ora gelem dipeksa diukum sing luwih abot.)


    28.
    Sang sinuwun denira matrapken kukum,
    adil awarata,
    prasasat samodra agni,
    nadyan aneng siluk sungil kawasesa.

    (Sang ratu anggone matrapake ukum kudu adil, ngibarate samodra geni, sanadyan ndhelik ana ngendi bae, angel, lan panggonan kang sungil uga kudu diukum.)


    29.
    Kang tinuju sanggyaning kang laku dudu,
    tan ana sawala,
    ing agnyeng sri narapati,
    saking adil traping kang pidana dhendha.

    (Sing dituju yaiku wong sing tumindak sing ora bener kudu diukum nganti ora sing suwala (nglawan) marang parentahe ratu, saka adil anggone matrapake paukuman.)


    30.
    Temahipun misuwur ing rat sadarum,
    tetep amisesa,
    sesining kang bumi-bumi,
    sabawana kabeh karoban prabawa.

    (Wusanane misuwur ing sajagad, lan tetep nguwasani saisining bumi, sajagad kabeh kalah prabawa.)


    31.
    Wulangipun satata mintir lumintu,
    sakehing tumitah,
    winruhken ing tata krami,
    asatemah samya tut nurut trapsila.

    (Wulangane ditata kanthi becik, lan mintir (terus menerus) ora ana kendhate. Sakabehe manungsa diweruhake marang tata krama, wusanane kabeh tunduk, patuh nindakake kabecikan (aturan).)


    32.
    Paminipun acucundhuk sekar arum,
    gung kongas mengambar,
    mitonken warnaning sami,
    sumawuring jagad pndha tirtamarta.

    (Upamane wong cundhuk kembang ganda wangi, gandane ngambar-ngambar lan nuduhake warnane sing endah, sumebar ing saindenganing jagad pindha(kaya) tirtamarta.)


    33.
    Sagungipun kang sinung wulang wuwuruk,
    wineruhken marang,
    salwiring kang para wadi,
    samya sayuk yek rumeksa arjeng praja.

    (Sakabehe sing nduweni wenang mulang muruk, dituduhake (diweruhake) sakabehe kang dadi rahasia (wadi) supaya padha njaga karaharjaning negara.)


    34.
    Wit sang ratu kang dadya esthining kalbu,
    mung arjaning jagad,
    kagunan wolung prakawis,
    gung ginelung gumeleng dadya sajuga.

    (Jalaran sang Ratu sing digayuh mung karaharjaning negara. Kagunan (kepandaian) wolung prakara digelung (dipadukan) dadi siji.)


    35.
    Kang ginilut tinulat tinurut-turut,
    warah wurukira,
    sri Ramawijaya nguni,
    mring kang ari sang Gunawan Wibisana.

    (Sing diperdi kanthi temen, diconto lan diturut yaiku wulange Ramawijaya jaman biyen marang rayine sang Gunawan Wibisana.)

    36.
    Rinten dalu ameleng kagunan wolu,
    ginunem ginulang,
    ginilut tan kena lali,
    saben dina mung angesthi Asthabrata.

    (Rina wengi sing dipikirake mung kagunan (kepandaian) 8 prekara, digulang, disinau aja nganti lali. Saben dina tansah nggegulang Asthabrata.)


    37.
    Kang rumuhun anunulat lampahipun,
    Hyang Endra bathara,
    anggung angglar tata krami,
    maring janma sajagat rat pramudhita.

    (Sing kawitan nyonto lakune (tindake) Bathara Endra sing tansah nggelar (mulang) tata krama marang manungsa sajagad pramudhita.)


    38.
    Tandukipun tinindakken mrih pakantuk,
    ing pangreksanira,
    lan paramartaning kapti,
    kinanthenan lumintuning dana boja.



    Anggitan : KGPAA Mangkunagara IV

    Dhandhanggula.

    1.
    Yogyanira kang para prajurit,
    lamun bisa samya anuladha,
    kadya nguni caritane,
    andelira sang Prabu,
    Sasrabau ing Maespati,
    aran Patih Suwanda,
    lalabuhanipun,
    kang ginelung tri prakara,
    guna kaya purune kang den antepi,
    nuhoni trah utama.

    (Yogyane (becike) para prajurit, kabeh bisa niru (nyonto) kaya dongengan jaman kuna, andel-andele sang Prabu Sasrabau ing negara Maespati, sing asmane Patih Suwanda. Lelabuhane (jasa) kang diantepi dening patih Suwanda marang negara digelung (diringkes, dipadukan) dadi siji yaiku: guna, kaya, purun, nuhoni (ngantepi) trahing wong utama.

    2.
    Lire lalabuhan tri prakawis,
    guna bisa saneskareng karya,
    binudi dadi unggule,
    kaya sayektinipun,
    duk bantu prang Manggada nagri,
    amboyong putri domas,
    katur ratunipun,
    purune sampun tetela,
    aprang tandhing lan ditya Ngalengka aji,
    Suwanda mati ngrana.

    (Tegese lelabuhan telung prakara yaiku : 1. guna, bisa mrantasi gawe supaya dadi unggul, 2. kaya : nalika paprangan negara Manggada, bisa mboyong putri dhomas, diaturake marang ratu, 3. purun : kekendale wis nyata nalika perang tandhing karo Dasamuka, ratu negara Ngalengka, patih Suwanda gugur ing madyaning paprangan.)

    3.
    Wonten malih tuladhan prayogi,
    satriya gung nagari Ngalengka,
    sang Kumbakarna namane,
    tur iku warna diyu,
    suprandene nggayuh utami,
    duk awit prang Ngalengka,
    dennya darbe atur,
    mring raka amrih raharja,
    Dasamuka tan keguh ing atur yekti,
    de mung mungsuh wanara.

    (Ana maneh conto sing prayoga (becik) yaiku satriya agung ing negara Ngalengka sing asmane Kumbakarna. Sanadyan wujude buta, parandene kepengin nggayuh kautaman. Nalika wiwit perang Ngalengka dheweke nduwe atur marang ingkang raka supaya Ngalengka tetep slamet (raharja). Dasamuka ora nggugu guneme Kumbakarna, jalaran mung mungsuh bala kethek.)

    4.
    Kumbakarna kinen mangsah jurit,
    mring kang raka sira tan lenggana,
    nglungguhi kasatriyane,
    ing tekad datan purun,
    amung cipta labuh nagari,
    lan nolih yayah rena,
    myang leluhuripun,
    wus mukti aneng Ngalengka,
    mangke arsa rinusak ing bala kapi,
    punagi mati ngrana.

    (Kumbakarna didhawuhi maju perang, ora mbantah jalaran nglungguhi (netepi) watak satriyane. Tekade ora gelem, mung mikir labuh negara, lan ngelingi bapak ibune sarta leluhure, sing wis mukti ana ing Ngalengka, saiki arep dirusak bala kethek. Luwih becik gugur ing paprangan.)

    5.
    Yogya malih kinarya palupi,
    Suryaputra Narpati Ngawangga,
    lan Pandhawa tur kadange,
    len yayah tunggil ibu,
    suwita mring Sri Kurupati,
    aneng nagri Ngastina,
    kinarya gul-agul,
    manggala golonganing prang,
    Bratayuda ingadegken senapati,
    ngalaga ing Korawa.

    (Ana maneh sing kena digawe patuladhan yaiku R. Suryaputra ratu ing negara Ngawangga. Karo Pandhawa isih sadulur seje bapa tunggal ibu. R. Suryaputra suwita marang Prabu Kurupati ing negara Ngastina. Didadekake manggalaning (panglima ) prajurit Ngastina nalika ing perang Bratayuda.)

    6.
    Minungsuhken kadange pribadi,
    aprang tandhing lan sang Dananjaya,
    Sri Karna suka manahe,
    dene sira pikantuk,
    marga dennya arsa males-sih,
    ira sang Duryudana,
    marmanta kalangkung,
    dennya ngetog kasudiran,
    aprang rame Karna mati jinemparing,
    sumbaga wirotama.

    (Dimungsuhake karo sedulure dhewe, yaiku R. Arjuna (Dananjaya). Prabu Karna seneng banget atine jalaran oelh dalan kanggo males kabecikane Prabu Duryudana. Mulane banget anggone ngetog kasudiran (kekendelan). Wusanane Karna gugur kena panah. Kondhang minangka prajurit kang utama).

    7.
    Katri mangka sudarsaneng Jawi,
    pantes lamun sagung pra prawira,
    amirita sakadare,
    ing lalabuhanipun,
    aja kongsi mbuwang palupi,
    manawa tibeng nistha,
    ina esthinipun,
    sanadyan tekading buta,
    tan prabeda budi panduming dumadi,
    marsudi ing kotaman.

    (Conto telu-telune mau minangka patuladhan tanah Jawa. Becik (pantes) yen sakabehe para perwira nuladha sakadare (sakuwasane). Aja nganti mbuwang conto, jalaran yen tibaning apes dadi ina. Sanadyan tekade buta, ora beda kalawan titah liya, nggolek kautaman.)

    Tegese tembung :
    yogyanira = becike, sebaiknya.
    prajurit = bala, tantra, saradhadhu, bala koswa, tentara.
    kadya = lir, pindha, kaya, seperti.
    nguni = jaman biyen, dahulu kala.
    andelira = andel-andele , andalan.
    lelabuhanipun = jasane, jasa.
    ginelung = diringkes, dipadukan.
    guna = kapinteran, kepandaian.
    kaya = bandha donya, kekayaan.
    purun = wani, gelem, keberanian.
    nuhoni = netepi, menepati.
    trah = turun, tedhak, keturunan
    utama = becik, apik, terbaik.
    lir = kaya, teges, makna, arti.
    saneskareng = saneskara + ing = samubarang, sakabehe, sembarang.
    karya = gawe, kardi, pekerjaan.
    binudi = budi + in = diupayakake, diusahakan.
    sayekti = sayektos, temene, sesungguhnya.
    duk = nalika, ketika.
    dhomas = 800. samas = 400.
    tetela = cetha, terang, jelas.
    aprang tandhing = perang ijen lawan ijen, perang satu lawan satu.
    ditya = buta, raseksa, diyu, wil, danawa, raksasa.
    ngrana = ing paprangan, palagan, pabaratan, medan perang.
    suprandene = parandene, sanajan mangkono, walaupun demikian.
    darbe = duwe, mempunyai.
    raka = kakang, kakak.
    raharja = slamet, wilujeng, rahayu, rahajeng, selamat, sejahtera.
    de mung = dene mung , jalaran mung, hanya karena.
    wanara = kethek, kapi, rewanda, kera.
    kinen = ken + in = dikongkon, diutus, diperintah.
    mangsah jurit = maju perang, menuju ke medan laga.
    sira = dheweke, piyambakipun, panjenenganipun, dia.
    lenggana = nolak, mbantah, menolak.
    datan = tan, ora, tidak.
    labuh = berjuang.
    yayah rena = bapak ibu, ayah dan ibu.
    myang = lan, dan
    arsa = arep, ayun, apti, akan.
    punagi = sumpah.
    palupi = conto, sudarsana, tuladha, contoh.
    narpati = ratu, raja, katong, narapati, naradipati, narendra, raja.
    kadang = sedulur, saudara.
    suwita = ngabdi, menghamba.
    kinarya = karya + in = digawe, dipakai.
    agul-agul = andel-andel, andalan.
    manggala = panglima
    senapati = pangedhene prajurit, pemimpin perang, panglima perang.
    manahe = atine, hatinya.
    pikantuk = oleh, mendapat.
    marmanta = marma + anta = sebabe, sebabnya.
    kasudiran = kekendelan, kasekten, kesaktian.
    jinemparing = jemparing + in = dipanah.
    sumbaga = kondhang, kaloka, kajanapriya, terkenal.
    wirotama = wira + utama = prajurit pinunjul, prajurit yang hebat.
    katri = katelu, ketiga.
    sudarsaneng = sudarsana + ing = conto.
    amirita = nirua, ikutilah.
    kongsi = nganti, sampai.
    dumadi = titah, makhluk.
    marsudi = ngupaya, nggoleki, berusaha.
    kotaman = ka+ utama+ an = keutamaan.

    BalasHapus
  10. Pangestika Tuhu Kristanti2 April 2009 02.44

    Nama : Pangestika Tuhu Kristanti
    NIM : 2102408126
    Rombel : 4

    Serat Dewaruci



    Cerita Dewa Ruci diduga -menurut Prof. Dr. RM. Ng Purbotjaroko dan Dr.
    Stutterheim- ditulis kira-kira pada masa peralihan agama, atau pada awal tersebarnya Islam di Tanah Jawa. Cerita aslinya, yang dianggap Babon-nya, dinisbahkan kepada Mpu Ciwamurti. Tetapi naskah-naskah kemudian dihubungkan kepada Ajisaka, yang konon menjadi murid Maulana Ngusman Ngali, seorang penyebar agama Islam. Pada tangan Sunan Bonang, Serat Dewa Ruci yang asli itu diterjemahkan dari Bahasa Kawi ke dalam bahasa Jawa Modern. Terjemahan ini tersimpan di perpustakaan pribadi R.Ng.Ronggowarsito.
    Orang hanya dapat memahami Dewa Ruci bila ia memiliki latar belakang ilmu tasawuf, dengan merujuk paling tidak pada karya-karya Al-Ghazali dan Ibn Arabi. Walaupun Prof. Dr. Ng. Purbotjaroko mengatakan bahwa nilai sastra dewa Ruci itu tidak besar dan nilainya sebagai buku tasawuf juga tidak begitu penting, bagi kebanyakan orang Jawa, terutama
    "angkatan tua", ia dianggap sebagai sumber pokok ajaran Kejawen, sebagai rujukan untuk "ilmu kasampurnan" .

    Dalam Cerita Dewa Ruci, sebenarnya tasawuf disampaikan dengan menggunakan "bahasa" orang Jawa. Secara hermeneutik, jika kita membaca Cerita Dewa Ruci dengan Vorverstandnis (preunderstanding) sastra modern, kita akan mengatakannya seperti Prof. Dr. Ng. Purbotjaroko.Tetapi bila preunderstanding kita itu dilandasi pada literatur sufi,
    kita akan melihatnya sangat sufistik.Sudah lazim dalam literatur sufi, para sufi mengajar lewat ceritra. Cerita itu diambil dari khazanah budaya bangsa yang dihadapi para sufi itu.
    Lihatlah, bagaimana Sa'di, Rumi, dan Hafez mengambil banyak cerita dari khazanah Persia untuk mengajarkan tasawuf.

    R. Ng. Ronggowarsito, yang sempat mengakses Dewa Ruci itu di perpustakaannya, sering merujuk kepadanya dan sangat terpengaruh olehnya pada karya-karya sufistiknya.Sebagai misal, dalam Suluk Suksma Lelana, dikisahkan seorang santri yang bernama Suksma Lelana.Ia melakukan perjalanan panjang untuk mencari ilmu sangkan paran kepada seorang guru kebatinan yang bernama Syekh Iman Suci di arga (bukit) Sinai.Ia mengalami berbagai cobaan. Ia berhadapan dengan putri Raja Kajiman bernama Dewi Sufiyah, dengan dua orang pembantunya: Ardaruntik dan Drembabhukti.

    Menurut Dr Simuh, ketiga makhluk ini melambangkan tiga macam nafsu:
    Sufiyah, Amarah, dan Lawwamah. Para penafsir Dewa Ruci juga menyebut gua di Candramuka dengan dua raksasa di sana sebagai tiga macam nafsu. Ada juga yang menyebut Bhima dengan empat saudaranya (saderek gangsal manunggil bayu), sebagai perjuangan diri kita melawan empat nafsu - Lawwamah, Amarah, Sufiyah, dan Mutmainnah.

    Kisah pencarian air kehidupan bukan hanya ada di Jawa.
    Kisah ini bahkan bisa dilacak sampai setua kebudayaan Mesopotamia, pada bangsa Sumeria.Di kota kuno Uruk bertahta Raja yang sangat perkasa, Gilgamesh.
    Ia tidak pernah mengalami kekecewaan kecuali ketika sahabatnya yang sangat dicintainya, Enkidu, meninggal dunia."Seperti singa betina yang ditinggal mati anak-anak bayinya, sang raja mondar-mandir di dekat ranjang kawannya, meremas-remas rambutnya sendiri, minta anak buahnya membuat patung kawannya dan meraung-meraung dengan keras," begitu tertulis dalam 12 bilah papan yang dikumpulkan dari fragmen Akkadia, kira-kira 1750 SM.

    "Aduhai, biarlah aku tidak mati seperti sahabatku Enkidu. Derita telah merasuki tubuhku. Mati aku takut. Aku akan terus berjalan. Aku tidak akan mundur," kata Gilgamesh sambil meneruskan perjalanannya mencari tanaman yang akan melepaskannya dari kematian dan mengantarkannya kepada keabadian. Hampir seperti Dewa Ruci, ia menempuh perjalanan yang berat dan berbahaya. Ia berhadapan dengan singa-singa yang buas, yang dapat ia hindari berkat bantuan Dewa Bulan. Ia pergi ke gunung di tempat mentari tenggelam. Kepadanya diperlihatkan kematian. Ia berjumpa dengan manusia kalajengking yang menjaga gua. Seorang di antaranya membukakan pintu gua. Gilgamesh dilemparkan ke dalam kegelapan. Habis gelap terbitlah terang. Ia sampai ke taman yang indah dan di tepi pantai ia berjumpa dengan putri yang misterius, Siduri. Sang putri melarangnya meneruskan perjalanan:

    O Gilgamesh, whither do you fare?
    The life you seek, you will not find
    When the gods created man,
    They apportioned death to mankind;
    And retained life to themselves
    O Gilgamesh, fill your belly,
    Make merry, day and night;
    Make of each day a festival of joy,
    Dance and play, day and night!
    Let your raiment be kept clean,
    Your head washed, body bathed,
    Pay heed to the little one, holding onto your hand,
    Let your wife delighted your heart,
    For in this is the portion of man

    Tetapi Gilgamesh tidak ingin berkutat pada "the portion of man".Ia ingin mencari jauh di luar itu. Ia ingin abadi.Putri itu mengantarkannya kepada tukang perahu kematian, yang pada
    gilirannya mengantarkannya ke lautan kosmis.Di situ ia berjumpa dengan Untuk-napishtim, yang hidup abadi bersama isterinya.Ia diberitahu bahwa tanaman keabadian itu terletak di dasar samudra kosmis.Ia harus memetiknya. Pohonnya berduri yang sangat tajam.Tak pernah orang datang untuk memetik tanaman itu, kembali ke pantai dalam keadaan selamat.Jika durinya mengenai tangan, tangan akan segera terpotong; tetapi bila tangan itu berhasil mencabutnya, ia akan hidup abadi.Singkatnya cerita, Gilgamesh berhasil memetiknya, membawanya ke pantai,
    dan -ketika ia beristirahat mandi sejenak- ular mencuri tanaman itu.
    Gilgamesh tidak bisa berusia panjang, tetapi ular bisa .

    Lalu, lebih kemudian dari kebudayaan Sumeria, adalah kisah kepahlawanan Aleksander yang Agung dari Masedonia.Setelah berbagai penaklukannya yang menakjubkan, ia juga ingin mencari
    air kehidupan, yang akan memberikannya keabadian.Aleksander menempuh perjalanan panjang bersama tukang masaknya yang bernama Andreas.Setelah berkelana bertahun-tahun, akhirnya keduanya memutuskan untuk mengambil jalan terpisah.Pada suatu tempat, di tepi sungai, Andreas berhenti untuk makan.Ia membuka bakul makanan, yang di dalamnya sudah disimpan ikan yang sudah dimasak.Tiba-tiba sepercik air mengenai ikan itu. Ikan melompat ke sungai.Andreas mengejar ikan itu dan akhirnya kecebur dalam air keabadian.

    Filosofi Dewa Ruci

    Kiranya perlu dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia)dan Gusti (Pencipta) (manunggaling kawula Gusti )/ pendekatan kepada Yang Maha Kuasa secara total.

    Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang percaya kepada Sang Pencipta, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur. beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan hati yang mantap.Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta melalui kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu hayuning bawono. Kejawen merupakan aset dari orang Jawa tradisional yang berusaha memahami dan mencari makna dan hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai spiritual yang tinggi.

    Tindakan tersebut dibagi tiga bagian yaitu tindakan simbolis dalam religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan simbolis dalam seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat yang tidak mampu dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan agar dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan dengan Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, dan sebagainya. Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi upacara kematian yaitu medoakan orang yang meninggal pada tiga hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua tahun ,tiga tahun, dan seribu harinya setelah seseorang meninggal ( tahlilan ). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit; warna ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.

    Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa dalam kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan hal gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan sebagai obyek exploitasi dan penelitian.

    Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke empatnya dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi konstruksi yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi syarat pembangunan rumah.Dengan analisa tersebut dapat diperkirakan bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya jawa. Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan manusia tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti berputarnya cakra panggilingan.

    Orang Jawa menganggap cerita wayang merupakan cermin dari pada kehidupannya.

    Dewa Ruci yang merupakan cerita asli wayang Jawa memberikan gambaran yang jelas mengenai hubungan harmonis antara Kawula dan Gusti, yang diperagakan oleh Bima atau Aria Werkudara dan Dewa Ruci.Dalam bentuk kakawin (tembang) oleh Pujangga Surakarta,Yosodipuro berjudul:"Serat Dewaruci Kidung" yang disampaikan dalam bentuk macapat, berbahasa halus dan sesuai rumus-rumus tembang, dengan bahasa Kawi, Sanskerta dan Jawa Kuna.

    Intisari cerita tersebut yaitu bahwa pihak kaum Kurawa dengan dinegeri Amarta, ingin menjerumuskan pihak Pandawa dinegeri Astina,(yang sebenarnya adalah:bersaudara) ke dalam kesengsaraan, melalui perantaraan guru Durna. Sena yang juga adalah murid guru Durno diberikan ajaran: bahwa dalam mencapai kesempurnaan demi kesucian badan ,Sena diharuskan mengikuti perintah sang Guru untuk mencari air suci penghidupan ke hutan Tibrasara. Sena mengikuti perintah gurunya dan yakin tidak mungkin teritipu dan terbunuh oleh anjuran Gurunya, dan tetap berniat pergi mengikuti perintah sang Guru,walaupun sebenarnya ada niat sang Guru Durno untuk mencelakaannya.

    Diceritakan Pada saat di negeri Amarta ,Prabu Suyudana/raja Mandaraka/prabu Salya sedang rapat membahas bagaimana caranya Pandawa dapat ditipu secara halus agar musnah, sebelum terjadinya perang Baratayuda, bersama dengan Resi Druna, Adipati Karna, Raden Suwirya, Raden Jayasusena, Raden Rikadurjaya, Adipati dari Sindusena, Jayajatra, Patih Sengkuni, Bisma, Dursasana, dan lain-lainnya termasuk para sentana/pembesar andalan lainnya.

    Kemudian Durna memberi petunjuk kepada Sena, bahwa jika ia telah menemukan air suci itu ,maka akan berarti dirinya mencapai kesempurnaan, menonjol diantara sesama makhluk,dilindungi ayah-ibu, mulia, berada dalam triloka,akan hidup kekal adanya. Selanjutnya dikatakan, bahwa letak air suci ada di hutan Tibrasara, dibawah Gandawedana, di gunung Candramuka, di dalam gua. Kemudian setelah ia mohon pamit kepada Druna dan prabu Suyudana, lalu keluar dari istana, untuk mohon pamit, mereka semua tersenyum, membayangkan Sena berhasil ditipu dan akan hancur lebur melawan dua raksasa yang tinggal di gua itu, sebagai rasa optimisnya ,untuk sementara merekamerayakan dengan bersuka-ria, pesta makan minum sepuas-puasnya.

    Setelah sampai di gua gunung Candramuka, air yang dicari ternyata tidak ada, lalu gua disekitarnya diobrak-abrik. Raksasa Rukmuka dan Rukmakala yang berada di gua terkejut, marah dan mendatangi Sena. Namun walau telah dijelaskan niat kedatangannya, kedua raksasa itu karena merasa terganggu akibat ulah Sena, tetap saja mengamuk. Terjadi perkelahian .......Namun dalam perkelahian dua Raksaksa tersebut kalah, ditendang, dibanting ke atas batu dan meledak hancur lebur. Kemudian Sena mengamuk dan mengobrak-abrik lagi sampai lelah,dalam hatinya ia bersedih hati dan berfikir bagaimana mendapatkan air suci tersebut.Karena kelelahan,kemudian ia berdiri dibawah pohon beringin.

    Setibanya di serambi Astina, saat lengkap dihadiri Resi Druna, Bisma, Suyudana, Patih Sangkuni, Sindukala, Surangkala, Kuwirya Rikadurjaya, Jayasusena, lengkap bala Kurawa, dan lain-lainnya, terkejut....! atas kedatangan Sena. Ia memberi laporan tentang perjalannya dan dijawab oleh Sang Druna :bahwa ia sebenarnya hanya diuji, sebab tempat air yang dicari, sebenarnya ada di tengah samudera. Suyudana juga membantu bicara untuk meyakinkan Sena.
    Karena tekad yang kuat maka Senapun nekat untuk pergi lagi....., yang sebelumnya ia sempat mampir dahulu ke Ngamarta.(tempat para kerabatnya berada) Sementara itu di Astina keluarga Sena yang mengetahui tipudaya pihak Kurawa mengirim surat kepada prabu Harimurti/Kresna di Dwarawati, yang dengan tergesa-gesa bersama bala pasukan datang ke Ngamarta.

    Setelah menerima penjelasan dari Darmaputra, Kresna mengatakan bahwa janganlah Pandawa bersedih, sebab tipu daya para Kurawa akan mendapat balasan dengan jatuhnya bencana dari dewata yang agung. Ketika sedang asyik berbincang-bincang, datanglah Sena, yang membuat para Pandawa termasuk Pancawala, Sumbadra, Retna Drupadi dan Srikandi, dan lain-lainnya, senang dan akan mengadakan pesta. Namun tidak disangka, karena Sena ternyata melaporkan bahwa ia akan meneruskan pencarian air suci itu, yaitu ke tengah samudera. Nasehat dan tangisan, termasuk tangisan semua sentana laki-laki dan perempuan, tidak membuatnya mundur.

    Sena berangkat pergi, tanpa rasa takut keluar masuk hutan, naik turun gunung, yang akhirnya tiba di tepi laut. Sang ombak bergulung-gulung menggempur batu karang bagaikan menyambut dan tampak kasihan kepada yang baru datang, bahwa ia di tipu agar masuk ke dalam samudera, topan datang juga riuh menggelegar, seakan mengatakan bahwa Druna memberi petunjuk sesat dan tidak benar.

    Bagi Sena, lebih baik mati dari pada pulang menentang sang Maharesi, walaupun ia tidak mampu masuk ke dalam air, ke dasar samudera. Maka akhirnya ia berpasrah diri, tidak merasa takut, sakit dan mati memang sudah kehendak dewata yang agung, karena sudah menyatakan kesanggupan kepada Druna dan prabu Kurupati, dalam mencari Tirta Kamandanu, masuk ke dalam samudera.

    Dengan suka cita ia lama memandang laut dan keindahan isi laut, kesedihan sudah terkikis, menerawang tanpa batas, lalu ia memusatkan perhatian tanpa memikirkan marabahaya, dengan semangat yang menyala-nyala mencebur ke laut, tampak kegembiraannya, dan tak lupa digunakannya ilmu Jalasengara, agar air menyibak.
    Alkisah ada naga sebesar segara anakan, pemangsa ikan di laut, wajah liar dan ganas, berbisa sangat mematikan, mulut bagai gua, taring tajam bercahaya, melilit Sena sampai hanya tertinggal lehernya, menyemburkan bisa bagai air hujan. Sena bingung dan mengira cepat mati, tapi saat lelah tak kuasa meronta, ia teringat segera menikamkan kukunya, kuku Pancanaka, menancap di badan naga, darah memancar deras, naga besar itu mati, seisi laut bergembira.

    Sementara itu Pandawa bersedih hati dan menangis memohon penuh iba, kepada prabu Kresna. Lalu dikatakan oleh Kresna, bahwa Sena tidak akan meninggal dunia, bahkan mendapatkan pahala dari dewata yang nanti akan datang dengan kesucian, memperoleh cinta kemuliaan dari Hyang Suksma Kawekas, diijinkan berganti diri menjadi batara yang berhasil menatap dengan hening. Para saudaranya tidak perlu sedih dan cemas.

    Kembali dikisahkan Sang Wrekudara yang masih di samudera, ia bertemu dengan dewa berambut panjang, seperti anak kecil bermain-main di atas laut, bernama Dewa Ruci. Lalu ia berbicara :"Sena apa kerjamu, apa tujuanmu, tinggal di laut, semua serba tidak ada tak ada yang dapat di makan, tidak ada makanan, dan tidak ada pakaian. Hanya ada daun kering yang tertiup angin, jatuh didepanku, itu yang saya makan". Dikatakan pula :"Wahai Wrekudara, segera datang ke sini, banyak rintangannya, jika tidak mati-matian tentu tak akan dapat sampai di tempat ini, segalanya serba sepi. Tidak terang dan pikiranmu memaksa, dirimu tidak sayang untuk mati, memang benar, disini tidak mungkin ditemukan".
    "Kau pun keturunan Sang Hyang Pramesthi, Hyang Girinata, kau keturunan dari Sang Hyang Brama asal dari para raja, ayahmu pun keturunan dari Brama, menyebarkan para raja, ibumu Dewi Kunthi, yang memiliki keturunan, yaitu sang Hyang Wisnu Murti. Hanya berputra tiga dengan ayahmu, Yudistira sebagai anak sulung, yang kedua dirimu, sebagai penengah adalah Dananjaya, yang dua anak lain dari keturunan dengan Madrim, genaplah Pandawa, kedatanganmu disini pun juga atas petunjuk Dhang Hyang Druna untuk mencari air Penghidupan berupa air jernih, karena gurumu yang memberi petunjuk, itulah yang kau laksanakan, maka orang yang bertapa sulit menikmati hidupnya", lanjut Dewa Ruci.

    Kemudian dikatakan :"Jangan pergi bila belum jelas maksudnya, jangan makan bila belum tahu rasa yang dimakan, janganlah berpakaian bila belum tahu nama pakaianmu. Kau bisa tahu dari bertanya, dan dengan meniru juga, jadi dengan dilaksanakan, demikian dalam hidup, ada orang bodoh dari gunung akan membeli emas, oleh tukang emas diberi kertas kuning dikira emas mulia. Demikian pula orang berguru, bila belum paham, akan tempat yang harus disembah".
    Wrekudara masuk tubuh Dewa Ruci menerima ajaran tentang Kenyataan "Segeralah kemari Wrekudara, masuklah ke dalam tubuhku", kata Dewa Ruci. Sambil tertawa sena bertanya :"Tuan ini bertubuh kecil, saya bertubuh besar, dari mana jalanku masuk, kelingking pun tidak mungkin masuk".Dewa Ruci tersenyum dan berkata lirih:"besar mana dirimu dengan dunia ini, semua isi dunia, hutan dengan gunung, samudera dengan semua isinya, tak sarat masuk ke dalam tubuhku".

    Atas petunjuk Dewa Ruci, Sena masuk ke dalam tubuhnya melalui telinga kiri. Dan tampaklah laut luas tanpa tepi, langit luas, tak tahu mana utara dan selatan, tidak tahu timur dan barat, bawah dan atas, depan dan belakang. Kemudian, terang, tampaklah Dewa Ruci, memancarkan sinar, dan diketahui lah arah, lalu matahari, nyaman rasa hati.
    Ada empat macam benda yang tampak oleh Sena, yaitu hitam, merah kuning dan putih. Lalu berkatalah Dewa Ruci: "Yang pertama kau lihat cahaya, menyala tidak tahu namanya, Pancamaya itu, sesungguhnya ada di dalam hatimu, yang memimpin dirimu, maksudnya hati, disebut muka sifat, yang menuntun kepada sifat lebih, merupakan hakikat sifat itu sendiri. Lekas pulang jangan berjalan, selidikilah rupa itu jangan ragu, untuk hati tinggal, mata hati itulah, menandai pada hakikatmu, sedangkan yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih, itu adalah penghalang hati.

    Yang hitam kerjanya marah terhadap segala hal, murka, yang menghalangi dan menutupi tindakan yang baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang baik, segala keinginan keluar dari situ, panas hati, menutupi hati yang sadar kepada kewaspadaan. Yang kuning hanya suka merusak. Sedangkan yang putih berarti nyata, hati yang tenang suci tanpa berpikiran ini dan itu, perwira dalam kedamaian. Sehingga hitam, merah dan kuning adalah penghalang pikiran dan kehendak yang abadi, persatuan Suksma Mulia.

    Lalu Wrekudara melihat, cahaya memancar berkilat, berpelangi melengkung, bentuk zat yang dicari, apakah gerangan itu ?! Menurut Dewa Ruci, itu bukan yang dicari (air suci), yang dilihat itu yang tampak berkilat cahayanya, memancar bernyala-nyala, yang menguasai segala hal, tanpa bentuk dan tanpa warna, tidak berwujud dan tidak tampak, tanpa tempat tinggal, hanya terdapat pada orang-orang yang awas, hanya berupa firasat di dunia ini, dipegang tidak dapat, adalah Pramana, yang menyatu dengan diri tetapi tidak ikut merasakan gembira dan prihatin, bertempat tinggal di tubuh, tidak ikut makan dan minum, tidak ikut merasakan sakit dan menderita, jika berpisah dari tempatnya, raga yang tinggal, badan tanpa daya. Itulah yang mampu merasakan penderitaannya, dihidupi oleh suksma, ialah yang berhak menikmati hidup, mengakui rahasia zat.

    Kehidupan Pramana dihidupi oleh suksma yang menguasai segalanya, Pramana bila mati ikut lesu, namun bila hilang, kehidupan suksma ada. Sirna itulah yang ditemui, kehidupan suksma yang sesungguhnya, Pramana Anresandani.
    Jika ingin mempelajari dan sudah didapatkan, jangan punya kegemaran, bersungguh-sungguh dan waspada dalam segala tingkah laku, jangan bicara gaduh, jangan bicarakan hal ini secara sembunyi-sembunyi, tapi lekaslah mengalah jika berselisih, jangan memanjakan diri, jangan lekat dengan nafsu kehidupan tapi kuasailah.

    Tentang keinginan untuk mati agar tidak mengantuk dan tidak lapar, tidak mengalami hambatan dan kesulitan, tidak sakit, hanya enak dan bermanfaat, peganglah dalam pemusatan pikiran, disimpan dalam buana, keberadaannya melekat pada diri, menyatu padu dan sudah menjadi kawan akrab. Sedangkan Suksma Sejati, ada pada diri manusia, tak dapat dipisahkan, tak berbeda dengan kedatangannya waktu dahulu, menyatu dengan kesejahteraan dunia, mendapat anugerah yang benar, persatuan manusia/kawula dan pencipta/Gusti. Manusia bagaikan wayang, Dalang yang memainkan segala gerak gerik dan berkuasa antara perpaduan kehendak, dunia merupakan panggungnya, layar yang digunakan untuk memainkan panggungnya.

    Penerima ajaran dan nasehat ini tidak boleh menyombongkan diri, hayati dengan sungguh-sungguh, karena nasehat merupakan benih. Namun jika ditemui ajaran misalnya kacang kedelai disebar di bebatuan tanpa tanah tentu tidak akan dapat tumbuh, maka jika manusia bijaksana, tinggalkan dan hilangkan, agar menjadi jelas penglihatan sukma, rupa dan suara. Hyang Luhur menjadi badan Sukma Jernih, segala tingkah laku akan menjadi satu, sudah menjadi diri sendiri, dimana setiap gerak tentu juga merupakan kehendak manusia, terkabul itu namanya, akan segala keinginan, semua sudah ada pada manusia, semua jagad ini karena diri manusia, dalam segala janji janganlah ingkar.

    Jika sudah paham akan segala tanggung jawab, rahasiakan dan tutupilah. Yang terbaik, untuk disini dan untuk disana juga, bagaikan mati di dalam hidup, bagaikan hidup dalam mati, hidup abadi selamanya, yang mati itu juga. Badan hanya sekedar melaksanakan secara lahir, yaitu yang menuju pada nafsu.

    Wrekudara setelah mendengar perkataan Dewa Ruci, hatinya terang benderang, menerima dengan suka hati, dalam hati mengharap mendapatkan anugerah wahyu sesungguhnya. Dan kemudian dikatakan oleh Dewa Ruci :"Sena ketahuilah olehmu, yang kau kerjakan, tidak ada ilmu yang didatangkan, semua sudah kau kuasai, tak ada lagi yang dicari, kesaktian, kepandaian dan keperkasaan, karena kesungguhan hati ialah dalam cara melaksanakan.
    Dewa Ruci selesai menyampaikan ajarannya, Wrekudara tidak bingung dan semua sudah dipahami, lalu kembali ke alam kemanusiaan, gembira hatinya, hilanglah kekalutan hatinya, dan Dewa Ruci telah sirna dari mata,
    Wrekudara lalu mengingat, banyak yang didengarnya tentang tingkah para Pertapa yang berpikiran salah, mengira sudah benar, akhirnya tak berdaya, dililit oleh penerapannya, seperti mengharapkan kemuliaan, namun akhirnya tersesat dan terjerumus.

    Bertapa tanpa ilmu, tentu tidak akan berhasil, kematian seolah dipaksakan, melalui kepertapaannya, mengira dapat mencapai kesempurnaan dengan cara bertapa tanpa petunjuk, tanpa pedoman berguru, mengosongkanan pikiran, belum tentu akan mendapatkan petunjuk yang nyata. Tingkah seenaknya, bertapa dengan merusak tubuh dalam mencapai kamuksan, bahkan gagallah bertapanya itu.

    Guru yang benar, mengangkat murid/cantrik, jika memberi ajaran tidak jauh tempat duduknya, cantrik sebagai sahabatnya, lepas dari pemikiran batinnya, mengajarkan wahyu yang diperoleh. Inilah keutamaan bagi keduanya.
    Tingkah manusia hidup usahakan dapat seperti wayang yang dimainkan di atas panggung, di balik layar ia digerak-gerakkan, banyak hiasan yang dipasang, berlampu panggung matahari dan rembulan, dengan layarnya alam yang sepi, yang melihat adalah pikiran, bumi sebagai tempat berpijak, wayang tegak ditopang orang yang menyaksikan, gerak dan diamnya dimainkan oleh Dalang, disuarakan bila harus berkata-kata, bahwa itu dari Dalang yang berada dibalik layar, bagaikan api dalam kayu, berderit oleh tiupan angin, kayu hangus mengeluarkan asap, sebentar kemudian mengeluarkan api yang berasal dari kayu, ketahuilah asal mulanya, semuanya yang tergetar, oleh perlindungan jati manusia, yang yang kemudian sebagai rahasia.

    Kembali ke Negeri Ngamarta
    Tekad yang sudah sempurna, dengan penuh semangat, Raden Arya Wrekudara kemudian pulang dan tiba ke negerinya, Ngamarta, tak berpaling hatinya, tidak asing bagi dirinya, sewujud dan sejiwa, dalam kenyataan ditutupi dan dirahasiakan, dilaksanakan untuk memenuhi kesatriaannya. Permulaan jagad raya, kelahiran batin ini, memang tidak kelihatan, yang bagaikan sudah menyatu, seumpama suatu bentukan, itulah perjalanannya.
    Bersamaan dengan kedatangan Sena, di Ngamarta sedang berkumpul para saudaranya bersama Sang Prabu Kresna, yang sedang membicarakan kepergian Sena, cara masuk dasar samudera. Maka disambutlah ia, dan saat ditanya oleh Prabu Yudistira mengenai perjalanan tugasnya, ia menjawab bahwa perjalanannya itu dicurangi, ada dewa yang memberi tahu kepadanya, bahwa di lautan itu sepi,tidak ada air penghidupan. Gembira mendengar itu, lalu Kresna berkata :"Adikku ketahuilah nanti, jangan lupa segala sesuatu yang sudah terjadi ini".

    MAKNA AJARAN DEWA RUCI

    - Pencarian air suci Prawitasari

    Guru Durna memberitahukan Bima untuk menemukan air suci Prawitasari. Prawita dari asal kata Pawita artinya bersih, suci; sari artinya inti. Jadi Prawitasari pengertiannya adalah inti atau sari dari pada ilmu suci.

    - Hutan Tikbrasara dan Gunung Reksamuka

    Air suci itu dikatakan berada dihutan Tikbrasara, dilereng Gunung Reksamuka. Tikbra artinya rasa prihatin; sara berarti tajamnya pisau, ini melambangkan pelajaran untuk mencapai lendeping cipta (tajamnya cipta). Reksa berarti mamalihara atau mengurusi; muka adalah wajah, jadi yang dimaksud dengan Reksamuka dapat diartikan: mencapai sari ilmu sejati melalui samadi.

    1. Sebelum melakukan samadi orang harus membersihkan atau menyucikan badan dan jiwanya dengan air.

    2. Pada waktu samadi dia harus memusatkan ciptanya dengan fokus pandangan kepada pucuk hidung. Terminologi mistis yang dipakai adalah mendaki gunung Tursina, Tur berarti gunung, sina berarti tempat artinya tempat yang tinggi.

    Pandangan atau paningal sangat penting pada saat samadi. Seseorang yang mendapatkan restu dzat yang suci, dia bisa melihat kenyataan antara lain melalui cahaya atau sinar yang datang kepadanya waktu samadi. Dalam cerita wayang digambarkan bahwasanya Resi Manukmanasa dan Bengawan Sakutrem bisa pergi ketempat suci melalui cahaya suci.

    - Raksasa Rukmuka dan Rukmakala

    Di hutan, Bima diserang oleh dua raksasa yaitu Rukmuka dan Rukmala. Dalam pertempuran yang hebat Bima berhasil membunuh keduanya, ini berarti Bima berhasil menyingkirkan halangan untuk mencapai tujuan supaya samadinya berhasil.

    Rukmuka : Ruk berarti rusak, ini melambangkan hambatan yang berasal dari kemewahan makanan yang enak (kemukten).

    Rukmakala : Rukma berarti emas, kala adalha bahaya, menggambarkan halangan yang datang dari kemewahan kekayaan material antara lain: pakaian, perhiasan seperti emas permata dan lain-lain (kamulyan)

    Bima tidak akan mungkin melaksanakan samadinya dengan sempurna yang ditujukan kepada kesucian apabila pikirannya masih dipenuhi oleh kamukten dan kamulyan dalam kehidupan, karena kamukten dan kamulyan akan menutupi ciptanya yang jernih, terbunuhnya dua raksasa tersebut dengan gamblang menjelaskan bahwa Bima bisa menghapus halangan-halangan tersebut.

    - Samudra dan Ular

    Bima akhirnya tahu bahwa air suci itu tidak ada di hutan , tetapi sebenarnya berada didasar samudra. Tanpa ragu-ragu sedikitpun dia menuju ke samudra. Ingatlah kepada perkataan Samudra Pangaksama yang berarti orang yang baik semestinya memiliki hati seperti luasnya samudra, yang dengan mudah akan memaafkan kesalahan orang lain.

    Ular adalah simbol dari kejahatan. Bima membunuh ular tersebut dalam satu pertarungan yang seru. Disini menggambarkan bahwa dalam pencarian untuk mendapatkan kenyataan sejati, tidaklah cukup bagi Bima hanya mengesampingkan kamukten dan kamulyan, dia harus juga menghilangkan kejahatan didalam hatinya. Untuk itu dia harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

    1. Rila: dia tidak susah apabila kekayaannya berkurang dan tidak iri kepada orang lain.

    2. Legawa : harus selalu bersikap baik dan benar.

    3. Nrima : bersyukur menerima jalan hidup dengan sadar.

    4. Anoraga : rendah hati, dan apabila ada orang yang berbuat jahat kepadanya, dia tidak akan membalas, tetap sabar.

    5. Eling : tahu mana yang benar dan salah dan selalu akan berpihak kepada kebaikan dan kebenaran.

    6. Santosa : selalu beraa dijalan yang benar, tidak pernah berhenti untuk berbuat yang benar antara lain : melakukan samadi. Selalu waspada untuk menghindari perbuatan jahat.

    7. Gembira : bukan berarti senang karena bisa melaksanakan kehendak atau napsunya, tetapi merasa tentram melupakan kekecewaan dari pada kesalahan-kesalahan dari kerugian yang terjadi pada masa lalu.

    8. Rahayu : kehendak untuk selalu berbuat baik demi kepentingan semua pihak.

    9. Wilujengan : menjaga kesehatan, kalau sakit diobati.

    10. Marsudi kawruh : selalu mencari dan mempelajari ilmu yang benar.

    11. Samadi.

    12. Ngurang-ngurangi: dengan antara lain makan pada waktu sudah lapar, makan tidak perlu banyak dan tidak harus memilih makanan yang enak-enak: minum secukupnya pada waktu sudah haus dan tidak perlu harus memilih minuman yang lezat; tidur pada waktu sudah mengantuk dan tidak perlu harus tidur dikasur yang tebal dan nyaman; tidak boleh terlalu sering bercinta dan itu pun hanya boleh dilakukan dengan pasangannya yang sah.

    Pertemuan dengan Dewa Suksma Ruci

    Sesudah Bima mebunuh ular dengan menggunakan kuku Pancanaka, Bima bertemu dengan Dewa kecil yaitu Dewa Suksma Ruci yang rupanya persis seperti dia. Bima memasuki raga Dewa Suksma Ruci melalui telinganya yang sebelah kiri. Didalam, Bima bisa melihat dengan jelas seluruh jagad dan juga melihat dewa kecil tersebut.

    Pelajaran spiritual dari pertemuan ini adalah :

    - Bima bermeditasi dengan benar, menutup kedua matanya, mengatur pernapasannya, memusatkan perhatiannya dengan cipta hening dan rasa hening.

    - Kedatangan dari dewa Suksma Ruci adalah pertanda suci, diterimanya samadi Bima yaitu bersatunya kawula dan Gusti.

    Didalam paningal (pandangan didalam) Bima bisa melihat segalanya segalanya terbuka untuknya (Tinarbuka) jelas dan tidak ada rahasia lagi. Bima telah menerima pelajaran terpenting dalam hidupnya yaitu bahwa dalam dirinya yang terdalam, dia adalah satu dengan yang suci, tak terpisahkan. Dia telah mencapai kasunyatan sejati. Pengalaman ini dalam istilah spiritual disebut “mati dalam hidup” dan juga disebut “hidup dalam mati”. Bima tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Mula-mula di tidak mau pergi tetapi kemudian dia sadar bahwa dia harus tetap melaksanakan pekerjaan dan kewajibannya, ketemu keluarganya dan lain-lain.

    Arti simbolis pakaian dan perhiasan Bima

    Bima mengenakan pakaian dan perhiasan yang dipakai oleh orang yang telah mencapai kasunytan-kenyataan sejati. Gelang Candrakirana dikenakan pada lengan kiri dan kanannya. Candra artinya bulan, kirana artinya sinar. Bima yang sudah tinarbuka, sudah menguasai sinar suci yang terang yang terdapat didalam paningal.

    Batik poleng : kain batik yang mempunyai 4 warna yaitu; merah, hitam, kuning dan putih. Yang merupakan simbol nafsu, amarah, alumah, supiah dan mutmainah. Disini menggambarkan bahwa Bima sudah mampu untuk mengendalikan nafsunya.

    Tusuk konde besar dari kayu asem

    Kata asem menunjukkan sengsem artinya tertarik, Bima hanya tertarik kepada laku untuk kesempurnaan hidup, dia tidak tertarik kepada kekeyaan duniawi.

    Tanda emas diantara mata.

    Artiya Bima melaksanakan samadinya secara teratur dan mantap.

    Kuku Pancanaka

    Bima mengepalkan tinjunya dari kedua tangannya.

    Melambangkan :

    1. Dia telah memegang dengan kuat ilmu sejati.

    2. Persatuan orang-orang yang bermoral baik adalah lebih kuat, dari persatuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, meskipun jumlah orang yang bermoral baik itu kalah banyak.

    Contohnya lima pandawa bisa mengalahkan seratus korawa. Kuku pancanaka menunjukkan magis dan wibawa seseorang yang telah mencapai ilmu sejati.

    BalasHapus
  11. NAMA : CHOLONEKA PRAISTA CHANDRA SEPTIAWAN
    NIM : 2102408005


    KAKAWIN HARIWANGSA
    Sang Kresna yang sedang berjalan-jalan di taman, mendapat kunjungan batara Narada yang berkata kepadanya bahwa calon istrinya, seseorang yang merupakan titisan Dewi Sri, telah turun ke dunia di negeri Kundina. Sedangkan Kresna yang merupakan titisan batara Wisnu harus menikah dengannya. Titisan Dewa Sri bernama Dewi Rukmini dan merupakan putri prabu Bismaka. Tetapi prabu Jarasanda sudah berkehendak untuk mengkawinkannya dengan raja Cedi yang bernama prabu Cedya.
    Maka prabu Kresna ingin menculik Dewi Rukmini. Lalu pada saat malam sebelum pesta pernikahan dilaksanakan, Kresna datang ke Kundina dan membawa lari Rukmini. Sementara itu para tamu dari negeri-negeri lain banyak yang sudah datang. Prabu Bismaka sangat murka dan beliau langsung berrembug dengan raja-raja lainnya yang sedang bertamu. Mereka takut untuk menghadapi Kresna karena terkenal sangat sakti. Kemudian Jarasanda memiliki sebuah siasat untuk memeranginya, yaitu dengan meminta tolong Yudistira dan para Pandawa lainnya untuk membantu mereka.
    Kemudian utusan dikirim ke prabu Yudistira dan beliau menjadi sangat bingung. Di satu sisi adalah kewajiban seorang ksatria untuk melindungi dunia dan memerangi hal-hal yang buruk. Kresna adalah sahabat karib para Pandawa namun perbuatannya adalah curang dan harus dihukum. Kemudian ia setuju. Namun Bima marah besar dan ingin membunuh utusan Jarasanda tetapi dicegah Arjuna. Selang beberapa lama, mereka mendapat kunjungan duta prabu Kresna yang meminta bantuan mereka. Namun karena sudah berjanji duluan, Yudistira terpaksa menolak sembari menitipkan pesan kepada sang duta supaya prabu Kresna hendaknya tak usah khawatir karena beliau sangat sakti.
    Lalu para Pandawa lima berangkat ke negeri Karawira tempat prabu Jarasanda berkuasa kemudian bersama para Korawa mereka menyerbu Dwarawati, negeri prabu Kresna.
    Sementara itu Kresna sudah siap-siap menghadapi musuh, dibantu kakaknya sang Baladewa. Berdua mereka membunuh banyak musuh. Jarasanda, para Korawa, Bima dan Nakula dan Sahadewa pun sudah tewas semua. Prabu Yudistira dibius oleh Kresna tidak bisa bergerak. Kemudian Kresna diperangi oleh Arjuna dan hampir saja beliau kalah. Maka turunlah batara Wisnu dari sorga. Kresna sebagai titisan Wisnu juga berubah menjadi Wisnu, sementara Arjuna yang juga merupakan titisan Wisnu berubah pula menjadi Wisnu. Yudistira lalu siuman dan meminta Wisnu supaya menghidupkan kembali mereka yang telah tewas di medan peperangan. Wisnu setuju dan Beliau pun menghujankan amerta, lalu semua ksatria yang telah tewas hidup kembali, termasuk Jarasanda. Semuanya lalu datang ke pesta pernikahan prabu Kresna di Dwarawati.

    BalasHapus
  12. yeni wijayanti2 April 2009 03.24

    yeni wijayanti
    2102408030

    tantri kamandaka

    Dalam Tantri Kamandaka, si gajah yang besar dan kuat namun angkuh, mati dibunuh oleh persekutuan si burung siung, lalat dan katak. Persekutuan dan persatuan merupakan suatu kekuatan yang maha besar sehingga akan mampu menumbangkan kekuatan sebesar apapun.

    Penguasa-penguasa di Bali jaman dahulu rupa-rupanya memaklumi hal ini sehingga beliau melaksanakan strategi menggalang persatuan rakyat dalam wilayahnya. Warga-warga disatukan, dipersaudarakan dengan menyatukan pura kawitannya dalam satu kompleks pura dengan pura raja dan menyebut mereka wargi sang raja. Pada hari-hari tertentu wargi-wargi itu bertemu di Pura, yang menggalang rasa kelompok dan rasa bakti kepada raja. Namun dalam hal ini raja harus cerdik melaksanakan segala upaya mempersatukan rakyatnya. Dalam sastra Jawa Kuno dikatakan bahwa Raja harus melaksanakan taktik Catur Upaya Sandhi, yaitu Sama, Beda, Dana dan Danda.

    Diatas pundak seorang pemimpin terletak tanggung jawab yang berat. Ditangan pemimpin tergenggam nasib segenap rakyat atau kelompok yang dipimpinnya. Nasehat Rama kepada Wibhisana dalam Kekawin Ramayana (XXIV, 51-61) yang disebut Asta Brata merupakan cerita pemimpin yang ideal. Asta Brata itu sesungguhnya ajaran dari Manawa Dharmasastra VII.3-4 yang digubah dalam bentuk yang indah sehingga menjadi populer di Indonesia. Adapun terjemahan isi dari Astabrata dalam Kekawin Ramayana adalah:
    "Dan ia disuruh untuk menghormatinya, karena Ida Bhatara ada pada dirinya, delapan banyaknya berkumpul pada diri sang Prabhu, itulah sebabnya ia amat kuasa tiada bandingnya. Hyang Indra, Yama, Surya, Candra, Bayu, Kuwera, Baruna, Agni, demikian delapan jumlahnya, beliau-beliau itulah sebagai pribadi sang raja, itulah sebabnya disebut Asta Brata"
    1. Indra brata, Sang Hyang Indra usahakan pegang, Ia menjatuhkan hujan menyuburkan bumi, inilah hendaknya engkau contoh lndrabrata, sumbangan-sumbanganmu itulah bagaikan hujan membanjiri rakyat.
    2. Yamabrata menghukum segala perbuatan jahat, ia memukul pencuri sampai mati, demikianlah engkau ikut memukul perbuatan jahat, setiap yang merintangi usahakan musnahkan.
    3. Bhatara Surya selalu menghisap air, tiada rintangan, pelan-pelan olehnya, demikianlah engkau mengambil penghasilan, tiada cepatcepat demikian Surya Brata.
    4. Sasi Brata adalah menyenangkan rakyat semuanya, perilaku lemah lembut tampak, senyummu manis bagaikan amerta, setiap orang tua dan pendeta hendaknya engkau hormati.
    5. Bagaikan anginiah engkau waktu mengamati perangai orang, hendaklah engkau mengetahui pikiran rakyat semua, dengan jalan yang baik sehingga pengamatanmu tidak kentara, inilah Bayu brata, tersembunyi namun mulia.
    6. Nikmatilah hidup dengan nikmat, tidak membatasi makan dan minum, berpakaian dan berhiaslah, yang demikian disebut Dhanabrata patut diteladani.
    7. Bhatara Baruna memegang senjata yang amat beracun berupa Nagapasa yang membelit, itulah engkau tiru Pasabrata, engkau mengikat orang-orang jahat.
    8. Selalu membakar musuh itu perilaku api, kejammu pada musuh itu usahakan, setiap engkau serang cerai berai dan lenyap, demikianlah yang disebut Agnibrata.
    Dari uarian-uraian diatas jelas menunjukkan bahwa tujuan raja memimpin negaranya ialah untuk menyelenggarakan kesejahteraan rakyatnya. Tuntunan Niti dan hukum menjadi pedoman bagi sang pemimpin.

    "sakanikang rat kita yan wenang manut, manupadesa prihatah rumaksa ya, Ksaya nikang papa nahan prayojana, Jananuragadi tuwi kapangguha.

    Artinya:

    Tiang negaralah engkau jika bisa mengikuti
    Petunjuk-petunjuk hukum Manu (Manawa dharmasastra) usahakan pegang Hilangnya penderitaan itulah tujuannya
    Cinta orang tentu akan kita jumpai.

    Petunjuk-petunjuk seperti ini sangat banyak dijumpai dalam sastra sastra Jawa Kuna, yang memberikan petunjuk bahwa seorang pemimpin tidak boleh bertidak sesuka hatinya ketika ia memegang kekuasaan. Dari semua hukum-hukum yang harus dipedomani oleh seorang pemimpin, disimpulkan dalam dharma yang mengandung pengertian segala sesuatu yang mendukung orang untuk mendapatkan kerahayuan. Dalam kakawin Ramayana, Bhismaparwa dan lain-lain dijumpai uraian dharma sebagai pedoman raja (pemimpin) dalam memimpin negaranya.

    Ika ta prassidha dharma ulahaning kadi
    Kita prabhu, si mangraksa rat juga,
    Mtangian mangkana,asihning wwang ring
    Sarwa bhuta marikang dharma mangkana ngaranya.
    Kotamaning asih ika pagawenta piratrana ring rat,ika ta sang prabu, Makambek mangakana

    Terjemahan:

    Demikianlah dharma yang sempurna engkau kerjakan sebagai raja melindungi negara, sebabnya demikian,sayangmu pada semua makhluk dharma namanya,penampilan kasih sayang itulah kamu kerjakan, untuk melindungi negara, demikianiah sang prabhu (pemimpin) seharusnya bertingkah laku.

    Kutipan diatas diambil dari Bhismaparwa,yang merupakan nasehat Bhagawan Bhisma kepada Prabhu Yudistira. Apabila sang Prabhu tidak melaksanakan tugas-tugasnya sebagai raja yang melindungi rakyat dan negara, tidak menjadi panutan yang dipimpinnya, maka ia akan kehilangan kekuasaannya karena ditinggalkan oleh pengikut-pengikutnya. Petunjuk tentang itu dapat diketahui dari kutipan berikut:

    "Laku bhrtya matinggal ratunya, yan hana ratu akeras mapanas ing gawe, byakta sira tininggal ing wadwa nira, leheng ikang ratu makeras swapadi ngrutu makumed tar paradanda, yan hana ratu mangkana tininggal kawulanira, ya leheng makumed paradanda swapadi ratu awisesa, awisesa ngaranya manarub, ya hana wwang kulina janma sinoraken, yang hana wang adhahjati dinuhuraken, yeka anarub ngaranya, yan hana ratu mangkana tininggal sira de ning janma wwang kulina janma, (slokantara 40)

    Terjemahan :

    Pelayan dapat meninggalkan rajanya, bila raja kejam dan bengis tindakannya. Raja yang demikian tentu akan ditinggalkan rakyatnya. Lebih baik raja yang kejam daripada raja yang kikir dan sewenang-wenang. Raja yang kikir dan sewenang-wenang lebih baik daripada raja awisesa, yaitu raja yang mencampurbaurkan persoalan. Orang-orang yang arif bijaksana direndahkan dan orang yang hina dimuliakan, itulah mencampur-baurkan namanya. Bila ada raja yang demikian akan ditinggalkan oleh orang-orang arif.

    Kutipan ini menunjukkan beberapa hal yang harus dihindari oleh seorang pemimpin agar tak ditinggalkan oleh para pengikutnya. Seorang pemimpin yang baik menurut ajaran Hindu haruslah memperhatikan masalah kesejahteraan para pengikutnya. Petunjuk tentang itu dapat dilihat pada nasehat Rama kepada Wibisana berikut ini:

    Dewa kusala salam mwang dharma ya pahayun,
    Mas ya ta pahawreddhin bhaya ring hayu kekesan,
    Bhukti akaharepta wehing bala kasukan,
    Dharma kalawan artha mwang kama ta ngaranika.
    (Kakawin Ramayana III, 54)

    Terjemahan:

    Pura-pura (tempat suci), rumah sakit dan pedarman supaya diperbaiki, supaya diperbanyak untuk biaya pembangunan disimpan baik-baik. Nikmatilah apa yang kamu ingini berilah kesejahteraan. Dharma, artha, dan kama namanya demikian itu.

    Santasih nitya thaganan.
    Kasih sayang hendaknya engkau selalu lakukan. (Ramayana III, 65)

    Kutipan ini juga mengandung makna bahwa raja atau pemimpin harus mengembangkan nilai kejujuran (satya ta sira mojar) dan karena itu semua rakyat akan segan terhadap raja atau pemimpinnya.

    Kepemimpinan Yang Paripurna Menurut Hindu
    "Gunamanta Sang Dasarata
    Wruh Sira Ring Weda Bhakti Ring Dewa
    Tarmalupueng Pitra Puja
    Masih Ta Sireng Swagotra Kabeh"

    Kutipan bait Ramayana di atas, menegaskan bahwa seorang pemimpin yang sempurna dalam konsep Hindu adalah seorang Rajarsi atau satria pandita. Artinya, seorang pemimpin harus memiliki kedua sifat dalam dirinya, yaitu sifat seorang Ksatria yang gagah berani dalam menegakkan dharma, dan seorang pandita yang arif bijaksana, selalu dalam kesucian, dan penuh cinta kasih.CERITA ini diambil dari buku Tantri Kamandaka, yang menyisahkan kehidupan satwa baik yang berkaki empat, berkaki dua dan mereka hidup di tengah hutan. Cerita ini mengandung ajaran-ajaran agama, filsafat, moral, etika, dan nilai-nilai persabahatan. Keseluruhan cerita ini diperankan oleh satwa yang menggambarkan berbagai karakter manusia. Salah satu cerita Tantri Kamandaka ini adalah menceritakan persahabatan sepasang angsa dengan seekor empas (kura-kura), cerita singkatnya adalah sebagai berikut:

    Suatu hari di musim kemarau dan suasana benar-benar panas terik, sepasang angsa jantan dan betina, bercakap-cakap bahwa air danau tempat mereka tinggal mulai surut karena musim kemarau yang berkepanjangan.

    Angsa jantan mengusulkan agar pindah dari danau Kumudhawati tempat tinggal mereka menuju sebuah danau di lereng pegunungan Himalaya bernama Manasasara. Percakapan mereka ternyata di dengar oleh seekor empas dan empas ini ingin ikut pergi bersama ke danau Manasasara.

    "Wahai sahabatku para angsa yang terhormat, janganlah nodai persahabatan kita dengan meninggalkan saya disini sendiri, pada saat air danau mulai surut dan ikan-ikan banyak yang mati. Sahabat yang sejati adalah mereka yang menolong temannya pada saat temannya mendapatkan musibah, sakit atau menderita. Tolonglah saya, jangan saya ditinggal sendiri disini. "Baiklah sahabatku empas, kami mau mengajak engkau ke danau Manasasara, tetapi dengan satu catatan, asalkan engkau taat kepada apa yang menjadi kesepakatan kita. Angsa jantan berkata: "Caranya saya akan mencucuk masing-masing ujung sebatang kayu bersama betina saya dan kamu mencucuk pada bagian tengahnya dan cucuk erat-erat dan jangan mendengarkan ocehan atau berbicara sepatah katapun." Engkau harus berdisiplin, sebab tanpa disiplin yang ketat, engkau akan gagal."

    "Apa saja yang dilakukan mesti dengan sepenuh hati dan penuh disiplin". Empas itu menyetujui apa yang disampaikan oleh kedua angsa tersebut. Pada hari yang ditentukan, kedua angsa ini mengambil sebatang kayu sepanjang satu meter. Kedua angsa ini kemudian mencucuk pada bagian ujung kayu itu dan empas mencucuk dibagian tengah batang kayu tersebut. Sebelum mereka terbang, mereka melakukan beberapa kali latihan dan ternyata berhasil. Kini mereka sudah mulai menempuh perjalanan yang jauh dan terbang cukup tinggi. Saat melintasi sebuah perkampungan, mereka melihat di bawah ada sepasang anjing jantan dan betina yang memperhatikannya, dan mereka melolong-lolong, anjing betina mengatakan bahwa sepasang angsa menerbangkan seonggok tahi sapi kering.

    Mendengar pembicaraan kedua anjing itu, empas tidak dapat menahan diri, ia sangat emosi dan marah serta terhina disebut-sebut sebagai seonggok tahi sapi kering. Hatinya sangat terbakar oleh ucapan tersebut, ketika empas (kura-kura) itu membuka mulutnya untuk marah, ternyata ia jatuh ke tanah dan tubuhnya hancur lebur dan mati. Kedua ekor anjing itu lalu menyantap bangkai empas yang berkeping-keping tersebut.

    Adapun makna cerita ini adalah, sahabat sejati akan merasakan kebahagiaan dan sekaligus penderitaan sahabatnya. Sahabat sejati akan membantu dengan tulus baik berupa materi, tenaga dan nasehat tanpa mengharapkan imbalan apapun. Namun demikian semua bantuan itu khususnya berupa nasehat-nasehat yang bijak dan baik, tidak akan dapat merubah keadaan apabila kita tidak mematuhinya dengan disiplin, dan pengendalian diri. Ketika diminta bersabar, seseorang kadang-kadang marah dan tidak mampu menahan diri. Akibatnya dia terjerumus dalam lembah penderitaan bahkan kematian seperti yang dialami oleh empas.**

    < CERITA ini diambil dari buku Tantri Kamandaka, yang menyisahkan kehidupan satwa baik yang berkaki empat, berkaki dua dan mereka hidup di tengah hutan. Cerita ini mengandung ajaran-ajaran agama, filsafat, moral, etika, dan nilai-nilai persabahatan. Keseluruhan cerita ini diperankan oleh satwa yang menggambarkan berbagai karakter manusia. Salah satu cerita Tantri Kamandaka ini adalah menceritakan persahabatan sepasang angsa dengan seekor empas (kura-kura), cerita singkatnya adalah sebagai berikut:

    Suatu hari di musim kemarau dan suasana benar-benar panas terik, sepasang angsa jantan dan betina, bercakap-cakap bahwa air danau tempat mereka tinggal mulai surut karena musim kemarau yang berkepanjangan.

    Angsa jantan mengusulkan agar pindah dari danau Kumudhawati tempat tinggal mereka menuju sebuah danau di lereng pegunungan Himalaya bernama Manasasara. Percakapan mereka ternyata di dengar oleh seekor empas dan empas ini ingin ikut pergi bersama ke danau Manasasara.

    "Wahai sahabatku para angsa yang terhormat, janganlah nodai persahabatan kita dengan meninggalkan saya disini sendiri, pada saat air danau mulai surut dan ikan-ikan banyak yang mati. Sahabat yang sejati adalah mereka yang menolong temannya pada saat temannya mendapatkan musibah, sakit atau menderita. Tolonglah saya, jangan saya ditinggal sendiri disini. "Baiklah sahabatku empas, kami mau mengajak engkau ke danau Manasasara, tetapi dengan satu catatan, asalkan engkau taat kepada apa yang menjadi kesepakatan kita. Angsa jantan berkata: "Caranya saya akan mencucuk masing-masing ujung sebatang kayu bersama betina saya dan kamu mencucuk pada bagian tengahnya dan cucuk erat-erat dan jangan mendengarkan ocehan atau berbicara sepatah katapun." Engkau harus berdisiplin, sebab tanpa disiplin yang ketat, engkau akan gagal."

    "Apa saja yang dilakukan mesti dengan sepenuh hati dan penuh disiplin". Empas itu menyetujui apa yang disampaikan oleh kedua angsa tersebut. Pada hari yang ditentukan, kedua angsa ini mengambil sebatang kayu sepanjang satu meter. Kedua angsa ini kemudian mencucuk pada bagian ujung kayu itu dan empas mencucuk dibagian tengah batang kayu tersebut. Sebelum mereka terbang, mereka melakukan beberapa kali latihan dan ternyata berhasil. Kini mereka sudah mulai menempuh perjalanan yang jauh dan terbang cukup tinggi. Saat melintasi sebuah perkampungan, mereka melihat di bawah ada sepasang anjing jantan dan betina yang memperhatikannya, dan mereka melolong-lolong, anjing betina mengatakan bahwa sepasang angsa menerbangkan seonggok tahi sapi kering.

    Mendengar pembicaraan kedua anjing itu, empas tidak dapat menahan diri, ia sangat emosi dan marah serta terhina disebut-sebut sebagai seonggok tahi sapi kering. Hatinya sangat terbakar oleh ucapan tersebut, ketika empas (kura-kura) itu membuka mulutnya untuk marah, ternyata ia jatuh ke tanah dan tubuhnya hancur lebur dan mati. Kedua ekor anjing itu lalu menyantap bangkai empas yang berkeping-keping tersebut.

    Adapun makna cerita ini adalah, sahabat sejati akan merasakan kebahagiaan dan sekaligus penderitaan sahabatnya. Sahabat sejati akan membantu dengan tulus baik berupa materi, tenaga dan nasehat tanpa mengharapkan imbalan apapun. Namun demikian semua bantuan itu khususnya berupa nasehat-nasehat yang bijak dan baik, tidak akan dapat merubah keadaan apabila kita tidak mematuhinya dengan disiplin, dan pengendalian diri. Ketika diminta bersabar, seseorang kadang-kadang marah dan tidak mampu menahan diri. Akibatnya dia terjerumus dalam lembah penderitaan bahkan kematian seperti yang dialami oleh empas.**

    BalasHapus
  13. DIAH PUSPANITA UTAMI2 April 2009 03.36

    NAMA : DIAH PUSPANITA UTAMI
    NIM : 2102408014

    Dua Sisi Yang Harus Ada

    Sabtu, 12 Juni 1982

    APAKAH arti kemenangan? Setelah Kurawa dikalahkan, medan perang
    Kuru tinggal lapangan penuh bankai. Bau busuk terbentang.
    Rasa cemar terapung ke kaki langit. Ribuan anjing ajak melolong,
    mengaum, mengais. Selebihnya cuma erang sekarat para prajurit,
    di antara sisa kereta dan senjata yang patah.

    Warna di sana hanya darah. Anyir. Tak akan ada lagi perbuatan
    kepahlawanan .

    Si pemenang, kelima bersaudara Pandawa, telah merebut istana
    yang kini sepi. Mereka pun membisu capek memandangi balairung
    yang lengang. Apa, setelah ini? Akan apa lagi? Dalam dongeng
    yang biasa, setelah kemenangan tercapai, si pendongeng akan
    menyebut bahwa, "rakyat pun hidup aman dan sejahtera . . .".
    Tapi Mahabharata bukan dongeng seperti dongeng yang lain.

    "Mahabharata berakhir dengan para Pandawa menarik diri kembali
    ke gunung Mahameru," tulis Dr. Franz Magnis Suseno dalam risalah
    pendek yang diterbitkan Leppenas tahun ini, Kita Dan Wayang.
    Dalam perjalanan ke sana, satu demi satu para pemenang perang
    itu mati -- kecuali Yudhistira dan anjingnya. Suatu pengamatan
    Franz Magnis yang menarik dari cerita wayang ini ialah bahwa
    "Pandawa puri tidak dapat mempertahankan diri apabila Kurawa
    tidak ada lagi."

    Kurawa kalah dan habis, dan di situlah letak tragisnya lakon
    ini. "Dalarn alam Mahabharata," tulis Franz Magnis Suseno, "yang
    baik dan yang buruk, pihak kanan dan pihak kiri harus ada.
    Ketegangan itu harus ditahan, tidak boleh menghilangkan satu
    dari keduabelah pihak".

    Mungkin itulah sebabnya dalam Korawasrama dari abad ke-15,
    setelah perang Baratayudha berakhir, para Kurawa dihidupkan
    lagi. Perang pun dimulai kembali: yang baik harus ada, tapi
    begitu pula yang buruk.

    Memang agak teramat muskil memahami keniscayaan seperti itu.
    Apakah artinya kemenangan jika kemudian ia harus terlepas
    kembali? Apakah artinya kejayaan jika ia tak meludaskan setiap
    kemungkinan musuh nanti? Apakah artinya pergulatan bila tidak
    untuk mengakhiri pergulatan?

    Memang, barangkali tak banyak artinya -- jika dilihat
    sedemikian. Tapi hidup lebih rumit ketimbang rencana, ketimbang
    angan-angan, ketimbang citacita. Kenyataan lebih kompleks
    ketimbang skenario. Seperti nampak dalam sejarah, umat manusia
    tak pernah ditakdirkan untuk menang secara mutlak.

    Ia tak bisa menang mutlak atas perbedaan pendapat. Ia tak bisa
    menaklukkan 100% unsur-unsur yang dianggapnya menyimpang. Ia tak
    bisa menguasai sebuah dunia, yang tanpa konflik, yang tanpa
    penyakit dan tanpa masalah, Hidup, atau sejarah, bukanlah suatu
    meja bersih putih yang karena itu harus dikembalikan sebagai
    meja bersih putih dalam cita-cita kita. Satu soal selesai soal
    lain timbul.

    Barangkali karena itulah Bhagawatgitl, dialog antara Kresna dan
    Arjuna di ambang pertempuran besar di Kuru itu, menyebut tyaga.
    Yakni, sikap melepaskan diri dari kehendak memperoleh buah dari
    kerja. Siapa yang menghendaki buah akan cepat kecewa. Buah itu
    akan busuk. Tapi siapa yang menjalankan kerja seraya tak
    terseret oleh hasrat itu ia akan benar bebas, bahagia dan lurus.

    Yudhistira, orang yang lurus itu, bersedih ketika perang selesai
    dan kemenangan berada di tangannya. Kita bayangkan dia berjalan
    malam itu di lorong-lorong istana Astina yang baru saja ia
    rebut. Tiang-tiang perkasa. Balustrada yang luas. Relung-relung
    yang mencengkam. Lampu-lampu yang sayup, gementar oleh angin,
    seperti ketakutan oleh kekuasaan, keangkuhan dan keagungannya.
    Mengapa manusia harus memburu-buru kejayaan itu -- dan
    memperebutkannya dengan habis-habisan?

    DI luar Mahabharata kita teringat satu adegan. pendek dalam
    sejarah. Napoleon Bonaparte, perwira revolusi yang diangkat jadi
    Konsul, untuk pertama kalinya memasuki Istana Tuileries.
    Februari 1800 itu ia harus tinggal di sana. Berjalan melalui
    kamar-kamar besar yang dulu menandakan kejayaan wangsa Bourbon
    itu, seorang pembantunya berbisik, "Jenderal, suasananya
    menyedih kan" . Napoleon menjawab singkat, dalam kesenyapan,
    "Oui, comme le gloire". Ya, sedih, seperti halnya kemegahan.

    BalasHapus
  14. Eko Fuji Noor RN
    NIM:2102408031
    Rombel:02

    SERAT CABOLEK
    Dhandhanggula
    1. (14)
    Wuwusira Dewa Suksma Ruci,
    payo Wêrkudhara dipun-enggal,
    manjinga garbengong kene,
    Wrêkudhara gumuyu,
    pan angguguk turira aris,
    dene paduka bajang,
    kawula gêng luhur,
    inggih pangawak parbata,
    saking pundi margine kawula manjing,
    jênthik mangsa sêdhênga.

    2. (15)
    Angandika malih Dewa Ruci,
    gêdhe êndi sira lawan jagad,
    kabeh iki saisine,
    kalawan gunungipun,
    samodrane alase sami,
    tan sêsak lumêbuwa,
    guwa garbaningsun,
    Wrêkodhara duk miyarsa,
    êsmu ajrih kumêl sandika turneki,
    mengleng sang Ruci Dewa.

    3. (16)
    Iki dalan talingan ngong kering,
    Wrêkodhara manjing sigra-sigra,
    wus prapteng sajro garbane,
    andulu samodra gung,
    tanpa têpi nglangut lumaris,
    lêyêp adoh katingal,
    Dewa Ruci nguwuh,
    heh apa katon ing sira,
    dyan sumahur sang Sena aturna têbih,
    tan wontên katingalan.

    4. (17)
    Awang-awang kang kula-lampahi,
    uwung-uwung têbih tan kantênan,
    ulun saparan-parane,
    tan mulat ing lor kidul,
    wetan kilen datan udani,
    ngandhap nginggil ing ngarsa,
    kalawan ing pungkur,
    kawula botên uninga,
    langkung bingung ngandika sang Dewa Ruci,
    aja maras tyasira.

    5. (18)
    Byar katingal ngadhêp Dewa Ruci,
    Wêrkodhara sang wiku kawangwang,
    umancur katon cahyane,
    nuli wruh ing lor kidul,
    wetan kilen sampun kaeksi,
    nginggil miwah ing ngandhap,
    pan sampun kadulu,
    lawan andulu baskara,
    eca tyase miwah sang wiku kaeksi,
    aneng jagad walikan.

    6. (19)
    Dewa Ruci Suksma angling malih,
    aywa lumaku anduduluwa,
    apa katon ing dheweke,
    Wrêkodhara umatur,
    wontên warni kawan prakawis,
    katingal ing kawula,
    sadaya kang wau,
    sampun datan katingalan,
    amung kawan prakawis ingkang kaeksi,
    irêng bang kuning pêthak.

    7. (20)
    Dewa Ruci Suksma ngandika ris,
    ingkang dhingin sira anon cahya,
    gumawang tan wruh arane,
    pancamaya puniku,
    sajatine ing tyas sayêkti,
    panguriping sarira,
    têgêse tyas iku,
    ingaranan mukasipat,
    kang anuntun marang sipat kang linuwih,
    kang sajatining sipat.

    8. (21)
    Mangka tinula aywa lumaris,
    awasêna rupa aja samar,
    kawasaning tyas êmpane,
    tingale tyas puniku,
    anêngêri maring sajati,
    enak sang Wrêkodhara,
    amiyarsa wuwus,
    lagya mesêm tyas sumringah,
    dene ingkang irêng abang kuning putih,
    iku durgamaning tyas

    9. (22)
    pan isining jagad amêpêki,
    iya ati kang têlung prakara,
    pamurunging laku dene,
    kang bisa pisah iku,
    pasthi bisa amor ing gaib,
    iku mungsuhing tapa,
    ati kang têtêlu,
    irêng abang kuning samya,
    ingkang nyêgah cipta karsa kang lêstari,
    pamoring suksma mulya.

    10. (23)
    Lamun nora kawilêt ing katri,
    yêkti sida pamoring kawula,
    lêstari ing panunggale,
    poma den-awas emut,
    durgama kang munggeng ing ati,
    pangwasane wêruha,
    siji-sijinipun,
    kang irêng lêwih prakoswa,.
    panggawene asrêngêng sabarang runtik,
    andadra ngambra-ambra.

    11. (24)
    Iya iku ati kang ngadhangi,
    ambuntoni maring kabêcikan,
    kang irêng iku gawene,
    dene kang abang iku,
    iya tuduh nêpsu tan bêcik,
    sakehing pipinginan,
    mêtu sangking iku,
    panasten panasbaranan,
    ambuntoni maring ati ingkang eling,
    maring ing kawaspadan.

    12. (25)
    Dene iya kang arupa kuning,
    kuwasane nanggulang sabarang,
    cipta kang bêcik dadine,
    panggawe amrih tulus,
    ati kuning ingkang ngandhêgi,
    mung panggawe pangrusak,
    binanjur jinurung,
    mung kang putih iku nyata,
    ati antêng mung suci tan ika-iki,
    prawira karaharjan.

    13. (26)
    Amung iku kang bisa nampani
    ing sasmita sajatining rupa,
    nampani nugraha gone,
    ingkang bisa tumanduk,
    kalêstaren pamoring gaib,
    iku mungsuh titiga,
    tur samya gung agung,
    balane ingkang titiga,
    ingkang putih tanpa rowang amung siji,
    mila anggung kasoran.

    14. (27)
    Lamun bisa iya nêmbadani,
    marang susukêr têlung prakara,
    sida ing kono pamore,
    tanpa tuduhan iku,
    ing pamoring kawula Gusti,
    Wêrkudhara miyarsa,
    sêngkud pamrihipun,
    sangsaya birahenira,
    kacaryan ing kauwusaning ngaurip,
    sampurnaning panunggal.

    15. (28)
    Sirna patang prakara na malih,
    urub siji wêwolu warnanya,
    sang Wêrkudhara ature,
    punapa wastanipun,
    urub siji wolu warni,
    pundi ingkang sanyata,
    rupa kang satuhu,
    wontên kadi rêtna muncar,
    wontên kadi maya-maya angebati,
    wêneh abra markata.

    16.(29)
    Marbudengrat Dewa Ruci angling,
    iya iku kêjatining tunggal,
    saliring warna têgêse,
    iya na ing sireku,
    tuwin iya isining bumi,
    ginambar angganira,
    lawan jagad agung,
    jagad cilik tanpa beda,
    purwa ana lor kidul wetan puniki,
    kilen ing luhur ngandhap.

    17. (30)
    Miwah irêng abang kuning putih,
    iya panguripe ing buwana,.
    jagad cilik jagad gêdhe,
    pan padha isinipun,
    tinimbangkên ing sira iki,
    yen ilang warnaning kang,
    kabeh jagad iku,
    saliring reka tan ana,
    kinumpulkên ana rupa kang sawiji,
    tan kakung tan wanudya.

    18. (31)
    Kadya tawon gumana puniki,
    ingkang asawang puputran dênta,
    lah payo dulunên kuwe,
    Wêrkudhara andulu,
    ingkang kadya puputran gadhing,
    cahya mancur kumilat,
    tumeja ngunguwung,
    punapa inggih punika,
    warnaning dat kang pinrih dipun-ulati,
    kang sayêktining rupa,

    19. (32)
    Anauri aris Dewa Ruci,
    dudu iku ingkang sira-sêdya,
    kang mumpuni ambêk kabeh,
    tan kêna sira-dulu,
    tanpa rupa datanpa warni,
    tan gatra tan satmata,
    iya tanpa dunung,
    mung dumunung mring kang awas,
    mung sasmita aneng ing jagad ngêbêki,
    dinumuk datan ana.

    20. (33)
    Dene iku kang sira-tingali
    kang asawang puputran mutyara,
    ingkang kumilat cahyane,
    angkara-kara murub,
    pan pêrmana arane iki,
    uripe kang sarira,
    pêrmana puniku,
    tunggal aneng ing sarira,
    nanging datan milu suka lan prihatin,
    ênggone aneng raga.

    21. (34)
    Datan milu turu mangan nênggih,
    iya nora milu lara lapa,
    yen iku pisah ênggone,
    raga kari ngalumpruk,
    yêkti lungkrah badanereki,
    yaiku kang kuwasa,
    nandhang rahsa iku,
    inguripan dening suksma,
    iya iku sinung sih anandhang urip,
    ingakên rahsaning dat.

    22. (35)
    Iku sinandhangakên sireki,
    nanging kadya simbar neng kakaywan,
    aneng ing raga ênggone,
    uriping pêrmaneku,
    inguripan ing suksma nênggih,
    misesa ing sarira,
    pêrmana puniki,
    yen mati milu kalêswan,
    lamun ilang suksmane sarira nuli,
    uriping suksma ana.

    23. (36)
    Sirna iku iya kang pinanggih,
    uriping suksma ingkang sanyata,
    kaliwat tan upamane,
    lir rahsaning kamumu,
    kang pramana anêrsandhani,
    tuhu tunggal pinangka,
    jinatên puniku,
    umatur sang Wêrkudhara,
    inggih pundi warnine dat kang sayêkti,
    Dewa Ruci ngandika.

    24. (37)
    Nora kêna iku yen sira-prih,
    lawan kahanan sêmata-mata,
    gampang-angel pirantine,
    Wêrkudhara umatur,
    kula nuwun pamêjang malih,
    inggih kêdah uninga,
    babar pisanipun,
    pun patik ngaturken pêjah,
    ambêbana anggen-anggen kang sayêkti,
    sampun tuwas kangelan.

    25. (38)
    Yen mêkatên kula botên mijil,
    sampun eca neng ngriki kewala,
    botên wontên sangsarane,
    tan niyat mangan turu,
    botên arip botên angêlih,
    botên ngraos kangelan,
    botên ngêrês linu,
    amung nikmat lan manpangat,
    Dewa Ruci lingira iku tan kêni,
    yen nora lan antaka.

    26. (39)
    Sangsaya sihira Dewa Ruci,
    marang kang kaswasih ing panêdha,
    lah iya den-awas bae,
    mring pamuruning laku,
    aywa ana karêmireki,
    den-bênêr den-waspada,
    pênganggêpireku,
    yen wus kasikêp ing sira,
    aja umung den-nganggo parah yen angling,
    yeku reh pipingitan.

    27. (40)
    Nora kêna yen sira-rasani,
    lan sêsama-samaning manungsa,
    kang nora lan nugrahane,
    yen ana nêdya padu,
    angrasani rêrasan iki,
    ya têka kalahana,
    ywa kongsi kabanjur,
    aywa ngadekkên sarira,
    yen karakêt marang wisaning ngaurip,
    balik sikêpên uga.

    28. (41)
    Datan waneh sangkanira nguni,
    tunggal sapakêrtining buwana,.
    pandulu pamiyarsane,
    wus aneng ing sireku,
    pamyarsane yang suksma jati,
    iya tan lawan karna,
    ing pandulunipun,
    iya tan kalawan netra,
    karnanira netranira kang kinardi,
    anane aneng sira.

    29. (42)
    Lairing suksma aneng sireku,
    batinira kang ana ing suksma,
    kaya mangkene patrape,
    kadya wrêksa tinunu,
    ananing kang kukusing gêni,
    iya kalawan wrêksa,
    lir toya lan alun,.
    kadya menyak lawan puhan,
    raganira ing reh mobah lawan mosik,
    sarta lawan nugraha,

    30. (43)
    Yen wruh pamore kawula gusti,
    sarta suksma kang sinêdya ana,
    de warna neng sira gone,
    lir wayang sarireku,
    saking dhalang solahing ringgit,
    mangka panggung kang jagad,
    liring badan iku,
    amolah lamun pinolah,
    sapolahe kumêdhep myarsa ningali,
    tumindak lan pangucap.

    31. (44)
    Kawisesa amisesa sami,
    datan antara pamoring karsa,
    jêr tanpa rupa rupane,
    wus aneng ing sireku,
    upamane paesan jati,
    ingkang ngilo ywang suksma,
    wayangan puniku,
    kang ana sajroning kaca,
    iya sira jênênge manusa iki,
    rupa sajroning kaca.

    32. (45)
    Luwih gêngnya kalêpasan iki,
    lawan jagad agêng kalêpasan,
    kalawan luwih lêmbute,
    salêmbutaning banyu,
    mapan lêmbut kamuksan ugi,
    luwih alit kamuksan,
    saaliting têngu,
    pan maksih alit kamuksan,
    liring luwih amisesa ing sêkalir,
    liring lêmbut alitnya.
    Bisa nuksma ing agal myang alit,
    kalimputan kabeh kang rumangkang,
    kang gumêrmêt ya tan pae,
    kaluwihan satuhu,
    iya luwih dera nampani,
    tan kêna ngandêlêna,
    ing warah lan wuruk,
    den-sangêt panguswanira,
    badanira wasuhên pragnyana ngungkih,
    wruha rungsiding tingkah.

    34. (47)
    Wuruk iku pan minangka wiji,
    kang winuruk upamane papan,
    pama kacang lan kêdhêle,
    sinêbarna ing watu,
    yen watune datanpa siti,
    kodanan kêpanasan,
    yêkti nora thukul,
    lamun sira bijaksana,
    tingalira sirnana ananireki,
    dadi tingaling suksma.

    35. (48)
    Rupanira swaranira nuli,
    ulihêna mring kang duwe swara,
    jêr sira ingakên,
    sisilih kang satuhu,
    nanging aja duwe sireki,
    pakarêman kang liya,
    marang sang ywang luhur,
    dadi sarira bêthara,
    obah osikira wus sah dadi siji,
    ja roro anggêpira.

    36. (49)
    Yen duweya anggêp sira kaki,
    If you, my boy, have any notion
    ngrasa roro dadi maksih uwas,
    kêna ing rêngu yêktine,
    yen wis siji sawujud,
    sakarêntêging tyasereki,
    apa cinipta ana,
    kang sinêdya rawuh,
    wus kawêngku aneng sira,
    jagad kabeh jêr sira kinarya yêkti,
    gêgênti den-asagah.

    37. (50)
    Yen wus mudhêng pratingkah kang iki,
    den-awingit sarta den-asasab,
    ngandhap-asor pênganggone,
    nanging ing batinipun,
    sakarêntêg tan kêna lali,
    laire sasabana,
    kawruh patang dhapur,
    padha anggêpên sadaya,
    kalimane kang siji iku pêrmati,
    kanggo ing kene kana.

    38. (51)
    Liring mati sajroning ngaurip,
    iya urip ing sajroning pêjah,
    urip bae salawase,
    kang mati iku nêpsu,
    badan lair kang anampani,
    kêtampan badan nyata,
    pamore sawujud,
    pa gene ngrasa matiya,
    Wêrkudhara tyasira padhang nampani,
    wahyu prapta nugraha.

    39. (52)
    Lir sasangka katawêngan riris,
    praptaning wahyu ngima nirmala,
    sumilak ilang rêgêde,
    angling malih turnya rum,
    Dewa Ruci manis aririh,
    tan ana aji paran,
    kabeh wus kawêngku,
    tan ana ingulatana,
    kaprawiran kadigdayan wus kawingking,
    kabeh rehing ngayuda.

    40. (53)
    Têlas wulangira Dewa Ruci,
    Wêrkudhara ing tyas wus tan kewran,
    wus wruh ing anane dhewe,
    ardaning swara muluk,
    tanpa êlar anjajah bangkit,
    sawêngkon jagad raya,
    angga wus kawêngku,
    pantês prêmatining basa,
    saenggane sêkar maksih kudhup lami,
    mangke mêkar ambabar,

    41. (54)
    Wuwuh warnane lan gandaneki,
    wus kêna kang panca-rêtna mêdal,
    wus salin alamipun,
    angulihi alame lami,
    Dewa Ruci wus sirna,
    mêngkana winuwus,
    tyasira Sang Wêrkudhara,
    lulus saking gandane kêsturi jati,
    pêpanasing tyas sirna.

    42. (55)
    Wus lêksana salêkêring bumi,
    ujar bae wruh patakanira,
    nir ing wardaya malane,
    mung panarima mungguh,
    kadyanggane nganggo sutradi,
    maya-maya kang sarira,
    rehnya kang saryalus,
    sinukma mas ingêmasan,
    arja sotya-sinutya manik-minanik,
    wruh pakenaking tingkah.

    43. (56)
    Mila sumping bra puspa krêna di,
    winarnendah kinteki sumêkar,
    kêsturi jati namane,
    pratandha datan korup,
    kang pangwikan kênaka lungid;
    angungkabi kabisan,
    kawruh tan kaliru,
    poleng bang bintulu lima,
    pan winarna uraga milêt tulyasri,
    lancingan kampuhira.

    44. (57)
    Mangka pangemut katon ing nguni,
    titiga duk sajroning kang garba,
    Dewa Ruci pamengête,
    bang kuning irêng iku,
    pamurunge laku ngadhangi,
    mung kang putih ing têngah,
    sidaning pêngangkuh,
    kalimeku kang ginambar,
    wus kaasta sanalika aywa lali,
    ulun tuhu ambêknya.

    45. (58)
    Saking sangête karya ling-aling,
    pambengkase sumêngah jubriya,
    kaesthi siyang dalune,
    pan kathah gennya ngrungu,
    pratingkahe para maharsi,
    kang sami kaluputan,
    ing pangangkuhipun,
    pangancabing kawruhira,
    wus abênêr wêkasan mati tan dadi,
    kawilêt ing tatrapan.

    46. (59)
    Ana ingkang mati dadi pêksi,
    amung milih pencokan kewala,
    kayu kang bêcik warnane,
    angsana naga-santun,
    tanjung ana bulu waringin,
    kang ana pinggir pasar,
    êngkuk mangruk-mangkruk,
    angungkuli wong sêpasar,
    mindha-mindha kamukten sapele pinrih,
    kêsasar kabêlasar.

    47. (60)
    Ana ingkang anitis para ji,
    sugih raja-brana miwah garwa,
    ana kang milih putrane,
    putra kang arsa mêngku,
    karêmane wong siji-siji,
    samyantuk kaluwihan,
    ing panitisipun,
    yen mungguh sang Wêrkudhara,
    dêrêng arsa amung amrih ing pribadi,
    sêdayeku ingaran.

    48. (61)
    Titaning kang wadaka kang pêsthi,
    durung jumênêng jalma utama,
    ingkang mêngkono anggêpe,
    pêngrasane anêmu,
    suka sugih tan wruh ing yêkti,
    yen uga nêmu duka,
    kêbanjur kalantur,
    saênggon nitis kewala,
    tanpa wêkas kangelan tan nêmu hasil,
    tan bisa babar pisan.

    49. (62)
    Karêmane wong sawiji-wiji,
    durung wêruh sampurnaning tunggal,
    ing pati sanggon-ênggone,
    anitis dadi kuwuk,
    kuru gudhig pilêrên mising,
    matane karo wuta,
    tan wêruh dêlanggung,
    ngrungu ana pitik sata,
    pinaranan kang duwe ayam ningali,
    ginitikan ing doran.

    50. (63)
    Ana ingkang anyakrabawani,
    iya pakarêman duk ing donya,
    ing pati maring tibane,
    ing kono karêmanipun,
    nora kuwat parêng ing pati,
    keron pan kêsamaran,
    mangsah wowor sambu,
    abote ulah kamuksan,
    nora kêna toleh anak lawan rabi,
    sajrone mrih wêkasan.

    51. (64)
    Yen luputa patakaning bumi,
    lêhêng siyeng aja dadi jalma,
    sato gampang pratikêle,
    sirnane tanpa tutur,
    yen wis aris bênêr ing kapti,
    langgêng tanpa kêrana,
    angga buwaneku,
    umênêng tan kadi sela,
    ênêngira apan ora kadi warih,
    wrata tanpa tuduhan.

    52. (65)
    Len ing pandhita ana nganggêpi,
    ing kamuksan nênggih pêksanira,
    anjungkung kasutapane,
    nyana kêna den-angkuh,
    tanpa tuduh mung tapaneki,
    tanpa wit puruhita,
    suwung anyaruwung,
    mung têmên kaciptanira.
    durung antuk wuruk pratikêl sayêkti,
    pêngangkuh lalawora.

    53. (66)
    Tapanira kongsi ngraga runting,.
    wus mangkana gennya mrih kamuksan,
    datanpa tutur sirnane,
    kêmatêngên tapa wuk,
    den-pratikêl ingkang lêstari,
    tapa iku minangka,
    rêragi pan amung,
    ngelmu kang minangka ulam,
    tapa tanpa ngelmu iku nora dadi,
    yen ngelmu tanpa tapa.

    54. (67)
    Cêmplang-cêmplang nora wurung dadi,
    angsal sampun wudhar ing tatrapan,
    kêcagak sagung bekane,
    sayêkti dadosipun,
    apan akeh pandhita sandi,
    wuruke sinatêngah,
    marang sabatipun,
    sabate landhêp priyangga,
    kang linêmpit winudhar raose nuli,
    ngaturkên gurunira.

    55. (68)
    Pamudhare sung graitaneki,
    nguni-uni durung mambu warah,
    saking tan eca manahe,
    katur ing gurunipun,
    langkung ngungun milu nganggêpi,
    sinêmantakkên lawan,
    pandhita gung-agung,
    wus pasthi anggêp kang nyata,
    iku wahyu nugraha dhawuh pribadi,
    sabat ingakên anak.

    56. (69)
    Sinunga-sunga anggung tinari,
    maring guru yen arsa mêmêjang,
    tan têbih sinandhing gone,
    sabat kang têmah guru,
    guru dadya sabat ing batin,
    lêpas ing panggraita,
    nanduk sarta wahyu,
    iku utama kalihnya,
    kang satêngah pandhita durung sayêkti,
    kasêlak piyangkuhnya.

    57. (70)
    Kudu tinut saujarereki,
    dene akeh lumaku sinêmbah,
    neng pucaking gunung gone,
    swaranira manguwuh,
    angêbêki patapaneki,
    yen ana wong amarak,
    wêkase abikut,
    lir gubar-beri tinêmbang,
    kumêrampyang binubak datanpa isi,
    tuna kang puruhita.

    58. (71)
    Aja kaya mêngkono ngaurip,
    badan iku dipun-kadi wayang,
    kinudang neng panggung gone,
    arja têtali bayu,
    padhanging kang panggungereki,
    damar aditya wulan,
    kêlir ngalam suwung,
    kang anangga-nangga cipta,
    gêbog bumi têtêpe adêging ringgit,
    sinangga ingkang nanggap.

    59. (72)
    Kang ananggap aneng jroning puri,
    datan mosik pangulah sakarsa,
    ywang pramana dêdhalange,
    wayang pênggadêgipun,
    ana ngidul angalor tuwin,
    mangkana kang sarira,
    ing sapolahipun,
    pinolahakên ki dhalang,
    lumaku yen linakokkên lembyaneki,
    linembehkên ing dhalang.

    60. (73)
    Pangucape ingucapkên nênggih,
    yen kumilat kinilatkên iya,
    tinutur anuturake,
    sakarsa-karsanipun,
    kang anonton pinolah sami,
    tinonakên ing dhalang,
    kang ananggap iku,
    sajagad mangsa na wruh,
    tanpa rupa kang nanggap aneng jro puri,
    tanpa warna ywang suksma.

    61. (74)
    Sang pêrmana denira angringgit,
    ngucapakên ing sariranira,
    tanpa aji sêsanane,
    wibuh pan ora tumut,
    ing sarira upamaneki,
    kang menyak munggeng puhan,
    gêni munggeng kayu,
    andrêpati tan katêdah,
    sang pêrmana lir gêsênging kayu panggrit,
    landhêsan sami wreksa..

    62. (75)
    Panggritane polah dening angin,
    gêsênging kayu kukuse mêdal,
    datan antara gênine,
    gêni kalawan kukus,
    saking kayu wijile sami,
    wruha eling duk kala,
    mula-mulanipun,
    kabeh iki kang gumêlar,
    pan saking heb manusa tinitah luwih,
    apan ingakên rahsa.

    63. (76)
    Mulya dhewe saking kang dumadi,
    aja mengeng ciptanira tunggal,
    tunggal saparibawane,
    isining buwaneku,
    anggêp siji manungsa jati,
    mêngku sagung kaanan,
    ing manusa iku,
    den-wruh wisesaning tunggal,
    anuksmani saliring jagad dumadi,
    tekad kang wus sampurna.

    64. (77)
    Wus mangkana Wêrkudhara mulih,
    datan mengeng ing batin gumawang,
    nora pangling sarirane,
    panuksmaning sawujud,
    nanging lair sasab piningit,
    reh-sareh kasatriyan,
    linakon winêngku,
    pamurwaning jagad raya,
    kalairan batine nora kasilib,
    satu menggeng rimbagan.

    65. (78)
    Wêrkudhara lampahira,
    jroning kitha Ngamartadipura,
    wus panggih kadange kabeh,
    langkung sukaning kalbu,
    Darmaputra lan para ari,
    ngluwari punaginya,
    bujana anayub,
    tanbuh sukane tyasira,
    dene ingkang rayi praptane basuki,
    sirna subrangtanira.

    Nuwun

    BalasHapus
  15. IZZA VIDIYATI2 April 2009 04.30

    NAMA:IZZA VIDIYATI
    NIM 2102408058
    ROMBEL 2

    Serat Rengganis

    Cerpen Gunawan Maryanto

    Rengganis biisa terbang bukan hanya karena ia doyan sari kembang, tapi juga tubuhnya demikian ringan. Putri mantan raja Jamineran itu tak ubahnya seekor kupu-kupu; cantik dan rapuh dalam satu waktu. Tapi juga sakti; ia bisa masuk ke taman Banjaran Sari tanpa seorang pengawal pun menyadari.

    Dari gunung Argapura ia terbang seorang diri, tiap hari, memetik kembang Banjaran Sari sesukanya sendiri. Hingga taman itu berantakan, kehilangan kembang dan keindahan. Dan suatu sore, Pangeran Kelan sang empunya taman, memergokinya.

    Maling Sakti, berhenti!

    Rengganis tertangkap basah dengan beberapa tangkai kembang di tangannya. Tapi wajahnya tak nampak bersalah. Ia malah tersipu malu seperti perempuan yang tengah dirayu. Tapi memang demikianlah yang kemudian terjadi. Pangeran Kelan bukannya marah tapi malah jatuh cinta kepada si pencuri.

    Pangeran, kata Rengganis di sesela tembang cinta sang Pangeran, aku mau jadi istrimu, jika kau juga bisa meminang putri Mukadam jadi istrimu. Tak enak rasanya aku bahagia seorang diri dan meninggalkan sahabatku itu dalam kesendiriannya. Selesai mengucapkan permintaannya Rengganis terbang kembali ke Argapura. Tinggallah Pangeran Kelan seperti seseorang yang baru bangun dari mimpinya. Lalu malam turun dengan cepat, menghadirkan bulan pucat dan perasaan yang berlarat-larat. Dan para setan mulai menabuh gendang-gendang kegilaan. Pangeran Kelan kehilangan ingatannya. Ia menyanyi dan menari. Berteriak-teriak memanggil nama Rengganis di sela tawa dan tangisnya. Para emban dan pengawal tak bisa menyadarkannya. Nama Rengganis terus dilafalkannya seperti mantra. Seperti doa. Seperti puja.

    Dewi Julusul-asikin keluar dari kamarnya dan mendapati suami yang tak dicintainya telah gila. Rambutnya berantakan dan penuh dengan selipan kembang mirip taman berantakan yang berjalan. Putri Jamintoran itu memeluknya dan menangis untuk pertama kalinya. Ia bisa saja tak mencintainya, tapi ia tetap tak rela jika lelaki yang telah menjadi suaminya itu jadi tontonan yang menyedihkan.

    ***

    Kabar tak enak itu sampai di telinga Wong Agung. Kakang, tak puas-puasnya penderitaan mengikuti ke mana pun aku pergi, katanya kepada Umarmaya dengan putus asa. Si Tukang Copet berwajah jenaka itu tak berani mengumbar ketawanya. Ia tahu adiknya sedang bersedih.

    Aku pergi dulu, Yayi. Akan kucari jawaban yang membuat anakmu itu gila. Setelah menepuk-nepuk bahu Wong Agung, Umarmaya menjadi angin, melesat menemui Seh Dul Kures, sang Petapa. Petapa sakti itu menunjuk Argapura sebagai asal bencana. Tapi Umarmaya malah melesat menuju Mukadam. Aku tak mencari asal, Kyai. Aku mencari jawaban, katanya.

    Dan Mukadam, Saudara-saudara, adalah negeri yang mengerikan. Dijaga oleh ribuan prajurit dari tembaga yang digerakkan oleh tukang sihir bernama Majusi. Tak siapa pun bisa masuk ke sana tanpa membangunkan tidurnya. Jika Majusi terbangun, ribuan prajurit tembaga yang semula menyerupa arca itu akan bergerak seperti punya nyawa dan tenaga yang tak ada habisnya. Demikianlah yang terjadi ketika angin yang tak lain adalah Umarmaya nekat masuk ke wilayah Mukadam.

    Umarmaya terkepung. Ia tak punya celah untuk lari, keahliannya yang paling utama. Juga ilmu sirepnya, yang mampu menidurkan seluruh mahluk di muka bumi, tak berguna apa-apa. Ia tetap tak bisa menidurkan tembaga. Malahan rapalan itu berbalik menidurkannya. Tanpa perlawanan yang berarti, Umarmaya berhasil diringkus dan dimasukkan ke sumur berbisa, dan dibiarkan sendiri menanti mati.

    Seluruh Mukadam berpesta, terlebih Prabu Nusirwan dari Medayin yang kebetulan tengah bertamu. Dengan kematian yang akan segera menjemput Umarmaya ia akan kehilangan musuh-musuhnya. Tinggal Wong Agung, batinnya. Ia memeluk Raja Mukadam mengucapkan terima kasih dan berniat mengabadikan persekutuan itu dengan menjodohkan Raden Hirman, anaknya, dengan putri Mukadam, Dewi Kadarmanik. Raja Mukadam menyambutnya. Tanggal pernikahan segera diumumkan. Pesta dilanjutkan. Prajurit-prajurit tembaga menabuh dirinya, membentur-benturkan tubuh satu sama lain, menjadi bebunyian yang meriah dan mengerikan.

    Di dalam kamarnya, Dewi Kadarmanik, penyair perempuan yang begitu mengagumi Neruda, mengunci diri. Keputusan ayahnya betul-betul memukulnya. Ia sama sekali tak memimpikan perkawinan, apalagi dengan Raden Hirman, pemabuk yang sering teler di emperan pasar Medayin. Ia hanya menginginkan kesendirian. Dan satu-satunya yang paling menghibur adalah membaca syair Neruda, atau menerbitkan antologi puisinya seorang diri. Tak ada yang lain. Ia begitu mencintai dirinya. Dan sedikit mencintai Mukadam yang hanya dihuni logam-logam.

    Lalu di tengah kesedihan yang mendalam itu, Rengganis menyentuhnya seperti puisi. Kadarmanik mau tak mau tersenyum menyadari kehadiran sahabatnya itu. Kau seperti malaikat, Rengganis, bisiknya di telinga Rengganis. Begitulah seorang sahabat bagi sahabatnya, sahut Rengganis. Aku akan membawamu pergi dari kesedihan ini. Aku akan membawamu terbang ke tanah Arab. Kita akan menemui kebahagiaan di sana. Aku akan mengajakmu memasuki agama baru, Islam namanya. Aku juga akan mengajakmu mengenal seorang lelaki, Iman Sumantri namanya, si Pangeran Kelan. Mungkin semua itu akan membuatmu sedikit bahagia.

    Bisakah kita keluar dari sini? Kadarmanik mendadak ketakutan mengingat kesaktian sang Majusi. Tenanglah, aku bisa masuk ke sini, maka aku juga akan bisa keluar dari sini. Majusi dan prajurit-prajurit tembaganya sedang berpesta. Mereka akan lena dan tak menyadari kepergian kita. Untuk Raden Hirman, biarlah guling tidurmu yang menggantikanmu. Selesai menyulap guling tidur menjadi sosok Kadarmanik, Rengganis membawa terbang sahabatnya itu menuju tanah Arab, menemui Pangeran Kelan.

    ***

    Wong Agung belum beranjak dari situasinya semula. Malah bertambah-tambah karena kabar Umarmaya yang menjadi tawanan Mukadam. Dengan kesedihan yang bercampur dengan kemarahan ia memerintahkan Maktal untuk menggempur Mukadam. Maktal segera berangkat membawa ribuan tentara Arab. Di perbatasan, perang besar pun tak terhindarkan. Prajurit logam Mukadam bersama prajurit Medayin bahu-membahu menghadang gerak laju pasukan Arab. Raden Hirman mengamuk mencari calon istrinya yang hilang. Ia beradu sakti dengan Maktal.

    Sementara itu Rengganis dan Kadarmanik telah sampai di taman Banjaran Sari. Pangeran Kelan yang kehilangan ingatannya mendadak sembuh begitu diusap wajahnya oleh Rengganis. Mereka bertiga segera bergerak menuju Mukadam untuk menyelamatkan Umarmaya.

    Singkatnya, Umarmaya selamat, tapi pasukan Arab menderita kekalahan hebat. Hampir separo pasukan binasa tak kuasa menghadapi pasukan logam yang kebal dan tak mengenal kematian. Mereka mundur kembali ke kota. Maktal yang terluka berat berusaha diselamatkan.

    Di tengah jerit tangis kekalahan itulah Kadarmanik membuka rahasia kesaktian sang Majusi. Ia memiliki air abadi, Tirta Perwitasari. Di sanalah nyawa pasukan tembaga itu berada. Rengganis dan Umarmaya segera berangkat. Umarmaya mengenakan kopiah wasiat yang membuatnya tak bisa terlihat. Mereka segera menuju kediaman sang Majusi.

    ***

    Mukadam tengah berpesta kemenangan. Raden Hirman berusaha menghilangkan kepedihannya dengan meminum air keras sebanyak-banyaknya. Prabu Nusirwan sama sekali tak peduli dengan luka anaknya. Ia sibuk merayakan kekalahan Arab. Wong Agung, kematianmu semakin dekat. Ucapnya berkali-kali dalam hati. Ia bersulang dengan Raja Mukadam, mengikat hubungan sehidup semati.

    Dan sang Majusi pun makin jumawa dengan kemenangan yang telah diraihnya. Pujian demi pujian yang dialamatkan kepadanya membuatnya lupa daratan dan tak menyadari bahaya yang tengah mengancam.

    Rengganis mengetuk pintu rumahnya. Sedang Umarmaya yang tak kasat mata berada di belakang Rengganis. Meski tahu Majusi tak akan melihatnya, pendekar jenaka itu tetap ngumpet di belakang gadis sakti itu. Majusi yang lupa diri menyambut kedatangan Rengganis bagai kekasihnya. Lebih-lebih Rengganis mengaku sebagai putri yang dihadiahkan Nusirwan kepadanya. Majusi segera menggendong Rengganis, sementara Umarmaya, begitu persembunyian diambil, menyelinap ke balik pintu.

    Majusi membawa gadis impiannya masuk ke kamar. Keadaan itu tak disia-siakan oleh Umarmaya. Segera ia mencari-cari di mana letak Tirta Perwitasari. Ia bergerak dengan cepat sebelum Majusi tersadar akan bahaya yang masuk ke dalam rumahnya. Di dalam kamar Rengganis menembang membuat sang Majusi makin mabuk kepayang. Menembang sambil berdebar-debar menunggu kabar dari Umarmaya. Ah, jika saja Majusi tahu bahwa tembang itu adalah tembang kematiannya.

    Saudara, sepuluh lagu telah berlalu tapi Umarmaya belum juga berhasil menemukan di mana air abadi itu disimpan. Rengganis mulai dibasahi keringat dingin. Majusi sudah mulai tak sabar kepingin segera meniduri kekasihnya. Ia mulai menaiki tubuh Rengganis yang tak punya alasan lagi untuk menunda persetubuhan. Dan di saat Majusi membuka satu per satu pakain yang dikenakan Rengganis, mendadak terdengar suara tempayan pecah. Keras. Dari arah ruang belakang. Majusi tersentak. Tanpa menghiraukan Rengganis yang tergolek di ranjang ia melesat ke kamar belakang di mana ia menyimpan air pusakanya. Dan terlambat. Tempayan wadah air itu telah dipecah oleh Umarmaya. Dan tanpa bisa diselamatkan lagi air abadi segera lenyap meresap ke dalam tanah. Kembali ke muasalnya. Majusi menjerit panjang meneriakkan kekalahannya. Di saat itu Umarmaya dan Rengganis telah melayang terbang kembali ke Arab.

    ***

    Pasukan Arab menyambut kedatangan kedua pahlawannya. Kemenangan seperti sudah berada di tangan mereka. Tanpa berpikir panjang lagi mereka segera berbaris berangkat ke perbatasan untuk memukul mundur pasukan Mukadam dan Medayin. Tanpa air pusaka pasukan tembaga dengan mudah dihancurkan. Pasukan Medayin yang telah berulang kali menderita kekalahan melawan pasukan Arab bubar tidak karuan begitu melihat sekutu mereka ringsek dan meleleh terbakar. Prabu Nusirwan dan Raja Mukadam berlari ke ruang persembunyian di bawah tanah. Mereka mengutuk Majusi yang tak lagi sakti.

    Pasukan Arab pulang membawa kemenangan. Pesta kemenangan pun berlanjut dengan pesta perkawinan sang Pangeran Kelan dengan Rengganis dan Dewi Kadarmanik. Tapi belum lagi hidangan pesta perkawinan disuguhkan, sirene tanda bahaya meraung mengabarkan bahaya yang mengancam kota Mekah. Pesta bubar berubah menjadi jerit kepanikan warga kota.

    Wong Agung keluar dari istananya, dan di langit ia menyaksikan 40 kuda terbang menyerang kotanya dengan menjatuhkan bola-bola api. Mekah terbakar. Begitu cepat kehancuran itu terjadi. Tanpa sempat tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Wong Agung diam. Ia seperti mendengar kembali jerit kematian Adaninggar, 25 tahun yang lalu.

    ***

    Adaninggar, Wong Agung meremang mengenangnya. Putri Cina, anak raja Hong Te Te, pendekar perempuan yang luar biasa, pecinta yang tak mengenal menyerah. Konon, suatu malam, putri itu bermimpi bertemu dengan seorang lelaki. Paginya ia bangun dan wajah lelaki dalam mimpinya tetap berada dalam kepalanya. Berhari-hari ia demikian terganggu. Wajah lelaki yang sama sekali belum pernah dilihatnya itu melayang-layang dalam benaknya. Seperti berdiam, berumah dalam kepala perawan itu. Lalu dengan kebulatan hati Adaninggar meninggalkan daratan Cina, untuk memburu mimpinya. Ia yakin, wajah lelaki itu adalah wajah jodohnya. Wajah Wong Agung Jayengrana. Dengan Talikentular, selendang saktinya, Adaninggar terbang.

    Sampai di jazirah Arab Adaninggar menempel gambar wajah kekasihnya di mana-mana. Setiap lorong-lorong kota penuh dengan poster Wong Agung. Hingga sampailah poster cinta itu ke Medayin. Wong Agung yang waktu itu masih tinggal bersama Prabu Nusirwan, mertuanya, terganggu dengan kejadian itu. Ia perintahkan para prajurit untuk melepas poster bergambar wajahnya itu. Tapi tiap kali pagi dilepas, malam harinya poster itu telah kembali terpasang di tempatnya semula. Hingga akhir Wong Agung sendiri yang turun untuk menurunkan gambar-gambar wajahnya. Di saat itulah mereka bertemu untuk pertama kalinya. Adaninggar benar-benar jatuh cinta kepadanya. Tapi Wong Agung menolaknya mentah-mentah. Ia sudah punya beberapa istri yang luar biasa, untuk apa menambah satu lagi.

    Adaninggar tak kurang akal. Ia merayu Prabu Nusirwan dan akhirnya bisa menjadi selir. Mau tidak mau Adaninggar dan Wong Agung setiap hari ketemu. Dan Adaninggar bisa memberi perintah sesuka hati kepada menantunya. Sebagai anak, Wong Agung menuruti semua perintah ibunya. Kecuali bercinta dengannya. Saking gemesnya Wong Agung pernah diikat dan dicambukinya supaya mau menerima cintanya. Tapi Wong Agung tetap memanggilnya ibu.

    Adaninggar juga bersekutu dengan istri-istri Wong Agung, Sudarawreti dan Rabingu Sirtupaleli. Persekutuan mereka menjadi-jadi ketika Wong Agung berniat memperistri Kelaswara, prajurit perempuan, putri Raja Kelanjali. Adaninggar melabrak pesaingnya dan pertempuran dua prajurit perempuan itu pun terjadi. Kelaswara yang tak siap menghadapi serangan mendadak itu terdesak. Maklumlah, saat Adaninggar melabraknya, ia sedang tertidur pulas di kamar pengantin. Tubuh Adaninggar yang kebal dari beragam senjata hampir-hampir membuatnya putus asa. Kelaswara lalu berlari mengambil tombak Lusaka dan melemparkannya. Tombak kecil itu menembus dada kiri Adaninggar dan membuatnya tewas seketika. Sudarawreti dan Rabingu Sirtupaleli berniat membalas kematian sahabatnya, tapi buru-buru Wong Agung menengahinya.

    ***

    Sesungguhnya yang terjadi di langit Mekah adalah 40 kuda terbang dengan penunggang prajurit perempuan dari Cina datang menuntut balas kematian Adaninggar. Widaninggar, adik kandung Adaninggar, memimpin sendiri serangan itu. Dengan bantuan gurunya, Widaningrum, putri tunggal sang Ijajil alias si Begejil, 40 prajurit itu menjadi sakti luar biasa. Mereka mampu membakar kota Wong Agung dalam waktu yang singkat. Wong Agung tak salah, bencana itu datang dari kematian Adaninggar.

    Rengganis tak tinggal diam, dengan bantuan Dewi Kuraisin dari Ajrak, ia menghadang laju Widaninggar dan Widaningrum. Di tengah kemelut pertarungan itu, Prabu Nusirwan keluar dari persembunyian lalu lari mengungsi ke tanah Jawa. Meminta perlindungan kepada Kendit Birayung.

    Sampai di sinilah kisah Rengganis berakhir. Tapi perseteruan Wong Agung dan Nusirwan masih terus berlanjut.***

    Jogjakarta, 2008

    BalasHapus
  16. RIZKI CITRA ANGGREANI2 April 2009 04.33

    NAMA :RIZKI CITRA ANGGREANI
    NIM :2102408018
    ROMBEL:1

    Suluk Wujil Pesan Kanjeng Sunan Bonang,

    1
    Inilah ceritera si Wujil
    Berkata pada guru yang diabdinya
    Ratu Wahdat
    Ratu Wahdat nama gurunya
    Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung
    Yang tinggal di desa Bonang
    Ia minta maaf
    Ingin tahu hakikat
    Dan seluk beluk ajaran agama
    Ssampai rahsia terdalam
    2
    Sepuluh tahun lamanya
    Sudah Wujil
    Berguru kepada Sang Wali
    Namun belum mendapat ajaran utama
    Ia berasal dari Majapahit
    Bekerja sebagai abdi raja
    Sastra Arab telah ia pelajari
    Ia menyembah di depan gurunya
    Kemudian berkata
    Seraya menghormat
    Minta maaf
    3
    “Dengan tulus saya mohon
    Di telapak kaki tuan Guru
    Mati hidup hamba serahkan
    Sastra Arab telah tuan ajarkan
    Dan saya telah menguasainya
    Namun tetap saja saya bingung
    Mengembara kesana-kemari
    Tak berketentuan.
    Dulu hamba berlakon sebagai pelawak
    Bosan sudah saya
    Menjadi bahan tertawaan orang
    4
    Ya Syekh al-Mukaram!
    Uraian kesatuan huruf
    Dulu dan sekarang
    Yang saya pelajari tidak berbeda
    Tidak beranjak dari tatanan lahir
    Tetap saja tentang bentuk luarnya
    Saya meninggalkan Majapahit
    Meninggalkan semua yang dicintai
    Namun tak menemukan sesuatu apa
    Sebagai penawar
    5
    Diam-diam saya pergi malam-malam
    Mencari rahsia Yang Satu dan jalan sempurna
    Semua pendeta dan ulama hamba temui
    Agar terjumpa hakikat hidup
    Akhir kuasa sejati
    Ujung utara selatan
    Tempat matahari dan bulan terbenam
    Akhir mata tertutup dan hakikat maut
    Akhir ada dan tiada

    6
    Ratu Wahdat tersenyum lembut
    “Hai Wujil sungguh lancang kau
    Tuturmu tak lazim
    Berani menagih imbalan tiggi
    Demi pengabdianmu padaku
    Tak patut aku disebut Sang Arif
    Andai hanya uang yang diharapkan
    Dari jerih payah mengajarkan ilmu
    Jika itu yang kulakukan
    Tak perlu aku menjalankan tirakat
    7
    Siapa mengharap imbalan uang
    Demi ilmu yang ditulisnya
    Ia hanya memuaskan diri sendiri
    Dan berpura-pura tahu segala hal
    Seperti bangau di sungai
    Diam, bermenung tanpa gerak.
    Pandangnya tajam, pura-pura suci
    Di hadapan mangsanya ikan-ikan
    Ibarat telur, dari luar kelihatan putih
    Namuni isinya berwarna kuning
    8
    Matahari terbenam, malam tiba
    Wujil menumpuk potongan kayu
    Membuat perapian, memanaskan
    Tempat pesujudan Sang Zahid
    Di tepi pantai sunyi di Bonang
    Desa itu gersang
    Bahan makanan tak banyak
    Hanya gelombang laut
    Memukul batu karang
    Dan menakutkan
    9
    Sang Arif berkata lembut
    “Hai Wujil, kemarilah!”
    Dipegangnya kucir rambut Wujil
    Seraya dielus-elus
    Tanda kasihsayangnya
    “Wujil, dengar sekarang
    Jika kau harus masuk neraka
    Karena kata-kataku
    Aku yang akan menggantikan tempatmu”

    11
    “Ingatlah Wujil, waspadalah!
    Hidup di dunia ini
    Jangan ceroboh dan gegabah
    Sadarilah dirimu
    Bukan yang Haqq
    Dan Yang Haqq bukan dirimu
    Orang yang mengenal dirinya
    Akan mengenal Tuhan
    Asal usul semua kejadian
    Inilah jalan makrifat sejati”
    12
    Kebajikan utama (seorang Muslim)
    Ialah mengetahui hakikat salat
    Hakikat memuja dan memuji
    Salat yang sebenarnya
    Tidak hanya pada waktu isya dan maghrib
    Tetapi juga ketika tafakur
    Dan salat tahajud dalam keheningan
    Buahnya ialah mnyerahkan diri senantiasa
    Dan termasuk akhlaq mulia
    13
    Apakah salat yang sebenar-benar salat?
    Renungkan ini: Jangan lakukan salat
    Andai tiada tahu siapa dipuja
    Bilamana kaulakukan juga
    Kau seperti memanah burung
    Tanpa melepas anak panah dari busurnya
    Jika kaulakukan sia-sia
    Karena yang dipuja wujud khayalmu semata
    14
    Lalu apa pula zikir yang sebenarnya?
    Dengar: Walau siang malam berzikir
    Jika tidak dibimbing petunjuk Tuhan
    Zikirmu tidak sempurna
    Zikir sejati tahu bagaimana
    Datang dan perginya nafas
    Di situlah Yang Ada, memperlihatkan
    Hayat melalui yang empat

    15
    Yang empat ialah tanah atau bumi
    Lalu api, udara dan air
    Ketika Allah mencipta Adam
    Ke dalamnya dilengkapi
    Anasir ruhani yang empat:
    Kahar, jalal, jamal dan kamal
    Di dalamnya delapan sifat-sifat-Nya
    Begitulah kaitan ruh dan badan
    Dapat dikenal bagaimana
    Sifat-sifat ini datang dan pergi, serta ke mana
    16
    Anasir tanah melahirkan
    Kedewasaan dan keremajaan
    Apa dan di mana kedewasaan
    Dan keremajaan? Dimana letak
    Kedewasaan dalam keremajaan?
    Api melahirkan kekuatan
    Juga kelemahan
    Namun di mana letak
    Kekuatan dalam kelemahan?
    Ketahuilah ini

    17
    Sifat udara meliputi ada dan tiada
    Di dalam tiada, di mana letak ada?
    Di dalam ada, di mana tempat tiada?
    Air dua sifatnya: mati dan hidup
    Di mana letak mati dalam hidup?
    Dan letak hidup dalam mati?
    Kemana hidup pergi
    Ketika mati datang?
    Jika kau tidak mengetahuinya
    Kau akan sesat jalan
    18
    Pedoman hidup sejati
    Ialah mengenal hakikat diri
    Tidak boleh melalaikan shalat yang khusyuk
    Oleh karena itu ketahuilah
    Tempat datangnya yang menyembah
    Dan Yang Disembah
    Pribadi besar mencari hakikat diri
    Dengan tujuan ingin mengetahui
    Makna sejati hidup
    Dan arti keberadaannya di dunia
    19
    Kenalilah hidup sebenar-benar hidup
    Tubuh kita sangkar tertutup
    Ketahuilah burung yang ada di dalamnya
    Jika kau tidak mengenalnya
    Akan malang jadinya kau
    Dan seluruh amal perbuatanmu, Wujil
    Sia-sia semata
    Jika kau tak mengenalnya.
    Karena itu sucikan dirimu
    Tinggalah dalam kesunyian
    Hindari kekeruhan hiruk pikuk dunia

    20
    Keindahan, jangan di tempat jauh dicari
    Ia ada dalam dirimu sendiri
    Seluruh isi jagat ada di sana
    Agar dunia ini terang bagi pandangmu
    Jadikan sepenuh dirimu Cinta
    Tumpukan pikiran, heningkan cipta
    Jangan bercerai siang malam
    Yang kaulihat di sekelilingmu
    Pahami, adalah akibat dari laku jiwamu!
    21
    Dunia ini Wujil, luluh lantak
    Disebabkan oleh keinginanmu
    Kini, ketahui yang tidak mudah rusak
    Inilah yang dikandung pengetahuan sempurna
    Di dalamnya kaujumpai Yang Abadi
    Bentangan pengetahuan ini luas
    Dari lubuk bumi hingga singgasana-Nya
    Orang yang mengenal hakikat
    Dapat memuja dengan benar
    Selain yang mendapat petunjuk ilahi
    Sangat sedikit orang mengetahui rahasia ini

    22
    Karena itu, Wujil, kenali dirimu
    Kenali dirimu yang sejati
    Ingkari benda
    Agar nafsumu tidur terlena
    Dia yang mengenal diri
    Nafsunya akan terkendali
    Dan terlindung dari jalan
    Sesat dan kebingungan
    Kenal diri, tahu kelemahan diri
    Selalu awas terhadap tindak tanduknya
    23
    Bila kau mengenal dirimu
    Kau akan mengenal Tuhanmu
    Orang yang mengenal Tuhan
    Bicara tidak sembarangan
    Ada yang menempuh jalan panjang
    Dan penuh kesukaran
    Sebelum akhirnya menemukan dirinya
    Dia tak pernah membiarkan dirinya
    Sesat di jalan kesalahan
    Jalan yang ditempuhnya benar
    24
    Wujud Tuhan itu nyata
    Mahasuci, lihat dalam keheningan
    Ia yang mengaku tahu jalan
    Sering tindakannya menyimpang
    Syariat agama tidak dijalankan
    Kesalehan dicampakkan ke samping
    Padahal orang yang mengenal Tuhan
    Dapat mengendalikan hawa nafsu
    Siang malam penglihatannya terang
    Tidak disesatkan oleh khayalan
    35
    Diam dalam tafakur, Wujil
    Adalah jalan utama (mengenal Tuhan)
    Memuja tanpa selang waktu
    Yang mengerjakan sempurna (ibadahnya)
    Disebabkan oleh makrifat
    Tubuhnya akan bersih dari noda
    Pelajari kaedah pencerahan kalbu ini
    Dari orang arif yang tahu
    Agar kau mencapai hakikat
    Yang merupakan sumber hayat
    36
    Wujil, jangan memuja
    Jika tidak menyaksikan Yang Dipuja
    Juga sia-sia orang memuja
    Tanpa kehadiran Yang Dipuja
    Walau Tuhan tidak di depan kita
    Pandanglah adamu
    Sebagai isyarat ada-Nya
    Inilah makna diam dalam tafakur
    Asal mula segala kejadian menjadi nyata
    38
    Renungi pula, Wujil!
    Hakikat sejati kemauan
    Hakikatnya tidak dibatasi pikiran kita
    Berpikir dan menyebut suatu perkara
    Bukan kemauan murni
    Kemauan itu sukar dipahami
    Seperti halnya memuja Tuhan
    Ia tidak terpaut pada hal-hal yang tampak
    Pun tidak membuatmu membenci orang
    Yang dihukum dan dizalimi
    Serta orang yang berselisih paham
    39
    Orang berilmu
    Beribadah tanpa kenal waktu
    Seluruh gerak hidupnya
    Ialah beribadah
    Diamnya, bicaranya
    Dan tindak tanduknya
    Malahan getaran bulu roma tubuhnya
    Seluruh anggota badannya
    Digerakkan untuk beribadah
    Inilah kemauan murni
    40
    Kemauan itu, Wujil!
    Lebih penting dari pikiran
    Untuk diungkapkan dalam kata
    Dan suara sangatlah sukar
    Kemauan bertindak
    Merupakan ungkapan pikiran
    Niat melakukan perbuatan
    Adalah ungkapan perbuatan
    Melakukan shalat atau berbuat kejahatan
    Keduanya buah dari kemauan

    BalasHapus
  17. ULFATUL FAIQOH2 April 2009 04.41

    Serat Cemporèt kuwi sawijining karya sastra Jawa kang kalebu golongan sastra gagrag anyar, nama:ulfatul faiqoh
    NIM: 2102408121
    ROMBEL :4

    SERAT CEMPORET

    kang dianggit dening Paku Buwono IX. Karya sastra iki dianggit jroning métrum dhandhanggula.

    Dhandhanggula

    Jarwa

    1. Songsoggora (payung agung) minangka lambang kaslametan, ibarat winidyan (dikurniani kawruh) kang cocog karo kang digayuh, nanging tetep ringa-ringa (ragu-ragu) wektu nggubah, amarga ora duwé kamampuan kang dhuwur, saéngga luwih dhisik kudu angruruhi (golèk) karisauan batin, lan njaga angkara murka, sinambi mohon luwar saka kasedihan, supaya aja nganti bingung jroning nyusun dalaning crita iki, lan mangkana crita iki ginupita (digubah)

    2. Sabeneré buku crita iki disusun saka karsaning Sri Baginda IX, kang sinéwaka (bertahta) ing karajan ageng Surakarta. Sri Baginda misuwur ing donya awit kasektèné lan minangka wewujudan utama jroning sipat-sipat utama, suci, ati sabar, sentosa, loma sarta tulus tresnané marang kawula, saéngga gedhé cilik kabèh padha ndongakaké kasejahtran karajan Sri Baginda.

    3. Minangka pambuka carita iki bakal diwedhar sawijining kiasan kang éndah, kang bisa didadèkaké tuladha jroning nglakoni sembarang kalir, angger digolèki kang rahayu kanggo mèngeti kakhilafan budi, supaya kabèh bisa lumaku kanthi gampang. Kang diwedhar minangka tuladha yakuwi crita lawas, bagéan pungkasan saka Pustaka Rajaweda yakuwi bab negara Purwacarita.

    4. Negeri iku mulya banget amarga wibawa raja, kang kagungan gelar Sri Mahapunggung, kang kukuh ngugemi darma lan paugeran sarta ahli ing babagan èlmu kawruh. Wiwitané raja Suwelecala kang dadi pambuka carita, kagungan enem putra lanang kang imbang kasektèné.

    5. Kang pambarep sesulih Raden Jaka Panuhun, panjenengané kasengsem marang babagan tetanèn. Awit saka kuwi panjenengané munggah tahta lan mréntah sawenèh masarakat tani ing dhaérah Pagelan lan sakubengé, ing kana panjenengané mbangun sawijining kutha minangka pusat pamaréntahan dhaérah Pagelen lan Kutaarja sarta mawa gelar Sri Manuhun.

    6. Putra kaloro kekasih Raden Jaka Sandanggarba, kasengsem marang donya dagang. Mulané wis lumrah yèn panjenengané sregeb banget usaha ngumpulaké modal, saéngga wusanané dadi raja sudagar, pusaté ing Jepara lan mawa gelar Sri Sadana.

    7. Putra kang katelu ingkang asma Raden Jaka Karungkala, kasengsem njelajah alas gung liwang liwung kanggo ajag kidang, banthèng, sapi lan manuk. Wektu tuwa banjur dadi raja ing Kirata, mimpin para pamburu, para penangkap kéwan, para pamiara sato kéwan lan kabèh pedagang daging.

    8. Biyèn kuthané ing Prambanan lan mawa gelar Sri Kala, uga kaloka kanthi sebutan Kirataraja. Adiné yakuwi Jaka Tunggumetung, kasenengané ngarungi segara golèk iwak utawa nyadap arèn ing wektu awan, saraya gawé uyah ing wektu wengi.

    9. Amarga saka kuwi panjenengané nguwasani para pamisaya mina (nelayan), ngumpulaké lan mimpin para penyadap sarta nguwasani para petani uyah. Biyèn punjeré ing Pagebangan lan mawa gelar Sri Malaras, anak kang sumendi, yakuwi rakané si bungsu kang kekasih Raden Jaka Petungtantara, amarga seneng pangalembana lan samadi sarta nyinaoni èlmu kapandhitan lan kapujanggan istana.

    BalasHapus
  18. MOSALAPARWA


    Ringkasan isi Kitab Mosalaparwa

    Diceritakan bahwa pada saat Yudistira naik tahta, dunia telah memasuki zaman Kali Yuga atau zaman kegelapan. Beliau telah melihat tanda-tanda alam yang mengerikan, yang seolah-olah memberitahu bahwa sesuatu yang mengenaskan akan terjadi. Hal yang sama dirasakan oleh Kresna. Ia merasa bahwa kejayaan bangsanya akan berakhir, sebab ia melihat bahwa banyak pemuda Wresni, Yadawa, dan Andhaka yang telah menjadi sombong, takabur, dan senang minum minuman keras sampai mabuk.

    Kutukan para brahmana
    Pada suatu hari, Narada beserta beberapa resi berkunjung ke Dwaraka. Beberapa pemuda yang jahil merencanakan sesuatu untuk mempermainkan para resi. Mereka mendandani Samba (putera Kresna dan Jembawati) dengan busana wanita dan diarak keliling kota lalu dihadapkan kepada para resi yang mengunjungi Dwaraka. Kemudian salah satu dari mereka berkata, "Orang ini adalah permaisuri Sang Babhru yang terkenal dengan kesaktiannya. Kalian adalah para resi yang pintar dan memiliki pengetahuan tinggi. Dapatkah kalian mengetahui, apa yang akan dilahirkannya? Bayi laki-laki atau perempuan?". Para resi yang tahu sedang dipermainkan menjadi marah dan berkata, "Orang ini adalah Sang Samba, keturunan Basudewa. Ia tidak akan melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan, melainkan senjata mosala yang akan memusnahkan kamu semua!" (mosala = gada)
    Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Sang Samba melahirkan gada besi dari dalam perutnya. Atas perintah Raja Ugrasena, senjata itu kemudian dihancurkan sampai menjadi serbuk. Beberapa bagian dari senjata tersebut sulit dihancurkan sehingga menyisakan sepotong besi kecil. Setelah senjata tersebut dihancurkan, serbuk dan serpihannya dibuang ke laut. Lalu Sang Baladewa dan Sang Kresna melarang orang minum arak. Legenda mengatakan bahwa serbuk-serbuk tersebut kembali ke pantai, dan dari serbuk tersebut tumbuhlah tanaman seperti rumput namun memiliki daun yang amat tajam bagaikan pedang. Potongan kecil yang sukar dihancurkan akhirnya ditelan oleh seekor ikan. Ikan tersebut ditangkap oleh nelayan lalu dijual kepada seorang pemburu. Pemburu yang membeli ikan itu menemukan potongan besi kecil dari dalam perut ikan yang dibelinya. Potongan besi itu lalu ditempa menjadi anak panah.

    Musnahnya Wangsa Wresni, Andhaka, dan Yadawa
    Perkelahian antara Wangsa Wresni, Andhaka, dan Yadawa di Prabhasatirtha.
    Setelah senjata yang dilahirkan oleh Sang Samba dihancurkan, datanglah Batara Kala, Dewa Maut, dan ini adalah pertanda buruk. Atas saran Kresna, para Wresni, Yadawa dan Andhaka melakukan perjalanan suci menuju Prabhastirtha, dan mereka melangsungkan upacara di pinggir pantai. Di pantai, para Wresni, Andhaka dan Yadawa tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruk mereka, yaitu minum arak sampai mabuk. Dalam keadaan mabuk, Satyaki berkata, "Kertawarma, kesatria macam apa kau ini? Dalam Bharatayuddha dahulu, engkau telah membunuh para putera Dropadi, termasuk Drestadyumna dan Srikandi dalam keadaan tidur. Perbuatan macam apa yang kau lakukan?". Ucapan tersebut disambut oleh tepuk tangan dari Pradyumna, yang artinya bahwa ia mendukung pendapat Satyaki. Kertawarma marah dan berkata, "Kau juga kejam, membunuh Burisrawa yang tak bersenjata, yang sedang meninggalkan medan laga untuk memulihkan tenaga".

    Setelah saling melontarkan ejekan, mereka bertengkar ramai. Satyaki mengambil pedang lalu memenggal kepala Kertawarma di hadapan Kresna. Melihat hal itu, para Wresni marah lalu menyerang Satyaki. Putera Rukmini menjadi garang, kemudian membantu Satyaki. Setelah beberapa lama, kedua kesatria perkasa tersebut tewas di hadapan Kresna. Kemudian setiap orang berkelahi satu sama lain, dengan menggunakan apapun sebagai senjata, termasuk tanaman eruka yang tumbuh di sekitar tempat tersebut. Ketika dicabut, daun tanaman tersebut berubah menjadi senjata setajam pedang. Dengan memakai senjata tersebut, para keturunan Wresni, Andhaka, dan Yadu saling membunuh sesama. Tidak peduli kawan atau lawan, bahkan ayah dan anak saling bunuh. Anehnya, tak seorang pun yang berniat untuk meninggalkan tempat itu. Dengan mata kepalanya sendiri, Kresna menyadari bahwa rakyatnya digerakkan oleh takdir kehancuran mereka. Dengan menahan kepedihan, ia mencabut segenggam rumput eruka dan mengubahnya menjadi senjata yang dapat meledak kapan saja. Setelah putera dan kerabat-kerabatnya tewas, ia melemparkan senjata di tangannya ke arah para Wresni dan Yadawa yang sedang berkelahi. Senjata tersebut meledak dan mengakhiri riwayat mereka semua.
    Akhirnya para keturunan Wresni, Andhaka dan Yadu tewas semua di Prabhasatirtha, dan disaksikan oleh Kresna. Hanya para wanita dan beberapa kesatria yang masih hidup, seperti misalnya Babhru dan Bajra. Kresna tahu bahwa ia mampu menyingkirkan kutukan brahmana yang mengakibatkan bangsanya hancur, namun ia tidak mau mengubah kutukan Gandari dan jalannya takdir. Setelah menyaksikan kehancuran bangsa Wresni, Yadawa, dan Andhaka dengan mata kepalanya sendiri, Kresna menyusul Baladewa yang sedang bertapa di dalam hutan. Babhru disuruh untuk melindungi para wanita yang masih hidup sedangkan Daruka disuruh untuk memberitahu berita kehancuran rakyat Kresna ke hadapan Raja Yudistira di Hastinapura.
    Di dalam hutan, Baladewa meninggal dunia. Kemudian keluar naga dari mulutnya dan naga ini masuk ke laut untuk bergabung dengan naga-naga lainnya. Setelah menyaksikan kepergian kakaknya, Kresna mengenang segala peristiwa yang menimpa bangsanya. Pada saat ia berbaring di bawah pohon, seorang pemburu bernama Jara (secara tidak sengaja) membunuhnya dengan anak panah dari sepotong besi yang berasal dari senjata mosala yang telah dihancurkan. Ketika sadar bahwa yang ia panah bukanlah seekor rusa, Jara meminta ma'af kepada Kresna. Kresna tersenyum dan berkata, "Apapun yang akan terjadi sudah terjadi. Aku sudah menyelesaikan hidupku". Sebelum Kresna wafat, teman Kresna yang bernama Daruka diutus untuk pergi ke Hastinapura, untuk memberi tahu para keturunan Kuru bahwa Wangsa Wresni, Andhaka, dan Yadawa telah hancur. Setelah Kresna wafat, Dwaraka mulai ditinggalkan penduduknya.

    Hancurnya Kerajaan Dwaraka
    Ketika Daruka tiba di Hastinapura, ia segera memberitahu para keturunan Kuru bahwa keturunan Yadu di Kerajaan Dwaraka telah binasa karena perang saudara. Beberapa di antaranya masih bertahan hidup bersama sejumlah wanita. Setelah mendengar kabar sedih tersebut, Arjuna mohon pamit demi menjenguk paman dari pihak ibunya, yaitu Basudewa. Dengan diantar oleh Daruka, ia pergi menuju Dwaraka.
    Setibanya di Dwaraka, Arjuna mengamati bahwa kota tersebut telah sepi. Ia juga berjumpa dengan janda-janda yang ditinggalkan oleh para suaminya, yang meratap dan memohon agar Arjuna melindungi mereka. Kemudian Arjuna bertemu dengan Basudewa yang sedang lunglai. Setelah menceritakan kesdiahnnya kepada Arjuna, Basudewa mangkat. Sesuai dengan amanat yang diberikan kepadanya, Arjuna mengajak para wanita dan beberapa kesatria untuk mengungsi ke Kurukshetra. Sebab menurut pesan terakhir dari Sri Kresna, kota Dwaraka akan disapu oleh gelombang samudra, tujuh hari setelah ia wafat.
    Dalam perjalanan menuju Kurukshetra, rombongan Arjuna dihadang oleh sekawanan perampok. Anehnya, kekuatan Arjuna seoleh-oleh lenyap ketika berhadapan dengan perampok tersebut. Ia sadar bahwa takdir kemusnahan sedang bergerak. Akhirnya beberapa orang berhasil diselamatkan namun banyak harta dan wanita yang hilang. Di Kurukshetra, para Yadawa dipimpin oleh Bajra.
    Setelah menyesali peristiwa yang menimpa dirinya, Arjuna menemui kakeknya, yaitu Resi Byasa. Atas nasihat beliau, para Pandawa serta Dropadi memutuskan untuk melakukan perjelanan suci untuk meninggalkan kehidupan duniawi.

    sumber:Wikipedia Indonesia

    Galih Sekar Ananti
    2102408004

    BalasHapus
  19. Nama :Wira Arum S.
    NIM :2102408003
    Rombel :01

    Kakawin Gathotkacâsraya dipunwiwiti déning satunggaling manggala ingkang katur kagem dèwa Késawa saha prabu Jayakreta ingkang kaanggep titisanipun bathara Wisnu.

    Lajeng kakawin puniki anyariyosaken[1] nalika para Pandhawa nglampahi padhendhan ukuman bucalan 12 taun. Kala semanten sang Abimayu tinitipaken wonten ing Dwarawati. Piyambakipun saged ngèngèr saha bekti sanget dhateng ing uwanipun, prabu Kresna. Sang prabu inggih tresna marang piyambakipun.

    Malah saupami sang Abimanyu dhaupa kaliyan déwi Siti Sundari, prabu Kresna inggih rena kémawon. Ananging déwi Siti Sundari sampun kelajeng kapacangaken kaliyan radèn Laksana-Kumara, putra ing Ngastina. Déné sang Abimanyu pancèn inggih mempeng dhateng sang Siti Sundari, sarta kanggé nyamur gandrung, remenanipun mlampah-mlampah wonten ing wana.

    Satunggaling dinten déwi Siti Sundari inggih kagungan kepéngin tindak dhateng wana, kaparingan lilah ingkang rama, lajeng mangkat kaliyan para pandhèrèk èstri. Prabu Kresna piyambak ugi lajeng tedhak lalana dhateng wana.

    Kapinujon salebetipun medal mlampah-mlampah dhateng wana punika sang radèn Abimanyu kepethuk dèwi Siti Sundari ngantos kaping kalih; temtu kémawon bilih ingkang makaten wau andadosaken sampyengipun dèwi Siti Sundari kaliyan radèn Abimanyu.

    Sareng sampun wangsul wonten ing kadhaton, dèwi Siti Sundari kintun serat dhateng sang Abimanyu, pratéla mboten seneng yèn kadhaupna kaliyan sang Laksana-Kumara; serat wau dipun-kanthèni gantèn saha borèh. Radèn Abimanyu lajeng pados akal supados saged papanggihan radi dangu kaliyan sang putri. Sang Abimanyu samadi, kerawuhan bathara Kamajaya sagarwa, maringi sekar, ingkang saged ngreksa kawilujenganipun radèn Abimanyu ing salebeting pepanggihan. Nalika sang hyang Kamajaya badhé muksa malih, punika sang Abimanyu cèwèt mboten ngaturi bekti dhateng dèwi Ratih. Sang dèwi duka, radèn Abimanyu dipun-sapatani, nyuwun ngapunten, inggih lajeng dipunparingi.

    Radèn Abimanyu ing sasampunipun punika saged lumebet ing patamanan kadhaton, kepanggih kaliyan dèwi Siti Sundari. Nanging jebul konangan. Sang Baladéwa mireng duka sanget, radèn Abimanyu dipuntundhung. Lajeng piyambakipun késah kadhèrèkaken pun Jurudyah. Wonten ing satunggaling candhi Siwah sang radèn nyipeng, wasana kedhatengan raksasa kalih. Sang radèn dipun-cepeng badhé dipunaturaken minangka dhaharipun bathari Durga. Danawa kalih kabur ambekta sang radèn saha pun Jurudyah. Dumugi ngarsanipun bathari Durga, sang radèn badhé dipundhahar, nanging mboten saèstu, amergi sang radèn ketingal bekti sanget. Wasana radèn Abimanyu kadhawuhan dhateng ing karaton Purabaya, kadhatonipun radèn Gathotkaca. Sarèhné tebih, sang radèn kaliyan Jurudyah dipun-gendhong danawa kalih wau, kabekta mabur. Dumugi ing Purabaya, sang radèn dipunsèlèhaken wonten ing patamanan. Wonten ing ngriku sang radèn kepanggih kaliyan danawa, juru tamanipun sang Gathotkaca. Danawa nesu, nanging lajeng lilih manahipun, awit dipunpratélani, bilih sang Abimanyu mboten badhé ndamel resah, namung badhé sowan dhateng radèn Gathotkaca, pun Jurudyah ingkang nggelaraken saprelunipun. Sang Gathotkaca sagad badhé mitulungi supados kedumugen karsanipun radèn Abimanyu.

    Sareng sampun mèh tempuking damel, para Korawa ngarak pangantèn dhateng Dwrawati. Sang Siti Sundari sampun bingung, mèh badhé suduk slira, nanging angsal wisiking déwa, yèn badhé saèstu dhaup kaliyan radèn Abimanyu.

    Radèn Gathotkaca saha bala mangkat dhateng Dwarawati, lereb wonten wana sacelaking nagari. Radèn kalih sang Gathotkaca saha sang Abimanyu nitih kréta mabur njujug ing patamanan, kepanggih dèwi Siti Sundari. Ing jawi para tamu sampun sami suka-suka pésta. Sang dèwi kaliyan radèn Abimanyu kadhawuhan nitih kréta mabur, oncat saking kadhaton. Sang Gathotkaca mboten késah saking patamanan, badhé mejahi sang Laksana menawi dhateng. Saoncatipun dèwi Siti Sundari kaliyan radèn Abimanyu, radèn Gathotkaca mindha-mindha sang Siti Sundari.

    Raksasa anama Bajradanta, anakipun raksasa Baka, ingkang dipunpejahi déning sang Bima, badhé males ukum. Akalipun sang Gathotkaca dipunwadulaken dhateng sang Kurupati. Sang Bajradanta lajeng nyuwun lilah mindha-mindha sang Laksana Kumara. Pangantèn jaler palsu dipunarak dhateng panggènaning pangantèn èstri. Sareng panggih lajeng rangkulan, gapyuk; pangantèn jaler ngangkah pejahipun pangantèn èstri, ingkang èstri samanten ugi, nanging menang pangantèn èstri ingkang lajeng badhar dados radèn Gathotkaca, mabur. Para Korawa sami lumajeng.

    Prabu Kurupati angempalaken bala lajeng perang kabantu déning prabu Baladéwa, mengsah santana ing Dwarawati, kabantu radèn Gathotkaca. Sareng para Korawa ketingal keseser, prabu Baladéwa triwikrama nenggalanipun dipunobat-abitaken medal sawarnining danawa, détya, raksasa, sapanunggilanipun.

    Ing nalika punika bagawan Narada tumedhak dhateng dunungipun prabu Kresna, taksih wonten ing wana, dipundhawuhi kondur. Prabu Kresna lajeng ngrerapu ingkang raka. Sasampunipun lilih lajeng mboten wonten prakawis, tur sang Abimanyu saèstu dhaup kaiyan dèwi Siti Sundari.

    Lajeng kakawin puniki tinutup déning satunggaling panutup.

    Sumber :Wikipedia Indonesia

    BalasHapus
  20. Dian Puspita Sari2 April 2009 05.08

    Nama: Dian Puspita Sari
    NIM : 2102408122

    Smaradahana
    Kakawin Smaradahana

    Ikhtisar
    Ketika Batara Siwa pergi bertapa, dalam inderanya didatangi musuh ,raksasa dengan rajanya bernama Nilarudraka, demikian heningnya dalam tapa, batara Siwa seolah-olah lupa akan kehidupannya di Khayangan. Supaya mengingatkan batara Siwa dan juga agar mau kembali ke Khayangan ,maka oleh para dewa diutuslah batara Kamajaya untuk menjemputnya. Berangkatlah sang batara untuk mengingatkan batara Siwa, dicobanya dengan berbagai panah sakti dan termasuk panah bunga, tetapi batara Siwa tidak bergeming dalam tapanya. Akhirnya dilepaskannya panah pancawisesa yaitu :
    hasrat mendengar yang merdu
    hasrat mengenyam yang lezat
    hasrat meraba yang halus
    hasrat mencium yang harum
    hasrat memandang yang serba indah
    Akibat panah pancawisesa tersebut batara Siwa dalam sekejap rindu kepada permaisurinya dewi Uma, tetapi setelah diketahuinya bahwa hal tersebut atas perbuatan batara Kamajaya. Maka ditataplah batara Kamajaya melalui mata ketiganya yang berada ditengah-tengah dahi, hancurlah batara Kamajaya. Dewi Ratih istri batara Kamajaya melakukan "bela" dengan menceburkan diri kedalam api yang membakar suaminya. Para dewa memohonkan ampun atas kejadian tersebut, agar dihidupkan kembali ,permohonan itu tidak dikabulkan bahkan dalam sabdanya bahwa jiwa batara Kamajaya turun ke dunia dan masuk kedalam hati laki-laki, sedangkan dewi Ratih masuk kedalam jiwa wanita. Ketika Siwa duduk berdua dengan dewi Uma, datanglah para dewa mengunjunginya termasuk dewa Indera dengan gajahnya yang demikian dahsyatnya sehingga dewi Uma terperanjat dan ketakutan melihatnya, kemudian dewi Uma melahirkan putera berkepala gajah, dan kemudian diberi nama Ganesha. Datanglah raksasa Nilarudraka yang melangsungkan niatnya "menggedor" khayangan. Maka Ganesha lah yang harus menghadapinya, dalam perang tanding tersebut ganesha setiap saat berubah dan bertambah besar dan semakin dahsyat. Akhirnya musuh dapat dikalahkan, dan para dewa bersuka cita.
    Raja Kediri
    Dalam kitab Smaradahana, disebut-sebut nama Raja Kediri Prabu Kameswara yang merupakan titisan Dewa Wisnu yang ketiga kalinya dan berpermaisuri Sri Kirana Ratu putri dari kerajaan Jenggala

    Analisis Para Ahli
    Dalam prasasti batu, memang tertulis raja Kediri Kameswara bertahta selama tahun 1115 sampai dengan 1130, dan kemudian ada pula Raja Kameswara II yang bertahta pada sekitar tahun 1185. Para ahli Belanda memperkirakan bahwa Kameswara II itu yang mempunyai hubungan dengan kitab Smaradahana. Akan tetapi Prof. Purbatjaraka sebaliknya menunjuk Kameswara I yang terkait, sebab raja tersebut dalam kitab Panji bernama Hinu Kertapati dan juga permaisurinya bernama Kirana , yaitu Dewi Candrakirana, hanya posisi Jenggala dan Kedirinya yang terbalik.

    BalasHapus
  21. NANA :Galih Sekar Ananti
    NIM :2102408004
    Rombel :1



    KAKAWIN

    Kakawin iku sawijining wujud tembang ing basa Jawa Kuna sing nganggo pupuh sing asalé saka Indhia lan kasebut sekar ageng utawa tembang gedhé.

    Sawijining kakawin mawi tembang tartamtu biasané tumata ing minimal sa-pada. Kabeh pada kakawin nduwèni patang baris nganggo wilangan wanda sing padha. Banjur sa-padha disusun karo apa sing diarani guru laghu. Guru laghu iku aturan kwantitas sawijining wanda.

    Sa-wanda iku bisa dawa utawa cendhak. Sing dikarepaké wanda dhawa cendhak iku vokal sing dawa utawa cendhak. Vokal dawa iku jinisé ana loro; vokal sing pancèn dhawa lan vokal sing posisiné ana ing ngarepé rong konsonan.

    Conto:

    * rât (donya), vokalé mesthi dawa
    * putra (anak), vokalé dawa amarga dituti karo rong konsonan.

    Conto pupuh

    Dadi contoné pupuh kakawin sing jenengé Śārdūlawikrīḍita iku kawangun saka 19 wanda. Banjur 19 wanda iki guru-laghuné ka ya mengkéné −−−|UU−|U−U|UU−|−−U|−−U| U. Sagaris − tegesé wanda iku kwalitasé dawa, kamangka U tegesé wanda iku cendhak. Banjur | tegesé namung pawates waé saben telung wanda lan ora ana artiné kusus.

    Ing pupuh kakawin, sawijining wanda sing ngamot swara dawa (ā, ī, ū, ö, e, o, ai, lan au) otomatis diarani wanda dawa utawa "guru" (=abot) kamangka sawijining wanda sing ngamot vokal cendhak diarani wanda cendhak utawa "laghu" (=èntèng). Nanging sawijining vokal cendhak yèn ditutaké déning rong konsonan nggawé wanda sing disandhang dadi dawa. Banjur wanda pungkasan dijenengaké sawijining anceps (sawijining istilah basa Latin) sing tegesé yaiku yèn wanda iki bisa dawa utawa cendhak.

    Minangka conto dijupuk tuladha saka pupuh pambuka Kakawin Arjunawiwāha:
    Tèks Jawa Kuna mawa pupuh Śardūlawikrīḍita Jarwa
    Ambĕk sang paramārthapaṇḍita huwus limpad sakêng śūnyatā, Batin sang wruh Hakikat Paling Dhuwur wis nglimpadi kabèh amarga nekuni kasunyatan[1],
    Tan sangkêng wiṣaya prayojñananira lwir sanggrahêng lokika, Ora amerga kasurung déning nepsu indriya tujuané, lir nyambut sing fana waé,
    Siddhāning yaśawīrya donira sukhāning rāt kininkinira, Sidaning yasa lan kabajikan tujuané. Kabagyan ngalam donya diprihatinaké.
    santoṣâhĕlĕtan kĕlir sira sakêng sang hyang Jagatkāraṇa. Damé bagya, nalika kasekat kelir dhèwèké saka sang Murbêng Jagad.

    Dadi larik kapisan Arjunawiwāha iki wrangkané kaya mengkéné:

    −−−|UU−|U−U|UU−|−−U|−−U| U
    Ambĕk sang | paramār|thapaṇḍi|ta huwus |limpad sa|kêng śūnya|tā

    Sawijining tèks kakawin biasané kabentuk saka pupuh sing béda-béda. Kakawin Arjunawiwāha sing didadèkaké tuladha iki, nduwé 35 pupuh sing séjé-séjé.

    Wateking pupuh kakawin
    Béda karo pupuh macapat, kakawin pupuhé ora ana wateké.

    sumber :Wikipedia,ensiklopedi bebas ing basa jawa

    BalasHapus
  22. INDAH FEBRIANA K2 April 2009 06.00

    NAMA : INDAH FEBRIANA K
    NIM : 2101408106

    LUBDAKA
    Lubdaka adalah seorang kepala keluarga hidup di suatu desa menghidupi keluarganya dengan berburu binatang di hutan. Hasil buruannya sebagian ditukar dengan barang-barang kebutuhan keluarga, sebagian lagi dimakan untuk menghidupi keluarganya. Dia sangat rajin bekerja, dia juga cukup ahli sehingga tidak heran bila dia selalu pulang membawa banyak hasil buruan.
    Hari itu Lubdaka berburu sebagaimana biasanya, dia terus memasuki hutan, aneh pikirnya kenapa hari ini tak satupun binatang buruan yang muncul, dia semua peralatan berburu digotongnya tanpa kenal lelah, dia tidak menyerah terus memasuki hutan. Kalo sampe aku pulang gak membawa hasil buruan nanti apa yang akan dimakan oleh keluargaku..?, semangatnya semakin tinggi, langkahnya semakin cepat, matanya terus awas mencari-cari binatang buruan, namun hingga menjelang malam belum juga menemukan apa yang ia harapkan, hari telah terlalu gelap untuk melanjutkan kembali perburuannya, dan sudah cukup larut jika hendak kembali ke pernaungan.
    Ia memutuskan untuk tinggal di hutan, namun mencari tempat yang aman terlindungi dari ancaman bahaya, beberapa hewan buas terkenal berkeliaran di dalam gelapnya malam guna menemukan mangsa yang lelap dan lemah. Sebagai seorang pemburu tentu dia tahu betul dengan situasi ini. Tak perlu lama baginya guna menemukan tempat yang sesuai, sebuah pohon yang cukup tua dan tampak kokoh di pinggir sebuah telaga mata air yang tenang segera menjadi pilihannya.
    Dengan cekatan dari sisa tenaga yang masih ada, ia memanjat batang pohon itu, melihat sekeliling sekejap, ia pun melihat sebuah dahan yang rasanya cukup kuat menahan beratnya, sebuah dahan yang menjorok ke arah tengah mata air, di mana tak satu pun hewan buas kiranya akan bisa menerkamnya dari bawah, sebuah dahan yang cukup rimbun, sehingga ia dapat bersembunyi dengan baik. Singkat kata, ia pun merebahkan dirinya, tersembunyikan dengan rapi di antara rerimbunan yang gulita.
    Ia merasa cukup aman dan yakin akan perlindungan yang diberikan oleh tempat yang telah dipilihnya. Sesaat kemudian keraguan muncul dalam dirinya. Kalo sampe dia tertidur dan jatuh tentu binatang buas seperti macan, singa, dll akan dengan senang hati memangsanya.
    Ia resah dan gundah, badannya pun tak bisa tenang, setidaknya ia harapkan badannya bisa lebih diam dari pikirannya, itulah yang terbaik bagi orang yang dalam persembunyian. Namun nyatanya, badan ini bergerak tak menentu, sedikit geseran, terkadang hentakan kecil, atau sedesah napas panjang. Tak sengaja ia mematahkan beberapa helai daun dari bantalannya yang rapuh, entah kenapa Lubdaka tiba-tiba memandangi daun-daun yang terjatuh ke mata air itu. Riak-riak mungil tercipta ketika helaian daun itu menyentuh ketenangan yang terdiam sebelumnya. Ia memperhatikan riak-riak itu, namun ia tak dapat memikirkan apapun. Beberapa saat kemudian, riak-riak menghilang dan hanya menyisakan bayang gelombang yang semakin tersamarkan ketika masuk ke dalam kegelapan. Ia memetik sehelai daun lagi dan menjatuhkannya, kembali ia menatap, dan entah kenapa ia begitu ingin menatap. Ia memperhatikan dirinya, bahwa ia mungkin bisa tetap terjaga sepanjang malam, jika ia setiap kali menjatuhkan sehelai daun, dan mungkin ia bisa menyingkirkan ketakutannya, setidaknya karena ia akan tetap terjaga, itulah yang terpenting saat ini.
    Lubdaka - si pemburu, kini menjadi pemetik daun, guna menyelamatkan hidupnya. Ia memperhatikan setiap kali riak gelombang terbentuk di permukaan air akan selalu riak balik, mereka saling berbenturan, kemudian menghilang kembali. Hal yang sama berulang, ketika setiap kali daun dijatuhkan ke atas permukaan air, sebelumnya ia melihat itu sepintas lalu setiap kali ia berburu, baru kali ia mengamati dengan begitu dekat dan penuh perhatian, bahwa gerak ini, gerak alam ini, begitu alaminya. Sebelumnya, ia mengenang kembali, ketika ia berburu, yang selalu ia lihat adalah si mangsa, dan mungkin si mara bahaya, namun tak sekalipun ia sempat memperhatikan hal-hal sederhana yang ia lalui ketika ia berburu. Lubdaka hanya ingat, bahwa di rumahnya, ada keluarga yang bergantung pada buruannya, dan ia hanya bisa berburu, itulah kehidupannya, itulah keberadaannya.
    Ia terlalu sibuk dalam rutinitas itu, ya… sesaat ia menyadari bahwa hidup ini seakan berlalu begitu saja, ia bahkan tak sempat berkenalan dengan sang kehidupan, karena ia selalu sbuk lari dari si kematian, ia berpikir apakah si kematian akan datang ketika si kelaparan menyambanginya, ataukah si kematian akan berkunjung ketika si mara bahaya menyalaminya ketika ia lalai. Semua yang ia lakukan hanyalah sebuah upaya bertahan hidup. Ia tak tahu apapun selain itu, mungkin ia mengenal mengenal kode etik sebagai seorang pemburu, dan aturan moralitas atau agama, namun semua itu hanya sebatas pengetahuan, di dalamnya ia melihat, bahwa dirinya ternyata begitu kosong dan dangkal. Keberadaannya selama ini, adalah identitasnya sebagai seorang pemburu, ia tak mengenal yang lainnya.
    Sesekali ia memetik helai demi helai, dan menatap dengan penuh, kenapa ia tak menyadari hal ini sebelumnya, ia bertanya pada dirinya, ia melihat kesibukan dan rutinitasnya telah terlalu menyita perhatiannya. Dalam kehinangan malam, dan sesekali riak air, ia bisa mendengar sayup-sayup suara malam yang terhantarkan bagai salam oleh sang angin, ia pun terhenyak, sekali lagi, ia tak pernah mendengarkan suara malam seperti saat ini, biasanya ia telah terlelap setelah membenahi daging buruannya dan santap malam sebagaimana biasanya.
    Terdengar lolongan srigala yang kelaparan tak jauh dari tempatnya berada, secara tiba-tiba ia mengurungkan niatnya memetik daun. Jantungnya mulai berdegup kencang, Lubdaka tahu, pikirannya berkata bahwa jika ia membuat sedikit saja suara, si pemilik lolongan itu bisa saja menghampirinya, dan bisa jadi ia akan mengajak serta keluarga serta kawan-kawannya untuk menunggu mangsa lesat di bawah pohon, walau hingga surya muncul kembali di ufuk Timur. Ia berusaha memelankan napasnya, dan menjernihkan pikirannya. Walau ia dapat memelankan napasnya, namun pikirannya telah melompat ke beberapa skenario kemungkinan kematiannya dan bagaimana sebaiknya lolos dari semua kemungkinan itu. Beberapa saat kemudian, ketenangan malam mulai dapat kembali padanya. Ia mendengarkan beberapa suara serangga malam, yang tadi tak terdengar, ah… ia ingat, ia terlalu ketakutan sehingga sekali lagi tak memperhatikan. Sebuah helaan napas yang panjang, ia masih hidup, dan memikirkan kembali bagaimana ia berencana untuk lolos dari kematian yang terjadi, ia pun tersenyum sendiri, ia cukup aman di sini. Namun Lubdaka melihat mulai melihat sesuatu dalam dirinya, yang dulu ia pandang sambil lalu, sesuatu yang yang ia sebut ketakutan. Lubdaka menyadari bahwa ia memiliki rasa takut ini di dalam dirinya, sesuatu yang bersembunyi di dalam dirinya, ia mulai melihat bahwa ia takut terjatuh dari pohon, ia takut dimangsa hewan buas, bahkan ia takut jika tempat persembunyiannya disadari oleh hewan-hewan yang buas, ia takut tak berjumpa lagi dengan keluarganya. Setidaknya ia tahu saat ini, ia berada di atas sini, karena takut akan tempat yang di bawah sana, tempat di bawah sana mungkin akan memberikan padanya apa yang disebut kematian. Dan ketakutan ini begitu mengganggunya.
    Ia kembali memetik sehelai daun dan menjatuhkannya ke mata air, namun secara tak sadar oleh kegugupannya, ia memetik sehelai daun lagi dengan segera, secepat itu juga ia sadar bahwa tangannya telah memetik sehelai daun terlalu cepat. Ia memandangi helaian daun itu, di sinilah ia melihat sesuatu yang sama dengan apa yang ia takutkan, ia melihat dengan jelas sesuatu pada daun itu, sesuatu yang disebut kematian. Daun yang ia pisahkan dari pohonnya kini mengalami kematian, namun daun itu bukan hewan atau manusia, ia tak bisa bersuara untuk menyampaikan apa yang ia rasakan, ia tak dapat berteriak atau menangis kesakitan, ia hanya … hanya mati, dan itulah apa yang si pemburu lihat ketika itu.
    Selama ini Lubdaka selalu melihat hewan-hewan yang berlari dari kematiannya dan yang menjerit kesakitan ketika kematian yang dihantarkan sang pemburu tiba pada mereka, Lubdaka telah mengenal sisi kematian sebagai suatu yang menyakitkan, dan kengerian yang timbul dari pengalamannya akan saksi kematian, telah menimbulkan ketakutan di dalam dirinya. Ia melihat ia sendiri telah menjadi buruan akan rasa takutnya. Lubdaka telah melihat bentuk kematian di luar sana, termasuk yang kini dalam kepalan tangannya, ia kini masuk ke dalam dirinya, dan ingin melihat kematian di dalam dirinya, namun semua yang ia temukan hanyalah ketakutan akan kematian, ketakutan yang begitu banyak, namun si kematian itu sendiri tak ada, tak nyata kecuali bayangan kematian itu sendiri. Lubdaka pun tersenyum, aku belum bertemu kematian, yang menumpuk di sini hanyalah ketakutan, hal ini begitu menggangguku, aku tak memerlukan semua ini. Lubdaka melihat dengan nyata bahwa ketakutannya sia-sia, ia pun membuang semua itu, kini ia telah membebaskan dirnya dari ketakutan. Ia pun melepas tangkai daun yang mati itu dari genggamanannya, dan jatuh dengan begitu indah di atas permukaan air. Diapun tidak menyadari bahwa malam itu adalah malam Siva (Siva Ratri). Dimana Siva sedang melakukan tapa brata yoga semadi. Barang siapa pada malam itu melakukan brata (mona brata: tidak berbicara, jagra: Tidak Tidur, upavasa: Tidak makan dan minum) maka mereka akan dibebaskan dari ikatan karma oleh Siva.
    Ufuk Timur mulai menunjukkan pijar kemerahan, Lubdaka memandangnya dari celah-celah dedaunan hutan, dalam semalam ia telah melihat begitu banyak hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kini ia telah berkenalan dengan kehidupan dan melepas ketakutan-ketakutannya, ia telah mulai mengenal semua itu dengan mengenal dirinya.
    Lubdaka begitu senang ia dapat tetap terjaga walau dengan semua yang ia alami dengan kekalutan dan ketakutan, kini sesuatu yang lama telah padam dalam dirinya, keberadaannya begitu ringan, tak banyak kata yang dapat melukiskan apa yang ia rasakan, begitu hening, sehingga ia bisa merasakan setiap gerak alami kehidupan yang indah ini, setiap tiupan yang dibuat oleh angin, dan setiap terpaan sinar yang menyentuhnya. Kini sang pemburu memulai perjalanannya yang baru bersama kehidupan.
    Dia menyadari bahwa berburu bukanlah satu-satunya pilihan untuk menghidupi keluarganya. Setelah dia melewati perenungan di malam tersebut, kesadaran muncul dalam dirinya untuk merubah jalan hidupnya. Dia mulai bercocok tanam, bertani hingga ajal datang menjemputnya.
    Saat dia meninggal, Atmanya (Rohnya) menuju sunia loka, bala tentara Sang Suratma (Malaikat yang bertugas menjaga kahyangan) telah datang menjemputnya. Mereka telah menyiapkan catatan hidup dari Lubdaka yang penuh dengan kegiatan Himsa Karma (memati-mati). Namun pada saat yang sama pengikut Siva pun datang menjemput Atma Lubdaka. Mereka menyiapkan kereta emas. Lubdaka menjadi rebutan dari kedua balatentara baik pengikut Sang Suratma maupun pengikut Siva. Ketegangan mulai muncul, semuanya memberikan argumennya masing-masing. Mereka patuh pada perintah atasannya untuk menjemput Atma Sang Lubdaka.
    Saat ketegangan memuncak Datanglah Sang Suratma dan Siva. Keduanya kemudian bertatap muka dan berdiskusi. Sang Suratma menunjukkan catatan hidup dari Lubdaka, Lubdaka telah melakukan banyak sekali pembunuhan, sudah ratusan bahkan mungkin ribuan binatang yang telah dibunuhnya, sehingga sudah sepatutnya kalo dia harus dijebloskan ke negara loka.
    Siva menjelaskan bahwa; Lubdaka memang betul selama hidupnya banyak melakukan kegiatan pembunuhan, tapi semua itu karena didasari oleh keinginan/niat untuk menghidupi keluarganya. Dan dia telah melakukan tapa brata (mona brata, jagra dan upavasa/puasa) salam Siva Ratri/Malam Siva, sehingga dia dibebaskan dari ikatan karma sebelumnya. Dan sejak malam itu Dia sang Lubdaka menempuh jalan hidup baru sebagai seorang petani. Oleh karena itu Sang Lubdaka sudah sepatutnya menuju Suarga Loka (Sorga). Akhirnya Sang Suratma melepaskan Atma Lubdaka dan menyerahkannya pada Siva. (Kisah ini adalah merupakan Karya Mpu Tanakung, yang sering digunakan sebagai dasar pelaksanaan Malam Siva Ratri).
    Di malam Siva Ratri ada tiga brata yang harus dilakukan:
    1. Mona: Tidak Berbicara
    2. Jagra: Tidak Tidur
    3. Upavasa: Tidak Makan dan Minum
    Siva Ratri datang setahun sekali setiap purwani Tilem ke-7 (bulan ke-7) tahun Caka.
    Kami mohon maaf bila ada kekurangan, kesalahan dalam penyampaian kisah ini, yang merupakan karya besar leluhur kami yang maha suci Mpu Tanakung. Sembah sujud kami pada Beliau, atas karya sucinya yang telah memberikan penerangan kepada kami.

    BalasHapus
  23. Nama : Susi Kristantri
    NIM : 2101408118

    Babad Giyanti (aksara Jawa: ) adalah sebuah syair dalam bentuk tembang macapat yang dikarang oleh Yasadipura tentang sejarah pembagian Jawa pada 13 Februari 1755. Sesudah keraton dipindahkan ke Surakarta dari Kartasura karena dibakar oleh orang Tionghoa, maka Pangeran Mangkubumi pun keluar dari keraton dan marah sampai memberontak. Sebab tanah bengkoknya dikurangi banyak sekali. Maka berperanglah beliau melawan keraton Surakarta. Selama peperangan ini beliau dibantu oleh banyak pangeran dan bangsawan lainnya, antara lain Pangeran Samber-Nyawa (Mangkunegara I). Lalu Pangeran Samber Nyawa dibuat panglima perang.
    Dalam peperangan ini, Pangeran Mangkubumi menaklukkan daerah-daerah di sebelah barat Surakarta, di daerah Mataram. Selanjutnya Pangeran Samber Nyawa malahan bentrok dengan Pangeran Mangkubumi. Akhirnya orang kompeni menengahi, Pangeran Mangkubumi boleh menjadi raja sendiri; sultan Hamengkubuwana I di kota baru yang dinamakan Yogyakarta dan Pangeran Samber Nyawa tetap tinggal di Surakarta dan menjadi Pangeran Mangkunegara I. Perang ini selesai pada masa pemerintahan susuhunan Pakubuwana III.

    Naskah Perjanjian Giyanti 1755
    Karya sastra ini memuat visi Yasadipura dari peristiwa di atas ini. Secara umum karya sastra ini dianggap indah dan mendapatkan kritik yang baik oleh para pakar kesustraan Jawa.
    1. Masa penulisan

    Peta pembagian Mataram setelah Perjanjian Giyanti dan didirikannya Mangkunagaran pada tahun 1757
    Masa penulisan Babad Giyanti tidak diketahui secara pasti. Namun diperkirakan karya sastra ini digubah antara tahun 1757 dan 1803. Tahun 1757 adalah tahun terakhir yang ditulis kejadian-kejadian peristiwanya di karya sastra ini. Sementara tahun 1803 merupakan tahun meninggalnya Yasadipura senior.
    Tapi perlu dikemukakan di sini pula bahwa tidaklah pasti oleh Yasadipura yang mana karya sastra ini dikarang. Sebab Yasadipura senior menurunkan Yasadipura junior yang juga merupakan seorang sastrawan ternama. Yasadipura junior adalah kakek Ranggawarsita. Oleh para pakar sastra Jawa, Babad Giyanti biasanya dianggap dikarang oleh Yasadipura senior.
    2. Ringkasan

    Halaman pertama suntingan teks Babad Giyanti keluaran tahun 1885
    Babad Giyanti membahas peristiwa-peristiwa politik yang terjadi di pulau Jawa antara tahun 1741 dan 1757. Peristiwa-peristiwa ini ditulis menurut sudut pandang atau opini Yasadipura.
    Tahun 1746 merupakan sebuah lembaran hitam dalam sejarah Jawa. Sampai tahun 1746 wilayah Kasunanan Mataram mencakup seluruh bagian Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada tahun tersebut Mataram secara sekaligus kehilangan seluruh pesisir utara, dan bahkan di antara Pasuruan dan Banyuwangi semuanya hilang. Pada waktu yang sama muncul perang baru lagi di mana Mataram kehilangan separuh daerah yang masih ada. Lalu ketika perjanjian perdamaian ditanda tangani sembilan tahun kemudian, pada tahun 1755, paling tidak separuh penduduk Jawa tewas.
    Alasan langsung bencana-bencana ini ialah kunjungan audiensi kepada Susuhunan yang dilakukan oleh Gubernur-Jenderal Van Imhoff pada tahun 1746. Beberapa tahun sebelumnya pesisir utara dan Jawa bagian timur dijanjikan kepada VOC, karena VOC telah membantu Sunan menumpas pemberontakan. Sekarang ini Van Imhoff menuntut janji sang Sunan. Sunan Pakubuwana II yang kala itu menjabat memang pernah menjanjikan daerah-daerah ini ketika ia sedang terjepit. Kala itu beliau harus melarikan diri dari keraton sementara dikawal oleh para serdadu VOC.
    Sunan Pakubuwana II memang tidak banyak mengenal damai dalam masa pemerintahannnya (1726-1749). Warga Tionghoa yang memberontak dan mengacau, karena alasan yang sangat berbeda dan sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Sunan yaitu karena ada pembantaian warga Tionghoa di Batavia pada tahun 1740, dan sebuah pemberontakan di Madura yang menjalar ke Jawa Timur. Selain itu di ibu kota sendiri, banyak pangeran-pangeran, “warisan” ayahnya yang memberontak meminta kekuasaan serta intrik-intrik keraton. Salah seorang pangeran yang banyak menganggu sunan Pakubuwana II adalah adiknya sendiri, pangeran Mangkunagara. Untungnya Pakubuwana II bisa membuangnya ke Sri Lanka berkat bantuan VOC. Namun bagi putranya, Raden Mas Said, hal ini menjadikan alasan untuk membangkang dan membalas dendam terhadap pamannya, Sunan Pakubuwana II. Karena Pakubuwana II tidak kuat melawan Raden Mas Said, maka beliau menjanjikan imbalan bagi yang bisa mengusirnya. Seorang adik Pakubuwana II yang lain, pangeran Mangkubumi berhasil mengusir Raden Mas Said. Namun kemudian patih Sunan Pakubuwana II berpendapat bahwa imbalannya terlalu besar, padahal Sunan Pakubuwana II sebenarnya tidak apa-apa.
    Masalah dengan Mangkubumi ini justru terjadi ketika Van Imhoff sedang meminta audiensi di keraton pada tahun 1746. Van Imhoff sebenarnya bersedia untuk membantu Sunan Pakubuwana II, maka beliaupun menegur Mangkubumi mengenai tuntutannya yang keterlaluan di tempat umum. Lalu Sunan Pakubuwana II memotong imbalannya sampai dua pertiga. Mangkubumi kehilangan mukanya dan tidak bisa tetap tinggal di keraton. Beliaupun pergi dan mencari kontak dengan Raden Mas Said, keponakannya yang telah diusirnya. Kehilangan muka Mangkubumi sebenarnya bukan satu-satunya alasan, meski alasan utama, menjauhnya Pakubuwana II dengan Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi sebenarnya juga kurang setuju terhadap keputusan kakaknya menyerahkan daerah pesisir dan akan kompensasi VOC yang telah diberikan untuk pendapatan yang hilang.
    Perang awalnya berlangsung buruk bagi sunan Pakubuwana II dan sekutunya, VOC. Mereka hanya bisa mempertahankan posisi mereka saja. Musuh mereka menyerang di seluruh pulau Jawa. Bahkan kota Surakartapun tidak aman. Mangkubumi menerapkan taktik perang gerilya.
    Sementara ini Mangkubumi tujuannya tidak hanya membalas dendam saja, namun beliaupun ingin menjadi Sunan. Ketika Sunan Pakubuwana II pada saat berlangsungnya perang jatuh sakit dan mangkat pada tahun 1749, maka Mangkubumi memproklamasikan dirinya sebagai Susuhunan yang baru dan mendirikan keraton di Yogyakarta. Karena Surakarta dan VOC tidak mengakuinya, namun menobatkan putra Sunan Pakubuwana II menjadi Sunan Pakubuwana II, maka kala itu terdapat dua Susuhunan di Jawa.
    Kala itu terlihat jelas bahwa kedua kubu tidak ada yang lebih kuat untuk mengalahkan yang lain. Maka kedua kubupun sadar dengan hal ini. Selain itu Gubernur-Jenderal Van Imhoff meninggal pada tahun 1750 dan digantikan oleh Jacob Mossel. Lalu Pangeran Mangkubumi sudah tidak akrab lagi dengan Raden Mas Said sehingga situasipun berubah. Raden Mas Said sendiri memiliki aspirasi untuk menjadi raja. Pada tahun 1754 mulailah rundingan antara Mangkubumi dengan VOC (tanpa melibatkan Raden Mas Said dan Sunan Pakubuwana III). Tawaran Mangkubumi untuk melawan Raden Mas Said, diterima oleh VOC. Imbalannya ialah separuh wilayah kekuasaan Mataram yang masih ada. Tawarannya diterima oleh VOC. Pada tanggal 13 Februari 1755 perjanjian ini ditanda tangani di desa Giyanti, beberapa kilometer di sebelah timur Surakarta. Mangkubumi akhirnya mendapatkan gelar Sultan Hamengkubuwana I. Sunan Pakubuwana III tidak bisa berbuat lain daripada menerima kenyataan. Sementara itu Raden Mas Said dua tahun kemudian pada tahun 1757 memutuskan untuk menghentikan peperangan dengan syarat beliau boleh menjadi raja. Tuntutannya dituluskan dan beliau mendapat wilayah yang diambil dari wilayah Surakarta dan diperbolehkan menyebut dirinya Pangeran Adipati.

    BalasHapus
  24. Nama : Susi Kristantri
    NIM : 2101408118

    Babad Giyanti adalah sebuah syair dalam bentuk tembang macapat yang dikarang oleh Yasadipura tentang sejarah pembagian Jawa pada 13 Februari 1755. Sesudah keraton dipindahkan ke Surakarta dari Kartasura karena dibakar oleh orang Tionghoa, maka Pangeran Mangkubumi pun keluar dari keraton dan marah sampai memberontak. Sebab tanah bengkoknya dikurangi banyak sekali. Maka berperanglah beliau melawan keraton Surakarta. Selama peperangan ini beliau dibantu oleh banyak pangeran dan bangsawan lainnya, antara lain Pangeran Samber-Nyawa (Mangkunegara I). Lalu Pangeran Samber Nyawa dibuat panglima perang.
    Dalam peperangan ini, Pangeran Mangkubumi menaklukkan daerah-daerah di sebelah barat Surakarta, di daerah Mataram. Selanjutnya Pangeran Samber Nyawa malahan bentrok dengan Pangeran Mangkubumi. Akhirnya orang kompeni menengahi, Pangeran Mangkubumi boleh menjadi raja sendiri; sultan Hamengkubuwana I di kota baru yang dinamakan Yogyakarta dan Pangeran Samber Nyawa tetap tinggal di Surakarta dan menjadi Pangeran Mangkunegara I. Perang ini selesai pada masa pemerintahan susuhunan Pakubuwana III.

    Naskah Perjanjian Giyanti 1755
    Karya sastra ini memuat visi Yasadipura dari peristiwa di atas ini. Secara umum karya sastra ini dianggap indah dan mendapatkan kritik yang baik oleh para pakar kesustraan Jawa.
    1. Masa penulisan

    Peta pembagian Mataram setelah Perjanjian Giyanti dan didirikannya Mangkunagaran pada tahun 1757
    Masa penulisan Babad Giyanti tidak diketahui secara pasti. Namun diperkirakan karya sastra ini digubah antara tahun 1757 dan 1803. Tahun 1757 adalah tahun terakhir yang ditulis kejadian-kejadian peristiwanya di karya sastra ini. Sementara tahun 1803 merupakan tahun meninggalnya Yasadipura senior.
    Tapi perlu dikemukakan di sini pula bahwa tidaklah pasti oleh Yasadipura yang mana karya sastra ini dikarang. Sebab Yasadipura senior menurunkan Yasadipura junior yang juga merupakan seorang sastrawan ternama. Yasadipura junior adalah kakek Ranggawarsita. Oleh para pakar sastra Jawa, Babad Giyanti biasanya dianggap dikarang oleh Yasadipura senior.
    2. Ringkasan

    Halaman pertama suntingan teks Babad Giyanti keluaran tahun 1885
    Babad Giyanti membahas peristiwa-peristiwa politik yang terjadi di pulau Jawa antara tahun 1741 dan 1757. Peristiwa-peristiwa ini ditulis menurut sudut pandang atau opini Yasadipura.
    Tahun 1746 merupakan sebuah lembaran hitam dalam sejarah Jawa. Sampai tahun 1746 wilayah Kasunanan Mataram mencakup seluruh bagian Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada tahun tersebut Mataram secara sekaligus kehilangan seluruh pesisir utara, dan bahkan di antara Pasuruan dan Banyuwangi semuanya hilang. Pada waktu yang sama muncul perang baru lagi di mana Mataram kehilangan separuh daerah yang masih ada. Lalu ketika perjanjian perdamaian ditanda tangani sembilan tahun kemudian, pada tahun 1755, paling tidak separuh penduduk Jawa tewas.
    Alasan langsung bencana-bencana ini ialah kunjungan audiensi kepada Susuhunan yang dilakukan oleh Gubernur-Jenderal Van Imhoff pada tahun 1746. Beberapa tahun sebelumnya pesisir utara dan Jawa bagian timur dijanjikan kepada VOC, karena VOC telah membantu Sunan menumpas pemberontakan. Sekarang ini Van Imhoff menuntut janji sang Sunan. Sunan Pakubuwana II yang kala itu menjabat memang pernah menjanjikan daerah-daerah ini ketika ia sedang terjepit. Kala itu beliau harus melarikan diri dari keraton sementara dikawal oleh para serdadu VOC.
    Sunan Pakubuwana II memang tidak banyak mengenal damai dalam masa pemerintahannnya (1726-1749). Warga Tionghoa yang memberontak dan mengacau, karena alasan yang sangat berbeda dan sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Sunan yaitu karena ada pembantaian warga Tionghoa di Batavia pada tahun 1740, dan sebuah pemberontakan di Madura yang menjalar ke Jawa Timur. Selain itu di ibu kota sendiri, banyak pangeran-pangeran, “warisan” ayahnya yang memberontak meminta kekuasaan serta intrik-intrik keraton. Salah seorang pangeran yang banyak menganggu sunan Pakubuwana II adalah adiknya sendiri, pangeran Mangkunagara. Untungnya Pakubuwana II bisa membuangnya ke Sri Lanka berkat bantuan VOC. Namun bagi putranya, Raden Mas Said, hal ini menjadikan alasan untuk membangkang dan membalas dendam terhadap pamannya, Sunan Pakubuwana II. Karena Pakubuwana II tidak kuat melawan Raden Mas Said, maka beliau menjanjikan imbalan bagi yang bisa mengusirnya. Seorang adik Pakubuwana II yang lain, pangeran Mangkubumi berhasil mengusir Raden Mas Said. Namun kemudian patih Sunan Pakubuwana II berpendapat bahwa imbalannya terlalu besar, padahal Sunan Pakubuwana II sebenarnya tidak apa-apa.
    Masalah dengan Mangkubumi ini justru terjadi ketika Van Imhoff sedang meminta audiensi di keraton pada tahun 1746. Van Imhoff sebenarnya bersedia untuk membantu Sunan Pakubuwana II, maka beliaupun menegur Mangkubumi mengenai tuntutannya yang keterlaluan di tempat umum. Lalu Sunan Pakubuwana II memotong imbalannya sampai dua pertiga. Mangkubumi kehilangan mukanya dan tidak bisa tetap tinggal di keraton. Beliaupun pergi dan mencari kontak dengan Raden Mas Said, keponakannya yang telah diusirnya. Kehilangan muka Mangkubumi sebenarnya bukan satu-satunya alasan, meski alasan utama, menjauhnya Pakubuwana II dengan Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi sebenarnya juga kurang setuju terhadap keputusan kakaknya menyerahkan daerah pesisir dan akan kompensasi VOC yang telah diberikan untuk pendapatan yang hilang.
    Perang awalnya berlangsung buruk bagi sunan Pakubuwana II dan sekutunya, VOC. Mereka hanya bisa mempertahankan posisi mereka saja. Musuh mereka menyerang di seluruh pulau Jawa. Bahkan kota Surakartapun tidak aman. Mangkubumi menerapkan taktik perang gerilya.
    Sementara ini Mangkubumi tujuannya tidak hanya membalas dendam saja, namun beliaupun ingin menjadi Sunan. Ketika Sunan Pakubuwana II pada saat berlangsungnya perang jatuh sakit dan mangkat pada tahun 1749, maka Mangkubumi memproklamasikan dirinya sebagai Susuhunan yang baru dan mendirikan keraton di Yogyakarta. Karena Surakarta dan VOC tidak mengakuinya, namun menobatkan putra Sunan Pakubuwana II menjadi Sunan Pakubuwana II, maka kala itu terdapat dua Susuhunan di Jawa.
    Kala itu terlihat jelas bahwa kedua kubu tidak ada yang lebih kuat untuk mengalahkan yang lain. Maka kedua kubupun sadar dengan hal ini. Selain itu Gubernur-Jenderal Van Imhoff meninggal pada tahun 1750 dan digantikan oleh Jacob Mossel. Lalu Pangeran Mangkubumi sudah tidak akrab lagi dengan Raden Mas Said sehingga situasipun berubah. Raden Mas Said sendiri memiliki aspirasi untuk menjadi raja. Pada tahun 1754 mulailah rundingan antara Mangkubumi dengan VOC (tanpa melibatkan Raden Mas Said dan Sunan Pakubuwana III). Tawaran Mangkubumi untuk melawan Raden Mas Said, diterima oleh VOC. Imbalannya ialah separuh wilayah kekuasaan Mataram yang masih ada. Tawarannya diterima oleh VOC. Pada tanggal 13 Februari 1755 perjanjian ini ditanda tangani di desa Giyanti, beberapa kilometer di sebelah timur Surakarta. Mangkubumi akhirnya mendapatkan gelar Sultan Hamengkubuwana I. Sunan Pakubuwana III tidak bisa berbuat lain daripada menerima kenyataan. Sementara itu Raden Mas Said dua tahun kemudian pada tahun 1757 memutuskan untuk menghentikan peperangan dengan syarat beliau boleh menjadi raja. Tuntutannya dituluskan dan beliau mendapat wilayah yang diambil dari wilayah Surakarta dan diperbolehkan menyebut dirinya Pangeran Adipati.

    BalasHapus
  25. Meike Wulandari2 April 2009 06.24

    Meike wulandari
    2102408116
    rombel 4

    PROSA CALON ARANG

    I. Calon Arang membuat tulah di negeri Daha

    1. Adalah pemimpin di Daha. Tentram olehnya memerintah; damai negeri pada pemerintahannya. Maharaja Erlangga gelarnya, sangat baik budi.

    Adalah seorang janda, tinggal di Girah, Calon Arang namanya. Beranak perempuan satu bernama Ratna Manggali, sangat cantik rupanya. Lama tidak ada orang yang melamarnya. Semua orang di Girah, apalagi di Daha, tidak ada orang di daerah pinggiran, tidak ada yang berani melamar anak si janda itu yang bernama Ratna Manggali di Girah. Oleh karena terdengar oleh negeri, bahwa beliau (janda) di Girah itu melakukan yang cemar. Menjauhlah orang-orang melamar Manggali.

    Maka berkata si janda itu: "Aduh, ambillah anakku karena tidak ada orang yang melamar dia, cantiklah rupanya, bagaimana (sampai) tidak ada yang menanyai dia. Marah juga hatiku oleh (hal) itu. Aku akan membaca bukuku; jika aku sudah memegang buku itu, aku akan menghadap Paduka Sri Bhagawati; aku akan meminta anugerah untuk binasanya orang-orang senegeri."

    Setelah dia memegang sastra itu, datanglah dia ke tempat pembakaran mayat, memintalah dia anugerah kepada Bathari Bhagawati, diiringi oleh semua muridnya. Demikianlah nama-nama siswa itu: Weksirsa, Mahasawadana, Lende, Guyang, Larung, Gandi. Mereka itulah yang mengiringi Janda Girah, bersama-sama menarilah di tempat pembakaran mayat. Datanglah Paduka Bhatari Durga bersama semua tentaranya, ikut bersama-sama menari. Memujalah yang bernama Calon Arang kepada Paduka Bhatari Bhagawati, berkatalah Bhatari: "Aduh, engkau Calon Arang, apa maksudmu datang kepadaku, sehingga engkau disertai oleh para muridmu semua untuk menyembahku?"

    2. Berkatalah janda itu menyembah: "Tuan, anakmu ingin meminta binasanya orang seluruh negeri, demikianlah maksudku."

    Menjawablah Bhatari: "Aku memberi, tetapi jangan sampai ke tengah , (supaya) raja besar tidak marah kepadaku."

    Patuhlah janda itu, berpamitan menyembahlah dia kepada Bhatari Bhagawati. Calon Arang diiringi oleh semua muridnya menari di Wawala selama tengah malam. Berbunyilah Kamanak-Kangsi , mereka bersama-sama menari. Setelah selesai menari, pulanglah ke Girah sambil bersorak-sorailah sesampainya di rumah mereka.

    Tidak lama kemudian, tulah menimpa orang-orang seluruh desa (daerah), sehingga banyak yang mati. Berangsur-angsur dimusnahkan. Calon Arang tidak berkata inilah saya.

    Maka tersebutlah Sang Pemimpin Daha, diperhadapkanlah dia di tempat duduk yang tinggi, Sri Maharaja Erlanggha.

    Memberitahukanlah patih, jika rakyatnya banyak yang mati, tulahnya panas-dingin (panas-tis). Menulahi satu hari dua hari kematian. Terlihat menyembah, Janda Girah itu, yang bernama Calon Arang, menari di Wawalu bersama semua muridnya. Banyak orang melihatnya. Demikianlah kata patih itu, semua datang dihadapannya, bersama-sama meninggikan dan mematuhi apa yang dikatakan patih.

    Berkatalah Sang Prabhu: "Hai, pegawaiku, cederai dan bunuhlah Calon Arang olehmu, jangan engkau sendiri, sengkau ditemani pegawai (lain)."

    3. Berpamitanlah pegawai itu menyembah kaki Sang Prabhu: "Mohon ijin hamba untuk membinasakan Janda Girah." Pergilah pegawai itu. Tanpa berkendaraan, segera pergi ke Girah, pegawai itu menuju ke rumah Calon Arang ketika orang sedang tidur; tidak ada orang yang dalam keadaan bangun. Segera pegawai itu mengambil rambut janda itu, menghunus kerisnya ingin memotong si janda; beratlah tangan pegawai itu, terkejut dan bangunlah Calon Arang, keluarlah api dari mata, hidung, mulut dan telinganya, menyala-nyala menghanguskan pegawai itu. Salah satu dari pegawai itu mati. Yang lainnya menjauh cepat meninggalkan pegawai itu. Tanpa berkata-kata jalannya di jalan, segera pergilah ke kerajaan, memberitahukanlah pegawai itu tentang sisa kematian itu: "Tuan, tak berguna pegawai Paduka Sri Parameswara yang satu mati oleh mata Janda Girah itu. Keluar api dari perut, menyala menghanguskan pegawai Paduka Bhatara."

    Berkatalah Sang Prabhu: "Sedih aku jika demikian pemberitahuannya." Seketika itu juga pulanglah Sang Prabhu dari ruang penghadapan (Balairung). Sang Raja tidak berbicara. Berkatalah Janda di Girah. Bertambah besarlah kemarahannya oleh kedatangan pegawai itu, oleh utusan hamba Sang Prabhu. Berkatalah Calon Arang berseru kepada murid-muridnya mengajak datang ke tempat pembakaran mayat; dipegangnyalah lagi sastra (buku) itu. Setelah memegang mantra tersebut, diiringilah oleh para muridnya semua, datanglah di tepi kuburan tempat yang rindang oleh kepuh dililit kegelapan, daunnya rindang mengurai sampai tanah di bawahnya merata. Janda Girah itu duduk diterima oleh para muridnya semua. Memberitahukanlah Lende berkata: "Hai, Sang Janda, apa sebabnya tuan seperti akan memarahi Sang Pembawa Bumi? Jika demikian lebih baik mempunyai maksud kelakuan baik, menyembah kepada Sang Maharesi sebagai penunjuk jalan ke surga."

    Maka berkatalah Larung: "Apa kesedihanmu kepada duka Sang Prabhu? Sebaliknya dipercepatlah perbuatan ke tengah."

    Bersama-sama meninggikanlah mereka semua akan perkataan Larung, mengikutlah mereka kepada Calon Arang, kemudian berkatalah dia: "Sangat benar olehmu, Larung. Bunyikanlah Kamanak dan Kangsi kalian, sekarang menarilah masing-masing, ijinkan aku melihat perbuatan itu satu persatu. Sekarang mungkin sampai di perbuatan itu, kalian menarilah."

    4. Seketika itu juga menarilah Guyang, tariannya mendekap-dekap, berteriak-teriak, terengah-engah dan berbusana; matanya melirik, menoleh kiri kanan.

    Menarilah Larung; gerakannya seperti macan yang ingin menerkam, matanya kelihatan memerah, benar-benar telanjang. Rambutnya berjalan cepat ke depan.

    Menarilah Gandi; melompat-lompatlah olehnya menari; rambutnya berjalan cepat ke pinggir. Memerah matanya kelihatan seperti buah janitri.

    Menarilah Lende; tariannya berjingkat-jingkat dengan kakinya. Tingkah lakunya menyala-nyala seperti api hampir menyala. Berjalan cepat rambutnya.

    Menarilah Weksirsa; menunduk-nunduk olehnya menari, menoleh-noleh; matanya terbuka tanpa berkedip. Rambutnya berjalan cepat ke samping, benar-benar telanjang.

    Mahisawadana menari berkaki satu; ia menyungsang menjulur-julur lidahnya; tangannya ingin memeras.

    Senanglah Calon Arang setelah mereka bersama-sama menari. Membagi tugaslah dia sesampai di istana . Mereka membagi tugas pergi ke lima daerah. Lende ke selatan, Larung ke utara, Guyang ke timur, Gandi ke barat. Calon Arang ke tengah bersama dengan Weksirsa dan Mahisawadana.

    Setelah mereka berbagi pergi ke lima daerah, Calon Arang datang ke tengah-tengah tempat pembakaran mayat itu, menemui mayat yang mati mendadak di hari ke-5 (kliwon). Dia memberdirikan, mengikat di kepuh, menghidupkan mayat itu, meniup-niupnya; Weksirsa dan Mahisawadana memelekkan mata (mayat itu). Menjadi hiduplah orang itu, sehingga berkatalah mayat itu: "Siapa tuan yang menghidupkan aku? Betapa besarnya hutangku; tak tahu aku membalasnya. Aku menghamba kepada tuan. Tuan, lepaskanlah aku dari pohon kepuh ini, aku ingin berbakti dan menghormat."

    Berkatalah Weksirsa: "Engkau sangka (bahwa) engkau hidup? Biarlah aku memarang lehermu dengan parang." Seketika itu juga diparanglah lehernya dengan parang, melesat leher mayat yang dihidupkannya itu. Terbanglah kepalanya; sampai dikeramaskan dengan darah oleh Calon Arang; menggumpallah rambutnya oleh darah. Ususnya menjadi kalung dan dikalungkannya. Badannya diolah dipanggang semua, menjadi korban para Bhuta (raksasa) yang berada di tempat pembakaran mayat, setelah itu Paduka Bhatari Bhagawati menyetujui (menerima) yang dikorbankan itu.

    5. Keluarlah Bhatari dari kahyangannya, kemudian berkatalah dia kepada Calon Arang: "Aduh, anakku Calon Arang, apa maksudmu memberikan korban kepadaku, (memberikan) bakti hormat? Aku menerima penghormatanmu."

    Berkatalah Janda Girah itu: "Tuan, Sang Pemimpin Negeri membuat duka anakmu, aku memohon belas-kasih Bhatari, supaya Paduka Bhatari senang untuk membinasakan orang-orang senegeri, sampai ke tengah sekalian."

    Berkatalah Bhatari: "Baik, aku mengabulkan, Calon Arang, namun engkau jangan lengah."

    Berpamitanlah janda Girah itu menghormat Bhatari. Segera pergi menarilah dia di perempatan.

    Terjadilah tulah yang sangat hebat di seluruh negeri itu; terjadi tulah satu malam dua malam, sakitnya panas-dingin, orang-orang mati. Mayat-mayat yang ada di tanah lapang bertumpuk-tumpuk, yang lainnya ada di jalan, ada juga yang tidak terpelihara di rumahnya. Srigala-srigala meraung (membaung) memakan mayat. Burung-burung gagak berteriak-teriak tak putus-putusnya memakan mayat, bersama-sama mencucuk (memakan) mayat. Lalat-lalat beterbangan kian-kemari di rumah meraung-raung, rumah-rumah tak berpenghuni. Yang lainnya orang-orangnya pergi ke tempat jauh, pergi mengungsi ke daerah yang tidak terkena penyakit. Orang-orang yang sakit dipikul, yang lainnya ada yang mengasuh (momong) anaknya dan membawa barang-barang.

    Para Bhuta yang melihat berseru: "Jangan kalian pergi, desa (daerah) kalian sudah aman, tulah dan penyakit telah selesai, pulanglah kalian ke sini, hiduplah kalian di sini." Setelah itu banyak kematian orang-orang di jalan yang diambilinya. Para Bhuta itu berada di rumah tak berpenghuni bersenang-senang, tertawa-tawa, bersenda-gurau, memenuhi jalan dan jalan besar.

    Mahisawadana memasuki rumah berjalan ke dinding, membuat tulah bagi orang serumah. Weksirsa memasuki tempat petiduran orang, berjalan bolak-balik, membuka rintangan/pintu, meminta korban darah mentah dan daging mentah: "Itu kesukaan saya, jangan lama-lama", katanya. Tidak ada orang yang mati itu melawan tulah dan tingkah laku para Bhuta itu.

    [sunting] II. Calon Arang terbinasakan oleh Tuan/Empu Bharadah

    1. Berjalanlah seorang pendeta ke tengah-tengah tempat pembakaran mayat, bertemulah dia dengan Weksirsa dan Mahisawadana, murid-murid Calon Arang. Setelah melihat Sang Pendeta itu, datang menciumlah murid-murid itu, dan menyembahnya, yaitu Weksirsa dan Mahisawadana.

    Berkatalah Sri Bharadah: "Hai orang-orang yang menyembahku, siapakah nama kalian; aku tidak tahu, beritahu aku."

    Berkatalah Weksirsa dan Mahisawadana: "Tuan, kami Weksirsa dan Mahisawadana menyembah telapak kaki tuan. Murid-murid Sang Janda Girah. Kami meminta anugerah kepada Sang pendeta, lepaskanlah kami dari siksaan."

    Berkatalah sang guru pendeta itu: "Tidak bisa kalian lepas dari siksaan dahulu jika Calon Arang belum dilepaskan dari siksaan dahulu. Berangkatlah kalian ke Calon Arang, berkatalah kalian, bahwa aku ingin berbicara."

    Berpamitan menyembahlah Weksirsa dan berlutut, juga Mahisawadana. Nampak dari kejauhan Calon Arang sedang di kahyangan di tempat pembakaran mayat, baru saja pulang Paduka Bhatari Bhagawati dari percakapannya bersama dengan Janda Girah. Baru saja selesai Bhatari berkata: "Hai, Calon Arang, jangan lengah, akan surup/redup/terbenam (kalah) engkau." Demikianlah kata Bhatari.

    Setelah itu datang Weksirsa dan Mahisawadana berbicara dahulu kepada Calon Arang; katanya jika Sang Pendeta Bharadah datang. Kata Calon Arang: "Hai, katanya Yang Mulia Bharadah datang; aku akan menemui/menjemput dia." Pergilah Calon Arang, datanglah menerima Sang Mahasakti, menjemput Sang Pendeta, kata Calon Arang: "Tuanku, bahagialah Sang Pendeta yang kumuliakan, Sang Pendeta Bharadah, aku meminta anugerah kata-kata yang baik (rahayu)."

    Kata Sang Pendeta: "Lihatlah, aku memberi pengarahan pada tuntunan yang baik; janganlah engkau membuat sakit, yang mulia. Aku diceritai cerita sedih tentang engkau melakukan hal yang jelek membuat manusia banyak yang mati, membuat bumi langka/sepi, membuat dukanya bumi dan membunuh semua rakyat. Betapa banyak engkau membawa mala-petaka (membuat dosa) bagi bumi. Banyaklah orang-orang yang terkena tulah. Keterlaluan engkau membawa mala-petaka, membunuh orang-orang senegara. Tidak dapat engkau terlepas dari siksaan jika engkau sangat bermusuhan. Oleh karena itu, jika belum tahu jalan keluar untuk membebaskan diri, masakan engkau dapat lepas dari siksaan."

    Berkatalah Calon Arang: "Permusuhan sangat besar dosaku pada rakyat; oleh karena itu lepaskanlah aku dari siksaan, hai Sang Pendeta, kasihanilah aku."

    Berkatalah Sang Pendeta: "Tidak dapat aku melepaskan engkau."

    2. Berkatalah Calon Arang, marah, menjadi besar dukanya Janda Girah itu: "Lihatlah, aku akan membuat gangguan besar kepadamu, jika engkau tidak tahu melepaskan aku. Engkau enggan melepaskan aku dari siksaan, lihatlah, aku sama sekali menghilangkan dosa. Aku akan meneluh engkau, hai Resi Bharadah." Kemudian menarilah Calon Arang berbalik mengurai rambutnya, matanya melirik, tangannya menunjuk Sang Pendeta: "Matilah engkau nanti olehku, Pendeta Bharadah. Jika engkau tetap tidak tahu, hai Yang Mulia, pohon beringin besar ini, aku teluh, lihatlah, Empu Bharadah." Seketika itu juga hancurlah sangat pohon beringin karena mata Calon Arang.

    Berkatalah Sang Pendeta: "Lihatlah, hai Wanita Yang Mulia, datangkanlah teluhmu lagi yang besar, masakan aku akan heran."

    Kemudian semakin besarlah olehnya meneluh, keluarlah api dari mata, hidung, telinga, mulut, menyala-nyala membakar Sang Pendeta. Sang Pendeta tidak terbakar, damailah olehnya memperhatikan hidupnya rakyat. Berkatalah Sang Maha Sakti: "Tidak mati oleh teluhmu, hai Wanita Yang Mulia; aku tidak pergi dari hidup (mati). Semoga engkau mati oleh karena sikapmu itu." Datanglah kematian Calon Arang. Menjawablah Sang Pendeta Bharadah: "Aduh, aku belum memberi pengarahan tentang kelepasan kepada Wanita Yang Mulia. Lihatlah sungguh hai Wanita Yang Mulia, engkau hidup lagi." Datanglah kehidupan Calon Arang: marah memaki-maki Calon Arang, katanya: "Aku sudah mati, mengapa tuan menghidupkan aku lagi?"

    Menjawablah Sang Pendeta "Hai, Yang Mulia, aku membuat hidup lagi kamu, (karena) aku belum memberi pengarahan kepada engkau tentang kelepasanmu dan menunjukkan surgamu, serta menghilangkan rintanganmu."

    Berkatalah Calon Arang: "Aduh, berbahagia jika demikian kata Sang Pendeta, lepaskanlah aku dari siksaan; aku menyembah pada telapak-kakimu, Sang Pendeta, jika engkau melepaskan aku dari siksaan." Meminta dirilah Calon Arang kepada Sang Pendeta, diperkenankan dia mati yang sempurna (kelepasan) dan ditunjukkan surganya. Setelah Sang Pendeta Bharadah memberi pengarahan, Calon Arang menyembah kepada Sang Pendeta. Kata Sang Pendeta: "Lihatlah, lepaslah engkau, hai Wanita Yang Mulia." Kematian Calon Arang menjadi lepas dari penderitaan, dibakar, roh Janda Girah oleh Sang Kekasih.

    Maka Weksirsa dan Mahisawadana bersama-sama turut selamat, berjalan menjadi Wiku oleh Sang Pendeta, oleh karena tidak dapat ikut kelepasan bersama dengan Janda Girah. Bersama-sama dijadikan Wiku oleh Sang Pendeta. Demikianlah cerita tentang Calon Arang.
    Diperoleh dari "http://id.wikisource.org/wiki/Calon_Arang"
    Kategori: Prosa

    BalasHapus
  26. Kurnia Larasati2 April 2009 06.40

    Nama: Kurnia Larasati
    NIM : 2102408038
    Rombel: 1 (satu)


    Bhismaparwa

    Bhismaparwa konon merupakan bagian terpenting Mahabharata karena kitab keenam ini mengandung kitab Bhagawad Gita. Dalam Bhismaparwa dikisahkan bagaimana kedua pasukan, pasukan Korawa dan pasukan Pandawa berhadapan satu sama lain sebelum Bharatayuddha dimulai. Lalu sang Arjuna dan kusirnya sang Kresna berada di antara kedua pasukan. Arjuna pun bisa melihat bala tentara Korawa dan para Korawa, sepupunya sendiri. Iapun menjadi sedih karena harus memerangi mereka. Walaupun mereka jahat, tetapi Arjuna teringat bagaimana mereka pernah dididik bersama-sama sewaktu kecil dan sekarang berhadapan satu sama lain sebagai musuh. Lalu Kresna memberi Arjuna sebuah wejangan. Wejangannya ini disebut dengan nama Bhagawad Gita atau "Gita Sang Bagawan", artinya adalah nyanyian seorang suci.
    Bhismaparwa diakhiri dengan dikalahkannya Bisma, kakek para Pandawa dan Korawa. Bisma mempunyai sebuah kesaktian bahwa ia bisa meninggal pada waktu yang ditentukan sendiri. Lalu ia memilih untuk tetap tidur terbentang saja pada "tempat tidur panahnya" (saratalpa) sampai perang Bharatayuddha selesai. Bisma terkena panah banyak sekali sampai ia terjatuh tetapi tubuhnya tidak menyentuh tanah, hanya ujung-ujung panahnya saja.


    Para Raja dan Ksatria meniup terompet kerang mereka tanda pertempuran akan segera dimulai
    Ringkasan isi Kitab Bhismaparwa
    Janamejaya bertanya, "Bagaimanakah para pahlawan bangsa Kuru, Pandawa, dan Somaka, beserta para rajanya yang berasal dari berbagai kerajaan itu mengatur pasukannya siap untuk bertempur?"
    Mendengar pertanyaan tersebut, Wesampayana menguraikan dengan detail, kejadian-kejadian yang sedang berlangsung di medan perang Kurukshetra.
    Suasana di medan perang, Kurukshetra
    Sebelum pertempuran dimulai, kedua belah pihak sudah memenuhi daratan Kurukshetra. Para Raja terkemuka pada zaman India Kuno seperti misalnya Drupada, Sudakshina Kamboja, Bahlika, Salya, Wirata, Yudhamanyu, Uttamauja, Yuyudhana, Chekitana, Purujit, Kuntibhoja, dan lain-lain turut berpartisipasi dalam pembantaian besar-besaran tersebut. Bisma, Sang sesepuh Wangsa Kuru, mengenakan jubah putih dan bendera putih, bersinar, dan tampak seperti gunung putih. Arjuna menaiki kereta kencana yang ditarik oleh empat ekor kuda putih dan dikemudikan oleh Kresna, yang mengenakan jubah sutera kuning.
    Pasukan Korawa menghadap ke barat, sedangkan pasukan Pandawa menghadap ke timur. Pasukan Korawa terdiri dari 11 divisi, sedangkan pasukan Pandawa terdiri dari 7 divisi. Pandawa mengatur pasukannya membentuk formasi Bajra, formasi yang konon diciptakan Dewa Indra. Pasukan Korawa jumlahnya lebih banyak daripada pasukan Pandawa, dan formasinya lebih menakutkan. Fomasi tersebut disusun oleh Drona, Bisma, Aswatama, Bahlika, dan Kripa yang semuanya ahli dalam peperangan. Pasukan gajah merupakan tubuh formasi, para Raja merupakan kepala dan pasukan berkuda merupakan sayapnya. Yudistira sempat gemetar dan cemas melihat formasi yang kelihatannya sulit ditembus tersebut, namun setelah mendapat penjelasan dari Arjuna, rasa percaya dirinya bangkit.
    Turunnya Bhagawad Gita
    Sebelum pertempuran dimulai, terlebih dahulu Bisma meniup terompet kerangnya yang menggemparkan seluruh medan perang, kemudian disusul oleh para Raja dan ksatria, baik dari pihak Korawa maupun Pandawa. Setelah itu, Arjuna menyuruh Kresna yang menjadi kusir keretanya, agar membawanya ke tengah medan pertempuran, supaya Arjuna bisa melihat siapa yang sudah siap bertarung dan siapa yang harus ia hadapi nanti di medan pertempuran.
    Di tengah medan pertempuran, Arjuna melihat kakeknya, gurunya, teman, saudara, ipar, dan kerabatnya berdiri di medan pertempuran, siap untuk bertempur. Tiba-tiba Arjuna menjadi lemas setelah melihat keadaan itu. Ia tidak tega untuk membunuh mereka semua. Ia ingin mengundurkan diri dari medan pertempuran.

    Arjuna berkata, "Kresna yang baik hati, setelah melihat kawan-kawan dan sanak keluarga di hadapan saya, dengan semangat untuk bertempur seperti itu, saya merasa anggota-anggota badan saya gemetar dan mulut saya terasa kering.....Kita akan dikuasai dosa jika membunuh penyerang seperti itu. Karena itu, tidak pantas kalau kita membunuh para putera Dretarastra dan kawan-kawan kita. O Kresna, suami Lakshmi Dewi, apa keuntungannya bagi kita, dan bagaimana mungkin kita berbahagia dengan membunuh sanak keluarga kita sendiri?"
    Dilanda oleh pergolakan batin, antara mana yang benar dan mana yang salah, Kresna mencoba untuk menyadarkan Arjuna. Kresna yang menjadi kusir Arjuna, memberikan wejangan-wejangan suci kepada Arjuna, agar ia bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kresna juga menguraikan berbagai ajaran Hindu kepada Arjuna, agar segala keraguan di hatinya sirna, sehingga ia mau melanjutkan pertempuran. Selain itu, Kresna memperlihatkan wujud semestanya kepada Arjuna, agar Arjuna tahu siapa Kresna sebenarnya.
    Wejangan suci yang diberikan oleh Kresna kepada Arjuna kemudian disebut Bhagavad Gītā, yang berarti "Nyanyian Tuhan". Ajaran tersebut kemudian dirangkum menjadi kitab tersendiri dan sangat terkenal di kalangan umat Hindu, karena dianggap merupakan pokok-pokok ajaran Hindu dan intisari ajaran Veda.
    Penghormatan sebelum perang oleh Yudistira
    Setelah Arjuna sadar terhadap kewajibannya dan mau melanjutkan pertarungan karena sudah mendapat wejangan suci dari Kresna, maka pertempuran segera dimulai. Arjuna mengangkat busur panahnya yang bernama Gandiwa, diringi oleh sorak sorai gegap gempita. Pasukan kedua pihak bergemuruh. Mereka meniup sangkala dan terompet tanduk, memukul tambur dan genderang. Para Dewa, Pitara, Rishi, dan penghuni surga lainnya turut menyaksikan pembantaian besar-besaran tersebut.
    Pada saat-saat menjelang pertempuran tersebut, tiba-tiba Yudistira melepaskan baju zirahnya, meletakkan senjatanya, dan turun dari keretanya, sambil mencakupkan tangan dan berjalan ke arah pasukan Korawa. Seluruh pihak yang melihat tindakannya tidak percaya. Para Pandawa mengikutinya dari belakang sambil bertanya-tanya, namun Yudistira diam membisu, hanya terus melangkah. Di saat semua pihak terheran-heran, hanya Kresna yang tersenyum karena mengetahui tujuan Yudistira. Pasukan Korawa penasaran dengan tindakan Yudistira. Mereka siap siaga dengan senjata lengkap dan tidak melepaskan pandangan kepada Yudistira. Yudistira berjalan melangkah ke arah Bisma, kemudian dengan rasa bakti yang tulus ia menjatuhkan dirinya dan menyembah kaki Bisma, kakek yang sangat dihormatinya.
    Yudistira berkata, “Hamba datang untuk menghormat kepadamu, O paduka nan gagah tak terkalahkan. Kami akan menghadapi paduka dalam pertempuran. Kami mohon perkenan paduka dalam hal ini, dan kami pun memohon do'a restu paduka”.
    Bisma menjawab, “Apabila engkau, O Maharaja, dalam menghadapi pertempuran yang akan berlangsung ini engkau tidak datang kepadaku seperti ini, pasti kukutuk dirimu, O keturunan Bharata, agar menderita kekalahan! Aku puas, O putera mulia. Berperanglah dan dapatkan kemenangan, hai putera Pandu! Apa lagi cita-cita yang ingin kaucapai dalam pertempuran ini? Pintalah suatu berkah dan restu, O putera Pritha. Pintalah sesuatu yang kauinginkan! Atas restuku itu pastilah, O Maharaja, kekalahan tidak akan menimpa dirimu. Orang dapat menjadi budak kekayaan, namun kekayaan itu bukanlah budak siapa pun juga. Keadaan ini benar-benar terjadi, O putera bangsa Kuru. Dengan kekayaannya, kaum Korawa telah mengikat diriku...”
    Setelah Yudistira mendapat do'a restu dari Bisma, kemudian ia menyembah Drona, Kripa, dan Salya. Semuanya memberikan do'a restu yang sama seperti yang diucapkan Bisma, dan mendo'akan agar kemenangan berpihak kepada Pandawa. Setelah mendapat do'a restu dari mereka semua, Yudistira kembali menuju pasukannya, dan siap untuk memulai pertarungan.
    Yuyutsu memihak Pandawa
    Setelah tiba di tengah-tengah medan pertempuran, di antara kedua pasukan yang saling berhadapan, Yudistira berseru, “Siapa pun juga yang memilih kami, mereka itulah yang kupilih menjadi sekutu kami!”
    Setelah berseru demikian, suasana hening sejenak. Tiba-tiba di antara pasukan Korawa terdengar jawaban yang diserukan oleh Yuyutsu. Dengan pandangan lurus ke arah Pandawa, Yuyutsu berseru, ”Hamba bersedia bertempur di bawah panji-panji paduka, demi kemenangan paduka sekalian! Hamba akan menghadapi putera Dretarastra, itu pun apabila paduka raja berkenan menerima! Demikianlah, O paduka Raja nan suci!”
    Dengan gembira, Yudistira berseru, “Mari, kemarilah! Kami semua ingin bertempur menghadapi saudara-saudaramu yang tolol itu! O Yuyutsu, baik Vāsudewa (Kresna) maupun kami lima bersaudara menyatakan kepadamu bahwa aku menerimamu, O pahlawan perkasa, berjuanglah bersama kami, untuk kepentinganku, menegakkan Dharma! Rupanya hanya anda sendirilah yang menjadi penerus garis keturunan Dretarastra, sekaligus melanjutkan pelaksanaan upacara persembahan kepada para leluhur mereka! O putera mahkota nan gagah, terimalah kami yang juga telah menerima dirimu itu! Duryodana yang kejam dan berpengertian cutak itu segera akan menemui ajalnya!”
    Setelah mendengar jawaban demikian, Yuyutsu meninggalkan pasukan Korawa dan bergabung dengan para Pandawa. Kedatangannya disambut gembira. Yudistira mengenakan kembali baju zirahnya, kemudian berperang.
    Pembantaian Bisma
    Pertempuran dimulai. Kedua belah pihak maju dengan senjata lengkap. Divisi pasukan Korawa dan divisi pasukan Pandawa saling bantai. Bisma maju menyerang para ksatria Pandawa dan membinasakan apapun yang menghalangi jalannya. Abimanyu melihat hal tersebut dan menyuruh paman-pamannya agar berhati-hati. Ia sendiri mencoba menyerang Bisma dan para pengawalnya. Namun usaha para ksatria Pandawa di hari pertama tidak berhasil. Mereka menerima kekalahan. Putera Raja Wirata, Uttara dan Sweta, gugur oleh Bisma dan Salya di hari pertama. Kekalahan di hari pertama membuat Yudistira menjadi pesimis. Namun Sri Kresna berkata bahwa kemenangan sesungguhnya akan berada di pihak Pandawa.
    Duel Arjuna dengan Bisma
    Pada hari kedua, Arjuna bertekad untuk membalikkan keadaan yang didapat pada hari pertama. Arjuna mencoba untuk menyerang Bisma dan membunuhnya, namun para pasukan Korawa berbaris di sekeliling Bisma dan melindunginya dengan segenap tenaga sehingga meyulitkan Arjuna. Pasukan Korawa menyerang Arjuna yang hendak membunuh Bisma. Kedua belah pihak saling bantai, dan sebagian besar pasukan Korawa gugur di tangan Arjuna. Setelah menyapu seluruh pasukan Korawa, Arjuna dan Bisma terlibat dalam duel sengit. Sementara itu Drona menyerang Drestadyumna bertubi-tubi dan mematahkan panahnya berkali-kali. Duryodana mengirim pasukan bantuan dari kerajaan Kalinga untuk menyerang Bima, namun serangan dari Duryodana tidak berhasil dan pasukannya gugur semua. Setyaki yang bersekutu dengan Pandawa memanah kusir kereta Bisma sampai meninggal. Tanpa kusir, kuda melarikan kereta Bisma menjauhi medan laga. Di akhir hari kedua, pihak Korawa mendapat kekalahan.
    Habisnya kesabaran Kresna


    Kesabaran Kresna habis sehingga ia ingin menghabisi Bisma dengan tangannya sendiri, namun dicegah oleh Arjuna
    Pada hari ketiga, Bisma memberi instruksi agar pasukan Korawa membentuk formasi burung elang dengan dirinya sendiri sebagai panglima berada di garis depan sementara tentara Duryodana melindungi barisan belakang. Bisma ingin agar tidak terjadi kegagalan lagi. Sementara itu para Pandawa mengantisipasinya dengan membentuk formasi bulan sabit dengan Bima dan Arjuna sebagai pemimpin sayap kanan dan kiri. Pasukan Korawa menitikberatkan penyerangannya kepada Arjuna, namun banyak pasukan Korawa yang tak mampu menandingi kekuatan Arjuna. Abimanyu dan Setyaki menggabungkan kekuatan untuk menghancurkan tentara Gandara milik Sangkuni. Bisma yang terlibat duel sengit dengan Arjuna, masih bertarung dengan setengah hati. Duryodana memarahi Bisma yang masih segan untuk menghabisi Arjuna. Perkataan Duryodana membuat hati Bisma tersinggung, kemudian ia mengubah perasaanya.
    Arjuna dan Kresna mencoba menyerang Bhishma. Arjuna dan Bisma sekali lagi terlibat dalam pertarungan yang bengis, meskipun Arjuna masih merasa tega dan segan untuk melawan kakeknya. Kresna menjadi sangat marah dengan keadaan itu dan berkata, "Aku sudah tak bisa bersabar lagi, Aku akan membunuh Bisma dengan tanganku sendiri," lalu ia mengambil chakra-nya dan berlari ke arah Bisma. Bisma menyerahkan dirinya kepada Kresna dengan pasrah. Ia merasa beruntung jika gugur di tangan Kresna. Arjuna berlari mengejarnya dan mencegah Kresna untuk melakukannya. Arjuna memegang kaki Kresna. Pada langkah yang kesepuluh, Kresna berhenti.
    Arjuna berkata, “O junjunganku, padamkanlah kemarahan ini. Paduka tempat kami berlindung. Baiklah, hari ini hamba bersumpah, atas nama dan saudara-saudara hamba, bahwa hamba tidak akan menarik diri dari sumpah yang hamba ucapkan. O Kesawa, O adik Dewa Indra, atas perintah paduka, baiklah, hamba yang akan memusnahkan bangsa Kuru!”
    Mendengar sumpah tersebut, Kresna puas hatinya. Kemarahannya mereda, namun masih tetap memegang senjata chakra. Kemudian mereka berdua melanjutkan pertarungan dan membinasakan banyak pasukan Korawa.
    Keberanian Bima
    Hari keempat merupakan hari dimana Bima menunjukkan keberaniannya. Bisma memerintahkan pasukan Korawa untuk bergerak. Abimanyu dikepung oleh para ksatria Korawa lalu diserang. Arjuna melihat hal tersebut lalu menolong Abimanyu. Bima muncul pada saat yang genting tersebut lalu menyerang para kstria Korawa dengan gada. Kemudian Duryodana mengirimkan pasukan gajah untuk menyerang Bima. Ketika Bima melihat pasukan gajah menuju ke arahnya, ia turun dari kereta dan menyerang mereka satu persatu dengan gada baja miliknya. Mereka dilempar dan dibanting ke arah pasukan Korawa. Kemudian Bima menyerang para ksatria Korawa dan membunuh delapan adik Duryodana. Akhirnya ia dipanah dan tersungkur di keretanya. Gatotkaca melihat hal tersebut, lalu merasa sangat marah kepada pasukan Korawa. Bisma menasehati bahwa tidak ada yang mampu melawan Gatotkaca yang sedang marah, lalu menyuruh pasukan agar mundur. Pada hari itu, Duryodana kehilangan banyak saudara-saudaranya.
    Perbantaian terus berlanjut
    Pada hari kelima, pembantaian terus berlanjut. Pasukan Pandawa dengan segenap tenaga membalas serangan Bisma. Bima berada di garis depan bersama Srikandi dan Drestadyumna di sampingnya. Karena Srikandi berperan sebagai seorang wanita, Bisma menolak untuk bertarung dan pergi. Sementara itu, Setyaki membinasakan pasukan besar yang dikirim untuk menyerangnya. Pertempuran dilanjutkan dengan pertarungan antara Setyaki melawan Burisrawas dan kemudian Setyaki kesusahan sehingga berada dalam situasi genting. Melihat hal itu, Bima datang melindungi Setyaki dan menyelamatkan nyawanya. Di tempat lain, Arjuna bertempur dan membunuh ribuan tentara yang dikirim Duryodana untuk menyerangnya.
    Pertumpahan darah yang sulit dibayangkan terus berlanjut dari hari ke hari selama pertempuran berlangsung. Hari keenam merupakan hari pembantaian yang hebat. Drona membantai banyak prajurit di pihak Pandawa yang jumlahnya sukar diukur. Formasi kedua belah pihak pecah. Pada hari kedelapan, Bima membunuh delapan putera Dretarastra. Putera Arjuna — Irawan — terbunuh oleh para Korawa.
    Pada hari kesembilan Bisma menyerang pasukan Pandawa dengan membabi buta. Banyak laskar yang tercerai berai karena serangan Bisma. Banyak yang melarikan diri atau menjauh dari Bisma, pendekar tua nan sakti dari Wangsa Kuru. Kresna memacu kuda-kudanya agar berlari ke arah Bisma. Arjuna dan Bisma terlibat dalam pertarungan sengit, namun Arjuna bertarung dengan setengah hati sementara Bisma menyerangnya dengan bertubi-tubi. Melihat keadaan itu, sekali lagi Kresna menjadi marah. Ia ingin mengakhiri riwayat Bisma dengan tangannya sendiri. Ia meloncat turun dari kereta Arjuna, dengan mata merah menyala tanda kemarahan memuncak, bergerak berjalan menghampiri Bisma. Dengan senjata Chakra di tangan, Kresna membidik Bisma. Bisma dengan pasrah tidak menghindarinya, namun semakin merasa bahagia jika gugur di tangan Kresna. Melihat hal itu, Arjuna menyusul Kresna dan berusaha menarik kaki Kresna untuk menghentikan langkahnya.
    Dengan sedih dan suara tersendat-sendat, Arjuna berkata, “O Kesawa (Kresna), janganlah paduka memalsukan kata-kata yang telah paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah mengucapkan janji bahwa tidak akan ikut berperang. O Madhawa (Kresna), apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang-orang akan mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan akibat perang ini, hambalah yang harus menanggungnya! Hambalah yang akan membunuh kakek yang terhormat itu!...”
    Kresna tidak menjawab setelah mendengar kata-kata Arjuna, tetapi dengan menahan kemarahan ia naik kembali ke atas keretanya. Kedua pasukan tersebut melanjutkan kembali pertarungannya.
    Gugurnya Bisma


    Resi Bisma tidur di "ranjang panah" (saratalpa)
    Para Pandawa tidak mengetahui bagaimana cara mengalahkan Bisma. Pada malam harinya, Pandawa menyusup ke dalam kemah Bisma. Bisma menyambutnya dengan do'a restu. Pandawa menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu mencari cara untuk mengalahkan Bisma. Kemudian Bisma membeberkan hal-hal yang membuatnya tidak tega untuk berperang. Setelah mendengar penjelasan Bisma, Arjuna berdiskusi dengan Kresna. Ia merasa tidak tega untuk mengakhiri riwayat kakeknya. Kemudian Kresna mencoba menyadarkan Arjuna, tentang mana yang benar dan mana yang salah.
    Pada hari kesepuluh, pasukan Pandawa dipelopori oleh Srikandi di garis depan. Srikandi menyerang Bisma, namun ia tidak dihiraukan. Bisma hanya tertawa kepada Srikandi, karena ia tidak mau menyerang Srikandi yang berkepribadian seperti wanita. Melihat Bisma menghindari Srikandi, Arjuna memanah Bisma berkali-kali. Puluhan panah menancap di tubuh Bisma. Bisma terjatuh dari keretanya. Pasukan Pandawa bersorak. Tepat pada hari itu senja hari. Kedua belah pihak menghentikan pertarungannya, mereka mengelilingi Bisma yang berbaring tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh panah-panah. Bisma menyuruh para ksatria untuk memberikannya bantal, namun tidak satu pun bantal yang mau ia terima. Kemudian ia menyuruh Arjuna memberikannya bantal. Arjuna menancapkan tiga anak panah di bawah kepala Bisma sebagai bantal. Bisma merestui tindakan Arjuna, dan ia mengatakan bahwa ia memilih hari kematian ketika garis balik matahari berada di utara.

    BalasHapus
  27. Kurnia Larasati2 April 2009 06.46

    Nama: Kurnia Larasati
    NIM: 2102408038
    Rombel: 1 (satu)

    Bhismaparwa

    Bhismaparwa konon merupakan bagian terpenting Mahabharata karena kitab keenam ini mengandung kitab Bhagawad Gita. Dalam Bhismaparwa dikisahkan bagaimana kedua pasukan, pasukan Korawa dan pasukan Pandawa berhadapan satu sama lain sebelum Bharatayuddha dimulai. Lalu sang Arjuna dan kusirnya sang Kresna berada di antara kedua pasukan. Arjuna pun bisa melihat bala tentara Korawa dan para Korawa, sepupunya sendiri. Iapun menjadi sedih karena harus memerangi mereka. Walaupun mereka jahat, tetapi Arjuna teringat bagaimana mereka pernah dididik bersama-sama sewaktu kecil dan sekarang berhadapan satu sama lain sebagai musuh. Lalu Kresna memberi Arjuna sebuah wejangan. Wejangannya ini disebut dengan nama Bhagawad Gita atau "Gita Sang Bagawan", artinya adalah nyanyian seorang suci.
    Bhismaparwa diakhiri dengan dikalahkannya Bisma, kakek para Pandawa dan Korawa. Bisma mempunyai sebuah kesaktian bahwa ia bisa meninggal pada waktu yang ditentukan sendiri. Lalu ia memilih untuk tetap tidur terbentang saja pada "tempat tidur panahnya" (saratalpa) sampai perang Bharatayuddha selesai. Bisma terkena panah banyak sekali sampai ia terjatuh tetapi tubuhnya tidak menyentuh tanah, hanya ujung-ujung panahnya saja.

    Ringkasan isi Kitab Bhismaparwa
    Janamejaya bertanya, "Bagaimanakah para pahlawan bangsa Kuru, Pandawa, dan Somaka, beserta para rajanya yang berasal dari berbagai kerajaan itu mengatur pasukannya siap untuk bertempur?"
    Mendengar pertanyaan tersebut, Wesampayana menguraikan dengan detail, kejadian-kejadian yang sedang berlangsung di medan perang Kurukshetra.

    Suasana di medan perang, Kurukshetra
    Sebelum pertempuran dimulai, kedua belah pihak sudah memenuhi daratan Kurukshetra. Para Raja terkemuka pada zaman India Kuno seperti misalnya Drupada, Sudakshina Kamboja, Bahlika, Salya, Wirata, Yudhamanyu, Uttamauja, Yuyudhana, Chekitana, Purujit, Kuntibhoja, dan lain-lain turut berpartisipasi dalam pembantaian besar-besaran tersebut. Bisma, Sang sesepuh Wangsa Kuru, mengenakan jubah putih dan bendera putih, bersinar, dan tampak seperti gunung putih. Arjuna menaiki kereta kencana yang ditarik oleh empat ekor kuda putih dan dikemudikan oleh Kresna, yang mengenakan jubah sutera kuning.
    Pasukan Korawa menghadap ke barat, sedangkan pasukan Pandawa menghadap ke timur. Pasukan Korawa terdiri dari 11 divisi, sedangkan pasukan Pandawa terdiri dari 7 divisi. Pandawa mengatur pasukannya membentuk formasi Bajra, formasi yang konon diciptakan Dewa Indra. Pasukan Korawa jumlahnya lebih banyak daripada pasukan Pandawa, dan formasinya lebih menakutkan. Fomasi tersebut disusun oleh Drona, Bisma, Aswatama, Bahlika, dan Kripa yang semuanya ahli dalam peperangan. Pasukan gajah merupakan tubuh formasi, para Raja merupakan kepala dan pasukan berkuda merupakan sayapnya. Yudistira sempat gemetar dan cemas melihat formasi yang kelihatannya sulit ditembus tersebut, namun setelah mendapat penjelasan dari Arjuna, rasa percaya dirinya bangkit.

    Turunnya Bhagawad Gita
    Sebelum pertempuran dimulai, terlebih dahulu Bisma meniup terompet kerangnya yang menggemparkan seluruh medan perang, kemudian disusul oleh para Raja dan ksatria, baik dari pihak Korawa maupun Pandawa. Setelah itu, Arjuna menyuruh Kresna yang menjadi kusir keretanya, agar membawanya ke tengah medan pertempuran, supaya Arjuna bisa melihat siapa yang sudah siap bertarung dan siapa yang harus ia hadapi nanti di medan pertempuran.
    Di tengah medan pertempuran, Arjuna melihat kakeknya, gurunya, teman, saudara, ipar, dan kerabatnya berdiri di medan pertempuran, siap untuk bertempur. Tiba-tiba Arjuna menjadi lemas setelah melihat keadaan itu. Ia tidak tega untuk membunuh mereka semua. Ia ingin mengundurkan diri dari medan pertempuran.
    Arjuna berkata, "Kresna yang baik hati, setelah melihat kawan-kawan dan sanak keluarga di hadapan saya, dengan semangat untuk bertempur seperti itu, saya merasa anggota-anggota badan saya gemetar dan mulut saya terasa kering.....Kita akan dikuasai dosa jika membunuh penyerang seperti itu. Karena itu, tidak pantas kalau kita membunuh para putera Dretarastra dan kawan-kawan kita. O Kresna, suami Lakshmi Dewi, apa keuntungannya bagi kita, dan bagaimana mungkin kita berbahagia dengan membunuh sanak keluarga kita sendiri?"
    Dilanda oleh pergolakan batin, antara mana yang benar dan mana yang salah, Kresna mencoba untuk menyadarkan Arjuna. Kresna yang menjadi kusir Arjuna, memberikan wejangan-wejangan suci kepada Arjuna, agar ia bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kresna juga menguraikan berbagai ajaran Hindu kepada Arjuna, agar segala keraguan di hatinya sirna, sehingga ia mau melanjutkan pertempuran. Selain itu, Kresna memperlihatkan wujud semestanya kepada Arjuna, agar Arjuna tahu siapa Kresna sebenarnya.
    Wejangan suci yang diberikan oleh Kresna kepada Arjuna kemudian disebut Bhagavad Gītā, yang berarti "Nyanyian Tuhan". Ajaran tersebut kemudian dirangkum menjadi kitab tersendiri dan sangat terkenal di kalangan umat Hindu, karena dianggap merupakan pokok-pokok ajaran Hindu dan intisari ajaran Veda.

    Penghormatan sebelum perang oleh Yudistira
    Setelah Arjuna sadar terhadap kewajibannya dan mau melanjutkan pertarungan karena sudah mendapat wejangan suci dari Kresna, maka pertempuran segera dimulai. Arjuna mengangkat busur panahnya yang bernama Gandiwa, diringi oleh sorak sorai gegap gempita. Pasukan kedua pihak bergemuruh. Mereka meniup sangkala dan terompet tanduk, memukul tambur dan genderang. Para Dewa, Pitara, Rishi, dan penghuni surga lainnya turut menyaksikan pembantaian besar-besaran tersebut.
    Pada saat-saat menjelang pertempuran tersebut, tiba-tiba Yudistira melepaskan baju zirahnya, meletakkan senjatanya, dan turun dari keretanya, sambil mencakupkan tangan dan berjalan ke arah pasukan Korawa. Seluruh pihak yang melihat tindakannya tidak percaya. Para Pandawa mengikutinya dari belakang sambil bertanya-tanya, namun Yudistira diam membisu, hanya terus melangkah. Di saat semua pihak terheran-heran, hanya Kresna yang tersenyum karena mengetahui tujuan Yudistira. Pasukan Korawa penasaran dengan tindakan Yudistira. Mereka siap siaga dengan senjata lengkap dan tidak melepaskan pandangan kepada Yudistira. Yudistira berjalan melangkah ke arah Bisma, kemudian dengan rasa bakti yang tulus ia menjatuhkan dirinya dan menyembah kaki Bisma, kakek yang sangat dihormatinya.
    Yudistira berkata, “Hamba datang untuk menghormat kepadamu, O paduka nan gagah tak terkalahkan. Kami akan menghadapi paduka dalam pertempuran. Kami mohon perkenan paduka dalam hal ini, dan kami pun memohon do'a restu paduka”.
    Bisma menjawab, “Apabila engkau, O Maharaja, dalam menghadapi pertempuran yang akan berlangsung ini engkau tidak datang kepadaku seperti ini, pasti kukutuk dirimu, O keturunan Bharata, agar menderita kekalahan! Aku puas, O putera mulia. Berperanglah dan dapatkan kemenangan, hai putera Pandu! Apa lagi cita-cita yang ingin kaucapai dalam pertempuran ini? Pintalah suatu berkah dan restu, O putera Pritha. Pintalah sesuatu yang kauinginkan! Atas restuku itu pastilah, O Maharaja, kekalahan tidak akan menimpa dirimu. Orang dapat menjadi budak kekayaan, namun kekayaan itu bukanlah budak siapa pun juga. Keadaan ini benar-benar terjadi, O putera bangsa Kuru. Dengan kekayaannya, kaum Korawa telah mengikat diriku...”
    Setelah Yudistira mendapat do'a restu dari Bisma, kemudian ia menyembah Drona, Kripa, dan Salya. Semuanya memberikan do'a restu yang sama seperti yang diucapkan Bisma, dan mendo'akan agar kemenangan berpihak kepada Pandawa. Setelah mendapat do'a restu dari mereka semua, Yudistira kembali menuju pasukannya, dan siap untuk memulai pertarungan.

    Yuyutsu memihak Pandawa
    Setelah tiba di tengah-tengah medan pertempuran, di antara kedua pasukan yang saling berhadapan, Yudistira berseru, “Siapa pun juga yang memilih kami, mereka itulah yang kupilih menjadi sekutu kami!”
    Setelah berseru demikian, suasana hening sejenak. Tiba-tiba di antara pasukan Korawa terdengar jawaban yang diserukan oleh Yuyutsu. Dengan pandangan lurus ke arah Pandawa, Yuyutsu berseru, ”Hamba bersedia bertempur di bawah panji-panji paduka, demi kemenangan paduka sekalian! Hamba akan menghadapi putera Dretarastra, itu pun apabila paduka raja berkenan menerima! Demikianlah, O paduka Raja nan suci!”
    Dengan gembira, Yudistira berseru, “Mari, kemarilah! Kami semua ingin bertempur menghadapi saudara-saudaramu yang tolol itu! O Yuyutsu, baik Vāsudewa (Kresna) maupun kami lima bersaudara menyatakan kepadamu bahwa aku menerimamu, O pahlawan perkasa, berjuanglah bersama kami, untuk kepentinganku, menegakkan Dharma! Rupanya hanya anda sendirilah yang menjadi penerus garis keturunan Dretarastra, sekaligus melanjutkan pelaksanaan upacara persembahan kepada para leluhur mereka! O putera mahkota nan gagah, terimalah kami yang juga telah menerima dirimu itu! Duryodana yang kejam dan berpengertian cutak itu segera akan menemui ajalnya!”
    Setelah mendengar jawaban demikian, Yuyutsu meninggalkan pasukan Korawa dan bergabung dengan para Pandawa. Kedatangannya disambut gembira. Yudistira mengenakan kembali baju zirahnya, kemudian berperang.

    Pembantaian Bisma
    Pertempuran dimulai. Kedua belah pihak maju dengan senjata lengkap. Divisi pasukan Korawa dan divisi pasukan Pandawa saling bantai. Bisma maju menyerang para ksatria Pandawa dan membinasakan apapun yang menghalangi jalannya. Abimanyu melihat hal tersebut dan menyuruh paman-pamannya agar berhati-hati. Ia sendiri mencoba menyerang Bisma dan para pengawalnya. Namun usaha para ksatria Pandawa di hari pertama tidak berhasil. Mereka menerima kekalahan. Putera Raja Wirata, Uttara dan Sweta, gugur oleh Bisma dan Salya di hari pertama. Kekalahan di hari pertama membuat Yudistira menjadi pesimis. Namun Sri Kresna berkata bahwa kemenangan sesungguhnya akan berada di pihak Pandawa.

    Duel Arjuna dengan Bisma
    Pada hari kedua, Arjuna bertekad untuk membalikkan keadaan yang didapat pada hari pertama. Arjuna mencoba untuk menyerang Bisma dan membunuhnya, namun para pasukan Korawa berbaris di sekeliling Bisma dan melindunginya dengan segenap tenaga sehingga meyulitkan Arjuna. Pasukan Korawa menyerang Arjuna yang hendak membunuh Bisma. Kedua belah pihak saling bantai, dan sebagian besar pasukan Korawa gugur di tangan Arjuna. Setelah menyapu seluruh pasukan Korawa, Arjuna dan Bisma terlibat dalam duel sengit. Sementara itu Drona menyerang Drestadyumna bertubi-tubi dan mematahkan panahnya berkali-kali. Duryodana mengirim pasukan bantuan dari kerajaan Kalinga untuk menyerang Bima, namun serangan dari Duryodana tidak berhasil dan pasukannya gugur semua. Setyaki yang bersekutu dengan Pandawa memanah kusir kereta Bisma sampai meninggal. Tanpa kusir, kuda melarikan kereta Bisma menjauhi medan laga. Di akhir hari kedua, pihak Korawa mendapat kekalahan.
    Habisnya kesabaran Kresna
    Kesabaran Kresna habis sehingga ia ingin menghabisi Bisma dengan tangannya sendiri, namun dicegah oleh Arjuna
    Pada hari ketiga, Bisma memberi instruksi agar pasukan Korawa membentuk formasi burung elang dengan dirinya sendiri sebagai panglima berada di garis depan sementara tentara Duryodana melindungi barisan belakang. Bisma ingin agar tidak terjadi kegagalan lagi. Sementara itu para Pandawa mengantisipasinya dengan membentuk formasi bulan sabit dengan Bima dan Arjuna sebagai pemimpin sayap kanan dan kiri. Pasukan Korawa menitikberatkan penyerangannya kepada Arjuna, namun banyak pasukan Korawa yang tak mampu menandingi kekuatan Arjuna. Abimanyu dan Setyaki menggabungkan kekuatan untuk menghancurkan tentara Gandara milik Sangkuni. Bisma yang terlibat duel sengit dengan Arjuna, masih bertarung dengan setengah hati. Duryodana memarahi Bisma yang masih segan untuk menghabisi Arjuna. Perkataan Duryodana membuat hati Bisma tersinggung, kemudian ia mengubah perasaanya.
    Arjuna dan Kresna mencoba menyerang Bhishma. Arjuna dan Bisma sekali lagi terlibat dalam pertarungan yang bengis, meskipun Arjuna masih merasa tega dan segan untuk melawan kakeknya. Kresna menjadi sangat marah dengan keadaan itu dan berkata, "Aku sudah tak bisa bersabar lagi, Aku akan membunuh Bisma dengan tanganku sendiri," lalu ia mengambil chakra-nya dan berlari ke arah Bisma. Bisma menyerahkan dirinya kepada Kresna dengan pasrah. Ia merasa beruntung jika gugur di tangan Kresna. Arjuna berlari mengejarnya dan mencegah Kresna untuk melakukannya. Arjuna memegang kaki Kresna. Pada langkah yang kesepuluh, Kresna berhenti.
    Arjuna berkata, “O junjunganku, padamkanlah kemarahan ini. Paduka tempat kami berlindung. Baiklah, hari ini hamba bersumpah, atas nama dan saudara-saudara hamba, bahwa hamba tidak akan menarik diri dari sumpah yang hamba ucapkan. O Kesawa, O adik Dewa Indra, atas perintah paduka, baiklah, hamba yang akan memusnahkan bangsa Kuru!”
    Mendengar sumpah tersebut, Kresna puas hatinya. Kemarahannya mereda, namun masih tetap memegang senjata chakra. Kemudian mereka berdua melanjutkan pertarungan dan membinasakan banyak pasukan Korawa.

    Keberanian Bima
    Hari keempat merupakan hari dimana Bima menunjukkan keberaniannya. Bisma memerintahkan pasukan Korawa untuk bergerak. Abimanyu dikepung oleh para ksatria Korawa lalu diserang. Arjuna melihat hal tersebut lalu menolong Abimanyu. Bima muncul pada saat yang genting tersebut lalu menyerang para kstria Korawa dengan gada. Kemudian Duryodana mengirimkan pasukan gajah untuk menyerang Bima. Ketika Bima melihat pasukan gajah menuju ke arahnya, ia turun dari kereta dan menyerang mereka satu persatu dengan gada baja miliknya. Mereka dilempar dan dibanting ke arah pasukan Korawa. Kemudian Bima menyerang para ksatria Korawa dan membunuh delapan adik Duryodana. Akhirnya ia dipanah dan tersungkur di keretanya. Gatotkaca melihat hal tersebut, lalu merasa sangat marah kepada pasukan Korawa. Bisma menasehati bahwa tidak ada yang mampu melawan Gatotkaca yang sedang marah, lalu menyuruh pasukan agar mundur. Pada hari itu, Duryodana kehilangan banyak saudara-saudaranya.
    Perbantaian terus berlanjut
    Pada hari kelima, pembantaian terus berlanjut. Pasukan Pandawa dengan segenap tenaga membalas serangan Bisma. Bima berada di garis depan bersama Srikandi dan Drestadyumna di sampingnya. Karena Srikandi berperan sebagai seorang wanita, Bisma menolak untuk bertarung dan pergi. Sementara itu, Setyaki membinasakan pasukan besar yang dikirim untuk menyerangnya. Pertempuran dilanjutkan dengan pertarungan antara Setyaki melawan Burisrawas dan kemudian Setyaki kesusahan sehingga berada dalam situasi genting. Melihat hal itu, Bima datang melindungi Setyaki dan menyelamatkan nyawanya. Di tempat lain, Arjuna bertempur dan membunuh ribuan tentara yang dikirim Duryodana untuk menyerangnya.
    Pertumpahan darah yang sulit dibayangkan terus berlanjut dari hari ke hari selama pertempuran berlangsung. Hari keenam merupakan hari pembantaian yang hebat. Drona membantai banyak prajurit di pihak Pandawa yang jumlahnya sukar diukur. Formasi kedua belah pihak pecah. Pada hari kedelapan, Bima membunuh delapan putera Dretarastra. Putera Arjuna — Irawan — terbunuh oleh para Korawa.
    Pada hari kesembilan Bisma menyerang pasukan Pandawa dengan membabi buta. Banyak laskar yang tercerai berai karena serangan Bisma. Banyak yang melarikan diri atau menjauh dari Bisma, pendekar tua nan sakti dari Wangsa Kuru. Kresna memacu kuda-kudanya agar berlari ke arah Bisma. Arjuna dan Bisma terlibat dalam pertarungan sengit, namun Arjuna bertarung dengan setengah hati sementara Bisma menyerangnya dengan bertubi-tubi. Melihat keadaan itu, sekali lagi Kresna menjadi marah. Ia ingin mengakhiri riwayat Bisma dengan tangannya sendiri. Ia meloncat turun dari kereta Arjuna, dengan mata merah menyala tanda kemarahan memuncak, bergerak berjalan menghampiri Bisma. Dengan senjata Chakra di tangan, Kresna membidik Bisma. Bisma dengan pasrah tidak menghindarinya, namun semakin merasa bahagia jika gugur di tangan Kresna. Melihat hal itu, Arjuna menyusul Kresna dan berusaha menarik kaki Kresna untuk menghentikan langkahnya.
    Dengan sedih dan suara tersendat-sendat, Arjuna berkata, “O Kesawa (Kresna), janganlah paduka memalsukan kata-kata yang telah paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah mengucapkan janji bahwa tidak akan ikut berperang. O Madhawa (Kresna), apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang-orang akan mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan akibat perang ini, hambalah yang harus menanggungnya! Hambalah yang akan membunuh kakek yang terhormat itu!...”
    Kresna tidak menjawab setelah mendengar kata-kata Arjuna, tetapi dengan menahan kemarahan ia naik kembali ke atas keretanya. Kedua pasukan tersebut melanjutkan kembali pertarungannya.

    Gugurnya Bisma
    Resi Bisma tidur di "ranjang panah" (saratalpa)
    Para Pandawa tidak mengetahui bagaimana cara mengalahkan Bisma. Pada malam harinya, Pandawa menyusup ke dalam kemah Bisma. Bisma menyambutnya dengan do'a restu. Pandawa menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu mencari cara untuk mengalahkan Bisma. Kemudian Bisma membeberkan hal-hal yang membuatnya tidak tega untuk berperang. Setelah mendengar penjelasan Bisma, Arjuna berdiskusi dengan Kresna. Ia merasa tidak tega untuk mengakhiri riwayat kakeknya. Kemudian Kresna mencoba menyadarkan Arjuna, tentang mana yang benar dan mana yang salah.
    Pada hari kesepuluh, pasukan Pandawa dipelopori oleh Srikandi di garis depan. Srikandi menyerang Bisma, namun ia tidak dihiraukan. Bisma hanya tertawa kepada Srikandi, karena ia tidak mau menyerang Srikandi yang berkepribadian seperti wanita. Melihat Bisma menghindari Srikandi, Arjuna memanah Bisma berkali-kali. Puluhan panah menancap di tubuh Bisma. Bisma terjatuh dari keretanya. Pasukan Pandawa bersorak. Tepat pada hari itu senja hari. Kedua belah pihak menghentikan pertarungannya, mereka mengelilingi Bisma yang berbaring tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh panah-panah. Bisma menyuruh para ksatria untuk memberikannya bantal, namun tidak satu pun bantal yang mau ia terima. Kemudian ia menyuruh Arjuna memberikannya bantal. Arjuna menancapkan tiga anak panah di bawah kepala Bisma sebagai bantal. Bisma merestui tindakan Arjuna, dan ia mengatakan bahwa ia memilih hari kematian ketika garis balik matahari berada di utara.

    BalasHapus
  28. DIAH SITI WULANDARI
    2102408009
    ROMBEL 1

    UTTARAKANDA

    Rabu, 2009 Februari 25
    book report jawa kuna , interpolasi dan penanggalan uttarakanda

    The Dating of the Old Javanese Uttarakanda
    s.supomo, Australian National University

    Untuk waktu yang lama, sisipan dianggap sebagai semacam penyakit dalam literatur jawa kuno. Sekecil apapun gejalanya, penyunting selalu diharapkan berhati-hati dalam mendekati -sebuah kakawin dan harus cepat memutuskan: bagian-bagian yang dicurigai diletakkan didalam kurung kotak. Bagian yang sakit ini pada umumnya tidak tersentuh karena itu sudah diterima sebagai kebiasaan umum diantara generasi awal peneliti jawa kuno, seperti Kern, Juynboll dan Poerbatjaraka. Itu mungkin disebabkan oleh prasangka buruk terhadap apapun yang dianggap sebagai sisipan bagi murid jawa kuno (yang juga mendapat sanskrit dalam pendidikan mereka dan familiar dengan teori bahwa Uttarakanda adalah edisi terakhir dari teks asli Ramayana Valmiki. Hanya sedikit perhatian pada kerja salinan jawa kuna. Demikianlah meskipun keberadaanya telah diktahui setidaknya dari waktu pengumuman dari laporan Friederich’s di tahun 1849-50. Uttarakanda jawa kuna belum diterbitkan secara menyeluruh. Di lain pihak, sebagian besar adaptasi dari parwa epos Mahabharata yang sampai kepada kita, beberapa bagian dari mereka telah dipublikasikan, dan beberapa bagian dari mereka telah diterjemahkan dan didiskusikan.

    Didalam konteks literatur jawa kuno, pengertian atau paham bahwa uttarakanda adalah sisipan adalah tentu salah. Sanskrit Uttarakanda adalah edisi terakhir dalam Ramayana Valmiki, adalah benar. Karena ketika Uttarakanda diterjemahkan kedalam jawa kuna. Kepada seluruh maksud dan tujuan itu telah menjadi bagian dari epos Valmiki untuk hampir sepuluh abad. Jadi seorang penulis berkata dalam “exordium” Uttarakanda jawa kuna:

    Setelah Lengkapura diceritakan oleh bhagawan Valmiki, kemudian dia menggubah akhir dari Ramayana disebut Uttarakanda.

    Kenyataanya bahwa penyuntingan dan studi pembelajaran dari Uttarakanda jawa kuno telah diabaikan sangatlah disesalkan jika kita tidak menyadari bahwa pekerjaan itu adalah sumber primer dari cerita Arjunasasrabahu, satu dai empat siklus dari lakon wayang jawa baru. Itu adalah tujuan dari tulisan tersebut untuk memberi beberapa keterangan dalam satu aspek dai Uttarakanda jawa kuno, dengan harapan itu dapat membangkitkan minat pada pekerjaan ini.

    1. Didalam manggala atau exordium dari Uttarakanda jawa kuno, kami baca:

    Adalah sang pendeta yang sangat unggul…dialah bhagawan Valmiki namanya yang dijadikan sebagai dewa dari segala pujangga, hormatlah sebagai orang yang memberi berkah dalam menggubah cerita Uttarakanda… dan adalah seorang penguasa dunia di pulau jawa…dialah Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama namanya, akan memberi berrkah perlindungan pertolongan dalam penulisan cerita Ramayana.

    Dari kutipan diatas , jelaslah bahwa penulis tanpa nama Uttarakanda jawa kuna memilih Balmiki, itu untuk menyebut Valmiki, penulis cerita kuno epos Ramayana dan Dharmawangsa Teguh Anantawikrama, seorang penguasa dari kerajaan jawa di jawa timur, sebagai pelindungnya.

    Seperti dimohon menjadi petunjuk dalam Uttarakanda jawa kuna, nama Dharmawangsa Teguh Anantawikrama juga dimohon sebagai pelindung dalam terjemahan dari tiga terjemahan jawa kuna dari epos Sanskrit lainya, yaitu Adiparwa , Wirataparwa dan Bhismaparwa. Padahal Uttarakanda adalah bagian dari epos Ramayana, parwa ini adalah bagian dari epos Sanskrit terkenal lainya, Mahabharata. Bagian dari tiga parwa ini, enam atau mungkin tujuh parwa jawa kuna juga sampai pada kita (Sabhaparwa, Udyogaparwa, Asramawasikaparwa, Mausalaparwa, Prasthanikaparwa, dan Swargarohanaparwa), tetapi tidak ada nama raja yang disebutkan didalamnya.

    Sebelumnya satu dari tujuh kanda dari Ramayana dan Sembilan atau sepuluh dari delapan belas parwa dari Mahabharata telah sampai pada kita. Pertanyaan yang muncul apakah hanya mereka bagian dari epos yang telah diterjemahkan atau disalin kedalam jawa kuna atau apakah hanya mereka yang mampu bertahan dari seluruh terjemahan dari kedua epos?

    Sehubungan dengan Mahabharata , Berg berpendapat bahwa seluruh epos telah diterjemahkan kedalam jawa kuna tetapi beberapa parwa dari epos tersebut telah hilang. Pigeaud di lain pihak dengan pendek menjelaskan bahwa idak semua dari delapanbelas buku Mahabharata telah diterjemahkan kedalam prosa jawa. Sayangnya kita tidak mempunyai dokumen sejaman yang digunakan untuk mendebat atau melawan dua pendapat berbeda itu. Dukomen tertua berisi data yang dapat digunakan sebagai titik awal untuk menghasilkan diskusi dalam hal Korawasrama, sebuah risalah atau acuan bertanggal dari abad ke-16, sekitar enam abad setelah terjemahan epos itu sendiri.

    Berdasarkan Korawasrama, risalah itu adalah lanjutan dari Dwidasa parwa, yang terdiri dari delapan belas parwa, yaitu : Adhiparwa, Sabhaparwa, Udyogaparwa, Wirataparwa, Bhismaparwa, Dronaparwa, karnaparwa, Salyaparwa, Sauptikaparwa, Striparwa, Santiparwa, Anusasanaparwa, Uttarakanda, Aswamedhaparwa, Mausalaparwa, Prasthanikaparwa, Swargarohanaparwa dan Agastyaparwa.

    Seperti catatan Swellenggrebel, nama Dwidasaparwa dalam risalah itu nampaknya digunakan untuk menunjuk Mahabharara. Dia juga membenarkan bahwa wanaparwa dan Asramawasika parwa hilang dari daftar-daftar dan untuk membuat daftar turun temurun dari delapan belas parwa yang mengangkat Mahabharata lengkap. Uttarakanda dan Agastyaparwa ditambahkan.

    Seperti naskah dari dua parwa tambahan telah ditemukan dalam korpus dari naskah jawa kuno yang sampai pada kita, disana rupanya terdapat sedikit keraguan bahwa dua karya tersebut masuk dalam daftar sebab pengarang dari Korawasrama kenal akan keduanya. Itu diikuti sebuah perdebatan selanjutnya, bahwa 16 parwa lain yang disebutkan didalam daftar juga bagian dari literature yang masih ada hingga hari itu. Jika dalil itu benar, pendapat pigeaud bahwa tidak semua dari delapan belas buku Mahabharata telah diterjemahkan kedalam prosa jawa nampaknya benar.

    Situasinya bagaimanapun juga itu agak rumit, karena sementara tujuh dari tujuhbelas parwa hilang dari koleksi naskah jawa kuno di bermacam-macam perpus. Kedua parwa yang hilang dari daftar adalah bagian dari naskah yang masih ada dalam koleksi. Ini dapat diterjemahkan bahwa parwa-parwa yang masih ada pada saat itu.

    Mengingat fakta-fakta ini, yaitu bahwa pengarang dari daftar koramasrama emnambelas dari delapanbelas parwa dari Mahabharata dalam perjalananya dua naskah yang hilang adalah bagian dari naskah yang sampai pada kita, itu artinya bagi saya lebih masuk akal bahwa seluruh epos Mahabharata diterjemahkan kedalam jawa kuno. Tetapi beberapa dari parwa-parwa tersebut hilang seiring berjalanya waktu. Hal itu mungkin patut diperhatikan bahwa beberapa dari parwa yang hilang ini adalah bagian yang menceritakan perang besar dari keluarga Bharata. Mpu sedah dan panuluh, dua pujangga besar selama duabelas abad telah menyusun atau mengarang kakawin yang paling terkenal, Bharatayuddha, yang didasarkan pada perang keluarga Bharata. Hal itu mungkin yang popularitasnya luar biasa besar dan penghargaan yang tinggi kakawin ini dinikmati diantara orang Jawa dan Bali yang mungkin terhapus, membutuhkan untuk menulis kembali beberapa parwa-parwa menjadi subjek yang sama seperti kakawin.

    Pada akhirnya, kenyatan bahwa bagian pertama dan terakhir dari parwa-parwa yaitu Adiparwa dan Swargarohanaparwa berturut-turut diterjemahkan kedalam jawa kuna memperkuat argument diatas. Meskipun kita tidak dapat menyatakan dengan pasti parwa mana dalam Mahabharata yang diterjemahkan, karena hanya satu dari mereka yang diberi tanggal, ini lebih mungkin bahwa parwa-parwa diurutkan secara teratur, dari pertama hingga selanjutnya lebih baik daripada dengan acak. Ini selanjutnya meguatkan fakta bahwa Adiparwa, Wirataparwa dan Bhismaparwa semuanya menyebut nama Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama yang menandakan bahwa parwa tersebut diterjemahkan selama masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh. Di lain pihak, tidak disebutkan nama Dharmawangsa Teguh atau raja lain dalam Asramawasikaparwa atau Mausalaparwa atau Prasthanika parwa (Swargarohanaparwa, parwa terakhir tidak diumumkan begitu jauh). Apakah tidak disebutkan nama menandakan bahwa parwa-parwa terakhir dalam Mahabharata diterjemahkan selama masa peralihan yang kacau di Jawa Timur (yaitu setelah kematian Teguh th1017 tetapi sebelum Ailangga naik tahta th1035 )adalah pertanyaan yang sangat beresiko untuk dijawab.

    Dan saya berpendapat bahwa seluruh Mahabharata diterjemahkan kedalam jawa kuna dan oleh karena itu daftar parwa-parwa dari Mahabharata berdasarkan Korawasrama tidak lengkap. Di lain pihak, menyinggung Uttarakanda dalam daftar dari Dwidasaparwa berdasarkan Korawasrama rupanya untuk menunjukkan bahwa hanya satu kanda jawa kuna dari Ramayana yang diketahui oleh penulis dari Korawasrama. Karena ini cocok dengan fakta bahwa naskah yang ada hanya Uttarakanda adalah satu-satunya bagian Ramayana yang diterjemahkan kedalam bahasa jawa kuna. Dan faktanya adalah dalam jawa kuna kata parwa digunakan untuk menunjukkan prosa secara umum nampaknya menguatkan argument diatas. Seperti pemakaian tidak akan mungkin timbul banyak kanda yang ada sisi demi sisi dengan parwa-parwa baik dari awal.

    Karena Uttarakanda adalah terakhir dari tujuh tanda yang terdapat dalam epos Ramayana Valmiki, sedangkan dalam kasus Mahabharata , kita berpendapat bahwa parwa-parwa diterjemahkan dari parwa pertama dan seterusnya. Pertanyaan yang secara alami timbul mengapa bagian akhir dari epos Ramayana terjadi hanya satu-satunya itu dapat dikatakan merupakan pertama dan terakhir, diterjemahkan kedalam jawa kuna.

    Bagaimanapun ini tidak akan menjadi masalah, jika membutuhkan muncul untuk menterjemahkan Uttarakanda kedalam jawa kuna, ada sebuah buku yang berhadapan dengan pengembaraan Rama diceritakan dalam enam bagian pertama dari Ramayana Valmiki dengan demikian sesungguhnya dalam keadaan, seperti kakawin, yaitu Ramayana sudah ada lebih dari satu abad ketika salinan dari Uttarakanda dibuat.

    Ramayana jawa kuna sebagian besar adaptasi dari Ravanavadha (pembunuhan Ravana). Tujuh abad puisi Sanskrit ditulis oleh Bhatti (disini biasanya ditujukkan untuk Bhattikavya) dan walaupun bagian akhir dari kakawin berbeda dengan Bhattikawya. Berakhir seperti dalam karya Bhattikawya, yakni kembalinya Rama ke Ayodhya setelah kematian Ravana. Mengapa penulis tanpa nama dari Ramayana jawa kuna mengambil model dari karya Bhattikavya dan tidak Ramayana Valmiki, ini tidak jelas dan pertanyaanya mungkin tidak relevan bagi kita mengenai ini.

    Satu hal yang jelas bagaimanapun yaitu bahwa adaptasi Bhattikavya menunjukkan bahwa cerita Rama sangat popular di Jawa pada zaman dahulu. Ini juga bukti dari fakta bahwa beberapa bagian dari cerita dilukiskan di candi prambanan , yang dibangun sebelum penulisan Ramayana jawa kuna. Dan dari tulisan dikeluarkan oleh Dyah Balitung ,yang dipublikasikan oleh van Naerssen ini jelas bahwa pertunjukan Ramayana menunjukkan satu dari cirri-ciri favorit dalam peristiwa jawa pada zaman dahulu.

    Perkataan yang digunaan dalam tulisan macarita Ramayana. Van Naerssen berdebat bahwa dalam literatur jawa kuna macarita digunakan dalam merasakan penceritaan karya prosa. Jika argument ini benar, kita dapat menarik kesimpulan bahwa versi prosa cerita Rama sudah ada didalam zaman Balitung.

    Bagaimanapun, pendapat ini nampaknya tidak didukung adanya bukti. Seperti yang saya katakana sebelumnya, dalam jawa kuna kata parwa yang biasanya digunakan untuk menunjuk karya prosa, terutama dengan isi epos secara umum. Kata carita, dilain pihak, digunakan untuk menunjukkan cerita secara umum. Didalam kutipan diatas dari terjemahan Uttarakanda jawa kuna , untuk contoh, kami membaca ri telas ning Lengkapurakanda cinaritaken de bhagawan Balmiki. Sebagaimana karya valmiki yaitu bukanlah karya prosa, faktanya dimana penulis Uttarakanda jawa kuna harus disadar, cinaritaken dalam kutipan diatas tidak dapat diartikan “diceritakan dalam bentuk prosa”. Kata dasarnya carita ,karena itu dapat digunakan untuk menunjuk Sutasoma dan Arjunawijaya untuk mendukung saya.

    Dalam jawa kuna itu nampaknya tidak ada perbedaan dalam penggunaan antara cerita dan katha. Keduanya dapat digunakan untuk menunjuk prosa dan puisi. Dalam bait-bait dari Arjunawijaya, penulis dari Bali faktanya disebut Arjunawijaya, kakawin Arjunawijaya (naskah A) Arjunawijaya katha (naskah D). Dan satu naskah (F) sungguh menyebut cerita.

    Apapun kasusnya mungkin frase macarita Ramayana terjadi dalam tulisan diatas menunjukkan polpularitas dari kisah itu diantara orang jawa pada hari itu. Satu dari versi paling terkenal dari cerita Rama adalah Ramayana Valmiki. Epos ini juga mempertimbangkan buku suci dari umat Hindu. Kita boleh beranggapan bahwa orang pada jaman itu harus paham dengan versi dari cerita Rama. Ini menunjukkan bahwa mereka harus tahu cerita Rama setelah ia kembali ke Ayodhya (yang diceritakan kembali dalam Uttarakanda tapi tidak memaksakan tak hadir dari Ramayana kakawin). Ini dapat dimengerti pada saat itu, permintaan untuk sesuatu seperti tambahan untuk kakawin Ramayana timbul, mungkin suatu hari setelah kakawi asli dilupakan. Jadi Uttarakanda jawa kuna hadir untuk membuaat kakawin Ramayana lebih lengkap. Agaknya ini kemudian seperti pengulangan dari asal epos Ramayana disebutkan oleh Valmiki: orang merasa bahwa cerita tidak berakhir dengan pantas tanpa pahlawan kembali ke surga.

    BalasHapus
  29. MARTINDA MUTIARA SAPUTRI
    2102408119
    ROMBEL 4

    MOSALAPARWA

    Mosalaparwa adalah buku ke 16 Mahabharata. Adapun ceritanya mengisahkan musnahnya para Wresni dan Yadu, sebuah kaum dalam Negara Madura-Dwarawati tempat sang raja Kresna memerintah. Kisah ini juga menceritakan wafatnya raja Kresna dan saudaranya, raja Baladewa.

    Pada suatu hari sang Dewa Narada beserta beberapa pandita berkunjung ke Dwarawati. Waktu itu seseorang yang bernama sang Samba diberi busana wanita dan dikatakan permaisuri sang Babhru, raja Dwarawati, Kemudian mereka bertanya kepada sang pandita apabila sudah tiba saatnya melahirkan, apa yang keluar (maksudnya laki-laki atau perempuan). Sang pandita yang tahu sedang dipermainkan marah dan berkata: “Kelak ia akan melahirkan gada yang memusnahkan kamu semua” (mosala = gada).

    Ternyata ucapannya benar dan sang raja melahirkan gada besi yang kemudian dihancurkan sampai menjadi serbuk dan serbuknya dibuang ke laut. Lalu sang Baladewa dan sang Kresna melarang orang minum arak.

    Kemudian datanglah Dewa Kala, Dewa Maut dan ini adalah pertanda buruk. Lalu para Wresni disuruh membuat selamatan di pinggir pantai. Tetapi mereka minum arak dan mabuk. Lalu bertengkar ramai. Kemudian setiap orang mengambil gelagah yang berubah menjadi gada besi dan saling memukul sesama. Akhirnya para Wresni tewas semua.

    Pada waktu Baladewa meninggal dunia, keluar naga dari mulutnya dan naga ini masuk ke laut dan bergabung dengan naga-naga lainnya. Sedangkan Kresna wafat ketika beliau bertapa dengan berbaring di atas dahan pohon dan seorang pemburu (secara tidak sengaja) membunuhnya. Lalu Dwarawati mulai ditinggalkan penduduknya.


    Ringkasan isi Kitab Mosalaparwa

    Diceritakan bahwa pada saat Yudistira naik tahta, dunia telah memasuki zaman Kali Yuga atau zaman kegelapan. Beliau telah melihat tanda-tanda alam yang mengerikan, yang seolah-olah memberitahu bahwa sesuatu yang mengenaskan akan terjadi. Hal yang sama dirasakan oleh Kresna. Ia merasa bahwa kejayaan bangsanya akan berakhir, sebab ia melihat bahwa banyak pemuda Wresni, Yadawa, dan Andhaka yang telah menjadi sombong, takabur, dan senang minum minuman keras sampai mabuk.

    [sunting] Kutukan para brahmana

    Pada suatu hari, Narada beserta beberapa resi berkunjung ke Dwaraka. Beberapa pemuda yang jahil merencanakan sesuatu untuk mempermainkan para resi. Mereka mendandani Samba (putera Kresna dan Jembawati) dengan busana wanita dan diarak keliling kota lalu dihadapkan kepada para resi yang mengunjungi Dwaraka. Kemudian salah satu dari mereka berkata, "Orang ini adalah permaisuri Sang Babhru yang terkenal dengan kesaktiannya. Kalian adalah para resi yang pintar dan memiliki pengetahuan tinggi. Dapatkah kalian mengetahui, apa yang akan dilahirkannya? Bayi laki-laki atau perempuan?". Para resi yang tahu sedang dipermainkan menjadi marah dan berkata, "Orang ini adalah Sang Samba, keturunan Basudewa. Ia tidak akan melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan, melainkan senjata mosala yang akan memusnahkan kamu semua!" (mosala = gada)

    Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Sang Samba melahirkan gada besi dari dalam perutnya. Atas perintah Raja Ugrasena, senjata itu kemudian dihancurkan sampai menjadi serbuk. Beberapa bagian dari senjata tersebut sulit dihancurkan sehingga menyisakan sepotong besi kecil. Setelah senjata tersebut dihancurkan, serbuk dan serpihannya dibuang ke laut. Lalu Sang Baladewa dan Sang Kresna melarang orang minum arak. Legenda mengatakan bahwa serbuk-serbuk tersebut kembali ke pantai, dan dari serbuk tersebut tumbuhlah tanaman seperti rumput namun memiliki daun yang amat tajam bagaikan pedang. Potongan kecil yang sukar dihancurkan akhirnya ditelan oleh seekor ikan. Ikan tersebut ditangkap oleh nelayan lalu dijual kepada seorang pemburu. Pemburu yang membeli ikan itu menemukan potongan besi kecil dari dalam perut ikan yang dibelinya. Potongan besi itu lalu ditempa menjadi anak panah.

    [sunting] Musnahnya Wangsa Wresni, Andhaka, dan Yadawa
    Perkelahian antara Wangsa Wresni, Andhaka, dan Yadawa di Prabhasatirtha.

    Setelah senjata yang dilahirkan oleh Sang Samba dihancurkan, datanglah Batara Kala, Dewa Maut, dan ini adalah pertanda buruk. Atas saran Kresna, para Wresni, Yadawa dan Andhaka melakukan perjalanan suci menuju Prabhastirtha, dan mereka melangsungkan upacara di pinggir pantai. Di pantai, para Wresni, Andhaka dan Yadawa tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruk mereka, yaitu minum arak sampai mabuk. Dalam keadaan mabuk, Satyaki berkata, "Kertawarma, kesatria macam apa kau ini? Dalam Bharatayuddha dahulu, engkau telah membunuh para putera Dropadi, termasuk Drestadyumna dan Srikandi dalam keadaan tidur. Perbuatan macam apa yang kau lakukan?". Ucapan tersebut disambut oleh tepuk tangan dari Pradyumna, yang artinya bahwa ia mendukung pendapat Satyaki. Kertawarma marah dan berkata, "Kau juga kejam, membunuh Burisrawa yang tak bersenjata, yang sedang meninggalkan medan laga untuk memulihkan tenaga".

    Setelah saling melontarkan ejekan, mereka bertengkar ramai. Satyaki mengambil pedang lalu memenggal kepala Kertawarma di hadapan Kresna. Melihat hal itu, para Wresni marah lalu menyerang Satyaki. Putera Rukmini menjadi garang, kemudian membantu Satyaki. Setelah beberapa lama, kedua kesatria perkasa tersebut tewas di hadapan Kresna. Kemudian setiap orang berkelahi satu sama lain, dengan menggunakan apapun sebagai senjata, termasuk tanaman eruka yang tumbuh di sekitar tempat tersebut. Ketika dicabut, daun tanaman tersebut berubah menjadi senjata setajam pedang. Dengan memakai senjata tersebut, para keturunan Wresni, Andhaka, dan Yadu saling membunuh sesama. Tidak peduli kawan atau lawan, bahkan ayah dan anak saling bunuh. Anehnya, tak seorang pun yang berniat untuk meninggalkan tempat itu. Dengan mata kepalanya sendiri, Kresna menyadari bahwa rakyatnya digerakkan oleh takdir kehancuran mereka. Dengan menahan kepedihan, ia mencabut segenggam rumput eruka dan mengubahnya menjadi senjata yang dapat meledak kapan saja. Setelah putera dan kerabat-kerabatnya tewas, ia melemparkan senjata di tangannya ke arah para Wresni dan Yadawa yang sedang berkelahi. Senjata tersebut meledak dan mengakhiri riwayat mereka semua.

    Akhirnya para keturunan Wresni, Andhaka dan Yadu tewas semua di Prabhasatirtha, dan disaksikan oleh Kresna. Hanya para wanita dan beberapa kesatria yang masih hidup, seperti misalnya Babhru dan Bajra. Kresna tahu bahwa ia mampu menyingkirkan kutukan brahmana yang mengakibatkan bangsanya hancur, namun ia tidak mau mengubah kutukan Gandari dan jalannya takdir. Setelah menyaksikan kehancuran bangsa Wresni, Yadawa, dan Andhaka dengan mata kepalanya sendiri, Kresna menyusul Baladewa yang sedang bertapa di dalam hutan. Babhru disuruh untuk melindungi para wanita yang masih hidup sedangkan Daruka disuruh untuk memberitahu berita kehancuran rakyat Kresna ke hadapan Raja Yudistira di Hastinapura.

    Di dalam hutan, Baladewa meninggal dunia. Kemudian keluar naga dari mulutnya dan naga ini masuk ke laut untuk bergabung dengan naga-naga lainnya. Setelah menyaksikan kepergian kakaknya, Kresna mengenang segala peristiwa yang menimpa bangsanya. Pada saat ia berbaring di bawah pohon, seorang pemburu bernama Jara (secara tidak sengaja) membunuhnya dengan anak panah dari sepotong besi yang berasal dari senjata mosala yang telah dihancurkan. Ketika sadar bahwa yang ia panah bukanlah seekor rusa, Jara meminta ma'af kepada Kresna. Kresna tersenyum dan berkata, "Apapun yang akan terjadi sudah terjadi. Aku sudah menyelesaikan hidupku". Sebelum Kresna wafat, teman Kresna yang bernama Daruka diutus untuk pergi ke Hastinapura, untuk memberi tahu para keturunan Kuru bahwa Wangsa Wresni, Andhaka, dan Yadawa telah hancur. Setelah Kresna wafat, Dwaraka mulai ditinggalkan penduduknya.

    [sunting] Hancurnya Kerajaan Dwaraka

    Ketika Daruka tiba di Hastinapura, ia segera memberitahu para keturunan Kuru bahwa keturunan Yadu di Kerajaan Dwaraka telah binasa karena perang saudara. Beberapa di antaranya masih bertahan hidup bersama sejumlah wanita. Setelah mendengar kabar sedih tersebut, Arjuna mohon pamit demi menjenguk paman dari pihak ibunya, yaitu Basudewa. Dengan diantar oleh Daruka, ia pergi menuju Dwaraka.

    Setibanya di Dwaraka, Arjuna mengamati bahwa kota tersebut telah sepi. Ia juga berjumpa dengan janda-janda yang ditinggalkan oleh para suaminya, yang meratap dan memohon agar Arjuna melindungi mereka. Kemudian Arjuna bertemu dengan Basudewa yang sedang lunglai. Setelah menceritakan kesdiahnnya kepada Arjuna, Basudewa mangkat. Sesuai dengan amanat yang diberikan kepadanya, Arjuna mengajak para wanita dan beberapa kesatria untuk mengungsi ke Kurukshetra. Sebab menurut pesan terakhir dari Sri Kresna, kota Dwaraka akan disapu oleh gelombang samudra, tujuh hari setelah ia wafat.

    Dalam perjalanan menuju Kurukshetra, rombongan Arjuna dihadang oleh sekawanan perampok. Anehnya, kekuatan Arjuna seoleh-oleh lenyap ketika berhadapan dengan perampok tersebut. Ia sadar bahwa takdir kemusnahan sedang bergerak. Akhirnya beberapa orang berhasil diselamatkan namun banyak harta dan wanita yang hilang. Di Kurukshetra, para Yadawa dipimpin oleh Bajra.

    Setelah menyesali peristiwa yang menimpa dirinya, Arjuna menemui kakeknya, yaitu Resi Byasa. Atas nasihat beliau, para Pandawa serta Dropadi memutuskan untuk melakukan perjelanan suci untuk meninggalkan kehidupan duniawi.

    BalasHapus
  30. nama : dwi agung yanu saputra
    nim : 2102408011
    rombel : rombel


    Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Karya Sunan Kalijaga

    MENATAP zaman edan yang begitu menyengsarakan sendi-sendi kehidupan rakyat, hidup serba tidak menentu, semuanya serba sulit menentukan sikap, serta tidak ada fundamen keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang benar dan kokoh, sebenarnya sudah diantisipasi nenek moyang kita jauh hari sebelum hal itu terjadi. Orang-orang yang Waskita ”wong kang limpad ing budi” (orang-orang yang mampu membaca tanda jaman).

    Salah satu alternatif dari sumbangan orang Jawa menghadapi jaman edan ialah membaca ”Kidung Rumekso Ing Wengi”(KRIW), yang merupakan karya Sunan Kalijaga sehabis sembahyang malam, kidung ini sudah terkenal di wilayah Nusantara dan sering dilantunkan di pedesaan pada pertunjukkan ketoprak, wayang kulit dll atau peronda di malam hari yang sunyi.

    Bait yang utama dari KRIW itu sangat dikenal karena berisi mantra tolak balak, sedangkan bait selanjutnya yang berjumlah delapan jarang dinyanyikan karena dianggap terlalu panjang.

    Laku kidung ini mengingatkan manusia agar mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dahsyat. Dengan demikian kita dituntut untuk senantiasa berbakti, beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    Sedangkan fungsi kidung secara eksplisit tersurat dalam kalimat kidung itu, yang antara lain; Penolak balak di malam hari, seperti teluh, santet, duduk, ngama, maling, penggawe ala dan semua malapetaka. Pembebas semua benda . Pemyembuh penyakit, termasuk gila. Pembebas pageblug. Pemercepat jodoh bagi perawan tua. Menang dalam perang . Memperlancar cita-cita luhur dan mulia.


    Kidung Rumeksa Ing Wengi
    ----------------------------

    Ana kidung rumekso ing wengi
    Teguh hayu luputa ing lara
    luputa bilahi kabeh
    jim setan datan purun
    paneluhan tan ana wani
    niwah panggawe ala
    gunaning wong luput
    geni atemahan tirta
    maling adoh tan ana ngarah ing mami
    guna duduk pan sirno

    Sakehing lara pan samya bali
    Sakeh ngama pan sami mirunda
    Welas asih pandulune
    Sakehing braja luput
    Kadi kapuk tibaning wesi
    Sakehing wisa tawa
    Sato galak tutut
    Kayu aeng lemah sangar
    Songing landhak guwaning
    Wong lemah miring
    Myang pakiponing merak

    Pagupakaning warak sakalir
    Nadyan arca myang segara asat
    Temahan rahayu kabeh
    Apan sarira ayu
    Ingideran kang widadari
    Rineksa malaekat
    Lan sagung pra rasul
    Pinayungan ing Hyang Suksma
    Ati Adam utekku baginda Esis
    Pangucapku ya Musa

    Napasku nabi Ngisa linuwih
    Nabi Yakup pamiryarsaningwang
    Dawud suwaraku mangke
    Nabi brahim nyawaku
    Nabi Sleman kasekten mami
    Nabi Yusuf rupeng wang
    Edris ing rambutku
    Baginda Ngali kuliting wang
    Abubakar getih daging Ngumar singgih
    Balung baginda ngusman

    Sumsumingsun Patimah linuwih
    Siti aminah bayuning angga
    Ayup ing ususku mangke
    Nabi Nuh ing jejantung
    Nabi Yunus ing otot mami
    Netraku ya Muhamad
    Pamuluku Rasul
    Pinayungan Adam Kawa
    Sampun pepak sakathahe para nabi
    Dadya sarira tunggal


    Terjemahan dalam bahasa indonesia:

    Ada kidung rumekso ing wengi. Yang menjadikan kuat selamat terbebas
    dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun
    tidak mau. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat.
    guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku.
    Segala bahaya akan lenyap.

    Semua penyakit pulang ketempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh dibesi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak. Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.

    Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya semua slamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan. Hatiku Adam dan otakku nabi Sis. Ucapanku adalah nabi Musa.

    Nafasku nabi Isa yang teramat mulia. Nabi Yakup pendenganranku. Nabi Daud menjadi suaraku. Nabi Ibrahim sebagai nyawaku. Nabi sulaiman
    menjadi kesaktianku. Nabi Yusuf menjadi rupaku. Nabi Idris menjadi
    rupaku. Ali sebagai kulitku. Abubakar darahku dan Umar dagingku.
    Sedangkan Usman sebagai tulangku.

    Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia. Siti fatimah sebagai
    kekuatan badanku. Nanti nabi Ayub ada didalam ususku. Nabi Nuh
    didalam jantungku. Nabi Yunus didalam otakku. Mataku ialah Nabi
    Muhamad. Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa. Maka
    lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.

    BalasHapus
  31. nama : dwi agung yanu saputra
    nim : 2102408011
    rombel : 1 (satu)


    Kidung Rumekso Ing Wengi

    Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Karya Sunan Kalijaga


    MENATAP zaman edan yang begitu menyengsarakan sendi-sendi kehidupan rakyat, hidup serba tidak menentu, semuanya serba sulit menentukan sikap, serta tidak ada fundamen keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang benar dan kokoh, sebenarnya sudah diantisipasi nenek moyang kita jauh hari sebelum hal itu terjadi. Orang-orang yang Waskita ”wong kang limpad ing budi” (orang-orang yang mampu membaca tanda jaman).

    Salah satu alternatif dari sumbangan orang Jawa menghadapi jaman edan ialah membaca ”Kidung Rumekso Ing Wengi”(KRIW), yang merupakan karya Sunan Kalijaga sehabis sembahyang malam, kidung ini sudah terkenal di wilayah Nusantara dan sering dilantunkan di pedesaan pada pertunjukkan ketoprak, wayang kulit dll atau peronda di malam hari yang sunyi.

    Bait yang utama dari KRIW itu sangat dikenal karena berisi mantra tolak balak, sedangkan bait selanjutnya yang berjumlah delapan jarang dinyanyikan karena dianggap terlalu panjang.

    Laku kidung ini mengingatkan manusia agar mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dahsyat. Dengan demikian kita dituntut untuk senantiasa berbakti, beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    Sedangkan fungsi kidung secara eksplisit tersurat dalam kalimat kidung itu, yang antara lain; Penolak balak di malam hari, seperti teluh, santet, duduk, ngama, maling, penggawe ala dan semua malapetaka. Pembebas semua benda . Pemyembuh penyakit, termasuk gila. Pembebas pageblug. Pemercepat jodoh bagi perawan tua. Menang dalam perang . Memperlancar cita-cita luhur dan mulia.


    Kidung Rumeksa Ing Wengi
    ----------------------------

    Ana kidung rumekso ing wengi
    Teguh hayu luputa ing lara
    luputa bilahi kabeh
    jim setan datan purun
    paneluhan tan ana wani
    niwah panggawe ala
    gunaning wong luput
    geni atemahan tirta
    maling adoh tan ana ngarah ing mami
    guna duduk pan sirno

    Sakehing lara pan samya bali
    Sakeh ngama pan sami mirunda
    Welas asih pandulune
    Sakehing braja luput
    Kadi kapuk tibaning wesi
    Sakehing wisa tawa
    Sato galak tutut
    Kayu aeng lemah sangar
    Songing landhak guwaning
    Wong lemah miring
    Myang pakiponing merak

    Pagupakaning warak sakalir
    Nadyan arca myang segara asat
    Temahan rahayu kabeh
    Apan sarira ayu
    Ingideran kang widadari
    Rineksa malaekat
    Lan sagung pra rasul
    Pinayungan ing Hyang Suksma
    Ati Adam utekku baginda Esis
    Pangucapku ya Musa

    Napasku nabi Ngisa linuwih
    Nabi Yakup pamiryarsaningwang
    Dawud suwaraku mangke
    Nabi brahim nyawaku
    Nabi Sleman kasekten mami
    Nabi Yusuf rupeng wang
    Edris ing rambutku
    Baginda Ngali kuliting wang
    Abubakar getih daging Ngumar singgih
    Balung baginda ngusman

    Sumsumingsun Patimah linuwih
    Siti aminah bayuning angga
    Ayup ing ususku mangke
    Nabi Nuh ing jejantung
    Nabi Yunus ing otot mami
    Netraku ya Muhamad
    Pamuluku Rasul
    Pinayungan Adam Kawa
    Sampun pepak sakathahe para nabi
    Dadya sarira tunggal


    Terjemahan dalam bahasa indonesia:

    Ada kidung rumekso ing wengi. Yang menjadikan kuat selamat terbebas
    dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun
    tidak mau. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat.
    guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku.
    Segala bahaya akan lenyap.

    Semua penyakit pulang ketempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh dibesi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak. Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.

    Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya semua slamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan. Hatiku Adam dan otakku nabi Sis. Ucapanku adalah nabi Musa.

    Nafasku nabi Isa yang teramat mulia. Nabi Yakup pendenganranku. Nabi Daud menjadi suaraku. Nabi Ibrahim sebagai nyawaku. Nabi sulaiman
    menjadi kesaktianku. Nabi Yusuf menjadi rupaku. Nabi Idris menjadi
    rupaku. Ali sebagai kulitku. Abubakar darahku dan Umar dagingku.
    Sedangkan Usman sebagai tulangku.

    Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia. Siti fatimah sebagai
    kekuatan badanku. Nanti nabi Ayub ada didalam ususku. Nabi Nuh
    didalam jantungku. Nabi Yunus didalam otakku. Mataku ialah Nabi
    Muhamad. Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa. Maka
    lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.

    BalasHapus
  32. Nama : IKA NOVIANA WIDIASARI
    NIM : 2102408001
    Rombel : 1

    SYEKH SITI JENAR

    Saat Pemerintahan Kerajaan Islam Sultan Bintoro Demak I (1499) Kehadiran Syekh Siti Jenar ternyata menimbulkan kontraversi, apakah benar ada atau hanya tokoh imajiner yang direkayasa untuk suatu kepentingan politik. Tentang ajarannya sendiri, sangat sulit untuk dibuat kesimpulan apa pun, karena belum pernah diketemukan ajaran tertulis yang membuktikan bahwa itu tulisan Syekh Siti Jenar, kecuali menurut para penulis yang identik sebagai penyalin yang berakibat adanya berbagai versi. Tapi suka atau tidak suka, kenyataan yang ada menyimpulkan bahwa Syekh Siti Jenar dengan falsafah atau faham dan ajarannya sangat terkenal di berbagai kalangan Islam khususnya orang Jawa, walau dengan pandangan berbeda-beda. Pandangan Syekh Siti Jenar yang menganggap alam kehidupan manusia di dunia sebagai kematian, sedangkan setelah menemui ajal disebut sebagai kehidupan sejati, yang mana ia adalah manusia dan sekaligus Tuhan, sangat menyimpang dari pendapat Wali Songo, dalil dan hadits, sekaligus yang berpedoman pada hukum Islam yang bersendikan sebagai dasar dan pedoman kerajaan Demak dalam memerintah yang didukung oleh para Wali.

    Siti Jenar dianggap telah merusak ketenteraman dan melanggar peraturan kerajaan, yang menuntun dan membimbing orang secara salah, menimbulkan huru-hara, merusak kelestarian dan keselamatan sesama manusia. Oleh karena itu, atas legitimasi dari Sultan Demak, diutuslah beberapa Wali ke tempat Siti Jenar di suatu daerah (ada yang mengatakan desa Krendhasawa), untuk membawa Siti Jenar ke Demak atau memenggal kepalanya. Akhirnya Siti Jenar wafat (ada yang mengatakan dibunuh, ada yang mengatakan bunuh diri). Akan tetapi kematian Siti Jenar juga bisa jadi karena masalah politik, berupa perebutan kekuasaan antara sisa-sisa Majapahit non Islam yang tidak menyingkir ke timur dengan kerajaan Demak, yaitu antara salah satu cucu Brawijaya V yang bernama Ki Kebokenongo/Ki Ageng Pengging dengan salah satu anak Brawijaya V yang bernama Jin Bun/R. Patah yang memerintah kerajaan Demak dengan gelar Sultan Bintoro Demak I, dimana Kebokenongo yang beragama Hindu-Budha beraliansi dengan Siti Jenar yang beragama Islam. Nama lain dari Syekh Siti Jenar antara lain Seh Lemahbang atau Lemah Abang, Seh Sitibang, Seh Sitibrit atau Siti Abri, Hasan Ali Ansar dan Sidi Jinnar.

    Menurut Bratakesawa dalam bukunya Falsafah Siti Djenar (1954) dan buku Wejangan Wali Sanga himpunan Wirjapanitra, dikatakan bahwa saat Sunan Bonang memberi pelajaran iktikad kepada Sunan Kalijaga di tengah perahu yang saat bocor ditambal dengan lumpur yang dihuni cacing lembut, ternyata si cacing mampu dan ikut berbicara sehingga ia disabda Sunan Bonang menjadi manusia, diberi nama Seh Sitijenar dan diangkat derajatnya sebagai Wali. Dalam naskah yang tersimpan di Musium Radyapustaka Solo, dikatakan bahwa ia berasal dari rakyat kecil yang semula ikut mendengar saat Sunan Bonang mengajar ilmu kepada Sunan kalijaga di atas perahu di tengah rawa. Sedangkan dalam buku Sitijenar tulisan Tan Koen Swie (1922), dikatakan bahwa Sunan Giri mempunyai murid dari negeri Siti Jenar yang kaya kesaktian bernama Kasan Ali Saksar, terkenal dengan sebutan Siti Jenar (Seh Siti Luhung/Seh Lemah Bang/Lemah Kuning), karena permohonannya belajar tentang makna ilmu rasa dan asal mula kehidupan tidak disetujui Sunan Bonang, maka ia menyamar dengan berbagai cara secara diam-diam untuk mendengarkan ajaran Sunan Giri. Namun menurut Sulendraningrat dalam bukunya Sejarah Cirebon (1985) dijelaskan bahwa Syeh Lemahabang berasal dari Bagdad beraliran Syi’ah Muntadar yang menetap di Pengging Jawa Tengah dan mengajarkan agama kepada Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) dan masyarakat, yang karena alirannya ditentang para Wali di Jawa maka ia dihukum mati oleh Sunan Kudus di Masjid Sang Cipta Rasa (Masjid Agung Cirebon) pada tahun 1506 Masehi dengan Keris Kaki Kantanaga milik Sunan Gunung Jati dan dimakamkan di Anggaraksa/Graksan/Cirebon. Informasi tambahan di sini, bahwa Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) adalah cucu Raja Brawijaya V (R. Alit/Angkawijaya/Kertabumi yang bertahta tahun 1388), yang dilahirkan dari putrinya bernama Ratu Pembayun (saudara dari Jin Bun/R. Patah/Sultan Bintoro Demak I yang bertahta tahun 1499) yang dinikahi Ki Jayaningrat/Pn. Handayaningrat di Pengging. Ki Ageng Pengging wafat dengan caranya sendiri setelah kedatangan Sunan Kudus atas perintah Sultan Bintoro Demak I untuk memberantas pembangkang kerajaan Demak. Nantinya, di tahun 1581, putra Ki Ageng Pengging yaitu Mas Karebet, akan menjadi Raja menggantikan Sultan Demak III (Sultan Demak II dan III adalah kakak-adik putra dari Sultan Bintoro Demak I) yang bertahta di Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijoyo Pajang I.

    Keberadaan Siti Jenar diantara Wali-wali (ulama-ulama suci penyebar agama Islam yang mula-mula di Jawa) berbeda-beda, dan malahan menurut beberapa penulis ia tidak sebagai Wali. Mana yang benar, terserah pendapat masing-masing. Sekarang mari kita coba menyoroti falsafah/faham/ajaran Siti Jenar. Konsepsi Ketuhanan, Jiwa, Alam Semesta, Fungsi Akal dan Jalan Kehidupan dalam pandangan Siti Jenar dalam buku Falsafah Siti Jenar tulisan Brotokesowo (1956) yang berbentuk tembang dalam bahasa Jawa, yang sebagian merupakan dialog antara Siti Jenar dengan Ki Ageng Pengging, yaitu kira-kira:

    1. Siti Jenar yang mengaku mempunyai sifat-sifat dan sebagai dzat Tuhan, dimana sebagai manusia mempunyai 20 (dua puluh) atribut/sifat yang dikumpulkan di dalam budi lestari yang menjadi wujud mutlak dan disebut dzat, tidak ada asal-usul serta tujuannya.

    2. Hyang Widi sebagai suatu ujud yang tak tampak, pribadi yang tidak berawal dan berakhir, bersifat baka, langgeng tanpa proses evolusi, kebal terhadap sakit dan sehat, ada dimana-mana, bukan ini dan itu, tak ada yang mirip atau menyamai, kekuasaan dan kekuatannya tanpa sarana, kehadirannya dari ketiadaan, luar dan dalam tiada berbeda, tidak dapat diinterpretasikan, menghendaki sesuatu tanpa dipersoalkan terlebih dahulu, mengetahui keadaan jauh diatas kemampuan pancaindera, ini semua ada dalam dirinya yang bersifat wujud dalam satu kesatuan, Hyang Suksma ada dalam dirinya.

    3. Siti Jenar menganggap dirinya inkarnasi dari dzat yang luhur, bersemangat, sakti, kebal dari kematian, manunggal dengannya, menguasai ujud penampilannya, tidak mendapat suatu kesulitan, berkelana kemana-mana, tidak merasa haus dan lesu, tanpa sakit dan lapar, tiada menyembah Tuhan yang lain kecuali setia terhadap hati nurani, segala sesuatu yang terjadi adalah ungkapan dari kehendak dzat Allah.

    4. Segala sesuatu yang terjadi adalah ungkapan dari kehendak dzat Allah, maha suci, sholat 5 (lima) waktu dengan memuji dan dzikir adalah kehendak pribadi manusia dengan dorongan dari badan halusnya, sebab Hyang Suksma itu sebetulnya ada pada diri manusia.

    5. Wujud lahiriah Siti jenar adalah Muhammad, memiliki kerasulan, Muhammad bersifat suci, sama-sama merasakan kehidupan, merasakan manfaat pancaindera.

    6. Kehendak angan-angan serta ingatan merupakan suatu bentuk akal yang tidak kebal atas kegilaan, tidak jujur dan membuat kepalsuan demi kesejahteraan pribadi, bersifat dengki memaksa, melanggar aturan, jahat dan suka disanjung, sombong yang berakhir tidak berharga dan menodai penampilannya.

    7. Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia, jasad busuk bercampur debu menjadi najis, nafas terhembus di segala penjuru dunia, tanah dan air serta api kembali sebagai asalnya, menjadi baru.

    Dalam buku Suluk Wali Sanga tulisan R. Tanojo dikatakan bahwa : Tuhan itu adalah wujud yang tidak dapat di lihat dengan mata, tetapi dilambangkan seperti bintang bersinar cemerlang yang berwujud samar-samar bila di lihat, dengan warna memancar yang sangat indah; Siti Jenar mengetahui segala-galanya sebelum terucapkan melebihi makhluk lain ( kawruh sakdurunge minarah), karena itu ia juga mengaku sebagai Tuhan; Sedangkan mengenai dimana Tuhan, dikatakan ada di dalam tubuh, tetapi hanya orang terpilih (orang suci) yang bisa melihatnya, yang mana Tuhan itu (Maha Mulya) tidak berwarna dan tidak terlihat, tidak bertempat tinggal kecuali hanya merupakan tanda yang merupakan wujud Hyang Widi; Hidup itu tidak mati dan hidup itu kekal, yang mana dunia itu bukan kehidupan (buktinya ada mati) tapi kehidupan dunia itu kematian, bangkai yang busuk, sedangkan orang yang ingin hidup abadi itu adalah setelah kematian jasad di dunia; Jiwa yang bersifat kekal/langgeng setelah manusia mati (lepas dari belenggu badan manusia) adalah suara hati nurani, yang merupakan ungkapan dari dzat Tuhan dan penjelmaan dari Hyang Widi di dalam jiwa dimana raga adalah wajah Hyang Widi, yang harus ditaati dan dituruti perintahnya.

    Dalam buku Bhoekoe Siti Djenar karya Tan Khoen Swie (1931) dikatakan bahwa : Saat diminta menemui para Wali, dikatakan bahwa ia manusia sekaligus Tuhan, bergelar Prabu Satmata; Ia menganggap Hyang Widi itu suatu wujud yang tak dapat dilihat mata, dilambangkan seperti bintang-bintang bersinar cemerlang, warnanya indah sekali, memiliki 20 (dua puluh) sifat (antara lain : ada, tak bermula, tak berakhir, berbeda dengan barang yang baru, hidup sendiri dan tanpa bantuan sesuatu yang lain, kuasa, kehendak, mendengar, melihat, ilmu, hidup, berbicara) yang terkumpul menjadi satu wujud mutlak yang disebut DZAT dan itu serupa dirinya, jelmaan dzat yang tidak sakit dan sehat, akan menghasilkan perwatakan kebenaran, kesempurnaan, kebaikan dan keramah-tamahan; Tuhan itu menurutnya adalah sebuah nama dari sesuatu yang asing dan sulit dipahami, yang hanya nyata melalui kehadiran manusia dalam kehidupan duniawi.

    Menurut buku Pantheisme en Monisme in de Javaavsche tulisan Zoetmulder, SJ.(1935) dikatakan bahwa Siti Jenar memandang dalam kematian terdapat sorga neraka, bahagia celaka ditemui, yakni di dunia ini. Sorga neraka sama, tidak langgeng bisa lebur, yang kesemuanya hanya dalam hati saja, kesenangan itu yang dinamakan sorga sedangkan neraka, yaitu sakit di hati. Namun banyak ditafsirkan salah oleh para pengikutnya, yang berusaha menjalani jalan menuju kehidupan (ngudi dalan gesang) dengan membuat keonaran dan keributan dengan cara saling membunuh, demi mendapatkan jalan pelepasan dari kematian. Siti Jenar yang berpegang pada konsep bahwa manusia adalah jelmaan dzat Tuhan, maka ia memandang alam semesta sebagai makrokosmos sama dengan mikrokosmos. Manusia terdiri dari jiwa dan raga yang mana jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan dan raga adalah bentuk luar dari jiwa dengan dilengkapi pancaindera maupun berbagai organ tubuh. Hubungan jiwa dan raga berakhir setelah manusia mati di dunia, menurutnya sebagai lepasnya manusia dari belenggu alam kematian di dunia, yang selanjutnya manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian. Siti Jenar memandang bahwa pengetahuan tentang kebenaran Ketuhanan diperoleh manusia bersamaan dengan penyadaran diri manusia itu sendiri, karena proses timbulnya pengetahuan itu bersamaan dengan proses munculnya kesadaran subyek terhadap obyek (proses intuitif).

    Menurut Widji Saksono dalam bukunya Al-Jami’ah (1962) dikatakan bahwa wejangan pengetahuan dari Siti jenar kepada kawan-kawannya ialah tentang penguasaan hidup, tentang pintu kehidupan, tentang tempat hidup kekal tak berakhir di kelak kemudian hari, tentang hal mati yang dialami di dunia saat ini dan tentang kedudukannya yang Mahaluhur. Dengan demikian tidaklah salah jika sebagian orang ajarannya merupakan ajaran kebatinan dalam artian luas, yang lebih menekankan aspek kejiwaan dari pada aspek lahiriah, sehingga ada juga yang menyimpulkan bahwa konsepsi tujuan hidup manusia tidak lain sebagai bersatunya manusia dengan Tuhan (Manunggaling Kawula-Gusti).

    Dalam pandangan Siti Jenar, Tuhan adalah dzat yang mendasari dan sebagai sebab adanya manusia, flora, fauna dan segala yang ada, sekaligus yang menjiwai segala sesuatu yang berwujud, yang keberadaannya tergantung pada adanya dzat itu. Ini dibuktikan dari ucapan Siti Jenar bahwa dirinya memiliki sifat-sifat dan secitra Tuhan/Hyang Widi. Namun dari berbagai penulis dapat diketahui bahwa bisa jadi benturan kepentingan antara kerajaan Demak dengan dukungan para Wali yang merasa hegemoninya terancam yang tidak hanya sebatas keagamaan (Islam), tapi juga dukungan nyata secara politis tegaknya pemerintahan Kesultanan di tanah Jawa (aliansi dalam bentuk Sultan mengembangkan kemapanan politik sedang para Wali menghendaki perluasan wilayah penyebaran Islam).

    Dengan sisa-sisa pengikut Majapahit yang tidak menyingkir ke timur dan beragama Hindu-Budha yang memunculkan tokoh kontraversial beserta ajarannya yang dianggap “subversif” yaitu Syekh Siti Jenar (mungkin secara diam-diam Ki Kebokenongo hendak mengembalikan kekuasaan politik sekaligus keagamaan Hindu-Budha sehingga bergabung dengan Siti jenar). Bisa jadi pula, tragedi Siti Jenar mencerminkan perlawanan kaum pinggiran terhadap hegemoni Sultan Demak yang memperoleh dukungan dan legitimasi spiritual para Wali yang pada saat itu sangat berpengaruh. Disini politik dan agama bercampur-aduk, yang mana pasti akan muncul pemenang, yang terkadang tidak didasarkan pada semangat kebenaran. Kaitan ajaran Siti Jenar dengan Manunggaling Kawula-Gusti seperti dikemukakan di atas, perlu diinformasikan di sini bahwa sepanjang tulisan mengenai Siti Jenar yang diketahui, tidak ada secara eksplisit yang menyimpulkan bahwa ajarannya itu adalah Manunggaling Kawula-Gusti, yang merupakan asli bagian dari budaya Jawa.

    Sebab Manunggaling Kawula-Gusti khususnya dalam konteks religio spiritual, menurut Ir. Sujamto dalam bukunya Pandangan Hidup Jawa (1997), adalah pengalaman pribadi yang bersifat “tak terbatas” (infinite) sehingga tak mungkin dilukiskan dengan kata untuk dimengerti orang lain. Seseorang hanya mungkin mengerti dan memahami pengalaman itu kalau ia pernah mengalaminya sendiri. Dikatakan bahwa dalam tataran kualitas, Manunggaling Kawula-Gusti adalah tataran yang dapat dicapai tertinggi manusia dalam meningkatkan kualitas dirinya. Tataran ini adalah Insan Kamilnya kaum Muslim, Jalma Winilisnya aliran kepercayaan tertentu atau Satriyapinandhita dalam konsepsi Jawa pada umumnya, Titik Omeganya Teilhard de Chardin atau Kresnarjunasamvadanya Radhakrishnan. Yang penting baginya bukan pengalaman itu, tetapi kualitas diri yang kita pertahankan secara konsisten dalam kehidupan nyata di masyarakat. Pengalaman tetaplah pengalaman, tak terkecuali pengalaman paling tinggi dalam bentuk Manunggaling kawula Gusti, yang tak lebih pula dari memperkokoh laku. Laku atau sikap dan tindakan kita sehari-hari itulah yang paling penting dalam hidup ini. Kalau misalnya dengan kekhusuk-an manusia semedi malam ini, ia memperoleh pengalaman mistik atau pengalaman religius yang disebut Manunggaling Kawula-Gusti, sama sekali tidak ada harga dan manfaatnya kalau besok atau lusa lantas menipu atau mencuri atau korupsi atau melakukan tindakan-rindakan lain yang tercela.

    Kisah Dewa Ruci adalah yang menceritakan kejujuran dan keberanian membela kebenaran, yang tanpa kesucian tak mungkin Bima berjumpa Dewa Ruci. Kesimpulannya, Manunggaling Kawula-Gusti bukan ilmu melainkan hanya suatu pengalaman, yang dengan sendirinya tidak ada masalah boleh atau tidak boleh, tidak ada ketentuan/aturan tertentu, boleh percaya atau tidak percaya. Kita akhiri kisah singkat tentang Syekh Siti Jenar, dengan bersama-sama merenungkan kalimat berikut yang berbunyi : “Janganlah Anda mencela keyakinan/kepercayaan orang lain, sebab belum tentu kalau keyakinan/kepercayaan Anda itu yang benar sendiri”. Sidang para Wali Sunan Giri membuka musyawarah para wali. Dalam musyawarah itu ia mengajukan masalah Syeh Siti Jenar. Ia menjelaskan bahwa Syeh Siti Jenar telah lama tidak kelihatan bersembahyang jemaah di masjid. Hal ini bukanlah perilaku yang normal. Syeh Maulana Maghribi berpendapat bahwa itu akan menjadi contoh yang kurang baik dan bisa membuat orang mengira wali teladan meninggalkan syariah nabi Muhammad. Sunan Giri kemudian mengutus dua orang santrinya ke gua tempat syeh Siti Jenar bertapa dan memintanya untuk datang ke masjid. Ketika mereka tiba, mereka diberitahu hanya ALLAH yang ada dalam gua.Mereka kembali ke masjid untuk melaporkan hal ini kepada Sunan Giri dan para wali lainnya. Sunan Giri kemudian menyuruh mereka kembali ke gua dan menyuruh ALLAH untuk segera menghadap para wali. Kedua santri itu kemudian diberitahu, ALLAH tidak ada dalam gua, yang ada hanya Syeh Siti Jenar. Mereka kembali kepada Sunan Giri untuk kedua kalinya. Sunan Giri menyuruh mereka untuk meminta datang baik ALLAH maupun Syeh Siti Jenar. Kali ini Syeh Siti Jenar keluar dari gua dan dibawa ke masjid menghadap para wali. Ketika tiba Syeh Siti Jenar memberi hormat kepada para wali yang tua dan menjabat tangan wali yang muda. Ia diberitahu bahwa dirinya diundang kesini untuk menghadiri musyawarah para wali tentang wacana kesufian. Didalam musyawarah ini Syeh Siti Jenar menjelaskan wacana kesatuan makhluk yaitu dalam pengertian akhir hanya ALLAH yang ada dan tidak ada perbedaan ontologis yang nyata yang bisa dibedakan antara ALLAH, manusia dan segala ciptaan lainnya. Sunan Giri menyatakan bahwa wacana itu benar,tetapi meminta jangan diajarkan karena bisa membuat masjid kosong dan mengabaikan syariah. Siti Jenar menjawab bahwa ketundukan buta dan ibadah ritual tanpa isi hanyalah perilaku keagamaan orang bodoh dan kafir.Dari percakapan Siti Jenar dan Sunan Giri itu kelihatannya bahwa yang menjadi masalah substansi ajaran Syeh Siti Jenar, tetapi penyampaian kepada masyarakat luas. Menurut Sunan Giri paham Syeh Siti Jenar belum boleh disampaikan kepada masyarakat luas sebab mereka bisa bingung, apalagi saat itu masih banyak orang yang baru masuk islam, karena seperti disampaika di muka bahwa Syeh Siti Jenar hidup dalam masa peralihan dari kerajaan Hindu kepada kerajaan Islam di Jawa pada akhir abad ke 15 M.

    Percakapan Syeh Siti Jenar dan Sunan Giri juga diceritakan dalam buku Siti Jenar terbitan Tan Koen Swie sbb:

    Pedah punapa mbibingung, Ngangelaken ulah ngelmi, NJeng Sunan Giri ngandika, Bener kang kaya sireki, Nanging luwih kaluputan, Wong wadheh ambuka wadi. Telenge bae pinulung, Pulunge tanpa ling aling, Kurang waskitha ing cipta, Lunturing ngelmu sajati, Sayekti kanthi nugraha, Tan saben wong anampani.

    Artinya:

    Syeh Siti Jenar berkata, untuk apa kita membuat bingung, untuk apa kita mempersulit ilmu? Sunan Giri berkata, benar apa yang anda ucapkan, tetapi anda bersalah besar, karena berani membuka ilmu rahasia secara tidak semestinya. Hakikat Tuhan langsung diajarkan tanpa ditutup tutupi. Itu tidaklah bijaksana. Semestinya ilmu itu hanya dianugerahkan kepada mereka yang benar-benar telah matang. Tak boleh diberikan begitu saja kepada setiap orang.

    Ngrame tapa ing panggawe Iguh dhaya pratikele Nukulaken nanem bibit Ono saben galengane Mili banyu sumili Arerewang dewi sri Sumilir wangining pari Sêrat Niti Mani . . . Wontên malih kacarios lalampahanipun Seh Siti Jênar, inggih Seh Lêmah Abang. Pepuntoning tekadipun murtad ing agami, ambucal dhatêng sarengat. Saking karsanipun nêgari patrap ing makatên wau kagalih ambêbaluhi adamêl risaking pangadilan, ingriku Seh Siti Jênar anampeni hukum kisas, têgêsipun hukuman pêjah. Sarêng jaja sampun tinuwêg ing lêlungiding warastra, naratas anandhang brana, mucar wiyosing ludira, nalutuh awarni seta. Amêsat kuwanda muksa datan ana kawistara. Anulya ana swara, lamat-lamat kapiyarsa, surasa paring wasita. Kinanti Wau kang murweng don luhung, atilar wasita jati, e manungsa sesa-sesa, mungguh ing jamaning pati, ing reh pêpuntoning tekad, santa-santosaning kapti. Nora saking anon ngrungu, riringa rêngêt siningit, labêt sasalin salaga, salugune den-ugêmi, yeka pangagême raga, suminggah ing sangga runggi. Marmane sarak siningkur, kêrana angrubêdi, manggung karya was sumêlang, êmbuh-êmbuh den-andhêmi, iku panganggone donya, têkeng pati nguciwani. Sajati-jatining ngelmu, lungguhe cipta pribadi, pusthinên pangesthinira, ginêlêng dadi sawiji,wijanging ngelmu jatmika, neng kaanan ênêng êning.

    BalasHapus
  33. NAMA : EKO FUJI NOOR RN
    NIM : 2102408031
    ROMBEL : 2

    BABAD BULELENG
    Semoga tidak ada halangan.
    Pranamyam sira dewam, bhuktimukti itarttaya, prawaksyatwa wijneyah, brahmanam ksatriyadih, patayeswarah.

    Setelah kalahnya Baginda Raja Bedahulu di Bali, oleh beliau Sri Aji Kala Gemet, sebagai pelindung daerah, yang berkedudukan di Majalange, akhirnya keadaan Bali pada saat itu menjadi tenang, sehingga tidak senanglah Patih Nirada Mada, melihat peraturan tata tertib rusak, adalah beliau yang bernama Dang Hyang Kapakisan, seorang pandita yang sudah sempurna, beliau dipakai sebagai bagawanta oleh Nirada Mada, beliau berputra yang lahir dari batu, hasil dari pemujaan beliau kepada Hyang Surya (Asurya sewana) sehingga mendapatkan seorang bidadari di taman, dia itulah akhirnya dipakai istri oleh beliau, akhirnya berputralah beliau laki-laki tiga orang, salah satu adalah wanita, mereka itulah yang dicalonkan oleh Gajah Mada untuk memerintah, dimohon kepada sang pendeta, yang tertua dinobatkan di Brambangan, adiknya memerintah di Pasuruhan, dan yang bungsu menjadi penguasa di daerah Bangsul (Bali), bernama Sri Dalem Kresna Kepakisan, I Dewa Wawu Rawuh nama lain beliau, beliau beristana di desa Samprangan, ada lagi pengikut baginda yang bertahta sebagai raja Bali Aga yang bergelar Maharaja Kapakisan, di antaranya, beliau Sirarya Kanuruhan, Arya Wangbang, Arya Kenceng, Arya Dalancang, Arya Tan Wikan, Arya Pangalasan, Arya Manguri, sira Wang Bang, terakhir Arya Kuta Waringin, dan ada lagi tiga orang wesya, bernama Tan Kober, Tan Kawur, Tan Mundur.

    Lama kelamaan wafatlah beliau Sri Dalem Kapakisan, beliau meninggalkan tiga orang putra laki-laki, satu orang perempuan, yang pertama bernama Dalem Samprangan, beliau suka bersolek, yang kedua bernama Dalem Tarukan, beliau kurang waras, mengawinkan saudara perempuannya dengan kuda, selanjutnya yang bungsu beliau bernama Dalem Ketut, beliau yang menggantikan kedudukan ayahnya, selanjutnya beralih istana ke Swecalinggarsapura.

    Setelah beliau kembali ke alam baka, beliau digantikan oleh putranya, yang bernama Dalem Watu Renggong. Setelah beliau wafat, beliau juga diganti oleh putranya, yang bergelar Dalem Sagening, yang selanjutnya banyak menurunkan anak cucu, itulah sebabnya ada jenjang martabat kebangsawanan keluarga kesatria ( nista, madya, dan utama). Semuanya adalah para putra awalnya, oleh beliau Sri Aji Dalem Sagening.

    Diceritakan beliau Arya Kapakisan, sebagai mahapatih daerah Bali, putra beliau yang tertua bernama Nyuh Aya, adik beliau Arya Asak, beliaulah sebagai leluhur keluarga raja Mengwi.

    Adapun Beliau Arya Nyuh Aya, beliau berputra tujuh orang, yang tertua beliau Ki Arya Patandakan, adik beliau Ki Arya Kasatrya, Ki Arya Pelangan, Arya Akah, beliau Arya Kaloping, Arya Cacaran, serta beliau Arya Anggan.

    Kembali diceritakan putra beliau Ki Arya Cacaran, Ki Arya Pananggungan, berputra Ki Arya Pasimpangan, berputra Ki Gusti Ngurah Jarantik, beliau pemberani dalam pertempuran, beliau meninggal dalam pertempuran di Pasuruhan, beliau meninggal masih muda, adalah putra beliau, yang bernama Ki Gusti Ngurah Jarantik Bogol, sebab ayah beliau meninggal dalam keadaan tanpa senjata.

    Kembali diceritakan, adalah seorang wanita bernama Si Luh Pasek Panji, ia memang berasal dari desa Panji daerah wilayah Den Bukit, ia menjadi abdinya Sri Aji Dalem Sagening, ia sudah gadis dewasa, pada saat hari yang baik, kebetulan saja Si Luh Pasek sedang buang air kecil (kencing), air kencing Si Luh Pasek terpijak oleh beliau Dalem, terasa panas tanah bekas air kencingnya, terhenyak beliau Dalem, selanjutnya beliau menanyai abdinya, siapa yang mempunyai bekas air kencing itu, yang ditanya menjelaskan dengan sesungguhnya, bahwa Si Luh Pasek yang mempunyai bekas air kencing itu, saat itulah beliau Sri Aji Dalem Sagening memikir-mikirkan keutamaan Si Luh Pasek Panji, bagaikan tersentak timbul birahinya, oleh karena dimabuk asmara, akhirnya Si Luh Pasek digauli, akhirnya ia berhasil diperistri oleh Sri Aji Dalem Sagening, disertai dengan kelengkapan upacara seorang istri, entah berapa lama, akhirnya Si Luh Pasek kelihatan hamil.

    Akhirnya ingatlah beliau Sri Aji Dalem Bali, oleh karena sudah tiba saatnya, beliau wafat ke alam baka, akan tetapi belum ada balas jasa beliau terhadap Arya Jarantik, sebagai orang kepercayaan beliau, oleh karena banyak pengabdian yang sudah dilakukan dengan taat dan hormat selama beliau mengabdi, dari leluhur beliau dahulu, dengan kesetiaan dan ketaatan yang kuat, menyebabkan tumbuh rasa kasih sayang beliau Sri Aji Dalem. Itulah sebabnya Si Luh Pasek Panji yang sudah hamil diberikan kepada Ki Gusti Ngurah Jarantik, akan tetapi ada pesan Dalem, kepada Ki Gusti Ngurah Jarantik, supaya tidak menggauli mencampuri sanggama, serta ada lagi janji Dalem, kemudian apabila lahir anak itu, supaya Ki Gusti Ngurah Jarantik bersedia mengangkat sebagai anak angkat, supaya bersaudara dengan anak beliau, yang bernama Ki Ngurah Jarantik, yang sudah dewasa, tidak menolak mereka yang diperintah.

    Entah sudah berapa lama, setelah waktunya akan melahirkan, lahirlah anak beliau Si Luh Pasek Panji laki-laki sangat tampan tanpa cacat cela, juga dari ubun-ubun anak itu keluar sinar, sebagai tanda seorang calon pemimpin, sakti dan berani kemudian unggul dalam peperangan, hati beliau Ki Gusti Ngurah Jarantik sangat girang, setelah Dalem diberitahu, selanjutnya anak itu diupacarai, sesuai dengan upacara Arya Ngurah Jarantik, selanjutnya anak itu diberi nama Ki Barak Panji. Adapun istri Ki Ngurah Jarantik, ternyata tidak setuju hatinya, sangat murung dan duka hatinya, melihat anak itu demikian, sehingga timbul iri hati beliau, oleh karena tidak lahir dari dirinya sendiri, diduga akan menyebabkan anak beliau tersisih nantinya, sebab anak beliau sendiri, tidak demikian perbawanya, kejengkelannya ditelan saja, terpendam di hati terus-menerus.

    Setelah Ki Barak Panji dewasa, beliau menghadap raja, mengabdi kepada Sri Aji Dalem Sagening, selanjutnya dikumpulkannya dengan putra para Arya lainnya, yang sama-sama mengabdi.

    Tiba-tiba malam hari, ketika orang-orang tertidur lelap dalam istana, kebetulan Sri Aji Dalem keluar dan ruangannya, disertai oleh sang permaisuri, kelihatan oleh beliau berdua, ada sinar suci menandakan prabawa, pada kepala salah seorang abdinya, yang sedang tidur, terkejutlah beliau berdua, selanjutnya diperiksalah keadaan abdi yang sedang tidur itu, setiba beliau di sana, tiba-tiba sinar itu menghilang, selanjutnya anak yang bercahaya suci itu ditandailah dengan kapur oleh beliau Sri Aji Dalem Sagening.

    Keesokannya, ternyata Ki Barak Panji tersurat kapur, di sanalah Sri Aji Dalem Sagening percaya akan kata-katanya Ki Gusti Ngurah Jarantik, bahwa benar ubun-ubun anak itu keluar sinar, hati beliau menjadi murung, hati beliau Dalem sangat kasih sayang, akan tetapi ada yang ditakutkan dalam hati, mungkin Ki Barak Panji, nantinya akan mengalahkan putranya, yang diharapkan akan menggantikan menjadi raja.

    Lama-kelamaan, kira-kira sesudah dua belas tahun umumnya Ki Barak Panji, khawatir dan curiga hati Dalem, beserta permaisuri baginda, demikian juga pikiran Ki Gusti Ngurah Jarantik, termasuk isterinya, sehingga berunding beliau Dalem, diiringi oleh Ki Gusti Ngurah Jarantik, mencari akal upaya, berusaha agar lepas dari mala petaka, setelah pembicaraan selesai, Ki Barak Panji disuruh pulang ke daerah ibunya di desa Panji, Den Bukit.

    Menjelang keberangkatannya ke desa Panji, beliau Sri Aji Dalem Sagening, sudah siap dengan pengiring putra baginda, empat puluh orang banyaknya, telah teruji keberaniannya, sebagai pimpinannya, bernama Dumpyung, beserta Ki Dosot, dan lagi ada hadiah, memberikan pengiringnya senjata keris, Semuanya yang berjumlah empat puluh, sama-sama satu bilah, akan tetapi ketika Dalem memberikan keris pembagian kepada para pengiringnya satu demi satu, ternyata ada masih tertinggal sebilah, berupa Mundarang Cacaran Bangbang (sejenis bentuk keris).

    Selanjutnya kembali dikumpulkan keris itu bersama, setelah terkumpul cukup empat puluh itu, selanjutnya lagi keris itu dibagi-bagikan, sebanyak empat puluh itu, setelah mendapat bagian satu demi satu, lalu ada lagi sisanya satu bilah, berupa Mundarang Cacaran Bangbang, seperti tadi, bingung hati Beliau Dalem Sagening, beserta Ki Gusti Ngurah Jarantik, dan setelah selesai diulang-ulang lagi, terus-menerus keris itu dibagikan, ada juga sisanya keris sebilah, seperti semula.

    Setelah demikian baru teringat dalam hati beliau Sri Aji Bali, terpikirkan bahwa keris itu yang tertinggal, pusaka buat Ki Gusti Panji (Ki Barak Panji) sebenarnya, itulah sebabnya keris yang tersisa, selanjutnya diberikan Ki Gusti Panji, sudah merupakan pusaka Dalem diberikan kepadanya, lain dari pada itu , ada pemberian Dalem lagi berupa sebilah tombak, bernama Ki Tunjung Tutur, Ki Pangkajatatwa nama lainnya.

    Setelah beliau Dalem menganugerahi Ki Gusti Panji, pada saat hari yang baik , beliau Ki Gusti Panji mohon diri, selanjutnya beliau pergi ke Den Bukit, dengan membawa keris pemberian Dalem, disertai oleh ibunya, diiringi oleh Ki Dumpyung yang membawa Ki Pangkajatatwa, serta Ki Dosot, beserta pengiring abdi yang lain berjumlah tiga puluh.

    Diceritakan perjalanan Ki Gusti Panji, setelah beliau pergi dari kota Gelgel, mampir di Jarantik, mengadakan pemujaan di bagian kota Jarantik, selanjutnya pergi menuju arah utara, selanjutnya ke barat, memasuki daerah Samprangan, selanjutnya terus ke barat, memasuki daerah Kawisunya, dicapai wilayah Bandana itu, selanjutnya beliau menuju ke arah barat laut, menuju daerah Danau Pabaratan, setelah empat hari perjalanan Beliau Ki Gusti Panji, menginap dalam perjalanan, ketika matahari sudah condong ke barat, , mendaki bukit Watu Saga, wilayah Den Bukit, berhentilah beliau di sana, seraya makan bekal beliau berupa ketupat, lalu beliau tersedak-sedak waktu makan (kilen-kilen), kemudian Ki Dumpyung disuruh pergi jauh untuk melihat air di bawah, dan senjata Ki Pangkajatatwa, diterima oleh Si Luh Pasek Panji, lalu pangkal tangkainya ditancapkan di tanah, maksudnya untuk menaruhnya, nyata-nyata terbukti Hyang Widi murah hati beliau, lalu memancar keluar air suci dari dalam tanah, yang ditancapi itu, kira-kira sebesar bejana mata air itu keluar, akan tetapi tidak ada yang mengalir ke luar dari lubang itu, hanya tetap berada seperti semula, sangat luar biasa kesucian air itu, tak terkira senang hati mereka semua, terutama beliau Ki Gusti Panji, lalu beliau minum air itu, demikian ceritanya air itu dahulu, selanjutnya diberi nama Banyu Anaman, Toya Katipat nama lainnya, hingga sampai sekarang.

    Setelah Semuanya selesai makan, beserta pengiringnya semua, selanjutnya kembali beliau melanjutkan perjalanan, membelok ke barat, ketika hari sudah sore, matahari pun sudah condong ke barat, dan tenggelam ke laut. Beliau Ki Gusti Panji kebetulan berada di dalam perjalanan, di atas Danau Bubuyan, tiba-tiba datang berupa manusia kelihatannya, bernama Ki Panji Landung, langsung dicegat Ki Gusti Panji, diusung ke atas, tak terkira tingginya Ki Panji Landung, setelah terasa langit itu bagaikan disundul pikirnya, lalu Ki Gusti Panji disuruh melihat ke timur, kelihatan oleh beliau Ki Gusti Panji gunung Toya Anyar, disuruh melihat ke utara, tidak kelihatan apa-apa, hanya kelihatan samudera luas, kemudian beliau disuruh melihat ke barat, kelihatan membiru gunung Banger yang tinggi, selanjutnya lagi beliau disuruh menghadap ke selatan, selanjutnya Ki Gusti Panji menyuruh agar diturunkan, sebab beliau tak kuasa mendengar tangis ibunya memandang ke udara, sendirian di bawah berbaring di tanah, disertai pengikutnya semua, itu sebabnya Ki Gusti Panji diturunkan dari atas, lalu sambil berkata menyatakan anugerah Ki Panji Landung, hanya sedemikian kemampuanmu melihat, dapat anda kuasai kemudian, sebagai pemimpin di daerah Den Bukit, anda kuasai sampai ke pelosok-pelosok semua, demikian kata-kata Ki Panji Landung, memberi anugerah Ki Gusti Panji, setelah Ki Gusti Panji menginjak tanah, gaiblah Ki Panji Landung, segera timbul girang hati ibundanya, beserta pengikutnya semua, selanjutnya semua berjalan, tak menghiraukan siang malam, sebab hampir tiba tempat yang dituju, sama-sama mengharapkan supaya segera tiba di daerah Panji, kenyataannya berkat anugerah dewata, supaya tidak mendapat halangan dan lain-lainnya, dan beliau selamat dalam perjalanan, keesokannya pagi-pagi terang-terang tanah, tiba-tiba Beliau Ki Gusti Panji sudah sampai di daerah Panji, menuju rumah sanak keluarga ibunya, sangat senang hati sanak keluarganya semua, bergegas-gegas menjemput, menyiapkan suguhan selengkapnya, tak lama beliau Ki Gusti Panji ada di daerah Panji, pengiringnya sebanyak tiga puluh delapan kembali pulang ke Swecanagara, hanya yang masih ikut Ki Dumpyung beserta Ki Dosot, karena terikat oleh cintanya bertuan, tidak pernah berpisah mereka berdua, mengikuti perjalanan beliau Ki Gusti Panji, ke mana-mana pun bercengkrama, membawa keris pemberian

    Diceritakan mereka yang sudah berhasil menjadi pemimpin daerah Panji, yang bernama Ki Pungakan Gendis, beristana di Desa Gendis, semua orang yang masuk ke daerah Gendis menjadi terdiam, Semuanya terdiam dan tunduk menghormat kepada Ki Pungakan Gendis, pada saat hari yang baik, beliau pergi bersabung ayam ke desa lain, mengendarai kuda berbulu coklat tua (kuda gendis), sungguh banyak prajurit beliau mengiringi, diapit kanan kiri, beserta di belakangnya, dilengkapi dengan payung kebesaran, beserta kendi berbentuk angsa tempat air, puwan berperada dengan indahnya, seperti tingkah lakunya dahulu, perjalanan beliau lurus ke utara, mengikuti jalan besar, kebetulan I Gusti bermain-main, dengan diiringi oleh dua orang abdinya, mencari-cari umbi ketela pada tegalan di bagian barat jalan, dan keris pemberian Dalem tidak lepas dibawanya, dipakai mencungkil ketela, tiba-tiba ada terdengar sabda dari angkasa di dengar oleh Ki Gusti Panji, adapun sabda itu, “Ai Barak Panji, jangan kamu syak wasangka kepada Kakek, tidak pantas perbuatanmu mencari ubi rambat, jangan kamu ragu-ragu kepadaku, sebab ada yang utama dalam dirimu, suatu saat kamu menjadi pemimpin di sini, sebab berbakat dicintai oleh rakyat dalam dunia, dan lihatlah keutamaanmu sekarang, tunggulah sebentar, ada sebagai musuhmu, bernama Ki Pungakan Gendis, yang berkuasa di Desa Gendis, wajib kau bunuh, jangan kamu ragu-ragu dalam hati, tudingkan saja aku ke arahnya, berkat aku terjadi kematiannya, demikian terdengar sabda itu, didengar oleh Ki Gusti Panji, beserta abdinya berdua, dihentikanlah keris itu dijadikan main-mainan, kemudian selanjutnya disarungkan.

    Diceritakan Ki Pungakan Gendis, setelah laju perjalanan beliau, melewati jalan, dilihat oleh Beliau Ki Gusti Panji, timbullah marah beliau dalam hati, akibat dari pengaruh kekuatan keris itu, oleh karena belum tercapai tujuannya, sebab sudah lewat kepergiannya Ki Pungakan Gendis, lalu dinantikan saat kepulangannya dari sabungan ayam.

    Diceritakan setelah bubarnya orang-orang dari sabungan ayam, Ki Pungakan Gendis kemudian pulang, dilihat oleh Ki Gusti Panji, Ki Pungakan Gendis sudah hampir tiba di tempat penantiannya, lalu Ki Gusti Panji segera, berlindung naik ke pohon leca, yang tumbuh di pinggiran jalan, seraya menghunus keris pemberian Dalem, kemudian datang Ki Pungakan Gendis, sudah dekat dengan pohon leca itu, lalu diacungkan keris ke arahnya oleh Ki Gusti Panji , lalu Ki Pungakan Gendis meninggal, masih dalam keadaan menunggang kuda, akan tetapi tidak diketahui oleh pengikutnya, hanya berjalan dan berjaga di sana-sini.

    Setelah itu tiba Ki Pungakan Gendis, di hadapan rumahnya , setelah kudanya berhenti yang dikekang oleh pengikutnya, Ki Pungakan Gendis juga tidak turun, teguh bagaikan lukisan, badannya kaku bagaikan mayat, matanya mendelik sayu, saat itu baru diketahui, jika Ki Pungakan Gendis, sudah meninggal, akan tetapi tidak ada yang mengetahui sebab kematiannya.

    Ada anak Ki Pungakan Gendis, perempuan seorang diri, bernama I Dewa Ayu Juruh, mungkin barn akan menjelang dewasa, sangat cantik tanpa ada celanya, membuat orang jatuh cinta, sedangkan adiknya yang laki-laki masih kanak-kanak, yang diharapkan menggantikan kedudukan ayahnya, oleh karena ia belum tahu mencari akan akal upaya, lalu dimandatkan pada Ki Bendesa Gendis, memerintah desa Gendis.

    Entah berapa lama, tiba-tiba ada perahu dari luar daerah, terdampar di pesisir Panimbangan, sangat susah hati Ki Mpu Awwang, kemudian meminta bantuan kepada Ki Bendesa Gendis, untuk menarik perahu itu, dan membuat perjanjian, jika tujuan berhasil, semua isi perahu hadiahnya, sebab perahu itu sarat dengan muatan segala ragam yang indah-indah, seperti pakaian, cangkir, piring, pinggan, serta bermacam-macam ramuan, menyebabkan tertarik hasrat Ki Bendesa Gendis, lalu beliau bersedia membantunya, lalu mereka menyuruh terus menerus menabuh kentongan, mendatangkan pengikutnya semua, membawa tali, bambu, beserta alat perlengkapan untuk menarik, setelah Semuanya sudah datang, segera serempak pergi ke laut, sesampainya semua saling bantu penuh usaha untuk menolong, saling mengeluarkan gagasan / ide, akan tetapi tidak berhasil, sedikit pun perahu itu tidak bergerak, mereka semua merasa malu dan marah, akhirnya semua pulang ke rumahnya masing-masing.

    Setelah itu lalu didengar oleh I Gusti Panji, jika demikian keadaannya, selanjutnya beliau pergi ke tempat perahu yang terdampar itu, tidak lupa beliau membawa keris pemberian Dalem itu, serta diiringi oleh Ki Dumpyung beserta Ki Dosot, setelah beliau tiba di pesisir pantai, dijumpainya Ki Dampu Awwang, sedang menangis meratap-ratap, sambil berkata berkaul , siapa gerangan yang mampu menolong perahunya, supaya berhasil melaju ke laut, semua isi perahu ini hadiahnya, oleh karena demikian didengar oleh Ki Gusti Panji, lalu beliau bersedia untuk menarik perahu itu, seraya keris itu dihunusnya, setelah keris itu diacungkan, terdengarlah sabda, jangan khawatir, demikian didengar sabda itu oleh Ki Gusti Panji, beserta dua orang abdinya, lalu percayalah beliau dalam hati, berhasillah perahu itu didorong, dihempaskan oleh keris itu, bagaikan diberi kekuatan beliau oleh Hyang Widhi, berhasil perahu itu bergerak, ke tengah laut, tak terkira larinya ke tengah samudera, selanjutnya kembali perahu itu ke pinggir, ditambatkan di air, Ki Mpu Awwang tidak lupa akan janjinya, seluruh isi perahu itu, Semuanya sudah diberikan Ki Gusti Panji, setelah selesai, perahu itu kembali pulang ke Jawa, tak terkira senang hatinya Ki Mpu Awwang. Mulai saat itulah Ki Gusti Panji dipenuhi oleh kekayaan, serta mulai saat itu pula keris pemberian Dalem yang tampak keutamaannya, selanjutnya diberi julukan Ki Semang.

    Setelah selama dua puluh tahun usia Ki Gusti Panji, semakin terkenal di Gendis serta keutamaannya menurut tata krama, perkataan beliau manis, membuat hati semua orang senang, membuat tertarik hati penduduk desa Gendis, selanjutnya semua hormat dan tunduk kehadapan Ki Gusti Panji, luar biasa baktinya menghamba, tetua (walaba) beserta rakyat sama-sama membela, tidak merasakan panas dan dingin, menghamba kepada Ki Gusti Panji, selanjutnya dinobatkan bergelar Ki Gusti Ngurah Panji, selanjutnya orang-orang desa Gendis, beserta parahyangan agung di bagian barat desa Gendis, dipindahkan ke desa Panji, oleh Ki Gusti Ngurah Panji, sesuai dengan kesepakatan orang-orang desa semua, selanjutnya banyak tempat tinggal, berbondong-bondong menggotong rumahnya, dan tempat suci Ki Gusti Ngurah Panji, sudah selesai dikerjakan oleh rakyat semua, setelah kedudukan Ki Gusti Ngurah Panji kokoh, berkat dukungan baik seluruh desa-desa, kawinlah beliau dengan Ki Dewa Ayu Juruh, seia sekata beliau dalam bersuami istri, oleh karena keduanya sama-sama mencintai.

    Konon setelah beliau kaya, akhirnya beliau membuat kepala keris dari emas, berbentuk Ratmaja diisi dengan permata Mirah Adi bertatahkan Zamrud (air Lembu). diberi seragam delapan sangat menarik bagaikan hidup kelihatannya, diberi nama Ki Awak, oleh karena jiwanya sendiri merasuk dalam keris kepala itu. Tidak ada yang menyamai, telah sesuai keindahannya dengan sarung gading yang diukir, putih tidak bercela, diberi sarung dari kain halus, bagaikan menambah keutamaannya keris Ki Semang.

    Entah berapa lamanya, berhasil terkenal di dunia, kewibawaannya Ki Gusti Ngurah Panji, sebagai penguasa desa Panji, lalu tak terkirakan berbondong-bondong datangnya orang-orang dari Lor Adri, selanjutnya tinggal di desa Panji, mengabdi ke hadapan Ki Gusti Ngurah Panji, segera penuh sesak, tertib, indah kelihatan desa itu, oleh karena ditambah oleh orang-orang keturunan utama dari Ler Adri, sama-sama taat menghamba kehadapan Ki Gusti Ngurah Panji.

    Entah berapa tahun lamanya, tidak menyimpang anugerah Ki Panji Landung, lalu tunduk orang-orang dari timur sungai We Nirmala, sampai di ujung desa Toya Anyar, dari pesisir laut sampai ke pegunungan, seperti Kyai Alit Menala, dari Kubwan Dalem, sama-sama tunduk mengabdi, tidak ada yang berniat jahat dalam hatinya, setelah Semuanya setuju, lalu Ki Gusti Ngurah Panji, membangun daerah, selanjutnya memindahkan pusat kerajaannya, dari Sangket Sukasada, disebut Sukasada karena merupakan tempat kedudukan, sebab selalu menimbulkan kesenangan sang raja beserta semua abdi dan rakyatnya.

    Beberapa lama kemudian, keadaan desa di barat We Kulwan menjadi kalah tenteram, kagum dan tunduk, semua penguasa, beserta rakyatnya, semua kelurahan tunduk mempertuan Ki Gusti Ngurah Panji, ada yang bernama Kyayi Sasangkadri beristana di Tebu Salah, buyut dari Kyayi Cili Ularan, tidak mau tunduk, itulah sebabnya Ki Gusti Ngurah Panji, pergi untuk menyerang, diiringi oleh banyak prajurit ramai keadaan perang itu, sama-sama hebat berani dalam peperangan, selanjutnya kalah beliau Kyayi Sasangkadri, tunduk menyerahkan dirinya, selanjutnya beliau menghamba, berjanji beserta anak cucunya semua, sebesar-besarnya keturunan beliau supaya tidak ada yang berani menentang selama-lamanya terus-menerus, senanglah hati Ki Gusti Ngurah Panji, lalu Kyayi Sasangkadri, ditempatkan sebagai tetua Tebu Salah, sebab demikian keutamaan Ki Gusti Ngurah Panji, sangat berani dalam medan perang, disenangi oleh rakyat, sebagai pemimpin daerah Den Bukit, sebagai pemimpin berkat keris Ki Semang, beserta tombaknya Ki Pangkajatatwa, itulah sebabnya tenteram penduduk di daerah Ler Gunung, mulai saat itu diberi julukan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti oleh rakyat, karena kesaktiannya luar biasa, sesudah memimpin di Ler Gunung, sebagai pemimpin menetap di istana Sukasada, sebab dahulu orang-orang di sana selalu bersenang-senang, menikmati kegembiraan hatinya, mengikuti pemimpinnya, penuh sesak sampai ke balai rung, sesuai dengan tingkah lakunya yang baik, tidak ada yang berani menentang perintah beliau raja.

    Diceritakan beliau raja membuat seperangkat gamelan kerajaan, penuh dengan perlengkapannya, terompong di depan dan di belakang, diberi nama Juruh Satukad, oleh karena suaranya sangat manis, bagaikan banjir aliran madu, memenuhi sungai umpamanya.

    Gongnya dua buah, diberi nama Bentar Kadaton, sebab bagaikan belah Keraton itu saat ditabuh (ginuwal) suaranya mendengung. Dan lagi disebut Ki Gagak Ora waktu berbunyi, bagaikan suara gagak beribu-ribu. Serta petuk kajarnya, terkenal bernama Ki Tundung Musuh mengagumkan diberi nama Glagah Katunuwan, suaranya seperti pohon gelagah yang kering terbakar, suaranya luar biasa bagaikan membelah telinga manusia, dan lagi gong kecilnya, suaranya sangat gemuruh, bagaikan guruh bertebaran umpamanya, itulah sebabnya diberi nama Gelap Kasangka, sebab bagaikan pergantian suara tatit pada saat bulan Kasanga (Maret/April) perumpamaannya, demikianlah keterangan gamelan kerajaan Sri Anglurah Panji Sakti, itulah sebabnya musuh dan pengacau menjadi takut, , tidak berani melihat kesaktian beliau, tidak diceritakan selanjutnya.

    Diceritakan ada seorang brahmana, sangat hebat kesaktiannya, beliau sudah mencapai tingkat astaiswarya , Mpu Nirartha nama beliau, anak Dang Hyang Asmaranatha, Beliau Mpu Nirartha pergi ke Bali, setelah beliau tiba di Bali, beliau tinggal di Kemenuh wilayah Bala Batuh, ada anak beliau beribu brahmani dari Yawadwipa, yang tertua perempuan beliau lenyap ke alam gaib, tinggal di Melanting Mpu Laki sebagai Dewa di sana sampai sekarang, yang laki bernama Pedanda Kemenuh, banyak saudaranya lain ibu, brahmani dari Pasuruhan, ada yang beribu dari kesatria Blambangan, ada saudaranya beribu dari Bendesa Mas. Ada juga beribu Sudra, abdi dari Ki Bendesa Mas.

    Beliau Pedanda Kemenuh sebagai putra laki-laki tertua, beliau pindah ke Ler Gunung, desa Kayu Putih, beliau memiliki pengetahuan yang tinggi sangat pandai dalam hal ilmu weda, sangat mahir membuat keris, keluhuran ilmu Pasupatinya, beliau sangat terkenal di masyarakat, oleh karenanya ada sebutan keris buatan Kayu Putih, demikianlah keutamaan beliau, lalu dimintalah beliau, oleh Ki Gusti Panji Sakti, beliau diberi kedudukan sebagai bagawanta, dinobatkan menjadi pendeta kerajaan, dan beliau disuruh mengalih ke banjar Ambengan, beliau diberi pengikut/abdi sebatas barat sungai Bok-Bok, lebih kurang, 3000 banyaknya, selanjutnya Pedanda Sakti Ngurah sebutan beliau di masyarakat, oleh karena sangat kasih sayang serta taat hati beliau ( Ki Gusti Panji Sakti ) kepada pendeta gurunya, dibuatkan rumah di Sukasada, sehingga saling berdekatan tempat tinggalnya, disebut Griya Romarsana, setelah saatnya tiba, akhirnya beliau dipanggil menuju alam baka, berada di pertapaan Kayu Putih, sebab beliau tidak menyadari akan tibanya ajal, ada putra beliau yang menggantikan, seperti kedudukan bapaknya, sebagai bagawanta baginda raja, lalu mengumpulkan rakyat, Pedanda Sakti Ngurah juga namanya oleh baginda raja, beliau tak mengenal lelah meniru keahlian ayahnya untuk menyenangkan baginda raja, selanjutnya mempunyai kegemaran membuat keris, sangat luar biasa keris buatannya, itulah sebabnya ada sebutan keris buatan Banjar, senjata tajam mengandung kesaktian, demikian Pedanda Sakti Ngurah sangat cintanya, sebab beliau ingat akan leluhurnya, tidak ada lain asalnya memang bersaudara, pada saat masih berada di daerah Yawadwipa, itulah sebabnya ada perjanjian beliau berdua ada di desa Romarsana, agar tidak berpisah, saling menjaga, dalam suka duka, sama-sama senasib dan seperjuangan, satu bersenang semuanya bersenang, satu bersedih semuanya bersedih, sehingga bagaikan tingkah laku persaudaraan, lalu ditiru oleh masyarakat, demikianlah perjanjiannya, semua sudah bahagia, itulah sebabnya desa Romarsana disebut Sangket, sebab dipakai sebagai tempat mengikat perjanjian, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti dengan beliau yang dihormati Pedanda Sakti Ngurah, lanjut serta anak cucu beliau, agar meniru kebiasaan baik leluhurnya. dari putra yang tertua Sri Bagawan Dwijendra, Pedanda Sakti Wawu Rawuh nama lain beliau, sebab beliau mengawali datang ke Pulau Bangsul / Bali.

    Kembali diceritakan, putra Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, lahir dari I Dewa Ayu Juruh, kedudukannya sebagai putra mahkota, yang tertua bernama Ki Gusti Ngurah Panji, seperti nama ayah beliau, dan yang kedua bernama Ki Gusti Ngurah Panji Made, serta yang bungsu bernama Ki Gusti Ngurah Panji Wala, sama-sama tampan tak tercela keadaannya, amat tenteram hati beliau raja, ada terbetik dalam hati, bersiap untuk menyerang menuju daerah Brambangan, daerah Yawadwipa, sebab beliau ingat akan anugerah Ki Panji Landung, pada saat dulu, lalu beliau membuat akal-upaya selengkapnya, seluruh prajurit pemberani dipanggil, yang sudah sering menyerang musuh, Semuanya prajurit yang perwira sebagai pimpinan, dua puluh jumlahnya, sama-sama keturunan pemberani, diajak bermain gagak-gagakan, oleh baginda Raja Panji Sakti, dan mereka semua bergilir menjadi burung gagak, ditanya oleh baginda Raja, “Gagak apa yang kamu harapkan?” Si gagak kemudian menjawab, ada yang meminta makanan, minuman, anak gadis, mas permata, busana, serta manikam, bermacam-macam permintaannya masing-masing, semua sudah dipenuhi permintaan goak itu, sama-sama senang hati gagak itu menikmati makanan dan minuman, sandang, pakaian dan pangan, tidak jemu-jemu sama-sama memenuhi keinginan, setelah demikian, selanjutnya beliau Raja menjadi gagak, ditanya oleh para patih semua, “Gagak apa keinginanmu?”, Si gagak lalu menjawab, “gagak, goak, gak, keinginanku menundukkan Brambangan”, semua prajurit bersorak, sebab penuh sesak para prajurit yang menonton. Setelah selesai, bersiap-siap mengatur para prajurit itu, penuh dengan persiapan, beserta perahu sudah banyak disiapkan, sudah siap ditambatkan tinggal menunggu komando baginda Raja, berayun-ayun dalam samudera sampai ke sungai pelepasan.

    Pada saat hari yang baik, yang disarankan oleh Sri Bagawanta, beliau Sri Bupati berangkat, dengan menaiki perahu, diiring oleh rakyatnya banyak, adapun jalur yang dilalui perahu itu, menuju Candi Gading daerah pinggiran pantai Tirta Arum, selanjutnya menyerang ke daerah Banger, disergap oleh Dalem Brambangan, luar biasa ramainya pertempuran itu, jenazah bagaikan gunung, berlautan darah, di medan pertempuran, selanjutnya beliau bertemu dengan Dalem Brambangan, yang berada di tengah medan laga, selanjutnya satu demi satu mengadu kekuatan di medan laga, sama-sama ikhlas berani dan tangkas bertarung, entah berapa lama perang itu berlangsung, lalu terjebak Dalem Brambangan , dadanya ditikam oleh beliau Sri Panji Sakti, dengan keris Ki Semang, lalu beliau Dalem Brambangan terjerembab, selanjutnya menghembuskan nafasnya yang terakhir, akhirnya kekuasaan Brambangan jatuh menjadi tunduk, Semuanya tunduk memohon supaya tetap hidup.

    Didengarlah oleh Baginda Raja Solo, akan kehebatan Sri Panji Sakti, lalu beliau menjalin persahabatan berdua, selanjutnya beliau Sri Panji Sakti diberi gajah tunggangan, setelah Semuanya selesai, Sri Panji Sakti kembali pulang ke Bali, dengan membawa panji-panji hasil rampasan, segala macam yang utama, akan tetapi ada yang disakitkan dalam hati, sebab anaknya yang masih muda, yang bernama Ngurah Panji Nyoman, Danudresta nama lainnya, sudah gugur dalam medan pertempuran di Brambangan, tak lama berduka cita kemudian beliau kembali sukacita, seperti keadaan semula, sebab dihibur oleh Sri Maha Rsi Bagawanta, Pedanda Sakti Ngurah. Demikian kehebatan beliau Sri Panji Sakti terdengar

    Diceritakan Sri Panji Sakti, merintis membangun kota (pura), di pategalan daerah Balalak, tempat orang menanam Buleleng, ada dijumpai di sana, ibu leleng, banyak orang-orang yang tinggal di sana, tempat tanah lapang itu, di bagian utara wilayah Sukasada, setelah menjadi besar tempat kota itu, banyak orang berbondong-bondong pergi pindah ke sana, akhirnya penuh dengan rumah tempat tinggal, selanjutnya diberi nama Kota Buleleng, dan istana tempat tinggal baginda raja, diberi nama Singaraja, sebab jelas bagaikan singa keberanian baginda Raja, serta gajah beliau yang bagaikan gajah Nirwana, dibuatkan kandang di bagian utara kota, itulah sebabnya bernama Petak desa itu, dan yang menggembalakan gajah, adalah tiga orang dari Jawa, pemberian raja Solo, dua orang bertempat di daerah bagian utara Petak, itu selanjutnya bernama Kampung Jawa, serta yang seorang lagi, bertempat di Lingga dekat dengan pesisir Toya Mala, sebab asalnya dari Prabulingga Yawadwipa, di antara desa Petak dan desa (Kampung) Jawa, bernama desa Paguyangan, sebab tempat gajah beliau berguling-gulingan digembalakan di sana, demikianlah ceritanya dahulu.

    Setelah lama-kelamaan, orang Jawa di Kampung Jawa, mengembangkan keturunan, kemudian dibagi atas perintah baginda Raja, ditempatkan di hutan Pagatepan, selanjutnya juga diberi nama Pagayaman, sebagai penjaga benteng di daerah pegunungan.

    Entah berapa lama, kembali Sri Panji Sakti, pergi menyerang Jaranbana, oleh karena kehebatan keris Ki Semang, akhirnya hancur daerah Jaranbana, dapat ditaklukan oleh Sri Panji Sakti.

    Tak terhitung berapa lama kemudian, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, mendengar berita, ada seorang putri yang sangat cantik bernama Ki Gusti Ayu Rai, saudara dari Ki Gusti Ngurah Made Agung, yang berkuasa di Mengwi, beliau sekarang ingin melamarnya, akan dipakai sebagai istri, utusan pun sudah berjalan, lalu ditolak mas kawin beliau, akhirnya main beliau Ki Gusti Ngurah Panji, timbullah kemarahannya, ingin untuk menghancurkan wilayah Mengwi, oleh karena kewibawaannya dijadikan kebanggaan, setelah mampu menguasai daerah Banger, selanjutnya beliau mengirim utusan, menantang wilayah Mengwi untuk bertempur. Keinginan beliau untuk mengadu, prajurit andalan beliau yang berupa gagak-gagak itu, bersama prajurit Mengwi, sebab terkenal bernama Teruna Batan Tanjung, beserta Teruna Munggu, disanggupi oleh penguasa Mengwi, sama-sama mendorong prajurit beliau untuk bertempur, ramai pertempuran itu, saling amuk, sama-sama tikam, menikam, sama-sama pemberani, dilihat oleh beliau berdua, lalu disuruhnya untuk mengakhiri perang itu, oleh karena keinginan beliau Ki Gusti Ngurah Made Agung, mencoba keberanian dan kehebatan orang-orang Ler Gunung, sekarang telah beliau ketahui benar-benar keberaniannya dalam pertempuran, ikhlas hatinya memberikan adiknya, pada Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, tidak diceritakan perundingan beliau berdua, setelah sama-sama sepakat, maka sebagai raja yang berwibawa, baginda di atas singasana, selanjutnya Ki Gusti Ngurah Panji Sakti beserta Ki Gusti Ayu Rai dinikahkan, setelah demikian keadaannya, kembali beliau penguasa Den Gunung, diiringi istri beliau Ki Gusti Ayu Rai, sebagai balas jasa cinta kasih beliau kepada raja Mengwi, diserahkan daerah Brambangan, beserta Jaranbana, oleh baginda penguasa Ler Gunung.

    Setelah beliau tenteram berada di daerah Buleleng, tidak ada yang berani menentang atau melawan keinginannya, sehingga Ki Ngurah Panji Sakti memikirkan ingin menghadapi dengan alasan untuk bertempur, maka Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, pergi ke gunung Batukaru, daerah kekuasaan Bandana, diiringi banyak prajuritnya, dilengkapi dengan senjata, setiba beliau di sana, segera beliau merusak parahyangan Agung Batukaru, semua bangunan suci dirusaknya, dipindahkan dari tempatnya, tiba-tiba ada lebah berpuluh-puluh jumlahnya, masing-masing segenggam besarnya, tidak diketahui dari mana asal mulanya, bagaikan kehendak dewata, berhamburan menyerang beliau Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, bagaikan bencana dari Dewata pikirnya, tidak tertahan oleh beliau Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, selanjutnya beliau lari beserta dengan prajuritnya, tidak melihat lagi ke belakang, sebab beliau sudah merasa dalam hati, bahwasanya itu kutukan Dewata pada dirinya.

    Lama-kelamaan, kembali Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, menantang perang, datang ke wilayah Badeng, beserta dengan prajurit serta perlengkapannya, dengan menunggangi gajah besar, setiba beliau di daerah bagian utara tempat suci ( pura Satria ) Badeng, dihadang oleh banyak prajurit dari daerah Badeng, perangpun terjadi , tikam-menikam, namun akhirnya berdamai juga dengan penguasa daerah Badeng, daerah tempat pertempuran itu selanjutnya diberi nama Taensiat, sampai sekarang, oleh karena tempat permulaan terjadinya perang antara prajurit Den Bukit, melawan prajurit Badeng. Selanjutnya Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, mengambil istri dari golongan Wesya dari Banjar Ambengan Badung.

    Beberapa lama kemudian, ada terdengar berita, oleh Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, bahwa cucunya Ki Gusti Ngurah Jarantik, di daerah Jarantik dikecewakan oleh Dalem Bali, di daerah Gelgel, kesalahannya karena tidak memberikan keris pusakanya, yang diinginkan oleh Dalem, itu yang menyebabkan beliau sedih dalam hati, beliau ingin meninggalkan daerah Jarantik, berusaha menyelamatkan diri, oleh karena terpikir pasti mati, jika tidak pergi dari daerah Jarantik, pergi jauh, terdorong atas kejengkelannya Ki Gusti Ngurah Agung, yang begitu iri hati ke hadapan Ki Gusti Ngurah Jarantik, oleh karena demikian keadaannya, beliau Ki Gusti Ngurah Panji Sakti segera, pergi ke daerah Jarantik, didapatkan orang-orang yang berada dalam istana sangat sedih dalam hati, terutama Ki Gusti Ngurah Jarantik, menceriterakan kesusahannya, setelah selesai daya upayanya, akhirnya mereka serempak pergi dari daerah Jarantik, mencari tempat menuju ke desa Tojan daerah Bala Batuh, atas perintah Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, selanjutnya beliau mengantarkan, lalu beristirahat di daerah utara desa Beng Gianyar, ada tanaman-tanaman penduduk di sana berupa kacang tanah, dimakan oleh gajah tunggangan beliau Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, karenanya ada wilayah yang bernama Kacang Bedol, sampai sekarang, oleh karena gajah tunggangan beliau memakan kacang yang ada di sana, tidak diceritakan perjalanan beliau yang mengungsi, lalu tiba di daerah Tojan, dijemput oleh Ki Bendesa Wayan Karang, yang menguasai daerah Tojan, selanjutnya beliau membangun istana, tunggangan beliau Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, digembalakan di daerah bagian barat laut daerah Tojan, itulah sebabnya bernama daerah Angon Liman, Bangun Liman nama lainnya sampai sekarang, dan di bagian timurnya ada semak belukar, tempat beliau Panji Sakti berburu, dinamakan Buruwan sampai sekarang.

    Entah berapa lama beliau Ki Gusti Ngurah Panji Sakti berada di Tojan, oleh karena sudah handal kedudukan Ki Gusti Ngurah Jarantik, bukan main senangnya beliau berdua dalam hubungan keluarga, sama-sama memperingatkan perjanjian, sehingga tidak luntur rasa cinta kasih dan keteguhan ikatan kekeluargaannya, serta keturunannya, suatu kedudukan untuk cucunya kemudian, sesudah sama-sama menyepakati ikrar itu, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, menunjukkan kebesarannya, lalu menghadiahkan tombak Ki Pangkajatatwa, kepada cucunya Ki Gusti Ngurah Jarantik, sebagai pemberian resmi kepada cucu, tujuannya sebagai tanda sampai di kemudian hari, setelah beliau selesai memberikan wejangan kepada anak cucunya tentang ajaran Kamahayanikan, serta tata cara memimpin wilayah, lalu beliau kembali pulang ke Den Gunung, demikian ceritanya.

    Entah berapa lamanya, oleh karena sudah kehendakNya, terjadilah kehancuran di daerah Gelgel, ketika itu Sri Dalem Dewa Agung Jambe masih kecil, oleh karena sifat loba dan durhakanya Kyayi Agung Maruti, mengharap-harapkan akan menggantikan raja Gelgel, serta sudah banyak para menteri dan rakyat yang senang menghamba kepadanya ( Kyayi Agung Maruti ), oleh karena kelicikan Kyayi Agung, merangkul semua orang, perkataannya sangat manis, dan lembut, akan tetapi banyak juga para Arya kesatria bujangga, tidak menyenangi tingkah laku Kyayi Agung, menyebabkan pikiran orang menjadi berbeda-beda, sama-sama mencari pemimpinnya yang disenangi sendiri-sendiri, sehingga terjadi keributan di wilayah Gelgel, Sri Dalem Cili, dilarikan oleh para menterinya, dibawa bersembunyi ke Singharsa, disangga selengkapnya oleh beliau Ngurah Singarsa, berkat baktinya bertuan.

    Tidak lama kemudian, terjadilah persidangan para punggawa agung, yang masih tetap setia kepada Dalem, sebagai pemimpin beliau Ngurah Singharsa, setelah selesai memberikan surat kepada para manca semua, sampai ke Ler Gunung serta ke daerah Badung, semua menyetujui dan satu tujuan dengan Ngurah Singharsa, hendak menghancurkan Kyayi Agung Maruti, setelah mufakat sama-sama berangkat dari daerahnya masing-masing, seperti Ki Gusti Ngurah Panji Sakti sudah berangkat, lengkap dengan segala macam senjata, tak terhingga banyaknya, memenuhi jalan dengan riuhnya, bermarkas di desa Panasan sebelah barat Toya Jinah, oleh karena sangat kesusahan masyarakat di sana, oleh senjata dari Ler Gunung, oleh karenanya disebut Desa Panasan sampai sekarang, kemudian bertemu dengan prajurit Kyayi Agung dari Gelgel, sebagai senapati Ki Dukut Kerta, dihadapi oleh Ki Tamlang, patih beliau Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, luar biasa ramai pertempuran itu, saling sergap, kemudian kalah pertahanan Ki Padang Kerta, dadanya tertikam, kepalanya dipenggal, matilah Ki Padang Kerta, oleh Ki Tamlang, kacau balau prajurit Ki Gusti Agung Maruti menjadi bubar, tak mampu bertahan, sehingga Ki Gusti Agung terpengaruh, ikut lari, melarikan diri dari pertempuran, seraya dikejar oleh prajurit dari Ler Gunung, seperti Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, dengan mengacungkan keris yang terbuat dari baja, bergagang kayu pelet berbentuk babodolan, yang sudah dihunus dari sarungnya, seberapa jauhnya Ki Gusti Agung Maruti lari, terus juga dikejar, lalu dibanjiri kanan kiri oleh prajurit dari Ler Adri, sehingga beliau ibarat anjing terpukul, oleh karena tidak ada jalan, sehingga beliau berbalik bersama prajuritnya, keinginannya untuk sekaligus dengan bertempur habis-habisan, mencari jalan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti yang ditujunya, beliau Ki Gusti Ngurah Panji Sakti penguasa dari Ler Adri sangat hati-hati, keinginannya untuk menandingi dalam pertempuran, ketika bersikap akan berbuat, kemudian tangkai keris itu pecah menjadi dua, tangkai keris yang berbentuk babodolan, rusak pukuh kerisnya, sehingga Ki Gusti Ngurah Panji Sakti kaget terhenti, selanjutnya mengganti senjata, mengambil keris pusaka Ki Semang, saat itu Ki Gusti Agung Maruti dapat kesempatan menghindar bersama prajuritnya, haripun menjelang malam, maka tidak dapat dikejar oleh Ki Gusti Panji Sakti, selanjutnya menuju Gelgel, di sana beliau mengutarakan sumpahnya, semua keturunannya sampai kemudian hari, tidak boleh mempergunakan senjata yang berkepala/berbentuk babodolan, oleh karena sangat tidak berguna, demikian ceritanya.

    Entah berapa lamanya, pemerintahan Sri Panji Sakti, beliau tetap tinggal di istana Sukasada, beliau menurunkan banyak putra serta cucu, tidak ada yang berani menentang perintah beliau raja, Semuanya diam tunduk dan setia, masing-masing melakukan kegiatannya, dan entah berapa lamanya, setelah tiba ajalnya, akhirnya beliau Ki Gusti Ngurah Panji moksah, menuju alam Nirwana, meninggalkan sanak keluarga, meninggalkan banyak putra laki perempuan, masing-masing namanya, yang tertua Ki Gusti Ngurah Panji Gede, yang berhasil menggantikan menjadi raja Den Bukit, beliau tinggal di istana Sukasada, adiknya bernama Ki Gusti Ngurah Panji Made, satu ibu lahir dari I Dewa Ayu Juruh.

    I Gusti Alit Oka, I Gusti Made Padang, satu ibu lahir dari golongan Wesya yang berasal dari Banjar Ambengan Badung. Beliau I Gusti Made Padang, mengambil istri I Gusti Luh Abyan Tubuh, anak Ki Gusti Sakti, raja Tabanan.

    Ki Gusti Wayan Padang, Ki Gusti Made Banjar, satu ibu berasal dari desa Panji. Dan lagi I Gusti Ayu Panji, beribu Ki Gusti Ayu Rai, putri raja dari Mangwi, dipakai istri oleh Ki Gusti Anom dari Kapal Mangwi.

    I Gusti Ngurah Panji Cede, mempunyai seorang putri, bernama I Gusti Ayu Jelantik Rawit, I Gusti Ngurah Panji Made, berputra I Gusti Ngurah Panji Bali, beristri I Gusti Ayu Jelantik Rawit, I Gusti Panji Tahimuk, I Gusti Made Munggu, I Gusti Nyoman Panji, I Gusti Oka paling kecil.

    I Gusti Alit Oka, mempunyai seorang putri, bernama I Gusti Ayu Nambangan Mas, nama lain beliau I Gusti Ayu Den Bukit, dipakai istri oleh beliau Dalem Dewa Agung Made, yang berhasil melahirkan Dewa Agung Panji beserta keturunannya.

    I Gusti Made Padang berputra Ki Gusti Gede Jelantik, beliau pindah ke Jineng Dalem. I Gusti Wayan Padang, berputra Ki Gusti Lanang Jelantik, I Gusti Panji Dalugdag. I Gusti Made Banjar, berputra tiga laki-laki, Semuanya ikut mengiringkan Ki Gusti Ayu Nambangan Mas Den Bukit, ke Klungkung. I Gusti Ayu Panji, kawin ke Mangwi daerah wilayah Kapal.

    Sesudah sama-sama pergi ke alam baka, seperti Ki Gusti Ngurah Panji Gede, beserta Ki Gusti Ngurah Panji Made, lalu digantikan oleh Ki Gusti Ngurah Panji Bali, menjadi raja di daerah Den Bukit, selanjutnya beliau beristana di Sukasada, akan tetapi istana di Singaraja dipelihara sebagai tempat bersenang-senang, karena dibuat oleh leluhurnya, supaya tidak hilang dan hancur, tetap handal selama pemerintahan beliau, tidak ada yang berani berbuat durhaka.

    Ada putranya Ki Gusti Ngurah Panji Bali, dua orang laki-laki berlainan ibu, yang tertua bernama Ki Gusti Ngurah Panji, beliau sebagai raja di istana Sukasada. Adiknya, bernama Ki Gusti Ngurah Jelantik, beliau yang menjadi raja di Singaraja, oleh karena sudah dibagi daerah Lor Adri oleh dua bersaudara itu, sama-sama lahir dari permaisuri.

    Adapun I Gusti Made Munggu, berputra Ki Gusti Wayan Panji. Ki Gusti Wayan Gulyang, sama-sama berada di Singaraja, I Gusti Made Ksatra, I Gusti Made Ino, serta I Gusti Ketut Intaran Kawan, yang pergi ke Patemon, dan lagi I Gusti Nyoman Patandakan, yang pergi ke Bon Tihing. I Gusti Nyoman Panji, berputra I Gusti Wayan Ksatra; I Gusti Made Ino, dan I Gusti Ketut Intaran Kawan, sama-sama di Sukasada. I Gusti Oka, beliau tidak berputra. Adapun Ki Gusti Gede Jelantik, beliau mempunyai dua orang putri, bernama I Gusti Ayu Raka yang tertua, dipakai istri oleh beliau yang berkuasa di Sukasada, dan yang kedua, I Gusti Ayu Rai, dipakai istri oleh beliau yang berkuasa di Singaraja. Adapun tiga orang yang mengikuti I Gusti Ayu Nambangan Mas, di Klungkung, pindahnya dari Banyuning, mereka menetap tinggal di Banjar Lebah Klungkung, mereka menurunkan banyak keturunan di sana, tunduk setia kepada beliau yang diikutinya. Ki Gusti Lanang Jelantik, berputra Ki Gusti Alit Ksatra. Ki Gusti Panji Dalugdag, berputra Ki Gusti Bagus Panji Celuk, beserta saudaranya di Banyuning. Demikian beliau pergi mencari tempat tinggal, sebab rakyatnya sama-sama bakti menghamba.

    Lama-kelamaan, sebagai manusia yang tidak luput dari kesulitan dan penyakit, tak terduga takdir Yang Maha Kuasa, terjadilah perselisihan di dalam keluarga, yang berkuasa di Sukasada, dengan yang berkuasa di Singaraja, semakin lama semakin keras bentrok mereka, tidak ada yang berani menghalanginya, sebab sama-sama sangat mempercayai fitnah, sehingga yang berkuasa di Singaraja, meminta bantuan kepada Ki Gusti Ngurah Ketut Karangasern, Raja di Amlapura, sebagai pengatur siasat I Gusti Nengah Sibetan Wiweka, sebagai penguasa desa Selat, apa yang dikatakan, Raja di Singaraja Ki Gusti Ngurah Jelantik, membuat perjanjian imbalan terlebih dahulu, jika sudah mencapai tujuan, menyebabkan tunduk kakaknya, yang berkuasa di Sukasada, bersedia akan membagi pajak bumi Den Gunung, sama-sama memimpin bumi Buleleng, sebagai pemimpin hanya Ki Gusti Ngurah Jelantik, sebagai lambang adapun Sri Bupati dari Amlapura sebagai raja muda (iwaraja), sebagai pemimpin taktik dan strategi pemerintahan (makocering niti), maka perjanjiannya disetujui oleh beliau yang memimpin Karangamla, segera berkemas prajurit itu lengkap dengan senjata, lengkap dengan segala perlengkapan, seluruh pasukan Karangasern, siap untuk berangkat ke Den Gunung, menuju kota Singaraja.

    Tidak lama kemudian, didengar oleh kakaknya, jika adiknya meminta bantuan dari Karangasern, telah semua prajuritnya sampai di sana, luar biasa marahnya kepada adiknya, sehingga semua prajuritnya dipanggil dikumpulkan, disertai dengan senjata yang bertubi-tubi tan putus-putusnya, dengan maksud mendahului menyerang kota Singaraja, para prajurit menyebar menyerbu riuh rendah, hal itu diketahui oleh beliau penguasa Singaraja, sehingga sama-sama bersiaga, kemudian terjadilah perang, antara kedua istana itu, menjadi medan perang, setelah kedua belah pihak sama-sama melakukan pertempuran, saling berguguran. dorong mendorong, tikam-menikam, saling tombak, adapun sebagai pimpinan I Gusti Ngurah Jelantik, sehingga prajurit Sukasada menjadi terdesak, oleh karena kebanyakan musuh, dengan dibanjiri keberanian, tiba-tiba sama-sama melarikan diri bubar serta mundur, ada yang dirasakan dalam hati, akan hal kematiannya hampir tiba, itulah sebabnya Ki Gusti Ngurah Panji menjadi marah, menerobos ke tengah-tengah medan laga, ke depan dengan membawa keris pusaka Ki Semang, mengamuk dengan sangat hebatnya, banyak musuh beliau yang terbunuh, oleh karena kebanyakan lawan, sama-sama tidak hendak mundur, akhirnya kedua belah pihak Karangasern dan Singaraja berkumpul, menyerang mengurung, sehingga Ki Gusti Ngurah Panji dapat dikerubut, diusahakan merebut kerisnya, sehingga dapat diambil oleh musuhnya, akhirnya setelah lepas senjatanya beliau pun ditikam, darah beliau memancur, sehingga gugurlah beliau yang beristana di Sukasada, prajurit beliau semuanya tunduk memohon perlindungan, akhirnya semua prajurit Ler Gunung berkumpul menghamba kepada Ki Gusti Ngurah Jelantik, sebagai pemimpin daerah Den Bukit, beristana di Singaraja, sebagai raja muda beliau yang bergelar I Gusti Nyoman Karangasern, keturunan Arya Patandakan, sama-sama beristana di Singaraja, yang pindah dari Karangasern, atas perintah beliau Ki Gusti Ngurah Ketut Karangasern.

    Lama-kelamaan, setelah tiba ajalnya, beliau I Gusti Ngurah Jelantik wafat, namun karena liciknya daya upaya beliau raja Amlapura, akhirnya tersebar pula diketahui oleh rakyat, timbul pikiran loba dan tamak pada kawan, dengan mengandalkan kekuatan senjata dan rakyat, serta kereta perang dan perbekalan, di balik isi perundingan dulu, I Gusti Nyoman Karangasern dinobatkan menjadi raja Singaraja.

    Adapun anak beliau I Gusti Ngurah Jarantik, yang tertua bernama Ki Gusti Bagus Jelantik Banjar, berkedudukan sebagai patih di istana Bangkang, di bagian barat We Mala.

    Tak lama kemudian, Ki Gusti Nyoman Karangasern, memerintah sebagai raja wilayah Den Bukit, beliau meninggal karena diserang oleh penyakit, kemudian digantikan oleh Ki Gusti Agung Made Karangasern Sori, keturunan Karangasern, lebih kurang selama tiga tahun lamanya beliau berkuasa, beliau turun dari singgasana, oleh karena beliau tidak tegas memerintah rakyat, sehingga beliau memilih muka, tidak adil kepada rakyat.

    Adapun yang menggantikan beliau, bergelar Ki Gusti Ngurah Agung, mulanya juga dari Karangasern, sejak lama mengembara di Jembrana, sehingga beliau meninggal di Pangambengan Jambrana, diserang oleh prajurit penuh dengan senjata, oleh karena rakyat Jambrana tidak setuju menghamba kepada beliau.

    Kembali diceritakan, Ki Gusti Ngurah Panji, raja di Sukasada, yang meninggal di medan pertempuran dahulu, karenanya ada bernama desa Baratan, sampai sekarang, adalah bekas dua orang saudara bertempur, yang meninggal dalam pertempuran, meninggalkan putra, bernama Ki Gusti Ketut Panji, yang kalah dalam pertempuran dan masih hidup, selanjutnya beristana di Sukasada.

    Adapun yang menang dalam pertempuran, mempunyai putra bernama Ki Gusti Bagus Jlantik Banjar, beliau berkedudukan sebagai patih di istana Bangkang, ketiganya sama-sama meninggal karena tanah longsor, pada Isaka 1737 (1815 M), sebab lumpur dari gunung mengalir melaju ke wilayah Sukasada serta Bangkang, banyak rakyat yang meninggal terbenam oleh lumpur itu.

    Ada adik beliau Ki Gusti Bagus Jlantik Banjar, bernama Ki Gusti Ketut Jlantik, tidak meninggal oleh banjir lumpur itu, sebab beliau sudah pindah ke daerah Kubutambahan, serta adiknya yang bernama Ki Gusti Made Jlantik, mengungsi desa Pereyan Tabanan, beliau meninggal di sana, adapun yang bungsu bernama Ki Gusti Ketut Panji, beliau masih tetap tinggal di Singaraja.

    Adapun anaknya Ki Gusti Wayan Ksatra, yang bernama Ki Gusti Wayan Panji, Ki Gusti Wayan Panebel, serta Ki Gusti Nyoman Panarungan, sama-sama masih di Sukasada, Semuanya meninggal terbenam dalam lumpur pada tahun Isaka 1737 (1815 M).

    Adapun Ki Gusti Ayu Den Bukit, yang diambil sebagai istri oleh beliau Dalem Smarapura, berputra Dewa Agung Panji, beliau yang menurunkan Cokorda Agung Mangwi, beserta Dewa Agung Putu di daerah Getakan, serta Cokorda Mayun Giri, di daerah Nyalian.

    Adapun sanak saudaranya, beliau Ki Gusti Ayu Den Gunung, yang mengikuti beliau di Klungkung dahulu, yang paling tua menurunkan mereka yang berada di Gunung Rata, adiknya berputra yang menurunkan mereka yang berada di Sampyang Gianyar, sedangkan yang paling kecil berputra yang berada di daerah Lebah Klungkung.

    Kembali diceritakan, Ki Gusti Ketut Panji, berputra Ki Gusti Gede Panji, Ki Gusti Made Clagi, serta Ki Gusti Nyoman Pinatih, sama-sama berada di Sukasada. Ki Gusti Bagus Jlantik Banjar, berputra Ki Gusti Bagus Suwi, serta Ki Gusti Made Akeh, sama-sama berada di Bangkang.

    Adapun Ki Gusti Made Panji Muna, berputra Ki Gusti Bagus Jlantik Kalyanget. Ki Gusti Ketut Jlantik, berputra Ki Gusti Wayan Ksatra, berada di Kubutambahan, adiknya Ki Gusti Made Jlantik, berada di Panarukan.

    Adapun Ki Gusti Made Jlantik, yang meninggal di Pereyan, berputra Ki Gusti Wayan Jlantik, berada di Sasak. Sedangkan Ki Gusti Ketut Panji di Singaraja., sama-sama berada di Singaraja.

    Ada saudara beliau pergi ke Patemon, serta ke Bon Tihing, dan ke Depaha. Adapun Ki Gusti Wayan Panji, Ki Gusti Wayan Panebel, dan Ki Gusti Nyoman Panarungan, sama-sama menurunkan keluarga, selanjutnya dari Sukasada pindah ke Singaraja.

    Diceritakan Ki Gusti Gede Panji, berputra Ki Gusti Putu Panji, Ki Gusti Made Kari, dan Ki Gusti Ketut Panji, sama-sama berada di Sukasada. Ki Gusti Made Celagi beliau banyak menurunkan putra. Ki Gusti Nyoman Pinatih, mempunyai seorang putri bernama I Gusti Ayu Rai, serta saudara laki-lakinya. Ki Gusti Bagus Suwi, di Bangkang, mempunyai seorang putri Ki Gusti Ayu Made Ayu, beserta saudara laki-laki. Ki Gusti Made Akeh, di Bangkang, berputra I Gusti Nyoman Panji, I Gusti Ketut Jlantik Sangket, beserta saudaranya di Bangkang. Ki Gusti Bagus Jlantik Kalyanget, pindah dari Tukad Mungga, putra beliau Ki Gusti Bagus Jlantik Batupulu, adiknya Ki Gusti Made Batan, sama-sama di Tukad Mungga. Adapun Ki Gusti Wayan Ksatra di Kubutambahan, berputra I Gusti Putu Kari, Ki Gusti Putu Kebon nama lainnya, ada adiknya seorang wanita bernama Ki Gusti Ayu Made Batan.

    Adapun Ki Gusti Made Jlantik, di Panarukan, berputra Ki Gusti Ayu Putu Puji, Ki Gusti Ayu Jlantik, Ki Gusti Ayu Rai, dan Ki Gusti Ayu Putu Intaran Rudi. Selanjutnya I Gusti Wayan Jlantik yang berada di Sasak, berputra Ki Gusti Made Jlantik Jwala, serta Ki Gusti Ketut Jlantik Jwali. Adapun Ki Gusti Bagus Ksatra, di Singaraja, berputra Ki Gusti Bagus Rai, serta saudaranya, tidak diceritakan selanjutnya.

    Kembali diceritakan. setelah beliau Ki Gusti Ngurah yang wafat di Pangambengan , beliau digantikan, oleh yang bernama Ki Gusti Agung Pahang, pada saat Isaka 1751 (1829 M), beliau memindahkan istana Singaraja, ke sebelah barat jalan, entah berapa lamanya menjadi raja, terdorong oleh karena sudah kehendakNya, akhirnya keluar sifat angkara beliau, diduga tidak ada menandingi kewibawaannya, bertingkah laku tidak senonoh, sehingga melanggar tata susila yang sudah ada, gamya-gamana, serta berselingkuh dengan saudara perempuan beliau, hal itu diketahui oleh para menterinya, serta rakyatnya semua, akan tetapi Semuanya memendam dalam hati, tidak ada yang berani membuka mulut, akan kejahatan tuannya, akan tetapi semua sudah kentara bahwa semua mengetahui namun pura-pura tidak tahu, sehingga beliau Ki Gusti Ngurah Pahang menjadi was-was, mengira bukan mustahil rakyatnya semua akan menentang kekuasaannya, tetapi tetap niatnya berbuat ganas pada rakyatnya, terhadap tindak-tanduknya, belum pantas dihukum mati, dibunuhnya juga selalu memegang pentungan, tidak sedikit menyakiti rakyatnya, karena curiga pada diri atas perilakunya yang tidak senonoh. Kira-kira tiga tahun lamanya beliau menjadi raja, ada para arya bernama Ki Gusti Bagus Ksatra dari Singaraja, saudara beliau Ki Gusti Made Singaraja, anak beliau Ki Gusti Ketut Panji, beliau Ki Gusti Bagus Ksatra, disuruh membunuh oleh Ki Gusti Agung Pahang, sebab memberikan hidangan ikan udang kepada beliau, disangka oleh beliau raja, akan menjadi sebab berhenti menjadi raja Den Bukit, ada pula yang bernama Wayan Rumyani, Pan Apus nama lainnya, ia rakyat yang dipercayai menjadi perbekel, ikut juga dibunuhnya, oleh karena kelihatan sebagai raja gila, disangkanya jelas akan mencelakakan.

    Selanjutnya jenazah Ki Gusti Bagus Ksatra, ditambatkan di lapangan, telinganya kiri-kanan diberi bunga kembang sepatu merah, mayatnya menjadi tontonan orang banyak, dan adiknya Ki Gusti Made Singaraja, menghadap raja, memohon belas kasihan, memohon jenazah kakaknya, ternyata tidak diijinkan oleh beliau raja, setelah sore hari, barulah mayatnya diserahkan kepada sanak saudaranya.

    Oleh karena demikian keadaannya, luar biasa marahnya Ki Gusti Made Singaraja, beserta sanak keluarganya semua, semua keturunan pemberani Sri Panji Sakti, lalu bersama-sama mengadakan perundingan, setelah memperoleh keputusan, memaksa menerobos masuk istana.

    Pada saat hari baik, beliau raja < > Pahang mengadakan keramaian di istana, mengadakan pertunjukan wayang kulit, adapun sebagai Dalangnya bernama Ki Gulyang, dari desa Banjar, itulah kesempatan para arya semuanya, bermaksud ikut mengamuk di istana, sudah siap dengan senjata, hanya menunggu keluarnya beliau sang raja, menonton, sampai tengah malam, juga Ki Gusti Agung Pahang belum keluar, menonton wayang, adapun Ki Dalang Gulyang sedang memainkan perang wayang, akhirnya semua para arya kepayahan menunggu, akhirnya mereka menyebar mengacau, mengamuk orang-orang yang menonton wayang, ada yang menikam ke arah Dalang yang sedang memainkan wayang, layarnyapun robek, adapun sang dalang saat itu sedang memegang wayang Bima, serta wayang Tuwalen, serta membawa Capala, oleh karena kagetnya, lalu segeralah ia melompat mencari perlindungan, membawa wayang Bima dan Tuwalen, beserta capalanya.

    Tidak diceritakan banyaknya yang mati dan terluka di tempat orang menonton, kacau balau, mencari perlindungan, sehingga hiruk-pikuk mondar-mandir, di halaman kedua istana, disambut dengan suara kentongan bertalu-talu, luar biasa riuhnya orang-orang, seisi istana, sama-sama keluar dengan membawa senjata, sama-sama menunggu di jalan raya, sebab tidak ada yang berani masuk ke istana, oleh karena sangat gelapnya.

    Diceritakan ada yang bernama Ketut Karang, sebagai kepala penjaga istana, bertempat tinggal di Panataran, ia berbicara, mengingatkan Ki Gusti Made Singaraja, beserta pengikutnya, menyuruh untuk kembali pulang, sebab beliau raja sudah pergi mengungsi meninggalkan istana, tidak akan berhasil jika langsung masuk ke dalam istana, mungkin tujuannya akan menemui bahaya, demikian cegahan Ketut Karang, lalu mereka yang menyerang kembali pulang semuanya, menuju rumahnya masing-masing.

    Keesokan harinya, Ki Gusti Agung Pahang, dihadapkan dalam persidangan, dihadapkan oleh semua para manca, akan tetapi para arya Den Bukit tidak ikut, melakukan persidangan, tentang pemberontakan para arya Buleleng, durhaka mengamuk dalam istana, setelah kesepakatan raja selesai, sesudah disepakati oleh para arya keturunan Karangasern, bahwa akan membunuh semua para arya Buleleng, laki perempuan, tua muda, supaya tidak ada tersisa, sebab sangat besar dosanya terhadap sang raja, setelah demikian keadaannya, tidak menunggu sehari, seketika mendadak dikerahkan para prajuritnya lengkap dengan senjata, disuruh untuk menghancurkan para arya yang ada di Ler Adri, ternyata lamban tindakan para arya itu kurang cepat mengelak, sehingga hancur beserta dengan anak-anaknya (arare cili), oleh karena angkatan bersenjatanya sangat hebat jitu melaksanakan perintah sang raja, itu sebabnya berpuluh bahkan sampai ratusan mereka yang dapat ditikam dengan keris, serta tombak, segala yang mengakibatkan kematian, bagaikan bergunung mayat dan berlautan darah kenyataannya, demikian diceritakan.

    Kenyataannya, sebab kehendakNya tidak dapat dilawan, untuk menciptakan kebesaran keturunan beliau Ki Gusti Ngurah Panji, walaupun beberapa banyaknya prajurit beliau, memporak-porandakan para arya Den Bukit, tetapi didorong oleh kekuatan suci beliau yang sudah mendahuluinya ( wafat), mereka tak mungkin sampai habis dihancurkan, ada juga yang tersisa, yang berhasil menurunkan keturunan sampai sekarang, bagaikan dilindungi oleh dewata persembunyiannya, sehingga terlepas dari kematian, siapakah itu yang masih hidup?, demikian kira-kira pertanyaannya, di antaranya, Ki Gusti Made Kari, Ki Gusti Ketut Panji, sama-sama ada di Sukasada, beliau sama-sama pindah ke wilayah Desa Kapal Mangwi, beliau yang menurunkan keturunan di Sukasada sampai sekarang. Adapun Ki Gusti Nyoman Panji, beserta saudaranya Ki Gusti Ketut Jlantik Sangket, sama-sama pergi menyelinap di hutan-hutan wilayah desa Panji, beliau yang menurunkan para arya di istana Bangkang sampai sekarang.

    Adapun Ki Gusti Bagus Ketut Jlantik Batupulu, serta adiknya Ki Gusti Made Batan, sama-sama mengungsi menuju wilayah desa Soka Tabanan, beliau yang menurunkan sanak keluarga para arya Tukad Mungga, sampai sekarang.

    Selanjutnya Ki Gusti Putu Kebon, Ki Gusti Putu Kari nama lain beliau, pergi ke desa Pakisan, dan berhasil menurunkan yang di istana Kubutambahan. Adapun Ki Gusti Ketut Jlantik Jwali, menurunkan keturunan di Karang Buleleng Sasak sampai sekarang.

    Pendeknya, apa sebab sama-sama masih hidup, karena ditolong oleh rakyatnya masing-masing, yang masih bakti menghamba, berusaha menyelamatkan diri.

    Kembali diceritakan, tidak menyimpang akan titah Nya, perbuatan semasa hidup didorong oleh perbuatannya dahulu, sebabnya Ki Gusti Ngurah Pahang, semakin bertambah angkara murkanya, bagaikan malapetaka dari-Nya, segera semakin diketahui oleh rakyatnya semua, perbuatannya gamya-gamana dengan adik, menyebabkan panas pada saat musim hujan, hasil panen tidak berhasil, kebutuhan sehari-hari jarang, negara menjadi terpecah, sehingga orang-orang menjadi ribut, bertengkar berperang dengan sanak keluarga, sama-sama tidak tertahankan oleh para manca serta semua rakyat , selanjutnya K-i Gusti Agung Pahang dikepung oleh rakyat bersenjata, akhirnya lari ke wilayah Karangasern, setibanya beliau di sana, akhirnya beliau dibunuh oleh rakyat Karangasern.

    Digantikan oleh beliau yang bernama Ki Gusti Ngurah Made, yang menggantikan kedudukan raja Buleleng, beliau juga keturunan Karangasern, dibantu oleh beliau yang bernama Ki Gusti Ketut Jlantik Gingsir, kedudukannya sebagai patih, diberi mandat memerintah negara Buleleng, keberanian beliau Ki Gusti Patih terkenal ke mana-mana sampai ke pelosok Pulau Bali, sebab beliau mengalahkan desa-desa yang ada di wilayah pegunungan Bangli, seperti Payangan, sangat luar biasa pujian rakyat, akan keberanian beliau menggempur musuhnya yang sakti.

    Entah berapa tahun lamanya, tiba-tiba ada perbedaan pendapat Ki Gusti Patih Ketut Jlantik, berselisih dengan pemerintahan Belanda, menyebabkan terjadinya permusuhan, perangpun terjadi sangat hebat, antara Belanda dengan rakyat Bali, lamanya perang hingga tiga tahun, akhirnya rakyat Den Bukit mengalami kekalahan, oleh pemerintahan Belanda, pada Isaka 1768 ( 1846 M), adapun raja Ngurah Made, serta Ki Gusti Ketut Jlantik, disertai prajuritnya, lari pergi menuju wilayah Karangasern.

    Setelah demikian, tidak ada lagi keturunan raja Karangasern yang memerintah di Buleleng, dan pemerintahan Belanda yang berhasil menang di Buleleng, untuk menjalankan pemerintahan, kembali mengangkat raja, memilih raja keturunan Den Bukit seperti dulu kala, setelah pembicaraan selesai, disetujui oleh para manca dan punggawa semua, diusahakan mencari yang benar-benar keturunan para arya, keturunan Sri Panji Sakti dahulu, yang memerintah di Den Gunung, sebab dipilih oleh semua orang yang menginginkan, sehingga dinobatkan bergelar Ki Gusti Made Rai di Sukasada, menjadi penguasa Den Bukit, beliau adalah putra dari Ki Gusti Made Kari, yang pergi ke daerah Kapal Mangwi, pada saat diserang oleh Ki Gusti Agung Pahang dahulu.

    Ada saudara tertua beliau Ki Gusti Made Rai seorang wanita, bernama Ki Gusti Ayu Pakisan, adiknya bernama Ki Gusti Ayu Rai, yang laki bernama Ki Gusti Made Panji, serta Ki Gusti Nyoman Panarungan.

    Adapun adik beliau Ki Gusti Made Kari, yang bernama Ki Gusti Ketut Panji, beliau berputra Ki Gusti Ayu Griya, Ki Gusti Agung, serta Ki Gusti Ayu Bulan, sama-sama berada di Sukasada.

    Adapun Ki Gusti Nyoman Panji, yang pergi menuju desa Alas Panji, berputra Ki Gusti Ayu Sekar, Ki Gusti Made Banjar, Ki Gusti Nyoman Banjar, serta Ki Gusti Ketut Tangkeban.

    Adapun adik beliau Ki Gusti Nyoman Panji, yang bernama Ki Gusti Ketut Jlantik Sangket berputra Ki Gusti Wayan Jlantik, Ki Gusti Nyoman Oka, Ki Gusti Ketut Rai serta yang lain ibu dengan Ki Gusti Ayu Kompyang Panji, Ki Gusti Ayu Nyoman Rai, Ki Gusti Ketut Ksatra, Ki Gusti Ketut Banjar, serta Ki Gusti Ayu Kaler, sama-sama kembali ke Bangkang.

    Adapun Ki Gusti Bagus Jlantik Batupulu, yang pergi ke desa pegunungan di daerah Soka Tabanan, berputra Ki Gusti Putu Panji, Ki Gusti Ayu Mas, Ki Gusti Ketut Ksatra, serta Ki Gusti Ketut Jlantik, semua kembali ke wilayah Desa Tukad Mungga.

    Juga adik beliau yang bernama Ki Gusti Made Batan, berputra Ki Gusti Putu Batan, Ki Gusti Ayu Made Taman, Ki Gusti Nyoman Jlantik, Ki Gusti Ketut Kaler, Ki Gusti Ayu Rai, Ki Gusti Ayu Panji, Ki Gusti Bagus Jlantik, Ki Gusti Made Karang, Ki Gusti Ketut Banjar, serta Ki Gusti Ayu Nyoman Soka nama beliau, sebab lahir di desa Soka, pada saat mengungsi dahulu, itu Semuanya lalu bertempat tinggal di Tukad Mungga. Selanjutnya membangun tempat pemujaan di rumahnya di Tukad Mungga, meniru yang ada di istana Bangkang.

    Adapun Ki Gusti Putu Kari, Putu Kebon nama lain beliau, yang pergi ke Desa Pakisan, beliau berputra Ki Gusti Bagus Panji Cuwag, Ki Gusti Ketut Kaler, Ki Gusti Ketut Jlantik, serta Ki Gusti Ayu Putu, Semuanya kembali ke Kubutambahan.

    Juga beliau Ki Gusti Ketut Jlantik Jwali, berputra Ki Gusti Bagus Jlantik, Ki Gusti Made Rai, serta Ki Gusti Nyoman Jlantik, sama-sama bertempat tinggal di Sasak.

    Yang lainnya, ketika diserang oleh beliau Ki Gusti Agung Pahang, dahulu, oleh karena para Arya Buleleng sama-sama mencari keselamatannya masing-masing, ada para arya yang berbudi ingkar lupa akan leluhurnya, tidak mengetahui asal-usulnya, menuruti jalan hidupnya, sehingga tinggal di rumah orang yang beragama Islam di pesisir Singaraja, yang sudah jelas tidak setia pada agamanya, menjadi beragama Islam, ada keturunannya sampai sekarang, setelah bercampur dengan orang-orang yang beragama Islam.

    Entah beberapa lamanya, lebih kurang tiga tahun lamanya, Ki Gusti Made Rai menjadi raja Buleleng, akhirnya beliau turun dari singgasana, oleh karena tidak menghiraukan rakyat, didorong oleh nafsu, tenggelam dalam sabungan ayam, tidak ingat akan kewajibannya sebagai raja, beberapa bulan meninggalkan istana, tinggal diam di desa Panji, diiring oleh para penjudi, sangat keras mengikuti keinginan berjudi.

    Setelah mendapat kata sepakat oleh pemerintahan Belanda, dibantu oleh para menteri, punggawa semuanya, sehingga dipilih beliau Ki Gusti Ketut Jlantik di Kubutambahan, putra beliau I Gusti Putu Kari, dinobatkan menjadi raja di Buleleng, sebab beliau memang benar-benar keturunan Sri Agung Panji Sakti, keturunan keempat dari Ki Gusti Agung Rai.

    Kemudian dari hasil keputusan pemerintahan Belanda, pindah dari Kubutambahan beristana di Singaraja, bergelar Ki Gusti Nglurah Ketut Jlantik, dibantu oleh ayah beliau Ki Gusti Putu Kari, berkedudukan sebagai punggawa di Kubutambahan.

    Adapun ipar baginda raja, bernama Ki Gusti Putu Batan, raja muda dengan jabatan sedahan agung kedudukan beliau, dan Ki Gusti Bagus Jlantik, patih kedudukan beliau, semula berkedudukan di Tukad Mungga, selanjutnya pindah ke Singaraja, Puri Kanginan, lain dari itu, masih berada di Tukad Mungga, sama-sama diberi kedudukan oleh baginda raja, demikian keluarga raja keturunan istana Bangkang, serta yang berada di Sukasada, menyebabkan tenang dan sempurna baginda raja, dibantu oleh sanak keluarga dan tanda mantri serta punggawa.

    Entah berapa lamanya, bagaikan kehendak-Nya, sebab sudah tiga giliran waktunya pembagian takdir Yang Maha Kuasa, disertai dengan perputaran jaman, menyebabkan keadaan menjadi kacau, menyebabkan banyak yang saling fitnah, diakibatkan oleh keinginan Belanda untuk menguasai negara, dengan cara-caranya sendiri, sehingga ada saja alasannya untuk menghukum, menyalahkan Ki Gusti Ngurah Ketut Jlantik, sehingga beliau diberhentikan menjadi raja, selanjutnya beliau dijadikan orang buangan di Pulau seberang yaitu wilayah Padang Pulau Sumatra.

    Setelah keadaan demikian, selanjutnya Belanda sebagai penguasa daerah Buleleng, tidak ada rajanya lagi, hanya Ki Gusti Bagus Jlantik kedudukannya sebagai patih, sebagai pemimpin orang-Bali di Buleleng.

    Kembali diceritakan, tentang keturunan beliau Ki Gusti Made Rai di Sukasada, beliau banyak menurunkan keturunan, yang tertua Ki Gusti Bagus Rai, adiknya Ki Gusti Made Ksatra, Ki Gusti Nyoman Karang, Ki Gusti Ketut Tangi, Ki Gusti Ketut Jlantik, Ki Gusti Bagus Dalang, Ki Gusti Ayu Ketut Rai, Ki Gusti Putu Gunung, Ki Gusti Nyoman Jlantik Ceples, Ki Gusti Ayu Jlantik, Ki Gusti Ketut Perasi, Ki Gusti Nyoman Jlantik, Ki Gusti Ketut Rai, Ki Gusti Ayu Putu, beliau dijadikan istri oleh Ki Gusti Putu Griya, di Singaraja.

    Adapun Ki Gusti Made Panji, berputra Ki Gusti Ayu Turun. Adapun I Gusti Nyoman Panarungan, berputra Ki Gusti Bagus Bebed, sama-sama berkedudukan di Sukasada.

    Adapun Ki Gusti Agung, pindah ke Depaha, berputra Ki Gusti Ayu Sekar, Ki Gusti Ayu Made Panji, Ki Gusti Ayu Made Rai Kebring, yang dijadikan istri oleh Ki Gusti Made Singaraja, di Singaraja, Ki Gusti Ketut Jlantik, Ki Gusti Putu Canang, Ki Gusti Made Togog, Ki Gusti Ayu Nyoman Tilem, Ki Gusti Ketut Panji, serta Ki Gusti Ayu Jlantik.

    Adapun yang berada di istana Bangkang, Ki Gusti Made Banjar, berputra Ki Gusti Ayu Dangin, istri beliau Ki Gusti Nyoman Gunung, di Tukad Mungga, Ki Gusti Ayu Mas, Ki Gusti Nyoman Jlantik, serta KI Gusti Made Panji.

    Adapun Ki Gusti Nyoman Banjar, berputra Ki Gusti Ayu Kompyang Panji, Ki Gusti Made Selat, serta Ki Gusti Ketut Putu. Adapun Ki Gusti Ketut Tangkeban, beliau tidak mempunyai keturunan.

    Adapun Ki Gusti Wayan Jlantik, berputra Ki Gusti Putu Cede, Ki Gusti Made Jlantik, Ki Gusti Ayu Nyoman Ayu, istri beliau Ki Gusti Nyoman Jlantik, Ki Gusti Ayu Kajeng, Ki Gusti Ayu Rai, istri beliau Ki Gusti Putu Intaran, di Bangkang, Ki Gusti Ayu Ketut Panji,, istri beliau Ki Gusti Ketut Putra di Tukad Mungga, serta yang bungsu Ki Gusti Bagus Jlantik.

    Adapun Ki Gusti Nyoman Oka, berputra Ki Gusti Putu Intaran, Ki Gusti Made Celagi, Ki Gusti Nyoman Jlantik Jebel, Ki Gusti Putu Gianyar, serta Ki Gusti Made Kaler. Kemudian Ki Gusti Ketut Rai, berputra Ki Gusti Ayu Jlantik, istri beliau Ki Gusti Bagus Rai dari Tukad Kemudian Ki Gusti Ketut Panji, berputra Ki Gusti Putu Panji, Ki Gusti Ayu Kompyang Sekar, istri beliau Ki Gusti Made Jlantik, Ki Gusti Ayu Made Rai, istri beliau Ki Gusti Nyoman Jlantik Jebel.

    Adapun Ki Gusti Ketut Kaler, berputra Ki Gusti Ayu Kompyang Jlantik, istri beliau Ki Gusti Bagus Jlantik dari Bangkang, serta adiknya Ki Gusti Made Raka. Adapun Ki Gusti Ketut Ksatra, berputra Ki Gusti Bagus Jlantik Dawuh. Kemudian Ki Gusti Ketut Banjar, berputra Ki Gusti Ayu Dalem, istri beliau Ki Gusti Ketut Putu di Bangkang, Ki Gusti Ayu Made Rai, Ki Gusti Panji Cuweh, Ki Gusti Ayu Made Ayu, Ki Gusti Ketut Ayu, Ki Gusti Ayu Selat, Ki Gusti Made Jiwa, Ki Gusti Nyoman Raka, serta Ki Gusti Ayu Ketut Griya, beliau Semuanya ada di Bangkang, satu tempat suci untuk pemujaan bagi beliau semua. Adapun yang ada di Tukad Mungga, yang bernama Ki Gusti Putu Panji, berputra Ki Gusti Bagus Rai, Ki Gusti Ayu Jlantik, istri beliau Ki Gusti Putu Intaran di Tukad Mungga, Ki Gusti Made Oka, Ki Gusti Ayu Nyoman Rempeg, istri beliau Ki Gusti Putu Gianyar di Bangkang, serta Ki Gusti Ketut Cede. Ki Gusti Ketut Ksatra, berputra Ki Gusti Ayu Kompyang Sekar, istri beliau Ki Gusti Ketut Cede, di Tukad Mungga, adiknya Ki Gusti Made Jlantik. Adapun Ki Gusti Ketut Jlantik, berputra Ki Gusti Ayu Kompyang Rai, istri beliau Ki Gusti Ketut Cede di Tukad Mungga.

    Selanjutnya Ki Gusti Putu Batan, berputra Ki Gusti Ayu Putu Sekar, istri beliau Ki Gusti Ketut Ksatra di Bangkang, Ki Gusti Ayu Made Jlantik, istri beliau Ki Gusti Made Celagi di Bangkang, Ki Gusti Ayu Kompyang Ayu, istri beliau Ki Gusti Putu Griya di Singaraja, Ki Gusti Made Singaraja, Ki Gusti Ayu Nyoman Ayu, istri beliau Ki Gusti Nyoman Raka, Ki Gusti Ketut Bagus, serta yang bungsu Ki Gusti Ketut Putu.

    Adapun beliau Ki Gusti Nyoman Jlantik, berputra Ki Gusti Putu Center, Ki Gusti Ayu Made Rai, istri beliau Ki Gusti Putu Cede di Bangkang, Ki Gusti Putu Selat, Ki Gusti Ayu Made Sekar, Ki Gusti Nyoman Jlantik Gunung, serta Ki Gusti Ketut Putra. Adapun Ki Gusti Ketut Kaler, berputra Ki Gusti Ayu Kompyang Kaler, serta Ki Gusti Ayu Made Griya, sama-sama diambil sebagai istri oleh Ki Gusti Ketut Jlantik.

    Selanjutnya Ki Gusti Bagus Jlantik Patih, berputra Ki Gusti Putu Intaran. Serta Ki Gusti Made Karang, beliau tidak mempunyai keturunan. Selanjutnya Ki Gusti Ketut Banjar, putra beliau tertua bernama Ki Gusti Putu Griya, adiknya Ki Gusti Ayu Made Panji, istri beliau Ki Gusti Putu Selat di Tukad Mungga, Ki Gusti Nyoman Raka, Ki Gusti Ketut Jlantik, serta Ki Gusti Ayu Rai, istri beliau Ki Gusti Putu Intaran di Tukad Mungga. Demikian keturunan beliau yang ada di Tukad Mungga, Semuanya bersatu dalam satu tempat pemujaan masing-masing di desa Tukad Mungga.

    Adapun Ki Gusti Ngurah Ketut Jlantik, bekas raja Buleleng yang terakhir, berasal dari keturunan di Kubutambahan, beliau mempunyai seorang putri, bernama Ki Gusti Ayu Kompyang, istri beliau Ki Gusti Made Singaraja, di Singaraja.

    BalasHapus
  34. NAMA : IKA NOVIANA WIDIASARI
    NIM : 2102408001
    ROMBEL : 1

    SERAT WASKITHANING NALA

    DHANDHANGGULA

    Kanag winarni sekar dhandhang gendhis, amurwani mardhawaning gita, den samaring semuning reh, pan darganireng kalbu, jinurunga marang sasami, Surtinya weh kaharsan, ya mring weka jalu, winor ing warah weruha, jatineng reh den samya pralebdeng westhi, ya rane waskitha.

    Ing dununge kawruh ala becik, nadyan silih wus samya widagda, gegurua saranane, ribet lamun tan weruh, bebukaning janma dumadi, tetela yen tan wikan, wigena sawegung, kudu binudi marganya, wijang-wijangireng pariwara dami, tanggulen ywa pepeka.

    Samangkana dennya asung wangsit, mring sanggyaning para ptra wayah, pinet amrih kotamane, away na korup tangguh, inglawiyanira ngaurip, uripira pan dadya, isening donyeku, ewuh lamun tan weruha, ingkang dadya tetanggulira ing urip, marmane den waskitha.

    Dene ingkang kinarya upami, wasitaning sujalma samangkya, kang kinarya tuladhane, ala ayuning laku, nging tan ana wujudireki, amung karya pralambang, pnatut ing tembung, sinungan tembang macapat, supayane akarya renaning galih, winangun ing sarkara.

    Naming ngambil aranireng jalmi, mrih sekeca ingkang dadya lampah, pinatut runtut urute, tetelaa den apus, nenggih ingkang mangka purwaning, janma duwi tetruka, neng sukuning gunung, Semeru dhedhekahira, sri kawuryan kadulu kalangkung asri, akathah pala kirna.

    Pucang tirisanira mepeki, pinggir desa pring apus pring jawa, sembada kathah wismane, wastanira ing dhukuh, kang sajugaing karangsari, ingkang murwani karya, dhedhekah ing ngriku, awasta Ki Suryanala, klairane saking dhusun jatiragi, temen sabar narima.

    Satunggalnya padhekahan nami, asal klairanipun, saking krajan Kahuripan nguni, wau Ki Nalawase, lan Nalasttyeku, kalihnya apawang mitra, wus saengga kadang tungil yayah bibi, tan darbe subasita.

    Dennya karya dhedekah let tebih, nanging nugil se-arga kawula, Nuju sawiji arine, Ki Nalasaya wau, bubak wana trataban sandhing, tegalanira lama, sae stenipun, karsanira Nalastya, nglar tegale kang sae tanemekani, acelak randuwana.

    Sandhing witing randhuwana siki, lumpang kentheng ageng mung sajuga, wit randhu ngungkang jurang jro, wau dennira macul, Suryanala dugi madyaning, longkangan randhuwana, lawan lumpang watu, pamacule Suryanala, ananggori watu kumalasa siji, saklenthing agengira.

    Gya ingelut salebetireki, kayunnira Kyai Suryanala, kang sela kasingkirake, saking gennira ngriku, datan dangu kang sela keni, kabrengkal saking gennya, gya ngandhap kadulu, garowong wonten encehnya, Suryanala agowok dennya ningali, mangkana osikira.

    Iki baya pendhemanireki, janma kuna kang dhukuh neng arga, tandha lumpang kentheng kiye, dadi ngong iki nemu, enceh iki pama ngong ambil, ing jero isi brana sesotya di, kadlih ngong dursila.

    Pama aku matura amanggih, prentah ndhangu kang nekseni sapa, awit sira nemu kowe, nuli priye aturku, temah aku nemu bilahi, tetep dadi durjana, becik aku tutur, mring si kakang Candranala, dhasar prapat kapindho sudarawedi, tur bisa amicara.

    Ika pantes ingsun karya saksi, panemuku sinadyan jaluka, bageyan hiya karepe, janji slamet awakku, Suryanala sawusnya manggih, manah sigra umentar, lampahnya sineru, sapraptening wismanira, Candranala lagya linggih aneng panti, Suryanala anulya.

    Uluk salam Candranala gipih, anauri “Ngalaekun Salam”. Lah adhi lajuwa bae, Suryanala gya mlebu, jawat asta salaman nuli, satata lenggahira, Candranalamuwus, “Pun adhi napa raharja” Suryanala mangsuli “inggih basuki” Candranala ris tanya.

    “Kadingaren adhi mriki enjing, napa enten karyane kang gita?” Suryanala lon saure, “ Inggih kalangkung perlu, sowan kula pun kakang mriki, badhe ngaturi pirsa, enjing wau ulun, angelar tegil pagagan, macul wonten godhangan kentheng kakalih, randhuwana punika.

    Ananggori sela geng saklenthing, wau sela badhe kula bucalsareng kabrengkal ngandhape, garowong sitenipun, madya wonten encehireki, mawi tutup tembaga, kawula jrih jukuk, lajeng mariki punika, yen kapareng pun kakang kula aturi, nekseni manggih kula.

    Wonten tegil kapetak ing siti. Candranala aris dennya tanya, “isi punapa encehe, kawula ayun weruh, awrat adhi wong dadya saksi, lamun boten uninga, ing sajektosipun”. Suryanala aris nabda, yen makaten pun kakang kula aturi, mugi kapirsanana.

    Kranten kula inggih dereng uning, sampun ingkang bukak, tutupira, anggepok kewala dereng. “Candranala nabda rum, yen makaten inggih prayogi”. Sigra mangkat kalihnya, tan kawameng ngenu, lampahira sampun prapta, patugaran anjujug ungyanireki, pendheman tutup sela.

    Suryanala sigra nabda aris, “lah punika tutupipun sela”. Candranala alon wuwuse, “Andhika bukak gupuh”. Gya kabrengkal kang sela keksi, enceh tutup tembaga, Candranala kadulu, tan saranta nalanira, gya ingentas kabuka tutupireki, ing jro isi barana.

    Warna-warna sadaya mas adi, duk amulat wau Candranala , asru ngungun jro nalane, dangu tan bisa wuwus kang mangkana ciptanereki, “Lah iki raja brana akeh ajinipun, upama ingsun darbea, brana iku kabeh kadarbe ing mami, amasthi ingsun kaya.

    Teka iku ingkang sinung manggih, janma bodho datan karem bandha, teka tutur mring mitrane, suwe-suwene ingsun, kang sinungan bekja geng yekti, si adhi Suryanala, amasthi miturut, ing sagadarenaning wang, jer wong iku mituhu sarembug mami, dhasar ngaku wong tuwa.

    Duk samana Candranala gingsir, manahira kagiwang ing dunya, supe ing pawong mitrane, saking pambektanipun, melik ingkang anggendhong lali, mangkana osikira, “Upamane iku, bandha sun kon ngaturena, mring prentah nagara barange mesthi, kapundhut ing nagara.

    Krana iku bandha nggoni manggih, aneng wana kapendhem ing kisma, bumi iku kagungane, Sang Prabu ingkang mengku, ing rat jawa ping pindho kali, gedhe cilik samodra, ping telu marga gung, kaping pate iku wana, wajib dadi kagungane Sri Bupati, apa kang aneng kana.

    Destun muhung kewala kang manggih, pinaringan pituwasing karya, mangka ingkang nemu dede, manira apan namung, anekseni nggonira manggih, si adhi Suryanala, dadya raganingsun, tiwas kangelan kewala, tanpa gawe nggon manira wira-wiri, lah iku tan sekeca.

    Sun puriha nyidhem bae mesthi, tan suwala adhi Suryanala, hiya kaparo ngamale, dadi keh kalongipun, datan bisa malak pribadi, awadene semana, bokmenawa ingsun, bisa gawe rekadaya, rehning Suryanala rada cupet budi, ingong luse kewala.

    Candranala wusnya mantheng pikir, dennya amrih silip marang mitra, dadya manis wacanane, dhuh adhi kadangingsun, “Dunya niki peparing neki, kang bau reksa arga, ing Semeru niku, asih jengandika, sarta dhaten rehning truka ngriki, sinungan raja brana.”

    Dunya niki sejatine suci, boten susah lapor ing nagara, naging niki prayogane, sampun kabekta mantuk, sapunika bilih udani, dhumateng pawang kanca, kang nunggil sadhukuh, tan wande lajeng kawarta, dangu-dangu ngamal suci amejahi, dhateng kula lan ndika.

    Kalamun adhi marengi galih, sapunika wangsulna kewala, kadi duk wau-waune, dalu kewala wangsul, sidhem janma lajeng ngambil, kabekta dhateng wisma, dene ingkang tunggu, sadinten mangke kewala, kula titipaken dhateng mitra mami, kang tengga randhuwana.

    Suryanala amanagsuli aris, kula borong paduka kewala, janji wilujeng lampahe, candranala amuwus, Niku pikir ingkang utami, lah sumangga wangsulna, enceh gone wau, Suryanala sigra-sigra, mangsulaken enceh dhateng gene lami, katutupang ing sela.

    Candranala sigra muwus aris, Heh mitrengsun ingkang baureksa, ing randhu alas wiyose, manira minta tulung, marang sira reksane iki, pendheman raja brana, den kareksa iku, yen kejukuk ing jalma liyane saking, Suryanala ywa suka.

    Lamun ana janma arsa ngambil, sarimpungen sikil tanganira, aja lunga saka nggone, kono poma wekasku. Candranala sawusnya angling, marang wit randhu wana, nulya ngajak manthuk, Suryanala tan legena, nulya bibar ngalor ngidul dennya mulih, wus tebih lampahira.

    Suryanala datan darbe pikir, lampahira alaju kewala, Candranala ing lampahe, tansah amandheng mangu, gya nyalimpet alingan uwit, sempu menek saksana, ayun anguk-anguk, mring lakune Suryanala, wus pratela danira mulih sayekti, tumurun Candranala.

    Sigra-sigra denira lumaris, amangsuli pendheman karsanya, tan dangu prapteng enggene, petakan tutup watu, gya binuka tutupireki, enceh ingentas nulya, tutupira watu, winangsulaken lir lama, enceh sigra pinanggul ginawa mulih, tan dangu prapteng wisma.

    Candranala langkung sukeng galih, enceh nulya kasimpen jro wisma, datan kawarna siyange, Sang Hyang Surya wus surup, ginantyan pandhanging sasi, nuju sasi purnama, wayahnya jam wolu, Candranala wus sanega, arsa mangkat dhumateng wismanireki, Kiyai Suryanala.

    Tan kawama lampahireng margi, sampun prapta peleggahanira, ing karang sari wismane, Suryanala cineluk, saking jawi kinon umijil, Ki Suryanala gita, sumaur gya metu, alon denira nabda, “Lah sumangga kakang lenggaha kariyin, malebet dhateng wisma”.

    Candranala amangsuli aris, mangke mawon dhateng griya, mumpung sepi jalma mangke, ambujeng perlunipun, mendhet enceh kariyin adhi, yen selok kawanguran. Suryanala nurut, lampahira gegancangan, sapraptane ing tegal pendheman nguni, Candranala, anabda

    Lah adhi nuli ambil, ponang enceh, sigra Suryanala kagyat sarya ngling, Dhuh kakang Candranala, jugangane suwung, encehe wus datan ana, Candranala rewa-rewa api runtik, Ah si adhi sembrana.

    Boten ilok adhi ngguyoni, kadang tuwa ingajak sembranan. Suwung teng pundhi lungane, Suryanala amuwus, “Atur kula punika yekti, boten matur sembrana, estu sampun suwung sumangga sampeyan priksa”, Nalwasa api-api amirsani, lagya ngungak kewala.

    Nulya mlengos sarta muwus bengis, “Sun tan ngira adhi adhi Suryanala, kaya mangkana pikire, ujare wis tuhu, dennya ngaku sadulur mami, ing dunya prapteng kerat, manjinga sadulur, lan padha lila ing dunya, mengko lagi semono bae wis lali, kasmaran raja brana.

    ASMARADANA

    Jare temen tyase suci, lunuh gawe saking nala, marang janma sapadhane, tumita lila ing dunya, wedi keneng prakara, ing mengko katon satuhu, tyase tan tulus saengga.

    Palem weton ing Betawi, lamun kadulu ing jaba, beresih kuning rupane, menginake tyase janmaingkang durung uninga, adate pelem ing ngriku, mesthi wawani tuku nyengka.

    Sawuse dipun onceki, kaget ngungun nalanira, dene jero bongkeng kabeh, binatange ting berangkang, ireng-ireng rupanya, kang tuku pelem anjetung, tan dipe lamun mangkana.

    Mangkana uga si adhi, Suryanala ngong tan nyana, lamun mengkono karepe, angur maune kewala, aja tutur mring tangga, anjaluk pratikel rembug, nuli ngong warah prasaja.

    Dera samelok gya melik, nyalingkuhake maring wang, eman kaparo barange, enceh kajukuk priyangga, Ketuturake musna, lah punika kula jaluk, saparo karupakena.

    Suryanala duk miyarsi, wuwusira Candranala, anjetung sidhakep bae, alon wijiling wacana, Dhuh kakang Candranala, ngandhika sampeyan wau, sadangune kula rasa.

    Pun kakang badhe mejahi, dhumateng badan kawula, prakawis enceh icale, ing ngajeng kang manggih kula, lajeng ngaturi dika, sumeja pados rahayu, temah badhe manggih lena.

    Karsa dika kadi pundi, mbok sampun mekaten kakang, kula tiang saja sae, upama kula puruna, mendhet enceh priyangga, estu kala enjing wau, kula tan ngaturi pirsa.

    Naliakne kula manggih, andhika dereng uninga, datan purun mendhet dewe, tanpa saksi tanpa kantha, sanget ajrih kawula, lajeng kula asung weruh, ing mangke sampun kapirsa.

    Angengnipun damel pati, dhateng sarira andhika, tan sumeja lair batos, naming pun adhi kewala, gadha kuma-kuma, nyukani panduman ulun, rehning kula tumut pirsa.

    Denira manggih pun adhi. “Suryanala sru wuwusnya, napa sing kula wehake, barangipun sampun murca, allah tobil sik kakang, mbok inggih sampun kadyeku, ngunyeri wong mboten nyata”.

    Ki Candranala nabda ris, pramilane kula dakwa, jer kula anitepake, dhateng pawong mitra kula, kang tunggu randhu wana, sinten sintena kang jukuk, yen liyane Suryanala.

    Banjur kulo kon naleni, pun adhi mireng priyangga, weling kula ing dewekw, Suryanala lon wuwusnya, sinadyan mekatena, jer kula boten anjukuk, ewa dene dika tanya.

    Dhateng kang dhika titipi, kadi pundi tuturira, kula ajeng ngrungokake. Amegos Ki Candranala, sigra ngadeg alunga, tanpa pamit kesahipun, wau Kyai Suryanala.

    Mangkana osiking galih, nepsu kakang Candranala, bab ilange enceh kiye, sapa baya kang ngambila, apa kapulung dewe, apa ta ilang kajukuk, mring kang bau-reksa arga.

    Nalaastya nulaya mulih, ing batin sampun narima, datan garentes icale, enceh kapupus ing nala kasigeg Suryanala, kawuwusa lampahipun, Candranala prapteng wisma.

    Dilalah karsaning Widi, manahira Candranal, datan sakeca raose, tan pegat denya trataban, kuwatir melang-melang, datan sakeca alungguh, karya nendra datan bisa.

    Kena ing walatireki, dunya kang dudu kak ira, teka mengkana osike, patutane Suryanala, caturan karo janma, tangga teparone agung, ana ingkang rada bisa.

    Nuli angojok-ojoki, akon gugat mring nagara, matur ing parentah gedhe, prasaja paturanira, ilange enceh ndakwa, marang ingsun ingkang jukuk, amarga laku dursila.

    Jabung alus angapusi, pasti lamun ingsun kena, ing prakara juti gedhe, kacekel marang nagara, ngomah kagledhahana, barang kabeh katemu, paran nggon sun nyelakana.

    Durung mangan sida dadi, kuli tan olieh balanja, tur kapeksa nyambut gawe, angur ingsun dhinginana, anggugat Suryanala, pasthi dheweke kang nemu, prakara sebab dursila.

    Kalamun ingsun dhingini, agugat marang nagar, andakwa marang dhewekw, upama Si Suryanala, gugat mangsa dadia, jer dhingin panggugatingsun, mangkono adate praja.

    Wong gugat pasthi ginalih, mokal lamun wong dursila, wania anggugatake, dene kang gugat ing wuntat, marmane tan katrima, ginalih wong mbawur laku, agawe dora sembada.

    Dene kang sun gawe saksi, dhemit kang ngong aku mitra, aneng randhu alas nggone, ngong titipi kon rumeksa, nadyan saksi sajuga, jer bangsanireng lelembut, sun watara kapercaya.

    Adhi ngong tuturi, esuk mau Suryanala, teka ing ngomahku kene, perlune asung uninga, adhi marang manira, lamun dheweke anemu, enceh kapendhem neng kisma.

    Manira kinen nekseni, nggone nemu neng tegalan, nuli ingsun myang tegale, andulu enceh isinya, brana sarwa kancana, nuli sun tarekah apus, barang kena ing manira.

    Iku aja jarwa adhi, marang sawijining janma, angamungna kowe dhewe, kang weruh wadi manira. “Naladhusta aturnya, punapa sakarsanipun kakang ulun tan lenggana’.

    Candranala muwus aris, iku adhi karsaningwang, ayun ingong gugatake, marang pulisi nagara, sira ingkang dadia, lelembut kang aneng randhu, alas sun titipi brana.

    Lamun ana nakoni, enceh ingkang duwe sapa, tutura aku kang darbe, lamun tanya ingkang dhusta, tuturna Suryanala, wis aja liya caturmu.

    “Kawula manggen ing pundi, estu katingal kewala, kajengipun randhu gedhe, pamiwontena paragak, nglangkungi inggilira, pami manggena ing grumbul, kapara tebih nggenira”.

    Candranala muwus aris, manggona madyaning wreksa, randhu alas gedhe kae, Naladhustha aturira, kawula tan kuwasa, malebet sajroning kayu. Gumuyu Ki candranala.

    Sarta wuwusira aris, “Sira iku kalah tuwa, kalawan kalah akale, mulane aja sok pugal, marang sadulur tuwa, Naladhustha aturipun, “aleres dhawah paduka”.

    Candranala muwus aris, Payo adhi padha karya, piranti sawengi kiye, aja kawruhan ing jalma, den werit patrapira. Naladhustha aris matur, “kawula nderek ing karsa”.

    Candranala asung wangsit, badhe enggennya singidan, agawe guwa ngisore, witing kayu randhu wana, sarta mbobok witira.

    Sigra mangkat tiang kalih, datan kawarna ing marga, sampun prapta ing prenahe, witing kajeng wana, angungang jurang sarta. Kanan kering grumbul agung, arungkut peteng bondhotan.

    Candranala nulya manjing, madyaning grumbul bondhotan, parimpen ingriku gawe, gangsiran ingarah-arah, leres ing randhu wana, tan kawarna solahipun, denya karya sampun dadya.

    Piranti unggyaning saksi, sakalangkung remitira, ayektos anggumunake, akalira Candranala, piranti wusnya dadya, gya meling mring kadangipun, ingkang wasta Naladhusta.

    Mangkana denira meling, Adhi lamun aku sebda, angaturake gugate, Suryanala mring nagara, sireku amilua, aja pisah lawan ingsun, ngendi nggonku caketa.

    Darapon ngrungu sireku, apa saparentahira, manawa ana karsane, bakal ndangu saksi sira, enggal nulu mundura, manjinga piranti gupuh, poma iku den prayitna.

    Wus mung iku wekas mami. Naladhustha aturira, inggih sampun walang atos, punapa sakarsa dika, kula sampun kadhadha, ulun labuh sakit lampus, kakang dhumateng paduka.

    Pupuh 41

    Wusnya mateng kang prajangji, Candranala lan arinya, Ki Naladhustha kanthete, anggugat marang parentah, pulisi ingkang dadya, lulurah anginanipun, Candranala, Suryanala.

    Panewu lenggahireki, angreh bumi sewu karya, ana dene jejuluke, Ki Ageng Kartikasastra, putus marang wiweka, lamun dangu sareh alus, nastiti papariksanira.

    Ngreh catur rangga pulisi, sajuga rangga rehira, mitu demang panatuse, anuju sawiji dina, repotan para rangga, miwah para demang kumpul, neng pandhapi Kartikasastran.

    Ki Ageng lenggah mungging, samadyanireng pandhapa, rangga demang neng ngarsane, anglapuraken prakara, kang sami rinampungan, kasaru ing praptanipun, Candranala mungging ngarsa.

    Aminggah ngemper pandhapi, asila neng wurinira, para demang pulisene, Ki Ageng Kartikasastra, aris denira tatanya, Heh wong ngendhi sira iku, lawa sapa aranira.

    Candranala matur aris, kawula abdi paduka, patinggi pagodhongane, sukuning smeru arga, awasta Candranala, padhekahan Karangtalun, pisowan kula punika.

    Badhe ngaturi udani, dhateng parentah pradata, ing ngajeng kawula darbe, barang kathah warnanira, sami emas kencana, pratelanipun ing wujud, kadya ing ngandhap punika.

    Wami jamang kang rumiyin, tigang atus ingkang rega, langkung seket rupiyah wutuh, gangsal wami gelangkana.

    Kalih atus kang pangaji, kelat-bau ping nemira, ugi rong atus regane, pitu anting-anting rega, satus kaping wolunya, badhong regi tigang atus, keroncong kang kaping sanga.

    Regi kalih atus malih, kaping sadasa awama, supe seser pangaose, gangsal atus rupiyah slaka, anjawi raja brana brana, anggris jene kathahipun, satus sadaya punika.

    Gunggungipun ing pangaji, kalih ewu tusan sanga, langkung seket rupiyahe, sadaya wau kawula, wadhahi neng encehnya, kula petak ngandhap, randhu ageng, neng sukuning arga.

    Sarta kula ugi titip, dhateng pawong mitra kula, lelembut ing randhu gedhe, sapunika enggenira, kabukak Suryanala, kadamel pagagen sampun, wau pepetakan kula.

    Sareng kawula tuweni, enceh sampun tan kapanggya, lajeng kula takekake, dhateng pawonmg mitra kula, kang manggen randhu wana, sajangipun dipun jukuk, mitra kula Suryanala.

    Kula nuwun wangsul neki, dhumateng tangan kawula, medala saking astane, parentah ageng pradata. Ngabehi Kartikasastra, duk myarsa paturanipun, Candranala megat mitra.

    M E G A T R U H

    Ki Ageng Kartikasastra duk anggrungu, ing atur gugatereki, Candranala tyasnya ngungun, dene nganggo saksi dhemit, nulya angandika alon.

    Mangkono dhingin, manira tanya sireku, kalairanira ngendi, lan pira umurrireku, Candranala awotsari, kalairan kula dhukoh.

    Ing kuripan punika nggening laluhur, umur kula seket kalih, taun lumampah punika, Mas Ngabehi ngandika ris, dhateh carikira gupoh.

    Ature Candranala kabeh iku, ugerana kang salesih. Carik sandika turipun, sigra denira ngugeri, Ki Ageng malih takon.

    Sabab apa sira wong tik-melikipun, ing Kahuripan teka dadi, ana dhukuh Karangtalun, lan apa karyanireki, panggautanmu kang manggon.

    Aturira Candranala : Mila ulun, ngalih purwnipun ngarsi, sangajaling tiyang sepuh, sedherek kula nggentosi, bapa, kula mencar dhukuh.

    Dhateng wana sukuning Semeru gunung, lami-lami kathah janmi, ingkang tumut griya ngriku, kula kaangkat patinggi, lestantun saengga mangko.

    Dene ikang dados panggesangan ulun, duk lare saengga mangkin, amung tani karya ulun, ngolak-alik tegil sabin, manem sakalir tumuwoh.

    Ki Ageng Kartikasastra tanya arum, Nalikane sira ngalih, marang dhukuh Karangtalun, anggawa apa sireki, tuturna ing ngarsaningong.

    Candranala sanalika manahipun, kalimput gugatireki, prasaja ing aturipun, Nalikane kula ngalih, dateng Karangtalun dhukoh.

    Mbekto kebo kalih rakit kathahipun, asarta kawan amit pari, wijiwiji saliripun, kang badhe ngregengken dhukoh.

    Saha barang pangangge samurwatipun, tiyang alit jalu estri, sakadare tiyang dhusun. Ki Ageng tanya malih, Pira lawasmu neng dhukoh.

    Sarta apa barang ingkang kowe tuku. Candranala atur aris, sampun kalih dasa taun, ingkang kula tumbas naming, lembu akaliyan kebo.

    Ngslih rskit, snjswi saking punika, dhuwung sakandelaneki, jene kalih sangkangipun, tiyang estri kalih rakit, anjawi sangking panganggo.

    Bangsa suwek pangangge tiyang dhusun, kang perlu kewala naming, mung punika atur ulun. Ki Ageng ngandika ris, yen mangkono sira goroh.

    Gonmu ngaku raja brana agung, ko-pendhem aneng wana dri, ing ngendi pinangkanipun, apa ta olehmu maling, nuli den malingi uwong?.

    Candranala bias gumeter tyasipun, naratpira upami, tinebak ing sima luput, dangu datan bisa angling, wusana umatur alon.

    Mila wau barang tan kalebet ngatur, margi kang tuan pirsani barang tetumbasan ulun, priyangga sadayaneki, wangsul kang ical sayektos.

    Titilaripun tiyang sepih-sepuh, bapa tilaraning kaki, kaki tilaraning buyut, dede kak kula pribadi, atur kawula tan liyok.

    Ki Ageng Kartasastra awas ndulu, ing ulat liringireki, Candranala jroning kalbu, neng solah amertandhani, katara ujare linyok.

    Lamun janma wicaksana pasthi, ulat liringireng jalmi, miwah solah-tingkahipun, iku kabayaing ati, yen mukir kacora lodhoh.

    Kartikasastra wicaksana ngulah semu, sigra atetanya malih, nggoning randhu alas iku, watarane adoh endi, sangka padhukuhan karo.

    Lan benere melu ngendhi randhu iku, apa melu Karangsari, apa melu Karangtalun, apa tugu wates bumu, lan dhisik endi kang dhukoh.

    Karangsari kalawan Karangtalun, lan papa watesireki, nggone babad karya dhukuh. Candranala awotsari, Bilih nggenipun dhedukoh.

    Kula ingkang kantun elet kalih tahun, nggening randhu radi tebih, sangking dhekah Karangtalun, elet igir punthuk ardi. Ki Ageng ngandhika lon.

    Lah ta apa mulane sira aweruh, marang dhemit kang ngenggoni, witing randhu alas iku, Candranala matur aris, duk kawula badhe dhukoh.

    Dhateng Karangtalun kula nepi ngriku, samanten kula kawangsit, kinen nyiyosaken dhukuh, sarta ngaken mitra yekti, makaten purwaning kang wong.

    Ki Ageng Kartikasastra aris muwus,, Sakehing aturireki, uwis oadha ingsun rungu, sarta wis manira pikir, muliha bae samangko.

    Dina Soma Manis teka ing ngarsengsun, gawanen saksunereki, supaya gelisa rampung, lamun saksi ora prapti, yekti prakara tan dados.

    Nalwasa alon denira umatur, Kawula nuwun Ki Ageng, bab saksi pisowanipun, dhateng ngarsa tuwan ngriki, kawula bekta sagoh.

    Sabab saksi lelembut ing kajeng randhu, panuwun kawula mugi, wontwna pamengkunipun, parentang ageng pulisi, kawula narimah kawon.

    Ki Ageng kendel dangu datan muwus, mangkana osiking galih, elok temen wong puniku, kang dadi aturireki, taka datan nduga ingong.

    Dene ana kayu randhu bisa muwus, nulya angandika aris, Ya wis angandhika aris, Ya wis muliha karuhun, kaliyan gya mundur gupoh.

    Ki Ageng Kartikasastra mrentah gupuh, langsir kinen animbali, patingginira ing dhukuh, Karangsari ingkang nami, Ki Suryanala den gupoh.

    Lurah langsir sigra lengger saking ngayun, datan kawarna ing margi, wus prapta aneng ing dhukuh, Karangsari gyanireki, Suryanala langsir takon.

    Lah ing ngendi wismane patingginipun? Pinuju kang den takoni, Suryanala matur, inggih ngrikiwismaneki. Lurah langsir malih takon.

    Apa nana ing wisma Nalasatyeku. Kang tinakon anauri, Suryanala inggih ulun, andika kula aturi, sumangga sami alunggoh.

    Dhateng griya. Lurah langsir gya tumurun, saking kuda nulya manjing, dhateng wisma tata lungguh, mungging salu tiyang kalih, agenti takon-tinakon.

    Wusnya bage-binage sakalihipun, Suryanala tanya aris, Nah angger, sinten pukulun, saha priyantun ing pundi, ing lampah punapa gatos?.

    Lurah langsir mangsuli tembungny arum, Kakang, kula lurah langsir, lampah kawula ingutus, dhateng panewu pulisi, Kartikasastra ingkang kongkon.

    Animbali jengandika dhawahipun, kadherekna lampah mami, Suryanala sareng ngrungu, ngadikaning lurah ndhradhog.

    Ulat payus karinget kadya wong adus, sesambatira dermili, Allah tobat bapa biyung, kaki nini buyut mami, padha jangkungen ragengong.

    Wusnya sambat Suryanala nangis matur, Mas kula den timbali, wonten punapa mas bagus, mugi andika jateni, Lurah langsir muwus alon.

    Milan ndika katimbalan prentah agung, andika kadakwa maling, Candranala lurah dhukuh, Karangtalun: enceh, isi raja brana sarwa kaot.

    Dipun petak tegil, caket kajeng randhu, Suryanala duk miyarsi, atebah dhadha angadhuh, Kaniaya mitra mami, dene ka dadi mangkono.

    Apa baya kang tinemu akiripun, wong gawe kiyanat maring, pawong mitra kang rahayu. Lurah lingsir amiyarsi, dahat ngre welas ing batos.

    Langir tanya : Kadipundi temenipun? Suryanala gya nuturi, Duk aitira anemu, enceh teka ilang neki, kadya kang sampun kacriyos.

    Langsir muwus : Yen makoten sulangipun, andika ampun kuwatir, mangke kula kang tatulung, matur dhateng Ki Ageng andika lamun tinakon.

    Ing parentah dika matur kadi wau, layane parentah nggalih. Suryanala; Matur nuwun, sumangga kula umiring. Sigra pangkat sakaroron.

    Tan kawarna lampahira aneng ngenu, prapta ngarsane Ki Ageng, lurah langsir sigra matur, miwiti mawah mekasi, wus katur ingkang lelakon.

    Ki Ageng Kartikasastra duk angrungu, aturane lurah langsir, kacathet sajroning kalbu, cocog suraosing galih, nuli angandika alon.

    Suryanala ing ngendi klairanmu, lan pira umurireki, sira matura kang tuhu, carik kinon angugeri, Suryanala matur alon.

    Lair kula wonten Jatiraga dhusun, umur kawula tan uning, rehning abdi dalem dhusun, manawi nggadahi siwi, datan mawi manah weton.

    Ki Ageng ngandika: Bener aturmu sun watara sira lagi, umurriraseket tahun. Suryanala atur neki, Mbok menawi inggih yektos.

    Ki Ageng ndangu: Apa purwanipun, sira omah Karangsari, Suryanala umatur, Sareng kula sampun rabi, lajeng misah adhedhukoh.

    Lami-lami kathah tiang sami tumut, griya monten Karangsari, kawula lajeng kajunjung, kadadosaken patinggi, lamine nggenipun dados.

    Padhekahan sampun kalihlikur tahun. Ki Ageng tanya aris, Dhisik endi nggone dhukuh, Candranala lan sireki? Nalastya matur alon.

    Awitipun dhedhekahan rumiyin ulun. Ki Ageng tanya malih, apa sing dadi karyamu, panggota luru asil, Suryanala matur alon.

    Panggota kawula sangkaning timur, dalah samangke mung tani nanem kapas jarak pantun, ngolak-alik tegil sabin. Ki Ageng aris takon.

    Nalikane sira ngalih marang dhukuh, anggawa apa sireki, sarta salawasireku, aneng dhukuh Karangsari, apa sira tuku mangko?

    Suryanala alon denira umatur, Bebektan kula duk ngalih, dhateng dhekah amung lembu, kali rakit sarta pari, kali caeng miwah kebo.

    Kali iji sarta wiji-wiji agung, dene salaminereki, kula wonten dhukuh ngriku, ingkang kula tumbas aming, waos dhuwung pedhang golok.

    Ki Ageng Kartikasastra ngandika rum, Sira manira takoni, tutura sebeneripun, apa nyata sira ngambil, enceh isi barang kaot.

    Kang kapendhem aneng soring kayu randhu, kang ko-bukak anyar iki? Suryanala aturipun, miwiti malah mekasi, kaurut saking duk panggoh.

    Purwanipun kawula tugar pukulun, amiyaraken kang tegil, lajeng ananggori watu, watawis geng saklenthing, sela lajeng kawula gol.

    Ngandhap watu garowong wonten kadulu, enceh katutup tembagi, kawula ajrih andumuk, margi boten mawi saksi, mbok ing pungkur manggih ewoh.

    P A N G K U R

    Kawula lajeng kewala, kesah dhateng Karangtalun sung uning, dhateng pawong mitra ulun, pun kakang Candranala, neksenana wau anggen kula nemu, kakang Candranala nulya, atumut dhumateng tegil.

    Sapraptaning gen pendheman, ponang sela lajeng kula junjung, ketinggal encehira, gya kapendhet enceh saking enggenipun, tutup tembaga binuka, isi bra warna-warni.

    Candranala lajeng nabda, aken nyindhem sampun ngaturi uning, dhumateng parentah agung, sabab catur prakara, kagungane Gusti Kanjeng Sang Aprabu, bumi-kagungan Nata, kang mangkurat, mangka sira iku nemu, dunya kapendhem jro kisma, kapindho aneng wana dri.

    Pasthi, kapundhut nagara, dika kula tanpa tuwas ing kardi, semune barana niku, paringe Kang Kawasa, teng si adhi kalih kula tetepipun, pami kalong dhateng janma, ing sanesipun mubadir.

    Punika rembag kawula, adhi sampun baripin dhateng janmi, sanadyan sanak sadulur, sampun sinungan pirsa, mbok manawi dados panjang wartosipun, sae kasidhem kewala, mangke dalu den wangsuli.

    Pami kapendhet samangkya, estu tangga sami uning, sami dhateng nedhamujur, boten wande kawentar, kula kalih pun adhi kepanggih luput, lah mangke dalu kewala, sirep janama den purugi.

    Dene kang jogi rumeksa, icalipun ing sadinten puniki, kula titipne puniku, dhumateng mitra kula, dhemit ingkang manggen wonten kajeng randhu, kawula nurut kewala, Candranala lajeng angling.

    Dhateng kajeng randhu wana, aku titip pendheman enceh iki, sapa-sapa ingkang jukuk, liyane Nalatsya, talikunge aja lunga sing gon iku, pacuhan lah poma-poma, sasampunira atitip.

    Tumunten ngajak bibabaran, kula inggih mituhu lajeng mulih, kilap ing sapengker ulun, dalune sidhem janma, candranala dhateng ing wisma ulun, celuk-celuk saking jaba, kula kaejak murugi.

    Kawula nderek kewala, sapratone wonten pangenan gipih, kula ingkang kinen jukuk ambukak tutup sela, ri sampuning tutup sela kula junjung, enceh sampun datan ana, kawula enggal nanjangi.

    Dhateng kakang Candranala, icalipun enceh pun kakang mbekis, serta cantenipun sendhu, kula kinen mangsuha, kula sumpah kathah-kathah tan karungu, dupeh sampun amitungkas, dhateng mitrane dhedhemit.

    Mangkana cantenanira, sinten malih lamun dede si adhi, jer kula empun sung pemut, kang tunggu randhu wana, yen kajukuk ing janma na liyanipun, saking adhi Nalayatsa, kasrimpunya dipun aglis.

    Kula lajeng aken tanya, dhateng ingkang dipun titipi ngarsi, kadi pundhi sanjangipun, kula ajeng amiregna, Candranala lajeng ngadeg kalih nepsu, kula inggih lajeng mulih.

    Mung punika atur kula, temen-temen medal ing manah suci, Wingnyasastra tanya arum, Kalane Candranala, nitipake marang dhemit kayu randhu, kapriye wangsulanira? Nalayatsa matur aris.

    Saking pamireng kawula, Candranala amung canten pribadi, kajeng randhu tan samaur, Ngabehi Wingnyasastra, angandika: Kowe prasamu, apa ta hiya pracaya, ing dhemit kang den titipi?

    Nalasatnya aturira, rehning kula ceguk balilu, inggih, mung nurut pratikelipun, pun kakang Candranala, dene sampun asumpah, ngaken sadulur, jaler ing dunya ngakerat, mila kula tan ntigeni.

    Upami wonten kang seja, gadhah, wonten ngawani salah siji, sinten kang wiwit karuhan, saentu manggih papa, mung punika pitadosing manah, ulun, kodos boten kekilapan, Gusti ingkang Maha Suci.

    Ki Ageng Wingnyasastra, sadangune miyarsa atur neki, Nalayatsa rosipun, ginalih kaya nyata, aturane si Nalayatsa kang tuhu, dadya alon angandika, Sireku keneng prakawis.

    Ginugat laku dursila, iku mesthi kalebu aneng bumi, sinadyan ora satuhu, hiya aneng kunjara, nanging sira sun alingi ingong tanggung, sira eres kewala, aja lunga sing pandhani.

    Nalastya tur sandhika, tan gumingsir kawula prapteng pati. Kasigeg ganti kawuwus, Kocapa Candranala, pan geneman kalih Naladhusta sampun, kait badhe parentah pulisi.

    Ing ari Soma Manisnya, wus ginendhing bab lampahira sandi, duk prapta ubayanipun, ing dina Soma mangkat: kacarita Ngabehi Wingnyasasteku, ing ora soma sineba, sakathahing pulisi.

    Rangga, demang munggang ngarsa, saben ari repotan ari repotan kinardi, nglapuraken bawahipun, sakawontenanira, ing prakara miwah ingkang sampun rampung, katungka ing praptanira, Nalawarsa munggeng ngarsi.

    Ki Ageng Wingnyasastra, angandika: Candranala sireku, anggugat marang mitrau, hiya si Suryanala, mengko uwis teka aneng ngarsa ningsun, prakara manira pirsa, ature cetha patitis.

    Enceh iku dudu sira, kang ndarbeni; temene nggone manggih, aneng tunggananira, Nalayatsa nuli tutu ing sireku, sira kinen neksenana nuli sing anuturi.

    Akeh-akeh tutoring, akon nyidhen aja katur nagari, serta aja nganti weruh , marang wong tangga desa, Nalyatsa nurut marang saujarmu, sira mitranira dhemit.

    Candranala aturrira, Sampun limpah tiyang dursila mungkir, ngalangi badanira, lamun ngaken manggih, sinten saksinipun, saestu gadhandhan kula, wonten kang kula kang titipi.

    Sareng ical inggih pirsa, ingkang medhet enceh isi retna di, asanjeng dhumateng ulun, kang mendhet mitra kula, Nalayatsa lurah patinggi ing dukuh, Karangsari milanira, tan purun ngaruh-aruhi.

    Ki Ageng Wingnyasastra, aris tanya : Saksimu dhemit iki, apa bangsane puniku, kaya pan rupaniro, lon kapriye basane lamun celathu, lan apa gelem caturan, kalawan samiyah janmi?

    Candranala aturira, Bangsanipun kawula dantan udani, sarta tan katinggal wujud, amung gremeng kewala, cantenipun inggih kadya manungseku, atemen sawiraosnya. Ki Ageng ngandika ris.

    Yen mangkono aturira, bab gugatmu ingsun tan wani mutusi, kudu katur prentah agung, pengadilan nagara, sebab aneh prakaranira puniku, siki sira sun gawa, lan si Nalayatsa ugi.

    Ma Ngabehi Kartikasastra, gya siyaga badhe sowan nagari,

    Ingkang nderek langsir catur, sami wahana kuda, Candranala Suryanala aneng pungkur, lampahnya datan kawarna, sapratanireng nagari.

    Anjujug wadonanira, ingkung wasta Rahadyan Ngabehi, Darmawidya pinunjul, putus saliring sastra, wicaksana rahayu pambekanipun, keringan ing parang muka, kancanira ajrih asih.

    Dyan Behi Darmawidya, Senen Kemis sineba neng pandhapi, repotan para penewu, Rangga Pulisi Demang, sami lapur punapa sawontenipun, gedhuhanira priyangga, ing prakawis alit.

    Ki Ageng Wingnyasastyra, prapteng Jawi regol tumurun saking, turangga lajeng adhawuh, dhateng langsir nenggaa, candranala Nalyatsa aneng pintu, mengko yen pra timbalan, kaladekna ganti ganti.

    Sawusnya dhawah mangkono, Ki Ageng sigra manjing pribadi, aminggah pandhapi agung, alenggah mungging ngarsa, ngaturaken serat gugat jawabipun, papirsan miwah ugeran, raden Ngabehi nampeni.

    Binuka sinuksmeng driya, gugat-jawab miwah ngeraneki, wus kacathet jroning kalbu, serta sampun pratela, galitane ing prakara wus kacukup, tansah ginagas ing driya, ngunandika jroning galih.

    Agawat iki prakara, layak Kakang Kartiksastra tan bangkit, labete saking pakewuh, nangging panduganingwang, ana nana bisa celethu, pawong mitralan manungsa, iku kamokalan yekti.

    Wusnya kadriya mangkana, sigra ndangu7 wau dateng Ki Ageng, Kartikasastra tembungnya rum, “Kakang gugat punika, kaubegna dhateng prikanca penewu, utawi Rangga sadaya, kadi pundi bobot neki?”

    Ki Ageng Kartikasastra, gugat jawab saprabotira sami, sinungken para panemu, kapirsa gantya-gantya, wusnya rata sagung kang para panemu, Ki Ageng atanya, “Pripun kanca nggone mikir?”

    Penemu rangga aturnya, dadya tiga diyon kencengnya sami, kang saduman aturipun, leren pun Suryanala, awit saking nalika titip puniku, Suryanala tan miyarsa, wujud sarta swaraneki.

    Kalih udanagarinya, sanget elok atur gugatereki, tebih saking dhukuhipun, kang saduman aturnya, Suryanala sampun tetap kawonipun, sebab sampun karebahan, saksi gandarwo dhedhemit.

    Kang Saduman aturira, Yen Kawula prakawis boten dadi sebab sanget mokalipun, Suryanala kainan, dene boten enggal genira umatur, dhateng lurah pulisinya, kendel Raha Ki Ageng.

    Andangu datan ngandika, nulya ndangu dhumateng Ki Ageng, Kartikasastra manis arum, Wangsul pun kakang Wignyo, kadi pundi pamikire kang satuhu, bab saksi dipun budia, dadi lan botenireki.

    Prakara punika gawat, salamine kula dereng miyarsi, prakara kadi puniku, sarta ing jaman kuna, dereng enten kang kacitra lir puniku, lan malih angger sadaya, boten wonten ingkang muni.

    Kang kadi udur punika, napa dene ing kitab topah sepi, bab dakwa kadi puniku, ewuh pamutusira, mring sangka punapa krampunganipun, lah sagung panewu rangga, sami jengandika budi.

    Katrapaken saking punapa, krampungane prakara kadi pundi?, Ki Ageng aris matur, leres dawuh paduka, nyala wados prakawis punika estu, kawula boten anduga, yen sangking dugi prayogi.

    Kados leres aturira, Suryanala: enceh punika manggih tiyang kina darbekipun, wangsul pun Nalawangsa, ngaken titip dhateng dhemit kajeng randhu, nalika pametakira punika emeng ing galih.

    Upami kang mbau reksa, randhu kenging dipun takeni, cetha genah aturipun, inggih pun Suryanala, kukum kawon pami dhemit dipun dangu, tan saged umatur cetha, Candranala kukum maling.

    Pramila manah kawula, gadhah raos makaten enget saking, cantenipun tiyang sepuh, bilih manungsa ekas, ugi saget pawong mitra lan lelembut, sapocapan kadi janma, anaming datan kaeksi.

    Sha temen sanjangira, bilih wonten tiyang badhe angawoni, dhateng pawong mitranipun, lajeng suka waninga, bilih badhe pun awon sanesipun, kapurih ingkang prayitna, makaten damelireki.

    Ki Ageng ngadika, Penemune si kakang niku inggih, kadi enten emperipun, lamun kapirit sangka, ujaring wong bangsa kula jawi niku, sing empun kelakon padha, anggugu ujar tan yekti.

    Akeh kang nggugu suwara, ujar jare padha den anggep yekti weneh nyembah kayu watu, kewan iwak loh ula, den bekteni kapundhi pundhi satuhu, ture paring sandhang pangan, wenenh apek setan gondhid.

    Sowiyoh nyobat thetheken, ilu ilu gandarwa banas pati, ana ingkang nyembah bulus, kodhok kadhal lan ulo iku padha dinalih bisa weh luhur, lan bisa weh rajabrana, asung wangsit maripeni.

    Kasuhurake ing janma, nuli padha kalayu milu ngambil, sangking gugon tuhonipun, sing dadi pikir kula, niku dhemit ingkang bau reksa, randhu kula gawe tandha nyata, wong anom padha mirsani.

    S I N O M

    Ki Ageng ngadika, kalamun kula pribadi, kudu tan ngandel kewala, dhateng bangsaning dhedhemit, amarga kula pikir, bangsaning lelembut niku, saingga buron toya, sarta buron ing wanadri, sabangsane kutu-kutu walang taga.

    Sebab kula dereng pirsa, wujude bangsa dhedhemit, sarta dhereng sapocapan, ewa dene kang udani, napa empun udani, wujude ingkang lelembut, lamun sampun uninga, kadi punapa kang warni? Ki Ageng gumujeng aris aturnya.

    Kula inggih dereng pirsa, pribadi warnaning dhemit, saha dereng apocapan, bilih wilujeng puniki, badhe pirsa utawi, mirengaken cantenipun, benjing bilih kawula, paduka utus mirsani, saksi ingkang manggen wonten randhu wana.

    Ki Ageng Darmawidya, gumujeng ngandika aris, Benjang sami kapiyarsa, dhateng sagunging pulisi, camten kados pundi, lan punapa wujudipun, lah kakang Kartikasastra, samangke dika teng goning kayu randhu, benjang ing ari Soma, andangu dhumateng saksi, Candranala Suryanala umiringa.

    Andika parentah karya, pakuwon aneng ing tegil, goning pendheman kang murca, sarta dika sendhiyani, kayu obong kang garing, kasingitna enggonipun, Sagung panewu rangga, demang dhatenga kang enjing, dina Soma ngumpul aneng pasanggrahan.

    Ki Ageng Kartikasastra, matur sandika gya mijil, sapraptaning paregolan, sigra angandika ris, Candranala sireki, lan Suryanala sireku, dhawahe Dyan Wadana, sira padha kares kalih, Suryanala kares aneng ing pandhapa.

    Aja sira lunga-lunga, dene si Nalawaseki, kares ing Ki Ageng, dina Soma nindaki, andangu marang saksimu, kang manggon ngrandhu wana, sireku kinen umiring. Suryanala tur sandika.

    Naladhustha duk miyarsi, andikanira ki Ageng, atas pamiyarsanira, ing dina Senen mirsani, saksi dhateng wana dri, Naladhustha angles mundur, gancangan lampahira, badhe malebeng piranti, tan kawarna solahira Naladhustha.

    Ki Ageng Kartikasastra, sawusira marentahi, Candranala kondur sigra, gancangan lampahireki, datan kawarneng margi, sapraptaning dalemipun, nulya karya nawala, parentah sagung pulisi, kinon karya pakuwon kareka pura.

    Aneng patalunanira, Suryanala saha malih, para pulisi ngumpula, Dina Soima ingkang enjing, lan sagunging pulisi, padha anggawa kayu, kumpulna aneng wana, kang dhelik tan pati tebih, sangka goning kayu randhu wana.

    Wusnya srat parentah dadya, kasebar dhateng pulisi, tan kawarna solahira, para pulisi wus kardi, pakuwon langkung asri, mawi regol bale mangu, pandhapa sri krengga, kinubeng pondhok pulisi, amiranti sagungnya panewu rangga.

    Sapraptaning ari Soma, pepak sagunging pulisi, aneng tegal wewangunan, kathah jalma, aningali, jali estri anggili, sangking kanan kering dhusun, miwah tiysng wadeyan, langkung kathah warni-warni, kawuwusa rawuh nya Raden Wadana.

    Pinethuk panewu rangga, oreg sagungireng janmi, jalu estri suka miyat, rawuhnya Raden Ngabehi, tedak saking turanggi, malebet pandhapi agung, gya lenggah madyanira, pandhapi pura pulisi, rangga demang panewu aglar ing ngarsa.

    Dyan Behi Darmawidya, tatanya dhateng Ki Ageng Kartikasastra : Lah punapa, pepak sedaya pulisi? Ki Ageng matur aris, Sadaya pulisi sampun, sami sowan sadaya, satunggil tan wonten pamit, lon ngandika Ki Ageng Darmawidya.

    Lah kakang andika pirsa, pun Candranala mitreki, kang dadya saksi punapa, sampun kenging den takoni, sandika Ki Ageng, Kartikasastra sigra ndangu, heh sira Nawlawasa, mitramu kang dadi saksi, apa wis kena lamun kapariksa?

    Candranala aturira, sumangga tuwan pirsani, mangke bilih tan pirsani, mangke bilih tan matura, kawula ingkang ndorani, dhateng parentah nagari, sakarsanipun angukum. Ngabehi Kartikasatra, nulya matur Ki Ageng, kula sampun paduka utus mariksa.

    Dhumateng pun Candranala, sumangga aturireki, mangke bilih kapariksa, mitranipun tan nauri, Candranala kadugi, nyanggemi ukumanipun. Raden Lurah ngandika, Lah inggih kakang Ngabehi, ndika pirsa mitrane pun Candranala.

    Sakanca panewu rangga, mirenga aturi saksi, kula neng wuri kewala, mirengake saking tebih, sandika Ki Ageng, sigra lengser saking ngayun, miwah panewu rangga, demamng panatus umiring, angubengi witing kayu randhu wana.

    Miwah sagungireng janma, kang ningali jalu estri, angubengi randhu wana, saengga wong adu tandhing, kumacelu miyarsi, wicantenireng lelembut, Nagbehi Kartikasastra, aris denira nakoni, Heh mitrane Candranala : randhu wana.

    Sira kadangu nagara, matura ingkang sayekti, enceh isi raja brana, kapendhem neng kene iki, sapa ingkang ndarbeni, lan samangko enceh mau, aneng ngendi nggonira, lamun kaalap ing jalmi, sap ingkang ngalap sira pajarena.

    Kang mindha setan nyuwara, cumengkling swara cilik, ginawe kadi wanita, mangkana denya nauri, Enceh duwekireki, si Candranala mitraku, titip marang manira, samengko kaambil maring, Suryanala mitrane Ki Candranala.

    Kaget sagung kang miyarsa, panewu rangga pulisi, miwah agungureng janma, atas denira miyarsi , wangsulanireng dhemit, asanget denira ngungun, dangu tan ngunandika, Candranala asru angling, Lah mungkira sira adhi Suryanala.

    Tumungkul Ki Suryanala, sarta amangsuli ririh, Nadya rubuhana arga, Semeru ngong tan gumingsir, tekan ing lara pati, suwarga ginawe ayu, nggoleki pati apa, janji ingsun bener becik, kudu kena ing pati bekja manira.

    Wau Raden Wadana, sadangunira ningali, pulisi jetung sadaya, tansah ginagas ing galih, Suryanala kalirik, nulya angandika arum, Lah kakang Wignyasasra, andika mundur kariyin, mangke kula priyangga ingkang tatanya.

    Ki Ageng Darmawidya, sigra majeng mungging ngarsi, Ki Ageng kartikasastra, mungging wurinya tan tebih, Dyan Behi ngandika ris, Heh lembut kang aneng randhu, enceh kajukuk sapa, sapa rewange ngambil, lan samengko aneng ngendi pandelehnya.

    Kang mindha dhayang kamengan, margi ngajeng tan kaweling, mring kadange Candranala, wusana gugup mangsuli, Pangambile pribadi, wayahira bocah ngucul, samengko aneng wisma, kaseleh senthongireki, Nalasastya. Ki Ageng trang mirengira.

    Tan samar swaraning janma, nulya angandika malih, aturmu apa tan dora, sarta sira apa wani, nyangga panyumpah mami, kang mindha dhemit sumaur, Apa sakarsanira, ingsun ora ngarah asil, among tutur sabakane kewala.

    Candranala duk miyarsa, ature kang midha dhemit nalanira tarataban, gumeter kalangkung wanter, ngraos badhe bilahi, kajodheranakalipun, wau Raden wadana, ngandika dhateng ngabehi, Kartikasastra; Lah kakang age mentara.

    Anggawa catur rangga, sapanekare pulisi, santa langsir rumantia, galedhahen wisma neki, Suryanala den aglis, poma den nganti katemu. Ngabehi Kartikasastra, sandika umatur aglis, gagancangan lampahnya tan dangu prapta.

    Karangsari dhukuhira, Suryanala den leboni, ginaledhah jroning wisma, kang enceh datan pinanggih, loteng den osak-asik, ameksa datan kapangguh, senthonge binalengkrah, sangking gemeting pulisi, dome buntung kang ilang sami kapanggya.

    Sawusnya kang sepi kang wisma, gandhok pawon den goleki, kebon blumbang miwah kandhang, sadaya den osak-asik, suwung datan pinanggih, Ki Ageng prentahipun, kinen gledhah wisma, sadhusun aja na kari, ginaledhah sadaya sepi kewala.

    Sawusnya terang tan ana, Ki Ageng sigra mulih, ingiring panekarira, ing marga datan kawarni, prapta ngarsanireki, Ki Ageng gya ndangu, paran ing lampahira, panupa ta angsal kardi, Ki Ageng Kartikasatra aturira.

    Pukulun lampah kawula, sakanca paduka tuding, nggaledhah ing wismanira, Suryanala, tan kapanggih, dalah wismanireki, tiyang sadhukuh sadrum, enceh malih manggiha, wingka kewala tan manggih, Candranala sareng miring aturira.

    Ki Ageng Kartiksastra, kumesar tyasira kadi, sinamber ing gelap tuna, bayu kadi den lolosi, marasira tan sipi, tumus mring guwayanipun, payus biru abiyas, kadi murus tigang sasi, Ki Ageng Darmawidya waskitha.

    Aninggali ulatira, Candranala wus kadugi, wusana lajeng ngandika, dhateng wau Ki Ageng, kakang andika bali: galedhaha wisnanipun, Candranala manawa, guna-gunanireng janmi, gawe reka akarya sandi upaya.

    Ki Ageng Kartikasastra, sandika sigra lumaris, ambekta panekarira, rengga demang samya ngiring, datan kawarneng margi, sapraptaning wismanipun, Candranala tumulya, rangga wisma anggaledhahi barangira.

    Weneh dhateng senthongira, sjuga rangga udani, Ngandhap salu patleman, wonten buntelan kaeksi, sigra den parepeki, binuka bebungkusipun, bagor linapis tiga, kang kabungkus enceh nuli, ingaturaken Ki Ageng Katikasastra.

    Kang enceh tutup tembaga, suka saguireng janmi, tuwin para demang rengga, enceh nulya dan ungkabi, tutupira tembagi, katinggalan isinipun, akathah waminara, sadaya sarwi emas adi, demang rangga pulisi surak sadaya.

    Ki Ageng kartikasastra, sapanekirira sami, wangsul dhateng wewangunan, prapta ngarsanya Dyan Behi, Kartikasastra wotasari, kawula paduka utus, galedhah wismanira, Candranala. Rangga manggih, enceh saha mawi katutup tembaga.

    Wau sampun ulun buka, estu isi brana adi, lah punika encehira. Raden Wadana nabda ris, kakang binuka tutupipun, isi kinen medalna, sadaya dipun tingali, cocok kalih gugatipun candranala.

    Raden wahan ngandika, Heh Suryanala sireki, majua kapareng ngarsa, tinggalana batang iki, apa sira udani, kang duwe barang puniku, Ki Suryanala sigra majeng, majeng sarta awotsari, ndulu barang saha alon aturira.

    Pukulun inggih punika, enceh ingkang ulun panggih, awetan ingkang ulun pamggih, awetah saisenira, dereng wonten ingkang cicir, dene ingkang ndrabeni, kawula anuwun bendu. Ki Ageng ngandika, Wis mundhura sira dhingin, ingsun arsa tatanya si lelembut cidra.

    Heh lelembut ing randhu wana, kabeh aturmu tan yekti, ing mengko sira tanpaa, paukamanireng dhemit, Lah kakang Angabehi, Kartikasastra dipun guguh, wite kang kayu garing, saubenge randhu urugana wreksa.

    Tigang cengkal ibengira, kandeling tumpekaniki, pitung kaki nuli ndika, obong maju pat sing pinggir, sandhika Ki Ageng, gya parentah demangipun, trangginas para demang, parentahkinen ngusungi, kayu ingkang sinigidake akiwa.

    Tangginas panekarira, pulisi kang wus winangsit, ngusungi kayu simpenan, tan pantara dangu prapti, kayu katumpuk mungging, witing randhu ngundhung-undhung, eram sagung tuminggal, kang datan wuningeng wangsit, angrasani: kapan nggone aspek wreksa.

    Wau witing randhu wana, ingebyukan kayu garing, inggilira kalih depa, tri cengkal ubungireki, Candranala undeni, kayu tumpuk ngundhung-undhung, sumelang nalanira, mangkana osikireki, paran baya solahe si Naladhusta.

    Lamun kayu kaobongo, pasthi sadhulurku mati, dadi areng aneng kisma, manira tan wurung keni, ukuman laku juti, sabab barange katemu, aneng ngomah manira, paran nggoningsun mengkiri, padha-padha ngur manira ngatuma.

    Pati urip abalaka, sadhulurku aja mati, sebab yen kukum dursila, kabuang sangka nagari, lawas-lawas ya mulih, janji selamet tan lampus, kalebu rawa tuntang, kocapa para tuntang, kocapa para pulisi, ingkang ngusung rampung denya nata.

    Gya ingobong maju papat, Candranala anungkemi, padane Radyan Wadana, saha sru denya anangis, sasambut ngasih-asih, atur pejah gesangipun, nyuwun kasandekana, pangobongipun dhedhemit, yektosipun punika sadherek kula.

    Candranala wus balaka, katur satarekah neki, ing purwa madya wusana, suka Rahadyan Ngabehi, Darmawidya nuli, adhawah majehi latu, sirep Wadana ris, Candranala lah undangen kadangira.

    Sigra mentar Candranala, datan dangu wangsul ngirit, Naladhusta prapteng ngarsa, sigra denya anungkemi, ing pada Dyan Ngabehi, sagung pulisi agunggun, demang panewu rangga, anjenger gumun tan sipi, datan ngira yen dhemit dadi manungsa.

    Ing batin tan darbe kira, yen dudu dhemit sayekti, kang nyuwara aneng wreksa, randhu alas den arani, gandarwo nyobot janmi, kang saweneh ngungunipun, bangkite Candranala, denira akarya sandi, remitera nggone gawe akal dhusta.

    Kang saweneh ngungunira, marang raha Ki Ageng, Wigna pradata denira, akumpul kayu kinardi, ambesmi dhemit saksi, baya uwis mau-mau, ginalih pepulasan, ananging kinarya wadi, datan arsa medharake marang janma.

    Gumune ati manira, remite Ki Ageng, nyata lamun wicaksana, bisa anrjing angin, sajuga rangga angling, dhateng Demang kancanipun, Candranala punika, wau sadrengireki, kababaran, pripun pangira andhika?.

    Anauri kang tinanya, rehning kula dereng uning, alitipun miring warta, wonten tiyang nyolong mawi, anggugat dhateng janmi, kang cinolong barangipun, utawi tiyang utang, gugat ingkang den utangi, serta mawi seksi memedi wahuna.

    Saestu nunten kawula, tetepaken awoneki, kalenet sepir kawala, wangsul eram kula naming, Ki lurah, Ki Ageng, prakawis gawat kalangkung, teka saget ngupaya, wiyasa kalangkung rungsit, serta alus boten mawi kabrabean.

    Samanten Raden Wadana, lajeng karsa angrampungi, gugatipun Candranala, tam dados gugatireki, malah katipun dadi, dursila pitenah iku, akarnya bodjo marang, parentah ageng nagari, kokum bucal kenging pandamelan peksa.

    Laminipun sagang warsa, mawi tandha kalung wesi, kadangira Naladhusta, kabucal mung kawan warsi, tan mawi kalung wesi, pinamahken pulo krimun, nyambut damel kapeksa, nulya ingangetken kalih, ganatya Candranala tampi karampungan.

    Dene karampunganira, kanthi pranatan nagari, wau enceh isinira, tetep Sulyanala manggih, barang naliya ringgit, kalelang sadayanipun, kadadosaken arta, sawusira dados picis, pnartiga kanthi rukuning nagara.

    K I N A T H I

    Kabage pinara telu, dalah ingkang warna ringgit, sadarum katur negara, kang sadumanipun maring, pekir miskin jompo tuwa, anak yatim sadayaki.

    Dene kang sadumanipun, kaparingaken kang manggih, Suryanala langkung suka, antuk kucahing narpati, wus kalilan mulih marang, ing wismanira pribadi.

    Suryanala nulya mundur, mbentoyong amanggul anggris, neng marga tan kawursita, sapraptaning wismaneki, panggih anak rayatira, sami ngurubung anangisi.

    Miwah pawong mitranipun, tangga sadesa gya prapti, sadaya anglut karuna, taken warta karuna, taken warti ganti-ganti, jinarwan saking purwanya, tekeng madya wusaneki.

    Sadaya sami gegetun, wusana suka tan sipi, mumuji dhateng nagara, saking adiling narpati, luhura karatonira, tulusa mengku rat Jawi.

    Kasigeg kang sukeng kalbu, kocapa Ki Ageng, Wigya pradata sineba, sagung kang para pulisi, taksih mungguwing wawangunan, Dyan Behi ngandika aris.

    Sagung kanca-kancaningsun, manira tanya sayekti, dhateng prikanca sadaya, wau kalane miyarsi, kayu bisa anyuwara, paran denira andalih.

    Sagung pulisi sumaur, subiyantu atur neki, kawula mboten angira, lamun dede dhemit yekti, amargi kabaring jenma, ingkang sepuh-sepuh nguni.

    Lamun janma gentur laku, cegah guling, lajeng saged pawong mitra, kalih dhemit peri ejin, sapocapan kadi janma, naming wujud tan kaeksi.

    Damelipun among tutur, bilih den raosi janmi, awon sae tuwin seja, angawoni ngangkah pati, mitra wau lajeng sanjang, makaten damelireki.

    Raden Wadan gumuyu, kalih angandika aris, Yen makaten among kula, priyongga ingkang nggesehi, mulane si Suryanala, kadakwa dursila maling.

    Boten nganggo kula trungku, sebab empun kula piker, gugate si Candranala, basa nganggo saksi dhemit, kula nuli duwe kira, gugat pitenah sayekti.

    Sabab Suryanala busuk, sarta temen lamun tani, ketara aturanira, nalikane den takoni, kakang Behi Wigyasastra, cocog lan aturing langsir.

    Basa kature teng ulun, gugat jawab kula liling, teranging pangliling kula, meh kawetu kula runtik akon negor randhu wana, nuli tyas kula sabili.

    Nggih si Candranala niku, wong pinter kablingger yekti, paribasan dalan rupak, alumuh dipun dhisiki, rasa risi nalanira, kena alate wong becik.

    Punika wewelehipun, ing Allah kang Maha Suci, wong ala kudu ketara, wong becik pasthi ketitik, kilap enggal laminira, saestu sami katawis.

    Nggone gawe saksi iku, panggrasane luwih becik, boten ngira dadi ala, nuduhake goroh neki, panitikaning manungsa, enten solah muna-muni.

    Si Malawasa puniku, sasolah tingkahireki, kena ginawe tuladha, pangeling-eling ing buri, kinarya warah teng putra, wayah ingkang kari-kari.

    Supaya ngedohna niku, budi akal tan basuki, dadi janma mati murka, kurang panarimaneki, katarik ati sarakah, lali pawong mitra becik.

    Kandhutane jroning kalbu, wong ajeng urip pribadi, wusana mati priyangga, golek bener dadi sisip, gawe saksi tan prasaja, satemah dadi mateni.

    Balik si Nalasayeku, wong ngantepi bener becik, temen mantep pawong mitra, teka arep den pateni, Gusti Allah Kang Kuwasa, iku ora anglilani.

    Marmane manungsa iku, lamun temen seja becik, ora seja gawe ala, lamun arsa den alani, sayekti ora tumeka, ambalik mring kang ngalani.

    Samargane kudu kliru, ndilalah karsaning Widi, kawalik engetanira, ngendi ana manungseki, duwe sanak pawong mitra, setan thethekan memedi.

    Niku anglengkara tuhu, kula boten anyampahi, entene kang bangsa setan, sapadhane bangsa iblis, jer kasebut enten kitab, nanging yen kula pribadi.

    Sabangsanireng lelembut, kula padhakake kalih, sabangsane sato kewan, kutu-kutu buron warih, buron warih, buron dharat ingkang nyawa, gumreget sapadhaneki.

    Manungsa pasthi tan weruh, basane sarwa kumelip, pripun nggone cecaturan, lan pripun pundhuhireki, anjaba kewan omahan, kang lumrah kaingu janmi.

    Nadyan kewan ingon pundhuh, uga tan wruh basaneki, mulane yen enten jalmi, tutur percaya mami.

    Lah punika nyatanipun, Candranala mitraneki, dhemit malih Naladhusta, trange wong kang padha muni, apek setan kasurupan, kinawongake ing iblis.

    Nuli padha dadi dhukun, lan teka kang nyurupi, salin tingkah solahira, dalah suwarane salin, nuli meca lara-kena, wiyasa piranthi.

    Cature kaya wong ngelindur, ngaku bisa karya sugih, mring wong miskin tanpa karya, ngansur datan nambut kardi, sarta bisa gawe wirya, wong bodho cupet ing budi, agawe bodho nagara, pantes den kalungi wesi.

    Ing mangke kula pitutur, dhateng sagung kanca mami, pulisi nagari desa, kang nyepeng prentah alit, yen nindakake prakara, kang resik budinereki.

    Sarta pangabdining ratu, kang temen-temn ing ati, nggonira jago rumeksa, marang prajaning narpati, amurih agemah harja, ngenaki tyase wong cilik.

    Wewalesing kawulaku, marang Gusti Sri Bupati, denya kinula wisudha, sinung pangkating priyayi, sabobote dhirinira, kang dhingin narima ing sih.

    Ira kanjeng Sang Aprabu, paring kamulyaning dhiri, ngangsari anak rabinya, walese ngesrahken dhiri, , sumarah ing ngarsa nata, tan gumingsir tekeng pati.

    Ingkang kaping kalihipun, sabisa-bisanereki, pametune ing nagara, tambah tegal sawahneki, aja gawe kapitunan, nggonira rumeksa bumi.

    Rupane rumeksa iku, ngeman suda rusakneki, taberi angiderana. Mring desa bawahireki, mirsani kuranganira, saben sasi kaping kalih.

    Sarta takona sireku, apa anira bumi, salamet lan oranira, lamun wis takon prakawis, nuli sira warahana, laki ingkang bener becik.

    Budi kalakuanipun, ala kasingkirna sami, panggawe mrih kapitunan, lah gawe rusaking dhiri, utawa gawe cilaka, iku aja den lakoni.

    Rehning empun adatipun, wong cilik cupet ing budi, kurang sesurupanira, gumunan dhateng pawarti, gugon tuhon manahira, kadi catur kula ngarsi.

    Bab dhateng bangsa pitutur, ingkang mokal den gugoni, niku pada amulanga, dhateng pawong rehireki, dhewe-dhewe kang supaya, wong cilik padha mangerti.

    Wong padesan gunung-gunug, ngilangna pikirireki, gugon tuhon ngandel warta, ingkang mokal-mokal sami, tegese pawarta mokal, setan bisa gawe sugih.

    Loro bangsa pethek etung, mesthekake durung lair, iku aja den pracaya, kaping telu guna sekti, ngaku awas sarta bisa, andadekake priyayi.

    Wong bodho kang isih ngidhung, iku mokal satus kethi, mangkana sapadhanira, iku aja den parduli, kang sarana dhesti jimat, iku akal ngapusi.

    Sarana jimat kang tuhu, wasis sastra; Sundha-Landi, Jawa-Mlayu sabasanya, budi klakuwane becik, suwita ing Kanjeng Tuwan, temen mantep maju kardi.

    Semono during kinaruh, bisane dadi priyayi, yen nora katunggu beja, apa maneh bodho tuwin, sungkanan lumuh ing karya, budhune nganggo penyakit.

    Mokal ingkang kaping catur, pituturira ing janmi, ana panggonan utawa, kayu watu kewan tuwin, buron banyu buron wana, ana ingkang angker singit.

    Sebab ana dhemitipun, bisa gawe lara pati, bisa aweh kaluhuran, sarta bisa gawe sugih, iku banget mokalira, poma aja den gugoni..

    Anjani saking puniku, sugenge pri kanca mami, ing wingking sami engetna, lelepian ing prakawis, lampahe pun Candranala, kali Naladhusta saksi.

    Puniku tetela sampun saking inaning pulisi, nalika pun Candranala, kadangu dipun lilani, ambekta rewang sajuga, ngrungu saliring pakarti.

    Naladhusta wus ngrungu, nulya angles amiranti, upami pun Naladhusta, tan miring parentah mesthi, tan saget amesthi dina, Senen dhangu dhateng saksi.

    Ing buri kari kalamun, adangu barang prakawis, sampun kalilanan nggawa, rewang siji kang nyedhaki, sarta lungguh ora kena, cedhakan kalawan saksi.

    Sarupane janma padu, gugat ginugat prakawis, kapisahna lungguhira, wetan kulon ingkang tebih, pandangunira kawitan, ganti maju siji-siji.

    Apa dene saksi iku, sapira akehing saksi, sadurunge kapariksa, sabab nggone angawruhi, apa ananing prakara, kudhungana imbar dhingin.

    Imbar temenira weruh, loro imbar atur neki, ingkang temen aturira, aja matur dora sandi, lamun matur datan nyata, kenoa ingimbar iki.

    Lamun wis kaimbar iku, sakathahe para saksi, kapisan lungguhira, aja paguneman pikir, ing rujukake paturan, apa dene saksineki.

    Mungsuhira lawan padu, kapiah siji-siji, tunggalna lan saksinira, mungsuhira padha siji, lamun arsa amariksa, sapisan aturing saksi.

    Masiha panggenanipun, kang sakira tan miyarsi, ature mring kancanira, saksi naliyanereki, aturane tulisana, aja kurang aja luwih.

    Saksi kang uwis kadangu, singkirna denira linggih, tan kena parekan janma, mangkana saurut neki, darapon saksi wedi, tutur kang nora sayekti.

    Kang sarta pandangunipun, saksi aja sapisan thil, rambahana kaping tiga, seje-seje kang nakoni, saben takon tulisana, apa saaturing saksi.

    Mangkanoa sapandhuwur, kalamun ndangu prakawis, pamurihira supaya, yen saksi tan wruh sayekti, pasthi wedi supata, lan geseh paturaneki.

    Lamun kawor lungguhipun, lan rewange padha saksi, kang nunggal prakaranira, sarta bareng den takoni, pasthi nunggal aturira, aku saksi peteng yekti.

    Kapindone saksi iku, lamun tan kaimbar yekti, sadurungira kapirsa, yen tan nyata angrawuhi, pasti wedi supata, datan sida anekseni.

    Mangkana panemuningsun, daropan rsik kang saksi, kang uwis datan mangkana, sumpahe mung den agagi, tan kasumpah temen dadya, kurang resikireng saksi.

    Pramila saksi puniku, kadangu rambah kaping tri, sarta kapundhut tekennya, utawa dumukireki, mengko nuli cocogena, apa geseh apa sami.

    Dene kuwajibanipun, wong dadi rangga pulisi, rumeksa marang nagara, sarta rumeksa wong cilik, kapurih padha raharja, sabawahira pribadi.

    Aja pegat pitutur, marang wong bawahireki, weruhna ing tata krama, adat caraning nagari, laku bejik laku ala, panggawe kang ngrusak dhiri.

    Kang dhingin ngelingna iku, marang janma karem main, kang nganggo totohan arta, lanang wadon gedhe cilik, iku poma walerana, sing prentahireki.

    Kaping kalih apemut, marang janma kang madati, sineret sarta inguntal, sinaruput den larangi, marga iku gawe rusak, marang dhiri anak rabi.

    Pitutur kang kaping telu, madon jina den larangi, iku gawe rusak uga, lawan sarak den larangi, kaping patira wong mangan, minum iku den larangi.

    Karana panggawe catur, iku padha ngrusak dhiri, dalah anak rayatira, padha milu rusak sami, marma iku winaleran, angeman badanireki.

    Ana maning kang pitutur, marang lurah bekel niki, utawa kaum kabayan, para kamituwaneki, kampung-kampung tuwin desa, prentahana amiranti.

    Gegamanireng prang pupuh, tumbak keris pedhang bedhil, anjagani mbok menawa, ana muk kecu maling, tandang tulung rumantia, jaga diri lan nagari.

    Kapindho pratia iku, tong kopoh lan ganthol wesi, cuwak andha sapandhanya, kang bakal kanggo kinardi, tandhang tulung mbok menawa, ana wisma kang kabesmi.

    Piranti bab kaping telu, pacul linggis pecok kundhi, sapadhane kang kinarya, negor kayu ndhudhuk siti, mbok menawa ana karya, parentahireng nagari.

    Negor kayu ngelih lurung, utawa kencana cilik, ingkang meskin kasripahan, lurah wajib anulungi, marang kasusahanira, pawong rehira wong cilik.

    Bab kaping nem : lurah kampung, parentahana mbeciki, dalan laren njabanira, ing desa wajibireki, utawa sajroning desa, padha becikna sami.

    Sawise mbeciki lurung, sakalane pinggir margi, sarta dalane simpangan, nuli becikana, maring pager dhadhah ingkang jaba, saubenge desaneki.

    Iku kang santoso kukuh, karya pakewuhe maling, yen wis becik pager jaba, nuli mbecikna maring pager cepurining wisma, anganggoa lawang kori.

    Inebira ingkang bakuh, jroning pager ingkang resik, karya pekewuhira, marang wong kang laku juti, mangkonoa sakehira, janma kang wisma pribadi.

    Sarta ingkang rukun guyup, janma sadesa puniki, gawea enggon patrolan, kang sakira kiwa sepi, kang patrol angubengana, ing desa ping pat sawengi.

    Jam sanga sapisanipun, jam sawelas kaping kalih, jam siji ping tiganira, jam telu ping patireki, murih selameting desa, kalis dursila maling.

    Pitutur bab kaping pitu, para lurah bekel sami, ngencengna parentah marang, kancanira among tani, ambecikana bendungan sarta wangun dalan warih.

    Ingkang maring sawahipun, pribadi sarta sarta mbecik, galenganganing sawahira, lawan kinon angrabuki, tegal sawah saben mangsa, iku aja lali-lali.

    Supaya tanduran lemu, lan sagunge para tani, kang padha akas adhangan, sarta ingkang ataberi, ngati-ati ping tiganya, kaping catur : wekel gemi.

    Ngati-ati dennya mluku, kang jero sarta kang napis, adhayung gadhanganira, lamun uwis den tanduri, kang taberi marang sawah, ngopeni banyunireki.

    Aja asat aja agung, lamun nganti asat garing, gelis thukul suketira, lamun agung lodhoh mati, yen wis urip tandurira, utawa gumadhung nuli.

    Kawatana tanduripun, kang sregep marang sabin, manawa kena ing ama, utawa dipun pageri.

    Makaten wong dadya sepuh, angerehaken wong cilik, tan kendhat sung warah, ing pratikel ingkang becik.

    Denya pamariksa rehipun, kapesthia saben sasi, sapisan lan asung warah, angosikna ingkang lali, ngelingana panggawe harja, kang bakal dadi prayogi.

    Cekap semanten Rumiyin

    BalasHapus
  35. Dwiana Asih Wiranti
    NIM: 2102408049
    Rombel : 2

    Babad Tanah Jawi


    Babad Tanah Jawi (aksara Jawa: ) yang ditulis oleh carik Braja atas perintah Sunan Paku Buwono III ini merupakan karya sastra sejarah dalam berbentuk tembang Jawa. Sebagai babad/babon/buku besar dengan pusat kerajaan jaman Mataram, buku ini tidak pernah lepas dalam setiap kajian mengenai hal hal yang terjadi di tanah Jawa. Akan tetapi siapapun yang kesengsem memahami Babad Tanah Jawi ini harus bekerja keras menafsirkan setiap data yang dituliskan. Maklum seperti babad lainnya ,selain bahasanya yang jawa kuno ,perihal mitosnya cukup banyak

    Buku ini juga memuat silsilah raja-raja cikal bakal kerajaan Mataram, yang juga unik dalam buku ini sang penulis memberikan cantolan hingga nabi Adam dan nabi-nabi lainnya sebagai nenek moyang raja-raja Hindu di tanah Jawa hingga Mataram Islam.

    Silsilah raja-raja Pajajaran yang lebih dulu juga mendapat tempat. Berikutnya Majapahit, Demak, terus berurutan hingga sampai kerajaan Pajang dan Mataram pada pertengahan abad ke-18.

    Tidak dapat dipungkiri buku ini menjadi salah satu babon rekonstruksi sejarah pulau Jawa. Namun menyadari kentalnya campuran mitos dan pengkultusan, para ahli selalu menggunakannya dengan pendekatan kritis.

    Banyak versi

    Babad Tanah Jawi ini punya banyak versi.

    Menurut ahli sejarah Hoesein Djajadiningrat, kalau mau disederhanakan, keragaman versi itu dapat dipilah menjadi dua kelompok. Pertama, babad yang ditulis oleh Carik Braja atas perintah Sunan Paku Buwono III. Tulisan Braja ini lah yang kemudian diedarkan untuk umum pada 1788. Sementara kelompok kedua adalah babad yang diterbitkan oleh P. Adilangu II dengan naskah tertua bertarikh 1722.

    Perbedaan keduanya terletak pada penceritaan sejarah Jawa Kuno sebelum munculnya cikal bakal kerajaan Mataram. Kelompok pertama hanya menceritakan riwayat Mataram secara ringkas, berupa silsilah dilengkapi sedikit keterangan. Sementara kelompok kedua dilengkapi dengan kisah panjang lebar.

    Babad Tanah Jawi telah menyedot perhatian banyak ahli sejarah. Antara lain ahli sejarah HJ de Graaf. Menurutnya apa yang tertulis di Babad Tanah Jawi dapat dipercaya, khususnya cerita tentang peristiwa tahun 1600 sampai jaman Kartasura di abad 18. Demikian juga dengan peristiwa sejak tahun 1580 yang mengulas tentang kerajaan Pajang. Namun, untuk cerita selepas era itu, de Graaf tidak berani menyebutnya sebagai data sejarah: terlalu sarat campuran mitologi, kosmologi, dan dongeng.

    Selain Graaf, Meinsma berada di daftar peminat Babad Tanah Jawi. Bahkan pada 1874 ia menerbitkan versi prosa yang dikerjakan oleh Kertapraja. Meinsma mendasarkan karyanya pada babad yang ditulis Carik Braja. Karya Meinsma ini lah yang banyak beredar hingga kini.

    Balai Pustaka juga tak mau kalah. Menjelang Perang Dunia II mereka menerbitkan berpuluh-puluh jilid Babad Tanah Jawi dalam bentuk aslinya. Asli sesungguhnya karena dalam bentuk tembang dan tulisan Jawa.

    Babad Tanah Djawi
    Gubahanipun
    L. VAN RIJCKEVORSEL
    Directeur Normaalschool Muntilan
    Kabantu
    R.D.S. HADIWIDJANA
    Guru Kweekschool Muntilan
    Pangecapan J.B. Wolters U.M.
    Groningen - Den Haag - Weltervreden - 1925

    Pérangan Kang Kapisan
    Babad Jawa Wiwit Jaman Indhu tumekané
    Rusaking Karajan Majapahit
    Abad 2 utawa 3 - Abad 16


    01 Pérangan Kang Kapisan
    Bab 1
    Karajan Indhu ing Tanah Jawa Kulon
    (wiwit abad 2 utawa 3)

    Kang wus kasumurupan, karajané bangsa Indhu ana ing Tanah Jawa, kang dhisik dhéwé, diarani karajan "Tarumanagara" (Tarum = tom. kaliné jeneng Citarum).
    Karajan iku mau dhèk abad kaping 4 lan 5 wis ana, déné titi mangsaning adegé ora kawruhan.
    Ratu ratuné darah Purnawarman. Mirit saka gambar gambar kembang tunjung kang ana ing watu watu patilasan, darah Purnawarman iku padha nganggo agama Wisnu.

    Ing tahun 414 ana Cina aran Fa Hien, mulih saka enggoné sujarah menyang patilasané Resi Budha, ing tanah Indhu Ngarep mampir ing Tanah Jawa nganti 5 sasi.
    Ing cathetané ana kang nerangaké mangkéné :
    1. Ing kono akèh wong ora duwé agama (wong Sundha), sarta ora
    ana kang tunggal agama karo dhèwèkné: Budha.
    2. Bangsa Cina ora ana, awit ora kasebut ing cathetané.
    3. Barengané nunggang prahu saka Indhu wong 200, ana sing
    dedagangan, ana kang mung lelungan, karepé arep padha
    menyang Canton.

    Yèn mangkono dadi dalané dedagangan saka tanah Indhu Ngarep menyang tanah Cina pancèn ngliwati Tanah Jawa.
    Ing Tahun 435 malah wis ana utusané Ratu Jawa Kulon menyang tanah Cina, ngaturaké pisungsung menyang Maharaja ing tanah Cina, minangka tandhaning tetepungan sarta murih gampang lakuning dedagangan.
    Karajan Tarumanagara mau ora kasumurupan pirang tahun suwéné lan kepriyé rusaké.
    Wong Indhu ana ing kono ora ngowahaké adat lan panguripané wong bumi, awit pancèn ora gelem mulangi apa apa, lan wong bumi uga durung duwé akal niru kapinterané wong Indhu.
    Ewa déné meksa ana kaundhakaning kawruhé, yaiku mbatik lan nyoga jarit.
    02 Pérangan Kang Kapisan
    Bab 2
    Karajan Indhu ing Jawa Tengah
    (abad kaping 6)

    Mirit saka:
    1. Cathetané bangsa Cina
    2. Unining tulisan tulisan kang ana ing watu watu lan candhi
    3. Cathetané sawijining wong Arab, wis bisa kasumurupan
    sathithik sathithik mungguh kaananing wong Indhu ana ing
    Tanah Jawa Tengah dhèk jaman samono.

    Nalika wiwitané abad kang kanem ana wong Indhu anyar teka ing Tanah Jawa Kulon.
    Ana ing kono padha kena ing lelara, mulané banjur padha nglèrèg mangétan, menyang Tanah Jawa Tengah.
    Wong Jawa wektu samono, isih kari banget kapinterané, yèn ditandhing karo wong Indhu kang lagi neneka mau; mulané banjur dadi sor-sorané.
    Wong Indhu banjur ngadegaké karajan ing Jepara.
    Omah omah padunungané wong Jawa, ya wis mèmper karo omah omahé wong jaman saiki, apayon atep utawa eduk lan wis nganggo képang.
    Enggoné dedagangan lelawanan karo wong Cina; barang dedagangané kayata: emas, salaka, gading lan liya liyané.
    Cina cina ngarani nagara iku Kalinga, besuké, ya diarani: Jawa.
    Karajan mau saya suwé saya gedhé, malah nganti mbawahaké karajan cilik cilik 28 (wolu likur).
    Wong Cina uga nyebutaké asmané sawijining ratu putri: Sima; dikandakaké becik banget enggoné nyekel pangrèhing praja (tahun 674).
    Tulisaning watu kang ana ciriné tahun 732, dadi kang tuwa dhéwé, katemu ana sacedhaké Magelang, nyebutaké, manawa ana ratu kang jumeneng, jejuluk Prabu Sannaha, karajané gedhé, kang klebu jajahané yaiku tanah tanah Kedhu, Ngayogyakarta, Surakarta lan bokmenawa Tanah Jawa Wétan uga klebu dadi wewengkoné karajan iku.

    Mirit caritané, karajan kang kasebut iku tata tentrem banget kaya kang kasebut ing tulisan kang katemu ana ing patilasan: Nadyan wong wong padha turu ana ing dalan dalan, ora sumelang, yèn ana bégal utawa bebaya liyané.
    Mirit kandhané sawijining wong Arab, dhèk tengah tengahané abad kang kaping sanga, ratu ing Tanah Jawa wis mbawahaké tanah Kedah ing Malaka (pamelikan timah).

    Karajan ing dhuwur iki sakawit ora kawruhan jenengé, nanging banjur ana karangan kang katulis ing watu kang titi mangsané tahun 919, nyebutaké karajan Jawa ing Mataram.
    Jembar jajahané, mungguha saiki tekan Kedhu, Ngayogyakarta, Surakarta; mangloré tekan sagara; mangétané tekan tanah tanah ing Tanah Jawa Wétan sawatara.
    Kuthané karan : Mendhangkamulan.

    Wong Arab ngandhakaké, ana ratu Jawa mbedhah karajan Khamer (Indhu Buri).
    Sing kasebut iki ayaké iya karajan Mataram mau. Kajaba Khamer, karajan Jawa iya wis mbawahaké pulo pulo akèh. Pulo pulo iku mawa gunung geni.
    Karajan Jawa mau sugih emas lan bumbu crakèn. Wong Arab iya akèh kang lelawanan dedagangan.

    Sabakdané tahun 928 ora ana katrangan apa apa ing bab kaanané karajan Mataram.
    Kang kacarita banjur ing Tanah Jawa Wétan. Ayaké baé karajan Mataram mau rusak déning panjebluge gunung Merapi (Merbabu), déné wongé kang akèh padha ngungsi mangétan.
    Ing abad 17 karajan Mataram banjur madeg manèh, gedhé lan panguwasané irib iriban karo karajan Mataram kuna.

    Agamané wong Indhu sing padha ngejawa rupa rupa. Ana ing tanah wutah getihe dhéwé ing kunané wong Indhu ngèdhep marang Brahma, Wisnu lan Syiwah, iya iku kang kaaranan Trimurti. Kejaba saka iku uga nembah marang déwa akèh liya liyané, kayata: Ganésya, putrané Bethari Durga.
    Manut piwulangé agama Indhu pamérangé manungsa dadi patang golongan, yaiku:
    - para Brahmana (bangsa pandhita)
    - para Satriya (bangsa luhur)
    - para Wesya (bangsa kriya)
    - para Syudra (bangsa wong cilik)
    Piwulangé agama lan padatané wong Indhu kaemot ing layang kang misuwur, jenengé Wedha.
    Kira kira 500 tahun sadurungé wiwitané tahun Kristen, ing tanah Indhu ana sawijining darah luhur peparab Syakya Muni, Gautama utawa Budha.
    Mungguh piwulangé gèsèh banget karo agamané wong Indhu mau.
    Resi Budha ninggal marang kadonyan, asesirik lan mulang muruk marang wong.
    Kajaba ora nembah dewa dewa, piwulangé: sarèhné wong iku mungguhing kamanungsané padha baé, dadiné ora kena dipérang patang golongan.
    Para Brahmana Indhu mesthi baé ora seneng pikire, mulané kerep ana pasulayan gedhé.
    Ana ing tanah Indhu wong Budha mau banjur peperangan karo wong agama Indhu.
    Wusana bangsa Budha kalah lan banjur ngili menyang Ceylon sisih kidul, Indu Buri, Thibet, Cina, Jepang.
    Mungguh wong agama Indhu iku pangèdêpé ora padha. Ana sing banget olèhe memundhi marang Syiwah yaiku para Syiwaiet (ing Tanah Jawa Tengah); ana sing banget pangèdêpé marang Wisynu, yaiku para Wisynuiet (ing Tanah Jawa Kulon).
    Kajaba saka iku uga akèh wong agama Budha, nanging ana ing Tanah Jawa agama agama iku bisa rukun, malah sok dicampur baé.
    Petilasané agama Indhu mau saikiné akèh banget, kayata:
    - Candhi candhi ing plato Dieng (Syiwah), iku bokmenawa yasané
    ratu darah Sanjaya.
    - Candhi ing Kalasan ana titi mangsané tahun 778, ayaké iki
    candhi tuwa dhéwé (Budha), yasané ratu darah Syailendra.
    - Candhi Budha kang misuwur dhéwé, yaiku Barabudhur lan
    Mendut.
    - Candhi Prambanan (Syiwah). Ing sacedhaké Prambanan ana
    candhi campuran Budha lan Syiwah.

    relief_borobudur
    Relief Candhi Barabudhur

    03 Pérangan Kang Kapisan
    Bab 3
    Karajan Ing Tanah Jawa Wétan
    (wiwitané abad 10 - tahun 1220)

    Ing dhuwur wus kasebutaké yèn Tanah Jawa Wétan, kabawah karajan Indhu ing Mataram; nanging wong Indhu kang manggon ana ing Tanah Jawa Wétan ora pati akèh, yèn katimbang karo kang manggon ing Tanah Jawa Tengah (Kedhu).
    Marga saka iku wong Indhu kudu kumpul karo wong bumi, prasasat tunggal dadi sabangsa.
    Ing wiwitané abad 10 ana pepatihing karajan Tanah Jawa Tengah aran Empu Sindhok lolos mangétan. Let sawatara tahun empu Sindhok mau jumeneng ratu ing Tanah Jawa Wétan, karajané ing Kauripan (Paresidhènan Surabaya sisih kidul).

    Ambawahaké: Surabaya, Pasuruwan, Kedhiri, Bali bok manawa iya kabawah.
    Enggoné jumeneng ratu tekan tahun 944 lan iya jejuluk Nata ing Mataram.
    Nata ing Mataram mau banget pangèdêpé marang agama Budha.
    Empu Sindhok misuwur wasis enggoné ngerèh praja. Ana cathetan kang muni mangkéné: "Awit saka suwéning enggoné jumeneng ratu, marcapada katon tentrem; wulu wetuning bumi nganti turah turah ora karuhan kèhé."

    Ing tahun 1010 Erlangga tetep jumeneng ratu, banjur nerusaké enggoné mangun paprangan lan ngelar jajahan.
    Ing tahun 1037 enggoné paprangan wis rampung, negara reja, para kawula padha tentrem. Déné karatoné iya ana ing Kauripan.
    Sang Prabu Erlangga ora kesupèn marang kabecikaning para pandhita lan para tapa, kang gedhé pitulungané nalika panjenengané lagi kasrakat.

    Minangka pamalesing kabecikané para pandhita, Sang Nata yasa pasraman apik banget, dumunung ing sikile gunung Penanggungan.
    Pasraman mau kinubeng ing patamanan kang luwih déning asri, lan rerenggané sarwa peni sarta endah. Saka ediné, nganti misuwur ing manca praja, saben dina aselur wong kang padha sujarah mrono.

    Pangadilané Sang Nata jejeg. Wong désa kang nrajang angger angger nagara padha kapatrapan paukuman utawa didhendha.
    Kècu, maling, sapanunggalané kapatrapan ukum pati.
    Sang Prabu enggoné nindakaké paprentahan dibantu ing priyagung 4, padha oleh asil saka pametuning lemah lenggahè.
    Saka enggoné manggalih marang tetanèn yaiku pagawéyaning kawula kang akèh, Sang Nata yasa bendungan gedhé ana ing kali Brantas.
    Sang Nata uga menggalih banget marang panggaotan lan dedagangan.
    Kutha Tuban nalika samono panggonan sudagar, oleh biyantu akèh banget saka Sang Prabu murih majuning dedagangan lan lelayaran.

    Sang Nata yèn sinéwaka lenggah dhampar (palenggahan cendhèk pesagi), ngagem agem ageman sarwa sutra, remané diukel lan ngagem cênéla.
    Yèn miyos nitih dwipangga utawa rata, diarak prajurit 700.
    Punggawa lan kawula kang kapethuk tindaké Sang Nata banjur padha sumungkem ing lemah (ndhodhok ngapurancang?).
    Para kawula padha ngoré rambut, enggoné bebedan tekan ing wates dhadha.
    Omahè kalebu asri, nganggo payon gendhèng kuning utawa abang.
    Wong lara padha ora tetamba mung nyuwun pitulunganing para dewa baé, utawa marang Budha.
    Wong wong padha seneng praon lan lelungan turut gunung, akèh kang nunggang tandhu utawa joli.
    Dhèk samono wong wong iya wis padha bisa njogèt, gamelané suling, kendhang lan gambang.

    Karsané Sang Prabu besuk ing sapengkeré kang gumanti jumeneng Nata putrané loro pisan, mulané kratoné banjur diparo: Jenggala (sabageyaning: Surabaya sarta Pasuruwan) lan Kedhiri.
    Déné kang minangka watesé: pager témbok kang sinebut "Pinggir Raksa", wiwit saka puncaking Gunung Kawi, mangisor, nurut kali Leksa banjur urut ing brangloré kali Brantas saka wétan mangulon tekan ing désa kang saiki aran "Juga", nuli munggah mangidul, terusé kira kira nganti tumeka ing pasisir.
    Gugur gugurané tembok iku saiki isih ana tilasé, kayata ing sacedhaking kali Leksa, sakulon lan sakiduling kali Brantas, ing watesing afd. Malang lan Blitar.

    Mungguhing babad Jawa jumenengé Prabu Erlangga kaanggep minangka pepadhang sajroning pepeteng, awit rada akèh caritané kang kasumurupan.
    Kawruh kasusastran wis dhuwur. Layang layangé ing jaman iku tekané ing jaman saiki isih misuwur becik lan dadi teturutaning crita crita wayang.
    Layang layang mau basané diarani: Jawa Kuna, kayata:
    1. Layang Mahabarata
    2. Layang Ramayana lan Arjuna Wiwaha.

    Karajan Jenggala ora lestari gedhé, awit pecah pecah dadi karajan cilik cilik, marga saka diwaris marang putraning Nata; yaiku praja Jenggala (Jenggala anyar); Tumapel utawa Singasari lan Urawan.
    Karajan cilik cilik kang cedhak wates Kedhiri or suwé banjur ngumpul mèlu Kedhiri, liyané isih terus madeg dhéwé nganti tekan abad 13.
    Kerajan Kedhiri (Daha, Panjalu) mungguha saiki mbawahaké paresidhènan Kedhiri, sapérangané Pasuruwan lan Madiyun.
    Kuthané ana ing kutha Kedhiri saiki. Karajan mau bisa dadi kuncara.
    Ing wektu iku kasusastran Jawa dhuwur banget, nalika jamané Jayabaya (abad 12) ngluwihi kang uwis uwis lan tumekané jaman saiki isih sinebut luhur, durung ana kang madhani.

    Ing tahun 1104 ing kedhaton ana pujangga jenengé: Triguna utawa Managocna.
    Pujangga iku sing nganggit layang Sumanasantaka lan Kresnayana.
    Radèn putra utawa Panji kang kacarita ing dongèng kae, bokmenawa iya ratu ing Daha, kang jejuluk Prabu Kamesywara I. Jumeneng ana wiwitané abad kang kaping 12. Garwané kekasih ratu Kirana (Candra Kirana) putrané ratu Jenggala.
    Ing mangsa iki ana pujangga jenengé Empu Dharmaja nganggit layang Smaradhana. Radèn Panji nganti saiki tansah kacarita ana lakoné wayang gedhog lan wayang topeng.

    Pujanggané Jayabaya aran Empu Sedah lan Empu Panuluh.
    Empu Sedah ing tahun Saka 1079 (= 1157) methik sapéranganing layang Mahabarata, dianggit lan didhapur cara Jawa, dijenengaké layang Bharata Yudha.
    Wong Jawa ing wektu iku wis pinter, wong Indhu kesilep, karajan Indhu wis dadi karajan Jawa.

    BalasHapus
  36. Palupi Budi Utami2 April 2009 20.42

    Nama : PALUPI BUDI UTAMI
    NIM : 2102408017
    Rombel : 1

    PARARATON

    Serat Pararaton, atau Pararaton saja (bahasa Kawi: "Kitab Raja-Raja"), adalah sebuah kitab naskah Sastra Jawa Pertengahan yang digubah dalam bahasa Jawa Kawi. Naskah ini cukup singkat, berupa 32 halaman seukuran folio yang terdiri dari 1126 baris. Isinya adalah sejarah raja-raja Singhasari dan Majapahit di Jawa Timur. Kitab ini juga dikenal dengan nama "Pustaka Raja", yang dalam bahasa Sanskerta juga berarti "kitab raja-raja". Tidak terdapat catatan yang menunjukkan siapa penulis Pararaton.
    Pararaton diawali dengan cerita mengenai inkarnasi Ken Arok, yaitu tokoh pendiri kerajaan Singhasari (1222–1292). Selanjutnya hampir setengah kitab membahas bagaimana Ken Arok meniti perjalanan hidupnya, sampai ia menjadi raja di tahun 1222. Penggambaran pada naskah bagian ini cenderung bersifat mitologis. Cerita kemudian dilanjutkan dengan bagian-bagian naratif pendek, yang diatur dalam urutan kronologis. Banyak kejadian yang tercatat di sini diberikan penanggalan. Mendekati bagian akhir, penjelasan mengenai sejarah menjadi semakin pendek dan bercampur dengan informasi mengenai silsilah berbagai anggota keluarga kerajaan Majapahit.
    Penekanan atas pentingnya kisah Ken Arok bukan saja dinyatakan melalui panjangnya cerita, melainkan juga melalui judul alternatif yang ditawarkan dalam naskah ini, yaitu: "Serat Pararaton atawa Katuturanira Ken Angrok", atau "Kitab Raja-Raja atau Cerita Mengenai Ken Angrok". Mengingat tarikh yang tertua yang terdapat pada lembaran-lembaran naskah adalah 1522 Saka (atau 1600 Masehi), diperkirakan bahwa bagian terakhir dari teks naskah telah dituliskan antara tahun 1481 dan 1600, dimana kemungkinan besar lebih mendekati tahun pertama daripada tahun kedua.

    Sumber : Wikipedia Indonesia

    BalasHapus
  37. Dyah Ayu Rakhmawati2 April 2009 20.51

    Nama : DYAH AYU RAKHMAWATI
    NIM : 2102408012
    Rombel : 1

    SERAT RANGSANG TUBAN
    Ringkasan Serat Rangsang Tuban karangane Ki Padmasusastra

    Isi crita putra raja Tuban. Putra raja iku asma Warihkusuma lan Warsakusuma. Warihkusuma dhaup karo Endhang Wresthi anake Umbul Mudal. Patih Toyamarta diaturi mrajaya Warihkusuma, lan Endhang Wresthi arep digarwa dening Warsakusuma. Ki Patih ethok-ethok saguh mrajaya Warihkusuma. Warihkusuma kagawa menyang alas, nanging ora diprajaya, mung kadhawuhan nilar nagara. Warihkusuma tumuju marang nagara Banyubiru, banjur dipek mantu dening raja Banyubiru, dhaup karo Rara Wayi. Warihkusuma peputra wadon asma Rara Sendhang. Warsakusuma disuduk keris dening Endhang Wresthi. Endhang Wresthi wis mbobot, lan peputra Udakawimba. Warihkusuma katundhung dening raja Banyubiru sawise Rara Wayi nglairake bayi, banjur bali menyang Tuban. Udakawimba lunga saka praja wasana ketemu karo Rara Sendhang. Wasana dadi perang rebutan nagara. Bareng wis tentrem kabeh padha getun, awit kabeh isih tunggal sadulur. Banjur padha madeg ing nagarane dhewe-dhewe.

    Sumber: agung-fun.blogspot.com

    BalasHapus
  38. Nama : Bambang Tejo Noto Kusumo
    NIM : 2102408071
    Rombel : 3

    Serat Centhini

    Serat Centhini atau juga disebut Suluk Tambanglaras atau Suluk Tambangraras-Amongraga, merupakan salah satu karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru. Serat Centhini menghimpun segala macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa, agar tak punah dan tetap lestari sepanjang waktu. Serat Centhini disampaikan dalam bentuk tembang, dan penulisannya dikelompokkan menurut jenis lagunya.

    Menurut keterangan R.M.A. Sumahatmaka, seorang kerabat istana Mangkunegaran, Serat Centhini digubah atas kehendak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom di Surakarta, seorang putra Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV, yaitu yang kemudian akan bertahta sebagai Sunan Pakubuwana V.

    Sangkala Serat Centhini, yang nama lengkapnya adalah Suluk Tambangraras, berbunyi paksa suci sabda ji, atau tahun 1742 tahun Jawa atau tahun 1814 Masehi. Berarti masih dalam masa bertahtanya Sunan Pakubuwana IV, atau enam tahun menjelang dinobatkannya Sunan Pakubuwana V. Menurut catatan tentang naik tahtanya para raja, Pakubuwana IV mulai bertahta pada tahun 1741 (Jawa), sedangkan Pakubuwana V mulai bertahta pada tahun 1748 (Jawa).

    Yang dijadikan sumber dari Serat Centhini adalah kitab Jatiswara, yang bersangkala jati tunggal swara raja, yang menunjukkan angka 1711 (tahun Jawa, berarti masih di zamannya Sunan Pakubuwana III). Tidak diketahui siapa yang mengarang kitab Jatiswara. Bila dianggap pengarangnya adalah R.Ng. Yasadipura I, maka akan terlihat meragukan karena terdapat banyak selisihnya dengan kitab Rama atau Cemporet.

    Tujuan dan pelaku penggubahan

    Atas kehendak Sunan Pakubuwana V, gubahan Suluk Tambangraras atau Centhini ini dimanfaatkan untuk menghimpun segala macam pengetahuan lahir dan batin masyarakat Jawa pada masa itu, yang termasuk di dalamnya keyakinan dan penghayatan mereka terhadap agama. Pengerjaan dipimpin langsung oleh Pangeran Adipati Anom, dan yang mendapatkan tugas membantu mengerjakannya adalah tiga orang pujangga istana, yaitu:

    1. Raden Ngabehi Ranggasutrasna
    2. Raden Ngabehi Yasadipura II (sebelumnya bernama Raden Ngabehi Ranggawarsita I)
    3. Raden Ngabehi Sastradipura

    Sebelum dilakukan penggubahan, ketiga pujangga istana mendapat tugas-tugas yang khusus untuk mengumpulkan bahan-bahan pembuatan kitab. Ranggasutrasna bertugas menjelajahi pulau Jawa bagian timur, Yasadipura II bertugas menjelajahi Jawa bagian barat, serta Sastradipura bertugas menunaikan ibadah haji dan menyempurnakan pengetahuannya tentang agama Islam.

    Pengerjaan isi

    R. Ng. Ranggasutrasna yang menjelajah pulau Jawa bagian timur telah kembali terlebih dahulu, karenanya ia diperintahkan untuk segera memulai mengarang. Dalam prakata dijelaskan tentang kehendak sang putra mahkota, bersangkala Paksa suci sabda ji.

    Setelah Ranggasutrasna menyelesaikan jilid satu, datanglah Yasadipura II dari Jawa bagian barat dan Sastradipura (sekarang juga bernama Kyai Haji Muhammad Ilhar) dari Mekkah. Jilid dua sampai empat dikerjakan bersama-sama oleh ketiga pujangga istana. Setiap masalah yang berhubungan dengan wilayah barat Jawa, timur Jawa, atau agama Islam, dikerjakan oleh ahlinya masing-masing.

    Pangeran Adipati Anom kemudian mengerjakan sendiri jilid lima sampai sepuluh. Penyebab Pangeran Adipati Anom mengerjakan sendiri keenam jilid tersebut diperkirakan karena ia kecewa bahwa pengetahuan tentang masalah senggama kurang jelas ungkapannya, sehingga pengetahuan tentang masalah tersebut dianggap tidak sempurna.

    Setelah dianggap cukup, maka Pangeran Adipati Anom menyerahkan kembali pengerjaan dua jilid terakhir (jilid sebelas dan duabelas) kepada ketiga pujangga istana tadi. Demikianlah akhirnya kitab Suluk Tambangraras atau Centhini tersebut selesai dan jumlah lagu keseluruhannya menjadi 725 lagu.

    Ringkasan isi

    Serat Centhini disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri berpencar meninggalkan tanah mereka untuk melakukan perkelanaan, karena kekuasaan Giri telah dihancurkan oleh Mataram. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengraga/Jayengsari, dan seorang putri bernama Ken Rancangkapti.

    Jayengresmi, dengan diikuti oleh dua santri bernama Gathak dan Gathuk, melakukan "perjalanan spiritual" ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojonegoro, hutan Bagor, Gambirlaya, Gunung Padham, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang.
    Gunung Salak, dilihat dari Bogor

    Dalam perjalanan ini, Jayengresmi mengalami "pendewasaan spiritual", karena bertemu dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuno, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawa. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa, mulai dari candi, makna suara burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu berhubungan seksual, perhitungan tanggal, hingga ke kisah Syekh Siti Jenar. Pengalaman dan peningkatan kebijaksanaannya ini membuatnya kemudian dikenal dengan sebutan Seh (Syekh) Amongraga. Dalam perjalanan tersebut, Syekh Amongraga berjumpa dengan Ni Ken Tambangraras yang menjadi istrinya, serta pembantunya Ni Centhini, yang juga turut serta mendengarkan wejangan-wejangannya.

    Jayengsari dan Rancangkapti diiringi santri bernama Buras, berkelana ke Sidacerma, Pasuruan, Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singhasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Bromo, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argopuro, Gunung Raung, Banyuwangi, Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa di kaki Gunung Bisma Banyumas.

    Dalam perjalanan itu mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawa, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan wudhu, shalat, pengetahuan dzat Allah, sifat dan asma-Nya (sifat dua puluh), Hadist Markum, perhitungan slametan orang meninggal, serta perwatakan Pandawa dan Kurawa.

    Setelah melalui perkelanaan yang memakan waktu bertahun-tahun, akhirnya ketiga keturunan Sunan Giri tersebut dapat bertemu kembali dan berkumpul bersama para keluarga dan kawulanya, meskipun hal itu tidak berlangsung terlalu lama karena Syekh Amongraga (Jayengresmi) kemudian melanjutkan perjalanan spiritualnya menuju tingkat yang lebih tinggi lagi, yaitu berpulang dari muka bumi.

    [sunting] Lingkup pengaruh

    Karya ini boleh dikatakan sebagai ensiklopedi mengenai "dunia dalam" masyarakat Jawa. Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis memang dengan ambisi sebagai perangkum baboning pangawikan Jawi, induk pengetahuan Jawa. Serat ini meliputi beragam macam hal dalam alam pikiran masyarakat Jawa, seperti persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, karawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon (horoskop), makanan dan minuman, adat-istiadat, cerita-cerita kuno mengenai Tanah Jawa dan lain-lainnya.

    Melihat jenis-jenis pengetahuan yang dipelajari oleh ketiga putra-putri Giri tersebut, tampak dengan jelas unsur-unsur Islam yang "ortodoks" bercampur-baur dengan mitos-mitos Tanah Jawa. Ajaran Islam mengenai sifat Allah yang dua puluh misalnya, diterima begitu saja tanpa harus membebani para penggubah ini untuk mempertentangkannya dengan mitos-mitos khazanah kebudayaan Jawa. Dua-duanya disandingkan begitu saja secara "sinkretik" seolah antara alam monoteisme-Islam dan paganisme/animisme Jawa tidak terdapat pertentangan yang merisaukan. Penolakan atau resistensi tampil dalam nada yang tidak menonjol dan sama sekali tidak mengesankan adanya "heroisme" dalam mempertahankan kebudayaan Jawa dari penetrasi luar.

    Keraton-keraton Jawa Islam yang merupakan penerus dari keraton Majapahit menghadapi tidak saja legitimasi politik, melainkan juga panggilan kultural untuk kontinuitas. Tanpa hal-hal tersebut, keraton-keraton baru itu tidak akan dapat diakui sebagai keraton pusat. Dengan demikian konsep-konsep wahyu kedaton, susuhunan, dan panatagama terus berlanjut menjadi dinamika tersendiri antara tradisi keraton yang sinkretis dan tradisi pesantren yang ortodoks.

    Serat Centhini terus menerus dikutip dan dipelajari oleh masyarakat Jawa, Indonesia dan peneliti asing lainnya, sejak masa Ranggawarsita sampai dengan masa modern ini. Kepopulerannya yang terus-menerus berlanjut tersebut membuatnya telah mengalami beberapa kali penerbitan dan memiliki beberapa versi, diantaranya adalah versi keraton Mangkunegaran tersebut.

    Kepustakaan

    Sunan Pakubuwana VII, yang bertahta dari tahun 1757 sampai 1786, berkenan menghadiahkan Suluk Tambanglaras tersebut kepada pemerintah Belanda. Akan tetapi yang diberikan hanya mengambil dari jilid lima sampai sembilan, dengan menambah kata pengantar baru yang dikerjakan oleh R.Ng. Ranggawarsita III. Kitab tersebut bersangkala Tata resi amulang jalma, yang berarti 1775, dan dijadikan delapan jilid, diberi judul Serat Centhini, yang terdiri dari 280 lagu.

    SUMBER:www.wikipedia.org/wiki/Serat_Centhini

    BalasHapus
  39. NAMA : RETNA ANGGLING ANGGRAENI
    NIM : 2102408035
    ROMBEL : 02

    KRESNA
    Kresna iku sawijining paraga Mahabharata. Nalika isih timur, asmané Narayana. Ing pedhalangan, Kresna kondhang amarga lantip lan pinter micara. Karo Arjuna, Kresna kapilih dadi titisaning Bathara Wisnu. Raja ing kraton Dwarawati iki sawijining turuning Yadhu. Miturut padhalangan Kresna iku anake Prabu Basudewa, nata ing Mandura kang angka loro patutan karo Dewi Mahindra iya Dewaki. Kadange sepuh asmane Raden Kakrasana iya Prabu Baladrewa, dene rayine asmane Dewi Bratajaya iya Wara Sumbadra. Garwa-garwane yaiku Dewi Jembawati, putrine Resi jembawan ing pertapan Gandamadana, peputra Raden Samba Wisnubrata, Dewi Rukminiputrine Prabu Bismaka (Arya Prabu Rukma) ing Kumbina, peputra Dewi Titisari lan Raden Saranadewa (arang dikocapake) lan [[Dewi Setyaboma], atmajane Prabu Setyajid (Ugrasena) ing Lesanpura, peputra Raden Setyaka. Dewi Pratiwi (Pertiwi) putrine Sang Hyang Nagaraja ing kahyangan Sumur Jalatundha, peputra Raden Setija iyaPrabu Bhoma Narakasura, lan Siti Sundari. Miturut padhalangan, Kresna bisa jumeneng nata ing Dwarawati amarga bisa ngasorake yudhane yaksendra, Prabu Yudhakalakresna iya Kunjanakresna, nata Dwarawati kang pungkasan. Ing crita liya, ratu Dwarawati sing dikalahake Narayana iku jejuluke Prabu Narasinga Murti lan senopatine aran Raden Singamulangjaya kang uga banjur dikalahake dening Setyaki. Prabu Narasinga banjur manitis ana anggane Prabu Kresna, dene Singamulangjaya manunggal sajiwa karo Setyaki. Crita iki bisa ditemoni ing lakon wayng Bedahe Dwarawati. Dasanamane miturut padhalangan : Prabu Sri Bathara Kresna, Prabu Harimurti (putrane pak SBY asmane Harimurti),Sasrasumpena,Danardana (Janardana), Sang Padmanaba, Narayana, Giwangkaton,lan Prabu Lengkawamanik

    Ing Bharatayudha, Kresna ora melu cawe-cawe langsung. Kresna mung ngatur sapa kang bakal dadi senopati. Nanging sadurunge perang diwiwiti, Kresna dadi utusan kanggo Pandhawa menyang Kurawa. Kadadeyan iki ana ing lakon Kresna Duta. Dene nalika Arjuna arep tandhing lawan Adhipati Karna, Kresna menehi wejangan marang Arjuna. Arjuna rangu-rangu arep mangkat perang amarga arep tandhing karo sedulure dhewe. Wejangan iki kondhang ing India tinulis ing Bhagawad Gita.

    Pungkasaning crita, Kresna kena pitulahe sepata turuning namgsa Yadhu kang kudu tumpes.

    Gaman:

    * Senjata Cakra : Panah awujud cakra (bunder kaya rodha) lan lancip ing pucuke.
    * Kembang Cangkok Wijaya Kusuma lan Wijayamulya: awujud cangkoking kembang kang bisa ngusadani wong lara utawa mati sadurunge wektune.
    * Kaca Paesan : Kaca kang bisa kanggo meruhi apa kang bakal kelakon.
    * Aji Pameling : kanggo nimbali saka kadohan, umpamane nimbali Resi mayangkara kang ana pertapan Kendhalisada supaya marak sowan.
    * Aji Kesawa kang dayane yen duka bisa malih brahala sagunung anakan (triwikrama) apraceka Ditya Balasrewu.

    Kresna

    [sunting] Liya-liya

    Narayana sakadang nalika isih timur dititipake marang Ki Demang Antyagopa lan Nyai Sagopi ing Kadhemangan Widorokandhang. Iki kanggo nyingidake supaya aja nganthi konganan dening Kangsadewa, putrane kuwalon Prabu Basudewa saka Dewi Maerah kang jumeneng adipati ing Sengkapura kang kepengin nguwasani negara Mandura. Ya nalika ana ing Widharakandang iki, Narayana meguru marang Begawan Padmanaba ing Pertapan Girituba. Dening Sang Begawan pinaringan pusaka cacah loro aran Senjata Cakra Baskara, Kembang Cangkok Wijayakusuma lan kaca Paesan kang bisa kanggo ngawuningani kahanan sing bakal dumadi. Kejaba kuwi uga pinaringan aji "Kesawa" iya aji Balsrewu kang dayane menawa Prabu Kresna lagi duka banjur astane nyenggol bedhore Kesawa bisa triwikrama dadi brahala sagunung anakan sesilih Ditya Balasrewu. Sabanjure Sang begawan Padmanaba iya banjur manitis ana anggane Narayasa.

    Prabu Kresna iku kawentar kadidene titising dewa Bathara Wisnu, dewa kang andhum kabahagyan lan keadilan. Mula ya wicaksana, waskitha, pinter, sekti mandraguna, sidik ing paningal lan yen duka bisa malih buta brahala. Prabu Kresna banget tresnane marang adhine ipe, yaiku Arjuna. Kresna lan Arjuna iku nganthi kerep diibaratake kaya godhong suruh lumah lan kurepe, nadyan beda wujude nanging yen digigit padha rasane. Ratu Dwarawati iki uga kondhang kadidene salah sijine paraga sing pinter (lihai) lan ahli strategi perang sing mumpuni. Nalika dumadine perang Baratayuda, Kresna dadi botohe para Pandhawa.

    Ngarepe dumadine perang, tau minangka duta. Budhale menyang Astina nitih kreta dikusiri rayine, Setyaki. Ing Tegal Kuru lakune ditungka dewa cacah papat, yaiku Sang Hyang Narada, Sang Hyang Kanwa, Sang Hyang Janaka lan Ramaparasu kang ngersakake nyekseni anggone padha pirembugan.

    Sawise Prabu Kresna tekan Astina, maune ditampa kanthi becik dening Prabu Duryudana sakadhang. Prabu Duryudana ya wis saguh mbalekake negara Astina sigar semangka marang para Pandhawa. Nanging nalika para dewa mau wis padha kondhur makayangan, Duryudana njabel kesaguhane. Layang prajanjen kang wis ditapak astani narendra kekarone disebit-sebit. Lan oran mung kuwi wae, ratu Astina kuwi uga banjur paring sasmita marang Patih Sengkuni lan Pandhita Durna supaya dhawuh marang para Kurawa amrih ngrangket lan nyirnakake Prabu Kresna. Kurawa klakon nglarak Prabu Kresna menyang alun-alun nedya disirnakake. Mesthi wae Prabu Kresna banjur duka yayah sinipi, banjur triwikrama malih dadi brahala kang gedhene sagunung anakan. Para Kurawa bubar mawut katrajang pangamuke Ditya Balasrewu. Miturut crita padhalangan gagrak Yogyakarta sing kalumrah kae, pangamuka Balasrewu uiku tundhone nggawa kurban Prabu Dhestharastra lan Dewi Gendari (bapa lan ibune para Kurawa) sedha sarimbit amarga kebrukan Baluwerti (beteng kedhaton)kang juruguk amarga pangamuke Balasrewu. Jugrugane beteng kang ngebruki Prabu Dhestarastra lan Gendari iku kinarya liwat playune para Kurawa kang dibujung brahala. Iki ateges, Prabu Dhstharastra lan Dewi Gendari pada wae diidhak-idhak dening para putrane dhewe, amarga anggone ora bisa ndhidik (nggulawentah) lan mulang-muruk bab kautaman marang para anak-anake.

    Ana ing perang baratayuda, Prabu Kresna ngusiri kretane Arjuna nalika perang-tandhing lumawan Adipati Karna. Arjuna unggul yudhane, Adipati Karna gugur ketaman jemparing Pasopati.

    Ing pakeliran, yen Prabu Baladewa kondhang kadidene ratu sing pakulitane putih mulus alias bule tekan balung sumsum, Prabu Kresna iki pakulitane ireng. Cocok karo asmane, tembung "kresna"werdine pancen ireng. Ireng tekan getih, balung lan sumsume. Pungkasane crita, Kresna sirna saragane amarga kena putulahe sepata turuning bangsa Yadhu kang kudu tumpes.

    BalasHapus
  40. NAMA : SITI SAPARIDAH
    NIM : 2102408047
    ROMBEL : 02


    Serat Nitiprana Piwulang Budi Luhur

    Serat Nitiprana anggitane R. Ng. Yasadipura (1729-1803), mujudake salah sijine serat piwulang tumrap para mudha tumuju marang budi kang luhur. Karya sastra iki mung cendhak wae, yaiku mung sak pupuh (Dhandhanggula), dumadi saka 48 pada. Saka babon asline kang tinulis mawa aksara Jawa, dening Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ing taun 1979, kawetokake edisi aksara Latine kang transliterasine ditindakake dening Kamajaya.

    Ing pada kapisan kaandharake menawa karya sastra iki tetembungane kawangun tetembangan, kanthi sastra campuran antarane Jawa lan Arab. Dene babon piwulange saka tanah Arab kasempalake saka kitab Sifat Ul Ulaka. Piwulang antarane Jawa lan Islam ora ana sisip sembire, sakarone jumbuh, kepara tumbu oleh tutup.

    Para mudha menawa niyat nggayuh budi kang luhur, kang sepisanan den lakoni, yaiku tansaha laku becik. Tumindak kang bener, linambaran ati sabar. Ati kang sabar nyengkakake nggayuh ati kang suci. Saka ati kang suci iki bakal mancar kasukcen marang dhiri pribadhi lumeber mring kiwa tengene. Ati kang suci bisa nulak tekane azab kang ala.

    Ati kang suci minangka kuncine. Ngendhaleni nafsu kang ala, cumaket marang samubarang kabecikan lan bebener. Ora tedhas klawan pambujuke setan. Ati kang suci minangka pawitane. Nyedhak ndedonga mring Ingkang Kuwasa. Gusti enggal ngijabahi mring sadhengah panyuwunan.
    SIFAT PITU

    Kajlentrehake yen wong kang luhur utawa asor budine iku bisa kasemak saka tandha-tandha ing badane, yaiku solah tingkah lan tetembungane. Wong kang wis putus bebudene, katandha nduweni sifat pitu, yaiku:

    1. Nadyan diala-ala dening liyan, ora nedya genti gawe ala, malah kepara males kabecikan. Atine tansah binuka mring sasami lan sugih pangapura.

    2. Atine tansah madhep manteb mring Gusti Allah. Ngregani marang wong kang gawe kabecikan marang dheweke. Andhap asor marang sapa wae. Ora nedya gawe pitunaning liyan.

    3. Seneng marang solah tingkah kang becik lan nyingkiri panggawe kang ala.

    4. Bisa ndhahar ature liyan kanthi tetimbangan kang permati.

    5. Apa kang ingucap tansah dhidhasari dening tetimbangan kang gumathok.

    6. Seneng olah pikir, tansah ndedonga, lan eling yen wong urip iku tekane ngendon bakal kapundhut.

    7. Menawa ngalami musibah dilakoni kanthi sabar minangka ujian saka Gusti Allah.

    Semono uga tandhane wong kang asor ing budi, uga dumadi saka sifat pitu, yaiku:

    1. Yen guneman cal-cul ora dipikir kanthi permati lan sak gunem-guneme tansah natoni atine liyan.

    2. Sombong, congkak, geleme srawung milih-milih wong, mung sing dianggep padha drajate wae sing disrawungi.

    3. Kurang sopan santun, kepara gonyak-ganyuk ing pasrawungan.

    4. Gampang nesu lan aten-atene keras marang sapa wae.

    5. Drengki, srei, jahil, methakil, seneng pradul, adu-adu, lan adol gunem.

    6. Sarwa sulaya yen diajak gawe becik.

    7. Yen ketaman musibah kakehan sambat, ora sabaran.


    MAKSIYAT TELU

    Sabanjure katerangake, klebu laku utama jroning nggayuh budi luhur, ing antarane yaiku sifat tinarbuka lan ora ana kesele luru ngelmu, becik ngelmu kadonyan apa dene ngelmu agami. Drajat pangkat kang dhuwur durung njamin kamukten lan kamulyan. Kabeh iku mau isih kudu linambaran kanthi madhep manteb pasrah mring Gusti Allah. Manteb anggone bekti marang Gusti, pasa saperlune, tafakur kanthi ngurangi turu, sarta ndonga kanthi khusuk.

    Saliyane iku, den simpangi anane maksiyat kang telu. Sing jeneng maksiyat iku ora mung malima (main, minum, madon, madat, maling), isih ana maksiyat sing luwih mbebayani tumrap jiwa. Maksiyat cacah telu mau yaiku potang kanthi nganakake dhuwit (lintah darat), nampa punjungan kanthi sarat (suap/pungli), lan goroh jroning bakulan (ngelongi timbangan). Maksiyat kang telu iku ngasilake dhuwit riba, kang ora pantes tumrap wong kang nggayuh bebuden luhur.

    Dhuwit riba bisa njalari dalane pepati dadi peteng. Jroning sakaratul maut, riba ngaling-alingi lakune ati kang padhang, nuwuhake rasa bingung, samubarang dadi rumit, nyawa mlayu tanpa tujuwan, tanpa gondhelan, ora ana sing paring pitulungan. Mula diati-ati, amrih dalane pepati mengko padhang jingglang. Bener lan pener lakune ruh.

    Budi luhur tumuju mring pepati kang padhang. Padhang atine, padhang dalane. Piwulang marang pepati kang padhang ora bisa digawe gampang. Sarate ngudi ngelmu lan kawruh rina klawan wengi, tarak brata ngedohke laku asor, ngendhaleni aluamah, nggusah sombong lan srakah, nyencang amarah lan supiah.

    Ana maneh kang kudu disiriki. Aja sepisan-pisan ngehaki barang kang ora sah manut hukum, yaiku warisane wong cethil lan wong kang seneng gawe pitenah. Amrih ora nemoni kacilakan lan kasangsaran selawase.

    Duwea watak sabar lan tawakal. Wong sabar lan tawakal bakale nemoni kabahagyan lan keslametan. Slamet lan bahagya iku mancarake kabecikan. Sing becik bakale nggawa manfaat, nekakake anugrah kang agung. Anugrah iku wahyu petunjuk saka Gusti Allah. Iki sing utama. Anugrah Gusti asipat asih lan rahman. Asih lan rahman mancarake eling. Eling mancarake makrifat. Makrifat ora liya mujudake asih saka Gusti Allah.

    Sabanjure, laku kang kudu linakonan dening para mudha kang nedya nggayuh luhure bebuden, nuladhaa marang tindak-tanduke Nabi Muhammad SAW. Uga aja nganti keri nyinau sifate Gusti Allah cacah 20. Iku kabeh minangka jangkepe piwulang marang bebuden luhur tumrap wong Jawa kang ngrasuk agama Islam.

    BalasHapus
  41. NAMA : ARUM SEPTIANA
    NIM : 2102408037
    ROMBEL : 02

    menak kuristam

    Pendahuluan
    Historiografi adalah gambaran pandangan suatu masa pada sejarahnya. Ia bisa dirunut melalui tradisi lisan, karya sejarah, bahkan pada taraf tertentu bisa tercermin dari karya sastra. Untuik merunut pandangan sejarah suatu masa, maka kita bisa menyelidikinya melalui karya sejarah dan sastra yang ditulis pada zaman tersebut.
    Historiografi dapat diartikan sebagai pencarian terhadap pemikiran dan intelektualitas pemegang sejarah, bisa berupa sejarawan, masyarakat, maupun penutur lisan. Historiografi mencari tentang ide, subyektifitas, dan interpretasinya. Sebagai sebuah alat untuk melihat sejarah intelektual atau mentalis seorang sejarawan, maka haruslah dilakukan sebuah studi mengenai karya-karyanya.
    Sejarawan hidup dan berinteraksi dalam lingkungan yang mengalami tarikan-tarikan sosial dan politik. Oleh karena itu sejarawan dapat dikatakan tidak bebas dari pengaruh lingkungannya, yang juga berimplikasi dengan karya-karya sejarahnya. Oleh karena itu sejarawan mewakili pandangan lingkungan dan zamannya.1
    Ada berbagai macam, kesusastraan Jawa seperti Serat, yang merupakan saduran-saduran dari bahasa Jawa Kuno, dialih bahasakan kedalam bahasa Jawa Modern. Contohnya, Serat Rama, Serat Bratayudha, dan Serat Arjuna Sastrabahu. Kesusastraan Jawa juga mengenal karya-karya yang bertemakan tasawuf Islam. Karya ini bila ditulis dalam bentuk prosa yang bercerita tentang roman jawa disebut sebagai menak, sedangkan ditulis dalam bentuk lagu disebut sebagai suluk. Yang termasuk didalamnya seperti menak Amir Hamzah, Yusup, dan ahmad hanapi.
    Dia antara karya kesususastraan Jawa yang penting adalah babad. Babad merupakan kronik-kronik yang panjangdan terperinci yang ditulis dalam sajak yang sangat panjang dan terperinci yang diketemukan dalam bahasa jawa baru dan tidak diketemukan dalam Bahasa Jawa Kuno.2 Babad banyak menceritakan tentang sejarah kerajaan-kerajaan dan kejadian-kejadian tertentu, terutama melalui penceritaan para pahlawannya. Namun Babad sering tidak konsisten dalam pemaparan urutan kronologisnya, maupun fakta-fakta yang diungkapkannya. Terkadang dalam penyalinannya pun terjadi perubahan-perubahan yang menyebabkan terdapat beberapa versi dari sebuah judul yang sama.
    Sifat produksi dan reproduksi karya sastra Jawa, baik karya sejarah maupun karya murni satra, yang tidak terlalu ketat dalam penyusunan kronologisnya terkadang membuat sejarawan merendahkan kedudukannya sebagai suatu sumber sejarah. Karya-karya yang tidak merujuk langsung pada kajadian faktual sering dianggap tidak memiliki nilai dalam rekonstruksi masa lalu.3
    Meski begitu, seperti diuraikan sebelumnya, seharusnya karya-karya tersebut dapat merefleksikan suatu jiwa zaman ketika ia diciptakan. Ini bisa kita lihat sebagai sebuah proses reaksi dari intelektual masa tersebut (pujangga) dalam menerima, mengakomodasi, atau bahkan menolak keadaan yang terjadi pada masa lalu dan masanya.
    Oleh karena itu karya-karya berbentuk serat, suluk, babad, dan hikayat sebenarnya memiliki posisinya dalam mencerminkan pandangan inteletual(masa itu) pada sejarah dan zamannya. Ia adalah bahan yang sangat baik dalam menyelidiki kondisi historiografi masa lalu.
    Menak Kuristam sebagai salah satu karya sastra Jawa pada masa Islam tentu memiliki nilai-nilai tertentu yang dicoba untuk diungkapkan oleh penulisnya. Penyalinan Serat Menak Kuristam yang dilakukan pada masa Kolonial dapat dipastikan memberi warna lain pada salinan Serat Menak Kuristam yang kini kita kenal tersebut.

    Ringkasan Menak Kuristam

    Cerita dimulai dengan berita didudukinya negara Kaos oleh Amir Ambyah, didengar pula oleh raja Jobin. Ia segera memberitahukan kepada raja Nusirwan, bahwa Bahwan, raja Kuristam sanggup membinasakan Amir Ambyah, dan mengharapkan kedatangan raja Nusirwan ke Kuristam. Atas anjuran patih Bestak, Nusirwan ke Kuristam.
    Raja Bahman segera menantang Amir Ambyah dan memberitahukan kalau raja Nusirwan telah berada di Kuristam. Amir Ambyah menerima tantangan tersebut dan mengerahkan pasukan menyerang Kuristam. Sebelum berangkat, Kobatsarehas lebih dulu dinobatkan menjadi raja.
    Pertempuran berkobar dengan hebatnya, yang berakhir dengan kemengan pasukan Amir Ambyah. Raja Bahman tunduk, demikian pula raja Jobin. Raja Nusirwan segera kembali ke Medayin, sedangkan Amir Ambyah dan pasukannya kembali ke Kaos.
    Mengetahui kegagalan raja Kuristam mengalahkan Amir Ambyah, patih Bestak segera minta bantuan Sadatkabulumar, raja Abesi, yang lengsung mengirim pasukan mengepung Mekah. Mendengar Mekah dikepung pasukan Abesi, Amir Ambyah dan Umarmaya segera meninggalkan Kaos menuju Mekah. Pertempuranpun berkobar. Pasukan Avesi kalah dan Sadatkabulumar menyatakan tunduk pada Amir Ambyah.
    Merasa dirinya tertipu dan diperalat, Sadatkabulumar menagkap raja Nusirwan, dan dipenjarakan di Negara Abesi. Padahal sesungguhnya Nusirwan tidak tahu apa-apa, semua itu karena ulah patih Bestak.
    Dari Mekah, Amir Ambyah kemudian menyerang Negara Kuparman. Nurham, raja Kuparman tewas dalam pertempuran, pasukannya menyerah dan Negara Kuparman diduduki Amir Ambyah. Sejak saat itu Amir Ambyah mendapat gelar Sultan Kuparman.
    Beberapa waktu kemudian. Kaladaran, raja Indi mengerahkan pasukannya untuk menyerang Kuparman, namun ia tewas dalam peperangan dan pasukannya tunduk pada Amir Ambyah. Sementara itu, Gulangge, raja Negara Rokam, yang mendengar keluhuran budi Amir Ambyah ingin bertemu dengan Amir Ambyah. Dalam perjalanan ke Kuparman bertemu dengan raja Kikail dari Negara Parangawu, yang bermaksud menyerang Negara Kuparman. Karena tujuan berbeda, perangpun tak bisa dielakkan.
    Amir Ambyah yang mendengar berita pertempuran tersebut segera mengirim pasukan untuk membantu raja Gulangge, yang akhirnya dapat mengalahkan raja Kikail dan memukul mundur pasukan Parangawu. Dengan selamat raja Gulangge sampai di Negara Kuparman, dan diterima dengan baik oleh Amir Ambyah.

    Menak Kuristam diantara Sastra Jawa Lainnya
    Menak Kuristam merupakan salah satu bagian dari cerita-cerita karya pujangga Jawa yang sering disebut Serat Menak. Cerita-cerita ini tidak berdasarkan kejadian nyata sebagaimana Babad, tetapi secara longgar bisa disebut merupakan modifikasi dari sejarah Islam.
    Ini berarti rangkaian karya seperti Menak Kuristam menandai karya sastra Jawa yang tidak berdasarkan mitologi Hindu-Buddha tetapi didasarkan pada Islam. Tema-tema utamanya adalah peperangan (jihad) yang kemudian diikuti oleh konversi ke Islam atau takluknya negeri lawan.
    Pesan dari kisah-kisah tersebut adalah kekuatan Islam sebagai adalah pemersatu berbagai kekuatan di dunia. Bahkan dalam teks sendiri disebut kekuatan Amir Ambyah sebagai overlord dari beraneka kekuatan dunia, dari Aceh, Yunnan, dan bahkan kekuatan ke Eropa. Teks menyebut pasukan-pasukan Inggris(Anggris), Spanyol(Sepanyol), dan Perancis(Paranji) sebagai bagian dari jutaan pasukan Amir Ambyah.
    Jika bercermin dari keadaan pada masa Serat Menak ditulis maka yang terjadi adalah “miniatur” dari cerita tersebut. Raja biasa memakai pasukan-pasukan dari berbagai pihak asing untuk membantu perangnya, namun jumlahnya sangat kecil. VOC sangat jarang (jika bukan tidak pernah) mengeluarkan pasukan berjumlah ribuan, pun garnisunnya terkadang tak sampai tiga lusin saja. Pasukan Jawa (diidentikan dengan pasukan Amir Ambyah, pemegang Islam) pada masa Sultan Agung juga tak lebih dari seratus ribu orang.
    Meski legitimasi adalah hal utama dalam karya-karya sejarah dan sastra tradisional Jawa namun cerita dalam rangkaian karya ini tidak memberi legitimasi langsung pada Raja. Serat Menak lebih merupakan suatu rangkaian cerita mengenai seorang raja dan bagaimana ia berkuasa.
    Isi Menak Kuristam didominasi oleh peperangan. Bahkan salah satu titik balik dalam Menak Kuristam adalah ketika Patih Bestak membuat rajanya berperang melawan raja Kuristam dan kemudian Sadat Kabul Umar. Tindakannya ini tidak lain diambil dalam rangka memberi kesibukan pada rajanya. Terdapat pesan mengenai bagaimana seharusnya seorang raja menjalankan kekuatannya, dari situlah legitimasi dibangun.
    Menak Kuristam memiliki kemiripan karakter dan plot dengan karya yang dibuat oleh Yasadipura lainnya. Posisi patih dalam Menak Kuristam digambarkan sebagai seorang yang curang dan mengambil keuntungan melalui posisinya yang dekat dengan raja. Karakter semacam ini bisa ditemukan dalam karya Yasadipura I lainnya yaitu dalam Babad Pacinan.
    Kandungan Menak Kuristam
    Menak Kuristam merupakan karya sastra yang berisi mengenai kisah-kisah kepahlawanan (heroisme), sesuatu yang sepatutnya dimiliki oleh Raja dan para pengikutnya. Dalam Menak Kuristam juga bisa didapati pesan mengenai kedudukan seorang bawahan yang harus setia pada rajanya. Kejayaan dalam Menak Kuristam digambarkan melalui pertempuran-pertempuran yang dimenangkan melalui kekuatan fisik dan ketrampilan berperang. Meski kadang digambarkan secara hiperbol, hampir tidak ditemukan suatu keajaiban atau kekuatan gaib khusus. Dengan kata lain Menak Kuristam mengajarkan sifat-sifat keksatriaan
    Seperti disebut sebelumnya, Menak Kuristam adalah karya yang didasarkan pada Islam. Oleh karena itu membangkitkan semangat Islam adalah sesuatu yang mutlak dalam ceritanya. Menak Kuristam menunjukkan Islam sebagai pemegang kekuatan.

    Ditulis dalam sejarah indonesia

    BalasHapus
  42. NAMA : ALFI SYAKIRINA
    NIM : 2102408060

    MAHABARATA

    Ilustrasi pada sebuah naskah bersungging mengenai perang Bharatayuddha di Kurusetra.

    Mahabharata (Sansekerta: महाभारत) adalah sebuah karya sastra kuno yang konon ditulis oleh Begawan Byasa atau Vyasa dari India. Buku ini terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab). Namun, ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi.

    Secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupu mereka sang seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari.
    Artikel ini adalah bagian dari seri
    Susastra Hindu

    Daftar isi

    * 1 Pengaruh dalam budaya
    * 2 Versi-versi Mahabharata
    * 3 Daftar kitab
    * 4 Suntingan teks
    * 5 Ringkasan cerita
    o 5.1 Latar belakang
    o 5.2 Para Raja India Kuno
    o 5.3 Prabu Santanu dan keturunannya
    o 5.4 Pandawa dan Korawa
    o 5.5 Permainan dadu
    o 5.6 Pertempuran di Kurukshetra
    o 5.7 Penerus Wangsa Kuru
    * 6 Silsilah
    o 6.1 Silsilah keturunan Maharaja Yayati
    o 6.2 Silsilah keluarga Bharata
    * 7 Catatan kaki
    * 8 Bahan bacaan
    * 9 Pranala luar

    [sunting] Pengaruh dalam budaya

    Selain berisi cerita kepahlawanan (wiracarita), Mahabharata juga mengandung nilai-nilai Hindu, mitologi dan berbagai petunjuk lainnya. Oleh sebab itu kisah Mahabharata ini dianggap suci, teristimewa oleh pemeluk agama Hindu. Kisah yang semula ditulis dalam bahasa Sansekerta ini kemudian disalin dalam berbagai bahasa, terutama mengikuti perkembangan peradaban Hindu pada masa lampau di Asia, termasuk di Asia Tenggara.

    Di Indonesia, salinan berbagai bagian dari Mahabharata, seperti Adiparwa, Wirataparwa, Bhismaparwa dan mungkin juga beberapa parwa yang lain, diketahui telah digubah dalam bentuk prosa bahasa Kawi (Jawa Kuno) semenjak akhir abad ke-10 Masehi. Yakni pada masa pemerintahan raja Dharmawangsa Teguh (991-1016 M) dari Kadiri. Karena sifatnya itu, bentuk prosa ini dikenal juga sebagai sastra parwa.

    Yang terlebih populer dalam masa-masa kemudian adalah penggubahan cerita itu dalam bentuk kakawin, yakni puisi lawas dengan metrum India berbahasa Jawa Kuno. Salah satu yang terkenal ialah kakawin Arjunawiwaha (Arjunawiwāha, perkawinan Arjuna) gubahan mpu Kanwa. Karya yang diduga ditulis antara 1028-1035 M ini (Zoetmulder, 1984) dipersembahkan untuk raja Airlangga dari kerajaan Medang Kamulan, menantu raja Dharmawangsa.

    Karya sastra lain yang juga terkenal adalah kakawin Bharatayuddha, yang digubah oleh mpu Sedah dan belakangan diselesaikan oleh mpu Panuluh (Panaluh). Kakawin ini dipersembahkan bagi Prabu Jayabhaya (1135-1157 M), ditulis pada sekitar akhir masa pemerintahan raja Daha (Kediri) tersebut. Di luar itu, mpu Panuluh juga menulis kakawin Hariwangśa di masa Jayabaya, dan diperkirakan pula menggubah Gaţotkacāśraya di masa raja Kertajaya (1194-1222 M) dari Kediri.

    Beberapa kakawin lain turunan Mahabharata yang juga penting untuk disebut, di antaranya adalah Kŗşņāyana (karya mpu Triguna) dan Bhomāntaka (pengarang tak dikenal) keduanya dari jaman kerajaan Kediri, dan Pārthayajña (mpu Tanakung) di akhir jaman Majapahit. Salinan naskah-naskah kuno yang tertulis dalam lembar-lembar daun lontar tersebut juga diketahui tersimpan di Bali.

    Di samping itu, mahakarya sastra tersebut juga berkembang dan memberikan inspirasi bagi berbagai bentuk budaya dan seni pengungkapan, terutama di Jawa dan Bali, mulai dari seni patung dan seni ukir (relief) pada candi-candi, seni tari, seni lukis hingga seni pertunjukan seperti wayang kulit dan wayang orang. Di dalam masa yang lebih belakangan, kitab Bharatayuddha telah disalin pula oleh pujangga kraton Surakarta Yasadipura ke dalam bahasa Jawa modern pada sekitar abad ke-18.

    Dalam dunia sastera popular Indonesia, cerita Mahabharata juga disajikan melalui bentuk komik yang membuat cerita ini dikenal luas di kalangan awam. Salah satu yang terkenal adalah karya dari R.A. Kosasih.

    [sunting] Versi-versi Mahabharata

    Di India ditemukan dua versi utama Mahabharata dalam bahasa Sansekerta yang agak berbeda satu sama lain. Kedua versi ini disebut dengan istilah "Versi Utara" dan "Versi Selatan". Biasanya versi utara dianggap lebih dekat dengan versi yang tertua.

    [sunting] Daftar kitab

    Mahābhārata merupakan kisah epik yang terbagi menjadi delapan belas kitab atau sering disebut Astadasaparwa. Rangkaian kitab menceritakan kronologi peristiwa dalam kisah Mahābhārata, yakni semenjak kisah para leluhur Pandawa dan Korawa (Yayati, Yadu, Puru, Kuru, Duswanta, Sakuntala, Bharata) sampai kisah diterimanya Pandawa di surga.
    Nama kitab Keterangan
    Adiparwa Kitab Adiparwa berisi berbagai cerita yang bernafaskan Hindu, seperti misalnya kisah pemutaran Mandaragiri, kisah Bagawan Dhomya yang menguji ketiga muridnya, kisah para leluhur Pandawa dan Korawa, kisah kelahiran Rsi Byasa, kisah masa kanak-kanak Pandawa dan Korawa, kisah tewasnya rakshasa Hidimba di tangan Bhimasena, dan kisah Arjuna mendapatkan Dropadi.
    Sabhaparwa Kitab Sabhaparwa berisi kisah pertemuan Pandawa dan Korawa di sebuah balairung untuk main judi, atas rencana Duryodana. Karena usaha licik Sangkuni, permainan dimenangkan selama dua kali oleh Korawa sehingga sesuai perjanjian, Pandawa harus mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun dan setelah itu melalui masa penyamaran selama 1 tahun.
    Wanaparwa Kitab Wanaparwa berisi kisah Pandawa selama masa 12 tahun pengasingan diri di hutan. Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah Arjuna yang bertapa di gunung Himalaya untuk memperoleh senjata sakti. Kisah Arjuna tersebut menjadi bahan cerita Arjunawiwaha.
    Wirataparwa Kitab Wirataparwa berisi kisah masa satu tahun penyamaran Pandawa di Kerajaan Wirata setelah mengalami pengasingan selama 12 tahun. Yudistira menyamar sebagai ahli agama, Bhima sebagai juru masak, Arjuna sebagai guru tari, Nakula sebagai penjinak kuda, Sahadewa sebagai pengembala, dan Dropadi sebagai penata rias.
    Udyogaparwa Kitab Udyogaparwa berisi kisah tentang persiapan perang keluarga Bharata (Bharatayuddha). Kresna yang bertindak sebagai juru damai gagal merundingkan perdamaian dengan Korawa. Pandawa dan Korawa mencari sekutu sebanyak-banyaknya di penjuru Bharatawarsha, dan hampir seluruh Kerajaan India Kuno terbagi menjadi dua kelompok.
    Bhismaparwa Kitab Bhismaparwa merupakan kitab awal yang menceritakan tentang pertempuran di Kurukshetra. Dalam beberapa bagiannya terselip suatu percakapan suci antara Kresna dan Arjuna menjelang perang berlangsung. Percakapan tersebut dikenal sebagai kitab Bhagavad Gītā. Dalam kitab Bhismaparwa juga diceritakan gugurnya Resi Bhisma pada hari kesepuluh karena usaha Arjuna yang dibantu oleh Srikandi.
    Dronaparwa Kitab Dronaparwa menceritakan kisah pengangkatan Bagawan Drona sebagai panglima perang Korawa. Drona berusaha menangkap Yudistira, namun gagal. Drona gugur di medan perang karena dipenggal oleh Drestadyumna ketika ia sedang tertunduk lemas mendengar kabar yang menceritakan kematian anaknya, Aswatama. Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah gugurnya Abimanyu dan Gatotkaca.
    Karnaparwa Kitab Karnaparwa menceritakan kisah pengangkatan Karna sebagai panglima perang oleh Duryodana setelah gugurnya Bhisma, Drona, dan sekutunya yang lain. Dalam kitab tersebut diceritakan gugurnya Dursasana oleh Bhima. Salya menjadi kusir kereta Karna, kemudian terjadi pertengkaran antara mereka. Akhirnya, Karna gugur di tangan Arjuna dengan senjata Pasupati pada hari ke-17.
    Salyaparwa Kitab Salyaparwa berisi kisah pengangkatan Sang Salya sebagai panglima perang Korawa pada hari ke-18. Pada hari itu juga, Salya gugur di medan perang. Setelah ditinggal sekutu dan saudaranya, Duryodana menyesali perbuatannya dan hendak menghentikan pertikaian dengan para Pandawa. Hal itu menjadi ejekan para Pandawa sehingga Duryodana terpancing untuk berkelahi dengan Bhima. Dalam perkelahian tersebut, Duryodana gugur, tapi ia sempat mengangkat Aswatama sebagai panglima.
    Sauptikaparwa Kitab Sauptikaparwa berisi kisah pembalasan dendam Aswatama kepada tentara Pandawa. Pada malam hari, ia bersama Kripa dan Kertawarma menyusup ke dalam kemah pasukan Pandawa dan membunuh banyak orang, kecuali para Pandawa. Setelah itu ia melarikan diri ke pertapaan Byasa. Keesokan harinya ia disusul oleh Pandawa dan terjadi perkelahian antara Aswatama dengan Arjuna. Byasa dan Kresna dapat menyelesaikan permasalahan itu. Akhirnya Aswatama menyesali perbuatannya dan menjadi pertapa.
    Striparwa Kitab Striparwa berisi kisah ratap tangis kaum wanita yang ditinggal oleh suami mereka di medan pertempuran. Yudistira menyelenggarakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka yang gugur dan mempersembahkan air suci kepada leluhur. Pada hari itu pula Dewi Kunti menceritakan kelahiran Karna yang menjadi rahasia pribadinya.
    Santiparwa Kitab Santiparwa berisi kisah pertikaian batin Yudistira karena telah membunuh saudara-saudaranya di medan pertempuran. Akhirnya ia diberi wejangan suci oleh Rsi Byasa dan Sri Kresna. Mereka menjelaskan rahasia dan tujuan ajaran Hindu agar Yudistira dapat melaksanakan kewajibannya sebagai Raja.
    Anusasanaparwa Kitab Anusasanaparwa berisi kisah penyerahan diri Yudistira kepada Resi Bhisma untuk menerima ajarannya. Bhisma mengajarkan tentang ajaran Dharma, Artha, aturan tentang berbagai upacara, kewajiban seorang Raja, dan sebagainya. Akhirnya, Bhisma meninggalkan dunia dengan tenang.
    Aswamedhikaparwa Kitab Aswamedhikaparwa berisi kisah pelaksanaan upacara Aswamedha oleh Raja Yudistira. Kitab tersebut juga menceritakan kisah pertempuran Arjuna dengan para Raja di dunia, kisah kelahiran Parikesit yang semula tewas dalam kandungan karena senjata sakti Aswatama, namun dihidupkan kembali oleh Sri Kresna.
    Asramawasikaparwa Kitab Asramawasikaparwa berisi kisah kepergian Drestarastra, Gandari, Kunti, Widura, dan Sanjaya ke tengah hutan, untuk meninggalkan dunia ramai. Mereka menyerahkan tahta sepenuhnya kepada Yudistira. Akhirnya Resi Narada datang membawa kabar bahwa mereka telah pergi ke surga karena dibakar oleh api sucinya sendiri.
    Mosalaparwa Kitab Mosalaparwa menceritakan kemusnahan bangsa Wresni. Sri Kresna meninggalkan kerajaannya lalu pergi ke tengah hutan. Arjuna mengunjungi Dwarawati dan mendapati bahwa kota tersebut telah kosong. Atas nasihat Rsi Byasa, Pandawa dan Dropadi menempuh hidup “sanyasin” atau mengasingkan diri dan meninggalkan dunia fana.
    Mahaprastanikaparwa Kitab Mahaprastanikaparwa menceritakan kisah perjalanan Pandawa dan Dropadi ke puncak gunung Himalaya, sementara tahta kerajaan diserahkan kepada Parikesit, cucu Arjuna. Dalam pengembaraannya, Dropadi dan para Pandawa (kecuali Yudistira), meninggal dalam perjalanan.
    Swargarohanaparwa Kitab Swargarohanaparwa menceritakan kisah Yudistira yang mencapai puncak gunung Himalaya dan dijemput untuk mencapai surga oleh Dewa Indra. Dalam perjalanannya, ia ditemani oleh seekor anjing yang sangat setia. Ia menolak masuk surga jika disuruh meninggalkan anjingnya sendirian. Si anjing menampakkan wujudnya yang sebenanrnya, yaitu Dewa Dharma.

    [sunting] Suntingan teks

    Antara tahun 1919 dan 1966, para pakar di Bhandarkar Oriental Research Institute, Pune, membandingkan banyak naskah dari wiracarita ini yang asalnya dari India dan luar India untuk menerbitkan suntingan teks kritis dari Mahabharata. Suntingan teks ini terdiri dari 13.000 halaman yang dibagi menjadi 19 jilid. Lalu suntingan ini diikuti dengan Harivaṃsa dalam 2 jilid dan 6 jilid indeks. Suntingan teks inilah yang biasa dirujuk untuk telaah mengenai Mahabharata.[1]

    [sunting] Ringkasan cerita
    Peta "Bharatawarsha" (India Kuno) atau wilayah kekuasaan Maharaja Bharata

    [sunting] Latar belakang

    Mahabharata merupakan kisah kilas balik yang dituturkan oleh Resi Wesampayana untuk Maharaja Janamejaya yang gagal mengadakan upacara korban ular. Sesuai dengan permohonan Janamejaya, kisah tersebut merupakan kisah raja-raja besar yang berada di garis keturunan Maharaja Yayati, Bharata, dan Kuru, yang tak lain merupakan kakek moyang Maharaja Janamejaya. Kemudian Kuru menurunkan raja-raja Hastinapura yang menjadi tokoh utama Mahabharata. Mereka adalah Santanu, Chitrāngada, Wicitrawirya, Dretarastra, Pandu, Yudistira, Parikesit dan Janamejaya.

    [sunting] Para Raja India Kuno

    Mahabharata banyak memunculkan nama raja-raja besar pada zaman India Kuno seperti Bharata, Kuru, Parikesit (Parikshita), dan Janamejaya. Mahabharata merupakan kisah besar keturunan Bharata, dan Bharata adalah salah satu raja yang menurunkan tokoh-tokoh utama dalam Mahabharata.

    Kisah Sang Bharata diawali dengan pertemuan Raja Duswanta dengan Sakuntala. Raja Duswanta adalah seorang raja besar dari Chandrawangsa keturunan Yayati, menikahi Sakuntala dari pertapaan Bagawan Kanwa, kemudian menurunkan Sang Bharata, raja legendaris. Sang Bharata lalu menaklukkan daratan India Kuno. Setelah ditaklukkan, wilayah kekuasaanya disebut Bharatawarsha yang berarti wilayah kekuasaan Maharaja Bharata (konon meliputi Asia Selatan)[2]. Sang Bharata menurunkan Sang Hasti, yang kemudian mendirikan sebuah pusat pemerintahan bernama Hastinapura. Sang Hasti menurunkan Para Raja Hastinapura. Dari keluarga tersebut, lahirlah Sang Kuru, yang menguasai dan menyucikan sebuah daerah luas yang disebut Kurukshetra (terletak di negara bagian Haryana, India Utara). Sang Kuru menurunkan Dinasti Kuru atau Wangsa Kaurawa. Dalam Dinasti tersebut, lahirlah Pratipa, yang menjadi ayah Prabu Santanu, leluhur Pandawa dan Korawa.

    Kerabat Wangsa Kaurawa (Dinasti Kuru) adalah Wangsa Yadawa, karena kedua Wangsa tersebut berasal dari leluhur yang sama, yakni Maharaja Yayati, seorang kesatria dari Wangsa Chandra atau Dinasti Soma, keturunan Sang Pururawa. Dalam silsilah Wangsa Yadawa, lahirlah Prabu Basudewa, Raja di Kerajaan Surasena, yang kemudian berputera Sang Kresna, yang mendirikan Kerajaan Dwaraka. Sang Kresna dari Wangsa Yadawa bersaudara sepupu dengan Pandawa dan Korawa dari Wangsa Kaurawa.

    [sunting] Prabu Santanu dan keturunannya
    Prabu Santanu dan Dewi Satyawati, leluhur para Pandawa dan Korawa

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Santanu

    Prabu Santanu adalah seorang raja mahsyur dari garis keturunan Sang Kuru, berasal dari Hastinapura. Ia menikah dengan Dewi Gangga yang dikutuk agar turun ke dunia, namun Dewi Gangga meninggalkannya karena Sang Prabu melanggar janji pernikahan. Hubungan Sang Prabu dengan Dewi Gangga sempat membuahkan anak yang diberi nama Dewabrata atau Bisma. Setelah ditinggal Dewi Gangga, akhirnya Prabu Santanu menjadi duda. Beberapa tahun kemudian, Prabu Santanu melanjutkan kehidupan berumah tangga dengan menikahi Dewi Satyawati, puteri nelayan. Dari hubungannya, Sang Prabu berputera Sang Citrānggada dan Wicitrawirya. Citrānggada wafat di usia muda dalam suatu pertempuran, kemudian ia digantikan oleh adiknya yaitu Wicitrawirya. Wicitrawirya juga wafat di usia muda dan belum sempat memiliki keturunan. Atas bantuan Resi Byasa, kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika, melahirkan masing-masing seorang putera, nama mereka Pandu (dari Ambalika) dan Dretarastra (dari Ambika).

    Dretarastra terlahir buta, maka tahta Hastinapura diserahkan kepada Pandu, adiknya. Pandu menikahi Kunti dan memiliki tiga orang putera bernama Yudistira, Bima, dan Arjuna. Kemudian Pandu menikah untuk yang kedua kalinya dengan Madri, dan memiliki putera kembar bernama Nakula dan Sadewa. Kelima putera Pandu tersebut dikenal sebagai Pandawa. Dretarastra yang buta menikahi Gandari, dan memiliki seratus orang putera dan seorang puteri yang dikenal dengan istilah Korawa. Pandu dan Dretarastra memiliki saudara bungsu bernama Widura. Widura memiliki seorang anak bernama Sanjaya, yang memiliki mata batin agar mampu melihat masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

    Keluarga Dretarastra, Pandu, dan Widura membangun jalan cerita Mahabharata.

    [sunting] Pandawa dan Korawa

    Pandawa dan Korawa merupakan dua kelompok dengan sifat yang berbeda namun berasal dari leluhur yang sama, yakni Kuru dan Bharata. Korawa (khususnya Duryodana) bersifat licik dan selalu iri hati dengan kelebihan Pandawa, sedangkan Pandawa bersifat tenang dan selalu bersabar ketika ditindas oleh sepupu mereka. Ayah para Korawa, yaitu Dretarastra, sangat menyayangi putera-puteranya. Hal itu membuat ia sering dihasut oleh iparnya yaitu Sangkuni, beserta putera kesayangannya yaitu Duryodana, agar mau mengizinkannya melakukan rencana jahat menyingkirkan para Pandawa.

    Pada suatu ketika, Duryodana mengundang Kunti dan para Pandawa untuk liburan. Di sana mereka menginap di sebuah rumah yang sudah disediakan oleh Duryodana. Pada malam hari, rumah itu dibakar. Namun para Pandawa diselamatkan oleh Bima sehingga mereka tidak terbakar hidup-hidup dalam rumah tersebut. Usai menyelamatkan diri, Pandawa dan Kunti masuk hutan. Di hutan tersebut Bima bertemu dengan rakshasa Hidimba dan membunuhnya, lalu menikahi adiknya, yaitu rakshasi Hidimbi. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Gatotkaca.

    Setelah melewati hutan rimba, Pandawa melewati Kerajaan Panchala. Di sana tersiar kabar bahwa Raja Drupada menyelenggarakan sayembara memperebutkan Dewi Dropadi. Karna mengikuti sayembara tersebut, tetapi ditolak oleh Dropadi. Pandawa pun turut serta menghadiri sayembara itu, namun mereka berpakaian seperti kaum brahmana. Arjuna mewakili para Pandawa untuk memenangkan sayembara dan ia berhasil melakukannya. Setelah itu perkelahian terjadi karena para hadirin menggerutu sebab kaum brahmana tidak selayaknya mengikuti sayembara. Pandawa berkelahi kemudian meloloskan diri. sesampainya di rumah, mereka berkata kepada ibunya bahwa mereka datang membawa hasil meminta-minta. Ibu mereka pun menyuruh agar hasil tersebut dibagi rata untuk seluruh saudaranya. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa anak-anaknya tidak hanya membawa hasil meminta-minta, namun juga seorang wanita. Tak pelak lagi, Dropadi menikahi kelima Pandawa.

    [sunting] Permainan dadu
    Dursasana yang berwatak kasar, menarik kain yang dipakai Dropadi, namun kain tersebut terulur-ulur terus dan tak habis-habis karena mendapat kekuatan gaib dari Sri Kresna

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sabhaparwa

    Agar tidak terjadi pertempuran sengit, Kerajaan Kuru dibagi dua untuk dibagi kepada Pandawa dan Korawa. Korawa memerintah Kerajaan Kuru induk (pusat) dengan ibukota Hastinapura, sementara Pandawa memerintah Kerajaan Kurujanggala dengan ibukota Indraprastha. Baik Hastinapura maupun Indraprastha memiliki istana megah, dan di sanalah Duryodana tercebur ke dalam kolam yang ia kira sebagai lantai, sehingga dirinya menjadi bahan ejekan bagi Dropadi. Hal tersebut membuatnya bertambah marah kepada para Pandawa.

    Untuk merebut kekayaan dan kerajaan Yudistira secara perlahan namun pasti, Duryodana mengundang Yudistira untuk main dadu dengan taruhan harta dan kerajaan. Yudistira yang gemar main dadu tidka menolak undangan tersebut dan bersedia datang ke Hastinapura dengan harapan dapat merebut harta dan istana milik Duryodana. Pada saat permainan dadu, Duryodana diwakili oleh Sangkuni yang memiliki kesaktian untuk berbuat curang. Satu persatu kekayaan Yudistira jatuh ke tangan Duryodana, termasuk saudara dan istrinya sendiri. Dalam peristiwa tersebut, pakaian Dropadi berusaha ditarik oleh Dursasana karena sudah menjadi harta Duryodana sejak Yudistira kalah main dadu, namun usaha tersebut tidak berhasil berkat pertolongan gaib dari Sri Kresna. Karena istrinya dihina, Bima bersumpah akan membunuh Dursasana dan meminum darahnya kelak. Setelah mengucapkan sumpah tersebut, Dretarastra merasa bahwa malapetaka akan menimpa keturunannya, maka ia mengembalikan segala harta Yudistira yang dijadikan taruhan.

    Duryodana yang merasa kecewa karena Dretarastra telah mengembalikan semua harta yang sebenarnya akan menjadi miliknya, menyelenggarakan permainan dadu untuk yang kedua kalinya. Kali ini, siapa yang kalah harus menyerahkan kerajaan dan mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun, setelah itu hidup dalam masa penyamaran selama setahun, dan setelah itu berhak kembali lagi ke kerajaannya. Untuk yang kedua kalinya, Yudistira mengikuti permainan tersebut dan sekali lagi ia kalah. Karena kekalahan tersebut, Pandawa terpaksa meninggalkan kerajaan mereka selama 12 tahun dan hidup dalam masa penyamaran selama setahun.

    Setelah masa pengasingan habis dan sesuai dengan perjanjian yang sah, Pandawa berhak untuk mengambil alih kembali kerajaan yang dipimpin Duryodana. Namun Duryodana bersifat jahat. Ia tidak mau menyerahkan kerajaan kepada Pandawa, walau seluas ujung jarum pun. Hal itu membuat kesabaran Pandawa habis. Misi damai dilakukan oleh Sri Kresna, namun berkali-kali gagal. Akhirnya, pertempuran tidak dapat dielakkan lagi.

    [sunting] Pertempuran di Kurukshetra

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perang di Kurukshetra

    Pandawa berusaha mencari sekutu dan ia mendapat bantuan pasukan dari Kerajaan Kekaya, Kerajaan Matsya, Kerajaan Pandya, Kerajaan Chola, Kerajaan Kerala, Kerajaan Magadha, Wangsa Yadawa, Kerajaan Dwaraka, dan masih banyak lagi. Selain itu para ksatria besar di Bharatawarsha seperti misalnya Drupada, Satyaki, Drestadyumna, Srikandi, Wirata, dan lain-lain ikut memihak Pandawa. Sementara itu Duryodana meminta Bisma untuk memimpin pasukan Korawa sekaligus mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa. Korawa dibantu oleh Resi Drona dan putranya Aswatama, kakak ipar para Korawa yaitu Jayadrata, serta guru Krepa, Kretawarma, Salya, Sudaksina, Burisrawas, Bahlika, Sangkuni, Karna, dan masih banyak lagi.

    Pertempuran berlangsung selama 18 hari penuh. Dalam pertempuran itu, banyak ksatria yang gugur, seperti misalnya Abimanyu, Drona, Karna, Bisma, Gatotkaca, Irawan, Raja Wirata dan puteranya, Bhagadatta, Susharma, Sangkuni, dan masih banyak lagi. Selama 18 hari tersebut dipenuhi oleh pertumpahan darah dan pembantaian yang mengenaskan. Pada akhir hari kedelapan belas, hanya sepuluh ksatria yang bertahan hidup dari pertempuran, mereka adalah: Lima Pandawa, Yuyutsu, Satyaki, Aswatama, Krepa dan Kretawarma.

    [sunting] Penerus Wangsa Kuru

    Setelah perang berakhir, Yudistira dinobatkan sebagai Raja Hastinapura. Setelah memerintah selama beberapa lama, ia menyerahkan tahta kepada cucu Arjuna, yaitu Parikesit. Kemudian, Yudistira bersama Pandawa dan Dropadi mendaki gunung Himalaya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka. Di sana mereka meninggal dan mencapai surga. Parikesit memerintah Kerajaan Kuru dengan adil dan bijaksana. Ia menikahi Madrawati dan memiliki putera bernama Janamejaya. Janamejaya menikahi Wapushtama (Bhamustiman) dan memiliki putera bernama Satanika. Satanika berputera Aswamedhadatta. Aswamedhadatta dan keturunannya kemudian memimpin Kerajaan Wangsa Kuru di Hastinapura.

    BalasHapus
  43. NAMA: Susi Kristantri
    NIM : 2102408118

    1. Kakawin Parthayajna
    Kakawin Parthayajna (anonim), berisi cerita perjalanan Arjuna sebelum bertapa di Indrakila. Ringkasan isi ceritanya sebagai berikut:
    Pandhawa beredih hati karena kekalahan Yudhisthira waktu bermain dadu dan penghinaan Dropadi oleh Dusasana. Mereka harus hidup di hutan selama dua-belas tahun. Bhima ingin perang melawan Korawa dan mati di medan perang, tetapi Yudhisthira menahannya. Widura memberi nasihat kepadaYudhisthira dalam mengatasi penderitaan. Domya menasihati para Pandhawa sejak mereka akan pergi ke hutan. Atas permintaan Yudhisthira, Arjuna disuruh bertapa di Indrakila. Arjuna menyanggupi permintaan kakanya, kemudian ia minta diri kepada Ibunda Kunti, kakak dan adik-adiknya serta Dropadi, lalu masuk ke hutan. Perjalanan Arjuna tiba di pertapaan Wanawati yang didirikan oleh Mahayani. Di tempat itu Arjuna ditemui oleh petapi Mahayani dan di wejang tentang hidup dan kehidupan. Sewaktu bermalam seorang petapi datang dan menyatakan cinta kepada Arjuna, tetapi Arjuan menolaknya.
    Arjuna menghadap dewa Kama dan Ratih yang berada di tepi sebuah danau, kemudian menghormatnya. Dewa Kama banyak memberi nasihat kepada Arjuna dalam hal mencari kebahagiaan. Kemudian Kama memberi petunjuk arah Indrakila dan tempat pertapaan Dwaipayana. Kama memberi tahu, bahwa raksasa Nalamala ingin mengadu kesaktian dengan Arjuna. Nalamala adalah anak Durga yang lahir dari ujung lidah sebelum beranak Ganesya. Bila kalah Arjuna supaya bersamadi memuja dewa Siwa. Tak berapa lama kemudian Kama lenyap, Arjuna melanjutkan perjalanan.
    Arjuna dicegat oleh banyak raksasa dan Nalamala. Maka terjadilah perkelahian. Nalamala menampakkan diri dalam wujud Kala, Arjuna bersemadi memuja dewa Siwa. Memancarlah sinar pada dahi Arjuna, Nalamala lari dan berkata, kelak akan menjelma lagi, untuk membunuuh para Pandawa. Arjuna meneruskan perjalanan ke Indrakila. Sampailah ia di Inggitamartapada tempat tinggal Dwaipayana. Arjuna bercerita perilaku para Pandawa dan sikap para Korawa. Kakek Arjuna itu menerangkan, bahwa Arjuna diutus untuk memberantas kejahatan itu. Setelah menerima banyak nasihat dari kakek itu, Arjuna pergi ke Indrakila. Ia bertapa dan memeperoleh anugerah dari dewa Siwa yang menampakan diri sebagai orang Kirata. (Sumber Cerita:Naskah Kirtya No. 665)
    2. Kakawin Arjunawiwaha
    Kakawin Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa (Naskah Kirtya Nomor 1092) ditulis pada jaman Kediri. Isi ringkas cerita itu sebagai berikut:
    Niwatakawaca raja Himataka ingin menghancurkan kerajaan Indra, Indra ingin minta bantuan kepada Arjuna yang sedang bertapa di Indrakila. Tujuh bidadari diutus untuk menguji keteguhan tapa Arjuna. Suprabha dan Tilottama memimpin tugas para bidadari itu. Tujuh bidadari menyusuri Indrakila, kemudian tiba di gua tempat Arjuna bertapa. Para bidadari berhias cantik, menggoda dan mencoba menggugurkan tapa Arjuna..usaha meraka tidak berhasil, para bidadari kembali ke kerajaan Indra, lalu melapor hasil tugas mereka kepada Indra.

    Tujuh bidadari yang dipimpin oleh Dewi Suprabha (paling depan)
    dan Dewi Tilottama (atas paling kanan) menggoda tapa Arjuna
    (karya Herjaka HS 2005)
    Indra menyamar dalam wujud orang tua, datang di pertapaan Arjuna. Ia ingin mengethui tujuan tapa Arjuna. Lewat pembicaraan mereka, Indra memperoleh jawaban, bahwa tapa Arjuna bertujuan untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang ksatria dan ingin membantu Yudhisthira sewaktu merebut kerajaan dari kekuasaan Duryodhana. Indra sangat senang mendengar penuturan Arjuna, lalu memberi tahu, bahwa dewa Siwa akan memberi anugerah atas tapa Arjuna.
    Niwatakawaca menyuruh Muka untuk datang di Indrakila, dan membunuh Arjuna. Muka dalam wujud babi hutan mengganggu tapa Arjuna. Arjuna melepas tapanya, lalu berusaha membunuh babi hutan itu. babi hutan berhasil dibunuh dengan panah. Tancapan panah di tubuh babi hutan bersama dengan tancapan anak panah seorang pemburu. Arjuna berselisih dengan pemburu orang Kirata itu. terjadilah perkelahian seru. Arjuna hampir terkalahkan, lalu memegang erat kaki pemburu. Pemburu menampakan diri dalam wujud dewa Siwa. Arjuna menghormat dan memujanya. Dewa Siwa menganugerahkan panah Pusupati kepada Arjuna, kemudian lenyap dari hadapan Arjuna.
    Dua bidadari utusan Indra datang menemui Arjuna, minta agar Arjuna bersedia menolong para dewa dengan membunuh Niwatakawaca. Kemudian Arjuna bersama dua bidadari datang di kerajaan Indra.
    Arjuna dan Supraba ditugaskan untuk mengetahui rahasia kesaktian Niwatakawaca. Mereka berdua pergi ke Himataka. Supraba disambut oleh bidadari yang lebih dahulu diserahkan kepada Niwatakawaca. Arjuna mengikutinya, tetapi raksasa tidak dapat melihat karena kesaktian Arjuna. Tipu muslihat Supraba berhasil, ia mengetahui rahasia kesaktian Niwatakawaca. Yang berada di ujung lidah. Setelah mengerti rahasia kesaktian Niwaatakawaca, Arjuna membuat huru-hara, dengan menghancurkan pintu gerbang istana. Suprabha terlepas dari kekuasaan Niwatakawaca, lalu meninggalkan Himataka. Niwatakawaca merasa kena tipu, lalu mempersiapkan pasukan untuk menyerang kerajaan Indra. Para dewa juga bersiap-siap melawan serangan prajurit Niwatakawaca. Maka terjadilah perang besar-besaran. Arjuna menyusup ditengah-tengah barisan, mencari kesempatan baik untuk membunuh Niwatakawaca. Akhirnya anak panah Arjuna berhasil menembus ujung lidah Niwatakawaca. Niwatakawaca mati di medang pertempuran. Perang pun selesai.
    Arjuna memperoleh penghargaan dari para dewa. Ia dinobatkan menjadi raja selama tujuh hari surga, (tujuh bulan dunia) dan memperisteri tujuh bidadari. Mula-mula Arjuna kawin dengan Supraba, kemudian dengan Tilottama, dan selanjutnya lima bidadari lain yang pernah menggoda tapanya. Bidadari Menaka yang mengatur perkawinan mereka. Setelah genap tujuh bulan, Arjuan minta diri kepada dewa Indra untuk kembali ke dunia, menemui saudara-saudaranya.

    BalasHapus
  44. Nama: Isri Nur Solikhah
    Nim : 2102408117
    Rombel : 04

    Kakawin Kuñjarakarna

    Kakawin Kuñjarakarna Dharmakathana adalah gubahan dalam bentuk syair (kakawin) dari karya sastra prosa; Kuñjarakarna.
    Judul dari kakawin ini adalah Kuñjarakarna Dharmakathana adalah sebuah frasa Sansekerta yang memiliki banyak makna. Jika judul ini dibaca sebagai kata majemuk Sansekerta Kuñjarakarnadharmakathana, maka bisa diartikan sebagai "Cerita mengenai Dharma (hukum) dan hubungannya dengan Kuñjarakarna". Namun bisa pula frasa Dharmakathana ini dibaca secara lepas sebagai konstruksi bahuvrîhi sehingga artinya adalah: "(Sang Buddha) di mana katanya adalah Dharma". Biar bagaimanapun artinya adalah jelas bahwa kakawin ini mengenai dharma
    Penulis kakawin ini menyebut dirinya sebagai "Mpu Dusun". Hal ini mengartikan bahwa kakawin ini berasal dari kalangan pedesaan.Selain itu diperkirakan bahwa kakawin ini ditulis pada abad ke-15 Masehi.
    Kakawin Kuñjarakarna menceritakan seorang yaksa, semacam raksasa yang bernama Kuñjarakarna. Cerita ini berdasarkan agama Buddha Mahayana.
    Kakawin dimulai dengan manggala yang diikuti dengan sebuah deskripsi tentang gunung Mahameru di mana Kuñjarakarna sedang bertapa supaya pada kelahiran berikutnya ia bisa berreinkarnasi sebagai manusia berparas baik. Maka datanglah ia menghadap Wairocana.
    Maka ia diperbolehkan menjenguk neraka, tempat batara Yama. Di sana ia mendapat kabar bahwa temannya Purnawijaya akan meninggal dalam waktu beberapa hari lagi dan disiksa di neraka.
    Kunjarakarna menghadap Wairocana untuk meminta dispensasi. Akhirnya ia diperbolehkan memberi tahu Purnawijaya. Purnawijaya terkejut ketika diajak melihat neraka. Lalu ia kembali ke bumi dan berpamitan dengan istrinya, sang Kusumagandawati.
    Akhirnya ia mati tetapi hanya disiksa selama 10 hari dan bukannya seratus tahun. Lalu ia diperbolehkan kembali hidup. Cerita berakhir dengan bertapanya Kunjarakarna dan Purnawijaya di lereng gunung Mahameru.

    BalasHapus
  45. Nama : Novita Mustikaningrum
    NIM : 2102408103
    Rombel : 04

    Negarakertagama merupakan kakawin yang menceritakan kisah Raja Majapahit, Hayam Wuruk yang melakukan pelesiran ke daerah Blambangan dan dalam perjalanan pulang beliau singgah di Singosari. Dalam naskah ini juga dikisahkan peranan patih Gajah Mada sebagai perdana Mentri yang mumpuni. Masih dalam naskah Negarakertagama ini dikisahkan bahwa Prabu Hayam Wuruk sebagai penguasa yang sangat adil dalam memerintah dan taat menjalankan aturan agama. Sebagai contoh Raja Hayam Wuruk menghukum mati Demung Sora yang merupakan seorang menterinya, karena dianggap bersalah setelah membunuh Mahesa Anabrang yang ternyata tidak berdosa (lempir ke 73). Dengan demikian Demung Sora telah telah melanggar pasal Astadusta dari kitab Undang undang Kitab Kutara Manawadarmasastra itu. Naskah Negarakertagama yang merupakan karya pujangga besar empu Prapanca ini kini tersimpan di Perpustakaan Nasional RI dan menjadi salah satu koleksi kebanggaannya.
    Berikut adalah terjemahan lengkap kitab Negarakertagama:

    “Om awignam astu namas sidam”
    Sembah puji dari hamba yang hina ini ke bawah telapak kaki sang pelindung jagat. Raja yang senantiasa tenang tenggelam dalam samadi, raja segala raja, pelindung orang miskin, mengatur segala isi negara. Sang dewa-raja, lebih diagungkan dari yang segala manusia, dewa yang tampak di atas tanah. Merata, serta mengatasi segala rakyatnya, nirguna bagi kaum Wisnawa, Iswara bagi Yogi, Purusa bagi Kapila, hartawan bagi Jambala, Wagindra dalam segala ilmu, dewa Asmara di dalam cinta berahi. Dewa Yama di dalam menghilangkan penghalang dan menjamin damai dunia.
    Demikianlah pujian pujangga sebelum menggubah sejarah raja, kepada Sri Nata Rajasa Nagara, raja Wilwatikta yang sedang memegang tampuk tahta. Bagai titisan Dewa-Batara beliau menyapu duka rakyat semua. Tunduk setia segenap bumi Jawa bahkan seluruh nusantara. Pada tahun 1256 Saka, beliau lahir untuk jadi pemimpin dunia. Selama dalam kandungan di Kahuripan telah tampak tanda keluhuran. Bumi gonjang-ganjing, asap mengepul-ngepul, hujan abu, guruh halilintar menyambar-nyambar. Gunung Kelud gemuruh membunuh durjana, penjahat musnah dari negara. Itulah tanda bahwa Sanghyang Siwa sedang menjelma bagai raja besar. Terbukti, selama bertakhta seluruh tanah Jawa tunduk menadah perintahnya. Wipra, satria, waisya, sudra, keempat kasta sempurna dalam pengabdian. Durjana berhenti berbuat jahat takut akan keberanian Sri Nata. Sang Sri Padukapatni yang ternama adalah nenek Sri Paduka. Seperti titisan Parama Bagawati memayungi jagat raya. Selaku wikuni tua tekun berlatih yoga menyembah Buda. Tahun 1272 kembali beliau ke Budaloka. Ketika Sri Padukapatni pulang ke Jinapada dunia berkabung. Kembali gembira bersembah bakti semenjak Sri Paduka mendaki takhta. Girang ibunda Tri Buwana Wijaya Tungga Dewi mengemban takhta bagai rani di Jiwana resmi mewakili Sri Narendraputra.
    Beliau bersembah bakti kepada ibunda Sri Padukapatni. Setia mengikuti ajaran Buda, menyekar yang telah mangkat. Ayahanda Sri Paduka Prabu ialah Prabu Kerta Wardana. Keduanya teguh beriman Buda demi perdamaian praja. Paduka Prabu Kerta Wardana bersemayam di Singasari. Bagai Ratnasambawa menambah kesejahteraan bersama. Teguh tawakal memajukan kemakmuran rakyat dan negara. Mahir mengemudikan perdata bijak dalam segala kerja. Putri Rajadewi Maharajasa, ternama rupawan. Bertakhta di Daha, cantik tak bertara, bersandar enam guna. Adalah bibi Sri Paduka, adik maharani di Jiwana. Rani Daha dan rani Jiwana bagai bidadari kembar.
    Laki sang rani Sri Wijayarajasa dari negeri Wengker. Rupawan bagai titisan Upendra, mashur bagai sarjana. Setara raja Singasari, sama teguh di dalam agama. Sangat mashurlah nama beliau di seluruh tanah Jawa. Adinda Sri Paduka Prabu di Wilwatikta : Putri jelita bersemayam di Lasem. Putri jelita Daha cantik ternama. Indudewi putri Wijayarajasa. Dan lagi putri bungsu Kerta Wardana. Bertakhta di Pajang, cantik tidak bertara. Putri Sri Baginda Jiwana yang mashur. Terkenal sebagai adinda Sri Paduka. Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana. Laki tangkas rani Lasem bagai raja daerah Matahun. Bergelar Rajasa Wardana sangat bagus lagi putus dalam daya raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala. Sri Singa Wardana, rupawan, bagus, muda, sopan dan perwira bergelar raja Paguhan, beliaulah suami rani Pajang. Mulia pernikahannya laksana Sanatkumara dan dewi Ida. Bakti kepada raja, cinta sesama, membuat puas rakyat. Bre Lasem menurunkan putri jelita Nagarawardani Bersemayam sebagai permaisuri Pangeran Wirabumi. Rani Pajang menurunkan Bre Mataram Sri Wikrama Wardana bagaikan titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra.
    Putri bungsu rani Pajang memerintah daerah Pawanuhan. Berjuluk Surawardani masih muda indah laksana lukisan. Para raja pulau Jawa masing-masing mempunyai negara. Dan Wilwatikta tempat mereka bersama menghamba Srinata. Melambung kidung merdu pujian Sang Prabu, beliau membunuh musuh-musuh. Bak matahari menghembus kabut, menghimpun negara di dalam kuasa. Girang janma utama bagai bunga kalpika, musnah durjana bagai kumuda. Dari semua desa di wilayah negara pajak mengalir bagai air. Raja menghapus duka si murba sebagai Satamanyu menghujani bumi. Menghukum penjahat bagai dewa Yama, menimbun harta bagaikan Waruna. Para telik masuk menembus segala tempat laksana Hyang Batara Bayu. Menjaga pura sebagai dewi Pretiwi, rupanya bagus seperti bulan. Seolah-olah Sang Hyang Kama menjelma, tertarik oleh keindahan pura. Semua para putri dan isteri sibiran dahi Sri Ratih. Namun sang permaisuri, keturunan Wijayarajasa, tetap paling cantik paling jelita bagaikan Susumna, memang pantas jadi imbangan Sri Paduka.
    Berputralah beliau putri mahkota Kusuma Wardani, sangat cantik rupawan jelita mata, lengkung lampai, bersemayam di Kabalan. Sang menantu Sri Wikrama Wardana memegang hakim perdata seluruh negara. Sebagai dewa-dewi mereka bertemu tangan, menggirangkan pandang. Tersebut keajaiban kota : tembok batu merah, tebal tinggi, mengitari pura. Pintu barat bernama Pura Waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit. Pohon brahmastana berkaki bodi berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam. Di situlah tempat tunggu para tanda terus menerus meronda jaga paseban. Di sebelah utara bertegak gapura permai dengan pintu besi penuh berukir. Di sebelah timur : panggung luhur, lantainya berlapis batu putih-putih mengkilat. Di bagian utara, di selatan pekan rumah berjejal jauh memanjang sangat indah.
    Di selatan jalan perempat : balai prajurit tempat pertemuan tiap Caitra. Balai agung Manguntur dengan balai Witana di tengah, menghadap padang watangan. Yang meluas ke empat arah, bagian utara paseban pujangga dan Mahamantri Agung. Bagian timur paseban pendeta Siwa-Buda yang bertugas membahas upacara. Pada masa grehana bulan Palguna demi keselamatan seluruh dunia. Di sebelah timur pahoman berkelompok tiga-tiga mengitari kuil Siwa. Di selatan tempat tinggal wipra utama tinggi bertingkat menghadap panggung korban. Bertegak di halaman sebelah barat, di utara tempat Buda bersusun tiga. Puncaknya penuh berukir, berhamburan bunga waktu raja turun berkorban. Di dalam, sebelah selatan Manguntur tersekat dengan pintu, itulah paseban. Rumah bagus berjajar mengapit jalan ke barat, disela tanjung berbunga lebat. Agak jauh di sebelah barat daya: panggung tempat berkeliaran para perwira. Tepat di tengah-tengah halaman bertegak mandapa penuh burung ramai berkicau. Di dalam di selatan ada lagi paseban memanjang ke pintu keluar pura yang kedua.
    Dibuat bertingkat tangga, tersekat-sekat, masing-masing berpintu sendiri. Semua balai bertulang kuat bertiang kokoh, papan rusuknya tiada tercela. Para prajurit silih berganti, bergilir menjaga pintu, sambil bertukar tutur. Inilah para penghadap : pengalasan Ngaran, jumlahnya tak terbilang, Nyu Gading Jenggala-Kediri, Panglarang, Rajadewi, tanpa upama. Waisangka kapanewon Sinelir, para perwira Jayengprang, Jayagung dan utusan Pareyok Kayu Apu, orang Gajahan dan banyak lagi. Begini keindahan lapangan watangan luas bagaikan tak berbatas. Mahamantri Agung, bangsawan, pembantu raja di Jawa, di deret paling muka. Bayangkari tingkat tinggi berjejal menyusul di deret yang kedua. Di sebelah utara pintu istana di selatan satria dan pujangga. Di bagian barat : beberapa balai memanjang sampai mercudesa.
    Penuh sesak pegawai dan pembantu serta para perwira penjaga. Di bagian selatan agak jauh: beberapa ruang, mandapa dan balai. Tempat tinggal abdi Sri Baginda Paguhan bertugas menghadap. Masuk pintu kedua, terbentang halaman istana berseri-seri. Rata dan luas dengan rumah indah berisi kursi-kursi berhias. Di sebelah timur menjulang rumah tinggi berhias lambang kerajaan itulah balai tempat terima tatamu Srinata di Wilwatikta. Inilah pembesar yang sering menghadap di balai witana : Wredamentri, tanda Mahamantri Agung, pasangguhan dengan pengiring Sang Panca Wilwatikta : mapatih, demung, kanuruhan, rangga. Tumenggung lima priyayi agung yang akrab dengan istana. Semua patih, demung negara bawahan dan pengalasan.
    Semua pembesar daerah yang berhati tetap dan teguh. Jika datang berkumpul di kepatihan seluruh negara lima Mahamantri Agung, utama yang mengawal urusan negara. Satria, pendeta, pujangga, para wipra, jika menghadap berdiri di bawah lindungan asoka di sisi witana. Begitu juga dua darmadyaksa dan tujuh pembantunya. Bergelar arya, tangkas tingkahnya, pantas menjadi teladan. Itulah penghadap balai witana, tempat takhta yang terhias serba bergas. Pantangan masuk ke dalam istana timur agak jauh dan pintu pertama. Ke Istana Selatan, tempat Singa Wardana, permaisuri, putra dan putrinya. Ke Istana Utara. tempat Kerta Wardana. Ketiganya bagai kahyangan semua rumah bertiang kuat, berukir indah, dibuat berwarna-warni Cakinya dari batu merah pating berunjul, bergambar aneka lukisan. Genting atapnya bersemarak serba meresapkan pandang menarik perhatian. Bunga tanjung kesara, campaka dan lain-lainnya terpencar di halaman. Teratur rapi semua perumahan sepanjang tepi benteng. Timur tempat tinggal pemuka pendeta Siwa Hyang Brahmaraja. Selatan Buda-sangga dengan Rangkanadi sebagai pemuka. Barat tempat para arya Mahamantri Agung dan sanak-kadang adiraja.
    Di timur tersekat lapangan menjulang istana ajaib. Raja Wengker dan rani Daha penaka Indra dan Dewi Saci. Berdekatan dengan istana raja Matahun dan rani Lasem. Tak jauh di sebelah selatan raja Wilwatikta. Di sebelah utara pasar: rumah besar bagus lagi tinggi. Di situ menetap patih Daha, adinda Sri Paduka di Wengker. Batara Narpati, termashur sebagai tulang punggung praja. Cinta taat kepada raja, perwira, sangat tangkas dan bijak. Di timur laut rumah patih Wilwatikta, bernama Gajah Mada. Mahamantri Agung wira, bijaksana, setia bakti kepada negara. Fasih bicara, teguh tangkas, tenang, tegas, cerdik lagi jujur. Tangan kanan maharaja sebagai penggerak roda negara. Sebelah selatan puri, gedung kejaksaan tinggi bagus. Sebelah timur perumahan Siwa, sebelah barat Buda. Terlangkahi rumah para Mahamantri Agung, para arya dan satria. Perbedaan ragam pelbagai rumah menambah indahnya pura. Semua rumah memancarkan sinar warnanya gilang-cemerlang. Menandingi bulan dan matahari, indah tanpa upama. Negara-negara di nusantara dengan Daha bagai pemuka. Tunduk menengadah, berlindung di bawah kuasa Wilwatikta.
    Kemudian akan diperinci demi pulau negara bawahan, paling dulu Melayu: Jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya. Pun ikut juga disebut Daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane Kampe, Haru serta Mandailing, Tamihang, negara perlak dan padang Lawas dengan Samudra serta Lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus. Itulah terutama negara-negara Melayu yang telah tunduk. Negara-negara di pulau Tanjungnegara : Kapuas-Katingan, Sampit, Kota Ungga, Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut. Kadandangan, Landa, Samadang dan Tirem tak terlupakan. Sedu, Barune, Kalka, Saludung, Solot dan juga Pasir Barito, Sawaku, Tabalung, ikut juga Tanjung Kutei. Malano tetap yang terpenting di pulau Tanjungpura.
    Di Hujung Medini, Pahang yang disebut paling dahulu. Berikut Langkasuka, Saimwang, Kelantan serta Trengganu Johor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang serta Kedah Jerai, Kanjapiniran, semua sudah lama terhimpun. Di sebelah timur Jawa seperti yang berikut: Bali dengan negara yang penting Badahulu dan Lo Gajah. Gurun serta Sukun, Taliwang, pulau Sapi dan Dompo Sang Hyang Api, Bima. Seram, Hutan Kendali sekaligus. Pulau Gurun, yang juga biasa disebut Lombok Merah. Dengan daerah makmur Sasak diperintah seluruhnya. Bantayan di wilayah Bantayan beserta kota Luwuk. Sampai Udamakatraya dan pulau lain-lainnya tunduk. Tersebut pula pulau-pulau Makasar, Buton, Banggawi, Kunir, Galian serta Salayar, Sumba, Solot, Muar. Lagi pula Wanda (n), Ambon atau pulau Maluku, Wanin, Seran, Timor dan beberapa lagi pulau-pulau lain. Berikutnya inilah nama negara asing yang mempunyai hubungan Siam dengan Ayodyapura, begitu pun Darmanagari Marutma. Rajapura begitu juga Singasagari Campa, Kamboja dan Yawana ialah negara sahabat.
    Pulau Madura tidak dipandang negara asing. Karena sejak dahulu menjadi satu dengan Jawa. Konon dahulu Jawa dan Madura terpisah meskipun tidak sangat jauh. Semenjak nusantara menadah perintah Sri Paduka, tiap musim tertentu mempersembahkan pajak upeti. Terdorong keinginan akan menambah kebahagiaan. Pujangga dan pegawai diperintah menarik upeti. Pujangga-pujangga yang lama berkunjung di nusantara. Dilarang mengabaikan urusan negara dan mengejar untung. Seyogyanya, jika mengemban perintah ke mana juga, harus menegakkan agama Siwa, menolak ajaran sesat. Konon kabarnya para pendeta penganut Sang Sugata dalam perjalanan mengemban perintah Sri Baginda, dilarang menginjak tanah sebelah barat pulau Jawa. Karena penghuninya bukan penganut ajaran Buda.
    Tanah sebelah timur Jawa terutama Gurun dan Bali, boleh dijelajah tanpa ada yang dikecualikan. Bahkan menurut kabaran begawan Empu Barada, serta raja pendeta Kuturan telah bersumpah teguh. Para pendeta yang mendapat perintah untuk bekerja, dikirim ke timur ke barat, di mana mereka sempat melakukan persajian seperti perintah Sri Nata. Resap terpandang mata jika mereka sedang mengajar. Semua negara yang tunduk setia menganut perintah. Dijaga dan dilindungi Sri Nata dari pulau Jawa. Tapi yang membangkang, melanggar perintah dibinasakan pimpinan angkatan laut yang telah mashur lagi berjasa. Telah tegak teguh kuasa Sri Nata di Jawa dan wilayah nusantara. Di Sri Palatikta tempat beliau bersemayam, menggerakkan roda dunia. Tersebar luas nama beliau, semua penduduk puas, girang dan lega. Wipra pujangga dan semua penguasa ikut menumpang menjadi mashur. Sungguh besar kuasa dan jasa beliau, raja agung dan raja utama. Lepas dari segala duka mengenyam hidup penuh segala kenikmatan. Terpilih semua gadis manis di seluruh wilayah Jenggala Kediri. Berkumpul di istana bersama yang terampas dari negara tetangga. Segenap tanah Jawa bagaikan satu kota di bawah kuasa Sri Paduka.
    Ribuan orang berkunjung laksana bilangan tentara yang mengepung pura. Semua pulau laksana daerah pedusunan tempat menimbun bahan makanan. Gunung dan rimba hutan penaka taman hiburan terlintas tak berbahaya. Tiap bulan sehabis musim hujan beliau biasa pesiar keliling. Desa Sima di sebelah selatan Jalagiri, di sebelah timur pura. Ramai tak ada hentinya selama pertemuan dan upacara prasetyan. Girang melancong mengunjungi Wewe Pikatan setempat dengan candi lima. Atau pergilah beliau bersembah bakti ke hadapan Hyang Acalapati. Biasanya terus menuju Blitar, Jimur mengunjungi gunung-gunung permai.
    Di Daha terutama ke Polaman, ke Kuwu dan lingga hingga desa Bangin. Jika sampai di Jenggala, singgah di Surabaya, terus menuju Buwun. Pada tahun 1275 Saka, Sang Prabu menuju Pajang membawa banyak pengiring. Tahun 1276 ke Lasem, melintasi pantai samudra. Tahun 1279, ke laut selatan menembus hutan. Lega menikmati pemandangan alam indah Lodaya, Tetu dan Sideman. Tahun 1281 di Badrapada bulan tambah. Sri Nata pesiar keliling seluruh negara menuju kota Lumajang. Naik kereta diiring semua raja Jawa serta permaisuri dan abdi Mahamantri Agung, tanda, pendeta, pujangga, semua para pembesar ikut serta.
    Juga yang menyamar, Empu Prapanca, girang turut mengiring paduka Maharaja. Tak tersangkal girang sang kawi, putra pujangga, juga pencinta kakawin. Dipilih Sri Paduka sebagai pembesar kebudaan mengganti sang ayah. Semua pendeta Buda ramai membicarakan tingkah lakunya dulu. Tingkah sang kawi waktu muda menghadap raja berkata, berdamping, tak lain. Maksudnya mengambil hati, agar disuruh ikut beliau ke mana juga. Namun belum mampu menikmati alam, membinanya, mengolah dan menggubah. Karya kakawin, begitu warna desa sepanjang marga terkarang berturut. Mula-mula melalui Japan dengan asrama dan candi-candi ruk-rebah. Sebelah timur Tebu, hutan Pandawa, Daluwang, Bebala di dekat Kanci.
    Ratnapangkaja serta Kuti, Haji, Pangkaja memanjang bersambung-sambungan. Mandala Panjrak, Pongglang serta Jingan. Kuwu, Hanyar letaknya di tepi jalan. Habis berkunjung pada candi pasareyan Pancasara, menginap di Kapulungan. Selanjutnya sang kawi bermalam di Waru, di Hering, tidak jauh dari pantai. Yang mengikuti ketetapan hukum jadi milik kepala asrama Saraya. Tetapi masih tetap dalam tangan lain, rindu termenung-menung menunggu. Seberangkat Sri Nata dari Kapulungan, berdesak abdi berarak. Sepanjang jalan penuh kereta, penumpangnya duduk berimpit-impit. Pedati di muka dan di belakang, di tengah prajurit berjalan kaki. Berdesak-desakan, berebut jalan dengan binatang gajah dan kuda.
    Tak terhingga jumlah kereta, tapi berbeda-beda tanda cirinya. Meleret berkelompok-kelompok, karena tiap mentri lain lambangnya. Rakrian sang Mahamantri Agung Patih Amangkubumi penata kerajaan. Keretanya beberapa ratus berkelompok dengan aneka tanda. Segala kereta Sri Nata Pajang semua bergambar matahari. Semua kereta Sri Nata Lasem bergambar cemerlang banteng putih. Kendaraan Sri Nata paha bergambar Dahakusuma mas mengkilat. Kereta Sri Nata Jiwana berhias bergas menarik perhatian. Kereta Sri Nata Wilwatikta tak ternilai, bergambar buah mala. Beratap kain geringsing, berhias lukisan mas, bersinar meran indah. Semua pegawai, parameswari raja dan juga rani Sri Sudewi. Ringkasnya para wanita berkereta merah berjalan paling muka.
    Kereta Sri Nata berhias mas dan ratna manikam paling belakang. Jempana-jempana lainnya bercadar beledu, meluap gemerlap. Rapat rampak prajurit pengiring Jenggala Kediri, Panglarang, Sedah Bayangkari gemruduk berbondong-bondong naik gajah dan kuda. Pagi-pagi telah tiba di Pancuran Mungkur, Sri Nata ingin rehat. Sang rakawi menyidat jalan, menuju Sawungan mengunjungi kerabat. Larut matahari berangkat lagi tepat waktu Sri Paduka lalu. Ke arah timur menuju Watu Kiken, lalu berhenti di Matanjung. Dukuh sepi kebudaan dekat tepi jalan, pohonnya jarang-jarang. Berbeda-beda namanya Gelanggang, Badung, tidak jauh dari Barungbung. Tak terlupakan Ermanik, dukuh teguh-taat kepada Yanatraya. Puas sang darmadyaksa mencicipi aneka jamuan makan dan minum.
    Sampai di Kulur, Batang di Gangan Asem perjalanan Sri Baginda. Hari mulai teduh, surya terbenam, telah gelap pukul tujuh malam Sri Paduka memberi perintah memasang tenda di tengah-tengah sawah. Sudah siap habis makan, cepat-cepat mulai membagi-bagi tempat. Paginya berangkat lagi menuju Baya, rehat tiga hari tiga malam. Dari Baya melalui Katang, Kedung Dawa, Rame, menuju Lampes, Times. Serta biara pendeta di Pogara mengikut jalan pasir lemak-lembut. Menuju daerah Beringin Tiga di Dadap, kereta masih terus lari. Tersebut dukuh kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah. Tanahnya anugerah Sri Paduka kepada Gajah Mada, teratur rapi. Di situlah Sri Paduka menempati pasanggrahan yang tehias sangat bergas. Sementara mengunjungi mata air, dengan ramah melakukan mandi bakti.
    Sampai di desa Kasogatan, Sri Paduka dijamu makan minum. Pelbagai penduduk Gapuk, Sada, Wisisaya, Isanabajra, Ganten, Poh, Capahan, Kalampitan, Lambang, Kuran, Pancar, We, Petang. Yang letaknya di lingkungan biara, semua datang menghadap. Begitu pula desa Tunggilis, Pabayeman ikut berkumpul. Termasuk Ratnapangkaja di Carcan, berupa desa perdikan. Itulah empat belas desa Kasogatan yang berakuwu. Sejak dahulu delapan saja yang menghasilkan bahan makanan. Fajar menyingsing, berangkat lagi Sri Paduka melalui Lo Pandak, Ranu Kuning, Balerah, Bare-bare, Dawohan, Kapayeman, Telpak, Baremi, Sapang serta Kasaduran. Kereta berjalan cepat-cepat menuju Pawijungan. Menuruni lurah, melintasi sawah, lari menuju Jaladipa, Talapika, Padali, Arnon dan Panggulan. Langsung ke Payaman, Tepasana ke arah kota Rembang. Sampai di Kemirahan yang letaknya di pantai lautan.
    Di Dampar dan Patunjungan Sri Paduka bercengkerama menyisir tepi lautan. Ke jurusan timur turut pasisir datar, lembut-limbur dilintasi kereta. Berhenti beliau di tepi danau penuh teratai, tunjung sedang berbunga. Asyik memandang udang berenang dalam air tenang memperlihatkan dasarnya. Terlangkahi keindahan air telaga yang lambai-melambai dengan lautan. Danau ditinggalkan menuju Wedi dan Guntur tersembunyi di tepi jalan. Kasogatan Bajraka termasuk wilayah Taladwaja sejak dulu kala. Seperti juga Patunjungan, akibat perang belum kembali ke asrama. Terlintas tempat tersebut, ke timur mengikut hutan sepanjang tepi lautan. Berhenti di Palumbon berburu sebentar, berangkat setelah surya larut. Menyeberangi sungai Rabutlawang yang kebetulan airnya sedang surut. Menuruni lurah Balater menuju pantai lautan lalu bermalam lagi. Pada waktu fajar menyingsing, menuju Kunir Basini, di Sadeng bermalam.
    Malam berganti malam, Sri Paduka pesiar menikmati alam Sarampuan. Sepeninggal-nya beliau menjelang kota Bacok bersenang-senang di pantai. Heran memandang karang tersiram riak gelombang berpancar seperti hujan. Tapi sang rakawi tidak ikut berkunjung di Bacok, pergi menyidat jalan. Dari Sadeng ke utara menjelang Balung, lerus menuju Tumbu dan Habet. Galagah, Tampaling, beristirahat di Renes seraya menanti Sri Paduka. Segera berjumpa lagi dalam perjalanan ke Jayakreta-Wanagriya. Melalui Doni Bontong. Puruhan, Bacek, Pakisaji, Padangan terus ke Secang. Terlintas Jati Gumelar, Silabango. Ke utara ke Dewa Rame dan Dukun. Lalu berangkat lagi ke Pakembangan. Di situ bermalam, segera berangkat. Sampailah beliau ke ujung lurah Daya. Yang segera dituruni sampai jurang. Dari pantai ke utara sepanjang jalan. Sangat sempit sukar amat dijalani. Lumutnya licin akibat kena hujan. Banyak kereta rusak sebab berlanggar.
    Terlalu lancar lari kereta melintas Palayangan. Dan Bangkong dua desa tanpa cerita terus menuju Sarana, mereka yang merasa lelah ingin berehat. Lainnya bergegas berebucalan menuju Surabasa. Terpalang matahari terbenam berhenti di padang lalang. Senja pun turun, sapi lelah dilepas dari pasangan. Perjalanan membelok ke utara melintas Turayan. Beramai-ramai lekas-lekas ingin mencapai Patukangan. Panjang lamun dikisahkan kelakuan para mentri dan abdi. Beramai-ramai Sri Paduka telah sampai di desa Patukangan. Di tepi laut lebar tenang rata terbentang di barat Talakrep Sebelah utara pakuwuan pesanggrahan Sri Baginda. Semua Mahamantri Agung mancanagara hadir di pakuwuan. Juga jaksa Pasungguhan Sang Wangsadiraja ikut menghadap. Para Upapati yang tanpa cela, para pembesar agama. Panji Siwa dan Panji Buda faham hukum dan putus sastera. Sang adipati Suradikara memimpin upacara sambutan.
    Diikuti segenap penduduk daerah wilayah Patukangan. Menyampaikan persembahan, girang bergilir dianugerahi kain Girang rakyat girang raja, pakuwuan berlimpah kegirangan. Untuk pemandangan ada rumah dari ujung memanjang ke lautan. Aneka bentuknya, rakit halamannya, dari jauh bagai pulau. Jalannya jembatan goyah kelihatan bergoyang ditempuh ombak. Itulah buatan sang arya bagai persiapan menyambut raja. Untuk mengurangi sumuk akibat teriknya matahari Sri Paduka mendekati permaisuri seperti dewa-dewi. Para putri laksana apsari turun dari kahyangan. Hilangnya keganjilan berganti pandang penuh heran cengang. Berbagai-bagai permainan diadakan demi kesukaan. Berbuat segala apa yang membuat gembira penduduk. Menari topeng. bergumul, bergulat, membuat orang kagum. Sungguh beliau dewa menjelma sedang mengedari dunia. Selama kunjungan di desa Patukangan Para Mahamantri Agung dari Bali dan Madura.
    Dari Balumbung, kepercayaan Sri Paduka Mahamantri Agung seluruh Jawa Timur berkumpul. Persembahan bulu bekti bertumpah-limpah. Babi, gudel, kerbau, sapi, ayam dan anjing. Bahan kain yang diterima bertumpuk timbun. Para penonton tercengang-cengang memandang. Tersebut keesokan hari pagi-pagi. Sri Paduka keluar di tengah-tengah rakyat. Diiringi para kawi serta pujangga. Menabur harta membuat gembira rakyat. Hanya pujangga yang menyamar Empu Prapanca sedih tanpa upama Berkabung kehilangan kawan kawi-Buda Panji Kertayasa. Teman bersuka-ria, ternan karib dalam upacara gama. Beliau dipanggil pulang, sedang mulai menggubah arya megah. Kusangka tetap sehat, sanggup mengantar aku ke mana juga. Beliau tahu tempat-tempat mana yang layak pantas dilihat. Rupanya sang pujangga ingin mewariskan karya megah indah. Namun mangkatlah beliau, ketika aku tiba, tak terduga. Itulah lantarannya aku turut berangkat ke desa Keta. Melewati Tal Tunggal, Halalang panjang. Pacaran dan Bungatan Sampai Toya Rungun, Walanding, terus Terapas, lalu beralam. Paginya berangkat ke Lemah Abang, segera tiba di Keta.
    Tersebut perjalanan Sri Baginda ke arah barat. Segera sampai Keta dan tinggal di sana lima hari. Girang beliau melihat lautan, memandang balai kambang. Tidak lupa menghirup kesenangan lain sehingga puas. Atas perintah sang arya semua Mahamantri Agung menghadap. Wiraprana bagai kepala upapati Siwa-Buda. Mengalir rakyat yang datang sukarela tanpa diundang. Membawa bahan santapan, girang menerima balasan. Keta telah ditinggalkan. Jumlah pengiring malah bertambah. Melintasi Banyu Hening, perjalanan sampai Sampora. Terus ke Daleman menuju Wawaru, Gebang, Krebilan. Sampai di Kalayu Sri Paduka berhenti ingin menyekar. Kalayu adalah nama desa perdikan kasogatan. Tempat candi pasareyan sanak kadang Sri Paduka Prabu.
    Penyekaran di pasareyan dilakukan dengan sangat hormat. “Memegat sigi” nama upacara penyekaran itu. Upacara berlangsung menepati segenap aturan. Mulai dengan jamuan makan meriah tanpa upama. Para patih mengarak Sri Paduka menuju paseban. Genderang dan kendang bergetar mengikuti gerak tandak. Habis penyekaran raja menghirup segala kesukaan. Mengunjungi desa-desa disekitarnya genap lengkap. Beberapa malam lamanya berlumba dalam kesukaan. Memeluk wanita cantik dan meriba gadis remaja. Kalayu ditinggalkan, perjalanan menuju Kutugan. Melalui Kebon Agung, sampai Kambangrawi bermalam. Tanah anugerah Sri Nata kepada Tumenggung Nala. Candinya Buda menjulang tinggi, sangat elok bentuknya. Perjamuan Tumenggung Empu Nala jauh dari cela. Tidak diuraikan betapa lahap Sri Baginda bersantap. Paginya berangkat lagi ke Halses, Berurang, Patunjungan. Terus langsung melintasi Patentanan, Tarub dan Lesan.
    Segera Sri Paduka sampai di Pajarakan, di sana bermalam empat hari. Di tanah lapang sebelah selatan candi Buda beliau memasang tenda. Dipimpin Arya Sujanotama para mantri dan pendeta datang menghadap. Menghaturkan pacitan dan santapan, girang menerima anugerah uang. Berangkat dari situ Sri Paduka menuju asrama di rimba Sagara. Mendaki bukit-bukit ke arah selatan dan melintasi terusan Buluh. Melalui wilayah Gede, sebentar lagi sampai di asrama Sagara. Letaknya gaib ajaib di tengah-tengah hutan membangkitkan rasa kagum rindu. Sang pujangga Empu Prapanca yang memang senang bermenung tidak selalu menghadap. Girang melancong ke taman melepaskan lelah melupakan segala duka. Rela melalaikan paseban mengabaikan tata tertib para pendeta. Memburu nafsu menjelajah rumah berbanjar-banjar dalam deretan berjajar. Tiba di taman bertingkat, di tepi pesanggrahan tempat bunga tumbuh lebat.
    Suka cita Empu Prapanca membaca cacahan (pahatan) dengan slokanya di dalam cinta. Di atas tiap atap terpahat ucapan seloka yang disertai nama Pancaksara pada penghabisan tempat terpahat samar-samar, menggirangkan. Pemandiannya penuh lukisan dongengan berpagar batu gosok tinggi. Berhamburan bunga nagakusuma di halaman yang dilingkungi selokan Andung, karawira, kayu mas, menur serta kayu puring dan lain-lainnya. Kelapa gading kuning rendah menguntai di sudut mengharu rindu pandangan. Tiada sampailah kata meraih keindahan asrama yang gaib dan ajaib. Beratapkan hijuk, dari dalam dan luar berkesan kerasnya tata tertib. Semua para pertapa, wanita dan priya, tua muda nampaknya bijak. Luput dari cela dan klesa, seolah-olah Siwapada di atas dunia.
    Habis berkeliling asrama, Sri Paduka lalu dijamu. Para pendeta pertapa yang ucapannya sedap resap. Segala santapan yang tersedia dalam pertapan. Sri Paduka membalas harta. membuat mereka gembira. Dalam pertukaran kata tentang arti kependetaan. Mereka mencurahkan isi hati, tiada tertahan. Akhirnya cengkerma ke taman penuh dengan kesukaan Kegirang-girangan para pendeta tercengang memandang. Habis kesukaan memberi isyarat akan berangkat. Pandang sayang yang ditinggal mengikuti langkah yang pergi. Bahkan yang masih remaja putri sengaja merenung. Batinnya : dewa asmara turun untuk datang menggoda. Sri Paduka berangkat, asrama tinggal berkabung. Bambu menutup mata sedih melepas selubung. Sirih menangis merintih, ayam raga menjerit. Tiung mengeluh sedih, menitikkan air matanya. Kereta lari cepat, karena jalan menurun. Melintasi rumah dan sawah di tepi jalan. Segera sampai Arya, menginap satu malam. Paginya ke utara menuju desa Ganding. Para mentri mancanegara dikepalai Singadikara, serta pendeta Siwa-Buda.
    Membawa santapan sedap dengan upacara. Gembira dibalas Sri Paduka dengan mas dan kain. Agak lama berhenti seraya istirahat. Mengunjungi para penduduk segenap desa. Kemudian menuju Sungai Gawe, Sumanding, Borang, Banger, Baremi lalu lurus ke barat. Sampai Pasuruan menyimpang jalan ke selatan menuju Kepanjangan. Menganut jalan raya kereta lari beriring-iring ke Andoh Wawang ke Kedung Peluk dan ke Hambal, desa penghabisan dalam ingatan. Segera Sri Paduka menuju kota Singasari bermalam di balai kota. Empu Prapanca tinggal di sebelah barat Pasuruan. Ingin terus melancong menuju asrama. Indarbaru yang letaknya di daerah desa. Hujung Berkunjung di rumah pengawasnya, menanyakan perkara tanah asrama. Lempengan Serat Kekancingan pengukuh diperlihatkan, jelas setelah dibaca. Isi Serat Kekancingan : tanah datar serta lembah dan gunungnya milik wihara. Begitupula sebagian Markaman, ladang Balunghura, sawah Hujung Isi Serat Kekancingan membujuk sang pujangga untuk tinggal jauh dari pura. Bila telah habis kerja di pura, ingin ia menyingkir ke Indarbaru. Sebabnya terburu-buru berangkat setelah dijamu bapa asrama karena ingat akan giliran menghadap di balai Singasari. Habis menyekar di candi makam, Sri Paduka mengumbar nafsu kesukaan. Menghirup sari pemandangan di Kedung Biru, Kasurangganan dan Bureng.
    Pada subakala Sri Paduka berangkat ke selatan menuju Kagenengan. Akan berbakti kepada pasareyan batara bersama segala pengiringnya Harta. perlengkapan. makanan. dan bunga mengikuti jalannya kendaraan. Didahului kibaran bendera,sdisambut sorak-sorai dari penonton. Habis penyekaran, Baginda keluar dikerumuni segenap rakyat. Pendeta Siwa-Buda dan para bangsawan berderet leret di sisi beliau. Tidak diceritakan betapa rahap Sri Paduka bersantap sehingga puas. Segenap rakyat girang menerima anugerah bahan pakaian yang indah. Tersebut keindahan candi makam, bentuknya tiada bertara.
    Pintu masuk terlalu lebar lagi tinggi, bersabuk dari luar. Di dalam terbentang halaman dengan rumah berderet di tepinya. Ditanami aneka ragam bunga, tanjung, nagasari ajaib. Menara lampai menjulang tinggi di tengah-tengah, terlalu indah. Seperti gunung Meru dengan arca Batara Siwa di dalamnya. Karena Girinata putra disembah bagai dewa batara. Datu leluhur Sri Naranata yang disembah di seluruh dunia. Sebelah selatan candi pasareyan ada candi sunyi terbengkalai. Tembok serta pintunya yang masih berdiri, berciri kasogatan lantai di dalam. Hilang kakinya bagian barat, tinggal yang timur. Sanggar dan pemujaan yang utuh, bertembok tinggi dari batu merah. Di sebelah utara, tanah bekas kaki rumah sudahlah rata. Terpencar tanamannya nagapuspa serta salaga di halaman. Di luar gapura pabaktan luhur, tapi telah longsor tanahnya. Halamannya luas tertutup rumput, jalannya penuh dengan lumut laksana wanita sakit merana lukisannya lesu-pucat. Berhamburan daun cemara yang ditempuh angin, kusut bergelung. Kelapa gading melulur tapasnya, pinang letih lusuh merayu.
    Buluh gading melepas kainnya, layu merana tak ada hentinya. Sedih mata yang memandang, tak berdaya untuk menyembuhkannya. Kecuali menanti Hayam Wuruk sumber hidup segala makhluk. Beliau mashur bagai raja utama, bijak memperbaiki jagad. Pengasih bagi yang menderita sedih, sungguh titisan batara. Tersebut lagi, paginya Sri Paduka berkunjung ke candi Kidal. Sesudah menyembah batara, larut hari berangkat ke Jajago. Habis menghadap arca Jina, beliau berangkat ke penginapan. Paginya menuju Singasari, belum lelah telah sampai Bureng. Keindahan Bureng : telaga bergumpal airnya jernih. Kebiru-biruan, di tengahnya candi karang bermekala. Tepinya rumah berderet, penuh pelbagai ragam bunga. Tujuan para pelancong penyerap sari kesenangan. Terlewati keindahannya, berganti cerita narpati. Setelah reda terik matahari, melintas tegal tinggi.
    Rumputnya tebal rata, hijau mengkilat, indah terpandang. Luas terlihat laksana lautan kecil berombak jurang. Seraya berkeliling kereta lari tergesa-gesa. Menuju Singasari, segera masuk ke pesanggrahan. Sang pujangga singgah di rumah pendeta Buda, sarjana. Pengawas candi dan silsilah raja, pantas dikunjungi. Telah lanjut umurnya, jauh melintasi seribu bulan. Setia, sopan, darah luhur, keluarga raja dan mashur. Meski sempurna dalam karya, jauh dari tingkah tekebur. Terpuji pekerjaannya, pantas ditiru keinsafannya. Tamu diterima dengan girang dan ditegur : “Wahai orang bahagia, pujangga besar pengiring raja, pelindung dan pengasih keluarga yang mengharap kasih. Jamuan apa yang layak bagi paduka dan tersedia?” Maksud kedatangannya: ingin tahu sejarah leluhur para raja yang dicandikan, masih selalu dihadap. Ceriterakanlah mulai dengan Batara Kagenengan. Ceriterakan sejarahnya jadi putra Girinata.
    Paduka Empuku menjawab : “Rakawi maksud paduka sungguh merayu hati. Sungguh paduka pujangga lepas budi. Tak putus menambah ilmu, mahkota hidup. Izinkan saya akan segera mulai. Cita disucikan dengan air sendang tujuh”.
    Terpuji Siwa! Terpuji Girinata! Semoga terhindar aral, waktu bertutur. Semoga rakawi bersifat pengampun. Di antara kata mungkin terselib salah. Harap percaya kepada orang tua. Kurang atau lebih janganlah dicela. Pada tahun 1104 Saka ada raja perwira yuda Putra Girinata, konon kabarnya lahir di dunia tanpa ibu. Semua orang tunduk, sujud menyembah kaki bagai tanda bakti. Sri Ranggah Rajasa nama beliau, penggempur musuh pahlawan bijak. Daerah luas sebelah timur gunung Kawi terkenal subur makmur. Di situlah tempat putra Sang Girinata menunaikan darmanya. Menggirangkan budiman, menyirnakan penjahat, meneguhkan negara, ibukota negara bernama Kotaraja, penduduknya sangat terganggu. Tahun 1144 Saka, beliau melawan raja Kediri Sang Adiperwira Kretajaya, putus sastra serta tatwopadesa. Kalah, ketakutan, melarikan diri ke dalam biara terpencil. Semua pengawal dan perwira tentara yang tinggal, mati terbunuh. Setelah kalah Narpati Kediri, Jawa di dalam ketakutan. Semua raja datang menyembah membawa tanda bakti hasil tanah. Bersatu Jenggala Kediri di bawah kuasa satu raja sakti. Cikal bakal para raja agung yang akan memerintah pulau Jawa. Makin bertambah besar kuasa dan megah putra sang Girinata. Terjamin keselatamatan pulau Jawa selama menyembah kakinya. Tahun 1149 Saka beliau kembali ke Siwapada. Dicandikan di Kagenengan bagai Siwa, di Usana bagai Buda.
    Batara Anusapati putra Sri Paduka, berganti dalam kekuasaan. Selama pemerintahannya. tanah Jawa kokoh sentosa, bersembah bakti. Tahun 1170 Saka beliau pulang ke Siwaloka. Cahaya beliau diujudkan arca Siwa gemilang di candi pasareyan Kidal. Batara Wisnu Wardana, putra Sri Paduka, berganti dalam kekuasaan. Beserta Narasinga bagai Madawa dengan Indra memerintah negara Beliau memusnahkan perusuh Linggapati serta segenap pengikutnya. Takut semua musuh kepada beliau sungguh titisan Siwa di bumi. Tahun 1176 Saka, Batara Wisnu menobatkan putranya. Segenap rakyat Kediri Jenggala berduyun-duyun ke pura mangastubagia. Prabu Kerta Negara nama gelarannya, tetap demikian seterusnya. Daerah Kotaraja bertambah makmur, berganti nama praja Singasari. Tahun 1192, Raja Wisnu berpulang. Dicandikan di Waleri berlambang arca Siwa, di Jajago arca Buda. Sementara itu Batara Nara Singa Murti pun pulang ke Surapada. Dicandikan di Wengker, di Kumeper diarcakan bagai Siwa mahadewa. Tersebut Sri Paduka Kertanagara membinasakan perusuh, penjahat. Bernama Cayaraja, gugur pada tahun Saka 1192. Tahun 1197 Saka, Sri Paduka menyuruh tundukkan Melayu. Berharap Melayu takut kedewaan beliau tunduk begitu sahaja.
    Tahun 1202 Saka, Sri Paduka Prabu memberantas penjahat Mahisa Rangga, karena jahat tingkahnya dibenci seluruh negara. Tahun 1206 Saka, mengirim utusan menghancurkan Bali. Setelah kalah rajanya menghadap Sri Paduka sebagai orang tawanan. Demikianlah dari empat jurusan orang lari berlindung di bawah Sri Paduka. Seluruh Pahang, segenap Melayu tunduk menekur di hadapan beliau. Seluruh Gurun, segenap Bakulapura lari mencari perlindungan. Sunda Madura tak perlu dikatakan, sebab sudah terang setanah Jawa. Jauh dari tingkah alpa dan congkak, Sri Paduka waspada, tawakal dan bijak. Faham akan segala seluk beluk pemerintahan sejak zaman Kali. Karenanya tawakal dalam agama dan tapa untuk teguhnya ajaran Buda. Menganut jejak para leluhur demi keselamatan seluruh praja.
    Menurut kabar sastra raja Pandawa memerintah sejak zaman Dwapara. Tahun 1209 Saka, beliau pulang ke Budaloka. Sepeninggalnya datang zaman Kali, dunia murka, timbul huru hara. Hanya batara raja yang faham dalam nam guna, dapat menjaga jagad. Itulah sebabnya Sri Paduka teguh bakti menyembah kaki Sakyamuni. Teguh tawakal memegang Pancasila, laku utama, upacara suci Gelaran Jina beliau yang sangat mashur ialah Sri Jnanabadreswara. Putus dalam filsafat, ilmu bahasa dan lain pengetahuan agama. Berlumba-lumba beliau menghirup sari segala ilmu kebatinan. Pertama-tama tantra Subuti diselami, intinya masuk ke hati.
    Melakukan puja, yoga, samadi demi keselamatan seluruh praja. Menghindarkan tenung, mengindahkan anugerah kepada rakyat murba. Di antara para raja yang lampau tidak ada yang setara beliau. Faham akan nam guna, sastra, tatwopadesa, pengetahuan agama Adil, teguh dalam Jinabrata dan tawakal kepada laku utama. Itulah sebabnya beliau turun-temurun menjadi raja pelindung. Tahun 1214 Saka, Sri Paduka pulang ke Jinalaya. Berkat pengetahuan beliau tentang upacara, ajaran agama. Beliau diberi gelaran : Yang Mulia bersemayam di alam Siwa-Buda. Di pasareyan beliau bertegak arca Siwa-Buda terlampau indah permai. Di Sagala ditegakkan pula arca Jina sangat bagus dan berkesan. Serta arca Ardanareswari bertunggal dengan arca Sri Bajradewi. Teman kerja dan tapa demi keselamatan dan kesuburan negara Hyang Wairocana-Locana bagai lambangnya pada arca tunggal, terkenal.
    Tatkala Sri Paduka Kertanagara pulang ke Budabuana. Merata takut, duka, huru hara, laksana zaman Kali kembali. Raja bawahan bernama Jayakatwang, berwatak terlalu jahat berkhianat, karena ingin berkuasa di wilayah Kediri. Tahun 1144 Saka, itulah sirnanya raja Kertajaya atas perintah Siwaputra Jayasaba berganti jadi raja. Tahun Saka 1180, Sastrajaya raja Kediri. Tahun 1193, Jayakatwang raja terakhir. Semua raja berbakti kepada cucu putra Girinata. Segenap pulau tunduk kepada kuasa Prabu Kerta Negara. Tetapi raja Kediri Jayakatwang membuta dan mendurhaka. Ternyata damai tak baka akibat bahaya anak piara Kali. Berkat keulungan sastra dan keuletannya jadi raja sebentar. Lalu ditundukkan putra Sri Paduka, ketenterarnan kembali. Sang menantu Raden Wijaya, itu gelarnya yang terkenal di dunia Bersekutu dengan bangsa Tartar, menyerang melebur Jayakatwang.
    Sepeninggal Jayakatwang jagad gilang cemerlang kembali. Tahun 1216 Saka, Raden Wijaya menjadi raja. Disembah di Majapahit, kesayangan rakyat, pelebur musuh. Bergelar Sri Baginda Kerta Rajasa Jaya Wardana. Selama Kerta Rajasa Jaya Wardana duduk di takhta, seluruh tanah Jawa bersatu padu, tunduk menengadah. Girang memandang pasangan Sri Paduka empat jumlahnya. Putri Kertanagara cantik-cantik bagai bidadari. Sang Parameswari Tri Buwana yang sulung, luput dari cela. Lalu parameswari Mahadewi, rupawan tidak bertara Prajnya Paramita Jayendra Dewi, cantik manis menawan hati. Gayatri, yang bungsu, paling terkasih digelari Rajapatni. Pernikahan beliau dalam kekeluargaan tingkat tiga. Karena Batara Wisnu dengan Batara Nara Singa Murti. Akrab tingkat pertama, Narasinga menurunkan Dyah Lembu Tal Sang perwira yuda, dicandikan di Mireng dengan arca Buda. Dyah Lembu Tal itulah bapa Sri Baginda. Dalam hidup atut runtut sepakat sehati. Setitah raja diturut, menggirangkan pandang. Tingkah laku mereka semua meresapkan. Tersebut tahun Saka 1217, Sri Paduka menobatkan putranya di Kediri. Perwira, bijak, pandai, putra Indreswari. Bergelar Sri Paduka putra Jayanagara. Tahun Saka 1231, Sang Prabu mangkat, ditanam di dalam pura Antahpura, begitu nama pasareyan beliau. Dan di pasareyan Simping ditegakkan arca Siwa.
    Beliau meninggalkan Jayanagara sebagai raja Wilwatikta. Dan dua orang putri keturunan Rajapatni, terlalu cantik. Bagai dewi Ratih kembar, mengalahkan rupa semua bidadari. Yang sulung jadi rani di Jiwana, yang bungsu jadi rani Daha. Tersebut pada tahun Saka 1238, bulan Madu Sri Paduka Jayanagara berangkat ke Lumajang menyirnakan musuh. Kotanya Pajarakan dirusak, Nambi sekeluarga dibinasakan. Giris miris segenap jagad melihat keperwiraan Sri Paduka. Tahun Saka 1250, beliau berpulang. Segera dimakamkan di dalam pura berlambang arca Wisnuparama. Di Sila Petak dan Bubat ditegakkan arca Wisnu terlalu indah. Di Sukalila terpahat arca Buda sebagai jelmaan Amogasidi.
    Tahun Saka 1256, Rani Jiwana Wijaya Tungga Dewi bergilir mendaki takhta Wilwatikta. Didampingi raja putra Singasari atas perintah ibunda Rajapatni. Sumber bahagia dan pangkal kuasa. Beliau jadi pengemban dan pengawas raja muda, Sri Paduka Wilwatikta. Tahun Saka 1253 sirna musuh di Sadeng, Keta diserang. Selama bertakhta, semua terserah kepada Mahamantri agung bijak, Mada namanya. Tahun Saka 1265, raja Bali yang alpa dan rendah budi diperangi, gugur bersama balanya. Menjauh segala yang jahat, tenteram”.
    Begitu ujar Dang Acarya Ratnamsah. Sungguh dan mengharukan ujar Sang Kaki. Jelas keunggulan Sri Paduka di dunia. Dewa asalnya, titisan Girinata. Barang siapa mendengar kisah raja. Tak puas hatinya, bertambah baktinya. Pasti takut melakukan tindak jahat. Menjauhkan diri dari tindak durhaka.
    Paduka Empu minta maaf berkata : “Hingga sekian kataku, sang rakawi. Semoga bertambah pengetahuanmu. Bagai buahnya, gubahlah puja sastra”.
    Habis jamuan rakawi dengan sopan. Minta diri kembali ke Singasari. Hari surut sampai pesanggrahan lagi. Paginya berangkat menghadap Sri Paduka. Tersebut Sri Paduka Prabu berangkat berburu. Lengkap dengan senjata, kuda dan kereta. Dengan bala ke hutan Alaspati, rimba belantara rungkut rimbun penuh gelagah rumput rampak. Bala bulat beredar membuat lingkaran. Segera siap kereta berderet rapat. Hutan terkepung, terperanjat kera menjerit burung ribut beterbangan berebut dulu. Bergabung sorak orang berseru den membakar. Gemuruh bagaikan deru lautan mendebur. Api tinggi menyala menjilat udara. Seperti waktu hutan Alaspati terbakar. Lihat rusa-rusa lari lupa daratan. Bingung berebut dahulu dalam rombongan. Takut miris menyebar, ingin lekas lari. Malah manengah berkumpul tumpuk timbun. Banyaknya bagai banteng di dalam Gobajra Penuh sesak, bagai lembu di Wresabapura Celeng, banteng, rusa, kerbau, kelinci. Biawak, kucing, kera, badak dan lainnya. Tertangkap segala binatang dalam hutan. Tak ada yang menentang, semua bersatu. Srigala gagah, yang bersikap tegak-teguh. Berunding dengan singa sebagai ketua.
    Izinkanlah saya bertanya kepada raja satwa. Sekarang raja merayah hutan, apa yang diperbuat? Menanti mati sambil berdiri ataukah kita lari. Atau tak gentar serentak melawan, jikalau diserang? Seolah-olah demikian kata srigala dalam rapat. Kijang menjawab : “Hemat patik tidak ada jalan lain kecuali lari. Lari mencari keselamatan diri sedapat mungkin”. Kaswari, rusa dan kelinci setuju. Banteng berkata : “Amboi! Celaka kijang, sungguh binatang hina lemah. Bukanlah sifat perwira lari, atau menanti mati. Melawan dengan harapan menang, itulah kewajiban.” Kerbau, lembu serta harimau setuju dengan pendapat ini. Jawab singa : “Usulmu berdua memang pantas diturut, Bung. Tapi harap dibedakan, yang dihadapi baik atau buruk. Jika penjahat, terang kita lari atau kita lawan. Karena sia-sia belaka, jika mati terbunuh olehnya. Jika kita menghadapi tripaksa, resi Siwa-Buda. Seyogyanya kita ikuti saja jejak sang pendeta. Jika menghadapi raja berburu, tunggu mati saja. Tak usah engkau merasa enggan menyerahkan hidupmu. Karena raja berkuasa mengakhiri hidup makhluk. Sebagai titisan Batara Siwa berupa narpati. Hilang segala dosanya makhluk yang dibunuh beliau. Lebih utama dari pada terjun ke dalam telaga. Siapa di antara sesama akan jadi musuhku? Kepada tripaksa aku takut, lebih utama menjauh. Niatku, jika berjumpa raja, akan menyerahkan hidup. Mati olehnya, tak akan lahir lagi bagai binatang.
    Bagaikan katanya: “Marilah berkumpul!” Kemudian serentak maju berdesak. Prajurit darat yang terlanjur langkahnya. Tertahan tanduk satwa, lari kembali. Tersebutlah prajurit berkuda. Bertemu celeng sedang berdesuk kumpul. Kasihan! Beberapa mati terbunuh. Dengan anaknya dirayah tak berdaya. Lihatlah celeng jalang maju menerjang. Berempat, berlima, gemuk, tinggi, marah. Buas membekos-bekos, matanya merah. Liar dahsyat, saingnya seruncing golok. Tersebut pemburu kijang rusa riuh seru-menyeru.
    Ada satu yang tertusuk tanduk, lelah lambat jalannya. Karena luka kakinya, darah deras meluap-luap. Lainnya mati terinjak-injak, menggelimpang kesakitan. Bala kembali berburu, berlengkap tombak serta lembing. Berserak kijang rusa di samping bangkai bertumpuk timbun. Banteng serta binatang galak lainnya bergerak menyerang. Terperanjat bala raja bercicir lari tunggang langgang. Ada yang lari berlindung di jurang, semak, kayu rimbun. Ada yang memanjat pohon, ramai mereka berebut puncak. Kasihanlah yang memanjat pohon tergelincir ke bawah Betisnya segera diseruduk dengan tanduk, pingsanlah! Segera kawan-kawan datang menolong dengan kereta. Menombak, melembing, menikam, melanting, menjejak-jejak. Karenanya badak mundur, meluncur berdebak gemuruh. Lari terburu, terkejar, yang terbunuh bertumpuk timbun. Ada pendeta Siwa-Buda yang turut menombak, mengejar. Disengau harimau, lari diburu binatang mengancam. Lupa akan segala darma, lupa akan tata sila. Turut melakukan kejahatan, melupakan darmanya.
    Tersebut Sri Paduka telah mengendarai kereta kencana. Tinggi lagi indah ditarik lembu yang tidak takut bahaya, menuju hutan belantara, mengejar buruan ketakutan. Yang menjauhkan diri lari bercerai-berai meninggalkan bangkai. Celeng. kaswari, rusa dan kelinci tinggal dalam ketakutan. Sri Paduka berkuda mengejar yang riuh lari bercerai-berai. Mahamantri Agung, tanda dan pujangga di punggung kuda turut memburu binatang jatuh terbunuh tertombak, terpotong. tertusuk, tertikam. Tanahnya luas lagi rata, hutannya rungkut di bawah terang. Itulah sebabnya kijang dengan mudah dapat diburu kuda. Puaslah hati Sri Paduka sambil bersantap dihadap pendeta. Bercerita tentang caranya berburu, menimbulkan gelak tawa. Terlangkahi betapa narpati sambil berburu menyerap sari keindahan gunung dan hutan, kadang-kadang kepayahan kembali ke rumah perkemahan.
    Membawa wanita seperti cengkeraman, di hutan bagai menggempur, negara tahu kejahatan satwa, beliau tak berdosa terhadap darma ahimsa. Tersebut beliau bersiap akan pulang, rindu kepada keindahan pura. Tatkala subakala berangkat menuju Banyu Hanget, Banir dan Talijungan. Bermalam di Wedwawedan, siangnya menuju Kuwarahan, Celong dan Dadamar Garuntang, Pagar Telaga, Pahanjangan, sampai di situ perjalanan beliau. Siangnya perjalanan melalui Tambak, Rabut, Wayuha terus ke Balanak menuju Pandakan, Banaragi, sampai Pandamayan beliau lalu bermalam Kembal! ke selatan, ke barat, menuju Jejawar di kaki gunung berapi. Disambut penoton bersorak gembira, menyekar sebentar di candi makam. Adanya candi pasareyan tersebut sudah sejak zaman dahulu. Didirikan oleh Sri Kertanagara, moyang Sri Paduka Prabu. Di situ hanya jenazah beliau sahaja yang dimakamkan. Karena beliau dulu memeluk dua agama Siwa-Buda. Bentuk candi berkaki Siwa berpuncak Buda, sangat tinggi. Di dalamnya terdapat arca Siwa, indah tak dapat dinilai. Dan arca Maha Aksobya bermahkota tinggi tidak bertara. Namun telah hilang, memang sudah layak, tempatnya: di Nirwana.
    Konon kabarnya tepat ketika arca Hyang Aksobya hilang, ada pada Sri Paduka guru besar, mashur. Pada Paduka putus tapa, sopan suci penganut pendeta Sakyamuni Telah terbukti bagai mahapendeta terpundi sasantri. Senang berziarah ke tempat suci, bermalam dalam candi. Hormat mendekati Hyang arca suci, khidmat berbakti sembah. Menimbul-kan iri di dalam hati pengawas candi suci. Ditanya mengapa berbakti kepada arca dewa Siwa. Pada Paduka menjelaskan sejarah candi pasareyan suci. Tentang adanya arca Aksobya indah, dahulu di atas. Sepulangnya kembali lagi ke candi menyampaikan bakti. Kecewa! tercengang memandang arca Maha Aksobya hilang. Tahun Saka 1253 itu hilangnya arca. Waktu hilangnya halilintar menyambar candi ke dalam.
    Benarlah kabuan pendeta besar bebas dari prasangka. Bagaimana membangun kembali candi tua terbengkalai?. Tiada ternilai indahnya, sungguh seperti surga turun. Gapura luar, mekala serta bangunannya serba permai. Hiasan di dalamnya naga puspa yang sedang berbunga. Di sisinya lukisan putri istana berseri-seri. Sementara Sri Paduka girang cengkerma menyerap pemandangan. Pakis berserak sebar di tengah tebat bagai bulu dada. Ke timur arahnya di bawah terik matahari Sri Paduka. Meninggalkan candi Pekalongan girang ikut jurang curam. Tersebut dari Jajawa Sri Paduka berangkat ke desa padameyan. Berhenti di Cunggrang, mencahari pemandangan, masuk hutan rindang. Ke arah asrama para pertapa di lereng kaki gunung menghadap jurang. Luang jurang ternganga-nganga ingin menelan orang yang memandang.
    Habis menyerap pemandangan, masih pagi kereta telah siap. Ke barat arahnya menuju gunung melalui jalannya dahulu. Tiba di penginapan Japan, barisan tentara datang menjemput yang tinggal di pura iri kepada yang gembira pergi menghadap. Pukul tiga itulah waktu Sri Paduka bersantap bersama-sama. Paling muka duduk Sri Paduka lalu dua paman berturut tingkat raja Matahun dan Paguhan bersama permaisuri agak jauhan. Di sisi Sri Paduka, terlangkahi berapa lamanya bersantap. Paginya pasukan kereta Sri Paduka berangkat lagi. Sang pujangga menyidat jalan ke Rabut, Tugu, Pengiring. Singgah di Pahyangan, menemui kelompok sanak kadang. Dijamu sekadarnya, karena kunjungannya mendadak. Banasara dan Sangkan Adoh tesah lama dilalui. Pukul dua Sri Paduka telah sampai di perbatasan kota Sepanajng jalan berdesuk-desuk, gajah, kuda, pedati. Kerbau, banteng dan prajurit darat sibuk berebut jalan. Teratur rapi mereka berarak di dalam deretan. Narpati Pajang, permaisuri dan pengiring paling muka. Di belakangnya tidak jauh, berikut Narpati Lasom.
    Terlampau indah keretanya, menyilaukan yang memandang. Rani Daha, rani Wengker semuanya urut belakang. Disusul rani Jiwana bersama laki dan pengiring. Bagai penutup kereta Sri Paduka serombongan besar. Diiring beberapa ribu perwira dan para mentri. Tersebut orang yang rapat rampak menambak tepi jalan Berjejal ribut menanti kereta Sri Paduka berlintas. Tergopoh-gopoh wanita ke pintu berebut tempat. Malahan ada yang lari telanjang lepas sabuk kainnya. Yang jauh tempatnya, memanjat kekayu berebut tinggi. Duduk berdesak-desak di dahan, tak pandang tua muda. Bahkan ada juga yang memanjat batang kelapa kuning. Lupa malu dilihat orang, karena tepekur memandang. Gemuruh dengung gong menampung Sri Paduka Prabu datang. Terdiam duduk merunduk segenap orang di jalanan. Setelah raja lalu berarak pengiring di belakang. Gajah. kuda, keledai, kerbau berduyun beruntun-runtun.
    Yang berjalan rampak berarak-arak. Barisan pikulan bejalan belakang. Lada, kesumba, kapas, buah kelapa. Buah pinang, asam dan wijen terpikul. Di belakangnya pemikul barang berat. Sengkeyegan lambat berbimbingan tangan. Kanan menuntun kirik dan kiri genjik. Dengan ayam itik di keranjang merunduk. Jenis barang terkumpul dalam pikulan. Buah kecubung, rebung, seludang, cempaluk. Nyiru, kerucut, tempayan, dulang, periuk. Gelaknya seperti hujan panah jatuh. Tersebut Sri Paduka telah masuk pura. Semua bubar ke rumah masing-masing. Ramai bercerita tentang hal yang lalu Membuat girang semua sanak kadang. Waktu lalu Sri Paduka tak lama di istana. Tahun Saka 1282, Badra pada. Beliau berangkat menuju Tirib dan Sempur. Nampak sangat banyak binatang di dalam hutan. Tahun Saka 1283 Waisaka, Sri Paduka Prabu berangkat menyekar ke Palah. Dan mengunjungi Jimbe untuk menghibur hati. Di Lawang Wentar, Blitar menenteramkan cita. Dari Blitar ke selatan jalannya mendaki.
    Pohonnya jarang, layu lesu kekurangan air. Sampai Lodaya bermalam beberapa hari. Tertarik keindahan lautan, menyisir pantai. Meninggalkan Lodaya menuju desa Simping. Ingin memperbaiki candi pasareyan leluhur. Menaranya rusak, dilihat miring ke barat. Perlu ditegakkan kembali agak ke timur. Perbaikan disesuaikan dengan bunyi prasati, yang dibaca lagi. Diukur panjang lebarnya, di sebelah timur sudah ada tugu. Asrama Gurung-gurung diambil sebagai denah candi makam. Untuk gantinya diberikan Ginting, Wisnurare di Bajradara. Waktu pulang mengambil jalan Jukung, Inyanabadran terus ke timur. Berhenti di Bajralaksmi dan bermalam di candi Surabawana. Paginya berangkat lagi berhenti di Bekel, sore sampai pura Semua pengiring bersowang-sowang pulang ke rumah masing-masing. Tersebut paginya Sri naranata dihadap para mentri semua. Di muka para arya, lalu pepatih, duduk teratur di manguntur.
    Patih amangkubumi Gajah Mada tampil ke muka sambil berkata : “Sri Paduka akan melakukan kewajiban yang tak boleh diabaikan. Atas Perintah sang rani Sri Tri Buwana Wijaya Tungga Dewi supaya pesta serada Sri Padukapatni dilangsungkan Sri Paduka. Di istana pada tahun Saka 1284 bulan Badrapada. Semua pembesar dan wreda Mahamantri Agung diharap memberi sumbangan.” Begitu kata sang patih dengan ramah, membuat gembira. Sri Paduka Sorenya datang para pendeta, para budiman, sarjana dan mentri. Yang dapat pinjaman tanah dengan Ranadiraja sebagai kepala Bersama-sama membicarakan biaya di hadapan Sri Paduka. Tersebut sebelum bulan Badrapada menjelang surutnya Srawana. Semua pelukis berlipat giat menghias “tempat singa” di setinggil Ada yang mengetam baki makanan, bokor-bokoran, membuat arca. Pandai emas dan perak turut sibuk bekerja membuat persiapan. Ketika saatnya tiba tempat telah teratur sangat rapi. Balai witana terhias indah di hadapan rumah-rumahan.
    Satu di antaranya berkaki batu karang bertiang merah. Indah dipandang semua menghadap ke arah takhta Sri Paduka. Barat, mandapa dihias janur rumbai, tempat duduk para raja. Utara, serambi dihias berlapis ke timur, tempat duduk. Para isteri, pembesar, Mahamantri Agung, pujangga. Serta pendeta Selatan, beberapa serambi berhias bergas untuk abdi. Demikian persiapan Sri Paduka memuja Buda Sakti. Semua pendeta Buda berdiri dalam lingkaran bagai saksi. Melakukan upacara, dipimpin oleh pendeta Stapaka. Tenang, sopan budiman faham tentang sastra tiga tantra. Umurnya melintasi seribu bulan, masih belajar tutur. Tubuhnya sudah rapuh, selama upacara harus dibantu. Empu dari Paruh selaku pembantu berjalan di lingkaran. Mudra, mantra dan japa dilakukan tepat menurut aturan. Tanggal dua belas nyawa dipanggil dari surga dengan doa. Disuruh kembali atas doa dan upacara yang sempurna. Malamnya memuja arca bunga bagai penampung jiwa mulia. Dipimpin Dang Acarya, mengheningkan cipta, mengucapkan puja.
    Pagi purnamakala arca bunga dikeluarkan untuk upacara. Gemuruh disambut dengan dengung salung, tambur, terompet serta genderang. Didudukkan di atas singasana, besarnya setinggi orang berdiri berderet beruntun-runtun semua pendeta tua muda memuja. Berikut para raja, parameswari dan putra mendekati arca. Lalu para patih dipimpin Gajah Mada maju ke muka berdatang sembah. Para bupati pesisir dan pembesar daerah dari empat penjuru. Habis berbakti sembah, kembali mereka semua duduk rapi teratur. Sri Nata Paguhan paling dahulu menghaturkan sajian makanan sedap Bersusun timbun seperti pohon, dan sirih bertutup kain sutera Persembahan raja Matahun arca banteng putih seperti lembu. Nandini. Terus menerus memuntahkan harta dan makanan dari nganga mulutnya. raja Wengker mempersembahkan sajian berupa rumah dengan taman bertingkat Disertai penyebaran harta di lantal balai besar berhambur-hamburan.
    Elok persembahan raja Tumapel berupa wanita cantik manis Dipertunjukkan selama upacara untuk mengharu-rindukan hati. Paling haibat persembahan Sri Paduka berupa gunung besar. Mandara Digerakkan oleh sejumlah dewa dan danawa dahsyat menggusarkan pandang Ikan lambora besar beriembak-lembak mengebaki kolam bujur lebar Bagaikan sedang mabuk diayun gelombang, di tengah-tengah lautan besar. Tiap hari persajian makanan yang dipersembahkan dibagi-bagi. Agar para wanita, Mahamantri Agung, pendeta dapat makanan sekenyangnya Tidak terlangkahi para kesatria, arya dan para abdi di pura. Tak putusnya makanan sedap nyaman diedarkan kepada bala tentara. Pada hari keenam pagi Sri Paduka bersiap mempersembahkan persajian. Pun para kesatria dan pembesar mempersembahkan rumah- rumahan yang terpikul.
    Dua orang pembesar mempersembahkan perahu yang melukiskan kutipan kidung. Seperahu sungguh besarnya, diiringi gong dan bubar mengguntur menggembirakan. Esoknya patih mangkubumi Gajah Mada sore-sore menghadap sambi menghaturkan. Sajian wanita sedih merintih di bawah nagasari dibelit rajasa. Mahamantri Agung, arya, bupati, pembesar desa pun turut menghaturkan persajian. Berbagai ragamnya, berduyun-duyun ada yang berupa perahu, gunung, rumah, ikan. Sungguh-sungguh mengagumkan persembahan Sri Paduka Prabu pada hari yang ketujuh. Beliau menabur harta, membagi-bagi bahan pakaian dan hidangan, makanan. Luas merata kepada empat kasta, dan terutama kepada para pendeta. Hidangan jamuan kepada pembesar, abdi dan niaga mengalir bagai air. Gemeruduk dan gemuruh para penonton dari segenap arah, berdesak-sesak. Ribut berebut tempat melihat peristiwa di balai agung serta para luhur. Sri Nata menari di balai witana khusus untuk para putri dan para istri. Yang duduk rapat rapi berimpit ada yang ngelamun karena tercengang memandang.
    Segala macam kesenangan yang menggembirakan hati rakyat diselenggarakan. Nyanyian, wayang, topeng silih berganti setiap hari dengan paduan suara. Tari perang prajurit yang dahsyat berpukul-pukulan, menimbulkan gelak-mengakak. Terutama derma kepada orang yang menderita membangkitkan gembira rakyat. Pesta serada yang diselenggarakan serba meriah dan khidmat. Pasti membuat gembira jiwa Sri Padukapatni yang sudah mangkat. Semoga beliau melimpahkan barkat kepada Sri Paduka Prabu Sehingga jaya terhadap musuh selama ada bulan dan surya. Paginya pendeta Buda datang menghormati, memuja dengan sloka. Arwah Prajnyaparamita yang sudah berpulang ke Budaloka. Segera arca bunga diturunkan kembali dengan upacara. Segala macam makanan dibagikan kepada segenap abdi. Lodang lega rasa Sri Paduka melihat perayaan langsung lancar. Karya yang masih menunggu, menyempurnakan candi di Kamal Pandak. Tanahnya telah disucikan tahun 1274. Dengan persajian dan puja kepada Brahma oleh Jnyanawidi.
    Demikian sejarah Kamal menurut tutur yang dipercaya. Dan Sri Nata Panjalu di Daha, waktu bumi Jawa dibelah. Karena cinta Sinuwun Prabu Airlangga kepada dua putranya. Ada pendeta Budamajana putus dalam tantra dan yoga. Diam di tengah kuburan lemah Citra, jadi pelindung rakyat. Waktu ke Bali berjalan kaki, tenang menapak di air lautan. Hyang Empu Barada nama beliau, faham tentang tiga zaman. Girang beliau menyambut permintaan Airlangga membelah negara. Tapal batas negara ditandai air kendi mancur dari langit. Dari barat ke timur sampai laut, sebelah utara, selatan. Yang tidak jauh, bagaikan dipisahkan oleh samudera besar. Turun dari angkasa sang pendeta berhenti di pohon asam. Selesai tugas kendi suci ditaruhkan di dusun Palungan. Marah terhambat pohon asam tinggi yang puncaknya mengait jubah.
    Mpu Barada terbang lagi, mengutuk asam agar jadi kerdil. Itulah tugu batas gaib, yang tidak akan mereka lalui. Itu pula sebabnya dibangun candi, memadu Jawa lagi. Semoga Sri Paduka serta rakyat tetap tegak, teguh, waspada. Berjaya dalam memimpin negara, yang sudah bersatu padu. Prajnya Paramita Puri itulah nama candi pasareyan yang dibangun. Arca Sri Padukapatni diberkahi oleh Sang pendeta Jnyanawidi. Telah lanjut usia, faham akan tantra, menghimpun ilmu agama, laksana titisan Empu Barada, menggembirakan hati Sri Paduka. Di Bayalangu akan dibangun pula candi pasareyan Sri Padukapatni. Pendeta Jnyanawidi lagi yang ditugaskan memberkahi tanahnya. Rencananya telah disetujui oleh sang Mahamantri Agung demung. Boja Wisesapura namanya, jika candi sudah sempurna dibangun. Candi pasareyan Sri Padukapatni tersohor sebagai tempat keramat. Tiap bulan Badrapada disekar oleh para Mahamantri Agung dan pendeta. Di tiap daerah rakyat serentak membuat peringatan dan memuja. Itulah suarganya, berkat berputra, bercucu narendra utama.
    Tersebut pada tahun Saka 1285, Sri Paduka menuju Simping demi pemindahan candi makam. Siap lengkap segala persajian tepat menurut adat. Pengawasnya Rajaparakrama memimpin upacara. Faham tentang tatwopadesa dan kepercayaan Siwa. Memangku jabatannya semenjak mangkat Kerta Rajasa. Ketika menegakkan menara dan mekala gapura. Bangsawan agung Arya Krung, yang diserahi menjaganya. Sekembalinya dari Simping segera masuk ke pura. Terpaku mendengar AdiMahamantri Agung Gajah Mada gering. Pernah mencurahkan tenaga untuk keluhuran Jawa. Di pulau Bali serta kota Sadeng memusnahkan musuh. Tahun Saka 1253 beliau mulai memikul tanggung jawab. Tahun 1286 Saka beliau mangkat, Sri Paduka gundah, terharu bahkan putus asa.
    Sang dibyacita Gajah Mada cinta kepada sesama tanpa pandang bulu. Insaf bahwa hidup ini tidak baka karenanya beramal tiap hari. Sri Paduka segera bermusyawarah dengan kedua rama serta bunda. Kedua adik dan kedua ipar tentang calon pengganti Ki Patih Mada. Yang layak akan diangkat hanya calon yang sungguh mengenal tabiat rakyat. Lama timbang-menimbang, tetapi seribu sayang tidak ada yang memuaskan. Sri Paduka berpegang teguh, AdiMahamantri Agung Gajah Mada tak akan diganti. Bila karenanya timbul keberatan beliau sendiri bertanggung jawab. Mernilih enam Mahamantri Agung yang menyampaikan urusan negara ke istana. Mengetahui segala perkara, sanggup tunduk kepada pimpinan. Sri Paduka. Itulah putusan rapat tertutup. Hasil yang diperoleh perundingan. Terpilih sebagai wredaMahamantri Agung. Karib Sri Paduka bernama Empu Tandi. Penganut karib Sri Baginda. Pahlawan perang bernama Empu Nala. Mengetahui budi pekerti rakyat.
    Mancanegara bergelar tumenggung. Keturunan orang cerdik dan setia. Selalu memangku pangkat pahlawan. Pernah menundukkan negara Dompo. Serba ulet menanggulangi musuh. Jumlahnya bertambah dua Mahamantri Agung. Bagai pembantu utama Sri Paduka. Bertugas mengurus soal perdata. Dibantu oleh para upapati. Empu Dami menjadi Mahamantri Agung muda. Selalu ditaati di istana. Empu Singa diangkat sebagai saksi. Dalam segala perintah Sri Paduka. Demikian titah Sri Baginda. Puas, taat teguh segenap rakyat. Tumbuh tambah hari setya baktinya. Karena Sri Paduka yang memerintah. Sri Paduka makin keras berusaha untuk dapat bertindak lebih. Dalam pengadilan tidak serampangan, tapi tepat mengikut undang-undang. Adil segala keputusan yang diambil, semua pihak merasa puas. Mashur nama beliau, mampu menembus jaman, sungguhlah titiaan batara. Candi pasareyan serta bangunan para leluhur sejak zaman dahulu kala. Yang belum siap diselesaikan, dijaga dan dibina dengan saksama.
    Yang belum punya prasasti, disuruh buatkan Serat Kekancingan pada ahli sastra. Agar kelak jangan sampai timbul perselisihan, jikalau sudah temurun. Jumlah candi pasareyan raja seperti berikut, mulai dengan Kagenengan. Disebut pertama karena tertua : Tumapel, Kidal, Jajagu, Wedwawedan. Di Tuban, Pikatan, Bakul, Jawa-jawa, Antang Trawulan, Katang Brat dan Jago. Lalu Balitar, Sila Petak, Ahrit, Waleri, Bebeg, Kukap, Lumbang dan Puger. pasareyan rani : Kamal Pandak, Segala, Simping. Sri Ranggapura serta candi Budi Kuncir. Bangunan baru Prajnya Paramita Puri. Di Bayatangu yang baru saja dibangun. Itulah dua puluh tujuh candi raja. Pada Saka tujuh guru candra (1287) bulan Badra. Dijaga petugas atas perintah raja. Diawasi oleh pendeta ahli sastra. Pembesar yang bertugas mengawasi seluruhnya sang Wiradikara.
    Orang utama, yang saksama dan tawakal membina semua candi. Setia kepada Sri Paduka, hanya memikirkan kepentingan bersama Segan mengambil keuntungan berapa pun penghasilan candi makam. Desa-desa perdikan ditempatkan di bawah perlindungan Sri Paduka. Darmadyaksa kasewan bertugas membina tempat ziarah dan pemujaan. Darmadyaksa kasogatan disuruh menjaga biara kebudaan. Mahamantri Agung her-haji bertugas memelihara semua pertapan. Desa perdikan Siwa yang bebas dari pajak : biara relung Kunci, Kapulungan Roma, Wwatan, Iswaragreha, Palabdi, Tanjung, Kutalamba, begitu pula Taruna Parhyangan, Kuti Jati, Candi lima, Nilakusuma, Harimandana, Utamasuka Prasada-haji, Sadang, Panggumpulan, Katisanggraha, begitu pula Jayasika. Tak ketinggalan: Spatika, Yang Jayamanalu, Haribawana, Candi Pangkal, Pigit Nyudonta, Katuda, Srangan, Kapukuran, Dayamuka, Kalinandana, Kanigara Rambut, Wuluhan, Kinawung, Sukawijaya, dan lagi Kajaha, demikian pula Campen, Ratimanatasrama, Kula, Kaling, ditambah sebuah lagi Batu Putih.
    Desa perdikan kasogatan yang bebas dari pajak : Wipulahara, Kutahaji Janatraya, Rajadanya, Kuwanata, Surayasa, Jarak, Lagundi serta Wadari Wewe Pacekan, Pasaruan, Lemah Surat, Pamanikan, Srangan serta Pangiketan Panghawan, Damalang, Tepasjita, Wanasrama, Jenar, Samudrawela dan Pamulang. Baryang, Amretawardani, Wetiwetih. Kawinayan, Patemon serta Kanuruhan Engtal, Wengker. Banyu Jiken, Batabata. Pagagan, Sibok dan Engtal. Wengker, Banyu Jiken, Batabata. Pagagan, Sibok dan Padurungan. Pindatuha, Telang, Suraba, itulah yang terpenting, sebuah lagi. Sukalila Tak disebut perdikan tambahan seperti Pogara. Kulur, Tangkil dan sebagainya. Selanjutnya disebut berturut desa kebudaan Bajradara : Isanabajra, Naditata, Mukuh, Sambang, Tanjung. Amretasaba Bangbang, Bodimula, Waharu Tampak, serta Puruhan dan Tadara Tidak juga terlangkahi Kumuda. Ratna serta Nadinagara. Wungaiaya, Palandi, Tangkil.
    Asahing, Samici serta Acitahen Nairanjana, Wijayawaktra, Mageneng. Pojahan dan Balamasin. Krat, Lemah Tulis, Ratnapangkaya, Panumbangan. serta Kahuripan Ketaki, Telaga Jambala, Jungul ditambah lagi Wisnuwala. Badur, Wirun, Wungkilur. Mananggung, Watukura serta Bajrasana Pajambayan. Salanten, Simapura, Tambak Laleyan, Pilanggu Pohaji, Wangkali, Biru. Lembah, Dalinan, Pangadwan yang terakhir. Itulah desa kebudaan Bajradara yang sudah berprasasti. Desa keresian seperti berikut : Sampud, Rupit dan Pilan Pucangan, Jagadita, Pawitra, masih sebuah lagi Butun. Di situ terbentang taman didirikan lingga dan saluran air. Yang Mulia Mahaguru demiklan sebutan beliau. Yang diserahi tugas menjaga sejak dulu menurut Serat Kekancingan. Selanjutnya desa perdikan tanpa candi, di antaranya yang penting : Bangawan, Tunggal, Sidayatra, Jaya Sidahajeng, Lwah Kali dan Twas. Wasista, Palah, Padar, Siringan, itulah desa perdikan Siwa.
    Wangjang, Bajrapura. Wanara, Makiduk, Hanten, Guha dan Jiwa Jumpud. Soba, Pamuntaran, dan Baru, perdikan Buda utama. Kajar, Dana Hanyar, Turas, Jalagiri, Centing, Wekas Wandira, Wandayan. Gatawang : Kulampayan dan Talu, pertapan resi. Desa perdikan Wisnu berserak di Batwan serta Kamangsian Batu Tanggulian. Dakulut, Galuh, Makalaran, itu yang penting Sedang, Medang. Hulun Hyan, Parung, langge, Pasajan, Kelut. Andelmat Paradah, Geneng, Panggawan, sudah sejak lama bebas pajak. Terlewati segala dukuh yang terpencar di seluruh Jawa. Begitu pula asrama tetap yang bercandi serta yang tidak. Yang bercandi menerima bantuan tetap dari Sri Paduka Prabu. Begitu juga dukuh pengawas, tempat belajar upacara.
    Telah diteliti sejarah berdirinya segala desa di Jawa. Perdikan candi, tanah pusaka, daerah dewa, biara dan dukuh. Yang berSerat Kekancingan dipertahankan, yang tidak, segera diperintahkan. Pulang kepada dewan desa di hadapan Sang Arya Ranadiraja. Segenap desa sudah diteliti menurut perintah raja Wengker raja Singasari bertitah mendaftar jiwa serta seluk salurannya. Petugas giat menepati perintah, berpegang kepada aturan Segenap penduduk Jawa patuh mengindahkan perintah Sri Paduka Prabu. Semua tata aturan patuh diturut oleh pulau Bali. Candi, asrama, pesanggrahan telah diteliti sejarah tegaknya Pembesar kebudaan Badahulu. Badaha lo Gajah ditugaskan. Membina segenap candi, bekerja rajin dan mencatat semuanya. Perdikan kebudaan Bali seperti berikut, biara Baharu (hanyar). Kadikaranan, Purwanagara, Wiharabahu, Adiraja, Kuturan. Itulah enam kebudaan Bajradara, biara kependetaan. Terlangkahi biara dengan bantuan negara seperti Aryadadi. Berikut candi pasareyan di Bukit Sulang lemah lampung, dan Anyawasuda Tatagatapura, Grehastadara, sangat mashur, dibangun atas Serat Kekancingan. Pada tahun Saka 1260 oleh Sri Paduka Jiwana.
    Yang memberkahi tanahnya, membangun candinya : upasaka wreda mentri. Semua perdikan dengan bukti prasasti dibiarkan tetap berdiri. Terjaga dan terlindungi segala bangunan setiap orang budiman. Demikianlah tabiat raja utama, berjaya, berkuasa, perkasa. Semoga kelak para raja sudi membina semua bangunan suci. Maksudnya agar musnah semua durjana dari muka bumi laladan. Itulah tujuan melintas, menelusur dusun-dusun sampai di tepi laut. Menenteramkan hati pertapa, yang rela tinggal di pantai, gunung dan hutan. Lega bertapa brata dan bersamadi demi kesejahteraan negara. Besarlah minat Sri Paduka untuk tegaknya tripaksa. Tentang Serat Kekancingan beliau besikap agar tetap diindahkan. Begitu pula tentang pengeluaran undang-undang, supaya laku utama, tata gila dan adat-tutur diperhatikan. Itulah sebabnya sang caturdwija mengejar laku utama. Resi, Wipra, pendeta Siwa Buda teguh mengindahkan tutur.
    Catur asrama terutama catur basma tunduk rungkup tekun melakukan tapa brata, rajin mempelajari upacara. Semua anggota empat kasta teguh mengindahkan ajaran. Para Mahamantri Agung dan arya pandai membina urusan negara. Para putri dan satria berlaku sopan, berhati teguh. Waisya dan sudra dengan gembira menepati tugas darmanya. Empat kasta yang lahir sesuai dengan keinginan. Hyang Maha Tinggi Konon tunduk rungkup kepada kuasa dan perindah Sri Paduka Teguh tingkah tabiatnya, juga ketiga golongan terbawah. Gandara, Mleca dan Tuca mencoba mencabut cacad-cacadnya. Demikianlah tanah Jawa pada zaman pemerintahan Sri Nata. Penegakan bangunan-bangunan suci membuat gembira rakyat Sri Paduka menjadi teladan di dalam menjalankan enam darma. Para ibu kagum memandang, setuju dengan tingkah laku Sang Prabu. Sri Nata Singasari membuka ladang luas di daerah Sagala. Sri Nata Wengker membuka hutan Surabana, Pasuruan, Pajang.
    Mendirikan perdikan Buda di Rawi, Locanapura, Kapulungan Sri Paduka sendiri membuka ladang Watsari di Tigawangi. Semua Mahamantri Agung mengenyam tanah palenggahan yang cukup luas Candi, biara dan lingga utama dibangun tak ada putusnya. Sebagai tanda bakti kepada dewa, leluhur, para pendeta. Memang benar budi luhur tertabur mengikuti jejak Sri Nata. Demikianlah keluhuran Sri Paduka ekanata di Wilwatikta. Terpuji bagaikan bulan di musim gugur, terlalu indah terpandang Durjana laksana tunjung merah, sujana seperti teratai putih. Abdi, harta, kereta, gajah, kuda berlimpah-limpah bagai samudera. Bertambah mashur keluhuran pulau Jawa di seluruh jagad raya. Hanya Jambudwipa dan pulau Jawa yang disebut negara utama Banyak pujangga dan dyaksa serta para upapati, tujuh jumlahnya Panji Jiwalekan dan Tengara yang meronjol bijak di dalam kerja. Mashurlah nama pendeta Brahmaraja bagai pujangga, ahli tutur.
    Putus dalam tarka, sempurna dalam seni kata serta ilmu naya Hyang brahmana, sopan, suci, ahli weda menjalankan nam laku utama Batara Wisnu dengan cipta dan mentera membuat sejahtera negara. Itulah sebabnya berduyun-duyun tamu asing datang berkunjung Dari Jambudwipa, Kamboja, Cina, Yamana, Campa dan Karnataka Goda serta Siam mengarungi lautan bersama para pedagang Resi dan pendeta, semua merasa puas, menetap dengan senang. Tiap bulan Palguna Sri Nata dihormat di seluruh negara. Berdesak-desak para pembesar, empat penjuru, para prabot desa Hakim dan pembantunya, bahkan pun dari Bali mengaturkan upeti. Pekan penuh sesak pembeli, penjual, barang terhampar di dasaran. Berputar keliling gamelan dalam tanduan diarak rakyat ramai Tiap bertabuh tujuh kali, pembawa sajian menghadap ke pura Korban api, ucapan mantra dilakukan para pendeta Siwa-Buda. Mulai tanggal delapan bulan petang demi keselamatan Sri Paduka.
    Tersebut pada tanggal empatbelas bulan petang. Sri Paduka berkirap. Selama kirap keliling kota busana. Sri Paduka serba kencana. Ditatatng jempana kencana, panjang berarak beranut runtun. Mahamantri Agung, sarjana, pendeta beriring dalam pakaian seragam. Mengguntur gaung gong dan salung, disambut terompet meriah sahut-menyahut Bergerak barisan pujangga menampung beliau dengan puja sloka. Gubahan kawi raja dari pelbagai kota dari seluruh Jawa. Tanda bukti Sri Paduka perwira bagai Rama, mulia bagai Sri Kresna. Telah naik Sri Paduka di takhta mutu-manikam, bergebar pancar sinar. Seolah-olah Hyang Trimurti datang mengucapkan puji astuti. Yang nampak, semua serba mulia, sebab Sri Paduka memang raja agung. Serupa jelmaan. Sang Sudodanaputra dari Jina bawana. Sri nata Pajang dengan sang permaisuri berjalan paling muka. Lepas dari singasana yang diarak pengiring terlalu banyak.
    Mahamantri Agung Pajang dan Paguhan serta pengiring jadi satu kelompok. Ribuan jumlahnya, berpakaian seragam membawa panji dan tunggul. raja Lasem dengan permaisuri serta pengiring di belakangnya. Lalu raja Kediri dengan permaisuri serta Mahamantri Agung dan tentara. Berikut maharani Jiwana dengan suami dan para pengiring. Sebagai penutup Sri Paduka dan para pembesar seluruh Jawa. Penuh berdesak sesak para penonton ribut berebut tempat. Di tepi jalan kereta dan pedati berjajar rapat memanjang. Tiap rumah mengibarkan bendera, dan panggung membujur sangat panjang. Penuh sesak wanita tua muda, berjejal berimpit-impitan. Rindu sendu hatinya seperti baru pertama kali menonton. Terlangkahi peristiwa pagi, waktu Baginda mendaki setinggil. Pendeta menghaturkan kendi berisi air suci di dulang berukir. Mahamantri Agung serta pembesar tampil ke muka menyembah bersama-sama. Tanggal satu bulan Caitra bala tentara berkumpul bertemu muka. Mahamantri Agung, perwira, para arya dan pembantu raja semua hadir.
    Kepala daerah, ketua desa, para tamu dari luar kota. Begitu pula para kesatria, pendeta dan brahmana utama. Maksud pertemuan agar para warga mengelakkan watak jahat. Tetapi menganut ajaran raja Kapa Kapa, dibaca tiap Caitra. Menghindari tabiat jahat, seperti suka mengambil milik orang. Memiliki harta benda dewa, demi keselamatan masyarakat. Dua hari kemudian berlangsung perayaan besar. Di utara kota terbentang lapangan bernama Bubat. Sering dikunjungi Sri Paduka, naik tandu bersudut Singa. Di arak abdi berjalan, membuat kagum tiap orang. Bubat adalah lapangan luas lebar dan rata. Membentang ke timur setengah krosa sampai jalan raya. Dan setengah krosa ke utara bertemu.tebing sungai. Dikelilingi bangunan Mahamantri Agung di dalam kelompok. Menjulang sangat tinggi bangunan besar di tengah padang. Tiangnya penuh berukir dengan isi dongengan parwa. Dekat di sebelah baratnya bangunan serupa istana.
    Tempat menampung Sri Paduka di panggung pada bulan Caitra. Panggung berjajar membujur ke utara menghadap barat. Bagian utara dan selatan untuk raja dan arya. Para Mahamantri Agung dan dyaksa duduk teratur menghadap timur. Dengan pemandangan bebas luas sepanjang jalan raya. Di situlah Sri Paduka memberi rakyat santapan mata. Pertunjukan perang tanding, perang pukul. desuk-mendesuk Perang keris, adu tinju tarik tambang, menggembirakan. Sampai tiga empat hari lamanya baharu selesai. Seberangkat Sri Paduka. sepi lagi, panggungnya dibongkar. Segala perlombaan bubar, rakyat pulang bergembira. Pada Caitra bulan petang Sri Paduka menjgmu para pemenang. Yang pulang menggondol pelbagai hadiah bahan pakaian. Segenap ketua desa dan wadana tetap tinggal, paginya mereka. Dipimpin Arya Ranadikara menghadap Sri Paduka minta diri di pura Bersama Arya Mahadikara, kepala pancatanda dan padelegan. Sri Paduka duduk di atas takhta, dihadap para abdi dan pembesar.
    Berkatalah Sri nata Wengker di hadapan para pembesar dan wedana : “Wahai, tunjukkan cinta serta setya baktimu kepada Sri Paduka Prabu Cintailah rakyat bawahanmu dan berusahalah memajukan dusunmu Jembatan, jalan raya, beringin, bangunan dan candi supaya dibina. Terutama dataran tinggi dan sawah, agar tetap subur, peliharalah Perhatikan tanah rakyat jangan sampai jatuh di tangan petani besar. Agar penduduk jangan sampai terusir dan mengungsi ke desa tetangga. Tepati segala peraturan untuk membuat desa bertambah besar. Sri nata Kerta Wardana setuju dengan anjuran memperbesar desa. Harap dicatat nama penjahat dan pelanggaran setiap akhir bulan. Bantu pemeriksaan tempat durjana terutama pelanggar susila.
    Agar bertambah kekayaan Sri Paduka demi kesejahteraan negara. Kemudian bersabda Sri Baginda Wilwatikta memberi anjuran : “Para budiman yang berkunjung kemari, tidak boleh dihalang-halangi. Rajakarya terutama bea-cukai, pelawang supaya dilunasi. Jamuan kepada para tetamu budiman supaya diatur pantas. Undang-undang sejak pemerintahan ibunda harus ditaati. Hidangan makanan sepanjang hari harus dimasak pagi-pagi. Jika ada tamu loba tamak mengambil makanan, merugikan. Biar mengambilnya, tetapi laporkan namanya kepada saya. Negara dan desa berhubungan rapat seperti singa dan hutan. Jika desa rusak, negara akan kekurangan bahan makanan. Kalau tidak ada tentara, negara lain mudah menyerang kita. Karenanya peliharalah keduanya, itu perintah saya “
    Begitu perintah Sri Paduka kepada wadana, yang tunduk mengangguk Sebagai tanda mereka sanggup mengindahkan perintah beliau. Mahamantri Agung upapati serta para pembesar menghadap bersama. Tepat pukul tiga mereka berkumpul untuk bersantap bersama. Bangunan sebelah timur laut telah dihiasi gilang cemerlang. Di tiga ruang para wadana duduk teratur menganut sudut. Santapan sedap mulai dihidangkan di atas dulang serba emas Segera deretan depan berhadap-hadapan di muka Sri Paduka. Santapan terdiri dari daging kambing, kerbau, burung, rusa, madu, Ikan, telur, domba menurut adat agama dari zaman purba. Makanan pantangan : daging anjing, cacing, tikus, keledai dan katak. Jika dilanggar mengakibatkan hinaan musuh, mati dan noda. Dihidangkan santapan untuk orang banyak. Makanan serba banyak serta serba sedap. Berbagai-bagai ikan laut dan ikan tambak. Berderap cepat datang menurut acara. Daging katak, cacing, keledai, tikus, anjing. Hanya dihidangkan kepada para penggemar. Karena asalnya dari pelbagai desa.
    Mereka diberi kegemaran, biar puas. Mengalir pelbagai minuman keres segar. Tuak nyiur, tal, arak kilang, brem, tuak rumbya. Itulah hidangan yang utama. Wadahnya emas berbentuk aneka ragam. Porong dan guci berdiri terpencar-pencar. Berisi aneka minuman keras dari aneka bahan. Beredar putar seperti air yang mengelir. Yang gemar minum sampai muntah serta mabuk. Meluap jamuan Sri Paduka dalam pesta. Hidangan mengalir menghampiri tetamu. Dengan sabar segala sikap dizinkan. Penyombong, pemabuk jadi buah gelak tawa. Merdu merayu nyanyian para biduan. Melagukan puji-pujian Sri Paduka. Makin deras peminum melepaskan nafsu. Habis lalu waktu, berhenti gelak gurau.
    Pembesar daerah angin membadut dengan para lurah. Diikuti lagu, sambil bertandak memilih pasangan. Seolah tingkahnya menarik gelak, menggelikan pandangan. Itulah sebabnya mereka memperoleh hadiah kain. Disuruh menghadap Sri Paduka, diajak minum bersama. Mahamantri Agung upapati berurut mengelir menyanyi. Nyanyian Menghuri Kandamuhi dapat bersorak pujian. Sri Paduka berdiri, mengimbangi ikut melaras lagu. Tercengang dan terharu hadirin mendengar suar merdu. Semerebak meriah bagai gelak merak di dahan kayu. Seperti madu bercampur dengan gula terlalu sedap manis. Resap menghalu kalbu bagai desiran buluh perindu. Arya Ranadikara lupa bahwa Sri Paduka berlagu. Bersama Arya Ranadikara mendadak berteriak. Bahwa para pembesar ingin belia menari topeng. “Ya!” jawab beliau, segera masuk untuk persiapan.
    Sri Kerta Wardana tampil kedepan menari panjak. Bergegas lekas panggung di siapkan ditengah mandapa. Sang permaisuri berhias jamang laras menyanyikan lagu. Luk suaranya mengharu rindu, tinglahnya memikat hati. Bubar mereka itu ketika Sri Paduka keluar. Lagu rayuan Sri Paduka bergetar menghanyutkan rasa. Diiringkan rayuan sang permaisuri rapi rupendah. Resap meremuk rasa, merasuk tulang sungsum pendengar. Sri Paduka warnawan telah mengenakan tampuk topeng. Delapan pengirignya di belakang, bagus, bergs, pantas. Keturunan Arya, bijak cerdas, sopan tingkah lakunya. Itulah sebabnya benyolannya selalu kena. Tari sembilan orang telah dimulai dengan banyolan. Gelak tawa terus menerus, sampai perut kaku beku. Babak yang sedih meraih tangis, mengaduk haru dan rindu. Tepat mengenai sasaran, menghanyutkan hati penonton. Silam matahari waktu lingsir, perayaan berakhir. Para pembesar meminta diri mencium duli paduka. Katanya :”lenyap duka oleh suka, hilang dari bumi!”. Terlangkahi pujian Sri Paduka waktu masuk istana.
    Demikianlah suka mulia Sri Paduka Prabu di pura, tercapai segala cita. Terang Sri Paduka sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat dan negara. Meskipun masih muda dengan suka rela berlaku bagai titisan Buda. Dengan laku utama beliaumemadamkan api kejahatan durjana. Terus membumbung ke angkasa kemashuran dan keperwiraan Sri Paduka. Sungguh beliau titisan Batara Girinata untuk menjaga buana. Hilang dosanya orang yang dipandang, dan musnah letanya abdi yang disapa. Itulah sebabnya keluhuran beliau mashur terpuji di tiga jagad. Semua orang tinggi, sedang, rendah menuturkan kata-kata pujian. Serta berdo’a agar Sri Paduka tetap subur bagai gunung tempat berlindung. Berusia panjang sebagai bulan dan matahari cemerlang menerangi bumi.
    Semua pendeta dari tanah asing menggubah pujian Sri Paduka. Sang pendeta Budaditya menggubah rangkaian seloka Bogawali. Tempat tumpah darahnya Kancipuri di Sadwihara di Jambudwipa. Brahmana Sri Mutali Saherdaya menggubah pujian seloka indah. Begitu pula para pendeta di Jawa, pujangga, sarjana sastra. Bersama-sama merumpaka seloka puja sastra untuk nyanyian. Yang terpenting puja sastra di prasasti, gubahan upapati Sudarma. Berupa kakawin, hanya boleh diperdengarkan di dalam istana. Mendengar pujian para pujangga pura bergetar mencakar udara. Empu Prapanca bangkit turut memuji Sri Paduka meski tak akan sampai pura.
    Maksud pujiannya, agar Sri Paduka gembira jika mendengar gubahannya. Berdoa demi kesejahteraan negara, terutama Sri Paduka dan rakyat. Tahun Saka 1287 bulan Aswina hari purnama. Siaplah kakawin pujaan tentang perjalanan jaya keliling negara. Segenap desa tersusun dalam rangkaian, pantas disebut Desa Warnana. Dengan maksud, agar Sri Paduka ingat jika membaca hikmat kalimat. Sia-sia lama bertekun menggubah kakawin menyurat di atas daun lontar.
    Yang pertama “Tahun Saka”, yang kedua “Lambang” kemudian “Parwasagara”. Berikut yang keempat “Bismacarana”, akhirnya cerita “Sugataparwa”. Lambang dan Tahun Saka masih akan diteruskan, sebab memang belum siap. Meskipun tidak semahir para pujangga di dalam menggubah kakawin. Terdorong cinta bakti kepada Sri Paduka, ikut membuat puja sastra berupa karya kakawin, sederhana tentang rangkaian sejarah desa. Apa boleh buat harus berkorban rasa, pasti akan ditertawakan.
    Nasib badan dihina oleh para bangsawan, canggung tinggal di dusun. Hati gundah kurang senang, sedih, rugi tidak mendengar ujar manis. Teman karib dan orang budiman meninggalkan tanpa belas kasihan. Apa gunanya mengenal ajaran kasih, jika tidak diamalkan? Karena kemewahan berlimpah, tidak ada minat untuk beramal. Buta, tuli, tak nampak sinar memancar dalam kesedihan, kesepian. Seyogyanya ajaran sang Begawan diresapkan bagai sepegangan. Mengharapkan kasih yang tak kunjung datang, akan membawa mati muda. Segera bertapa brata di lereng gunung, masuk ke dalam hutan. Membuat rumah dan tempat persajian di tempat sepi dan bertapa. Halaman rumah ditanami pohon kamala, asana, tinggi-tinggi. Memang Kamalasana nama dukuhnya sudah sejak lama dikenal.
    Prapanca itu pra lima buah. Cirinya: cakapnya lucu. Pipinya sembab, matanya ngeliyap. Gelaknya terbahak-bahak. Terlalu kurang ajar, tidak pantas ditiru. Bodoh, tak menurut ajaran tutur. Carilah pimpinan yang baik dalam tatwa. Pantasnya ia dipukul berulang kali. Ingin menyamai Empu Winada. Mengumpulkan harta benda. Akhirnya hidup sengsara. Tapi tetap tinggal tenang. Winada mengejar jasa. Tanpa ragu wang dibagi. Terus bertapa berata. Mendapat pimpinan hidup. Sungguh handal dalam yuda. Yudanya belum selesai. Ingin mencapai nirwana. Jadi pahlawan pertapa.
    Beratlah bagi para pujangga menyamai Winada, bertekun dalam tapa. Membalas dengan cinta kasih perbuatan mereka yang senang menghina orang-orang yang puas dalam ketetnangan dan menjauhkan diri dari segala tingkah, menjauhkan diri dari kesukaan dan kewibawaan dengan harapan akan memperoleh faedah. Segan meniru perbuatan mereka yang dicacad dan dicela di dalam pura.[]
    Source: http://religi.wordpress.com/2007/03/16/kitab-negara-kertagama-terjemahan/
    Ditulis dalam Budaya

    BalasHapus
  46. Rizki Norfitriana3 April 2009 00.05

    Nama : Rizki Norfitriana
    NIM : 2102408059
    Rombel : 2

    Serat Wulangrèh

    Serat Wulang Rèh, kuwi karya Jawa klasik tinggalan Paku Buwana IV( 1768 – 1820 ), arupa puisi tembang macapat, jroning basa Jawa anyar kang tinulis ing taun 1768 nganti taun 1820 ing Kraton Kasunanan Surakarta. Isi teks bab ajaran ètika manungsa idéal kang ditujokaké marang kulawarga raja, kaum bangsawan lan hamba ing kraton Surakarta. Ajaran ètika kang ana ing njeroné minangka ètika kang idéal, kang dianggep minangka paugeran urip masarakat Jawa, utamané ing lingkungan Kraton Surakarta. Miturut Serat Wulangrèh, hubungan sosial isih ngugemi sipat tradhisional kanthi urutan miturut umur, pangkat, bandha, lan awu ’tali kekerabatan’. Konflik tinarbuka sak bisa-bisané diendhani. Donya lair kang ideal yakuwi donya kang saimbang lan selaras, kaya déné kasaimbangan lan kaselarasan lair lan batin. Urip ora bakal nandang cacat yèn batiné tetep waspada. Kawaspadan batin kang terus terusan iku bakal nyegah tingkah laku, wicara lan celathu sing kurang patut. Ngurangi mangan lan turu iku minangka latihan kang utama kanggo ngéntukaké kawaspadan batin. Saliyané kawaspadan batin uga diendhani watak sing ora apik, yaiku watak adigang, adigung lan adiguna. Suwaliké kudu miara watak “ rèh “, sabar lan “ ririh “ , ora kesusu lan ati-ati. Kalakuan kang nguntungaké awaké dhéwé lan ngrugèkaké liyan kudu diendhani, ngapusi (dora), nyengit lan sawenang-wenang kudu diadohi. Yèn batiné wis waspada, tingkah lakuné kudu sopan, tingkah laku sopan yakuwi tingkah laku kang :
    • Deduga, ditimbang kanthi premana sadurungé njangkah
    • Prayoga, ditimbang apik alané
    • Watara, dipikir mateng sakdurungé mènèhi kaputusan
    • Reringa, sakdurungé yakin tenan tumrap kaputusané iku
    Ana limang perkara kang kudu lan wajib dikurmati yaiku : bapa lan ibu, maratuwa lanang - wadon, sedulur lanang kang paling tuwa, guru lan raja. Pesen lan pitutur marang anak putu:
    1. Patuh lair lan batin marang wong tuwa
    2. Aja gampang mongkog (puas) marang nasib kang ditampa
    3. Takon marang alim ulama bab agama lan Al Qur'an
    4. Takon marang sarjana utawa wong pinter ngenani suba sita lan tata basa.
    5. Sregeb maca kitab-kitab lawas kang isi tuladha lan crita-crita kang becik.
    6. Takon marang wong-wong tuwa bab cara mbédakaké tingkah laku kang apik lan ala, kang nistha lan kang pinuji, kang cendhèk lan kang dhuwur.
    Serat Macapat Dandanggula [1]:
    1. Pamedare wasitaning ati, ujumantaka aniru Pujangga, dahat muda ing batine. Nanging kedah ginunggung, datan wruh yen akeh ngesemi, ameksa angrumpaka, basa kang kalantur, turur kang katula-tula, tinalaten rinuruh kalawan ririh, mrih padanging sasmita.
    2. Sasmitaning ngaurip puniki, mapan ewuh yen ora weruha, tan jumeneng ing uripe, akeh kang ngaku-aku, pangrasane sampun udani, tur durung wruh ing rasa, rasa kang satuhu, rasaning rasa punika, upayanen darapon sampurna ugi, ing kauripanira.
    3. Jroning Quran nggoning rasa yekti, nanging ta pilih ingkang unginga, kajaba lawan tuduhe, nora kena den awur, ing satemah nora pinanggih, mundak katalanjukan, tedah sasar susur, yen sira ajun waskita, sampurnane ing badanira, sira anggugurua.
    4. Nanging yen sira ngguguru kaki, amiliha manungsa kang nyata, ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing chukum, kang ngibadah lan kang wirangi, sokur oleh wong tapa, ingkang wus amungkul, tan mikir pawewehing liyan, iku pantes sira guronana kaki, sartane kawruhana.
    5. Lamun ana wong micareng ngelmi, tan mupakat ing patang prakara, aja sira age-age, anganggep nyatanipun, saringana dipun baresih, limbangen lan kang patang : prakara rumuhun, dalil qadis lan ijemak, lan kijase papat iku salah siji, ana-a kang mupakat.
    6. Ana uga den antepi, yen ucul saka patang prakara, nora enak legetane, tan wurung tinggal wektu, panganggepe wus angengkoki, aja kudu sembah Hajang, wus salat kateng-sun, banjure mbuwang sarengat, batal haram nora nganggo den rawati, bubrah sakehing tata.
    7. Angel temen ing jaman samangkin, ingkang pantes kena ginuronan, akeh wong jaya ngelmune, lan arang ingkang manut, yen wong ngelmu ingkang netepi, ing panggawening sarak, den arani luput, nanging ta asesenengan, nora kena den wor kakarepaneki, pancene prijangga.
    8. Ingkang lumrah ing mangsa puniki, mapan guru ingkang golek sabat, tuhu kuwalik karepe, kang wus lumrah karuhun, jaman kuna mapan si murid, ingkang pada ngupaya, kudu angguguru, ing mengko iki ta nora, Kyai Guru narutuk ngupaya murid, dadiya kantira.

    BalasHapus
  47. NAMA : FITROTIN NI'MAH
    NIM : 2102408057
    ROMBEL : 02

    SERAT MAHA PURWA

    Murwa

    Serat Mahapurwa nyarioskeun lalakon Sang Hyang Adama, Sang Hyang Sita, Sang Hyang Nurcahya, Sang Hyang Nurasa, Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Tunggal, sareng Sang Hyang Manikmaya. Wawaton seratan iyeu ngarujuk kana Serat Paramayoga garapan Pujangga Ranggawarsita di Surakarta anu ngarujuk Serat Jitapsara garapan Begawan Palasara di Astina sareng ngarujuk Pustaka Darya garapan Sang Hyang Nurcahya di Lokadewa.

    Lalakon Sang Hyang Adama

    Kocap kacarita Sang Hyang Adama saparantosna diturunkeun ka alam dunya sareng dihampura dosana, ngadeg raja di Kusniamalabari, ngaratuan sato kewan. Daharna tina pamuja. Sang Hyang Adama nyiptaken taun surya sareng taun candra, teras nyipta Tanajultarki kangge miwitan pepelakan na taun 129 SA atawa taun 133 CA. Teu lami bojona Sang Hyang Adama nyaeta Dewi Hawa babaran kembar dampit putra-putri. Kembar dampit kahiji rupana awon, kadua sae, katilu awon, kaopat sae, kalima awon, kitu saterasna dugi opat puluh dua kali, nanging anu kagenep sareng ka opat puluh hiji teu dampit.

    Saparantosna gaduh putra lima dampit, Sang Hyang Adama bade ngajodokeun putra-putrina. Putra anu gagah dijodokeun sareng putri anu awon. Putri anu geulis dijodokeun sareng putra anu awon. Jadi teu dijodokeun saluyu sareng dampitanna.

    Ari pangersana Dewi Hawa, putra-putrina dijodokeun saluyu sareng dampitanna, anu gagah dijodokeun sareng anu geulis, anu awon sareng anu awon. Jojodoan iyeu jadi pasulaya antara Sang Hyang Adama sareng Dewi Hawa. Pasulayana ngantos rebutan kawasa ngaluarkeun rahsa anu diwadahan ku cupumanik sareng dipujakeun ka Gustina.

    Saparantosna dugi kana wancina, cupumanik dibuka. Rahsa pamuja dina cupumanik Sang Hyang Adama janten babayi nanging ngan raragana wungkul; sedengkeun rahsa pamuja dina cupumanik Dewi Hawa ngawujud getih. Dewi Hawa ngarasa nalangsa ku kaayaan eta.

    Jabang bayi anu aya dina cupumanik Sang Hyang Adama kena ku dihim pinasti janten jabang bayi anu sampurna kacaangan ku cahya nurbuat sareng aya sasmita ti Gusti nami eta jabang bayi teh Sang Hyang Sita. Mantenna suka bungah anu teu aya papadana.

    Teu lami aya gara-gara, cupumanik Sang Hyang Adama katiup angin puyuh lilimbungan tumiba kana teleng sagara hideung. Cupumanik kacekel ku Danyang Azazil, ratu banujan anu ngawasa sagara hideung.

    Ahirna Dewi Hawa manut kana aturan jojodoan Sang Hyang Adama. Sadaya putra-putrina lobana opat puluh dampit, sareng aya anu dua anu teu dampit nyaeta Sang Hyang Sita sareng Dewi Hunun.

    Putra-putri Sang Hyang Adama nyaeta

    Sang Hyang Kabila, Dewi Alima, Sang Hyang Habila, Dewi Damima, Sang Hyang Isrila, Dewi Sarira, Sang Hyang Israwana, Dewi Mona, Sang Hyang Basaradiwana, Dewi Dayuna, Sang Hyang Sita, Sang Hyang Yasita, Dewi Awisa, Sang Hyang Sesana, Dewi Aisa, Sang Hyang Yasmiyana, Dewi Ramsa, Sang Hyang Yanmiyana, Dewi Yarusa, Sang Hyang Suryana, Dewi Siriya, Sang Hyang Amana, Dewi Mahasa, Sang Hyang Kayumarata, Dewi Hindunmaras, Sang Hyang Yajuja, Dewi Majuja, Sang Hyang Lata, Dewi Uzza, Sang Hyang Harata, Dewi Haruti, Sang Hyang Danaba, Dewi Daniba, Sang Hyang Bantasa, Dewi Bintisa, Sang Hyang Somala, Dewi Susia, Sang Hyang Jamaruta dampitanna Dewi Malki, Sang Hyang Tamakala, Dewi Tamakali, Sang Hyang Adana, Dewi Adini, Sang Hyang Harnala, Dewi Harnila, Sang Hyang Samala, Dewi Samila, Sang Hyang Awala, Dewi Awila, Sang Hyang Astala, Dewi Astila, Sang Hyang Nurala, Dewi Nureli, Sang Hyang Nuhkala, Dewi Nuhkali, Sang Hyang Nuskala, Dewi Arki, Sang Hyang Sarkala, Dewi Sarki, Sang Hyang Karala, Dewi Karia, Sang Hyang Dujala, Dewi Dujila, Sang Hyang Katala, Dewi Katili, Sang Hyang Arkala, Dewi Arkali, Sang Hyang Mrihakala, Dewi Mrihakali, Sang Hyang Ardabala, Dewi Ardiati, Sang Hyang Sanala, Dewi Peni, Sang Hyang Pujala, Dewi Puji, Sang Hyang Sasala, Dewi Sasi, Sang Hyang Sahnala, Dewi Sani, Dewi Hunun, Sang Hyang Sahalanala, sareng Dewi Sahini.

    Nanging Sang Hyang Kabila, Dewi Alima, Sang Hyang Basaradiwana, Dewi Dayuna, Sang Hyang Lata, Dewi Uzza, teu manut kana aturan jojodoan Sang Hyang Adama. Sang Hyang Kabila teu saluyu, sareng hoyong dijodokeun ka jodo rayina nyaeta Sang Hyang Habila. Pasulaya rebutan jodo eta dugi ka rebutan pati. Sang Hyang Habila dipaehan ku Sang Hyang Kabila. Saparantosna rayina maot, Sang Hyang Kabila ngahuleng liyeur mikiran kumaha carana ngubur eta layon rayina. Teras aya manuk gaok totoker dina taneuh. Sang Hyang Kabila nurutan manuk gaok ngadamel liang lahat.

    Sang Hyang Kabila sareng bojona Dewi Alima jeung Dewi Damima ditundung ku Sang Hyang Adama, teras ngalalana dugi ka tanah Afrika, disarengan ku rayina Sang Hyang Basaradiwana, sareng Dewi Dayuna. Kitu oge Sang Hyang Yajuja sareng dampitanna Dewi Majuja nyusul Sang Hyang Kabila ka tanah Afrika. Sedengkeun Sang Hyang Lata Sareng Dewi Uzza ngalalana ka tanah Asia.

    Saterasna Sang Hyang Adama ngaratuan sato-kewan sareng anak-turunanna.

    Lalakon Sang Hyang Sita

    Saparantosna dewasa Sang Hyang Sita dipasihan jodo bidadari ku Gusti. Nami bojona Dewi Mulat. Rumahtanggana silih asah silih asih silih asuh.

    Kocap kacarita, Danyang Azazil ratu banujan di Sagara Hideung hoyong ngajodokeun putrina anu namina Dayang Dalajah ka turunan Sang Hyang Adama sangkan bisa ngaratuan bangsa manusa. Danyang Azazil ngaboyong putrina ka Kusniamalabari. Kusaktina Danyang Azazil, putrina malih rupa janten Dewi Mulat. Sedengkeun Dewi Mulat anu asli kasarung leungit tanpa lebih ilang tanpa karana disumputkeu ku Danyang Azazil.

    Kasurung ku gandrung kasorang ku cinta, Sang Hyang Sita saresmi sareng Dewi Mulat mamalihan. Kama manjing ing kenyapuri Dayang Dalajah kena ku dihim pinasti, cabar tina mamalihanana lajeng mulang ka Sagara Hideung sareng ramana Danyang Azazil. Dewi Mulat anu asli parantos katingali deui, sare sareng Sang Hyang Sita.

    Dewi Mulat ngandung jabang bayi. Dina wancina ngalahirkeun, wayah janari Dewi Mulat babaran kembar, anu kahiji mangrupi bayi lalaki, anu kadua mangrupa cahaya. Wanci sarepna dina poe anu sami, Dayang Dalajah oge ngalahirkeun wujudna rahsa, lajeng dibawa ka Kusniamalabari Ku Danyang Azazil.

    Rahsa sareng Cahaya gumulung ngahiji jadi bayi lalaki anu kalimputan ku cahaya gilang gumilang teu tiasa digarayang.

    Eyangna, Sang Hyang Adama masihan aran ka eta bayi kembar. Anu kahiji namina Sang Hyang Nara, anu kadua Sang Hyang Nara, margi kalimputan cahaya katelah Sang Hyang Nurcahya.

    Saparantosna dewasa, Sang Hyang Nasa suka kana elmu agama anu diwedar ku eyangna Sang Hyang Adama. Sedengkeun Sang Hyang Nurcahya suka tatapa di leuweung luwang-liwung, di pucuk-pucuk gunung, atawa dina jero-jero guha.

    Sang Hyang Nurcahya suka ngalalana ngalanglang buana, teras papendak sareng Danyang Azazil anu malih rupa janten maharesi anu sakti mandraguna pasagi ku pangarti pinuh ku elmu jembar ku pangabisa. Sang Hyang Nurcahya guguru ka Danyang Azazil, diwuruk diwulang olah kanuragan, kasakten, elmu panemu jampe pamake, kawedukan, kabedasan. Sang Hyang Nurcahya teu tutung ku api teu baseh ku cai teu teurak ku badama, bisa mancala putra mancala putri, bisa ngaleungit tanpa lebih ilang tanpa karana, bisa ngagegana mapak mega jumantara, bisa ambles bumi neuleuman sagara.

    Saparantosna tamat guguruna, Sang Hyang Nurcahya mulang ka Kusniamalabari. Sang Hyang Adama kaget ngaweruhan kaayaan incuna. Sang Hyang Nurcahya benten pisang sareng kembaranna Sang Hyang Nasa. Nanging Sang Hyang Adama teu kasamaran yen eta sadaya lantaran Danyang Azazil.

    Sang Hyang Adama ngadawuhan putrana Sang Hyang Sita ngabaran yen Sang Hyang Nurcahya isukan bakal mukir tina agama Sang Hyang Adama lantaran nganut ajaran Danyang Azazil. Sang Hyang Sita ngahuleung ngaraga meneng, kaduhung ku kalakuan Sang Hyang Nurcahya.

    Dina umur 990 tahun Sang Hyang Adama tilar dunya. Sadaya elmuna diwariskeun ka Sang Hyang Sita; sedengkeun kakawasaanna diwariskenana ka Sang Hyang Kayumarata, putrana anu ka tilu belas. Pambagian eta dumasar kana kaunggulan putra-putrana. Sang Hyang Sita janten pangawasa babagan rohani; sedengkeun Sang Hyang Kayumaratan janten pangawasa babagan jasmani.

    Lalakon Sang Hyang Nurcahya

    Maotna eyang Sang Hyang Adama janten memengen incunna nyaeta Sang Hyang Nurcahya. Anjeuna ngaraos kaduhung margi Sang Hyang Adama kena lara pati. Upami anjeunna masih netepan elmuna Sang Hyang Adama, pinasti anjeunna bakal kena ku lara pati. Teras Sang Hyang Nurcahya nilar Kusniamalabari bade milari elmu anu hanteu kena ku lara pati sangkan hirupna mulus rahayu lestari abadi.

    Sang Hyang Nurcahya ngalalana dugi ka luar batas nagari Kusniamalabari. Di tepis miring anu tumuju ka leuweung liwang-liwung, Sang Hyang Nurcahya papendak sareng Danyang Azazil. Anjeunna dibantun ka talatah Awinda nyaeta wewengkonna para siluman, anu kacida wingitna, poek-mongkleng, sareng tiis-tingtrim, ayanna di puser bumi belah kaler, anu teu kaambah ku cahaya panon poe. Di dinya ayana Tirtamarta Kamandalu, nyaeta cai kahuripan anu kaluar tina mustika mega.

    Sang Hyang Nurcahya sareng Danyang Azazil muja ka Gusti sangkan dipasihan Tirtamarta Kamandalu. Lajeng aya mega lalambakan mocoran cai kahuripan tina Sagara Rahmat. Sang Hyang Nurcahya disuruh mandi sareng nginum Tirtamarta Kamandalu. Sang Hyang Nurcahya hoyong ngawadahan eta cai kahuripan nanging teu mawa wadah. Danyang Azazil masihan wadah namina Cupumanik Astagina anu saleresna kagungan Sang Hyang Adama waktu katiup angin puyuh liliwungan lagrag dina teleng Sagara Hideung wewengkonna Danyang Azazil. Cupumanik Astagina gaduh kasaktian sadaya anu diwadahan ku eta cupu moal bakal seep.

    Lajeng Sang Hyang Nurcahya kaluar ti talatah Awinda, sareng Danyang Azazil leungit tanpa lebih ilang tanpa karana. Sang Hyang Nurcahya neraskeun lalampahanna sorangan. Di hiji talatah anjeunna mendak hiji tatangkalan anu akarna tiasa ngalantaran hurip kajati mulang ka asal kebo mulih makandangan, sumber kahirupanna alam dunya, anu katelah Lata Maosadi.

    Wancina Sang Hyang Nurcahya bade mulang ka Kusniamalabari bingung kasarung teu emut kamana jalanna. Anjeunna kalunta-lunta ngalalana ngambah jurang jungkrang, gunung nangtung, leuleuweungan.

    Dina hiji poe anjeunna anjog ka sisi sagara, sareng ningali aya dua mahluk nangtung di luhur sagara. Sang Hyang Nurcahya nampak sancang leumpang di luhur cai nyaketan eta mahluk. Anu kahiji namina Danyang Haruta, anu kadua Danyang Maruta. Baheulana mah eta mahluk teh namina Sang Hyang Isyana sareng Sang Hyang Isaya anu meunang bebendu ti Gusti katulah janten banujan nyaeta bangsa jin.

    Danyang Haruta sareng Danyang Maruta ngawuruk kaweruh Sang Hyang Nurcahya babagan lumakuna bumi, panon poe, bulan, bentang, anu katelah elmu palakiah, sareng elmu hikmah.

    Sang Hyang Nurcahya nyarita yen anjena hoyong terang sorga. Danyang Haruta sareng Danyang Maruta ngadongeng yen soga eta ayana dina hulu walungan anu pang ageungna di talatah Afrika. Sang Hyang Nurcahya percanten ka eta dongeng lajeng ngalalana milarian sorga nutuykeun eta walungan.

    Sang Hyang Nurcahya papendak sareng paman jeung bibina, nyaeta putra-putri Sang Hyang Adama anu ka lima belas namina Sang Hyang Lata sareng Dewi Uzza nuju tatapa di sisi eta walungan. Sang Hyang Nurcahya nyarita yen anjeunna putrana Sang Hyang Sita. Sang Hyang Lata sareng Dewi Uzza nampi kadatangan Sang Hyang Nurcahya, lajeng diwuruk elmu kaweruh sadurung winarah sadaya lalakon anu parantos atawa bakal kasorang.

    Lajeng Sang Hyang Nurcahya neraskeun milarian sorga dugi ka talaga Jambirilahiri di hulu walungan anu ayana di pucuk Gunung Kaspia. Sang Hyang Nurcahya ngahuleng ngaraga mineng kaduhung ku bingung margina teu mendakan ayana sorga.

    Aya sora tina jero kawah Gunung Kaspia anu api sareng latuna pating kolenyay murub-mubyar, ngaku-aku yen mantena eta Gusti Amurba Bumi anu kagungan sora sareng naraka. Eta sora teh dadamelan Danyang Azazil anu malih warna. Sang Hyang Nurcahya mesat ka jumantara ngadep Gusti Amurba Bumi nyuhun diweruhan ayana sorga. Sang Hyang Nurcahya lebet kana sosoca anu katelah Ratnadumilah, ningali kaendahan sadaya eusi sogra.

    Saparantosna kaluar tina jero sosoca, Danyang Azazil anu malih warni jadi Gusti Amurba Bumi masihkeun Ratnadumilah ka Sang Hyang Nurcahya. Kasaktian eta sosoca teh sadaya anu dipikacipta aya, anu dipikahayang datang, teu keuna ku tunduh, teu keuna ku laralapa. Lajeng Sang Hyang Nurcahya diwuruk elmu pangiwa panitisan, manjing suruping pati, lampahna cakramanggilingan.

    Sang Hyang Nurcahya teu hayang mulang ka Kusniamalabari. Danyang Azazil nuduhan hiji talatah anu tiasa didunungan ku Sang Hyang Nurcahya anu katelah Lokadewa. Lajeng Sang Hyang Nurcahya angkat ka eta tempat.

    Di Lokadewa, Sang Hyang Nurcahya neraskeun tapana di pucuk gunung nutuykeun lampahna panon poe. Wayah janari nyanghareup ka wetan, tengah poe nyanghareup ka luhur, wayah sareupna nyanghareup ka kulon. Lamina eta tatapa tujuh taun, dugi anjeuna ngaraga sukma lebet kana alam Sunyaruri awang-uwung, nyaeta alam Banujan. Sang Hyang Nurcahya dumunung di eta alam lamina sarebu taun.

    Kocap kacarita aya hiji ratu banujan anu ngadanyangan Lokadewa namina Danyang Maladewa, putrana Danyang Harataketu. Anjeuna nuju ngider bumi ningali aya cahaya murub-mubyar sanes surya gilang gumilang sanes bentang kadia sosoca sanes candra, nanging cahaya sukma trahna Sang Hyang Adama.

    Danyang Maladewa bade nyepeng eta cahaya nanging teu tiasa. Lajeng janten bandayuda ogol begalan pati sareng eta cahaya sukma anu ngaku-aku Amurbamisesa Alam. Danyang Maladewa kalah taluk ka Sang Hyang Nurcahya, anu saterasna ngadeg ratu di Lokadewa sareng migarwa putrina Danyang Maladewa anu katelah Dewi Mahamuni. Sadaya kulawarga sareng wadiabala Danyang Maladewa sami ngadep taluk hamarikelu ka Sang Hyang Nurcahya anu kasebat Dewata nyaeta guru linuhung Lokadewa. Eta wiwitanna para dewa disebat Sang Hyang magi julukan anu diagem ku Sang Hyang Nurcahya.

    Kocap kacarita Sang Hyang Nurcahya julukanana Sang Hyang Dewata, Sang Hyang Dewapamungkas, Sang Hyang Atmadewa, Sang Hyang Sukmakawekas, Sang Hyang Amurbengrat, Sang Hyang Manon, Sang Hyang Permana, Sang Hyang Permata, Sang Hyang Mahawidi, Sang Hyang Mahasidi, Sang Hyang Mahamulia, Sang Hyang Kahanantunggal, Sang Hyang Jagatmurtitaya, eta putrana Sang Hyang Sita, incuna Sang Hyang Adama.

    Sang Hyang Nurcahya gaduh putra tunggal ti garwana Dewi Mahamuni, anu namina Sang Hyang Nurasa margi kacipta tina aworna cahaya sareng rahsa anu disiram Tirtamarta Kamandalu.

    Lalakon Sang Hyang Nurasa

    Saparatosna Sang Hyang Nurasa dewasa, lajeng Sang Hyang Nurcahya ngawariskeun karaton ka putrana sareng masihan Cupumanik Astagina, Lata Maosadi, sareng Ratnadumilah. Sang Hyang Nurcahya lajeng nyipta Pustaka Darya, nyaeta seratan dina emutan, mantra tanpa sora, sora tanpa sastra, anu nyaritakeun lalampahan anjeunna. Pustaka Darya oge dipasihkeun ka Sang Hyang Nurasa.

    BalasHapus
  48. NAMA : Swadayani Nurlekha
    NIM : 2102408051
    ROMBEL : 2

    SEJARAH SASTRA MODERN

    PERKEMBANGAN SASTRA JAWA MODERN (Upaya Menghindari Aversitas)
    Christanto P. Rahardjo
    Universitas Jember


    Istilah sastra Jawa modern lebih memasyarakat atau sebagai cermin masyarakat hendaknya mebih berhati-hati dalam pemakaian. Sastra yang ditulis terlalu progresif sering tidak mendapat tempat di media massa. Sebaliknya, sastra yang "mineur" terus-menerus dapat membosankan dan akibatnya afinitas dapat berubah menjadi aversi.
    Sastra Jawa modern yang bersifat serius karena ditulis dengan visi yang sungguh-sungguh dapat memperlihatkan bobot intelektual penulisnya. Oleh karena itu sastra Jawa modern yang serius memiliki tanda-tanda memperlihatkan bobot intelektual penulisnya, menawarkan masalah yang bersifat eksperimental, menawarkan objek yang terpadu sesuai dengan polarisasi sosial yang menekankan pada makna pesan dan mampu mewujudkan bahasa yang puitik.

    Menyongsong Babak Baru Sejarah Sastra Jawa Modern Dec 21, '07 7:49 PM
    for everyone



    Peluncuran 16 Buku Cerita Rakyat



    Sekitar taun 20-an (itu masih Zaman Belanda lo!) dunia perbukuan di negri ini disemarakkan oleh bermunculannya buku-buku terbitan Balai Pustaka. Di bidang sastra, kita kenal novel atau roman Siti Nurbaya yang legendaris itu, ada pula Belenggu, Salah Asuhan, dan masih saabreg lagi. Nama-nama para pengarang novel itu pun dikenal dengan Sastrawan Angkatan Balai Pustaka.

    Balai Pustaka, semula adalah lembaga Taman Bacaan Rakyat yang didirikan Pemerintah Belanda sebagai salah satu implementasi Politik Etis (Balas Budi). Salah satu fungsi lembaga tersebut adalah menyediakan bahan-bahan bacaan yang ’mendidik’ rakyat agar melek pengetahuan. Pertanyaan kita, kini, mengapa Pemerintah Belanda waktu itu memilih taman bacaan? Mengapa bukan penggalakan program penyuluhan macam Klompencapir yang lebih menjadikan rakyat sebagai klompen itu? Sebab, saya pikir, Belanda itu jalan pikirannya mirip Pak Parto (Suparto Brata), ’’Kalau hanya pengin bisa bercocok tanam atau bertani dengan baik, kita bisa belajar dengan mendengarkan siaran radio. Tetapi, jangan harap Anda bisa membuat radio dengan baik jika Anda hanya belajar dengan mendengarkan radio. Anda mesti membaca untuk dapat membuat radio.’’

    Oleh karena itu, berbicara tentang agenda pendidikan, proyek menyerdaskan bangsa, kita tidak bisa melupakan buku. Buku-buku yang bermutu, tentu! Maka, Taman Bacaan Rakyat yang kemudian menjadi Balai Poestaka dan lebih kita kenal sebagai Penerbit Balai Pustaka, tugas utamanya tentu adalah menerbitkan buku-buku bermutu bagi rakyat.

    Buku-buku, terutama buku sastra yang diterbitkan Balai Pustaka pada awalnya, jangan lupa, bukanlah buku Sastra Indonesia. Novel/roman itu bukanlah novel/roman berbahasa Indonesia, sebab kita baru memiliki bahasa Indonesia yang dijunjung sebagai Bahasa Persatuan sejak 28 Oktober 1928, dan yang ditetapkan sebagai Bahasa Negara di dalam Undang-Undang Dasar 45 sejak 18 Agustus 1945. Maka, tak kurang dan tak lebih, Salah Asuhan, Belenggu, Siti Nurbaya, dan novel-novel lain yang sebaya itu diterbitkan dengan Bahasa Daerah (Melayu). Bahwa kemudian Bahasa Melayu itulah yang diangkat menjadi Bahasa Persatuan dan kemudian menjadi Bahasa Negara, itu urusan kemudian.

    Sampai di titik ini kita bisa menyimpulkan bahwa persoalan bahasa apa yang dipakai dalam rangka membangun proyek menuju ’’Bangsa yang Membaca’’ itu tak begitu dipersoalkan. Banyak buku-buku berbahasa daerah (etnik) diterbitkan oleh Balai Pustaka. Zotmoelder dalam Antologi Kesusasteraan Jawa Modern, Kalangwan, menunjukkan betapa banyak karya sastra berbahasa Jawa, misalnya, bahkan yang ditulis dengan aksara Jawa, diterbitkan oleh Balai Pustaka.

    Anehnya, keruntuhan Rezim Orde Baru ternyata justru tidak membawa angin segar bagi perkembangan penerbitan buku-buku berbahasa daerah, dan bahkan bagi Balai Pustaka sendiri. Era Reformasi yang segera disusul Era Otonomi Daerah boleh dianggap mengandung pesan, antara lain: hal-hal berkaitan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan muatan lokal seyogyanya diurusi oleh daerahnya masing-masing. Tetapi, pesan itu tampaknya tidak atau belum disadari oleh ’Daerah’, sehingga penerbitan buku-buku termasuk buku sastra daerah boleh dibilang mandeg.

    Jika ada yang menjadi penyemangat di tengah-tengah kelesuan itu, setidaknya untuk konteks sastra Sunda, Jawa, dan Bali, ialah lahirnya Yayasan Rancage dari seorang Ajip Rosyidi yang setiap tahun memberikan penghargaan bagi buku-buku terpilih dan bahkan bagi tokoh yang dipandang berjasa terhadap upaya pelestarian dan pengembangan sastra daerah. Pemerintah? Pusat tampak merasa tak lagi punya kewajiban, sedangkan Daerah masih saja sibuk, dengan urusan politik, terutama urusan pilkadal.

    Di tengah-tengah keprihatinan ini, kita mendapat kabar baik dari Penerbit Grasindo yang telah meluncurkan buku-buku cerita rakyat berbahasa Jawa. Sebanyak 16 buku yang digarap bersama Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) diluncurkan dalam acara yang sederhana tetapi cukup gayeng di Hotel Santika Surabaya (8 September 2007). Tampaknya, akan segera menyusul terbit buku kumpulan crita cekak (cerpen), kumpulan guritan (puisi), karya para pengarang/penyair Jawa. Dan kita layak memyambutnya sebagai babak baru dalam sejarah Sastra Jawa Modern. [Bonari Nabonenar, Ketua PPSJS/bonarine@yahoo.com]
    Suparto Brata dan Bonari Nabonenar, Sastrawan Jawa yang ”Bermukim” di Dunia Maya
    Ditulis pada Nopember 29, 2007 oleh brangwetan

    Tiga Anak Parto Jadi Teknisi, Layani Curhat Penggemar
    Berekspresi lewat kertas dan pena seolah tak cukup bagi Suparto Brata dan Bonari Nabonenar. Maka, dua sastrawan Jawa itu membangun “rumah” di jagat internet. Situs pribadi atau blog yang mereka bangun pun lebih dari sekadar media ekspresi.
    DOAN WIDHIANDONO
    KETIKLAH nama Suparto Brata pada mesin pencari Google. Maka, akan muncul lebih dari 10.500 item yang memuat kata Suparto Brata. Tentu, tak semua benar-benar berbicara tentang Suparto Brata, sastrawan Jawa kelahiran Surabaya yang sangat produktif itu.

    Tampak pada urutan teratas halaman pertama hasil pencarian itu, Suparto Brata menjadi salah satu lema (entry) pada situs jv.wikipedia.org, ensiklopedia bebas berbahasa Jawa. Di situ, Suparto disebut isih turun (masih keturunan) Pakubuwana V. Situs tersebut juga menulis, Suparto klebu sastrawan Jawa modern kang produktif. Dheweke asring nampa penghargaan saka ngendi-ngendi (termasuk sastrawan Jawa modern yang produktif. Dia sering menerima penghargaan dari mana-mana).

    Lewat hasil search engine, terlihat pula bahwa Suparto punya dua alamat. Yaitu, www.supartobrata.blogspot.com dan www.supartobrata.com. Meski punya dua “rumah” di dunia maya, tentu sehari-hari Suparto masih tinggal di rumahnya yang nyata, Rungkut Asri III/12.

    Di Rungkut itulah Suparto diwawancarai pada Kamis (22/11) siang. Kala itu, dia memakai polo shirt (kaus berkerah) hitam. Ada garis kuning di bagian kerah dan lengan baju tersebut. Di dada kiri, tampak logo dan tulisan salah satu merek rokok terkenal. Logo dan tulisan itu juga kuning.

    Yang membuat baju itu terasa lain adalah secarik kain hitam berukuran sekitar 5 x 15 sentimeter yang dijahit di bagian tengkuk, tepat di bawah kerah. Tulisannya berupa bordiran kuning, www.supartobrata.com. Menurut Suparto, dirinya punya lima badge bordiran semacam itu. “Harganya Rp 6 ribu per biji,” ujar pria kelahiran 27 Februari 1932 tersebut.

    Suparto memang begitu memaknai situs pribadi tersebut. Lewat situs itu, dia bisa menulis apa saja. Mulai artikel, cerita, kisah-kisah pribadi, hingga berbagai tulisan tentang dirinya yang telah dimuat di berbagai media. Lewat itu pula, dia melayani curhat beberapa penggemarnya.

    Misalnya, dalam sebuah e-mail yang bertanya tentang prosedur penerbitan buku. Atau e-mail dari mahasiswa yang ingin meneliti Gadis Tangsi, novel karya Suparto. Pria sepuh itu pun tampak telaten meladeni interaksi dengan fans tersebut.

    Bagi Suparto, menulis di internet tetaplah asyik. Meski, dirinya tak mendapat honor dari tulisan yang dia upload. “Informasi yang saya sampaikan dibaca orang. Itulah yang lebih penting. Saya memang membangun itu untuk menyebarkan pikiran,” ungkap penerima The SEA Write Award, penghargaan penulis tingkat ASEAN, 12 Oktober lalu di Bangkok, tersebut.

    Adalah Tatit Merapi Brata, putra sulungnya, yang pertama menunjukkan keampuhan situs pribadi di internet. “Dia berjualan kain lewat internet. Eh, tibake yo payu (ternyata juga laku, Red),” ujar pengarang buku Kremil itu.

    Pada Desember 2006, tiga di antara empat anaknya lantas membuatkan Suparto situs pribadi. Alamatnya www.supartobrata.blogspot.com.

    Situs gratisan tersebut berjalan hingga pertengahan tahun ini. “Kata anak-anak saya, di blogspot itu tidak enak. Informasinya bermacam-macam, ada yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” kata putra pasangan Raden Suratman Bratatanaya dan Raden Ajeng Jembawati tersebut.

    Karena itu, Suparto lantas membangun www.supartobrata.com. Untuk mendapatkan domain “.com” (dot com), dia harus membayar Rp 3 juta per bulan. “Mbayarnya di Jogja. Anak-anak yang tahu. Kata anak saya, kalau banyak yang melihat (situs itu), ada yang pasang iklan,” jelas penerima Rancage, hadiah untuk sastrawan Jawa, Sunda, dan Bali pada 2000, 2001, dan 2005 itu.

    Memang, yang merancang dan melakukan maintenance situs tersebut adalah ketiga putra Suparto. “Mereka pintar komputer,” tegas pengarang novel Donyane Wong Culika tersebut.

    Tiga putra Suparto itu adalah Tatit Merapi Brata (putra sulung, sarjana Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang), Neo Semeru Brata (putra ketiga, sarjana Teknik Elektro Jurusan Komputer ITS), dan Tenno Singgalang Brata (putra keempat, sarjana Teknik Lingkungan ITS). “Tapi, saya pesan kepada mereka, yang bekerja harus saya,” kata Suparto.

    Artinya, Suparto tetap bertanggung jawab menulis dan mengisi situs tersebut. Karena itu, mau tidak mau, dia pun harus tetap aktif berkarya agar situs pribadi tersebut terisi. Namun, itu memang bukan problem. Sebab, meski tanpa situs di internet pun, dia tetap sangat produktif.

    Pada usianya yang sudah 75 tahun, setiap hari suami Rara Ariyati (meninggal pada 2 Juni 2002) tersebut tetap aktif. “Setiap hari saya bangun pukul 03.00-04.00. Saya buka komputer dan saya tulis apa saja. Pasti ada yang saya tulis,” katanya.

    Siangnya, Suparto pasti membaca buku. “Buku apa saja. Kalau kehabisan buku, saya beli,” ungkapnya.

    Memang, meski sudah akrab internet, Suparto masih tidak bisa meninggalkan menulis serta membaca melalui buku. Karena itu, dia tak pernah berburu informasi atau inspirasi dari internet. “Bagi saya, sastra adalah buku,” tegasnya.

    Meski sudah sepuh, dia enjoy bersentuhan dengan teknologi terkini. Itu karena petuah Sujono, kakaknya yang berumur 10 tahun lebih tua, sekitar 60 tahun silam. “Katanya, kalau ingin maju, orang harus menguasai teknik,” katanya.

    Sang kakak membuktikan hal itu. Sujono belajar teknik rontgen di Eindhoven, Belanda. Dia lantas menjadi teknisi Phillips dalam bidang rontgen pertama di Indonesia.

    Suparto sejatinya ingin menekuni bidang eksak. Namun, karena ketiadaan biaya, dia lantas keblasuk (tersesat) menjadi penulis. “Menulis itu sebenarnya pelarian,” jelas alumnus SMAK St Louis Surabaya tersebut.

    Meski begitu, Suparto menyadari petuah Sujono bahwa dirinya tak boleh menjauhi teknik. Karena itu, dia pun selalu bersemangat ketika belajar komputer hingga akhirnya biasa malang melintang di jagat internet. “Wong sampai sekarang ini saya masih gaptek. Apalagi, saya ini tak punya banyak bakat. Tapi, saya tidak mau kalah. Itu saja,” tegasnya.

    Karena itu, sejak 1996, dia akrab dengan e-mail. Hingga kini, alamat e-mail-nya, sbrata@yahoo.com, masih aktif menjadi peranti berkomunikasi. “Saya bisa ketemu teman yang tinggal di Jerman,” katanya.

    Dia pun merasa perlu punya sambungan internet di rumahnya. Sekitar sembilan tahun lalu, dirinya masih berlangganan di salah satu provider internet seharga Rp 60 ribu per bulan. Pada 2002, dia memakai Telkomnet Instan, sambungan otomatis melalui line telepon. “Tapi, sering lambat. Saya lalu ditawari Speedy,” ungkap Suparto yang mengaku koneksi internet tersebut sekarang belum on.

    Meski belum terkoneksi dengan internet, dia tetap tak putus berkarya. Sebelum dan bakda subuh, komputer anyar bermerek Dell yang dibeli pada Juni lalu di kamarnya tetap aktif menampung segala olah karyanya.

    Tak khawatir karya dijiplak lantaran ditampilkan secara bebas di internet? “Monggo. Pernah ada yang menghubungi saya, ingin mengutip tulisan saya tentang 10 November. Saya bebaskan saja,” ujar pria berkacamata tersebut.

    Suparto pun menegaskan, media internet bagi dirinya merupakan salah satu cara menyebarkan pemikiran.

    Hal itulah yang juga membuat Bonari Nabonenar membikin bonarine.multiply.com. Blog (berasal dari kata web log, berarti catatan pribadi di internet) itu juga ditautkan (di-link-kan) dengan situs Suparto Brata. “Bagi saya, blog adalah sarana sosialisasi sastra Jawa. Itu juga sebagai dokumentasi dan sarana berkomunikasi,” jelas seniman kelahiran Trenggalek tersebut.

    “Bagi orang Jawa, sedulur (saudara) itu mahal,” tegas alumnus jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra IKIP Surabaya (sekarang Unesa) tersebut.

    Karena itu, Bonari begitu suka ketika dirinya tiba-tiba dihubungi orang yang baru membaca blog-nya. “Tiba-tiba, ada yang kontak kami lewat e-mail dan sebagainya. Itulah yang mahal,” katanya.

    Lewat internet itu juga, dia pernah diwawancarai BBC soal sastra. Dia juga bisa bertemu para buruh migran di Hongkong yang lantas menjadi kawan-kawannya.

    Seperti Suparto, Bonari juga meng-upload beragam hal di blog tersebut. Ada yang berupa puisi, artikel, bahkan foto dan lagu. Dia juga merasakan bahwa internet adalah sarana yang cespleng dalam menyebarkan pikiran. “Dalam sebulan, kira-kira ada 400 hit (kunjungan, Red) di blog saya,” ujar pria yang sudah punya situs pribadi di Geocities sejak era 90-an itu.

    Memang, jumlah itu terlampau sedikit dibandingkan situs-situs mapan lainnya. Namun, yang lebih bermakna bagi Bonari bukan sekadar hit tersebut. “Wong ada yang membaca saja saya sudah berterima kasih,” kata ketua Peguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya tersebut.

    Bagi Bonari, blog tersebut merupakan salah satu usahanya agar sastra Jawa tetap dibaca orang. “Sebab, sastra Jawa itu kalau dijual dalam bentuk buku gak payu,” ujarnya.

    Karena itu, dia punya cita-cita besar soal kelangsungan sastra Jawa di internet. Dia ingin bisa menjual buku-buku sastra Jawa di internet dalam bentuk e-book. “Internet itu ibarat ajang (tempat makan, Red). Orang makan bisa di piring, mangkuk, atau cowek. Begitu juga sastra, bisa di buku atau lewat internet,” ungkap pria yang juga aktif berkesenian bersama para buruh migran di Hongkong tersebut.

    Bonari mungkin benar. Berkesenian memang tak semestinya dibatasi media. Lewat sarana apa pun, seniman bisa berkiprah maksimal agar karyanya tak muspra (lenyap), agar karya itu tetap bisa diapresiasi banyak orang. (*)

    Jawa Pos, Kamis, 29 Nov 2007,

    BalasHapus
  49. Nurul Khofiyanida3 April 2009 00.32

    Nama :Nurul Khofiyanida
    NIM :2102408104
    Rombel :4

    Kakawin Bhomântaka

    Kakawin Bhomântaka atau juga disebut sebagai Kakawin Bhomakawya adalah sebuah kakawin dalam bahasa Jawa Kuna. Kakawin ini merupakan salah satu yang terpanjang dalam Sastra Jawa Kuna, panjangnya mencapai 1.492 bait. Isinya ialah kisah cerita peperangan antara Prabu Kresna dan sang raksasa
    Bhoma.Kakawin dimulai dengan manggala sang penyair. Prabu Kresna dan saudaranya; Baladewa diperkenalkan. Lukisan ibu kota Dwārawati diberikan; sebuah adegan audiensi dan datangnya tamu dari sorga dilukiskan, di mana mereka meminta perlindungan dari Naraka, sang raksasa.Diceritakanlah bagaima sang Naraka dilahirkan sebagai putra batara Wisnu dan batari Pertiwi, oleh karena itu Naraka memiliki nama Bhoma. Bhoma artinya adalah “Putra Bumi”. Lalu ia menjadi raja dan batara Brahma bertitah bahwa ia akan memerintah tiga dunia. Kresna memutuskan bahwa Samba, putra tertuanya akan dikirimkan untuk melindungi para tapa di Himālaya. Kresna mengajarkan Sāmba kewajiban atau dharmanya sebagai seorang anak lelaki.Sāmba bertemu dengan ibunya Jambawatī dan lalu berangkat dari istana. Sang raja memberinya wejangan mengenai dharma seorang ksatria; lalu iapun dan pengikutnya berangkat ke daerah pedesaan.Lalu lukisan daerah pedesaan diberikan; mereka bermalam di sebuah pertapaan dan diterima di sana. Para balatentara bercakap-cakap dan bercengkerama. Pertapaan dan daerah pedesaan sampai gunung Himalaya dilukiskan lebih lanjut.Pertapaan-pertapaan yang dirusak oleh bala Naraka dilukiskan; para raksasa mencium keberadaan mereka dan menyerang pada malam hari. Terjadilah pertempuran sengit; kaum raksasa berhasil dipukul mundur.Samba lalu berlawat pada sebuah pertapaan terpencil dan bercengkerama di sana. Sebuah pertapaan dilukiskan. Sisa-sisa kaum raksasa menyerang kembali; mereka berhasil dipukul mundur oleh para tapa dan Samba. Perjalanan lalu dilanjutkan ke tempat larangan Wiśwamitra; Sāmba disambut di sana.Seorang siswa Wiśwamitra, Guņadewa, menceritakan tentang komunitas di pegunungan, termasuk yang sekarang telah ditinggalkan dan sebelumnya dihuni oleh putra batara Wisnu, Dharmadewa yang merupakan kekasih Yajñawatī.Sāmba teringat bahwa ia pernah terlahirkan sebagai Dharmadewa dan bagaimana ia meninggalkan Yajñawatī. Ia lalu berusaha keras untuk menemukannya, dan Guņadewa memberinya pelajaran akan anitya. Semetara itu Tilottamā, seorang bidadari datang. Sāmba mengenalnya sebagai dayang Yajñawatī.Tilottamā memberi tahu bahwa Yajñawatī telah lahir kembali sebagai seorang putri, namun sekarang ia dicekal oleh Naraka. Tilottamā tahu ia dicekal di mana dan berjanji akan mengantar Sāmba.Lalu kecantikan sang putri diperikan; Saharşā berkata bahwa ia sudah datang. Sang putri lalu menyiapkan diri.Sāmba dan Tillottamā datang; Tilottamā yang pertama masuk dan mendatangi sang putri yang mengharapkan kekasihnya. Sāmba masuk, namun sang putri kelihatannya enggan menjumpainya.Sāmba berusaha keras untuk melayu sang putri dan mengingatkan bahwa mereka pada kehidupan sebelumnya merupakan kekasih. Mereka dipersatukan. Tilottamā merasa cemas, namun Sāmba berkata bahwa ia ingin memerangi para raksasa. Para dayang-dayang masuk dan melihat pasangan ini sedang bermain cinta.
    Dāruki, seorang kusir, masuk dan memperingatkan pangeran Sāmba bahwa mereka dalam keadaan bahaya: para raksasa telah datang. Sāmba meninggalkan sang putri dan pertempuran mulai.Para wanita menjadi panik dan para dayang-dayang lalu mengungsikan sang putri ke istana Bhoma, Prāgjyotişa. Para raksasa terusir kembali, dan Sāmba lalu mencari kekasihnya lagi.Ia berusaha mengejarnya, namun dihalangi oleh Nārada dan menyuruhnya untuk pulang. Pada perjalanan pulang, ia berjumpa dengan Tilottamā dan meminta untuk menyampaikan rasa rindunya kepada sang putri.Sang pangeran kembali, namun Krĕsna mencemaskannya. Dāruki berusaha memberi tahu apakah yang telah terjadi. Prabu Citraratha diterima di balai audiensi, dikirim oleh Indra, karena para Dewata terdesak berperang melawan Naraka.Sang raja berjanji akan memberikan bantuan dan meminta saran Uddhawa kebijakan apa yang harus diambil. Uddhawa memberi jawaban dengan bicara panjang lebar mengenai kewajiban seorang raja dan bagaimana harus memerangi para raksasa.Maka sang prabu memberi perintah untuk bersiap. Dalam waktu tiga hari balatentara Yadu berangkat. Mereka mencapai lereng Himālaya dan membuat sebuah perkemahan di luar pemukiman musuh. Yajñawatī mendengar bagaimana Sāmba telah datang dan mengirimkan Puşpawatī dengan sebuah pesan.Yajñawatī lalu bercerita akan cinta sang putri dan meminta Sāmba untuk mengambilnya. Hari selanjutnya kaum Yadu menyerang; sesudah sebuah pertempuran sengit, para raksasa melarikan diri.Si raksasa Mura menyerang kembali, namun dibunuh dan kaum Yadu memasuki istana. Sāmba hadir dan menemukan Yajñawatī; kaum Yadu lalu pergi.Kaum Yadu sungguh lelah dan mereka berkemah untuk bermalam di daerah Magadha. Prabu Jarāsandha mendengar dan menyerang dibantu oleh selimut kegelapan. Sāmba terluka namun bisa melarikan diri dengan sang putri di dalam keretanya; setelah jauh roda kereta patah. Sang pangeran lalu jatuh terpingsan.Yajñawatī menangis; seorang biku lewat dan merasa iba. Ia merasa kasihan atas keduanya dan memandikan sang pangeran dengan air yang dibawa sebagai bekal.Sang pangeran siuman dan diurusi di dalam pertapaan. Sāmba bermimpi bahwa Batara Wisnu memberinya jiwa-Nya. Dāruki datang dan bercerita apa yang terjadi terhadapnya, lalu Sāmba kembali ke Dwārawatī dengan Yajñawatī.Prabu Druma telah terusir dari negerinya dan sekarang meminta perlindungan Krĕsna. Druma berbicara dengan sebuah dewan penghulu dan Basudewa memberikan sokongannya yang lalu diterimanya. Ia lalu menjelaskan siapa saja yang berada di sisi Bhoma.Kaum Yadu menyatakan dukungan mereka dan lalu pergi bercengkerama di gunung Rewataka.Seorang gadis, bernama Kokajā, jatuh cinta dan bercerita kepada sahabatnya bahwa ia menggandrungi putra Prabu Druma, Suratha. Lalu sahabatnya pergi mencarinya..Isi sebuah surat cinta dilukiskan. Selain itu ada pula lukisan alam. Para selir membicarakan kewajiban mereka.Kaum Yadu bercengkerama di gunung Rewataka dan kembali ke negeri.Bhoma sungguh murka atas apa yang terjadi dan kembali dari sorga. Ia bercerita kepada Mahodara bahwa ia berencana untuk memerangi Dwārawatī. Ia dibantu oleh Cedi, Awangga, Magadha, dan Kalingga. Bhoma bermusyawarah harus mengambil kebijakan apa. Ia lalu mengirimkan Śatruntapa dan sebagai duta ke Krĕsna untuk mencari tahu apakah ia ingin menyerah atau berperang.Para duta datang dan diterima. Śatruntapa berbicara kepada Baladewa dan Kresna, menyampaikan pesan Bhoma. Gada menjawab dan menyangkal semua argumennya. Āhuka (Ugrasena) berbicara dengan damai. Śatruntapa murka dan Mahodara berbicara, diikuti oleh Wabhru. Mereka saling menghina dan para duta pergi menuju sang Bhoma.Bhoma menyatakan perang dan mengambil posisi di gunung Rewataka dengan bala tentara raksasanya. Kaum Yadu dan sekutu mereka berkumpul dan mendiskusikan rencana yang harus mereka ambil. Kresna memberikan perintahnya dan para hulubalang telah siap. Malam itu sebuah pesta diberikan.Keesokan harinya, pagi-pagi Prabu Kresna didatangi oleh Dewi Ganggā yang telah dikirim oleh para Dewata untuk membawa air dan memandikannya. Kresna lalu berangkat dengan para putranya.Bala tentara yang telah berkumpul kelihatan. Tiba-tiba sang resi Durwaśa datang untuk menjumpai Kresna, dan memintanya untuk menyiapkan makanan untuknya. Kresna lalu pergi dan menyerahkan kepemimpinan kepada Arjuna dan Rukma.Ketika melihat gunung Rewataka, kedua bala tentara berjumpa. Bhoma memerintahkan Cedi, Karna dan Magadha untuk menantang kaum Yadu. Bhoma memiliki tentara berjumlah lima divisi sedangkan kaum Yadu memiliki tiga.Para prajurit Bhoma menyerang bala tentara Prabu Bāhlika; bala tentara Cedi menyerang Prabu Drupada; Somadatta bertanding dengan Karna; Windu dan Anuwinda dengan Yawana. Kegelapan menimpa medan pertempuran.Pertempuran sengit berlangsung. Maka Suratha terluka parah dan tewas. Prabu Śiśupāla (Cedi) tewas. Karna tewas dibunuh Sāmba. Hiraņya terbunuh. Prabu Magadha yang maju tewas dibunuh Gada. Para raksasa ditahan oleh kaum Yadu.Rukma dibunuh oleh Mahodara; Sāmba dan Dāruki dibunuh oleh Bhoma. Arjuna dan Bhoma bertanding; Arjuna sekarat sementara Bhoma bisa sadar.Kresna segera diberi tahu yang lalu datang dengan sang Baladewa untuk memerangi para raksasa.Dāruki bercerita kepada Krĕsna mengenai rahasia bunga Wijaya Bhoma.Arjuna akhirnya tewas. Sang resi Durwaśa datang dan memberi anugerah untuk mengembalikan seorang yang telah tewas; Kresna memilih Prabu Druma. Durwaśa memberikan ajaran kepada Krĕsna dan menghilang. Pertempuran sementara tetap berlangsung. Nisunda dan Pañcajana tewas. Hayagrīwa dan Tāra juga tewas.Bhoma dan Kresna berperang; kereta Maņipuşpaka dihancurkan. Kresna mengambil wujudnya sebagai Wisnu, diiringi oleh Garuda, wahananya yang merebut bunga. Bhoma dibunuh oleh Kresna.Para raksasa melarikan diri. Baladewa menemukan sebuah gunung permata di angkasa dan mengambilnya. Brahmā datang dan memberikan sembah kepada Kresna sebagai raja utama.Dewa-dewa lain datang dan Wisnu memberi ajaran mereka atas dharma atau kewajiban masing-masing. Batara Śakra (Indra) memberi anugerah, sehingga Krĕsna meminta supaya semua raja yang telah tewas dan kaum Yadu dihidupkan kembali, dan tidak melupakan musuh-musuhnya Cedi, Karna dan Jarāsandha.Setelah dihidupkan kembali, mereka mengira perang masih berlangsung; Kresna meladeni mantan musuh-musuhnya.Kresna berpulang ke Dwārawatī dan asmanya yang termasyhur dikenal kembali.Para ksatria diberi penghargaan dan hadiah. Para pangeran diberi anugerah pula; Sāmba juga diberi hadiah dan Suratha diberi seorang tuan putri untuk diperistri. Keberanian Kresna dikenal seluruh dunia. Ia lalu bersanggama dengan empat putri pada waktu yang bersamaan sebagai Wisnu. Semua kasta melaksanakan kewajiban mereka.

    BalasHapus
  50. KURNIA NURFITASARI3 April 2009 00.38

    Nama : KURNIA NURFITASARI
    NIM : 2102408102
    Rombel : 04


    Sastra Pesisir Jawa Timur: Suluk-suluk Sunan Bonang

    Jawa Timur adalah propinsi tempat kediaman asal dua suku bangsa besar, yaitu Jawa dan Madura, dengan tiga sub-etnik yang memisahkan diri dari rumpun besarnya seperti Tengger di Probolinggo, Osing di Banyuwangi dan Samin di Ngawi. Dalam sejarahnya kedua suku bangsa tersebut telah lebih sepuluh abad mengembangkan tradisi tulis dalam berkomunikasi dan mengungkapkan pengalaman estetik mereka.

    Kendati kemudian, yaitu pada akhir abad ke-18 M, masing-masing menggunakan bahasa yang jauh berbeda dalam penulisan kitab dan karya sastra – Jawa dan Madura – akan tetapi kesusastraan mereka memiliki akar dan sumber yang sama, serta berkembang mengikuti babakan sejarah yang sejajar. Pada zaman Hindu kesusastraan mereka satu, yaitu sastra Jawa Kuno yang ditulis dalam bahasa Kawi dan aksara Jawa Kuno. Setelah agama Islam tersebar pada abad ke-16 M bahasa Jawa Madya menggeser bahasa Jawa Kuno. Pada periode ini dua aksara dipakai secara bersamaan, yaitu aksara Jawa yang didasarkan tulisan Kawi dan aksara Arab Pegon yang didasarkan huruf Arab Melayu (Jawi).

    Pigeaud (1967:4-7) membagi perkembangan sastra Jawa secara keseluruhan ke dalam empat babakan: (1) Zaman Hindu berlangsung pada abad ke-9 - 15 M. Puncak perkembangan sastra pada periode ini berlangsung pada zaman kerajaan Kediri (abad ke-11 dan 12 M, dilanjutkan dengan zaman kerajaan Singosari (1222-1292 M) dan Majapahit (1292-1478 M); (2) Zaman Jawa-Bali pad abad ke-16 - ke-19 M. Setelah Majapahit diruntuhkan kerajaan Demak pada akhir abad ke-15 M, ribuan pengikut dan kerabat raja Majapahit pindah ke Bali. Kegiatan sastra Jawa Kuno dilanjutkan di tempat tinggal mereka yang baru ini; (3) Zaman Pesisir berlangsung pada abad ke-15 -19 M. Pada zaman ini kegiatan sastra berpindah ke kota-kota pesisir yang merupakan pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam; (4) Zaman Surakarta dan Yogyakarta berlangsung pada abad ke-18 - 20 M. Pada akhir abad ke-18 M di Surakarta, terjadi renaisan sastra Jawa Kuno dipelopori oleh Yasadipura I. Pada masa itu karya-karya Jawa Kuno digubah kembali dalam bahasa Jawa Baru. Lebih kurang tiga dasawarsa kemudian, karya Pesisir juga mulai banyak yang disadur atau dicipta ulang dalam bahasa Jawa Baru di kraton Surakarta.

    Khazanah Sastra Jawa Timur.

    Khazanah sastra zaman Hindu dan Islam Pesisir – dua zaman yang relevan bagi pembicaraan kita — sama melimpahnya. Keduanya telah memainkan peran penting masing-masing dalam kehidupan dalam masyarakat Jawa dan Madura. Pengaruhnya juga tersebar luas tidak terbatas di Jawa, Bali dan Madura. Karya-karya Pesisir ini juga mempengaruhi perkembangan sastra di Banten, Palembang, Banjarmasin, Pasundan dan Lombok (Pigeaud 1967:4-8). Di antara karya Jawa Timur yang paling luas wilayah penyebarannya ialah siklus Cerita Panji. Versi-versinya yang paling awal diperkirakan ditulis menjelang runtuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15 M (Purbatjaraka, 1958). Cerita mengambil latar belakang di lingkungan kerajaan Daha dan Kediri. Versi roman ini, dalam bahasa-bahasa Jawa, Sunda, Bali, Madura, Melayu, Siam, Khmer dan lain-lain, sangat banyak. Dalam sastra Melayu terdapat versi yang ditulis dalam bentuk syair, yang terkenal di antaranya ialah Syair Ken Tambuhan dan Hikayat Andaken Penurat.

    Tetapi bagaimana pun juga yang dipandang sebagai puncak perkembangan sastra Jawa Kuno ialah kakawin seperti Arjuna Wiwaha (Mpu Kanwa), Hariwangsa (Mpu Sedah), Bharatayudha (Mpu Sedah dan Mpu Panuluh), Gatotkacasraya (Mpu Panuluh), Smaradahana (Mpu Dharmaja), Sumanasantaka (Mpu Monaguna), Kresnayana (Mpu Triguna), Arjunawijaya (Mpu Tantular), Lubdhaka (Mpu Tanakung); atau karya-karya yang ditulis lebih kemudian seperti Negarakertagama (Mpu Prapanca), Kunjarakarna, Pararaton, Kidung Ranggalawe, Kidung Sorandaka, Sastra Parwa (serial kisah-kisah dari Mahabharata) dan lain-lain (Zoetmulder 1983: 80-478). Apabila sumber sastra Jawa Kuno terutama sekali ialah sastra Sanskerta, seperti diperlihatkan oleh puitika dan bahasanya yang dipenuhi kosa kata Sanskerta; sumber sastra Pesisir ialah sastra Arab, Parsi dan Melayu. Bahasa pun mulai banyak meminjam kosa kata Arab dan Parsi, terutama yang berhubungan dengan konsep-konsep keagamaan.

    Kegiatan sastra Pesisir bermula di kota-kota pelabuhan Gresik, Tuban, Sedayu, Surabaya, Demak dan Jepara. Di kota-kota inilah komunitas-komunitas Muslim Jawa yang awal mulai terbentuk. Mereka pada umumnya terdiri dari kelas menengah yang terdidik, khususnya kaum saudagar kaya. Dari kota-kota ini kegiatan sastra Pesisir menyebar ke Cirebon dan Banten di Jawa Barat, dan ke Sumenep dan Bangkalan di pulau Madura. Pengaruh sastra Pesisir ternyata tidak hanya terbatas di pulau Jawa saja. Disebabkan mobilitas para pedagang dan penyebar agama Islam yang tinggi, kegiatan tersebut juga menyebar ke luar Jawa seperti Palembang, Lampung, Banjarmasin dan Lombok. Pada abad ke-18 dan 19 M, dengan pindahnya pusat kebudayaan Jawa ke kraton Surakarta dan Yogyakarta, kegiatan penulisan sastra Pesisir juga berkembang di daerah-daerah Surakarta dan Yogyakara, serta tempat lain di sekitarnya seperti Banyumas, Kedu, Madiun dan Kediri (Pigeaud 1967:6-7)

    Khazanah sastra Pesisir tidak kalah melimpahnya dibanding khazanah sastra Jawa Kuno. Khazanah tersebut meliputi karya-karya yang ditulis dalam bahasa Jawa Madya, Madura dan Jawa Baru, dan dapat dikelompokkan menurut jenis dan coraknya sebagaimana pengelompokan dalam sastra Melayu Islam, seperti berikut. (1) Kisah-kisah berkenaan dengan Nabi Muhammad s.a.w; (2) Kisah para Nabi, di Jawa disebut Serat Anbiya’. Dari sumber ini muncul kisah-kisah lepas seperti kisah Nabi Musa, Kisah Yusuf dan Zuleikha, Kisah Nabi Idris, Nuh, Ibrahim, Ismail, Sulaiman, Yunus, Isa dan lain-lain; (3) Kisah Sahabat-sahabat Nabi seperti Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib; (4) Kisah Para Wali seperti Bayazid al-Bhiztami, Ibrahim Adam dan lain-lain; (5) Hikayat Raja-raja dan Pahlawan Islam, seperti Amir Hamzah, Muhammad Hanafiah, Johar Manik, Umar Umayya dan lain-lain. Dalam sastra Jawa, Madura dan Sunda disebut Serat Menak, serial kisah para bangsawan Islam; (6) Sastra Kitab, uraian mengenai ilmu-ilmu Islam seperti tafsir al-Qur’an, hadis, ilmu fiqih, usuluddin, tasawuf, tarikh (sejarah), nahu (tatabahasa Arab), adab (sastra Islam) dan lain-lain, dengan menggunakan gaya bahasa sastra; (7) Karangan-karangan bercorak tasawuf.

    Dalam bentuk puisi karangan seperti itu di Jawa disebut suluk. Tetapi juga tidak jarang dituangkan dalam bentuk kisah perumpamaan atau alegori. Dalam bentuk kisah perumpamaan dapat dimasukkan kisah-kisah didaktis, di antaranya yang mengandung ajaran tasawuf; (7) Karya Ketatanegaraan, yang menguraikan masalah politik dan pemerintahan, diselingi berbagai cerita; (8) Karya bercorak sejarah; (9) Cerita Berbingkai, di dalamnya termasuk fabel atau cerita binatang; (10) Roman, kisah petualangan bercampur percintaan; (11) Cerita Jenaka dan Pelipur Lara. Misalnya cerita Abu Nuwas (Ali Ahmad dan Siti Hajar Che’ Man:1996; Pigeaud I 1967:83-7 ).
    Yang relevan untuk pembicaraan ini ialah no. 6, karangan-karangan bercorak tasawuf dan roman yang sering digubah menjadi alegori sufi. Karangan-karangan bercorak tasawuf disebut suluk dan lazim ditulis dalam bentuk puisi atau tembang. Jumlah karya jenis ini cukup melimpah. Contohnya ialah Kitab Musawaratan Wali Sanga, Suluk Wali Sanga, Mustika Rancang, Suluk Malang Sumirang, Suluk Aceh, Suluk Walih, Suluk Daka, Suluk Syamsi Tabris, Suluk Jatirasa, Suluk Johar Mungkin, Suluk Pancadriya, Ontal Enom (Madura), Suluk Jebeng dan lain-lain. Termasuk kisah perumpamaan dan didaktis ialah Sama’un dan Mariya, Masirullah, Wujud Tunggal, Suksma Winasa, Dewi Malika, Syeh Majenun (Pigeaud I: 84-88). Agak mengejutkan juga karena dalam kelompok ini ditemukan kisah didaktis berjudul Bustan, yang merupakan saduran karya penyair Parsi terkenal abad ke-13 M, Syekh Sa’di al-Syirazi, yang petikan sajak-sajaknya dalam bahasa Persia terdapat pada makam seorang muslimah Pasai, Naina Husamuddin yang wafat pada abad ke-14M.

    Dalam khazanah sastra Pesisir juga didapati karya ketatanegaraan dan pemerintahan seperti Paniti Sastra dan saduran Tajus Salatin karya Bukhari al-Jauhari (1603) dari Aceh. Saduran Taj al-Salatin dalam bahasa Jawa ini ditulis dalam bentuk tembang. Karya-karya kesejarahan tergolong banyak. Di antaranya ialah Babad Giri, Babad Gresik, Babad Demak, Babad Madura, Babad Surabaya, Babad Sumenep, Babad Besuki, Babad Sedayu, Babad Tuban, Kidung Arok, Juragan Gulisman (Madura) dan Kek Lesap (Madura). Ada pun roman yang populer di antaranya ialah Cerita Mursada, Jaka Nestapa, Jatikusuma, Smarakandi, Sukmadi, sedangkan dari Madura ialah Tanda Anggrek, Bangsacara Ragapadmi dan Lanceng Prabhan (Ibid). Karya-karya Pesisir lain dari Madura yang terkenal ialah Caretana Barakay, Jaka Tole, Tanda Serep, Baginda Ali, Paksi Bayan, Rato Sasoce, Malyawan, Serat Rama, Judasan Arab, Menak Satip, Prabu Rara, Rancang Kancana, Hokomollah, Pandita Rahib, Keyae Sentar, Lemmos, Raja Kombhang, Sesigar Sebak, Sokma Jati, Rato Marbin, Murbing Rama, Barkan, Malang Gandring, Pangeran Laleyan, Brangta Jaya dan lain-lain.

    Penulis-penulis Pesisir yang awal pada umumnya ialah para wali dan ahli tasawuf terkemuka seperti Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, Sunan Panggung dan Syekh Siti Jenar. Yang amat disayangkan ialah karena dalam daftar yang terdapat dalam katalog-katalog naskah Jawa Timur, nama pengarang dan penyalin teks jarang sekali disebutkan. Namun sejauh mengenai teks-teks dari Madura, terdapat beberapa nama pengarang terkenal pada abad ke-17 – 19 M yang dapat dicatat. Misalnya Abdul Halim (pengarang Tembang Bato Gunung), Mohamad Saifuddin (pegarang Serat Hokomolla dan Nabbi Mosa), Ahmad Syarif, R. H. Bangsataruna, Sasra Danukusuma, Umar Sastradiwirya dan lain-lain (Abdul Hadi W. M. 1981).

    Penelitian ini tidak akan membahas semua karya yang telah disebutkan, karena apabila dilakukan maka pembicaraan akan menjadi sangat luas. Supaya terfokus, pembicaraan akan ditumpukan pada suluk-suluk karya Sunan Bonang, khususnya Suluk Wujil, yang sedikit banyak mencerminkan kecenderungan umum sastra Pesisir awal. Beberapa alasan lain dapat dikemukakan di sini, sebagai berikut:

    Pertama, Kajian terhadap karya Jawa Kuna telah banyak dilakukan baik oleh sarjana Indonesia maupun asing, sedangkan karya Pesisir masih sangat sedikit yang memberi perhatian. Padahal pengaruh karya Pesisir itu tidak kecil terdahap kebudayaan masyarakat Jawa Timur. Pengaruh tersebut meliputi bidang-bidang seperti metafisika, kosmologi, etika, psikologi dan estetika, karena yang diungkapkan karya-karya Pesisir itu mencakup persoalan-persoalan yang dibicarakan dalam bidang-bidang tersebut.

    Kedua, Selama beberapa dasawarsa Sunan Bonang hanya dikenal sebagai seorang wali dan belum banyak yang membahas karya-karya serta pemikirannya di bidang keruhanian, kebudayaan dan agama. Kajian yang cukup mendalam sebagian besar dilakukan oleh sarjana asing seperti Schrieke (1911), Kraemer (1921) dan Drewes (1967). Sarjana Indonesia yang meneliti, namun tidak mendalam ialah Purbatjaraka (1938). Selebihnya pembicaraan mengenai Sunan Bonang hanya menyangkut kegiatannya sebagai wali penyebar agama Islam.

    Ketiga, Suluk sebagai karangan bercorak tasawuf yang disampaikan dalam bentuk tembang, mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan spiritual masyarakat Jawa Timur. Mengingkari peranan suluk dan sastra suluk adalah mengingkari realitas budaya masyarakat Jawa Timur.

    Keempat, Suluk-suluk Sunan Bonang mencerminkan babakan sejarah yang penting dalam kebudayaan Jawa, yaitu zaman peralihan dari Hindu ke Islam yang berlangsung secara damai.

    Kelima, Suluk-suluk tersebut merupakan karya bercorak tasawuf paling awal dalam sejarah sastra Jawa secara umum dan pengaruhnya tidak kecil bagi perkembangan sastra Pesisir.

    Sunan Bonang Sebagai Pengarang

    Sunan Bonang diperkirakan lahir pada pertengahan abad ke-15 M dan wafat pada awal abad ke-16 M. Ada yang memperkirakan wafat pada tahun 1626 atau 1630, ada yang memperkirakan pada tahun 1622 (de Graff & Pigeaud 1985:55). Dia adalah ulama sufi, ahli dalam berbagai bidang ilmu agama dan sastra. Juga dikenal ahli falak, musik dan seni pertunjukan. Sebagai sastrawan dia menguasai bahasa dan kesusastraan Arab, Persia, Melayu dan Jawa Kuno. Nama aslinya ialah Makhdum Ibrahim. Dalam suluk-suluknya dan dari sumber-sumber sejarah lokal ia disebut dengan berbagai nama gelaran seperti Ibrahim Asmara, Ratu Wahdat, Sultan Khalifah dan lain-lain (Hussein Djajadiningrat 1913; Purbatjaraka 1938; Drewes 1968). Nama Sunan Bonang diambil dari nama tempat sang wali mendirikan pesujudan (tempat melakukan `uzlah) dan pesantren di desa Bonang, tidak jauh dari Lasem di perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur sekarang ini. Tempat ini masih ada sampai sekarang dan ramai diziarahi pengunjung untuk menyepi, seraya memperbanyak ibadah seperti berzikir, mengaji al-Qur’an dan tiraqat (Abdul Hadi W. M. 2000:96-107).

    Kakeknya bernama Ibrahim al-Ghazi bin Jamaluddin Husain, seorang ulama terkemuka keturunan Turki-Persia dari Samarkand. Syekh Ibrahim al-Ghazi sering dipanggil Ibrahim Asmarakandi (Ibrahim al-Samarqandi), nama takhallus atau gelar yang kelak juga disandang oleh cucunya. Sebelum pindah ke Campa pada akhir abad ke-14 M, Syekh Ibrahim al-Ghazi tinggal di Yunan, Cina Selatan. Pada masa itu Yunan merupakan tempat singgah utama ulama Asia Tengah yang akan berdakwah ke Asia Tenggara. Di Campa dia kawin dengan seorang putri Campa keturunan Cina dari Yunan. Pada tahun 1401 M lahirlah putranya Makhdum Rahmat, yang kelak akan menjadi masyhur sebagai wali terkemuka di pulau Jawa dengan nama Sunan Ampel. Setelah dewasa Rahmat pergi ke Surabaya, mengikuti jejak bibinya Putri Dwarawati dari Campa yang diperistri oleh raja Majapahit Prabu Kertabhumi atau Brawijaya V.

    Di Surabaya, ayah Sunan Bonang ini, mendapat tanah di daerah Ampel, Surabaya, tempat dia mendirikan masjid dan pesantren. Dari perkawinannya dengan seorang putri Majapahit, yaitu anak adipati Tuban, Tumenggung Arya Teja, dia memperoleh beberapa putra dan putri. Seorang di antaranya yang masyhur ialah Makhdum Ibrahim alias Sunan Bonang. (Hussein Djajadiningrat 1983:23; Agus Sunyoto 1995::48).

    Sejak muda Makhdum Ibrahim adalah seorang pelajar yang tekun dan muballigh yang handal. Setelah mempelajari bahasa Arab dan Melayu, serta berbagai cabang ilmu agama yang penting seperti fiqih, usuluddin, tafsir Qur’an, hadis dan tasawuf; bersama saudaranya Sunan Giri dia pergi ke Mekkah dengan singgah terlebih dahulu di Malaka, kemudian ke Pasai. Di Malaka dan Pasai mereka mempelajari bahasa dan sastra Arab lebih mendalam. Sejarah Melayu merekam kunjungan Sunan Bonang dan Sunan Giri ke Malaka sebelum melanjutkan perjalanan ke Pasai. Sepulang dari Mekkah, melalui jalan laut dengan singgah di Gujarat, India, Sunan Bonang ditugaskan oleh ayahnya untuk memimpin masjid Singkal, Daha di Kediri (Kalamwadi 1990:26-30). Di sini dia memulai kariernya pertama kali sebagai pendakwah.

    Ketika masjid Demak berdiri pada tahun 1498 M Sunan Bonang menjadi imamnya untuk yang pertama. Dalam menjalankan tugasnya itu dia dibantu oleh Sunan Kalijaga, Ki Ageng Selo dan wali yang lain. Di bawah pimpinannya masjid agung itu berkembang cepat menjadi pusat keagamaan dan kebudayaan terkemuka. Tetapi sekitar tahun 1503 M, dia berselisih paham dengan Sultan Demak dan memutuskan untuk meletakkan jabatannya sebagai imam masjid agung. Dari Demak Sunan Bonang pindah ke Lasem, dan memilih desa Bonang sebagai tempat kegiatannya yang baru. Di sini dia mendidirikan pesujudan dan pesantren. Beberapa karya Sunan Bonang, khususnya Suluk Wujil, mengambil latar kisah di pesujudannya ini. Di tempat inilah dia mengajarkan tasawuf kepada salah seorang muridnya, Wujil, seorang cebol namun terpelajar dan bekas abdi dalem kraton Majapahit (Abdul Hadi W. M. 2000:96-107).

    Setelah cukup lama tinggal di Bonang dan telah mendidik banyak murid, dia pun pulang ke Tuban. Di sini dia mendirikan masjid besar dan pesantren, meneruskan kegiatannya sebagai seorang muballigh, pendidik, budayawan dan sastrawan terkemuka sehingga masa akhir hayatnya.
    Dalam sejarah sastra Jawa Pesisir, Sunan Bonang dikenal sebagai penyair yang prolifik dan penulis risalah tasawuf yang ulung. Dia juga dikenal sebagai pencipta beberapa tembang (metrum puisi) baru dan mengarang beberapa cerita wayang bernafaskan Islam. Sebagai musikus dia menggubah beberapa gending (komposisi musik gamelan) seperti gending Dharma yang sangat terkenal. Di bawah pengaruh wawasan estetika sufi yang diperkenalkan para wali termasuk Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, gamelan Jawa berkembang menjadi oskestra polyfonik yang sangat meditatif dan kontemplatif. Sunan Bonang pula yang memasukkan instrumen baru seperti rebab Arab dan kempul Campa (yang kemudian disebut bonang, untuk mengabadikan namanya) ke dalam susunan gamelan Jawa.

    Karya-karya Sunan Bonang yang dijumpai hingga sekarang dapat dikelompokkan menjadi dua: (1) Suluk-suluk yang mengungkapkan pengalamannya menempuh jalan tasawuf dan beberapa pokok ajaran tasawufnya yang disampaikan melalui ungkapan-ungkapan simbolik yang terdapat dalam kebudayaan Arab, Persia, Melayu dan Jawa. Di antara suluk-suluknya ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Kaderesan, Suluk Regol, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Pipiringan, Gita Suluk Latri, Gita Suluk Linglung, Gita Suluk ing Aewuh, Gita Suluk Jebang, Suluk Wregol dan lain-lain (Drewes 1968). (2) Karangan prosa seperti Pitutur Sunan Bonang yang ditulis dalam bentuk dialog antara seorang guru sufi dan muridnya yang tekun. Bentuk semacam ini banyak dijumpai sastra Arab dan Persia.

    Suluk-suluk Sunan Bonang

    Sebagaimana telah dikemukakan suluk adalah salah satu jenis karangan tasawuf yang dikenal dalam masyarakat Jawa dan Madura dan ditulis dalam bentuk puisi dengan metrum (tembang) tertentu seperti sinom, wirangrong, kinanti, smaradana, dandanggula dan lain-lain . Seperti halnya puisi sufi umumnya, yang diungkapkan ialah pengalaman atau gagasan ahli-ahli tasawuf tentang perjalana keruhanian (suluk) yang mesti ditempuh oleh mereka yang ingin mencpai kebenaran tertinggi, Tuhan, dan berkehendak menyatu dengan Rahasia Sang Wujud. Jalan itu ditempuh melalui berbagai tahapan ruhani (maqam) dan dalam setiap tahapan seseorang akan mengalami keadaan ruhani (ahwal) tertentu, sebelum akhirnya memperoleh kasyf (tersingkapnya cahaya penglihatan batin) dan makrifat, yaitu mengenal Yang Tunggal secara mendalam tanpa syak lagi (haqq al-yaqin). Di antara keadaan ruhani penting dalam tasawuf yang sering diungkapkan dalam puisi ialah wajd (ekstase mistis), dzawq (rasa mendalam), sukr (kegairahan mistis), fana’ (hapusnya kecenderungan terhadap diri jasmani), baqa’ (perasaan kekal di dalam Yang Abadi) dan faqr (Abdul Hadi W. M. 2002:18-19).

    Faqr adalah tahapan dan sekaligus keadaan ruhani tertinggi yang dicapai seorang ahli tasawuf, sebagai buah pencapaian keadaan fana’ dan baqa’. Seorang faqir, dalam artian sebenarnya menurut pandangan ahli tasawuf, ialah mereka yang demikian menyadari bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki apa-apa, kecuali keyakinan dan cinta yang mendalam terhadap Tuhannya. Seorang faqir tidak memiliki keterpautan lagi kepada segala sesuatu kecuali Tuhan. Ia bebas dari kungkungan ‘diri jasmani’ dan hal-hal yang bersifat bendawi, tetapi tidak berarti melepaskan tanggung jawabnya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Sufi Persia abad ke-13 M menyebut bahwa jalan tasawuf merupakan Jalan Cinta (mahabbah atau `isyq). Cinta merupakan kecenderungan yang kuat terhadap Yang Satu, asas penciptaan segala sesuatu, metode keruhanian dalam mencapai kebenaran tertinggi, jalan kalbu bukan jalan akal dalam memperoleh pengetahuan mendalam tentang Yang Satu (Ibid).

    Sebagaimana puisi para sufi secara umum, jika tidak bersifat didaktis, suluk-suluk Sunan Bonang ada yang bersifat lirik. Pengalaman dan gagasan ketasawufan yang dikemukakan, seperti dalam karya penyair sufi di mana pun, biasanya disampaikan melalui ungkapan simbolik (tamsil) dan ungkapan metaforis (mutasyabihat). Demikian dalam mengemukakan pengalaman keruhanian di jalan tasawuf, dalam suluk-suluknya Sunan Bonang tidak jarang menggunakan kias atau perumpamaan, serta citraan-citraan simbolik. Citraan-citraan tersebut tidak sedikit yang diambil dari budaya lokal. Kecenderungan tersebut berlaku dalam sastra sufi Arab, Persia, Turki, Urdu, Sindhi, Melayu dan lain-lain, dan merupakan prinsip penting dalam sistem sastra dan estetika sufi (Annemarie Schimmel 1983: ) Karena tasawuf merupakan jalan cinta, maka sering hubungan antara seorang salik (penempuh suluk) dengan Yang Satu dilukiskan atau diumpamakan sebagai hubungan antara pencinta (`asyiq) dan Kekasih (mahbub, ma`syuq).

    Drewes (1968, 1978) telah mencatat sejumlah naskah yang memuat suluk-suluk yang diidentifikasikan sebagai karya Sunan Bonang atau Pangeran Bonang, khususnya yang terdapat di Museum Perpustakaan Universitas Leiden, dan memberi catatan ringkas tentang isi suluk-suluk tersebut. Penggunaan tamsil pencinta dan Kekasih misalnya terdapat dalam Gita Suluk Latri yang ditulis dalam bentuk tembang wirangrong. Suluk ini menggambarkan seorang pencinta yang gelisah menunggu kedatangan Kekasihnya. Semakin larut malam kerinduan dan kegelisahannya semakin mengusiknya, dan semakin larut malam pula berahinya (`isyq) semakin berkobar. Ketika Kekasihnya datang dia lantas lupa segala sesuatu, kecuali keindahan wajah Kekasihnya. Demikianlah sestelah itu sang pencinta akhirnya hanyut dibawa ombak dalam lautan ketakterhinggaan wujud.

    Dalam Suluk Khalifah Sunan Bonang menceritakan kisah-kisah kerohanian para wali dan pengalaman mereka mengajarkan kepada orang yang ingin memeluk agama Islam. Suluk ini cukup panjang. Sunan Bonang juga menceritakan pengalamannya selama berada di Pasai bersama guru-gurunya serta perjalanannya menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Karya yang tidak kalah penting ialah Suluk Gentur atau Suluk Bentur. Suluk ini ditulis di dalam tembang wirangrong dan cukup panjang.

    Gentur atau bentur berarti lengkap atau sempruna. Di dalamnya digambarkan jalan yang harus ditempuh seorang sufi untuk mencapai kesadaran tertiggi. Dalam perjalanannya itu ia akan berhadapan dengan maut dan dia akan diikuti oleh sang maut kemana pun ke mana pun ia melangkah. Ujian terbesar seorang penempuh jalan tasawuf atau suluk ialah syahadat dacim qacim. Syahadat ini berupa kesaksian tanpa bicara sepatah kata pun dalam waktu yang lama, sambil mengamati gerik-gerik jasmaninya dalam menyampaikan isyarat kebenaran dan keunikan Tuhan. Garam jatuh ke dalam lautan dan lenyap, tetapi tidak dpat dikatakan menjadi laut. Pun tidak hilang ke dalam kekosongan (suwung). Demikian pula apabila manusia mencapai keadaan fana’ tidak lantas tercerap dalam Wujud Mutlak. Yang lenyap ialah kesadaran akan keberadaan atau kewujudan jasmaninya.

    Dalam suluknya ini Sunan Bonang juga mengatakan bahwa pencapaian tertinggi seseorang ialah fana’ ruh idafi, yaitu ‘keadaan dapat melihat peralihan atau pertukaran segala bentuk lahir dan gejala lahir, yang di dalamnya kesadaran intuititf atau makrifat menyempurnakan penglihatannya tentang Allah sebagai Yang Kekal dan Yang Tunggal’. Pendek kata dalam fana’ ruh idafi seseorang sepenuhnya menyaksikan kebenaran hakiki ayat al-qur`an 28:88, “Segala sesuatu binasa kecuali Wajah-Nya”. Ini digambarkan melalui peumpamaan asyrafi (emas bentukan yang mencair dan hilang kemuliannya, sedangkan substansinya sebagai emas tidak lenyap. Syahadat dacim qacim adalah kurnia yang dilimpahkan Tuhan kepada seseorang sehingga ia menyadari dan menyaksikan dirinya bersatu dengan kehendak Tuhan (sapakarya). Menurut Sunan Bonang, ada tiga macam syahadat:

    1. Mutawilah (muta`awillah di dalam bahasa Arab)
    2. Mutawassitah (Mutawassita)
    3. Mutakhirah (muta`akhira)

    Yang pertama syahadat (penyaksian) sebelum manusia dilahirkan ke dunia yaitu dari Hari Mitsaq (Hari Perjanjian) sebagaimana dikemukakan di dalam ayat al-Qur`an 7: 172, “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya, aku menyaksikan” (Alastu bi rabbikum? Qawl bala syahidna). Yang ke dua ialah syahadat ketika seseorang menyatakan diri memeluk agama Islam dengan mengucap “Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya”. Yang ketiga adalah syahadat yang diucapkan para Nabi, Wali dan Orang Mukmin sejati. Bilamana tiga syahadat ini dipadukan menjadi satu maka dapat diumpamakan seperti kesatuan transenden antara tindakan menulis, tulisan dan lembaran kertas yang mengandung tulisan itu. Juga dapat diumpamakan seperti gelas, isinya dan gelas yang isinya penuh. Bilamana gelas bening, isinya akan tampak bening sedang gelasnya tidak kelihatan. Begitu pula hati seorang mukmin yang merupakan tempat kediaman Tuhan, akan memperlihatkan kehadiran-Nya bilamana hati itu bersih, tulus dan jujur.

    Di dalam hati yang bersih, dualitas lenyap. Yang kelihatan ialah tindakan cahaya-Nya yang melihat. Artinya dalam melakukan perbuatan apa saja seorang mukmin senantiasa sadar bahwa dia selalu diawasi oleh Tuhan, yang menyebabkannya tidak lalai menjalankan perintah agama.. Perumpamaan ini dapat dirujuk kepada perumpamaan serupa di dalam Futuh al-Makkiyah karya Ibn `Arabi dan Lamacat karya `Iraqi.

    Karya Sunan Bonang juga unik ialah Gita Suluk Wali, untaian puisi-puisi lirik yang memikat. Dipaparkan bahwa hati seorang yang ditawan oleh rasa cinta itu seperti laut pasang menghanyutkan atau seperti api yang membakar sesuatu sampai hangus. Untaian puisi-puisi ini diakhiri dengna pepatah sufi “Qalb al-mukmin bait Allah” (Hati seorang mukmin adalah tempat kediaman Tuhan).

    Suluk Jebeng.

    Ditulis dalam tembang Dhandhanggula dan dimulai dengan perbincangan mengenai wujud manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi dan bahawasanya manusia itu dicipta menyerupai gambaran-Nya (mehjumbh dinulu). Hakekat diri yang sejati ini mesti dikenal supaya perilaku dan amal perubuatan seseorang di dunia mencerminkan kebenaran. Persatuan manusia dengan Tuhan diumpamakan sebagai gema dengan suara. Manusia harus mengenal suksma (ruh) yang berada di dalam tubuhnya. Ruh di dalam tubuh seperti api yang tak kelihatan. Yang nampak hanyalah bara, sinar, nyala, panas dan asapnya. Ruh dihubungkan dengan wujud tersembunyi, yang pemunculan dan kelenyapannya tidak mudah diketahui. Ujar Sunan Bonang:

    Puncak ilmu yang sempurna
    Seperti api berkobar
    Hanya bara dan nyalanya
    Hanya kilatan cahaya
    Hanya asapnya kelihatan
    Ketauilah wujud sebelum api menyala
    Dan sesudah api padam
    Karena serba diliputi rahasia
    Adakah kata-kata yang bisa menyebutkan?

    Jangan tinggikan diri melampaui ukuran
    Berlindunglah semata kepada-Nya
    Ketahui, rumah sebenarnya jasad ialah ruh
    Jangan bertanya
    Jangan memuja nabi dan wali-wali
    Jangan mengaku Tuhan
    Jangan mengira tidak ada padahal ada
    Sebaiknya diam
    Jangan sampai digoncang
    Oleh kebingungan

    Pencapaian sempurna
    Bagaikan orang yang sedang tidur
    Dengan seorang perempuan, kala bercinta
    Mereka karam dalam asyik, terlena
    Hanyut dalam berahi
    Anakku, terimalah
    Dan pahami dengan baik
    Ilmu ini memang sukar dicerna

    Satu-satunya karangan prosa Sunan Bonang yang dapat diidentifikasi sampai sekarang ialah Pitutur Seh Bari. Salah satu naskah yang memuat teks karangan prosa Sunan Bonang ini ialah MS Leiden Cod. Or. 1928. Naskah teks ini telah ditransliterasi ke dalam tulisan Latin, serta diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Schrieke dalam disertasi doktornya Het Boek van Bonang (1911). Hoesein Djajadiningrat juga pernah meneliti dan mengulasnya dalam tulisannya ”Critische Beschouwing van de Sedjarah Banten” (1913). Terakhir naskah teks ini ditransliterasi dan disunting oleh Drewes, dalam bukunya The Admonotions of Seh Bari (1978), disertai ulasan dan terjemahannya dalam bahasa Inggris.

    Kitab ini ditulis dalam bentuk dialog atau tanya-jawab antara seorang penuntut ilmu suluk, Syaful Rijal, dan gurunya Syekh Bari. Nama Syaiful Rijal, yang artinya pedang yang tajam, biasa dipakai sebagai julukan kepada seorang murid yang tekun mempelajari tasawuf (al-Attas 1972). Mungkin ini adalah sebutan untuk Sunan Bonang sendiri ketika menjadi seorang penuntut ilmu suluk. Syekh Bari diduga adalah guru Sunan Bonang di Pasai dan berasal dari Bar, Khurasan, Persia Timur Daya (Drewes 1968:12). Secara umum ajaran tasawuf yang dikemukakan dekat dengan ajaran dua tokoh tasawuf besar dari Persia, Imam al-Ghazali (w. 1111 M) dan Jalaluddin al-Rumi (1207-1273 M). Nama-nama ahli tasawuf lain dari Persia yang disebut ialah Syekh Sufi (mungkin Harits al-Muhasibi), Nuri (mungkin Hasan al-Nuri) dan Jaddin (mungkin Junaid al-Baghdadi). Ajaran ketiga tokoh tersebut merupakan sumber utama ajaran Imam al-Ghazali (al-Taftazani 1985:6). Istilah yang digunakan dalam kitab ini, yaitu ”wirasaning ilmu suluk” (jiwa atau inti ajaran tasawuf) mengingatkan pada pernyataan Imam al-Ghazali bahwa tasawuf merupakan jiwa ilmu-ilmu agama.


    Suluk Wujil

    Di antara suluk karya Sunan Bonang yang paling dikenal dan relevan bagi kajian ini ialah Suluk Wujil (SW). Dari segi bahasa dan puitika yang digunakan, serta konteks sejarahnya dengan perkembangan awal sastra Pesisir, SW benar-benar mencerminkan zaman peralihan Hindu ke Islam (abad ke-15 dan 16 M) yang sangat penting dalam sejarah Jawa Timur. Teks SW dijumpai antara lain dalam MS Bataviasche Genotschaft 54 (setelah RI merdeka disimpan di Museum Nasional, kini di Perpustakaan Nasional Jakarta) dan transliterasinya ke dalam huruf Latin dilakukan oleh Poerbatjaraka dalam tulisannya ”De Geheime Leer van Soenan Bonang (Soeloek Woedjil)” (majalah Djawa vol. XVIII, 1938). Terjemahannya dalam bahasa Indonesia pernah dilakukan oleh Suyadi Pratomo (1985), tetapi karena tidak memuaskan, maka untuk kajian ini kami berusaha menerjemahkan sendiri teks hasil transliterasi Poerbatjaraka.

    Sebagai karya zaman peralihan Hindu ke Islam, pentingnya karya Sunan Bonang ini tampak dalam hal-hal seperti berikut: Pertama, dalam SW tergambar suasana kehidupan badaya, intelektual dan keagamaan di Jawa pada akhir abad ke-15, yang sedang beralih kepercayaan dari agama Hindu ke agama Islam. Di arena politik peralihan itu ditandai denga runtuhnya Majapahit, kerajaan besar Hindu terakhir di Jawa, dan bangunnya kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama. Demak didirikan oleh Raden Patah, putera raja Majapahit Prabu Kertabumi atau Brawijaya V daripada perkawinannya dengan seorang puteri Cina yang telah memeluk Islam. Dengan runtuhnya Majapahit terjadilah perpindahan kegiatan budaya dan intelektual dari sebuah kerajaan Hindu ke sebuah kerajaan Islam dan demikian pula tata nilai kehidupan masyarakat pun berubah.


    Di lapangan sastra peralihan ini dapat dilihat dengan berhentinya kegiatan sastera Jawa Kuna setelah penyair terakhir Majapahit, Mpu Tantular dan Mpu Tanakung, meninggal dunia pda pertengahan abad ke-15 tanpa penerus yang kuat. Kegiatan pendidikan pula mula beralih ke pusat-pusat baru di daerah pesisir. Dari segi bahasa suluk ini memperlihatkan “keanehan-keanehan bahasa Jawa Kuna zaman Hindu” (Purbatjaraka: 1938) karena memang ditulis pada zaman permulaan munculnya bahasa Jawa Madya. Dari segi puitika pula, cermin zaman peralihan begitu ketara. Penulisnya menggunakan tembang Aswalalita yang agak menyimpang, selain tembang Dhandhanggula. Aswalalita adalah metrum Jawa Kuna yang dicipta berdasarkan puitika Sanskerta. Setelah wafatnya Sunan Bonang tembang ini tidak lagi digunakan oleh para penulis tembang di Jawa.

    Sunan Bonang sebagai seorang penulis Muslim awal dalam sastra Jawa, menunjukkan sikap yang sangat berbeda dengan para penulis Muslim awal di Sumatra. Yang terakhir sudah sejak awal kegiatan kreatifnya menggunakan huruf Jawi atau Arab Melayu, sedangkan Sunan Bonang dan penulis-penulis Muslim Jawa yang awal masih menggunakan huruf Jawa, dan baru ketika agama Islam telah tersebar luas huruf Arab digunakan untuk menulis teks-teks berbahasa Jawa. Dalam penulisan puisinya, Sunan Bonang juga banyak menggunakan tamsil-tamsil yang tidak asing dalam kebudayaan Jawa pada masa itu. Misalnya tamsil wayang, dalang dan lakon cerita pewayangan seperti Perang Bharata antara Kurawa dan Pandawa. Selain itu dia juga masih mempertahankan penggunaan bentuk tembang Jawa Kuno, yaitu aswalalita, yang didasarkan pada puitika Sanskerta. Dengan cara demikian, kehadiran karyanya tidak dirasakan sebagai sesuatu yang asing bagi pembaca sastra Jawa, malahan dipandangnya sebagai suatu kesinambungan.
    Kedua, pentingnya Suluk Wujil karena renungan-renungannya tentang masalah hakiki di sekitar wujud dan rahasia terdalam ajaran agama, memuaskan dahaga kaum terpelajar Jawa yang pada umumnya menyukai mistisisme atau metafisika, dan seluk beluk ajaran keruhanian. SW dimulai dengan pertanyaan metafisik yang esensial dan menggoda sepanjang zaman, di Timur maupun Barat:

    1
    Dan warnanen sira ta Pun Wujil
    Matur sira ing sang Adinira
    Ratu Wahdat
    Ratu Wahdat Panenggrane
    Samungkem ameng Lebu?
    Talapakan sang Mahamuni
    Sang Adhekeh in Benang,
    mangke atur Bendu
    Sawetnya nedo jinarwan
    Saprapating kahing agama kang sinelit
    Teka ing rahsya purba

    2
    Sadasa warsa sira pun Wujil
    Angastupada sang Adinira
    Tan antuk warandikane
    Ri kawijilanipun
    Sira wujil ing Maospait
    Ameng amenganira
    Nateng Majalanggu
    Telas sandining aksara
    Pun Wujil matur marang Sang Adi Gusti
    Anuhun pangatpada

    3
    Pun Wujil byakteng kang anuhun Sih
    Ing talapakan sang Jati Wenang
    Pejah gesang katur mangke
    Sampun manuh pamuruh
    Sastra Arab paduka warti
    Wekasane angladrang
    Anggeng among kayun
    Sabran dina raraketan
    Malah bosen kawula kang aludrugi
    Ginawe alan-alan

    4
    Ya pangeran ing sang Adigusti
    Jarwaning aksara tunggal
    Pengiwa lan panengene
    Nora na bedanipun
    Dening maksih atata gendhing
    Maksih ucap-ucapan
    Karone puniku
    Datan polih anggeng mendra-mendra
    Atilar tresna saka ring Majapait
    Nora antuk usada

    5
    Ya marma lunganging kis ing wengi
    Angulati sarasyaning tunggal
    Sampurnaning lampah kabeh
    Sing pandhita sundhuning
    Angulati sarining urip
    Wekasing jati wenang
    Wekasing lor kidul
    Suruping radya wulan
    Reming netra lalawa suruping pati
    Wekasing ana ora

    Artinya, lebih kurang:

    1
    Inilah ceritera si Wujil
    Berkata pada guru yang diabdinya
    Ratu Wahdat
    Ratu Wahdat nama gurunya
    Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung
    Yang tinggal di desa Bonang
    Ia minta maaf
    Ingin tahu hakikat
    Dan seluk beluk ajaran agama
    Sampai rahasia terdalam

    2
    Sepuluh tahun lamanya Sudah

    Wujil Berguru kepada Sang Wali
    Namun belum mendapat ajaran utama
    Ia berasal dari Majapahit
    Bekerja sebagai abdi raja
    Sastra Arab telah ia pelajari
    Ia menyembah di depan gurunya
    Kemudian berkata
    Seraya menghormat
    Minta maaf

    3
    “Dengan tulus saya mohon
    Di telapak kaki tuan Guru
    Mati hidup hamba serahkan
    Sastra Arab telah tuan ajarkan
    Dan saya telah menguasainya
    Namun tetap saja saya bingung
    Mengembara kesana-kemari
    Tak berketentuan.
    Dulu hamba berlakon sebagai pelawak
    Bosan sudah saya
    Menjadi bahan tertawaan orang

    4
    Ya Syekh al-Mukaram!
    Uraian kesatuan huruf
    Dulu dan sekarang
    Yang saya pelajari tidak berbeda
    Tidak beranjak dari tatanan lahir
    Tetap saja tentang bentuk luarnya
    Saya meninggalkan Majapahit
    Meninggalkan semua yang dicintai
    Namun tak menemukan sesuatu apa
    Sebagai penawar

    5
    Diam-diam saya pergi malam-malam
    Mencari rahasia Yang Satu dan jalan sempurna
    Semua pendeta dan ulama hamba temui
    Agar terjumpa hakikat hidup
    Akhir kuasa sejati
    Ujung utara selatan
    Tempat matahari dan bulan terbenam
    Akhir mata tertutup dan hakikat maut
    Akhir ada dan tiada

    Pertanyaan-pertanyaan Wujil kepada gurunya merupakan pertanyaan universal dan eksistensial, serta menukik hingga masalah paling inti, yang tidak bisa dijawab oleh ilmu-ilmu lahir. Terbenamnya matahari dan bulan, akhir utara dan selatan, berkaitan dengan kiblat dan gejala kehidupan yang senantiasa berubah. Jawabannya menghasilkan ilmu praktis dan teoritis seperti fisika, kosmologi, kosmogeni, ilmu pelayaran, geografi dan astronomi. Kapan mata tertutup berkenaan dengan pancaindra dan gerak tubuh kita. Sadar dan tidak sadar, bingung dan gelisah, adalah persoalan psikologi. Ada dan tiada merupakan persoalan metafisika. Setiap jawaban yang diberikan sepanjang zaman di tempat yang berbeda-beda, selalu unik, sebagaimana pertanyaan terhadap hakikat hidup dan kehidupan. Lantas apakah dalam hidupnya manusia benar-benar menguasai dirinya dan menentukan hidupnya sendiri? Siapa kuasa sejati itu? Persoalan tentang rahasia Yang Satu akan membawa orang pada persoalan tentang Yang Abadi, Yang Maha Hidup, Wujud Mutlak yang ada-Nya tidak tergantung pada sesuatu yang lain.


    Tampaknya pertanyaan itu memang ditunggu oleh Sunan Bonang, sebab hanya melalui pertanyaan seperti itu dia dapat menyingkap rahasia ilmu tasawuf dan relevansinya, kepada Wujil. Maka Sunan Bonang pun menjawab:

    6
    Sang Ratu Wahdat mesem ing lathi
    Heh ra Wujil kapo kamangkara
    Tan samanya pangucape
    Lewih anuhun bendu
    Atunira taha managih
    Dening geng ing sakarya
    Kang sampun alebu
    Tan padhitane dunya
    Yen adol warta tuku warta ning tulis
    Angur aja wahdat

    7
    Kang adol warta tuhu warti
    Kumisum kaya-kaya weruha
    Mangke ki andhe-andhene
    Awarna kadi kuntul
    Ana tapa sajroning warih
    Meneng tan kena obah
    Tinggalipun terus
    Ambek sadu anon mangsa
    Lirhantelu outihe putih ing jawi
    Ing jro kaworan rakta

    8
    Suruping arka aganti wengi
    Pun Wujil anuntu maken wraksa
    Badhi yang aneng dagane
    Patapane sang Wiku
    Ujung tepining wahudadi
    Aran dhekeh ing Benang
    Saha-saha sunya samun
    Anggaryang tan ana pala boga
    Ang ing ryaking sagara nempuki
    Parang rong asiluman

    9
    Sang Ratu Wahdat lingira aris
    Heh ra Wujil marangke den enggal
    Tur den shekel kukuncire
    Sarwi den elus-elus
    Tiniban sih ing sabda wadi
    Ra Wujil rungokna
    Sasmita katenggun
    Lamun sira kalebua
    Ing naraka isung dhewek angleboni
    Aja kang kaya sira

    … 11
    Pangestisun ing sira ra Wujil
    Den yatna uripira neng dunya
    Ywa sumambar angeng gawe
    Kawruhana den estu
    Sariranta pon tutujati
    Kang jati dudu sira
    Sing sapa puniku
    Weruh rekeh ing sariri
    Mangka saksat wruh sira
    Maring Hyang Widi
    Iku marga utama

    Artinya lebih kurang:

    6
    Ratu Wahdat tersenyum lembut
    “Hai Wujil sungguh lancang kau
    Tuturmu tak lazim
    Berani menagih imbalan tinggi
    Demi pengabdianmu padaku
    Tak patut aku disebut Sang Arif
    Andai hanya uang yang diharapkan
    Dari jerih payah mengajarkan ilmu
    Jika itu yang kulakukan
    Tak perlu aku menjalankan tirakat

    7
    Siapa mengharap imbalan uang
    Demi ilmu yang ditulisnya
    Ia hanya memuaskan diri sendiri
    Dan berpura-pura tahu segala hal
    Seperti bangau di sungai
    Diam, bermenung tanpa gerak.
    Pandangnya tajam, pura-pura suci
    Di hadapan mangsanya ikan-ikan
    Ibarat telur, dari luar kelihatan putih
    Namun isinya berwarna kuning

    8
    Matahari terbenam, malam tiba
    Wujil menumpuk potongan kayu
    Membuat perapian, memanaskan
    Tempat pesujudan Sang Zahid
    Di tepi pantai sunyi di Bonang
    Desa itu gersang
    Bahan makanan tak banyak
    Hanya gelombang laut
    Memukul batu karang
    Dan menakutkan

    9
    Sang Arif berkata lembut
    “Hai Wujil, kemarilah!”
    Dipegangnya kucir rambut Wujil
    Seraya dielus-elus
    Tanda kasihsayangnya
    “Wujil, dengar sekarang
    Jika kau harus masuk neraka
    Karena kata-kataku
    Aku yang akan menggantikan tempatmu”



    11
    “Ingatlah Wujil, waspadalah!
    Hidup di dunia ini
    Jangan ceroboh dan gegabah
    Sadarilah dirimu
    Bukan yang Haqq
    Dan Yang Haqq bukan dirimu
    Orang yang mengenal dirinya
    Akan mengenal Tuhan
    Asal usul semua kejadian
    Inilah jalan makrifat sejati”

    Dalam bait-bait yang telah dikutip dapat kita lihat bahwa pada permulaan suluknya Sunan Bonang menekankan bahwa Tuhan dan manusia itu berbeda. Tetapi karena manusia adalah gambaran Tuhan, maka ’pengetahuan diri’ dapat membawa seseorang mengenal Tuhannya. ’Pengetahuan diri’ di sini terangkum dalam pertanyaan: Apa dan siapa sebenarnya manusia itu? Bagaimana kedudukannya di atas bumi? Dari mana ia berasal dan kemana ia pergi setelah mati? Pertama-tama, ‘diri’ yang dimaksud penulis sufi ialah ‘diri ruhani’, bukan ‘diri jasmani’, karena ruhlah yang merupakan esensi kehidupan manusia, bukan jasmaninya. Kedua kali, sebagaimana dikemukakan dalam al-Qur’an, surat al-Baqarah, manusia dicipta oleh Allah sebagai ‘khalifah-Nya di atas bumi’ dan sekaligus sebagai ‘hamba-Nya’. Itulah hakikat kedudukan manusia di muka bumi. Ketiga, persoalan dari mana berasal dan kemana perginya tersimpul dari ucapan ”Inna li Allah wa inna li Allahi raji’un” (Dari Allah kembali ke Allah).


    Demikianlah sebagai karya bercorak tasawuf paling awal dalam sastra Jawa, kedudukan Suluk Wujil dan suluk-suluk Sunan Bonang yang lain sangatlah penting. Sejak awal pengajarannya tentang tasawuf, Sunan Bonang menekankan bahwa konsep fana’ atau persatuan mistik dalam tasawuf tidak mengisyaratkan kesamaan manusia dengan Tuhan, yaitu yang menyembah dan Yang Disembah.


    Seperti penyair sufi Arab, Persia dan Melayu, Sunan Bonang – dalam mengungkapkan ajaran tasawuf dan pengalaman keruhanian yang dialaminya di jalan tasawuf – menggunakan baik simbol (tamsil) yang diambil dari budaya Islam universal maupun dari budaya lokal. Tamsil-tamsil dari budaya Islam universal yang digunakan ialah burung, cermin, laut, Mekkah (tempat Ka’bah atau rumah Tuhan) berada, sedangkan dari budaya lokal antara lain ialah tamsil wayang, lakon perang Kurawa dan Pandawa (dari kisah Mahabharata) dan bunga teratai. Tamsil-tamsil ini secara berurutan dijadikan sarana oleh Sunan Bonang untuk menjelaskan tahap-tahap perjalanan jiwa manusia dalam upaya mengenal dirinya yang hakiki, yang melaluinya pada akhirnya mencapai makrifat, yaitu mengenal Tuhannya secara mendalam melalui penyaksian kalbunya.

    Tasawuf dan Pengetahuan Diri

    Secara keseluruhan jalan tasawuf merupakan metode-metode untuk mencapai pengetahuan diri dan hakikat wujud tertinggi, melalui apa yang disebut sebagai jalan Cinta dan penyucian diri. Cinta yang dimaksudkan para sufi ialah kecenderungan kuat dari kalbu kepada Yang Satu, karena pengetahuan tentang hakikat ketuhanan hanya dicapai tersingkapnya cahaya penglihatan batin (kasyf) dari dalam kalbu manusia (Taftazani 1985:56). Tahapan-tahapan jalan tasawuf dimulai dengan‘penyucian diri’, yang oleh Mir Valiuddin (1980;1-3) dibagi tiga: Pertama, penyucian jiwa atau nafs (thadkiya al-nafs); kedua, pemurnian kalbu (tashfiya al-qalb); ketiga, pengosongan pikiran dan ruh dari selain Tuhan (takhliya al-sirr).

    Istilah lain untuk metode penyucian diri ialah mujahadah, yaitu perjuangan batin untuk mengalah hawa nafsu dan kecenderungan-kecenderungan buruknya. Hawa nafsu merupakan representasi dari jiwa yang menguasai jasmani manusia (‘diri jasmani’). Hasil dari mujahadah ialah musyahadah dan mukasyafah. Musyahadah ialah mantapnya keadaan hati manusia sehingga dapat memusatkan penglihatannya kepada Yang Satu, sehingga pada akhirnya dapat menyaksikan kehadiran rahasia-Nya dalam hati. Mukasyafah ialah tercapainya kasyf, yaitu tersingkapnya tirai yang menutupi cahaya penglihatan batin di dalam kalbu.

    Penyucian jiwa dicapai dengan memperbanyak ibadah dan amal saleh. Termasuk ke dalam ibadah ialah melaksanakan salat sunnah, wirid, zikir, mengurangi makan dan tidur untuk melatih ketangguhan jiwa. Semua itu dikemukakan oleh Sunan Bonang dalam risalahnya Pitutur Seh Bari dan juga oleh Hamzah Fansuri dalam Syarab al-`Asyiqin (“Minuman Orang Berahi”). Sedangkan pemurnian kalbu ialah dengan membersihkan niat buruk yang dapat memalingkan hati dari Tuhan dan melatih kalbu dengan keinginan-keinginan yang suci. Sedangkan pengosongan pikiran dilakukan dengan tafakkur atau meditasi, pemusatan pikiran kepada Yang Satu. Dalam sejarah tasawuf ini telah sejak lama ditekankan, terutama oleh Sana’i, seorang penyair sufi Persia abad ke-12 M. Dengan tafakkur, menurut Sana’i, maka pikiran seseorang dibebaskan dari kecenderungan untuk menyekutuhan Tuhan dan sesembahan yang lain (Smith 1972:76-7).

    Dalam Suluk Wujil juga disebutkan bahwa murid-muridnya menyebut Sunan Bonang sebagai Ratu Wahdat. Istilah ‘wahdat’ merujuk pada konsep sufi tentang martabat (tingkatan) pertama dari tajalli Tuhan atau pemanifestasian ilmu Tuhan atau perbendaharaan tersembunyi-Nya (kanz makhfiy) secara bertahap dari ciptaan paling esensial dan bersifat ruhani sampai ciptaan yang bersifat jasmani. Martabat wahdat ialah martabat keesaan Tuhan, yaitu ketika Tuhan menampakkan keesaan-Nya di antara ciptaan-ciptaan-Nya yang banyak dan aneka ragam. Pada peringkat ini Allah menciptakan esensi segala sesuatu (a’yan tsabitah) atau hakikat segala sesuatu (haqiqat al-ashya). Esensi segala sesuatu juga disebut ‘bayangan pengetahuan Tuhan’ (suwar al-ilmiyah) atau hakikat Muhammad yang berkilau-kilauan (nur muhammad). Ibn `Arabi menyebut gerak penciptaaan ini sebagai gerakan Cinta dari Tuhan, berdasar hadis qudsi yang berbunyi, “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, Aku cinta (ahbabtu) untuk dikenal, maka aku mencipta hingga Aku dikenal” (Abdul Hadi W. M. 2002:55-60). Maka sebutan Ratu Wahdat dalam suluk ini dapat diartikan sebagai orang yang mencapai martabat tinggi di jalan Cinta, yaitu memperoleh makrifat dan telah menikmati lezatnya persatuan ruhani dengan Yang Haqq.


    Pengetahuan Diri, Cermin dan Ka’bah

    Secara keseluruhan bait-bait dalam Suluk Wujil adalah serangkaian jawaban Sunan Bonang terhadap pertanyaan-pertanyaan Wujil tentang akal yang disebut Ada dan Tiada, mana ujung utara dan selatan, apa hakikat kesatuan huruf dan lain-lain. Secara berurutan jawaban yang diberikan Sunan Bonang berkenaan dengan soal: (1) Pengetahuan diri, meliputi pentingnya pengetahuan ini dan hubungannya dengan hakikat salat atau memuja Tuhan. Simbol burung dan cermin digunakan untuk menerangkan masalah ini; (2) Hakikat diam dan bicara; (3) Kemauan murni sebagai sumber kebahagiaan ruhani; (4) Hubungan antara pikiran dan perbuatan manusia dengan kejadian di dunia; (5) Falsafah Nafi Isbat serta kaitannya dengan makna simbolik pertunjukan wayang, khususnya lakon perang besar antara Kurawa dan Pandawa dari epik Mahabharata; (6) Gambaran tentang Mekkah Metafisisik yang merupakan pusat jagat raya, bukan hanya di alam kabir (macrocosmos) tetapi juga di alam saghir (microcosmos), yaitu dalam diri manusia yang terdalam; (7) Perbedaan jalan asketisme atau zuhud dalam agama Hindu dan Islam.

    Sunan Bonang menghubungkan hakikat salat berkaitan dengan pengenalan diri, sebab dengan melakukan salat seseorang sebenarnya berusaha mengenal dirinya sebagai ‘yang menyembah’, dan sekaligus berusaha mengenal Tuhan sebagai ‘Yang Disembah’. Pada bait ke-12 dan selanjutnya Sunan Bonang menulis:

    12
    Kebajikan utama (seorang Muslim)
    Ialah mengetahui hakikat salat
    Hakikat memuja dan memuji
    Salat yang sebenarnya
    Tidak hanya pada waktu isya dan maghrib
    Tetapi juga ketika tafakur
    Dan salat tahajud dalam keheningan
    Buahnya ialah mnyerahkan diri senantiasa
    Dan termasuk akhlaq mulia

    13
    Apakah salat yang sebenar-benar salat?
    Renungkan ini: Jangan lakukan salat
    Andai tiada tahu siapa dipuja
    Bilamana kaulakukan juga
    Kau seperti memanah burung
    Tanpa melepas anak panah dari busurnya
    Jika kaulakukan sia-sia
    Karena yang dipuja wujud khayalmu semata

    14
    Lalu apa pula zikir yang sebenarnya?
    Dengar: Walau siang malam berzikir
    Jika tidak dibimbing petunjuk Tuhan
    Zikirmu tidak sempurna
    Zikir sejati tahu bagaimana
    Datang dan perginya nafas
    Di situlah Yang Ada, memperlihatkan
    Hayat melalui yang empat

    15
    Yang empat ialah tanah atau bumi
    Lalu api, udara dan air
    Ketika Allah mencipta Adam
    Ke dalamnya dilengkapi
    Anasir ruhani yang empat:
    Kahar, jalal, jamal dan kamal
    Di dalamnya delapan sifat-sifat-Nya
    Begitulah kaitan ruh dan badan
    Dapat dikenal bagaimana
    Sifat-sifat ini datang dan pergi, serta ke mana

    16
    Anasir tanah melahirkan
    Kedewasaan dan keremajaan
    Apa dan di mana kedewasaan
    Dan keremajaan? Dimana letak
    Kedewasaan dalam keremajaan?
    Api melahirkan kekuatan
    Juga kelemahan
    Namun di mana letak
    Kekuatan dalam kelemahan?
    Ketahuilah ini

    17
    Sifat udara meliputi ada dan tiada
    Di dalam tiada, di mana letak ada?
    Di dalam ada, di mana tempat tiada?
    Air dua sifatnya: mati dan hidup
    Di mana letak mati dalam hidup?
    Dan letak hidup dalam mati?
    Kemana hidup pergi
    Ketika mati datang?
    Jika kau tidak mengetahuinya
    Kau akan sesat jalan

    18
    Pedoman hidup sejati
    Ialah mengenal hakikat diri
    Tidak boleh melalaikan shalat yang khusyuk
    Oleh karena itu ketahuilah
    Tempat datangnya yang menyembah
    Dan Yang Disembah
    Pribadi besar mencari hakikat diri
    Dengan tujuan ingin mengetahui
    Makna sejati hidup
    Dan arti keberadaannya di dunia



    19
    Kenalilah hidup sebenar-benar hidup
    Tubuh kita sangkar tertutup
    Ketahuilah burung yang ada di dalamnya
    Jika kau tidak mengenalnya
    Akan malang jadinya kau
    Dan seluruh amal perbuatanmu, Wujil
    Sia-sia semata
    Jika kau tak mengenalnya.
    Karena itu sucikan dirimu
    Tinggalah dalam kesunyian
    Hindari kekeruhan hiruk pikuk dunia

    Pertanyaan-pertanyaan itu tidak diberi jawaban langsung, melainkan dengan isyarat-isyarat yang mendorong Wujil melakukan perenungan lebih jauh dan dalam. Sunan Bonang kemudian berkata dan perkatannya semakin memasuki inti persoalan:

    20
    Keindahan, jangan di tempat jauh dicari
    Ia ada dalam dirimu sendiri
    Seluruh isi jagat ada di sana
    Agar dunia ini terang bagi pandangmu
    Jadikan sepenuh dirimu Cinta
    Tumpukan pikiran, heningkan cipta
    Jangan bercerai siang malam
    Yang kaulihat di sekelilingmu
    Pahami, adalah akibat dari laku jiwamu!

    21
    Dunia ini Wujil, luluh lantak
    Disebabkan oleh keinginanmu
    Kini, ketahui yang tidak mudah rusak
    Inilah yang dikandung pengetahuan sempurna
    Di dalamnya kaujumpai Yang Abadi
    Bentangan pengetahuan ini luas
    Dari lubuk bumi hingga singgasana-Nya
    Orang yang mengenal hakikat
    Dapat memuja dengan benar
    Selain yang mendapat petunjuk ilahi
    Sangat sedikit orang mengetahui rahasia ini

    22
    Karena itu, Wujil, kenali dirimu
    Kenali dirimu yang sejati
    Ingkari benda
    Agar nafsumu tidur terlena
    Dia yang mengenal diri
    Nafsunya akan terkendali
    Dan terlindung dari jalan
    Sesat dan kebingungan
    Kenal diri, tahu kelemahan diri
    Selalu awas terhadap tindak tanduknya

    23
    Bila kau mengenal dirimu
    Kau akan mengenal Tuhanmu
    Orang yang mengenal Tuhan
    Bicara tidak sembarangan
    Ada yang menempuh jalan panjang
    Dan penuh kesukaran
    Sebelum akhirnya menemukan dirinya
    Dia tak pernah membiarkan dirinya
    Sesat di jalan kesalahan
    Jalan yang ditempuhnya benar

    24
    Wujud Tuhan itu nyata
    Mahasuci, lihat dalam keheningan
    Ia yang mengaku tahu jalan
    Sering tindakannya menyimpang
    Syariat agama tidak dijalankan
    Kesalehan dicampakkan ke samping
    Padahal orang yang mengenal Tuhan
    Dapat mengendalikan hawa nafsu
    Siang malam penglihatannya terang
    Tidak disesatkan oleh khayalan

    Selanjutnya dikatakan bahwa diam yang hakiki ialah ketika seseorang melaksanakan salat tahajud, yaitu salat sunnah tengah malam setelah tidur. Salat semacam ini merupakan cara terbaik mengatasi berbagai persoalan hidup. Inti salat ialah bertemu muka dengan Tuhan tanpa perantara. Jika seseorang memuja tidak mengetahui benar-benar siapa yang dipuja, maka yang dilakukannya tidak bermanfaat. Salat yang sejati mestilah dilakukan dengan makrifat. Ketika melakukan salat, semestinya seseorang mampu membayangkan kehadiran dirinya bersama kehadiran Tuhan. Keadaan dirinya lebih jauh harus dibayangkan sebagai ’tidak ada’, sebab yang sebenar-benar Ada hanyalah Tuhan, Wujud Mutlak dan Tunggal yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Sedangkan adanya makhluq-makhluq, termasuk manusia, sangat tergantung kepada Adanya Tuhan.

    35
    Diam dalam tafakur, Wujil
    Adalah jalan utama (mengenal Tuhan)
    Memuja tanpa selang waktu
    Yang mengerjakan sempurna (ibadahnya)
    Disebabkan oleh makrifat
    Tubuhnya akan bersih dari noda
    Pelajari kaedah pencerahan kalbu ini
    Dari orang arif yang tahu
    Agar kau mencapai hakikat
    Yang merupakan sumber hayat

    36
    Wujil, jangan memuja
    Jika tidak menyaksikan Yang Dipuja
    Juga sia-sia orang memuja
    Tanpa kehadiran Yang Dipuja
    Walau Tuhan tidak di depan kita
    Pandanglah adamu
    Sebagai isyarat ada-Nya
    Inilah makna diam dalam tafakur
    Asal mula segala kejadian menjadi nyata

    Setelah itu Sunan Bonang lebih jauh berbicara tentang hakikat murni ‘kemauan’. Kemauan yang sejati tidak boleh dibatasi pada apa yang dipikirkan. Memikirkan atau menyebut sesuatu memang merupakan kemauan murni. Tetapi kemauan murni lebih luas dari itu.

    38
    Renungi pula, Wujil!
    Hakikat sejati kemauan
    Hakikatnya tidak dibatasi pikiran kita
    Berpikir dan menyebut suatu perkara
    Bukan kemauan murni
    Kemauan itu sukar dipahami
    Seperti halnya memuja Tuhan
    Ia tidak terpaut pada hal-hal yang tampak
    Pun tidak membuatmu membenci orang
    Yang dihukum dan dizalimi
    Serta orang yang berselisih paham

    39
    Orang berilmu
    Beribadah tanpa kenal waktu
    Seluruh gerak hidupnya
    Ialah beribadah
    Diamnya, bicaranya
    Dan tindak tanduknya
    Malahan getaran bulu roma tubuhnya
    Seluruh anggota badannya
    Digerakkan untuk beribadah
    Inilah kemauan murni

    40
    Kemauan itu, Wujil!
    Lebih penting dari pikiran
    Untuk diungkapkan dalam kata
    Dan suara sangatlah sukar
    Kemauan bertindak
    Merupakan ungkapan pikiran
    Niat melakukan perbuatan
    Adalah ungkapan perbuatan
    Melakukan shalat atau berbuat kejahatan
    Keduanya buah dari kemauan

    Di sini Sunan Bonang agaknya berpendapat bahwa kemauan atau kehendak (iradat) , yaitu niat dan iktiqad, mestilah diperbaiki sebelum seseorang melaksanakan sesuatu perbuatan yang baik. Perbuatan yang baik datang dari kemauan baik, dan sebaliknya kehendak yang tidak baik melahirkan tindakan yang tidak baik pula. Apa yang dikatakan oleh Sunan Bonang dapat dirujuk pada pernyataan seorang penyair Melayu (anonim) dalam Syair Perahu, seperti berikut:

    Inilah gerangan suatu madah
    Mengarangkan syair terlalu indah
    Membetulkan jalan tempat berpindah
    Di sanalah iktiqad diperbaiki sudah

    Wahai muda kenali dirimu
    Ialah perahu tamsil tubuhmu
    Tiada berapa lama hidupmu
    Ke akhirat jua kekal diammu

    Hai muda arif budiman
    Hasilkan kemudi dengan pedoman
    Alat perahumu jua kerjakan
    Itulah jalan membetuli insan


    La ilaha illa Allah tempat mengintai
    Medan yang qadim tempat berdamai
    Wujud Allah terlalu bitai
    Siang malam jangan bercerai

    (Doorenbos 1933:33)

    Tamsil Islam universal lain yang menonjol dalam Suluk Wujil ialah cermin beserta pasangannya gambar atau bayang-bayang yang terpantul dalam cermin, serta Mekkah. Para sufi biasa menggunakan tamsil cermin, misalnya Ibn `Arabi. Sufi abad ke-12 M dari Andalusia ini menggunakannya untuk menerangkan falsafahnya bahwa Yang Satu meletakkan cermin dalam hati manusia agar Dia dapat melihat sebagian dari gambaran Diri-Nya (kekayaan ilmu-Nya atau perbendaharaan-Nya yang tersembunyi) dalam ciptaan-Nya yang banyak dan aneka ragam. Yang banyak di alam kejadian (alam al-khalq) merupakan gambar atau bayangan dari Pelaku Tunggal yang berada di tempat rahasia dekat cermin (Abu al-Ala Affifi 1964:15-7).


    Pada pupuh atau bait ke-74 diceritakan Sunan Bonang menyuruh muridnya Ken Satpada mengambil cermin dan menaruhnya di pohon Wungu. Kemudian dia dan Wujil disuruh berdiri di muka cermin. Mereka menyaksikan dua bayangan dalam cermin. Kemudian Sunan Bonang menyuruh salah seorang dari mereka menjauh dari cermin, sehingga yang tampak hanya bayangan satu orang. Maka Sunan Bonang bertanya: ”Bagaimana bayang-bayang datang/Dan kemana dia menghilang?” (bait 81). Melalui contoh datang dan perginya bayangan dari cermin, Wujil kini tahu bahwa ”Dalam Ada terkandung tiada, dan dalam tiada terkandung ada” Sang Guru membenarkan jawaban sang murid. Lantas Sunan Bonang menerangkan aspek nafi (penidakan) dan isbat (pengiyaan) yang terkandung dalam kalimah La ilaha illa Allah (Tiada tuhan selain Allah). Yang dinafikan ialah selain dari Allah, dan yang diisbatkan sebagai satu-satunya Tuhan ialah Allah.


    Pada bait atau pupuh 91-95 diceritakan perjalanan seorang ahli tasawuf ke pusat renungan yang bernama Mekkah, yang di dalamnya terdapat rumah Tuhan atau Baitullah. Mekkah yang dimaksud di sini bukan semata Mekkah di bumi, tetapi Mekkah spiritual yang bersifat metafisik. Ka’bah yang ada di dalamnya merupakan tamsil bagi kalbu orang yang imannya telah kokoh. Abdullah Anshari, sufi abad ke-12 M, misalnya berpandapat bahwa Ka’bah yang di Mekkah, Hejaz, dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s. Sedangkan Ka’bah dalam kalbu insan dibangun oleh Tuhan sebagai pusat perenungan terhadap keesaan Wujud-Nya (Rizvi 1978:78).


    Sufi Persia lain abad ke-11 M, Ali Utsman al-Hujwiri dalam kitabnya menyatakan bahwa rumah Tuhan itu ada dalam pusat perenungan orang yang telah mencapai musyahadah. Kalau seluruh alam semesta bukan tempat pertemuan manusia dengan Tuhan, dan juga bukan tempat manusia menikmati hiburan berupa kedekatan dengan Tuhan, maka tidak ada orang yang mengetahui makna cinta ilahi. Tetapi apabila orang memiliki penglihatan batin, maka seluruh alam semesta ini akan merupakan tempat sucinya atau rumah Tuhan. Langkah sufi sejati sebenarnya merupakan tamsil perjalanan menuju Mekkah. Tujuan perjalanan itu bukan tempat suci itu sendiri, tetapi perenungan keesaan Tuhan (musyahadah), dan perenungan dilakukan disebabkan kerinduan yang mendalam dan luluhnya diri seseorang (fana’) dalam cinta tanpa akhir (Kasyful Mahjub 293-5).


    Berdasarkan uraian tersebut, dapatlah dipahami apabila dalam Suluk Wujil dikatakan, “Tidak ada orang tahu di mana Mekkah yang hakiki itu berada, sekalipun mereka melakukan perjalanan sejak muda sehingga tua renta. Mereka tidak akan sampai ke tujuan. Kecuali apabila seseorang mempunyai bekal ilmu yang cukup, ia akan dapat sampai di Mekkah dan malahan sesudah itu akan menjadi seorang wali. Tetapi ilmu semacam itu diliputi rahasia dan sukar diperoleh. Bekalnya bukan uang dan kekayaan, tetapi keberanian dan kesanggupan untuk mati dan berjihad lahir batin, serta memiliki kehalusan budi pekerti dan menjauhi kesenangan duniawi.

    Di dalam masjid di Mekkah itu terdapat singgasana Tuhan, yang berada di tengah-tengah. Singgasana ini menggantung di atas tanpa tali. Dan jika orang melihatnya dari bawah, maka tampak bumi di atasnya. Jika orang melihat ke barat, ia akan melihat timur, dan jika melihat timur ia akan menyaksikan barat. Di situ pemandangan terbalik. Jika orang melihat ke selatan yang tampak ialah utara, sangat indah pemandangannya. Dan jika ia melihat ke utara akan tampak selatan, gemerlapan seperti ekor burung merak. Apabila satu orang shalat di sana, maka hanya ada ruangan untuk satu orang saja. Jika ada dua atau tiga orang shalat, maka ruangan itu juga akan cukup untuk dua tiga orang. Apabila ada 10.000 orang melakukan shalat di sana, maka Ka`bah dapat menampung mereka semua. Bahkan seandainya seluruh dunia dimasukkan ke dalamnya, seluruh dunia pun akan tertampung juga”.


    Wujil menjadi tenang setelah mendengarkan pitutur gurunya. Akan tetapi dia tetap merasa asing dengan lingkungan kehidupan keagamaan yang dijumpainya di Bonang.

    Berbeda dengan di Majapahit dahulu, untuk mencapai rahasia Yang Satu orang harus melakukan tapa brata dan yoga, pergi jauh ke hutan, menyepi dan melakukan kekerasan ragawi. Di Pesantren Bonang kehidupan sehari-hari berjalan seperti biasa. Shalat fardu lima waktu dijalankan dengan tertib. Majlis-majlis untuk membicarakan pengalaman kerohanian dan penghayatan keagamaan senantiasa diadakan. Di sela-sela itu para santri mengerjakan pekerjaan sehari-hari, di samping mengadakan pentas-pentas seni dan pembacaan tembang Sunan Bonang menjelaskan bahwa seperti ibadat dalam agama Hindu yang dilakukan secara lahir dan batin, demikian juga di dalam Islam. Malahan di dalam agama Islam, ibadat ini diatur dengan jelas di dalam syariat. Bedanya di dalam Islam kewajiban-kewajiban agama tidak hanya dilakukan oleh ulama dan pendeta, tetapi oleh seluruh pemeluk agama Islam. Sunan bonang mengajarkan tentang egaliterianissme dalam Islam. Sunan bonang mengajarkan tentang egaliterisme di dalam Islam. Jika ibadat zahir dilakukan dengan mengerjakan rukun Islam yang lima, ibadat batin ditempuh melalui tariqat atau ilmu suluk, dengan memperbanyak ibadah seperti sembahyang sunnah, tahajud, taubat nasuha, wirid dan zikir. Zikir berarti mengingat Tuhan tanpa henti. Di antara cara berzikir itu ialah dengan mengucapkan kalimah La ilaha illa Allah. Di dalamnya terkandung rahasia keesaan Tuhan, alam semesta dan kejadian manusia.


    Berbeda dengan dalam agama Hindu, di dalam agama Islam disiplin kerohanian dan ibadah dapat dilakukan di tengah keramaian, sebab perkara yang bersifat transendental tidak terpisah dari perkara yang bersifat kemasyarakatan. Di dalam agama Islam tidak ada garis pemisah yang tegas antara dimensi transendental dan dimensi sosial. Dikatakan pula bahwa manusia terdiri daripada tiga hal yang pemiliknya berbeda. Jasmaninya milik ulat dan cacing, rohnya milik Tuhan dan milik manusia itu sendiri hanyalah amal pebuatannya di dunia.

    Akhir Kalam: Falsafah Wayang

    Tamsil paling menonjol yang dekat dengan budaya lokal ialah wayang dan lakon perang Bala Kurawa dan Pandawa yang sering dipertunjukkan dalam pagelaran wayang.. Penyair-penyair sufi Arab dan Persia seperti Fariduddin `Attar dan Ibn Fariedh menggunakan tamsil wayang untuk menggambarkan persatuan mistis yang dicapai seorang ahli makrifat dengan Tuhannya. Pada abad ke-11 dan 12 M di Persia pertunjukan wayang Cina memang sangat populer (Abdul Hadi W.M. 1999:153). Makna simbolik wayang dan layar tempat wayang dipertunjukkan, berkaitan pula dengan bayang-bayang dan cermin. Dengan menggunakan tamsil wayang dalam suluknya Sunan Bonang seakan-akan ingin mengatakan kepada pembacanya bahwa apa yang dilakukan melalui karyanya merupakan kelanjutan dari tradisi sastra sebelumnya, meskipun terdapat pembaharuan di dalamnya.

    Ketika ditanya oleh Sunan Kalijaga mengenai falsafah yang dikandung pertunjukan wayang dan hubungannya dengan ajaran tasawuf, Sunang Bonang menunjukkan kisah Baratayudha (Perang Barata), perang besar antara Kurawa dan Pandawa. Di dalam pertunjukkan wayang kulit Kurawa diletakkan di sebelah kiri, mewakili golongan kiri. Sedangkan Pandawa di sebelah kanan layar mewakili golongan kanan. Kurawa mewakili nafi dan Pandawa mewakili isbat. Perang Nafi Isbat juga berlangsung dalam jiwa manusia dan disebut jihad besar. Jihad besar dilakukan untuk mencapai pencerahan dan pembebasan dari kungkungan dunia material.


    Sunan Bonang berkata kepada Wujil: “Ketahuilah Wujil, bahwa pemahaman yang sempruna dapat dikiaskan dengan makna hakiki pertunjukan Wayang. Manusia sempurna menggunakan ini untuk memahami dan mengenal Yang. Dalang dan wayang ditempatkan sebagai lambang dari tajalli (pengejawantahan ilmu) Yang Maha Agung di alam kepelbagaian. Inilah maknanya: Layar atau kelir merupakan alam inderawi. Wayang di sebelah kanan dan kiri merupakan makhluq ilahi. Batang pokok pisang tempat wayang diletakkan ialah tanah tempat berpijak. Blencong atau lampu minyak adalah nyala hidup. Gamelan memberi irama dan keselarasan bagi segala kejadian. Ciptaan Tuhan tumbuh tak tehitung. Bagi mereka yang tidak mendapat tuntunan ilahi ciptaan yang banyak itu akan merupakan tabir yang menghalangi penglihatannya. Mereka akan berhenti pada wujud zahir. Pandangannya kabur dan kacau. Dia hilang di dalam ketiadaan, karena tidak melihat hakekat di sebalik ciptaan itu.”

    Selanjutnya kata Sunan Bonang “Suratan segala ciptaan ini ialah menumbuhkan rasa cinta dan kasih. Ini merupakan suratan hati, perwujudan kuasa-kehendak yang mirip dengan-Nya, walaupun kita pergi ke Timur-Barat, Utara-Selatan atau atas ke bawah. Demikianlah kehidupan di dunia ini merupakan kesatuan Jagad besar dan Jagad kecil. Seperti wayang sajalah wujud kita ini. Segala tindakan, tingkah laku dan gerak gerik kita sebenarnya secara diam-diam digerakkan oleh Sang Dalang.”

    Mendengar itu Wujil kini paham. Dia menyadari bahwa di dalam dasar-dasarnya yang hakiki terdapat persamaan antara mistisisme Hindu dan tasawuf Islam. Di dalam Kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, penyair Jawa Kuno abad ke-12 dari Kediri, falsafah wayang juga dikemukakan. Mpu Kanwa menuturkan bahwa ketika dunia mengalami kekacauan akibat perbuatan raksasa Niwatakawaca, dewa-dewa bersidang dan memilih Arjuna sebagai kesatria yang pantas dijadikan pahlawan menentang Niwatakawaca. Batara Guru turun ke dunia menjelma seorang pendeta tua dan menemui Arujuna yang baru saja selesai menjalankan tapabrata di Gunung Indrakila sehingga mencapai kelepasan (moksa)

    Di dalam wejangannya Batara guru berkata kepada Arjuna: “Sesunguhnya jikalau direnungkan baik-baik, hidup di dunia ini seperti permainan belaka. Ia serupa sandiwara. Orang mencari kesenangan, kebahagiaan, namun hanya kesengsaraan yang didapat. Memang sangat sukar memanfaatkan lima indra kita. Manusia senantiasa tergoda oleh kegiatan indranya dan akibatnya susah. Manusia tidak akan mengenal diri peribadinya jika buta oleh kekuasaan, hawa nafsu dan kesenangan sensual dan duniawi. Seperti orang melihat pertunjukan wayang ia ditimpa perasaan sedih dan menangis tersedu-sedu. Itulah sikap orang yang tidak dewasa jiwanya. Dia tahu benar bahwa wayang hanya merupakan sehelai kulit yang diukir, yang digerak-gerakkan oleh dalang dan dibuat seperti berbicara. Inilah kias seseorang yang terikat pada kesenangan indrawi. Betapa besar kebodohannya.” (Abdullah Ciptoprawiro 1984)

    Selanjutnya Batara Guru berkata, “Demikianlah Arjuna! Sebenarnya dunia ini adalah maya. Semua ini sebenarnya dunia peri dan mambang, dunia bayang-bayang! Kau harus mampu melihat Yang Satu di balik alam maya yang dipenuhi bayang-bayang ini.” Arjuna mengerti. Kemudian dia bersujud di hadapan Yang Satu, menyerahkan diri, diam dalam hening. Baru setelah mengheningkan cipta atau tafakur dia merasakan kehadiran Yang Tunggal dalam batinnya. . Kata Arjuna:

    Sang Batara memancar ke dalam segala sesuatu
    Menjadi hakekat seluruh Ada, sukar dijangkau
    Bersemayam di dalam Ada dan Tiada,
    Di dalam yang besar dan yang kecil, yang baik dan yang jahat
    Penyebab alam semesta, pencipta dan pemusnah
    Sang Sangkan Paran (Asal-usul) jagad raya
    Bersifat Ada dan Tiada, zakhir dan batin

    (Ibid)

    Demikianlah, dengan menggunakan tamsil wayang, Sunan Bonang berhasil meyakinkan Wujil bahwa peralihan dari zaman Hindu ke zaman Islam bukanlah suatu lompatan mendadak bagi kehidupan orang Jawa. Setidak-tidaknya secara spiritual terdapat kesinambungan yang menjamin tidak terjadi kegoncangan. Memang secara lahir kedua agama tersebut menunjukkan perbedaan besar, tetapi seorang arif harus tembus pandang dan mampu melihat hakikat sehingga penglihatan kalbunya tercerahkan dan jiwanya terbebaskan dari kungkungan dunia benda dan bentuk-bentuk. Itulah inti ajaran Sunan Bonang dalam Suluk Wujil.

    BalasHapus
  51. Agi Kustri Juniawan
    2103408050
    Rombel 2

    Serat Darmagandhul adalah suatu karya Sastra Jawa Baru berbentuk puisi tembang macapat yang menceritakan jatuhnya Majapahit karena serbuan tentara Demak yang dibantu oleh Walisongo.

    Darmagandhul ditulis oleh Ki Kalamwadi, dengan waktu penulisan hari Sabtu Legi, 23 Ruwah 1830 Jawa (atau sangkala Wuk Guneng Ngesthi Nata). Sebagian ada yang berpendapat bahwa pengarang sesungguhnya adalah Ronggowarsito dengan pseudonim Kalamwadi, yang dalam bahasa Jawa dapat pula berarti kabar (kalam) yang dirahasiakan (wadi). Karya ini ditulis dalam bentuk dialog yang terjadi antara Ki Kalamwadi dan muridnya Darmagandhul.

    Dialog diawali dari pertanyaan Darmagandhul kepada gurunya mengenai kapan terjadinya perubahan agama di Jawa. Disebutkan bahwa Ki Kalamwadi kemudian memberikan keterangan-keterangan berdasarkan penjelasan dari gurunya, yang bernama Raden Budi. Cerita dan ajaran yang diuraikan oleh Ki Kalamwadi memuat berbagai hal; antara lain jatuhnya kerajaan Majapahit, berbagai peranan Walisongo dan tokoh-tokoh lainnya pada awal masa peralihan Majapahit-Demak, topik-topik dalam ajaran agama Islam, serta terjadinya benturan berbagai budaya baru dengan kepercayaan lokal masyarakat Jawa saat itu.


    [sunting] Pembagian isi
    Menurut versi KRT Tandhanagara[1], Suluk Darmagandhul memiliki 17 pupuh dalam 133 halaman, dengan perincian sebagai berikut:

    Pupuh I
    Pupuh II
    Pupuh III
    Pupuh IV
    Pupuh V
    Pupuh VI
    Pupuh VII
    Pupuh VIII
    Pupuh IX
    Pupuh X
    Pupuh XI
    Pupuh XII
    Pupuh XIII
    Pupuh XIV
    Pupuh XV
    Pupuh XVI
    Pupuh XVII Dhandhanggula : 58 bait
    Asmaradana : 88 bait
    Dhandhanggula : 52 bait
    Pangkur : 86 bait
    Sinom : 43 bait
    Dhandhanggula : 42 bait
    Sinom : 63 bait
    Pangkur : 176 bait
    Asmaradana : 33 bait
    Dhandhanggula : 58 bait
    Mijil : 74 bait
    Kinanthi : 33 bait
    Megatruh : 37 bait
    Pocung : 25 bait
    Asmaradana : 21 bait
    Girisa : 15 bait
    Kinanthi : 41 bait

    BalasHapus
  52. SINGIR
    oleh Pilar Sidik Pratomo (2102408077 /rombel 3)
    dari berbagai sumber

    Singir berasal dari kata syi’ir (dalam bahasa Arab diartikan syair). Singir merupakan bentuk syair (puisi) berbahasa Jawa yang mendapatkan pengaruh Islam. Cara pembacaan singir dengan melagukannya dinamakan syi’iran/singiran. Singir memiliki pola persajakan dan jumlah suku kata yang konstan seperti pada syair yang berkembang di tanah Melayu.
    Singir sebagai salah satu pendekatan sosio-kultural pengajaran Islam di lingkungan pesantren. Perkembangan singir di antara komunitas lokal Jawa terutama berada di wilayah Pantai Utara Jawa.
    Singir ditulis dalam bahasa Jawa ngoko dengan menggunakan aksara pegon*. Singir yang ditulis dalam bahasa Jawa menunjukkan adanya pengakuan terhadap kata-kata “a’lamu nasi waafdhaluhum” dan juga terhadap firman Allah “inaallaha layuhibu kulla mukhtalifakhuur”. Singir-singir disarankan untuk ditulis dalam bahasa Jawa karena Allah telah mengutus para rasul dengan menggunakan bahasa kaumnya, nabi sendiri mengatakan “nahnu ma’asyira al-Anbiya nu’maruna nukalimu an-Nasa’ala qadri ‘uqulihim”. Penggunaan huruf arab-pegon sebagai penghargaan terhadap bahasa Al-Qur’an.
    Kebanyakan singir merupakan adaptasi dari berbagai kitab klasik karya pujangga muslim abad pertengahan yang dikenal dengan Kitab Kuning. Singir ada juga yang merupakan terjemahan dari syair-syair Arab (dalam kitab Majmu’ah Mawalid misalnya). Materi dari singir dapat berupa shalawat nabi, nasihat-nasihat keagamaan atau terjemahan dari kitab Mawalid (sepeti nadham Burdah atau Barzanji). Singiran juga berisi tentang materi-materi ilmu fiqih, tauhid, dan tashawuf. Singiran merupakan bait-bait nadhom (nadhom:bait-bait yang berisi pelajaran) dengan notasi-notasi tertentu dan mengadaptasi terhadap wazan-wazan tertentu, seperti dalam kitab Tashilul Faidah yang nenganut notasi bahar basith dan mengadaptasi wazan mustaf’ilun faa’ilun empat kali. Bait-bait dalam singir harus jelas kalimatnya dan tertib urutannya. Kata-kata dalam bait tidak boleh terlalu panjang agar mudah dihafalkan atau terlalu panjang agar tidak membingungkan.
    Singir maupun tradisi singiran yang berisi tentang nasihat-nasihat keislaman ini telah begitu mengakar pada masyarakat muslim tradisionalis (Jawa). Sampai saat ini singir juga masing ada yang melantunkannya setelah mengumandangkan adzan (dikenal dengan pujian). Singiran telah menstimulasi bagi munculnya kreativitas dalam ekspresi seni masyarakat islam Jawa, seperti kesenian Kobra Siswa, Kuntulan, Baduwinan, Genjringan, dll. Tradisi singir semakin meluas ke wilayah pedalaman dengan adanya syiar yang dilakukan oleh para wali.
    Di Jawa, misalnya, sudah lama terdengar keluhan tentang kurangnya perhatian terhadap naskah pesisiran karena anggapan bahwa naskah pesisiran yang beraksara pegon dinilai lebih rendah nilainya daripada naskah keraton wilayah Yogyakarta dan Solo yang dinilai adiluhung (Suryadi).

    Secara pakem di jawa ada 3 tipe syiiran yang berkembang (tahun 1920an) yaitu:
    1. Langitan: meliputi wilayah Jatim, Lombok dan Sumba
    2. Banjaran: Banjarmasin, Jateng sampai utara
    3. Hinterland: Banyumasan, Kebumen dll.
    Beberapa contoh kitab singir adalah
    1. Singir Santri
    2. Singir Patimah
    3. Singir Nabi
    4. Singir Laki Rabi
    5. Singir Kala Kures
    Contoh singir yang merupakan adaptasi dari kitab Mawalid Nabi:
    Ya nabi salam ‘alaika
    Ya rasul salam ‘alaika
    Ya habib salam ‘alaika
    Salawatullah ‘alaika

    Duh kanjeng nabi pungkasan
    Duh kekasih lan utusan
    Welas asih kasugengan
    Mugi katur panjenengan

    Asyrakal badru ‘alaina
    Fakhtafat minhu al-buduru Mitslu husnik ma raaina
    Qathu ya wajha sururi

    Purnama nabi sampurna
    Madangi jagad buwana
    Purnama wengi lan rina
    Kabeh pada sirep sirna

    Duh durung tahu meruhi
    Ing baguse wajah rahi
    Kaya wajah kanjeng gusti
    Kang bungahaken ing ati

    Contoh-contoh singiran yang berisi ilmu-ilmu keislaman :

    Bab mertelaaken rukuning agama Islam Weruha sira agama Islam rukune
    Iman islam nuli ihsan ping telune
    Iman iku percaya neng ati manteb
    Islam tumandanging badan sarta sregep
    Ihsan mbagusna islam iman tuwin
    Peprintahan cecegahan lahir batin

    Bab mertelaaken rukun-rukuning iman
    Rukun iman iku nenem kang kawitan
    Ngimanaken ing Allah kang sifat loman
    Kang persifat sempurna tanpa wangenan
    Allah mesti ana muhal ora nana
    Sebab kang gawe ing iki ngalam ndonya
    Contoh lain bait singir:
    Bismillahirrahmanirrahim
    Sun miwiti anarik akaling bocah Bok menawa lawas-lawas bisa pecah Bisa mikir bisa ngrasa bisa genah Ngarep-arep kabeh iku min fadlillah
    Wajib bapa aweh sandhang mangan ngimel Aweh arta sangu ngaji aja owel Lan arep kasil ngilmu buwang sebel Aja nganti ati atos amakiyel
    Wajib ngaen lanang wadon luru ngilmu Aja leren yen durung rupek bodhomu Nadyan adoh angel ilangna taksirmu Kena mulih yen wus kasil ilmumu

    Dari contoh-contoh singiran diatas terlihat bahwa para pengarang berusaha untuk membuat bait-bait singir dalam format-format tertentu agar memiliki nilai keindahan baik dari bahasanya atau struktur baitnya, meskipun menekankan kepada keindahan mereka tidak melupakan inti dari dibetuknya singir yaitu maksud yang jelas dan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti tanpa harus berbelit-belit.

    *Pegon
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Huruf Pegon adalah huruf Arab atau lebih tepat: Huruf Jawi yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa. Kata Pegon konon berasal dari bahasa Jawa pégo yang berarti menyimpang. Sebab bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab dianggap sesuatu yang tidak lazim.
    Berbeda dengan huruf Jawi, yang ditulis gundul, pegon hampir selalu dibubuhi tanda vokal. Jika tidak, maka tidak disebut pegon lagi melainkan gundhul. Bahasa Jawa memiliki kosakata vokal (aksara swara) yang lebih banyak daripada bahasa Melayu sehingga vokal perlu ditulis untuk menghindari kerancuan.
    Di bawah ini adalah daftar huruf-huruf pegon. Huruf-huruf yang tidak ada dalam huruf Arab yang sejati, diberi lingkaran.

    Huruf-Huruf Pegon


    Harkat(Jawa: Sandhangan) Huruf Pegon
    Huruf pegon di Jawa terutama dipergunakan oleh kalangan umat Muslim yang taat, terutama di pesantren-pesantren. Biasanya ini hanya dipergunakan untuk menulis komentar pada Al-Qur'an, tetapi banyak pula naskah-naskah manuskrip cerita yang secara keseluruhan ditulis dalam pegon. Misalkan naskah-naskah Serat Yusup.

    BalasHapus
  53. Nama : Yuni Astutik
    NIM : 2102408124
    Rmbl : 4
    Serat Kalatidha
    Serat Kalatidha yaiku karangane Rangga Warsita. Tembang iki tembang Jawa sing penting dewe.
    Serat Kalatidha iku sawijining tembang anggitané Ranggawarsita. Isiné perkara pasambatané yèn ing jaman samono wong kudu mèlu-mèlu perkara sing kalebu ala supaya bisa 'maju'. Tembang macapat iki kabèh ing pupuh Sinom lan ana 12 pada gunggungé. Karya sastra iki ditulis kurang luwih taun 1860 Masehi. Kalatidha kuwi salah siji karya sastra Jawa kang kawentar. Malah nganti saiki isih akèh wong Jawa, utamané kalangan tuwa kang isih apal paling ora siji pada syair iki, yakuwi pada kapitu.
    Latar wuri
    Kalatidha kuwi dudu karya Rangga Warsita kang paling dawa. Syair iki mung ana 12 jroning metrum Sinom. Kala tidha sacara harafiah tegesé "jaman édan", kaya kang ditulis déning Rangga Warsita dhéwé. Kocap kacarita, Rangga Warsita nulis syair iki nalika pangkaté ora diundhakaké kaya kang dikarepaké. Banjur panjenengané gawé generalisasi saka kahanan iki, lan nganggep sacara umum yèn jaman nalika semana minangka jaman édan lan krisis. Wektu kuwi Rangga Warsita minangka pujangga karajan ing Kraton Kasunanan Surakarta. Panjenengané kuwi pujangga panutup utawa "pujangga pungkasan", awit sawisé kuwi ora ana "pujangga karajan" manèh.
    Makna
    Syair Kalatidha bisa dipérang dadi telung bagéan, yakuwi: bagéan kapisan arupa pada 1 nganti 6, bagéan kaloro arupa pada 7, lan bagéan katelu arupa pada 8 nganti 12. Pérangan pisanan yakuwi mangsa kang miturut Rangga Warsita arupa kahanan tanpa prinsip. Pérangan kaloro isiné katekadan lan mawas dhiri. Pérangan katelu isiné sikap kang taat marang agama jroning masarakat.
    Sinom
    1.
    • Mangkya darajating praja
    • Kawuryan wus sunyaturi
    • Rurah pangrehing ukara
    • Karana tanpa palupi
    • Atilar silastuti
    • Sujana sarjana kelu
    • Kalulun kala tidha
    • Tidhem tandhaning dumadi
    • Ardayengrat dene karoban rubeda
    2.
    • Ratune ratu utama
    • Patihe patih linuwih
    • Pra nayaka tyas raharja
    • Panekare becik-becik
    • Parane dene tan dadi
    • Paliyasing Kala Bendu
    • Mandar mangkin andadra
    • Rubeda angrebedi
    • Beda-beda ardaning wong saknegara
    3.
    • Katetangi tangisira
    • Sira sang paramengkawi
    • Kawileting tyas duhkita
    • Katamen ing ren wirangi
    • Dening upaya sandi
    • Sumaruna angrawung
    • Mangimur manuhara
    • Met pamrih melik pakolih
    • Temah suka ing karsa tanpa wiweka
    4.
    • Dasar karoban pawarta
    • Bebaratun ujar lamis
    • Pinudya dadya pangarsa
    • Wekasan malah kawuri
    • Yan pinikir sayekti
    • Mundhak apa aneng ngayun
    • Andhedher kaluputan
    • Siniraman banyu lali
    • Lamun tuwuh dadi kekembanging beka
    5.
    • Ujaring panitisastra
    • Awewarah asung peling
    • Ing jaman keneng musibat
    • Wong ambeg jatmika kontit
    • Mengkono yen niteni
    • Pedah apa amituhu
    • Pawarta lolawara
    • Mundhuk angreranta ati
    • Angurbaya angiket cariteng kuna
    6.
    • Keni kinarta darsana
    • Panglimbang ala lan becik
    • Sayekti akeh kewala
    • Lelakon kang dadi tamsil
    • Masalahing ngaurip
    • Wahaninira tinemu
    • Temahan anarima
    • Mupus pepesthening takdir
    • Puluh-Puluh anglakoni kaelokan
    7.
    • Amenangi jaman edan
    • Ewuh aya ing pambudi
    • Milu edan nora tahan
    • Yen tan milu anglakoni
    • Boya kaduman melik
    • Kaliren wekasanipun
    • Ndilalah karsa Allah
    • Begja-begjane kang lali
    • Luwih begja kang eling lawan waspada
    8.
    • Semono iku bebasan
    • Padu-padune kepengin
    • Enggih mekoten man Doblang
    • Bener ingkang angarani
    • Nanging sajroning batin
    • Sejatine nyamut-nyamut
    • Wis tuwa arep apa
    • Muhung mahas ing asepi
    • Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma
    9.
    • Beda lan kang wus santosa
    • Kinarilah ing Hyang Widhi
    • Satiba malanganeya
    • Tan susah ngupaya kasil
    • Saking mangunah prapti
    • Pangeran paring pitulung
    • Marga samaning titah
    • Rupa sabarang pakolih
    • Parandene maksih taberi ikhtiyar
    10.
    • Sakadaré linakonan
    • Mung tumindak mara ati
    • Angger tan dadi prakara
    • Karana riwayat muni
    • Ikhtiyar iku yekti
    • Pamilihing reh rahayu
    • Sinambi budidaya
    • Kanthi awas lawan eling
    • Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma
    11.
    • Ya Allah ya Rasulullah
    • Kang sipat murah lan asih
    • Mugi-mugi aparinga
    • Pitulung ingkang martani
    • Ing alam awal akir
    • Dumununging gesang ulun
    • Mangkya sampun awredha
    • Ing wekasan kadi pundi
    • Mula mugi wontena pitulung Tuwan
    12.
    • Sageda sabar santosa
    • Mati sajroning ngaurip
    • Kalis ing reh aruraha
    • Murka angkara sumingkir
    • Tarlen meleng malat sih
    • Sanityaseng tyas mematuh
    • Badharing sapudhendha
    • Antuk mayar sawetawis
    • Borong angg

    BalasHapus
  54. Nama:Ismi Nurzanah
    NIM:2102408040
    Rombel:02

    CERITA PANJI DALAM MASYARAKAT MAJAPAHIT AKHIR
    Sebagai suatu karya sastra yang berkembang dalam masa Jawa Timur, kisah Panji telah cukup mendapat perhatian para ahli. Ada yang telah membicarakannya dari segi kesusastraannya (Cohen Stuart 1853), dari segi kisah yang mandiri (Roorda 1869), atau diperbandingkan dengan berbagai macam cerita Panji yang telah dikenal (Poerbatjaraka 1968), serta dari berbagai segi yang lainnya lagi'.

    Menurut C.C.Berg(1928) masa penyebaran cerita Panji di Nusantara berkisar antara tahun 1277 M (peristiwa Pamalayu) hingga ± 1400 M. Ditambahkannya bahwa tentunya telah ada cerita Panji dalam Bahasa Jawa Kuna dalam masa sebelumnya, kemudian cerita tersebut disalin dalam bahasa Jawa Tengahan dan Bahasa Melayu. Berg (1930) selanjutnya bependapat bahwa cerita Panji mungkin telah populer di kalangan istana raja-raja Jawa Timur, namun terdesak oleh derasnya pengaruh Hinduisme yang datang kemudian. Cerita Panji akhirnya dianggap sebagai karya sastra yang kurang bermutu, dalam masa kemudian cerita tersebut dapat berkembang dengan bebas dalam lingkungan istana-istana Bali'.

    R.M.Ng.Poerbatjaraka membantah pendapat Berg tersebut, berdasarkan alasan bahwa cerita Panji merupakan suatu bentuk revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama (India). Berdasarkan relief tokoh Panji dan para pengiringnya yang diketemukan di daerah Gambyok, Kediri, Poerbatjaraka juga menyetujui pendapat W.F.Stutterheim yang menyatakan bahwa relief tersebut dibuat sekitar tahun 1400 M. Akhirnya Poerbatjaraka menyimpulkan bahwa mula timbulnya cerita Panji terjadi dalam jaman keemasan Majapahit (atau dalam masa akhir kejayaan kerajaan tersebut) dan ditulis dalam bahasa jawa Tengahan (1968:408--9). Penyebarannya ke luar jaws terjadi dalam masa yang lebih kemudian lagi dengan cara penuturan lisan. Dalam perkembangan selanjutnya cerita tersebut ditulis dengan huruf Arab-Melayu, dan cerita Panji dalam bentuk naskah Arab-Melayu itulah yang sangat mungkin diperkenalkan ke wilayah Asia Tenggara daratan (1968:409-10).

    Sebenarnya yang menjadi inti cerita dalam kisah-kisah Panji menurut Poerbatjaraka (1968) adalah;

    1. Pelaku utama ialah Inu Kertapati, putra Raja Kuripan,
    dan Candra Kirana putri Raja Daha.

    2. Pertemuan Panji dengan kekasih pertama, seorang
    dari kalangan rakyat, dalam suatu perburuan.

    3. Terbunuhnya sang kekasih.

    4. Hilangnya Candra Kirana, calon permaisuri Panji.

    5. Adegan-adegan pengembaraan dua tokoh utama, dan,

    6. Bertemunya kembali dua tokoh utama, yang kemudian
    diikat dengan perkawinan.

    Walaupun kisah-kisah Panji pada dasarnya memiliki 6 inti cerita, namun yang menjadi tokoh sentral dalam tiap kisah tetap sama yaitu tokoh Panji itu sendiri. Hal inilah yang sebenarnya cukup menarik untuk dibicarakan, karena dalam masa akhir Majapahit tokoh Panji tersebut kemudian diarcakan setara dengan arca-arca dewata Hindu atau Budha. Tokoh Panji dikenal dalam berbagai . kisah sebagai seorang pahlawan yang luhur budinya, tinggi kesaktiannya dan mengetahui berbagai bidang seni, pada pokoknya menggambarkan seorang ksatrya yang ideal dalam masanya.

    Pernyataan Lord Raglan (1965) tentang tokoh pahlawan yang muncul dalam cerita tradisi cukup menarik untuk disimak, menurutnya cerita pahlawan seperti itu bukanlah merupakan peristiwa sebenarnya dalam kehidupan seseorang, melainkan merupakan cerita peristiwa ritual dalam karier seorang pribadi ritual. Hal ini nampaknya tercermin pula dalam kisah-kisah Panji yang berkembang dalam masa Majapahit akhir. Tokoh Panji adalah seorang pahlawan, kata pahlawan dalam pengertian sekarang cukup luas artinya, antara lain adalah:

    1. Pendiri suatu agama atau suatu negara,

    2. Orang yang sangat sempurna, karena memiliki sifat luhur,
    seperti berani, pemurah, setia dan lain-lain,

    3. Pemimpin perang, dan yang gugur dalam peperangan,

    4. Tokoh utama dalam karya sastra (Baried 1987:16).

    Dalam hal Panji pengertian pahlawan kedua dan keempatlah yang kiranya sesuai dengan penggambaran tokoh tersebut. Sedangkan menurut kategori pahlawan sebagai "pelaku ulung" yang dikemukakan oleh Thomas Carlyle', sangat mungkin tokoh Panji termasuk kategori pertama yaitu pahlawan sebagai dewa, sebagaimana Odin dalam mitologi Skandinavia. Keadaan seperti itu masih belum nampak terbayang dalam kisah Panji yang berupa karya sastra, namun lain halnya dengan kisah Panji yang dipahatkan dalam beberapa bangunan suci dalam masa Majapahit akhir, nampak terkesan kuat bahwa tokoh tersebut tidak lagi semata-mats tokoh utama dalam karya sastra, tapi lebih merupakan tokoh ideal atau bahkan telah merupakan tokoh yang dipuja dan dimuliakan.


    NAFAS KEAGAMAAN DALAM KISAH PANJI

    Walaupun tidak secara tegas dinyatakan adanya ajaranajaran keagamaan dalam naskah-naskah Panji, namun dalam beberapa kisah diuraikan adanya kegiatan bernafaskan keagamaan dalam beberapa kisah Panji. Misalnya dalam cerita Panji Bali yang berjudul Geguritan PakangRaras diuraikan bawa sesaat sebelum Panji dibunuh oleh Gusti patih dari kerajaan Daha is bersamadi menyatukan pikiran, mengucapkan aji kamoksan :


    ... raden mantri ngrahasika
    mamusti maajeng kangin
    ngastawa Betara Surya
    kalih ring Sanghyang Tuduh
    sausane sapunika,
    nabda aris,
    "Inggih sampun tityang usan... "


    (...Raden Mantri memusatkan pikiran, beryoga menghadap ke timur, bersujud ke hadapan Dewa Surya, dan Tuhan Yang Maha Esa, setelah itu, lalu berkata, "Nah, hamba sudah selesai..." (Baried 1987:144).

    Apa yang dilakukan Panji tersebut sebenarnya adalah cermin kegiatan keagamaan sang tokoh Pahlawan. Jika disebut Dewa Surya sebagai dewa sesembahannya (ista-dewata) sangat mungkin karena sifat dan kedudukannya sebagai pahlawan yang mahir berperang dan selalu berjaya mengalahkan. musuh-musuhnya. Hal itu sangat sesuai dengan sifat Dewa; Surya yang dipuja sebagai dewa yang mempunyai baju perang yang sempurna, dan selalu berhasil mengalahkan musuh-musuhnya.

    Di dalam Panji Jayakusuma dinyatakan bahwa Panji adalah kekasih dewa. Pada saat ia mengalami kerisauan hati, kegoncangan pikiran serta kegelapan batin ia selalu memusatkan pikiran kepada dewanya. Narada (Dewa pembantu Batara Guru) kerap muncul menemui Panji untuk memberikan wejangan atau mengarahkan tindakan-tindakan apa yang seharusnya dilaksanakan oleh Panji (Poerbatjaraka 1968:132,135). Di dalam kisah yang sama diuraikan juga adanya peranan Dewa Wisnu dan Dewi Sri yang menjelma dalam diri dua bersaudara lelaki dan perempuan Sri dan Sedana (Poerbatjaraka 1968:123). Sementara dalam Hikayat Panji Kuda Semirang dikisahkan adanya peranan Batara Kala dan Batara Guru dalam serta dewa-dewa Hindu lainnya dalam cerita kelahiran Panji sebagai putra raja Kuripan (Poerbatjaraka 1968:1--6).

    Jika dalam beberapa kisah Panji yang telah diuraikan tersebut nafas Hinduisme sangat terasakan, karena adanya penyebutan dewadewa Hindu; lain halnya yang diuraikan dalam kisah Panji Malat. Dalam Malat dikatakan bahwa Raja Gegelang akan melakukan pemujaan di (Rabut) Palah, ia hendak mempersembahkan lukisan yang menggambarkan lakon Rajaparwata kepada dewa. Panji serta Gunungsari, adiknya, yang diminta untuk membuat lukisan tersebut (Poerbatjaraka 1968:346--7). Hal yang menarik adalah bahwa bangunan suci Palah tidak lain adalah Candi Panataran yang disebut dengan nama Palah juga dalam Nagarakrtagama (Nag. 61:2). Adanya pemujaan terhadap dewa dengan mempersembahkan lukisan lakon Rajapanvata cukup menarik untuk dibicarakan, karena sangat mungkin pernyataan tersebut sangat berkaitan dengan konsep Parwatarajadewa yang pernah dikaji oleh S.Soepomo (1972). Hal ini akan dibicarakan dalam uraian selanjutnya.


    RELIEF CANDI PADA BEBERAPA CANDI PERIODE MAJAPAHIT

    Relief cerita Panji yang dapat diketahui secara pasti hanyalah terdapat pada beberapa candi saja dalam masa Majapahit. Seringkali orang menyatakan bahwa ciri utama tokoh Panji dalam penggambaran relief dan arca adalah jika ada figur pria yang digambarkan memakai topi tekes, Topi Ags mirip blangkon Jawa, tapi tanpa tonjolan di belakang kepala (lebih mirip dengan bIangkon gaya Solo/Surakarta). Badan bagian atas tokoh tersebut digambarkan tidak mengenakan pakaian, sedangkan bagian bawahnya digambarkan memakai kain yang dilipat-lipat hingga menutupi paha. Pada beberapa relief atau arca ada yang digambarkan membawa keris yang diselipkan di bagian belakang pinggang, atau ada juga yang digambarkan membawa senjata seperti tanduk kerbau (sebagaimana yang dipahatkan pada Kepurbakalaan (Kep.) XXII/C.Gajah Mungkur Penanggungan) (Bernet Kempers 1959:325-6).

    Jika berpegangan pada tolok ukur bahwa tokoh Panji selalu digambarkan bertopi tekes, maka akan banyak tokoh Panji yang dijumpai dalam relief-relief candi jawa Timur. Karena tokoh Sidapaksa suami Sri Tanjung yang dipahatkan di Candi Surawarna, dan Jabung akan dianggap sebagai tokoh Panji. Demikian Pula tokoh Sang Satyawan yang dipahatkan pada pendopo teras II Panataran dan dua figur pria dalam relief cerita Kunjarakarna di Candi Jago akan dapat dianggap sebagai tokoh Panji.

    Lalu bagaimana penggambaran relief tokoh Panji yang dikenal dalam cerita Panji? Stutterheim (1935) secara gemilang telah berhasil menjelaskan satu panil relief dari daerah Gambyok, Kediri yang nyata-nyata menggambarkan tokoh Panji beserta para pengiringnya. Pendapat Stutterheim tersebut didukung oleh para sarjana lainnya, seperti Poerbatjaraka (1968) dan Satyawati Suleiman (1978).

    Penggambaran relilef Panji Gambyok tersebut menurut Poerbatjaraka sesuai dengan salah satu episode kisah Panji Semirang, yaitu saat Panji bertemu dengan kekasihnya yang pertama, Martalangu, di dalam hutan (1968:408). Pada panil digambarkan adanya tokoh pria bertopi tWs yang sedang duduk di bagian depan kereta, tokoh itu tidak lain ialah Panji. Sementara tokoh yang duduk si hadapannya di atas tanah ialah Prasanta. Tokoh paling depan di antara empat orang yang berdiri ialah Pangeran Anom, di belakangnya ialah Brajanata, saudara Panji berlainan ibu. la digambarkan tinggi besar dengan rambutnya yang keriting tapi dibentuk seperti telces. Dua tokoh berikutnya adalah para kudeyan yaitu, Punta dan Kertala. Dalam relief digambarkan bahwa keretanya belum dilengkapi kuda, karena sesuai dengan cerita bahwa mereka baru merencanakan akan membawa Martalangu ke kota malam itu. Sementara sikap kedinginan yang ditunjukkan oleh para tokoh adalah sesuai juga dengan cerita, yaitu mereka berada di luar saat malam yang dingin (Poerbatjaraka 1968:408).

    Dengan berpatokan pada penggambaran adegan relief tersebut dapatlah ditentukan bahwa, suatu panil relief yang menggambarkan cerita Panji jika dalam panil tersebut:

    1. Terdapat tokoh pria yang bertopi tekes, mengenakan kain sebatAs lutut atau lebih rendah lagi menutupi tungkainya dan kadang membawa keris di bagian belakang pinggangnya. Tokoh tersebut ialah Raden Panji.

    2. Tokoh selalu disertai pengiring berjumlah 1, 2, atau lebih dari dua. Para pengiring tersebut ialah saudara atau teman Panji. Biasanya ada di antara para pengiring ada yang berperawakan tinggi besar dengan rambut keriting, dialah Brajanata atau berperawakan lucu, pendek, gemuk, dengan rambut dikuncir ke atas dialah Prasanta.

    Sebenarnya 2 hal itulah yang dapat dijadikan tolok ukur/ciri-ciri apakah suatu panil relief yang dipahatkan pada sebuah jawa Timur merupakan cerita Panji atau bukan. Dalam cerita Sri Tanjung, tokoh Sidapaksa memang digambarkan bertopi tekes, ia tidak pernah diikuti oleh para pengiring. Demikian pula Sang Satyawan tidak pernah digambarkan dengan pengiring yang dapat diidentifikasikan sebagai tokoh Brajanata, Prasanta ataupun Punta dan Kertala. Sementara dua orang yang bertopi tekes yang dipahatkan dalam relief cerita Kunjarakarna di kaki I Candi Jago, jelas bukan menunjukkan tokoh Panji. Mereka nampaknya menggambarkan manusia biasa yang ditemui dalam perjalanan yakga Kunjarakurna.

    Dengan berpegangan pada dua tolok ukur tersebut dapat kiranya diketahui bahwa relief yang belum dikenal ceritanya pada pendopo teras II Panataran adalah cerita Panji pula. Apa yang pernah diduga sebagai cerita Sri Tanjung oleh Galestin (1936) dan Satyawati Suleiman (1981), karena terdapat penggambaran seorang perempuan yang menaiki ikan lumbalumba agaknya perlu ditinjau kembali. Sebab dalam cerita Sri Tanjung tokoh-tokoh utamanya tidak pernah diikuti oleh seorang pengiring. Pada relief belum dikenal di pendopo teras lI Panataran baik tokoh ksatrya yang memakai tekes ataupun tokoh putri selalu diikuti oleh para pengiring pria atau wanita.

    Mengenai adanya ikan lumba-lumba yang turut digambarkan, hal itu tidaklah dapat dianggap sebagai "atribut kuat" dari cerita Sri Tanjung. Sebab pada relief yang dipahatkan di Kep. LXV/C. Kendalisada di GunungPenanggungan terdapat pula penggambaran cerita Panji (hal itu dapat diketahui berdasarkan tolok ukur yang telah dikemukakan) yang memuat adegan adanya ikan lumba-lumba di laut 6 Selain itu terdapat pula penggambaran seorang putri dengan embannya. Dengan demikian terdapat satu hal lagi yang biasanya terdapat (bisa hadir atau tidak) pada penggambaran relief cerita Panji, yaitu adanya seorang putri kekasih Panji (Dewi Candrakirana). Ciri-ciri yang semuanya hadir dalam panggambaran relief cerita Panji terpahatkan pada dinding punden berundak Kep. XXIl/C.Gajah Mungkur. Pada kepurbakalaan tersebut digambarkan adanya tokoh Panji bertopi tikes dengan kain yang sedikit tersingkap ke atas, terdapat tokoh Brajanata yang berambut keriting, Prasanta yang berperawakan pendek gemuk, serta satu pengiring pria lainnya, serta tokoh putri kekasih Panji. Untuk panil relief tersebut dapatlah dengan tegas dikatakan sebagai penggambaran cerita Panji karena ciri-cirinya hadir terpahatkan. Begitupun relief yang terpahatkan pada dinding Kep. LX/C.Yuddha di Gunung Penanggungan jelas menunjukkan cerita Panji, karena semua tolok ukur/ciri pemahatan cerita Panji hadir terpahatkan.


    CERITA PANJI DALAM MAYSRAKAT MAJAPAHIT AKHIR

    Sejauh yang dapat diketahui berdasarkan data yang ada penggambaran tokoh bertopi tikes pertama kali muncul dalam relief cerita Kunjarakarna di Candi Jago. Candi tersebut dibangun untuk memuliakan raja WisUuwardhana dari Singhasari (1248-68 M) (Nag.41:4).

    Namun dalam tahun 1343 M Candi Jago mengalami perombakan pada bangunannya serta dilengkapi dengan penggambaran relief-relief cerita (Dumarcay 1968:71, 98). Penggambaran figur bertopi tikes selanjutnya muncul di Candi Jabung, yaitu tokoh Sidapaksa suami Sri Tanjung. Candi Jabung yang menurut Pararaton disebut Bajrajinapafmitapuri sangat mungkin dibangun dalam tahun 1354 M (Dumarcay 1986:98).

    Pada dinding pendopo teras 11 Panataran yang didirikan pada tahun 1375 M (Dumarcay 1986:98), terdapat tokoh sang Satyawan yang bertopi tekes. Selain itu terdapat pula tokoh yang belum dikenal dan bertopi tikes, sangat mungkin tokoh tersebut adalah Raden Panji sendiri. Di Candi Surawana terdapat pula penggambaran Sidapaksa yang bertopi tikes. Candi ini merupakan tempat untuk memuliakan Bhre Wengker dan didirikan sekitar tahun 1390 M (Dumarqay 1986:98). Pada candi yang sama terdapat pula tokoh bertopi tekes lainnya, menurut Satyawati Suleiman tokoh tersebut tidak lain dari Raden Panji dalam episode kisah jaruman Atat (1981:23).

    Penggambaran tokoh bertopi tikes selanjutnya kemudian banyak didapatkan pada dinding punden berundak di Gunung Penanggungan. Dalam hal ini tokoh tersebut tidak dapat ditafsirkan sebagai tokoh lain lagi, kecuali Raden Panji. Seperti telah dinyatakan oleh para ahli bahwa punden-punden berundak di Gunung Penanggungan banyak didirikan pada masa Majapahit akhir, dalam abad 15-awal abad 16 M (van Romondt 1951: lampiran E; Quaritch Wales 1953:125--7; Bernet Kempers 1959:99--101), maka nampaknya cerita Panji semakin populer dalam kalangan masyarakat Majapahit akhir.

    Memang sampai sekarang masih belum dapat diketahui secara pasti cerita Panji manakah yang dipahatkan di bangunanbangunan suci masa Majapahit akhir tersebut. Mungkin hanya satu panil cerita Panji saja yang dapat diketahui kisahnya, yaitu panil relief dari Gambyok yang berangka tahun 1335 S/1413 M. Poerbatjaraka menduga bahwa cerita Panji yang dipahatkan tersebut adalah cerita Panji Semirang (1968:408). Sementara masih banyak cerita Panji lainnya yang dipahatkan pada beberapa bangunan suci tapi masih belum dapat diketahui sumber ceritanya.

    Suatu pertimbangan yang mungkin dapat diterima adalah bahwa umumnya cerita yang dipahatkan di candi-candi mengandung ajaran keagamaan, suatu lambang yang bernafaskan keagamaan, bersifat pendidikan, atau kisah tentang tokoh agama. Demikian pula cerita Panji yang dipilih untuk dipahatkan pada bangunan-bangunan suci tentunya mempunyai misi keagamaan.

    Jika kembali pada pendapat Raglan dan Carlyle bahwa pahlawan dalam cerita tradisi sebenarnya sangat pekat dengan nafas keagamaan, dalam perkembangan selanjutnya pahlawan tersebut akhirnya dipuja sebagai dewa. Demikian pula halnya yang terjadi pada diri Raden Panji, semula ia adalah pahlawan dalam cerita susastra dan akhirnya pahlawan tersebut menjadi tokoh yang dipuja karena beberapa kelebihan yang dimilikinya. Tokoh Panji yang merupakan tokoh pahlawan ciptaan orang Jawa (bukan pahlawan dari epic India) semula hanya dikenal dalam karya sastra. Dalam perkembangan selanjutnya Panji kemudian dipahatkan pada dinding bangunan-bangunan suci, sebagaimana Arjuna dalam cerita Arjunawiwaha atau juga Kresna dalam Kresnayana.

    Akhirnya juga Raden Panji lalu diarcakan dalam bentuk arca perwujudan tiga dimensi. Salah satu arca Panji masih dijumpai dari Kep. XXIII/C.Selakelir di lereng barat laut Gunung Penanggungan. Arca tersebut berukuran 1.50 M dalam sikap berdiri, kedua tangannya berada di samping tubuh, mengenakan tekes dan selain juga kalung, upawita dari kain yang menjuntai hingga paha, serta sarung yang mencapai punggung telapak kaki. Bentuk arca seperti ini mengingatkan pada arcaarca perwujudan dari masa Majapahit akhir lainnya. Misalnya arca Siwa dari Mojokerto, tinggi 84.5 cm yang sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakarta (Krom 1923, III: Plaat 93; Bernet Kempers 1959:104, Plate 339), serta itu arca dewa dari Kep. III di Gunung Penanggungan.

    Arca-arca tersebut memang lebih berkesan static-kaku dan mengingatkan pada tubuh orang yang telah meninggal, sehingga sangat mungkin arca-arca tersebut sebenarnya merupakan arca peringatan bagi leluhur yang telah wafat dan dianggap telah bersatu dengan dewanya (van Romondt 1951:70).

    Seperti telah diuraikan terdahulu bahwa di dalam kisah Malat, Panji telah melukis lakon Rkjaparwata bagi pamannya raja Gegelang. Lukisan tersebut oleh sang raja akan dipersembahkan pada dewa yang bersemayam di Palah. Hal ini cukup menarik perhatian karena menurut Negarakretagama pupuh 61:2, Hayam Wuruk pada tahun 1361 M pernah berkunjung pula ke Palah untuk melakukan pemujaan kepada dewa.

    Menurut Nagarakrtagama pula dapat diketahui bahwa Hayam Wuruk setiap bulan ke empat tiap tahun ia melakukan perjalanan ziarah ke beberapa tempat suci untuk mencari keindahan dan untuk tujuan keagamaan. Kunjungannya ke Palah sebenarnya adalah untuk melakukan pemujaan pada kaki hyang Acalapati (Nag.17:4--5). Menurut Soepomo