Senin, 30 Maret 2009

5. Sastra Jawa Modern

Sastra Jawa Modern muncul setelah pengaruh penjajah Belanda dan semakin terasa di Pulau Jawa sejak abad kesembilan belas Masehi.
Para cendekiawan Belanda memberi saran para pujangga Jawa untuk menulis cerita atau kisah mirip orang Barat dan tidak selalu berdasarkan mitologi, cerita wayang, dan sebagainya. Maka, lalu muncullah karya sastra seperti di Dunia Barat; esai, roman, novel, dan sebagainya. Genre yang cukup populer adalah tentang perjalanan.
Gaya bahasa pada masa ini masih mirip dengan Bahasa Jawa Baru. Perbedaan utamanya ialah semakin banyak digunakannya kata-kata Melayu, dan juga kata-kata Belanda.
Pada masa ini (tahun 1839, oleh Taco Roorda) juga diciptakan huruf cetak berdasarkan aksara Jawa gaya Surakarta untuk Bahasa Jawa, yang kemudian menjadi standar di pulau Jawa.
//
Daftar Karya Sastra
Lelampahaning Purwalelana, Raden Mas Purwalelana (jeneng sesinglon) 1875-1880
Rangsang Tuban, Padmasoesastra, 1913
Ratu, Krishna Mihardja, 1995
Tunggak-Tunggak Jati, Esmiet
Lelakone Si lan Man, Suparto Brata, 2004
Pagelaran, J. F. X. Hoery
Banjire Wis Surut, J. F. X. Hoery

23 komentar:

  1. nama:Swadayani Nurlekha
    NIM: 2102408051
    Rombel :2

    Sejatine ora ana sebutan kang katujoake kanggo para penulis crita rekan kang nulis Sastra Jawa Modern. Nanging yen ndeleng lagak-lagune, sastrawan era pungkasan penjajahan Walanda nganti saiki, sastrawan Jawa asring kapisah dadi telung jaman:

    * Jaman wiwitan Balai Pustaka nganti kamardhikan Indonesia
    * Jaman kamardhikan nganti tekan 1950-an
    * Jaman Roman Panglipur Wuyung
    * Jaman Orde Baru

    astra Jawa Modern muncul setelah pengaruh penjajah Belanda dan semakin terasa di Pulau Jawa sejak abad kesembilan belas Masehi.

    Para cendekiawan Belanda memberi saran para pujangga Jawa untuk menulis cerita atau kisah mirip orang Barat dan tidak selalu berdasarkan mitologi, cerita wayang, dan sebagainya. Maka, lalu muncullah karya sastra seperti di Dunia Barat; esai, roman, novel, dan sebagainya. Genre yang cukup populer adalah tentang perjalanan.

    Gaya bahasa pada masa ini masih mirip dengan Bahasa Jawa Baru. Perbedaan utamanya ialah semakin banyak digunakannya kata-kata Melayu, dan juga kata-kata Belanda.

    Pada masa ini (tahun 1839, oleh Taco Roorda) juga diciptakan huruf cetak berdasarkan aksara Jawa gaya Surakarta untuk Bahasa Jawa, yang kemudian menjadi standar di pulau Jawa.
    Daftar isi
    [sembunyikan]

    * 1 Daftar Karya Sastra
    * 2 Bacaan Tambahan
    * 3 Lihat pula
    * 4 Kembali ke
    Sastra Jawa Modern wiwit metu nalika jaman Walanda wis suwe ing tanah Jawa. Yen dietung wektune, kira-kira pas abad sangawelas Masehi.

    Wong-wong Walanda mau ngeguhke supaya para pujangga Jawa nulis crita kaya dene kang ana ing prosa wong bule. Ora kaya crita-crita Jawa sadurunge, critane ora ngenani wayang utawa lelakon kang wis kepungkur dadi lakon gethok tular.

    Pisanane, basa kang digunaake nganggo basa krama. Nalika wiwitan Balai Pustaka, sastra Jawa luwih akeh tinimbang sastra Melayu. Sastra Jawa modern wiwit kondhang nalika basa ngoko wiwit dienggo. Jaman kuwi, majalah Panjebar Semangat kang dipandhegani dening dr Soetomo nganggo basa ngoko supaya akeh kang bisa maca.

    Sastra Jawa ngeda-edabe nalika ing antarane 1950-1960-an kang akeh dicithak novel-novel picisan (asring uga sinebut novel panglipur wuyung). Jeneng kaya Any Asmara, Esmiet, Suparto Brata, lan miwite dadi wong kondhang.

    Bab lan Paragraf:
    1. Daftar anggitan sastra
    2. Delengen Uga
    3. Bali menyang
    Sastra Jawa
    Sastra Jawa Kuna
    Sastra Jawa Tengahan
    Sastra Jawa Anyar
    Sastra Jawa Modern
    Sastra kagandhèng
    Sastra Jawa-Bali
    Sastra Jawa-Lombok
    Sastra Jawa-Madura
    Sastra Jawa-Palembang
    Sastra Jawa-Sunda
    Sastra Jawa-Tionghoa
    1. Daftar anggitan sastra

    * Lelampahaning Purwalelana, Raden Mas Purwalelana (jeneng sesinglon) 1875-1880
    * Rangsang Tuban, Padmasoesastra, 1913
    * Ratu, Krishna Mihardja, 1995
    * Tunggak-Tunggak Jati, Esmiet
    * Lelakone Si lan Man, Suparto Brata, 2004
    * Pagelaran, J. F. X. Hoery
    * Banjire Wis Surut, J. F. X. Hoery

    Artikel punika taksih tulisan rintisan (stub). Sinten kémawon ingkang kersa mbenakaken, sumangga kémawon.
    2. Delengen Uga

    * Sastrawan Jawa Modern

    3. Bali menyang
    Sastra Jawa
    Kategori: Stub/Rintisan, Rintisan umum, Sastra Jawa, Sastra Jawa Modern
    Basa liyane: Bahasa Indonesia
    The article "Sastra Jawa Modern" is part of Wikipedia. It is licensed under the terms of the GNU FDL.

    * "Sastra Jawa Modern" on the Wikipedia website
    * Sejarah Kaca
    * Diskuseke kaca iki
    * Sunting

    [sunting] Daftar Karya Sastra

    * Lelampahaning Purwalelana, Raden Mas Purwalelana (jeneng sesinglon) 1875-1880
    * Rangsang Tuban, Padmasoesastra, 1913
    * Ratu, Krishna Mihardja, 1995
    * Tunggak-Tunggak Jati, Esmiet
    * Lelakone Si lan Man, Suparto Brata, 2004
    * Pagelaran, J. F. X. Hoery
    * Banjire Wis Surut, J. F. X. Hoery

    PERKEMBANGAN SASTRA JAWA MODERN (Upaya Menghindari Aversitas)
    Christanto P. Rahardjo
    Universitas Jember


    Istilah sastra Jawa modern lebih memasyarakat atau sebagai cermin masyarakat hendaknya mebih berhati-hati dalam pemakaian. Sastra yang ditulis terlalu progresif sering tidak mendapat tempat di media massa. Sebaliknya, sastra yang "mineur" terus-menerus dapat membosankan dan akibatnya afinitas dapat berubah menjadi aversi.
    Sastra Jawa modern yang bersifat serius karena ditulis dengan visi yang sungguh-sungguh dapat memperlihatkan bobot intelektual penulisnya. Oleh karena itu sastra Jawa modern yang serius memiliki tanda-tanda memperlihatkan bobot intelektual penulisnya, menawarkan masalah yang bersifat eksperimental, menawarkan objek yang terpadu sesuai dengan polarisasi sosial yang menekankan pada makna pesan dan mampu mewujudkan bahasa yang puitik.

    BalasHapus
  2. NAMA : Swadayani Nurlekha
    NIM : 2102408051
    ROMBEL : 2


    SASTRA JAWA MODERN

    Sastra Jawa Modern wiwit metu nalika jaman Walanda wis suwe ing tanah Jawa. Yen dietung wektune, kira-kira pas abad sangawelas Masehi.

    Wong-wong Walanda mau ngeguhke supaya para pujangga Jawa nulis crita kaya dene kang ana ing prosa wong bule. Ora kaya crita-crita Jawa sadurunge, critane ora ngenani wayang utawa lelakon kang wis kepungkur dadi lakon gethok tular.

    Pisanane, basa kang digunaake nganggo basa krama. Nalika wiwitan Balai Pustaka, sastra Jawa luwih akeh tinimbang sastra Melayu. Sastra Jawa modern wiwit kondhang nalika basa ngoko wiwit dienggo. Jaman kuwi, majalah Panjebar Semangat kang dipandhegani dening dr Soetomo nganggo basa ngoko supaya akeh kang bisa maca.

    Sastra Jawa ngeda-edabe nalika ing antarane 1950-1960-an kang akeh dicithak novel-novel picisan (asring uga sinebut novel panglipur wuyung). Jeneng kaya Any Asmara, Esmiet, Suparto Brata, lan miwite dadi wong kondhang.


    Sastra Jawa Trans Budaya


    SASTRA Jawa Modern (SJM) sudah mengalami elitisme. Sebagai bentuk budaya, ia bukan lagi milik masyarakat Jawa, tetapi hanya dimiliki oleh beberapa gelintir orang. Utamanya yang selama ini bergelut di dalamnya. Seakan SJM dikurung dalam sangkar emas sebagai budaya klangenan yang takut rusak oleh lekangnya zaman.

    SJM mana saja yang selama ini dianggap penting, berbobot, dan banyak diperbincangkan dipanggang sastra Jawa dari dulu sampai sekarang? Para pengamat dan kritikus Sastra Jawa dengan mudah akan menyebut sederet catatan panjang nama pengarang. Seperti Suparto Brata, Poerwadhi Admodihardjo, Any Asmara, Soebagijo IN, Tamsir AS, Esmiet, Anjar Any, St Iesmaniasita, Poer Adhi Prawoto, Suripan Sadi Hutomo, Aryana KD, Moch Nursyahid P, dan sebagainya.

    Kecenderungan khas dalam tinjauan SJM adalah banyak yang berorientasi pada pengarang yang ditokohkan, maka rangkaian sejarah SJM punya banyak ilustrasi pada ketokohan pengarangnya. Sehingga banyak karya yang tidak sempat mendapat tinjauan cukup.

    Ditilik dari sejarahnya, sastra Jawa sangat terkenal kaya. Perkembangannya melewati beberapa fase sejarah, dari Jawa Kuno yang dipengaruhi budaya Hindustan degan masuknya bahasa Sansekerta, kemudian periode Jawa menengah sampai Jawa modern. Dari perkembangan puisi yang berpuncak pada bentuk kakawin, kemudian naskah filsafat dan keagamaan yang berbentuk prosa, sampai bentuk penulisan kerakyatan yang berkembang sampai sekarang.

    Dari Ramayana Kakawin sampai Trem-nya Suparto Brata, sudah mengalami gradasi, sublimasi, adaptasi, dan distorsi yang sangat dipengaruhi oleh peradaban yang berkembang. Maka tidak aneh jika SJM mulai berorientasi pada bentuk baru. Namun demikian, ada sebagian sastrawan yang masih ingin mempertahankan sastra Jawa dalam bentuk kuno-nya. Lantas, bentuk yang bagaimana yang ingin dipertahankan?

    Budaya, dalam pandangan Soedjatmoko adalah sesuatu yang bergerak. Ia selalu mengikuti arus besar perkembangan zamannya. Yang paling penting adalah esensinya, bukan wujud fisik semata. Dan sastra sebagai salah satu unsur budaya sudah selayaknya kalau ikut arus perubahan, kalau tidak pasti akan terlindas.

    Terkesan sakral

    Sastra Jawa terkesan sangat sakral. Upaya perubahan sering dianggap sebagai pembelotan dan pengrusakan, sehingga perlu diberantas. Maka sudah selayaknya jika sastra Jawa mengalami stagnan, yang akibatnya mulai ditinggalkan oleh pendukungnya. Sampai saat ini sastra Jawa masih berkutat pada plot, alur, setting, karakter. Padahal struktur itu menjadi tidak lagi penting ketika dihadapkan pada tema yang lebih besar. Tema besar lahir dari pemikiran besar. Ia menjadi cermin-ungkap kreatornya dalam mengkomunikasikan ide-ide pengarang pada pembacanya.

    Komunikasi antara pengarang dan pembaca adalah kunci utama. Jalinan ini akan tercipta ketika pengarang menghadirkan tema-tema yang dekat dengan pembacanya. Tema-tema yang menjadi point interes. Sedang unsur plot, setting, alur, dan karakter adalah penunjang yang sangat dipengaruhi oleh teknik dan skill si pengarang.

    Unsur tema dan upaya komunikasi antara pengarang dan pembacanya ini ditentukan oleh dialektika dan kepekaan pengarang dalam mencermati kondisi sosial-budaya. Pengarang dalam menciptakan karya kreatifnya tidak sekadar memotret secara selintas kondisi sosial budaya, tetapi berusaha mempengaruhi kondisi sosial-budaya yang berlangsung. Kemudian menjadi obsesi perenungan seorang pengarang untuk melahirkan karya yang menawarkan katarsis.

    Tendensi realis di sini tidak semata cerita itu realis, tetapi lebih pada wacana pengisahan yang percaya bahwa sastra sanggup menghadirkan kembali kenyataan, menghidupkannya dalam cerita, di mana "fakta-fakta sosial" dalam cerita itu dapat dikenali kembali. Sehingga pembaca tidak teralienasi dari lingkungan sosialnya. Bahkan cerita yang bergaya surealis ataupun absurd, menyediakan juga indikasi-indikasi sosiologis yang membuat pembaca tetap mengenali "peristiwa sosial" yang tengah berlangsung. Kecenderungan realisme itulah yang berpretensi besar untuk memberikan kembali kenyataan seakurat mungkin. Kemungkinan yang ditawarkan tampak lebih cenderung menekankan dimensi etis karya sastra, tetapi tidak berarti lepas sama sekali dari kerangkan estetisnya.

    Pengarang seperti Suparto Brata, Moch Nursyahid P, AY Suharyono, Yunani, Narko Budiman, Sugeng Wiyadi, Turiyo Ragil Putra, dan sebagainya, akan mendapat predikat selaku pengarang Jawa yang produktif. Karya-karya yang lahir dari tangan mereka tidak terpancang pada etos tunggal bahwa mereka haruslah menyuarakan kehidupan Jawa, melainkan asalkan rangsangan kreatif muncul dengan jujur pula mereka ciptakan, tanpa mempedulikan apakah mereka lahir dari atmosfer kehidupan di Jawa, Sunda, Betawi, Melayu, Kalimantan, sampai Irian. Dengan singkat, pengembaraan fisik dan spiritual mereka membuahkan juga berbagai variasi karya SJM. Justru dengan begitu maka mosaik panorama kita menjadi penuh nuansa dan citra.

    Pengarang SJM generasi sekarang memiliki citra bahwa mereka lahir dari manusia transkultural. Bila bukan mereka pernah langsung menghirup atmosfer kehidupan Indonesia, secara fisik dan mental dan corak penalaran hidupnya, maka substansi karya mereka justru berlatar dan berkarakter diwilayah urban perkotaan. Pameo kuno pun setidaknya tetap berlaku di kalangan sastrawan Jawa modern: mereka adalah musyafir yang berkarya tanpa terpalang oleh chorus tunggal-untuk mengambil latar budaya Jawa-tetapi dengan tumpuan pokok tetap memakai bahasa Jawa sebagai media ekspresi kreativitas.

    Konsep nasionalisme yang hangat di zaman revolusi fisik sekitar tahun 1945 memperoleh terjemahan majemuk dan longgar dari dulu hingga sekarang. Di dalam SJM, terjemahan konsep lokalisme itu tidak identik dengan menutup diri terhadap berlangsungnya proses-proses sintesa dengan kemajuan pemikiran dan peradaban modern. Para sastrawan Jawa, prosais, penggurit dan esais memakai idiom masing-masing untuk ikut mengejawantahan budaya SJM.

    Oleh karena mereka berekspresi secara jujur di dalam sastra, sehingga tidak mengurung diri didalam kerangka konsep abstrak demikian. Bagaimanapun, pengalaman hidup yang menyepuh proses kreativitasnya memang mustahil untuk ingkar terhadap mobilitas budaya Jawa yang bagi pribadi satu dengan pribadi lainnya tidak mungkin seragam dan monoton. Karena tidak hendak menyembunyikan kebebasan imajinasi dan pengalaman hidupnya yang memang absah itu, maka mereka bisa berkarya secara otentik dan juga produktif.

    Mungkin yang lebih menarik, dalam hubungan pengarang SJM dengan perjalanan kreativitasnya yang mengantar mereka menjadi manusia trans-budaya, bila mereka juga menyandang predikat seorang ahli dalam suatu ilmu pengetahuan yang mereka tekuni manakala berada jauh dari Bumi Jawa. Adakah karya sastra mereka juga mempunyai sinyal-sinyal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang mereka tekuni? Kitapun dapat membuat perbandingan dengan karya sastra yang lahir dari tangan pengarang yang tidak menguasai pendidikan tinggi.

    Mungkin di situ kita tidak perlu membenturkan masalah bobot literer, tetapi kita dapat memperoleh banyak perspektif dan nuansa literer, ketimbang sibuk dengan kalkulasi semangat sastra tahun 1970-an atau 1980-an, dengan globalisasi yang lebih bersifat umum hasil proyeksinya.

    Kiranya dengan Kongres Bahasa Jawa III di Yogyakarta dan Kongres Sastra Jawa di Surakarta dapat memberikan hasil dengan mengangkat sastra Jawa untuk lebih berkembang di masyarakat.

    BalasHapus
  3. NAMA : NURUL HUSNIA NOVITA RATNADILLA
    NIM : 2102408074
    ROMBEL : 3


    SERAT WULANGREH

    Yasa Dalem : Sri Susuhunan Pakubuwana IV

    PUPUH I
    DHANDHANGGULA

    01

    Pamedare wasitaning ati, ujumantaka aniru Pujangga, dahat muda ing batine. Nanging kedah ginunggung, datan wruh yen akeh ngesemi, ameksa angrumpaka, basa kang kalantur, turur kang katula-tula, tinalaten rinuruh kalawan ririh, mrih padanging sasmita.

    02

    Sasmitaning ngaurip puniki, mapan ewuh yen ora weruha, tan jumeneng ing uripe, akeh kang ngaku-aku, pangrasane sampun udani, tur durung wruh ing rasa, rasa kang satuhu, rasaning rasa punika, upayanen darapon sampurna ugi, ing kauripanira.

    03

    Jroning Quran nggoning rasa yekti, nanging ta pilih ingkang unginga, kajaba lawan tuduhe, nora kena den awur, ing satemah nora pinanggih, mundak katalanjukan, tedah sasar susur, yen sira ajun waskita, sampurnane ing badanira, sira anggugurua.

    04

    Nanging yen sira ngguguru kaki, amiliha manungsa kang nyata, ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing chukum, kang ngibadah lan kang wirangi, sokur oleh wong tapa, ingkang wus amungkul, tan mikir pawewehing liyan, iku pantes sira guronana kaki, sartane kawruhana.

    05

    Lamun ana wong micara kaki, tan mupakat ing patang prakara, aja sira age-age, anganggep nyatanipun, saringana dipun baresih, limbangen lan kang patang : prakara rumuhun, dalil qadis lan ijemak, lan kijase papat iku salah siji, ana-a kang mupakat.

    06

    Ana uga den antepi, yen ucul saka patang prakara, nora enak legetane, tan wurung tinggal wektu, panganggepe wus angengkoki, aja kudu sembah Hajang, wus salat kateng-sun, banjure mbuwang sarengat, batal haram nora nganggo den rawati, bubrah sakehing tata.

    07

    Angel temen ing jaman puniki, ingkang pantes kena ginuronan, akeh wong jaya ngelmune, lan arang ingkang manut, yen wong ngelmu ingkang netepi, ing panggawening sarak, den arani luput, nanging ta asesenengan, nora kena den wor kakarepaneki, pancene prijangga.

    08

    Ingkang lumrah ing mangsa puniki, mapan guru ingkang golek sabat, tuhu kuwalik karepe, kang wus lumrah karuhun, jaman kuna mapan si murid, ingkang pada ngupaya, kudu angguguru, ing mengko iki ta nora, Kyai Guru narutuk ngupaya murid, dadiya kantira.

    PUPUH II
    K I N A N T H I

    01

    Padha gulangen ing kalbu, ing sasmita amrih lantip, aja pijer mangan nendra, kaprawiran den kaesthi pesunen sariranira, sudanen dhahar lan guling.

    02

    Dadiya lakuniraku, cegah dhahar lawan guling, lawan ojo sukan-sukan, anganggowa sawatawis, ala watake wong suka, nyuda prayitnaning batin.

    03

    Yen wus tinitah wong agung, ywa sira gumunggung dhiri, aja nyelakaken wong ala, kang ala lakunireki, nora wurung ngajak-ajak satemah anenulari.

    04

    Nadyan asor wijilipun, yen kelakuwane becik, utawa sugih cerita, kang dadi misil, yen pantes raketana, darapon mundhak kang budi.

    05

    Yen wong anom pan wus tamtu, manut marang kang ngadhepi, yen kang ngadhep akeh durjana, tan wurung bisa anjuti, yen kang ngadhep akeh bongsa, nora wurung dadi maling.

    06

    Sanadyan nora melu, pasti wruh lakuning maling, kaya mangkono sabarang, panggawe ala puniki, sok weruha gelis bisa, yeku panuntuning iblis.

    07

    Panggawe becik puniku, gampang yen wus den lakoni, angel yen durung linakwan, aras-arasen nglakoni, tur iku den lakonana, mufa’ati badanneki.

    08

    Yen wong anom-anom iku, kang kanggo ing masa iki, andhap asor dipun bucal, unbag gumunggung ing dhiri, obrol umuk kang den gulang, kumenthus lengus kumaki.

    09

    Sapa sira sapa ingsun, angalunyat sarta edir, iku lambanging waong ala, nom-noman adoh wong becik, emoh angrungu carita, kang ala miwah kang becik.

    10

    Cerita kang wus kalaku, panggawe ala lan becik, tindak bener lan becik, tindak bener lan kang salah, kalebu jro caritareki, mulane aran carita, kabeh-kabeh den kawruhi.

    11

    Mulane wong anom iku, abecik ingkang taberi, jejagongan lan wong tuwa, ingkang sugih kojah ugi, kojah iku warna-warna, ana ala ana becik.

    12

    Ingkang becik kojahipun, sira anggawa kang remit, ingkang ala singgahana, aja niat anglakoni, lan den awas wong kang kojah, ing lair masa puniki.

    13

    Akeh wong kang bisa muwus, nanging den sampar pakolih, amung badane priyangga, kang den pakolihaken ugi, panastene kang den umbar, nora nganggo sawatawis.

    14

    Aja ana wong bisa tutur, amunga ingsun pribadhi, aja ana amemedha, angrasa pinter ngluwihi, iku setan nunjang-nunjang, tan pantes dipun cedhaki.

    15

    Singakna den kaya asu, yen wong kang mangkono ugi, dahwen open nora layak, yen sira sadhinga linggih, nora wurung katularan, becik singkiorana kaki.

    16

    Poma-poma wekasingsun, mring kang maca layang iki, lan den wedi mring wong tuwa, ing lair prapto ing batin, saunine den estokna, ywa nambuh wulang kang becik.

    PUPUH III

    G A M B U H

    01

    Sekar gambuh ping catur, kang cinatur polah kang kelantur, tanpa tutur katula-tula katali, kadaluwarsa katutuh kapatuh pan dadi awon.

    02

    Aja nganti kebanjur, barang polah ingkang nora jujur, yen kebanjur kojur sayekti tan becik, becik ngupayaa iku, pitutur ingkang sayektos.

    03

    Pitutur bener iku, sayektine kang iku tiniru, nadyan melu saking wong sudra papeki, lamun becik wurukipun, iku pantes sira anggo.

    04

    Ana pocapanipun, adiguna adigang adigung, pan adigang, kidang adigung pinasti, adiguna ula iku, telu pisan mati samyoh.

    05

    Sikidang umbagipun, angendelaken kebat lumpatipun, pan si gajah angendelken gung ainggil, ula ngendelaken iku, mandine kalamun nyakot.

    06

    Iku upamanipun, aja ngendelaken sira iku, tukang Nata iya sapa kumawani, iku ambeke wong digung, ing wasana dadi asor.

    07

    Ambek digang puniku, angungasaken kasuranipun, para tantang candala anyenyampahi, tinemenan boya purun, satemah dadi geguyon.

    08

    Ing wong urip puniku, aja nganggo ambek kang tetelu, anganggowa rereh ririh ngatiati, den kawang-kawang barang laku, den waskitha solahing wong.

    09

    Dening tetelu iku, si kidang suka ing panitipun, pan si gajah alena patinireki, si ula ing patinipun, ngedelken upase mandos.

    10

    Tetelu nora patut, yen tiniru mapan dadi luput, titikane wong anom kurang wewadi, bungah akeh wong kang ngunggung, wekasane kajalomprong.

    11

    Kumprung wong pengung bingung, wekasane lali nora eling, yen den gunggung katone muncu-muncu, wong pengung saya dadi, kaya wudun meh mencothot.

    12

    Ing wong kang anggunggung, mung sepele iku pamrihipun, mung warege wadhuke klimising lathi, lan telese gondhangipun, rerubo alaning uwong.

    13

    Amrih wareke iku, yen wus warek gawe nuli gawe umuk, kang wong akeh kang sinuprih padha wedi, amasti tanpa pisungsung, adol sanggap sakehing wong.

    14

    Yen wong mangkono iku, nora pantes pedhak lan wong agung, nora wurung anuntun panggawe juti, nanging ana pantesipun, wong mangkono didhedhoplok.

    15

    Aja kakehan sanggup, durung weruh tuture agupruk, tutur nempil panganggepe wruh pribadi, pangrasane keh wong nggunggung, kang wus weruh amelengos.

    16

    Aja nganggo sireku, kalakuwan kang mangkono iku, nora wurung cinirenen den titeni, mring pawong sanak kang weruh, nora nana kang pitados.

    PUPUH IV
    P A N G K U R

    01

    Kang sekar pangkur winarna, lelabuhan kang kanggo ing wong urip, ala lan becik puniku, prayoga kawruhana, adat waton puniku dipun kadulu, miwah ta ing tata krama, den kaesthi siyang ratri.

    02

    Deduga lawan prayoga, myang watara reringa aywa lali, iku parabot satuhu tan kena tininggala, tangi lungguh angadeg tuwin lumaku angucap meneng myang nendra, duga-duga aja kari.

    03

    Miwah ta sabarang karya, ing prakara gedhe kalawan cilik, papat iku datan kentun, kanggo sadina-dina, rina wengi neng praja miwah ing dhusun, kabeh kang padha ambekan, papat iku aja lali.

    04

    Kalamun ana manungsa, tan anganggo ing duga lan prayogi, iku watake tan patut, awor lawan wong kathah, degsura ndaludur tan wruh ing edur, aja sira pedhak-pedhak nora wurung neniwasi.

    05

    Pan wus watake manungsa, pan ketemu ing laku lawan linggih, solah muna mininipun, pan dadi panengeran ingkang pinter kang podho miwah kang luhung, kang sugih lan kang melarat, tanapi manungsa singgih

    06

    Tinitik solah muna, lawan malih ing laku lawan linggih, iku panengeranipun, winawas ginrotan, pramilane ing wong kuna-kuna iku, yen amawas ing sujalma, datan amindho gaweni.

    07

    Ginulang sadina-dina, wewekane ing basa lan basuki, ing jubriya-kibiripun, sumungah lan sesongaran, mung sumendhe sakarsanira Hyang Agung, ujar sirik kang rineksa, kautaman ulah wadi.

    08

    Ing masa mengko pan nora, kang katemu laku basa basuki, ingkang lumrah wong puniku, dhengki srei lan dora, iren meren pisastene pan kumingsun,sasolahe tan prasaja, jail mutakil basiwit.

    09

    Alaning liyan den andhar, ing becike liya kang den simpeni, becike dhewe ginunggung, kinarya pasamuan, tan rumasa alane dhewe ngandhukur, wong mangkono wewatekny, nora pantes den pedhaki.

    10

    Iku wong durbala murka, nora nana mareme jroning ati, sabarang karepanipun, sanadyan wus katekan, arep maneh nora marem saya mbanjur, luwamah lawan amarah, iku kang den tuti wuri.

    11

    Ing sabarang solah tingkah, ing pangucap tanapi nyang alinggih, tan suka sor ambekipun, pan lumuh kaungkulan, ing sujalma pangrasane dhewekipun, tan ana kang madhanana, angrasa luhur pribadi.

    12

    Aja nedya katempelan, watek ingkang tan becik tinutwuri, watek rusuh nora urus, tunggal lawan manungsa, dipun sami anglabuhi kang apatut, parapan dadi tuladha, tinula mring wong kang becik.

    13

    Aja lunyu lumur genjah, angrong prasanakan nyumur gumuling, ambubuti arit puniku, watak kang tan raharja, pan wong lunyu nora kena dipun enut, monyar-manyir tan antepan, dela lemeran puniku.

    14

    Para panginan tegesnya, genjah iku cecegan barang kardi, angrong prasanak liripun, karem ulah miruda, mring rabine sadulur miwah bebatur, tuwin sanak prasanakan, sok senenga dan ramuhi.

    15

    Nyumur guling punika, ambelawah datan duwe wewadi, nora kene rubung-rubung, wadine kang den urap, mbuntut arit punika pracekanipun, apener neng pangarepan, nggarretel dumunung wuri.

    16

    Sabarang kang dipun ucap, nora wurung mung plehe pribadi, iku lelabuhan patut, aja nedya anelad, ing wateke kangnem prakoro punika, kang sayogya ngupayoa, anglir mastimbul ing warih.

    PUPUH V
    MASKUMAMBANG

    01

    Nadyan silih bapa biyung kaki nini, sadulur myang sanak, kalamun muruk tan becik, nora pantes yen den nuta.

    02

    Apan koyo mangkono watekanneki, sanadyan wong tuwa yen duwe watak tan becik, miwah ing tindak prayoga.

    03

    Aja sira niru tindak kang tan becik, sanadyan wong liya, lamun pamuruke becik, miwah ing tindak prayoga.

    04

    Iku pantes yen sira tiruwa kaki, miwah bapa biyung, amuruk watek kang becik, kaki iku estokena.

    05

    Wong tan manut tuture wong tuwa ugi, pan nemu duraka, ing donya tumekeng akhir, tan wurung kasurang-surang.

    06

    Maratani mring anak putu ing wuri, den padha prayitna, aja ana kang kumawani, ing bapa tanapi biyang.

    07

    Ana uga etang etangane kaki, lelima sinembah, dununge sawiji-wiji, sembah lelima punika.

    08

    Ingkang dening rama iku kaping kalih, marang maratuwa, lanang wadon kaping katri, lan marang sadulur tuwa.

    09

    Kaping pat marang guru kang sayekti, sembah kaping lima marang Gustinira yekti, pacincene kawruhana.

    10

    Pramila rama ibu den bekteni, kinarya jalaran, anane badanireki, kinawruhan padhang hawa.

    11

    Uripira pinter samubarang kardi, saking ibu rama, ing bating saking Hyang Widdhi, milane wajib sinembah.

    12

    Pan kinarsakake marang ing Hyang Widdhi, kinarya lantaran, ana ing dunya puniki, nyalaki becik lan ala.

    13

    Saking ibu rama margane udani, miwah maratuwa, lanang wadon den bekteni, aweh rasa ingkang nyata.

    14

    Sajatine rasa kang mencarke wiji, sembah kaping tiga, mring sadulur tuwa ugi, milane sadulur tuwa.

    15

    Pan sinembah gegantining rama ugi, pan sirnaning wong tuwa, sadulur tuwa gumanti, inkang pantes sira tuta.

    16

    Iba warah wuruke ingkang prayogi, sembah kang kaping papat, marang ing guru sayekti, marmane guru sinembah.

    17

    Kang pituduh marang marganing ngaurip, tumekeng antaka madhangken petenging ati, mbeneraken marga mulya.

    18

    Wong duraka ing guru abot sayekti, mila den prayitna, minta sih siyang ratri, ywa nganti suda sihira.

    19

    Kaping lima dununge sembah puniki, mring Gusti kang Murba, ing pati kalawan urip, paring sandhang lawan pangan.

    20

    Wong neng dunya wajib manuta mring Gusti, lawan para lurah, sapratingkahe den esthi, aja dumeh wis awirya.

    21

    Nora putra santana wong cilik, pan padha ngawula, pan kabeh namani abdi, yen dosa kukume padha.

    22

    Yen rumasa putra santana sireki, dadine tyasira angenira sayekti, tan wurung anemu papa.

    23

    Angungasken putra sentananing Aji, iku kaki aja, wong suwita nora becik, kudu wruh ing karsanira.

    24

    Yen tinuduh saking Sang Maha Narpati, barang pituduhnya, poma estokna sayekti, karyanira sungkemana.

    25

    Aja menceng saprintahe sang siniwi, den pethel aseba aywa malincur ing kardi, lan aja ngepluk sungkanan.

    26

    Luwih ala alane ing wong ngurip, wong ngepluk sungkanan tan patut ngawuleng Gusti, ngengera sepadha-padha.

    27

    Nadyan ngenger neng biyungira pribadi, yen karya sungkanan nora wurung den srengeni, yen luput pasti pinala.

    28

    Apa kaya mangkono ngawuleng Gusti, kalamun leleda, tan wurung bilahi, ing wuri aja ngresula.

    29

    Pan kinarya dhewe bilahinireki, lamun tan temene, barang pakaryane Gusti, lahir batin ywa suminggah.

    30

    Apa Ratu tan duwe kadang myang siwi, sanak prasanakan, tanapi garwa kekasih, pan mung bener agemira.

    31

    Kukum adil pan mung iku kang kaesthi, mulata padha den rumeksa Gusti, endi lire wong rumeksa.

    32

    Dipun gemi nastiti lan ngati-ati, gemi mring kagungan, ing Gusti ywa sira wani, anggegampang lawan aja.

    33

    Wani-wani nuturken wadining Gusti, den bisa rerawat, ing wewadi sang siniwi, nastiti barang parentah.

    34

    Ngati-ati ing rina kalawan wengi, ing rumeksanira, lan nyandhang karsaning Gusti, Duduke wuluh kang tampa.

    PUPUH VI
    DUDUK WULUH

    01

    Wong ngawula ing Ratu luwih pakewuh, nora kena minggrang-minggring, kudu mantep karyanipun setya tuhu marang Gusti, dipun purut sapakon.

    02

    Apan Ratu kinarya wakil Hyang Agung, marentahaken hukum adil, pramila wajib den emut, sapa tan anut ing Gusti, mring parentahe Sang Katong.

    03

    Aprasasat batali karsa Hyang Agung, mulane babo wong urip, sapirsa suwiteng Ratu, kudu eklas lair batin, aja nganti nemu ewoh.

    04

    Ing wurine yen ati durung tuwajuh, angur baya aja ngabdi, angur ngidunga karuhun, aja age-age ngabdi, yen durung eklas ing batos.

    05

    Ngur ngidungan bae nora ana pakewuh, lan nora nana kang ngiri, mungkul tutug karepipun, nora susah tungguk kemit, sarta seba lurahe nganggo.

    06

    Nanging iya abote wong ngidung iku, keneng patrol pinggir margi,lamun nora patrol nglurung,
    keneng lenga pendhak sasi,katru lurahe sabotol.

    07

    Lan yen ana tetontonan aneng lurung,kemul bebede sasisih,saha mbanda tanganipun, glindhang-glindhung tanpa keris,andhodhok pinggiring bango.

    08

    Parandene jroning tyas kaya tumenggung, mengku bawat Senen Kemis, mankono ambeki reku, nora kaya wong ngabdi, wruh plataraning Sang Katong.

    09

    Lan kelingan sarta ana aranipun, lan ana lungguhe ugi, ing salungguh-lungguhipun, nanging ta dipun pakeling, mulane pinardi katong.

    10

    Samubarang ing karsaning Sang Prabu, sayekti kudu nglakoni, sapalakartine iku, lamun wong kang padha ngabdi, panggaweyane pan seyos.

    11

    Kaya iku bopati kliwon panewu, luwin mantri lawan miji, panglaweyan miwah pajang, tuwin kang para prajurit, kang nambut.

    12

    Kabeh iku kuwajiban sebanipun, ing dino kang amarengi, wiyosanira sang Prabu, sanadyan tan miyos ugi, pasebane aja towong.

    13

    Yen kang lumrah yen karep seba wong iku, nuli ganjaran den incih, lamun nora yen tan nuli mutung, iku laku sewu sisip, yen wus mangerti ingkang wong.

    14

    Tan mangkono etunge kang wus sumurup, yen iku nora pinikir, ganjaran pan wus rumuhun mung amamrih sihing Gusti, winales ing lair batos.

    15

    Setya tuhu barang saprentah manut, ywa nglegani karseng Gusti, wong ngawula paminipun, lir sarah aneng jaladri, darma lumampah sapakon.

    16

    Dening beja cilaka utawa luhur, asor luhur wus pasti, ana ing bebadanira, aja sok anguring uring, Gusti nira inggih Sang Katong.

    17

    Mundhak ngakehaken ing luputireku, mring Gusti tuwin Hyang Widdhi, dening ta sabeneripun, temen pasti lawan takdir, mring badan tan kena megoh.

    18

    Tulisane lokhil makful kang runuhun, pepancene kang wus pasti, tan kena owah sarambut, tulise badanireki ywa ana mundur sapakon.

    PUPUH V
    D U R M A

    01

    Dipun sami ambanting ing badanira, nyudha dhahar lan guling, darapon sudaa, nepsu kang ngambra-ambra, rerema ing tyasireki, dadya sabarang, karyanira lestari.

    02

    Ing pangrawuh lair batin aja mamang, yen sira wus udani, mring sariranira, lamun ana kang Murba, masesa ing alam kabir, dadi sabarang, pakaryanira ugi.

    03

    Bener luput ala becik lawan beja, cilaka mapan saking, ing badan priyangga, dudu saking wong liya, mulane den ngati-ati, sakeh dirgama, singgahana den eling.

    04

    Apan ana sesiku telung prakara, nanging gedhe pribadi, puniki lilira, yokang telung prakara, poma ywa nggunggung sireki, sarta lan aja, nacat kepati pati.

    05

    Lawan aja maoni sabarang karya, sithik-sithik memaoni, samubarang polah, tan kena wong kumlebat, ing masa mengko puniki, apan wus lumrah, uga padha maoni.

    06

    Mung tindake dhewe datan winaonan, ngrasa bener pribadi, sanadyan benera, yen tindake wong liya, pasti den arani sisip, iku wong ala, ngganggo bener pribadi.

    07

    Nora nana panggawe kang luwih gampang, kaya wong memamaoni, sira eling-eling, aja sugih waonan,
    den sami salajeng budi, ingkang prayoga, sapa-sapa kang lali.

    08

    Ingkang eling iku padha angilangna, marang sanak kanca kang lali, den nedya raharja, mangkono tindakira,
    yen tan nggugu liya uwis, teka menenga, mung aja sok ngrasani.

    09

    Nemu dosa gawanen sakpadha-padha, dene wong ngalem ugi, yen durung pratela, ing temen becikira,
    aja age nggunggung kaki, meneh tan nyata, dadi cirinireki.

    10

    Dene kang wus kaprah ing masa samangkya, yen ana den senengi, ing pangalemira, pan kongsi pandirangan,
    matane kongsi malirik, nadyan alaa, ginunggung becik ugi.

    11

    Aja gelem aja mada nora bisa, yen uga masa mangkin iya ing sabarang, yen nora sinenengan, den poyok kapati pati, nora prasaja, sabarang kang den pikir.

    12

    Ngandhut rukun becike ngarep kewala, ing wuri angarsani, ingkang ora-ora, kabeh kang rinasanan, ala becik den rasani, tan parah-parah, wirangronge gumanti.

    PUPUH VI
    WIRANGRONG

    01

    Den samya marsudeng budi, wuweka dipun was paos, aja dumeh bisa muwus, yen tan pantes ugi, sanadya mung sekecap, yen tan pantes prenahira.

    02

    Kudu golek masa ugi, panggonan lamun miraos, lawan aja age sira muwus, durunge den kaesthi, aja age kawedal, yen durung pantes lan rowang.

    03

    Rowang sapocapan ugi, kang pantes ngajak calathon, aja sok metuwo wong celathu, ana pantes ugi, rinungu mring wong kathah, ana satengah micara.

    04

    Lan welinge wong ngaurip, aja ngakehken supaos, iku gawe reged badanipun, nanging masa mangkin, tan ana itungan prakara, supata ginawe dinan.

    05

    Den padha gemi ing lathi, aja ngakehke pepisoh, cacah cucah erengan ngabul-abul, lamun tan lukani, den dumeling dosanya, mring abdi kang manggih duka.

    06

    Lawan padha den pakeling, teguhna lahir batos, aja ngalap randhaning sedulur, sanak miwah abdi, karsa rewang sapasang, miwah maring pasanakan.

    07

    Gawe salah graitaning, ing liyan kang sami anom, nadyan lilaa lanangipunkang angrungu elik, ing batin tan pitaya, masa kuranga wanodya.

    08

    Gawe salah graitaning, ing liyan tan sami anom, nadyan lilaa lananganipun, kang ngrungu elik, ing batin tan pitaya, masa kuranga wanodya.

    09

    Tan wurung dipun cireni, ing batin ingaran rusoh, akeh jaga-jaga jroning kalbu, arang ngandel batin, ing tyase padhasuda, pangandele mring bendara.

    10

    Anu cacat agung malih, anglangkungi saking awon, apan sakwan iku akeh pun, dhingin wong madati, pindho wong ngabotohan, kaping tiga wong durjana.

    11

    Kaping sakawane ugi, wong ati sudagar awon, mapan suka sugih watekipun, ing rina lan wengi, mung batine den etang, alumuh lamun kalonga.

    12

    Iya upamane ugi, duwe dhuwit pitung bagor, mapan nora marem ing tyasipun, ilanga sadawa, gegetun patang warsa, padha lan ilang saleksa.

    13

    Wong ati sudagar ugi, sabarang prakara tamboh, amung yen ana wong teka iku, anggegawe ugi, gegadhen pan tumanggal, ulate teka sumringah.

    14

    Dene wong durjana ugi, nora ana den batos, rina wengi mung kang den etung, duweke liyan nenggih, dahat datan prayoga, lamun wateke durjana.

    15

    Dene bebotoh puniki, sabarang pakaryan lumoh, lawan kathah linyok para padha, yen pawitan enting
    tan wurung anggegampang, ya marang darbeking sanak.

    16

    Nadyan wasiyating kaki, nora wurung dipun edol, lamun menang endang gawe angkuh, pan kaya bopati, wewah tan ngarah-arah, punika awoning bangsat.

    17

    Kepatuh pisan memaling, tiniteran saya awon, apan boten wonten panedinipun, pramilane sami, sadaya nyinggahana, anggegulang ngabotohan.

    18

    Dene ta wong akng madati, sesade kemawon lumuh, amung ingkang dados senengipun, ngadep diyan sarwi, linggih ngamben jejegang, sarwi leleyang bebuden.

    19

    Yen leren nyeret, netrane pan merem karo, yen wus ndadi awake akuru, cahya biru putih, njalebut biru toya, lambe biru untu petah.

    20

    Beteke satron lan gambir, jambe suruh arang wanuh, ambekane sarwi melar mingkus, atuke anggigil, jalagra aneng dhadha, tan wurung ngestop boliro.

    21

    Yen mati nganggo ndalinding, suprandene npra kapok, iku padha singgahana patut, ja ana nglakoni, wong mangan apyun ala, urpe dadi tontonan.

    22

    Iku kabeh nora becik, aja na wani anganggo, panggawe patang prakara iku, den padha pakeling, aja na wani nerak, kang wani nerak tan manggih arja.

    23

    Lawan ana waler malih, aja sok anggung kawuron, nginum, sajeng tanpa masa iku, dadi lire ugi, angombe saben dina, pan iku watake ala.

    24

    Lan aja karem sireki, ing wanodya ingkang awon, lan aja mbuka wadi siraku, ngarsaning pawestri tan wurung nuli corah, pan wus lumprahing wanita.

    25

    Tan bisa simpen wewadi, saking rupake ing batos, pan wus pinanci dening Hyang agung, nitahken pawestri, apan iku kinarya, ganjaran marang wong priya.

    26

    Kabeh den padha nastiti, marang pitutur kang yektos, aja dumeh tutur tanpa dapur, yen bakale becik, den anggo weh manfaat, kaya Pucung lan kaluwak.

    PUPUH VII
    P U C U N G

    01

    Dipun sami marsudi ing budinipun, weweka den awas, aja dumeh bisa angling, den apantes masa kalane micara.

    02

    Nadyan namung sakecap yen nora patut, prenah ing wicara, sadurunge den kaesthi, awasane semune rewang alenggah.

    03

    Lawan aja sok metua wong celathu, aneng pasamuwan, ora pantes kang kawiji, ora ana kang kasimpen ing wardaya.

    04

    Wicara kang kawetu aja kabanjur, nganggowa prayoga, arahen kang ngati-ati, yen wus melu nora kena tinututan.

    05

    Milanipun den prayitna wong celathu, aja sok supata, pan dadi regeding urip, yen micara larangana ngucap tobat.

    06

    Iku dadi cilakane ing uripmu, poma-poma padha, den gemi wedaling lati, masa mangke supata ginawa dinan.

    07

    Akeh tiru pangucap saru rinungu, anut ukaning tyas, tan ana kang angukumi, ukuming Hyang kinurangan sandhang pangan.

    08

    Lawan aja terocoh sugih pepisuh, ngucap cacah cucah, anyenengi batur sisip, yen duduka den dumeling sisipira.

    09

    Iku padha den teguhana den kukuh, lawan aja sira, angalap randhaning abdi, miwah sanak kanca satunggal sapangan.

    10

    Gawe salah graita kang padha ngrungu, sanadyan lilaa, iya kang anduwe rabi, sanakira ilang pitayaning mana.

    11

    Nora wurung sinebut kalamun rusuh, batur ira padha, suda pangandeling batin, mring bandara masa kuranga parawan.

    12

    Lawan aja cacad ingkang luwih agung, pan patang prakara, ingkang dingin wong madati, pindho botoh ping telune wong durjana.

    13

    Kaping pate wong budi saudagar tambah, sabarang prakara, mung mungkul suka lan sugih, rina wengi mung bathine kang den etang.

    14

    Lumuh kalong tur wus nyekel reyal satus, kalonge sareyal, gegetune sangang sasi, durung marem yen durung simpen saleksan.

    15

    Mung sukane yen ana dhedhayoh muncul, nggawa gandhen emas, anenembung utang dhuwit, sumarangal ulate teka sumringah.

    16

    Wong durjana kang kaesthi siang dalu, mung wong sugih arta, kang den incih den malingi, luwih ala-alane budi durjana.

    17

    Botoh iku sabarang panggawe lumuh, para padu dura, lamun pawitane enting, ora wurung nggegampang duweking sanak.

    18

    Nora etung wasiyate kaki buyut, tan nganggo den eman, barang wesi tumbak keris, nora wurung ingedol wataking bangsat.

    19

    Lamun menang angkuhe kaya wong agung, belaba aloma, tan anganggo ngeman picis, nora nganggo kira-kira weweh sanak.

    20

    Dene lamun kabutuh tanwurung nguthuh, mring tetangganira, yen kalimpe denmalingi, mula aja karem nggegulang botohan.

    21

    Dene yen wong madati keset tur angkuh, barang gawe sungkan, kang dadim kareming ati, ngadhep diyan alungguh sambi jejegang.

    22

    sarta nyekel bedutane den elus-elus, angedhep pangeran, leren nyered banjur dhidis, suwe-suwe matane rem-erem ayam.

    23

    Lamun ana rewange wong nyeret iku, ingkang karujukan, crita cinrita pra gaib, para rasa sastrane ingkang rinasa.

    24

    Sira ingkang tyas supaya akeh wong ngrungu, andangi sabarang, nora nganggo wigah-wigih, nadyan kalah diakali pasti menang.

    25

    Suprihipun anaa wong aweh candu, sing wong kekurangan, pikir peteng susah ati, suka bungah adhangan akale ndara.

    26

    Yen wus ndadi nyerete awake kuru, mesem ulatira, njambut wadi saking warih, lambe biru untu putih arang nginang.

    27

    Tenmenipun satronjambe gambir suruh, injet lan mbakonya, kinira yen wedi getih, tan angandel puniku mewani cahya.

    28

    Nyeret lawas ambekane melar mingkus, jelagra neng dadha, watuke saya gumugil, yen agering ndalinding metu bolira.

    29

    Iya iku alane wong mangan apyun, uripira dadya, tontonan padhaning jalmi, singgahana wewaler telung prakara.

    30

    Ana maning wewaler aja sok wuru, nora nganggo masa, endi lirira puniki, nginum sajeg puniku watake ala.

    31

    Yen amendem ilang prayitnaning kalbu, tan ajeg pikirnya, sabarang angrasa wani, tinemenan wekasane dadi ala.

    32

    Lawan aja karem mring wanita ayu, kang ala anggepnya, lan aja mbukak wewadi, mring ngarsaning wanita tan wurung corah.

    33

    Sampun lumrah ing wanita datan brukut, asimpen raharja, saking rupake ing batin, apan uwus pinanci dening Hyang Suksma.

    34

    Nitahaken pawestri pan kinaryeku, ganjaraning priya, kabeh padha den nastiti, mring pitutur sayekti kudu prayitna.

    35

    Aja dumeh pitutur kang tanpa dapur, yen becik bakalnya, den anggowa manfaati, aja kaya Pucung kalawan kaluwak.

    Ing ngandhap punika inkang aslinipun sampun kasekaraken Pucung 22 pada sekar.

    PUPUH VIII
    P U C U N G

    01

    Kamulane kaluwak nonomanipun, Pan dadi satunggal, pucung aranira ugi, yen wus tuwa kaluwake pisah pisah.

    02

    Den budiya kepriye ing becikipun, aja nganti pisah, kumpule kaya nomeki, anom kumpul tuwa kumpul kang prayoga.

    03

    Aja kaya kaluwak duk anom, kumpul bisa wus atuwa, ting salebar siji-siji, nora wurung dadi bumbu pindhang lulang.

    04

    Aja kaya sadulur memanise dipun runtut, oja kongsi pisah, ing samubarang karyeki, yen arukun dinulu katon prayoga.

    05

    Abot enteng wong duwe sanak sadulur, ji tus tandhingira, yen golong sabarang pikir, kacek uga kang tan duwe sanak kadang.

    06

    Luwih abot wong duwe sanak sadulur, enthenge yen pisah, pikire tan dadi siji, abotipun yen sabiyantu ing karsa.

    07

    Lamun bener apinter pamomonganipun, kang ginawa tuwa, aja nganggo abot sisih, dipun sabar pamengku ing sentana.

    08

    Pan ewuh wong tinitah dadi asepuh, tan kena ginampang, mring sadulurira ugi, tuwa nenom aja beda traping karya.

    09

    Kang saregep kalawan ingkang malincur, iku kawruh ana, sira alema kang becik, ingkang malincur den age bendanana.

    10

    Datan mari bebendon nggone malincur, age patrapana, sapantese dosaneki, mring santara darapon dadi tuladha.

    11

    Nadyan iya wong cilik pasti piturut, kang padha ngawula, dimen padha wedi asih, pan mangkono lakune wong dadi tuwa.

    12

    Den ajembar anggonira amangku, den pindho sageta, tyase amot ala becik, mapan ana pepancene sowang-sowang.

    13

    Pan sadulur tuwa wajibe pitutur, mring kadang taruna, kang anom wajibe wedi, dipun manut tuture sadulur tuwa.

    14

    Kang tinitah dadi anom aja masgul, ing batin ngrasaa, saking karsaning Hyang Widdhi, yen masgula ngowai kodrating Suksma.

    15

    Nadyan bener yen wong anom dadi luput, dene ingkang tuwa, den kayu banyu ing beji, awening tingale aja sumunar.

    16

    Lan maninge pan ana pituturingsun, yen sira amaca, sabarang layang den eling, aja pijer ketungkul ngelingi sastra.

    17

    Caritane ala becik dipun enut, nuli rasa kena, carita kang muni tulis, den karasa kang becik si ra a- nggawa.

    18

    Ingkang ala rasakena dadi luput, supaya tyasira, weruh ing ala lan becik, ingkang becik wiwitane kawruhana.

    19

    Wong kang laku mangkono wiwitanipun, becik wekasanya, wong laku mangkono ugi
    ing wekasanipun teka dadi ala.

    20

    Ing sabarang prakaran dipun kadulu, wiwit wekasanya, bener luput den atiti, ana becik wekasane dadi ala.

    21

    Dipun weruh iya ing kawulanipun, lan wekasanira, puniku poma den ana, ala dadi becik ing wekasanira.

    22

    Ewuh temen babo wong urip puniku, apan nora kena, kinira-kira ing budi, arang mantep wasise basa raharja.

    PUPUH IX
    M I J I L

    01

    Pomo kaki padha dipun eling, ing pitutur ingong, sira uga satriya arane, kudu anteng jatmika ing budi, luruh sarta wasis, samubarang tanduk.

    02

    Dipun nedya prawira ing batin, nanging aja katon, sasona yen durung masane, kekendelan aja wani manikis, wiweka ing batin, den samar ing semu.

    03

    Lan dimantep mring panggawe becik, lawan wekas ingong, aja kurang iya panrimane, yen wis tinitah marang Hyang Widhi, ing badan punika, wus pepancenipun.

    04

    Ana wong narima ya titahing, mapan dadi awon, lan ana wong narima titahe, wekasane iku dadi, becik, kawruhana ugi, aja seling surup.

    05

    Yen wong bodho datan nedya ugi, atakon tetiron, anarima titah ing bodhone, iku wong narima nora becik
    dene ingkang becik, wong narima iku.

    06

    Kaya upamane wong angabdi, marang sing Sang Katong, lawas-lawas ketekan sedyane, dadi mantri utawa bupati, miwah saliyaneng, ing tyas kang panuju.

    07

    Nuli narima tyasing batin, tan mengeng ing Katong, rumasa ing kani matane, sihing gusti tumeking nak rabi, wong narima becik kang mangkono iku.

    08

    Nanging arang iya wong saiki, kang kaya mangkono, Kang wus kaprah iyo salawase, yen wis ana lungguhe sathithik, apan nuli lali, ing wiwitanipun.

    09

    Pangrasane duweke pribadi, sabarang kang kanggo, datan eling ing mula mulane, witing sugih sangkane amukti, panrimaning ati, kaya anggone nemu.

    10

    Tan ngrasa kamurahaning Widdhi, jalaran Sang Katong, jaman mengko ya iku mulane, arane turun wong tuwa tekweng, kardi tyase Sariah, kasusu ing angkuh.

    11

    Arang nedya males sihing Gusti, Gustine Sang Katong, lan iya ing kabehing batine, sanadyan narima ing Hyang Widdhi, iku wong tan wruh ing, kanikmatanipun.

    12

    Wong tan narima pan dadi becik, tinitah Hyang Manon, iku iyo rerupane, kaya wong ingkang ngupaya ilmi, lan wong nedya ugi kapintaranipun.

    13

    Iya pangawruh kang den senengi, kang wus sengsem batos, miwang ingkang kapinteran dene, ing samubarang karya ta uwis, nora kanggo lathi, kabeh wus kawengku.

    14

    Uwis pinter nanging iku maksih, nggonira pitados, ing kapinterane ing undhake, utawa unggahe kawruh yekti, durung marem batin, lamun durung tutug.

    15

    Yen wong kurang panrimo ugi, iku luwih awon barang gawe aja age-age, anganggowa sabar sarta ririh, dadi barang kardi resik tur rahayu.

    16

    Lan maninge babo dipun eling, ing pituturingong, sira uga padha ngemplak emplak, iya marang kang jumeneng Aji, ing lair myang batin, den ngarsa kawengku.

    17

    Kang jumeneng iku ambawani, karsaning Hyang Manon, wajib padha wedi lan batine, aja mamang parintah ing Aji, nadyan enom ugi, lamun dadi Ratu.

    18

    Nora kena iya den waoni, parentahing Katong, dhasar Ratu abener prentahe, kaya priye nggonira sumingkir, yen tan anglakoni, pasti tan rahayu.

    19

    Nanging kaprah ing masa samangkin, anggepe angrengkoh, tan rumangsa lamun ngempek empek, ing batine datan nedya eling, kamuktene iki, ngendi sangkanipun.

    20

    Lamun eling jalarane mukti, pasthine tan mengkuh, saking durung batin ngrasakake, ing pitutur engkang dingin-dingin, dhasar tan paduli, wuruking wong sepuh.

    21

    Dadine sabarang tindakneki, arang ingkang tanggon, saking durung ana landhesane, arip crita tan ana kang eling, elinge pribadi, dadi tanpa dhapur.

    22

    Mulanipun wekasingsun iki, den kerep tetakon, aja isin ngatokken bodhone, saking bodho witing pinter ugi, mung Nabi sinelir, pinter tanpa wuruk.

    23

    Sabakdane tan ana kadyeki, pinter tanpa takon, apan lumrah ing wong urip kiye, mulane wong anom den taberi, angupaya ilmu pandadi pikukuh.

    24

    Kacek uga wong kang tanpa ilmu, sabarange kaot, dene ilmu iku ingkang kangge, sadinane gegulangan dingin, pan sarengat ugi, parabot kang perlu.

    25

    Ilmu sarengat pan iku dadi, wadhah kang sayektos, kawruh tetel wus kawengku kabeh, kang sarengat kanggo lair batin, mulane den sami, brangta maring ilmu.

    PUPUH X
    ASMARANDANA

    01

    Padha netepana ugi, kabeh parentahing syara, terusna lair batine, salat limang wektu uga, tan kena tininggala, sapa tinggal dadi gabug, yen misih remen neng praja.

    02

    Wiwitane badan iki, iya saking ing sarengat, anane Manusa kiya, rukune Islam lelima, tan kerja tininggala, pan iku parabot agung, mungguh uripe neng donya.

    03

    Kudu uga den lakoni, rukun lelima punika, apantosa kuwasane, ning aja tan linakwan, sapa tan ngalakanana, datan wurung nemu bebendu, mula padha estokeno.

    04

    Parentahira Hyang Widdhi, kang dhawuh marang Nabiu’ullah, ing Dalil Khadis enggone, aja padha sembrana, rasakna den karasa, Dalil Khadis rasanipun, dimene padhang tyasira.

    05

    Nora gampang wong ngaurip, yen tan weruh uripira, uripe padha lan kebo, angur kebo dagingira, khalal lamun pinangan, yen manungsa dagingipun, pinangan pastine kharam.

    06

    Poma-poma wekas mami, anak putu aja lena, aja katungkul uripe, lan aja duwe kareman, banget paes neng dunya, siang dalu dipun emut, wong urip manggih antaka.

    07

    Lawan aja angkuh bengis, lengus lanas calak lancang, langar ladak sumalonong, aja ngidak aja ngepak,
    lan aja siya-siya, aja jahil dhemen padu, lan aja para wadulan.

    08

    Kang kanggo ing masa iku, priyayi nom kang den gulang, kaya kang wus muni kowe, kudu lumaku kajinan, pan nora nganggo murwat, lunga mlaku kudhung sarung, lumaku den dhodhokana.

    09

    Datanpa kasur Sayekti, satriya tan wruh ing tata, ngunggulaken satriyane, lamun karem pinondhokan, anganggowo jajaran, yen niyat lung anawur, aja ndhodhoken manusa.

    10

    Denene wedi sarta sih, anggonira mengku bala, miwah yen angran ing gawe, den abisa minta-minta, karyane prawadyanira, ing sagawe gawenipun, ing karyanira prayoga.

    11

    Sarta kawruhana batin, gegantunganing pratopan, darapon pethel karyane, dimene aja sembrana, nggone nglakoni karya ywa, dumeh isih sireku, lamun leda patrapana.

    12

    Nadyan sanak antaneki, yen leda hya pinatrapan, murwaten lawan dosane, darapon padha wediya, ing wuri awya padha, angladeni kayaniraku, aja pegat den warata.

    13

    Lan meninge suta mami, mungguh anggering kawula, den suka sukur ing batos, aja pegat ing panedha,
    maring Kyang kang misesa ing, rahina wenginipun, mulyaning Nagara kita.

    14

    Iku uga dipun eling, kalamun mulyaning praja, mufa’ati mring wong akeh, ing rina wengi tan pegat, nenedha mring Pangeran, luluse kraton Sang Prabu, miwah arjaning negara.

    15

    Iku wewalesing batin, mungguh wong suwiteng Nata, ing lair setya tuhu, kalawan nyadhang ing karsa,
    badan datan nglenggana, ing siyang dalu pan katur, atur pati uripira.

    16

    Gumantung karsaning Gusti, iku traping wadya setiya, nora kaya jaman mangke, yen wus antuk palungguhan, trape kaya wong dagang, ngetung tuna bathinipun, ing tyas datan pangrasa.

    17

    Awite dadi priyayi, sapa kang gawe ing sira, tan weling ing wiwitane, amung weruh ing witira, dadine saking ruba, mulane ing batinipun, pangetunge lir wong dagang.

    18

    Mung mikir gelise mulih, rerubanira duk dadya, ing rina wengi ciptane, kepriye lamun bisaa, males sihing bandara, lungguhe lawan tinuku, tan wurung angrusak desa.

    19

    Pamrihe gelise bathi, nadyan besuk pinocota, picisku sok wusa mulih, kepriye lamun tataa, polahe salang tunjang, padha kaya wong bebruwun, tan ngetung duga prayoga.

    20

    Poma padha dipun eling, nganggo syukur lawan lila, nrimaa ing pepancene, lan aja amrih sarama, mring sedya nandhang karya, lan padha amriha iku, harjane kang desa-desa.

    21

    Wong desa pan aja ngesthi, anggone anambut karya, sesawah miwah tegale, nggaru maluku tetapa, aja den owah dimene, tulus nenandur jagung, pari kapas lawan jarak.

    22

    Yen desa akeh wongneki, ingkang bathi pasthisira, wetune pajeg undhake, dipun reh pamrihira, aja kongsi rekasa, kang wani kalah rumuhun, kurang pajeg srantekena.

    23

    Lamun tan mangkono ugi, karem masesa wong desa, salin bakul pendhak gawe, pamitunge jung sacacah, bektine karo belah, temahan desane suwung, pyayine jaga pocetan.

    24

    Poma aja anglakoni, kaya pikir kang mangkono, satemah lingsem dadine, den sami angestakena, mring pitutur kang arja, nora cacad alanipun, wong nglakoni kebecikan.

    25

    Nonoman ing mengko iki, yen dituturi raharja, arang ingkang ngrungokake, sinamur bari sembrana, ewuh yen nuruta, malah mudhar pitutur, pangrasane pan wus wignya.

    26

    Aja na mangkono ugi, yen ana wong kang carita, rungokena saunine, ingkang becik sireng gawa,bawungen ingkang ala, anggiten sajroning kalbu, ywa nganggo budi nonoman.

    PUPUH XI
    S I N O M

    01

    Ambeke kang wus utama, tan ngendhak gunaning jalmi, amiguna ing aguna, sasolahe kudu bathi, pintere den alingi, bodhone didokok ngayun, pamrihe den inaa, mring padha padhaning jalmi, suka bungah den ina sapadha-padha.

    02

    Ingsun uga tan mangkana, baliku kang sun alingi, kabisan sun dokok ngarsa, isin menek den arani, balilune angluwihi, nanging tenanipun cubluk, suprandene jroning tyas, lumaku ingaran wasis, tanpa ngrasa prandene sugih carita.

    03

    Tur ta duk masihe bocah, akeh temen kang nuruti, lakune wong kuna-kuna, lelabetan kang abecik, miwah carita ugi, kang kajaba saking embuk, iku kang aran kojah, suprandene ingsun iki, teko nora nana undaking kabisan.

    04

    Carita nggonsun nenular, wong tuwa kang momong dingin, akeh kang padha cerita, sun rungokna rina wengi, samengko isih eling, sawise diwasa ingsun, bapa kang paring wulang, miwah ibu mituturi, tatakrama ing pratingkah karaharjan.

    05

    Nanging padha estokana, pitutur kang muni tu’ia, yen sira nedya raharja, anggone pitutur iki, nggoningsun ngeling-eling, pitutur wong sepuh-sepuh, mugi padha bisa, anganggo pitutur iki, ambrekati wuruke wong tuwa-tuwa.

    06

    Lan aja nalimpang padha, mring leluhur dhingin dhingin, satindake den kawruhan, ngurangi dhahar lan guling, nggone ambanting dhiri, amasuh sariranipun, temene kang sinedya, mungguh wong nedheng Hyang Widdhi, lamun temen lawas enggale tinekan.

    07

    Hyang sukma pan sipat murah, njurungi kajating dasih, ingkang temen tinemenan, pan iku ujare Dalil,
    nyatane ana ugi, nenggih Ki Ageng Tarub, wiwitira nenedha, tan pedhot tumekeng siwi, wayah buyut canggah warenge kang tampa.

    08

    Panembahan senopatya, kang jumeneng ing Matawis, iku barang masa dhawuh, inggih ingkang Hyang Widdhi, saturune lestari, saking berkahing leluhur, mrih tulusing nugraha, ingkang keri keri iki, wajib uga niruwa lelakonira.

    09

    Mring leluhur kina-kina, nggonira amati dhiri, iyasa kuwatanira, sakuwatira nglakoni, cegah turu sathithik, lan nyudaa dhaharipun, paribara bisaa, kaya ingkang dingin dingin, aniruwa sapretelon saprapatan.

    10

    Pan ana silih bebasan, padha sinauwa ugi, lara sajroning kapenak, lan suka sajroning prihatin, lawan ingkang prihatin, mana suka ing jronipun, iku den sinauwa, lan mati sajroning urip, ingkang kuna pan mangkono kang den gulang.

    11

    Pamore gusti kawula, punika ingkang sayekti, dadine socaludira, iku den waspada ugi, gampange ta kaki,
    tembaga lan emas iku, linebur ing dahana, luluh awor dadi siji, mari nama tembaga tuwin kencana.

    12

    Yen aranana kencana, dene wus awor tembagi, yen aranana tembaga, wus kaworan kancanedi, milanya den westani, aran suwasa punika, pamore mas tembaga, mulane namane salin, lan rupane sayekti yen warna beda.

    13

    Cahya abang tuntung jenar, puniku suwasa murni, kalamun gawe suwasa, tembaga kang nora becik, pambesate tan resik, utawa nom emasipun, iku dipunpandhinga, sorote pasthi tan sami, pan suwasa bubul arane punika.

    14

    Yen sira karya suwasana, darapon dadine becik, amilihana tembaga, oliha tembaga prusi, biresora kang resik, sarta masira kang sepuh, resik tan kawoworan, dhasar sari pasti dadi, iku kena ingaranan suwasa mulya.

    15

    Puniku mapan upama, tepane badan puniki, lamun karsa ngawruhana, pamore kawula Gusti, sayekti kudu resik, aja katempelan napsu, luwamah lan amarah, sarta suci lahir batin, pedimene apan sarira tunggal.

    16

    Lamun mangkonoa, sayektine nora dadi, mungguh ilmu kang sanyata, nora kena den sasabi, ewoh gampang sayekti, punika wong darbe kawruh, gampang yen winicara, angel yen durung marengi, ing wetune binuka jroning wardaya.

    17

    Nanging ta sabarang karya, kang kinira dadi becik, pantes yen tinalatenan, lawas-lawas bok pinanggih, den mantep ing jro ngati, ngimanken tuduhing guru, aja uga bosenan, kalamun arsa udani, apan ana dalile kang wus kalawan.

    18

    Marang leluhur sedaya, nggone nenedha mring Widhi, bisaa ambabonana, dadi ugere rat Jawi, saking telateneki, nggone katiban wahyu, ing mula mulanira, lakune leluhur dingin, andhap asor anggone anamur lampah.

    19

    Tampane nganggo alingan, pan padha alaku tapi, iku kang kinaryo sasap, pamriha aja katawis, jub rina lawan kabir, sumungah ingkang den singkur, lan endi kang kanggonan, wahyune karaton Jawi, tinampelan anggape pan kumawula.

    20

    Punika laku utama, tumindak sarto kekaler, nora ngatingalke lampah, wadine kang den alingi, panedyane ing batin, pan jero pangarahipun, asore ngemurasa, prayoga tiniru ugi, anak putu aja ana ninggal lanjaran.

    21

    Lan maning ana wasiyat, prasapa kang dingin dingin, wajib padha kawruhana, anak putu ingkang kari, lan aja na kang wani, nerak wewaleripun, marang leluhur padha, kang minulyakaken ing Widdhi, muga-muga mufaatana ing darah.

    22

    Wiwitan ingkang prasapa, Ki Ageng Tarup memaling, ing satedhak turunira, tan linilan nganggo keris, miwah waos tan keni, kang awak waja puniku, lembu tan kena dhahar, daginge pan nora keni, anginguwa marang wong wadon tan kena.

    23

    Dene Ki ageng Sela, prasape ingkang tan keni, ing satedhak turunira, nyamping cindhe den waleri, kapindhone tan keni, ing ngarepan nandur waluh, wohe tan kena dhahar, Panembahan Senopati, ingalaga punika ingkang prasapa.

    24

    Ingkang tedhak turunira, mapan nora den lilani, anitiha kuda napas, lan malih dipun waleri, yen nungganga turangga, kang kakoncen surinipun, dhahar ngungkurken lawang, wuri tan ana nunggoni,
    dipun emut punika mesthitan kena.

    25

    Jeng Sultan Agung Mataram, apan nora anglilani, mring tedhake yen nitiha, kapal bendana yen jurit,
    nganggo waos tan keni, lamun linandheyan wregu, datan ingaken darah, yen tan bisa nembang kawi,
    pan prayoga satedake sinauwa.

    26

    Jeng Sunan Pakubuwana, kang jumeneng ing Samawis, kondur madek ing Kartasura, prasapanira anenggih, tan linilan anitih, dipangga saturunipun, Sunan Prabu Mangkurat, waler mring saturunreki,
    tan rinilan ujung astana ing Betah.

    27

    Lawan tan kena nganggowa, dhuwung sarungan tan mawi, kandelan yen nitih kuda, kabeh aja na kang lali, lawan aja nggogampil, puniku prasapanipun, nenggih Kang jeng Susunan, Pakubuwana ping kalih,
    mring satedhak turunira linarangan.

    28

    Dhahar apyun nora kena, sinerat tan den lilani, nadyan nguntal linarangan, sapa kang padha nglakoni,
    narajang waler iki, pan kongsi kalebon apyun, pasti keneng prasapa, linabakken tedhakneki, Kanjeng Sunan ingkang sumare Nglawiyan.

    29

    Prasapa Kangjeng Susunan, Pakubuwana kaping tri, mring satedhak turunira, apan nora den lelani,
    ngawe andel ugi, wong seje ing jinipun, apan iku linarangan, anak putu wuri-wuri, poma aja wani anrajang prasapa.

    30

    Wonten waler kaliwatan, saking luhur dingin dingin, linarangan angumbaha, wana Krendhawahaneki, dene kang amaleri, Sang Danan Jaya rumuhun, lan malih winaleran, kabeh tedhak ing Matawis, yen dolana mring wana tan kena.

    31

    Dene sesirikanira, yen tedhak ing Demak nenggih, mangangge wulung tan kena, ana kang nyenyirik malih, bebet lonthang tan keni, yeku yen tedhak Madiyun, lan paying dadaan abang, tedhak Madura tan keni, yen nganggowa bebathikan parang rusak.

    32

    Yen tedhak Kudus tak kena, yen dhahara daging sapi, yen tedhak Sumenep iku, nora kena ajang piring, watu tan den lilani, lawan kidang ulamipun, tan kena yen dhahara, miwah lamun dhahar ugi, nora kena ajang godhong pelasa.

    33

    Kabeh anak putu padha, eling-elingan ywa lali, prasapa kang kuna-kuna, wewaler leluhur nguni, estokna away lali, aja nganti nemu dudu, kalamun wani nerak, pasti tan manggih basuki, Sinom salin Girisa ingkang atampa.

    PUPUH XII
    G I R I S A

    01

    Anak putu den estokna, warah wuruke pun bapa, aja na ingkang sembrana, marang wuruke wong tuwa, ing lair batin den bisa, anganggo wuruking bapa, ing tyas den padha santosa, teguhana jroning nala.

    02

    Aja na kurang panrima, ing pepasthening sarira, yen saking Hyang Moha Mulya, kang nitahken badanira,
    lawan dipunawas padha, asor unggul waras lara, utawa beja cilaka, urip utawa antaka.

    03

    Pan iku saking Hyang Suksma, miwah ta ing umurira ingkang cedhak, lan kang dawa, wus pinasthi ing Hyang Suksma, duraka yen maidowa, miwah yen kurang panrima, ing lokhilmahfut punika tulisane pan wus ana.

    04

    Iku padha kawruhana, sesikune badanira, aywa marang kang amurba, Kang Misesa, marang sira, yen sira durung uninga, prayoga atatakona, mring kang padha wruh ing ma’na, iku kang para ulama.

    05

    Kang wus wruh rahsaning kitab, darapon sira weruha, wajib moka ing Hyang Suksma, wiwah wajibing kawula, lan mokale kawruhana, miwah ta ing tatakrama, sarengat dipunwaspada, batal kharam takokeno.

    06

    Sunat lan perlu punika, perabot kanggo sadina, kaki iki dipunpadhang, tatakaniro den terang, lan aja bosen jagongan, marang kang para ‘ulama, miwah wong kang wus sempurna, pangawruhe mring Hyang Suksma.

    07

    Miwah ta nagara krama, tindak tanduk myang bebasan, kang tumiba marang nistha, tuwin kang tiba ing madya, lawan kang timbang utama, iku sira takokena, ya marang para sujana, miwah wong kang tuwa-tuwa.

    08

    Kang padha bisa micara, tuwin kang ulah susastra, iku pantes takanana, bisa madhangken tyasira, karana ujaring sastra utawa saking carita, ingkang kinarya gondhelan, amemuruk mring wong mudha.

    09

    Lawan sok kerepa maca, sabarang layang carita, aja nampik barang layang, carita kang kuna-kuna, layang babat kawruhana, caritane luhuriro, darapon sira weruha, lelakone wong prawira.

    10

    Miwah lelakone padha, kang para Wali sadaya, kang padha antuk nugraha, angsale saking punapa, miwah kang satriya, kang digdyana ing ayuda, lakune sira tiruwa, lelabetan kang utama.

    11

    Nora susah amirungga, mungguh lakuning satriya, carita kabeh pan ana, kang nistha lan kang utama, kang asor kang padha, miwah lakuning nagara, pan kabeh ana carita, ala becik sira wruha.

    12

    Yen durung mangerti sira, caritane takonana, ya marang wong tuwa-tuwa, kang padha wruh ing carita, iku ingkang dadi uga, mundhak kapinteranira, nanging ta dipun elingan, sabarang ingkang kapiyarsa.

    13

    Aja na tiru ing bapa, banget tuna bodho mudha, kethul tan duwe graita, ketungkul mangan anendra, nanging anak putu padha, mugi Allah ambukaa, mring pitutur kang prayoga, kabe padha anyakepa.

    14

    Umure padha dawaa, padha atut aruntuta, marang sadulure padha, den padha sugih berana, tanapi sugiha putra, pepaka jalu wanodya, kalawan maninge aja, nganti kapedhotan tresna.

    15

    Padha sami den pracaya, aja sumelang ing nala, kabeh pitutur punika, mapan wahyuning Hyang Suksma, dhawuh mring sira sadaya, jalarane saking bapa, Hyang suksma paring nugraha, marang anak ingsun padha.

    16

    Den bisa nampani padha, mungguh Sasmitaning suksma, ingkang dhawuh marang sira, wineruhken becik ala, anyegah karepanira, marang panggawe kang ala, kang tumiba siya-siya, iku peparing Hyang Suksma.

    17

    Paring peling maring sira, tinuduhken ing dedalan, kang bener kang kanggo uga, ing dunya ingkang sampurna, mugi anak putu padha, anaa dadi tuladha, ing kabecikan manusa, tiniruwa ing sujalma.

    18

    Sakehing wong kepengin, nira solah bawanira,marang anak putu padha, anggepe wedi asih, kinalulutan bala, kadhepa saparentahnya, tulusa mukti wibawa, ing satedhak turunira.

    19

    Didohna saking duraka, winantuwa ing nugraha, sakehe anak putu padha, ingkang ngimanaken samya, marang pituture bapak, Alloh ayem badanana, ing pandonganingsun mapan, ing tyasingsun wus rumasa.

    20

    Wekasingsun supaya surya, lingsir kulon wayahira, pedhak mring surupe uga, atebih marang imbulnya, pira lawase neng dunya, ing kauripaning jalma, masa nganti satus warsa, iya umuring manusa.

    21

    Mulaningsun muruk marang, ing kabeh atmajaningwang, sun tulis ngong wehi tembang, darapon padha rahaba, nggonira padha amaca sastra ngrasakna carita, aja bosen den apalna, ing rina wengi elinga.

    22

    Lan nuli pada elinga, kaya leluhure padha, digdaya betah ing tapa, sarta waskitha ing nara, ing kasampurnaning gesang, patitis tan kasamaran, iku ta panedhaning wang, kang muga kelakonana.

    23

    Titi tamating carita, serat weweling mring putra, kang karya serat punika, Jeng Sunana Pakubuwana, Surakarta ping sekawan, ing ngalin panedhanira, kang amaca kang amiyarsa, yen lali muga elinga.

    TAMATING PAMANGUN

    Telasing panuratira, ping Rong Puluh ing Muharam Kamis Pon Taun Jimawal. Bumi Karta Saptaringrat (1741). Kapitu Adidaha, obah kawula.

    BalasHapus
  4. MELIYA INDRIANI
    2102408120
    ROMBEL :4

    Novel Bahasa Jawa: "Tresna Toh Pati"

    Judul: Tresna Toh Pati.
    Karjane (Karya): Any Asmara.
    Gambar: S. Kendra.
    Kawetokake Dening (Diterbitkan Oleh): C.V. Usaha "Kawan"
    Tahun: 1962.

    Catatan:
    Menurut keterangan penulisnya, Any Asmara, cerita ini benar-benar kejadian nyata yang dialami oleh salah seorang sahabatnya. Sebelum meninggal di rumah sakit, sahabat tersebut berpesan agar apa yang dialami dijadikan cerita pendek, supaya bisa menjadi teladan bagi masyarakat banyak. Hanya nama dan dan tempatnya yang diganti. Sebab masih ada keluarga sahabatnya yang masih hidup.

    BalasHapus
  5. Dewi Larasati9 April 2009 03.55

    Nama :Dewi Larasati
    Nim :2102408087
    Rombel:03
    RANGSANG TUBAN

    Ceritanya Pangeran Warihkusuma akan menikahi Endang Wresti. Penggambaran wanita dalam sebuah Historiografi tradisional sangat lengkap. Tidak hanya wanita, untuk menggambarkan situasi dan suasana alam. Endang Wresti digambarkan sebagai wanita yang cantik laksana dewi dan bidadari kahyangan. Ketika itu Raden2 Warsakusuma menjadi raja di Tuban menggantikan ayahnya yang sudah meninggal3 mengantarkan kakandanya melamar Endang Wresti.
    Melihat wajah dan tubuh Endang Wresti yang aduhai bagai gitar Spanyol, Raden Warsakusuma malah jatuh hati padanya. Dia merasa iri melihat kakandanya menikahi wanita secantik Endang Wresti. Timbul keinginan Warsakusuma untuk memiliki Wresti. Dan setelah Warihkusuma memboyong Wresti, Warsakusuma melakukan fitnah terhadap kakandanya, yang berakibat diusirnya Warihkusuma dari Kerajaan Tuban. Berhasil mengusir kakandanya, Warsakusuma menikahi Wresti dengan “paksaan”. Nantinya lahir seorang anak dari “perkawianan paksa” ini yang bernama Udakawimba.
    Raden Warihkusuma yang terusir dari Kerajaan Tuban melalang buana berkelana ke hutan. Sampai suatu ketika dia sampai pada suatu kerajaan yang bernama Banyubiru. Di kerajaan ini Warihkusuma mengabdi kepada Prabu Hertambang, Raja Kerajaan Banyubiru. Suatu ketika Warihkusuma mengaku kepada Sang Prabu bahwa dia adalah seorang pangeran dari nagari Tuban yang diusir oleh Raja Tuban. Mendengar kisah ini Prabu Hertambang merasa trenyuh hatinya.
    Melihat kinerja dari Warihkusuma, Prabu Hertambang menjadikannya sebagai Adipati (bagian dari keluarga raja). Dan Sang Prabu berniat untuk mengawainkannya dengan putrinya yang bernama Dewi Wayi. Dewi Wayi ini merupakan putrid satu-satunya dari Prabu Hertambang yang nantinya akan menggantikan bertahta di Kerajaan Banyubiru. Dewi Wayi merupakan putri yang hebat dalam seni berperang dan strategi. Karena itulah Prabu Hertambang mengawinkan putrinya dengan Warihkusuma.
    Raden Warihkusuma dan Dewi Wayi akhirnya menikah. Tapi terjadi suatu peristiwa yang buruk. Ketika Wayi melahirkan putrid pertamanya, dia meninggal. Permaisuri Prabu Hertambang menuduh Warihkusuma sebagai “biang sial” yang menyebabkan putrinya,Dewi Wayi meninggal. Sang Prabu pun juga ikut-ikutan menuduh Warihkusuma sebagai “biang kerok”. Hal ini berdampak diusirnya Warihkusuma dari Nagari Banyubiru. Tidak hanya Warihkusuma yang diusir. Anak dari perkawinannya denga Wayi juga ikut dibuang dengan dialirkan di sungai. Anaknya nantinya ini ditemukan oleh Kyai Bulud Wulusan dan menamakannya Rara Sendang4. Rara Sendang ini nantinya akan menjadi istri dari Udakawimba.
    Kasihan ya Raden Warihkusuma ini, mengalami pengusiran sampai dua kali. Dia berkelana lagi dan menjadi pertapa. Tapi dalam kisah serat ini, Warihkusuma bermimpi bertemu dengan istrinya Endang Wresti. Nah mimpi inilah yang membawa Warihkusuma kembali ke Tuban. Ternyata Raja Tuban yang tidak lain adalah adiknya yaitu Prabu Warsakusuma telah meninggal. Pemeritahan kerajaan sementara dipegang oleh Patih Toyamarta.
    Patih Toyamarta sangat senang dengan kembalinya Warihkusuma, karena patih sangat sayang dengan Warihkusuma. Warihkusuma pun menjadi raja di Tuban dan bertemu lagi dengan Endang Wresti. Tapi ada yang mengganjal di hati Prabu Warihkusuma, yaitu anak yang lahir dari “kawin paksa” Wresti dengan Warsakusuma yang bernama Udakawimba. Ketidaksukaan Warihkusuma dengan Udakawimba berdampak dengan diusirnya Udakawimba dari Kerajaan Tuban.
    Sebenarnya Udakawimba tahu kalau dirinya bakal diusir. Akhirnya dia ganti yang berkelana. Sampai akhirnya dia sampai di sebuah desa yang disebut Sumbereja. Di desa ini Udakawimba berguru agama Islam dengan Kyai Wulusan. Udakawimba merupakan orang yang cerdas, dia sangat ahli menata kota, membuat benteng, dan strategi perang. Karena itulah Ki Wulusan ingin Udakawimba menikahi putrinya yang bernama Rara Sendang. Dan akhirnya mereka pun menikah.
    Udakawimba senang sekali bertapa. Suatu ketika dia bertapa di sebuah gunung dan menemukan sebuah istana yang didalamya terdapat banyak sekali emas. Emas inilah yang menjadi modal Udakawimba untuk membangun Desa Sumbereja menjadi sebuah kota yang mewah. Desa ini dipersiapkan Udakawimba untuk menyerang Kerajaan Tuban. Rupanya Udakawimba masih sakit hati karena Prabu Warihkusuma mengusirnya.
    Akhirnya tibalah waktunya untuk menyerang Kerajaan Tuban. Udakawimba sangat ahli dalam taktik perang. Dengan mudahnya dia dan pasukannya menerobos masuk hingga ke pusat Kerajaan Tuban. Serangan ini mengakibatkan Prabu Warihkusuma melarikan diri ke hutan dan berencana menanggalkan pakaian kebesarannya dengan menjadi biku.
    Di Kerajaan Banyubiru, Prabu Hertambang telah menghembuskan nafas terakhir. Tahta kerajaan diberikan kepada Putrinya, Dewi Wayi5. Selama Ratu Wayi bertahta, rakyat Banyubiru aman sejahtera. Suatu ketika Dewi Wayi ingin berkelana membaur dengan rakyatnya.
    Sampai suatu ketika dia sampai di sebuah gunung. Di gunung itu bertapa seorang biku. Dan ternyata biku itu adalah Raden Warihkusuma. Warihkusuma kaget ternayta istrinya, Dewr Wayi masih hidup. Akhirnya mereka bertemu dan melepaskan rindu. Keesokan paginya mereka kembali keKerajaan Banyubiru.
    Warihkusuma menceritakan tentang keadaannya kepada istrinya juga tentang serangan dari Sumbereja. Dia meminta bantuan istrinya untuk menghadapi pasukan Desa Sumbereja. Dewi Wayi bersedia membantu suaminya. Ketika itu Kerajaan Banyu biru mendapat serangan dari Desa Sumbereja.6. Tapi dengan kecerdikan dan keahliannya, Dewi Wayi berhasil memukul mundur pasukan Udakawimba (Desa Sumbereja).
    Perang masih berlanjut. Strategi demi strategi dilakukan oleh Udakawimba maupun Wayi. Mereka melakukan gelar pasukan (formasi pasukan tempur) untuk saling menyerang. Tapi akhirnya Udakawimba kalah, karena Wayi menggunakan strategi Gelar Garuda Melayang. Strategi yang menyerang dari udara dengan menaiki sebuah benda yang bisa terbang7.
    Setelah menyerah, Udakawimba disuruh oleh Wayi untuk membawa istri dan mertuanya untuk menghadap. Dewi Wayi tertegun dengan istri Udakawimba yang amat rupawan8. Kemudian dia berrtanya kepada Ki Wulud apakah Rara Sendang adalah anaknya? Ki Wulud mengaku bahwa Rara Sendang bukan anak kandungnya. Rara Sendang ditemukan oleh Ki Wulud di Sungai dan merawatnya hingga dewasa. Wayi menjadi curiga bahwa Rara Sendang adalah anaknya yang dibuang disungai. Dan dia semakin percaya kalau Rara Sendang adalah anaknya ketika Ki Wulud memperlihatkan keranjang tempat Rara Sendang dibuang.
    Akhirnya terjadi reuni keluarga. Udakawimba yang merupakan suami dari Rara Sendang diampuni dan boleh menjadi bagian dari keluarga Kerajaan Sendang Biru. Raden Warihkusuma juga memaafkan tindakan dari Udakawimba yang menyerang Kerajaannya.
    Serat ini menceritakan intrik dalam suatu keluarga. Dalam suatu kerajaan, dihuni oleh kerabat-kerabat dari raja itu sendiri. Jadi ada hubungan keluarga antar kerajaan jaman dahulu.

    BalasHapus
  6. MELIYA INDRIANI
    2102408120
    ROMBEL : 4

    CITRA WANITA JAWA
    DALAM NOVEL DONYANE WONG CULIKA
    Karya Suparto Brata

    Judul buku: DONYANE WONG CULIKA (novel bahasa Jawa, 538 halaman), karya Suparto Brata, Penerbit: NARASI Jl. Jawa D-10 Perum Nogotirto II Yogyakarta 55292, Telp: (0274)620879, (0274)625743, Fax. (0274)625743; cetakan I 2004.
    *
    Teks sampul belakang luar: Iki crita Jawa. Critane wong Jawa, cara Jawa, rasa Jawa, pikiran Jawa, ing Tanah Jawa Abad 20. Iki critane wong Jawa ing desa, ing sawah, ing kutha, ing omah kampung, ing loji, ing hotel, ing guest-house, ing kraton. Iki crita panguripane Sabar, kusir dhokar, Wongsotukiran sing gugontuhonen, Nini Sali randha tuwa tanpa keluwarga, Barman si bakul klapa, Painem bocah kuru ngeyeyet cacingen, Dalimin sing setya tuhu marang bendarane, Kariya Mentes sing sambene ngobong bata, Den Darmin kang idealis, Ki Pratignya dhalang wayang, Ndara Kanjeng Jodi wong ningrat kang ngoyak-oyak katresnan, Jumilah prawan desa kang Gerwani, Sangkarku niyaga seniman Lekra, Ndrajeng Manik putri kraton, Ndara Jemba putri tanpa bapa, Sastra Kentrung sing wis wuta, Nyi Lurah Badrakirana waranggana kraton, Santinet bakul jarit kriditan, Bonet si mahasiswa. Lan akeh maneh. Iki critane wong Jawa jaman Landa, jaman perjuwangan nglawan Landa, jaman Yogyakarta Ibu Kota RI, jaman Nasakom, lan jaman Orde Anyar. Iki critane wong Jawa, pakulinane, watake, rasa-rumangsane, pikirane, pakartine, solah-bawane, pakaryane, sandhang-pangane, budayane, agamane, jamane, negarane, sejarahe, bumine, kahanan alame, nasibe, jantra uripe lan mbokmenawa ramalane. Crita iki diracik nganggo basa Jawa ngoko, basa sastra sing standar nalika jamane crita rerekan iki dumadi..
    Andaikata kita menyusun sebuah antologi Sastra Nusantara Klasik, kita muat tulisan-tulisan Hamzah Fansuri, Hasan Mustapa, Ranggawarsita dan penulis-penulis lain yang klasik. Tetapi kalau kita menyusun antologi Sastra Indonesia, nama-nama Hasan Mustapa dan Ranggawarsita tidak kedapatan lagi., padahal kenyataannya mereka itu ada. Barangkali ada juga karya bahasa Sunda atau Jawa yang baik, yang seharusnya diikutsertakan kalau kita menyusun antologi Sastra Indonesia, terutama yang sengaja disusun untuk bangsa lain. Apakah kita tidak akan pernah memperkenalkan Suparto Brata, misalnya, sebagai penulis Indonesia? (Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, Majalah Horison Jakarta, Oktober 1973).

    BalasHapus
  7. Tsani Hidayah Sutami
    2102408027

    Suharmono Kasiyun, Pengarang dan Penggerak Sastra Jawa

    Dikenal sebagai pengarang novel, cerita cekak dan geguritan angkatan tahun 70-an, Suharmono Kasiyun masih eksis hingga sekarang. Karya-karyanya terus mengalir mengisi majalah-majalah berbahasa Jawa. Selain itu, itu juga menulis karya-karya sastra berbahasa Indonesia, seperti cerita pendek dan novel.
    Saat mengikuti peringatan Hari Sastra di Trengganu, Malaysia, ia mendapat ilham menulis cerita cekak Tatu-tatu Lawas yang berkisah tentang percintaan satu rumpun Melayu yang harus terpisah karena konfrontasi Indonesia – Malaysia. Cerkak itu, dan karya lainnya yaitu Kidung Katresnan berhasil menjadi pemenang ketika Pusat Kesenian Jawa Tengah di Surakarta tahun 1980 mengadakan Lomba Crita Cekak dan geguritan. Selain itu, novelnya yang berjudul Den Bagus mendapat juara harapan dalam sayembara naskah roman yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta tahun 1980.
    Pembawaannya yang low profile dan terlihat sangat hati-hati menjadikan pemenang Hadiah Rancage tahun 1999 atas novelnya Pupus Kang Pepes ini menjadi tokoh berpengaruh dalam menyatukan teman-teman sastrawan Jawa. Sampai-sampai ia dua kali dalam periode berbeda diminta memimpin Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS). Suharmono memang pribadi pengayom, menjadi jujugan teman-temannya terutama dari kalangan pelaku dan pecinta sastra dan kebudayaan. Selain itu, dia beberapa kali menjadi pemakalah atas nama wakil Jawa Timur dalam Kongres Bahasa Jawa.
    Meski tinggal di kawasan perumahan Pondok Candra, Sidoarjo, ia selalu tekun dan rajin mengikuti acara-acara seni budaya di Surabaya maupun Sidoarjo sendiri. Dalam diskusi-diskusi, memang kadang dia diam. Namun begitu melontarkan pertanyaan, terasa kritis namun halus, tanpa menyinggung perasaan yang dikritiknya.
    Lahir di Ponorogo 19 Maret 1953, pendidikan sarjana muda diraihnya di FKSS Jurusan bahasa Indonesia IKIP Negeri Surabaya (sekarang Unesa), gelar sarjana di FKSS IKIP Negeri Malang dan kini masih meneruskan jenjang S-2 di Unesa lagi. Pernah bermain drama, salah satunya terlibat dalam drama Mega-mega karya Arifin C. Noer, produksi Grup Diskusi Sastra “Sanggar 6 Januari 1973” sekitar tahun 70-an lampau.

    BalasHapus
  8. Dwiana Asih Wiranti12 April 2009 19.15

    Dwiana Asih Wiranti
    NIM: 2102408049
    Rombel : 2

    Babad Tanah Jawi


    Babad Tanah Jawi (aksara Jawa: ) yang ditulis oleh carik Braja atas perintah Sunan Paku Buwono III ini merupakan karya sastra sejarah dalam berbentuk tembang Jawa. Sebagai babad/babon/buku besar dengan pusat kerajaan jaman Mataram, buku ini tidak pernah lepas dalam setiap kajian mengenai hal hal yang terjadi di tanah Jawa. Akan tetapi siapapun yang kesengsem memahami Babad Tanah Jawi ini harus bekerja keras menafsirkan setiap data yang dituliskan. Maklum seperti babad lainnya ,selain bahasanya yang jawa kuno ,perihal mitosnya cukup banyak

    Buku ini juga memuat silsilah raja-raja cikal bakal kerajaan Mataram, yang juga unik dalam buku ini sang penulis memberikan cantolan hingga nabi Adam dan nabi-nabi lainnya sebagai nenek moyang raja-raja Hindu di tanah Jawa hingga Mataram Islam.

    Silsilah raja-raja Pajajaran yang lebih dulu juga mendapat tempat. Berikutnya Majapahit, Demak, terus berurutan hingga sampai kerajaan Pajang dan Mataram pada pertengahan abad ke-18.

    Tidak dapat dipungkiri buku ini menjadi salah satu babon rekonstruksi sejarah pulau Jawa. Namun menyadari kentalnya campuran mitos dan pengkultusan, para ahli selalu menggunakannya dengan pendekatan kritis.

    Banyak versi

    Babad Tanah Jawi ini punya banyak versi.

    Menurut ahli sejarah Hoesein Djajadiningrat, kalau mau disederhanakan, keragaman versi itu dapat dipilah menjadi dua kelompok. Pertama, babad yang ditulis oleh Carik Braja atas perintah Sunan Paku Buwono III. Tulisan Braja ini lah yang kemudian diedarkan untuk umum pada 1788. Sementara kelompok kedua adalah babad yang diterbitkan oleh P. Adilangu II dengan naskah tertua bertarikh 1722.

    Perbedaan keduanya terletak pada penceritaan sejarah Jawa Kuno sebelum munculnya cikal bakal kerajaan Mataram. Kelompok pertama hanya menceritakan riwayat Mataram secara ringkas, berupa silsilah dilengkapi sedikit keterangan. Sementara kelompok kedua dilengkapi dengan kisah panjang lebar.

    Babad Tanah Jawi telah menyedot perhatian banyak ahli sejarah. Antara lain ahli sejarah HJ de Graaf. Menurutnya apa yang tertulis di Babad Tanah Jawi dapat dipercaya, khususnya cerita tentang peristiwa tahun 1600 sampai jaman Kartasura di abad 18. Demikian juga dengan peristiwa sejak tahun 1580 yang mengulas tentang kerajaan Pajang. Namun, untuk cerita selepas era itu, de Graaf tidak berani menyebutnya sebagai data sejarah: terlalu sarat campuran mitologi, kosmologi, dan dongeng.

    Selain Graaf, Meinsma berada di daftar peminat Babad Tanah Jawi. Bahkan pada 1874 ia menerbitkan versi prosa yang dikerjakan oleh Kertapraja. Meinsma mendasarkan karyanya pada babad yang ditulis Carik Braja. Karya Meinsma ini lah yang banyak beredar hingga kini.

    Balai Pustaka juga tak mau kalah. Menjelang Perang Dunia II mereka menerbitkan berpuluh-puluh jilid Babad Tanah Jawi dalam bentuk aslinya. Asli sesungguhnya karena dalam bentuk tembang dan tulisan Jawa.

    Babad Tanah Djawi
    Gubahanipun
    L. VAN RIJCKEVORSEL
    Directeur Normaalschool Muntilan
    Kabantu
    R.D.S. HADIWIDJANA
    Guru Kweekschool Muntilan
    Pangecapan J.B. Wolters U.M.
    Groningen - Den Haag - Weltervreden - 1925

    Pérangan Kang Kapisan
    Babad Jawa Wiwit Jaman Indhu tumekané
    Rusaking Karajan Majapahit
    Abad 2 utawa 3 - Abad 16


    01 Pérangan Kang Kapisan
    Bab 1
    Karajan Indhu ing Tanah Jawa Kulon
    (wiwit abad 2 utawa 3)

    Kang wus kasumurupan, karajané bangsa Indhu ana ing Tanah Jawa, kang dhisik dhéwé, diarani karajan "Tarumanagara" (Tarum = tom. kaliné jeneng Citarum).
    Karajan iku mau dhèk abad kaping 4 lan 5 wis ana, déné titi mangsaning adegé ora kawruhan.
    Ratu ratuné darah Purnawarman. Mirit saka gambar gambar kembang tunjung kang ana ing watu watu patilasan, darah Purnawarman iku padha nganggo agama Wisnu.

    Ing tahun 414 ana Cina aran Fa Hien, mulih saka enggoné sujarah menyang patilasané Resi Budha, ing tanah Indhu Ngarep mampir ing Tanah Jawa nganti 5 sasi.
    Ing cathetané ana kang nerangaké mangkéné :
    1. Ing kono akèh wong ora duwé agama (wong Sundha), sarta ora
    ana kang tunggal agama karo dhèwèkné: Budha.
    2. Bangsa Cina ora ana, awit ora kasebut ing cathetané.
    3. Barengané nunggang prahu saka Indhu wong 200, ana sing
    dedagangan, ana kang mung lelungan, karepé arep padha
    menyang Canton.

    Yèn mangkono dadi dalané dedagangan saka tanah Indhu Ngarep menyang tanah Cina pancèn ngliwati Tanah Jawa.
    Ing Tahun 435 malah wis ana utusané Ratu Jawa Kulon menyang tanah Cina, ngaturaké pisungsung menyang Maharaja ing tanah Cina, minangka tandhaning tetepungan sarta murih gampang lakuning dedagangan.
    Karajan Tarumanagara mau ora kasumurupan pirang tahun suwéné lan kepriyé rusaké.
    Wong Indhu ana ing kono ora ngowahaké adat lan panguripané wong bumi, awit pancèn ora gelem mulangi apa apa, lan wong bumi uga durung duwé akal niru kapinterané wong Indhu.
    Ewa déné meksa ana kaundhakaning kawruhé, yaiku mbatik lan nyoga jarit.
    02 Pérangan Kang Kapisan
    Bab 2
    Karajan Indhu ing Jawa Tengah
    (abad kaping 6)

    Mirit saka:
    1. Cathetané bangsa Cina
    2. Unining tulisan tulisan kang ana ing watu watu lan candhi
    3. Cathetané sawijining wong Arab, wis bisa kasumurupan
    sathithik sathithik mungguh kaananing wong Indhu ana ing
    Tanah Jawa Tengah dhèk jaman samono.

    Nalika wiwitané abad kang kanem ana wong Indhu anyar teka ing Tanah Jawa Kulon.
    Ana ing kono padha kena ing lelara, mulané banjur padha nglèrèg mangétan, menyang Tanah Jawa Tengah.
    Wong Jawa wektu samono, isih kari banget kapinterané, yèn ditandhing karo wong Indhu kang lagi neneka mau; mulané banjur dadi sor-sorané.
    Wong Indhu banjur ngadegaké karajan ing Jepara.
    Omah omah padunungané wong Jawa, ya wis mèmper karo omah omahé wong jaman saiki, apayon atep utawa eduk lan wis nganggo képang.
    Enggoné dedagangan lelawanan karo wong Cina; barang dedagangané kayata: emas, salaka, gading lan liya liyané.
    Cina cina ngarani nagara iku Kalinga, besuké, ya diarani: Jawa.
    Karajan mau saya suwé saya gedhé, malah nganti mbawahaké karajan cilik cilik 28 (wolu likur).
    Wong Cina uga nyebutaké asmané sawijining ratu putri: Sima; dikandakaké becik banget enggoné nyekel pangrèhing praja (tahun 674).
    Tulisaning watu kang ana ciriné tahun 732, dadi kang tuwa dhéwé, katemu ana sacedhaké Magelang, nyebutaké, manawa ana ratu kang jumeneng, jejuluk Prabu Sannaha, karajané gedhé, kang klebu jajahané yaiku tanah tanah Kedhu, Ngayogyakarta, Surakarta lan bokmenawa Tanah Jawa Wétan uga klebu dadi wewengkoné karajan iku.

    Mirit caritané, karajan kang kasebut iku tata tentrem banget kaya kang kasebut ing tulisan kang katemu ana ing patilasan: Nadyan wong wong padha turu ana ing dalan dalan, ora sumelang, yèn ana bégal utawa bebaya liyané.
    Mirit kandhané sawijining wong Arab, dhèk tengah tengahané abad kang kaping sanga, ratu ing Tanah Jawa wis mbawahaké tanah Kedah ing Malaka (pamelikan timah).

    Karajan ing dhuwur iki sakawit ora kawruhan jenengé, nanging banjur ana karangan kang katulis ing watu kang titi mangsané tahun 919, nyebutaké karajan Jawa ing Mataram.
    Jembar jajahané, mungguha saiki tekan Kedhu, Ngayogyakarta, Surakarta; mangloré tekan sagara; mangétané tekan tanah tanah ing Tanah Jawa Wétan sawatara.
    Kuthané karan : Mendhangkamulan.

    Wong Arab ngandhakaké, ana ratu Jawa mbedhah karajan Khamer (Indhu Buri).
    Sing kasebut iki ayaké iya karajan Mataram mau. Kajaba Khamer, karajan Jawa iya wis mbawahaké pulo pulo akèh. Pulo pulo iku mawa gunung geni.
    Karajan Jawa mau sugih emas lan bumbu crakèn. Wong Arab iya akèh kang lelawanan dedagangan.

    Sabakdané tahun 928 ora ana katrangan apa apa ing bab kaanané karajan Mataram.
    Kang kacarita banjur ing Tanah Jawa Wétan. Ayaké baé karajan Mataram mau rusak déning panjebluge gunung Merapi (Merbabu), déné wongé kang akèh padha ngungsi mangétan.
    Ing abad 17 karajan Mataram banjur madeg manèh, gedhé lan panguwasané irib iriban karo karajan Mataram kuna.

    Agamané wong Indhu sing padha ngejawa rupa rupa. Ana ing tanah wutah getihe dhéwé ing kunané wong Indhu ngèdhep marang Brahma, Wisnu lan Syiwah, iya iku kang kaaranan Trimurti. Kejaba saka iku uga nembah marang déwa akèh liya liyané, kayata: Ganésya, putrané Bethari Durga.
    Manut piwulangé agama Indhu pamérangé manungsa dadi patang golongan, yaiku:
    - para Brahmana (bangsa pandhita)
    - para Satriya (bangsa luhur)
    - para Wesya (bangsa kriya)
    - para Syudra (bangsa wong cilik)
    Piwulangé agama lan padatané wong Indhu kaemot ing layang kang misuwur, jenengé Wedha.
    Kira kira 500 tahun sadurungé wiwitané tahun Kristen, ing tanah Indhu ana sawijining darah luhur peparab Syakya Muni, Gautama utawa Budha.
    Mungguh piwulangé gèsèh banget karo agamané wong Indhu mau.
    Resi Budha ninggal marang kadonyan, asesirik lan mulang muruk marang wong.
    Kajaba ora nembah dewa dewa, piwulangé: sarèhné wong iku mungguhing kamanungsané padha baé, dadiné ora kena dipérang patang golongan.
    Para Brahmana Indhu mesthi baé ora seneng pikire, mulané kerep ana pasulayan gedhé.
    Ana ing tanah Indhu wong Budha mau banjur peperangan karo wong agama Indhu.
    Wusana bangsa Budha kalah lan banjur ngili menyang Ceylon sisih kidul, Indu Buri, Thibet, Cina, Jepang.
    Mungguh wong agama Indhu iku pangèdêpé ora padha. Ana sing banget olèhe memundhi marang Syiwah yaiku para Syiwaiet (ing Tanah Jawa Tengah); ana sing banget pangèdêpé marang Wisynu, yaiku para Wisynuiet (ing Tanah Jawa Kulon).
    Kajaba saka iku uga akèh wong agama Budha, nanging ana ing Tanah Jawa agama agama iku bisa rukun, malah sok dicampur baé.
    Petilasané agama Indhu mau saikiné akèh banget, kayata:
    - Candhi candhi ing plato Dieng (Syiwah), iku bokmenawa yasané
    ratu darah Sanjaya.
    - Candhi ing Kalasan ana titi mangsané tahun 778, ayaké iki
    candhi tuwa dhéwé (Budha), yasané ratu darah Syailendra.
    - Candhi Budha kang misuwur dhéwé, yaiku Barabudhur lan
    Mendut.
    - Candhi Prambanan (Syiwah). Ing sacedhaké Prambanan ana
    candhi campuran Budha lan Syiwah.

    relief_borobudur
    Relief Candhi Barabudhur

    03 Pérangan Kang Kapisan
    Bab 3
    Karajan Ing Tanah Jawa Wétan
    (wiwitané abad 10 - tahun 1220)

    Ing dhuwur wus kasebutaké yèn Tanah Jawa Wétan, kabawah karajan Indhu ing Mataram; nanging wong Indhu kang manggon ana ing Tanah Jawa Wétan ora pati akèh, yèn katimbang karo kang manggon ing Tanah Jawa Tengah (Kedhu).
    Marga saka iku wong Indhu kudu kumpul karo wong bumi, prasasat tunggal dadi sabangsa.
    Ing wiwitané abad 10 ana pepatihing karajan Tanah Jawa Tengah aran Empu Sindhok lolos mangétan. Let sawatara tahun empu Sindhok mau jumeneng ratu ing Tanah Jawa Wétan, karajané ing Kauripan (Paresidhènan Surabaya sisih kidul).

    Ambawahaké: Surabaya, Pasuruwan, Kedhiri, Bali bok manawa iya kabawah.
    Enggoné jumeneng ratu tekan tahun 944 lan iya jejuluk Nata ing Mataram.
    Nata ing Mataram mau banget pangèdêpé marang agama Budha.
    Empu Sindhok misuwur wasis enggoné ngerèh praja. Ana cathetan kang muni mangkéné: "Awit saka suwéning enggoné jumeneng ratu, marcapada katon tentrem; wulu wetuning bumi nganti turah turah ora karuhan kèhé."

    Ing tahun 1010 Erlangga tetep jumeneng ratu, banjur nerusaké enggoné mangun paprangan lan ngelar jajahan.
    Ing tahun 1037 enggoné paprangan wis rampung, negara reja, para kawula padha tentrem. Déné karatoné iya ana ing Kauripan.
    Sang Prabu Erlangga ora kesupèn marang kabecikaning para pandhita lan para tapa, kang gedhé pitulungané nalika panjenengané lagi kasrakat.

    Minangka pamalesing kabecikané para pandhita, Sang Nata yasa pasraman apik banget, dumunung ing sikile gunung Penanggungan.
    Pasraman mau kinubeng ing patamanan kang luwih déning asri, lan rerenggané sarwa peni sarta endah. Saka ediné, nganti misuwur ing manca praja, saben dina aselur wong kang padha sujarah mrono.

    Pangadilané Sang Nata jejeg. Wong désa kang nrajang angger angger nagara padha kapatrapan paukuman utawa didhendha.
    Kècu, maling, sapanunggalané kapatrapan ukum pati.
    Sang Prabu enggoné nindakaké paprentahan dibantu ing priyagung 4, padha oleh asil saka pametuning lemah lenggahè.
    Saka enggoné manggalih marang tetanèn yaiku pagawéyaning kawula kang akèh, Sang Nata yasa bendungan gedhé ana ing kali Brantas.
    Sang Nata uga menggalih banget marang panggaotan lan dedagangan.
    Kutha Tuban nalika samono panggonan sudagar, oleh biyantu akèh banget saka Sang Prabu murih majuning dedagangan lan lelayaran.

    Sang Nata yèn sinéwaka lenggah dhampar (palenggahan cendhèk pesagi), ngagem agem ageman sarwa sutra, remané diukel lan ngagem cênéla.
    Yèn miyos nitih dwipangga utawa rata, diarak prajurit 700.
    Punggawa lan kawula kang kapethuk tindaké Sang Nata banjur padha sumungkem ing lemah (ndhodhok ngapurancang?).
    Para kawula padha ngoré rambut, enggoné bebedan tekan ing wates dhadha.
    Omahè kalebu asri, nganggo payon gendhèng kuning utawa abang.
    Wong lara padha ora tetamba mung nyuwun pitulunganing para dewa baé, utawa marang Budha.
    Wong wong padha seneng praon lan lelungan turut gunung, akèh kang nunggang tandhu utawa joli.
    Dhèk samono wong wong iya wis padha bisa njogèt, gamelané suling, kendhang lan gambang.

    Karsané Sang Prabu besuk ing sapengkeré kang gumanti jumeneng Nata putrané loro pisan, mulané kratoné banjur diparo: Jenggala (sabageyaning: Surabaya sarta Pasuruwan) lan Kedhiri.
    Déné kang minangka watesé: pager témbok kang sinebut "Pinggir Raksa", wiwit saka puncaking Gunung Kawi, mangisor, nurut kali Leksa banjur urut ing brangloré kali Brantas saka wétan mangulon tekan ing désa kang saiki aran "Juga", nuli munggah mangidul, terusé kira kira nganti tumeka ing pasisir.
    Gugur gugurané tembok iku saiki isih ana tilasé, kayata ing sacedhaking kali Leksa, sakulon lan sakiduling kali Brantas, ing watesing afd. Malang lan Blitar.

    Mungguhing babad Jawa jumenengé Prabu Erlangga kaanggep minangka pepadhang sajroning pepeteng, awit rada akèh caritané kang kasumurupan.
    Kawruh kasusastran wis dhuwur. Layang layangé ing jaman iku tekané ing jaman saiki isih misuwur becik lan dadi teturutaning crita crita wayang.
    Layang layang mau basané diarani: Jawa Kuna, kayata:
    1. Layang Mahabarata
    2. Layang Ramayana lan Arjuna Wiwaha.

    Karajan Jenggala ora lestari gedhé, awit pecah pecah dadi karajan cilik cilik, marga saka diwaris marang putraning Nata; yaiku praja Jenggala (Jenggala anyar); Tumapel utawa Singasari lan Urawan.
    Karajan cilik cilik kang cedhak wates Kedhiri or suwé banjur ngumpul mèlu Kedhiri, liyané isih terus madeg dhéwé nganti tekan abad 13.
    Kerajan Kedhiri (Daha, Panjalu) mungguha saiki mbawahaké paresidhènan Kedhiri, sapérangané Pasuruwan lan Madiyun.
    Kuthané ana ing kutha Kedhiri saiki. Karajan mau bisa dadi kuncara.
    Ing wektu iku kasusastran Jawa dhuwur banget, nalika jamané Jayabaya (abad 12) ngluwihi kang uwis uwis lan tumekané jaman saiki isih sinebut luhur, durung ana kang madhani.

    Ing tahun 1104 ing kedhaton ana pujangga jenengé: Triguna utawa Managocna.
    Pujangga iku sing nganggit layang Sumanasantaka lan Kresnayana.
    Radèn putra utawa Panji kang kacarita ing dongèng kae, bokmenawa iya ratu ing Daha, kang jejuluk Prabu Kamesywara I. Jumeneng ana wiwitané abad kang kaping 12. Garwané kekasih ratu Kirana (Candra Kirana) putrané ratu Jenggala.
    Ing mangsa iki ana pujangga jenengé Empu Dharmaja nganggit layang Smaradhana. Radèn Panji nganti saiki tansah kacarita ana lakoné wayang gedhog lan wayang topeng.

    Pujanggané Jayabaya aran Empu Sedah lan Empu Panuluh.
    Empu Sedah ing tahun Saka 1079 (= 1157) methik sapéranganing layang Mahabarata, dianggit lan didhapur cara Jawa, dijenengaké layang Bharata Yudha.
    Wong Jawa ing wektu iku wis pinter, wong Indhu kesilep, karajan Indhu wis dadi karajan Jawa.
    2009 April 2 20:32

    BalasHapus
  9. Pangestika Tuhu Kristanti12 April 2009 21.01

    Pangestika Tuhu Kristanti
    2102408126
    Rombel: 4


    Tedhak Siten
    Ritual of Foot Stepping on Earth


    Tedhak means go-down or foot stepping. Siten comes from the word Siti which means soil, the earth. Tedhak siten means stepping foot on the earth. This ritual depicts the child’s readiness to go through and face a successful life ahead with God’s blessing and guidance from the parents and elder peoples .

    It is also believed that this ritual depicts the closeness and respect of a human being to Ibu Pertiwi , which means the motherland.

    It is expected that the kid should live a proper life , also being able to take care and love the earth so that he/she can enjoy a happy life. This is also to remind everyone that the earth have and always supported our lives. Without the earth , it is hard to imagine the existence of a human being, a spirit who wears physical and subtle body.

    People should thank God for the fertile soil and a conducive nature, so that all beings including human can live on earth. This is an opportunity to do the best we can, not only for ourself and family but for mankind. All are God’s will.

    It shall not be forgotten that land is one of of human elements, the others are wind, water and fire.
    The four elements support the human existence in the world.


    When is Tedhak siten ?

    It is when the baby is 7 selapan=245 days. Selapan is a combination between the day seven of international calendar and the day five of Javanese calendar. It is called weton or selapanan means 35 days.

    Usually the Tedhak siten ritual ceremony is done in the morning at the front yard and attended by the parents , grandparents, close family plus neighbours/friends.

    Like in other traditional ceremonies, the tedhak siten ritual ceremony is also marked with sajen/offering consiting of : flowers, herbal, vegetables . This offering is arranged beautifully adding the festive as well as sacral atmosphere.

    Offering is not superstition, it symbolizes request and pray to God the Almighty in order to get blessings and protection from Gusti, God, to get blessings from the ancestors, to combat evil deed from human and bad spirit.


    The Ceremony

    1.

    Walk on 7 different Coloured of Glutinous Rice
    The kid is guided to walk on 7 different coloured of delicacies made of glutinous rice , the colours are red, white, orange, yellow, green, blue, and violet. This is a hope that he/she in the future would be able to overcome all obstacles in life.


    2.
    Step Up on A Ladder
    The kid is guided to step up on a ladder made of “Arjuna” sugar cane then step down. Sugar cane in Javanese is tebu , an acronym on Antebing Kalbu (whole heartedly determination). The sugar cane Arjuna – the kids is expected to be like Arjuna- a true fighter and warrior. Passing an Arjuna Ladder is depicting that he/she should be able to go through life with determination and confidence like the heroic Arjuna.
    3. Stepping down from the ladder the kid is guided to walk on a pile of sand. He/She should then ceker-ceker (Javanese)which means that when the kid is all grown up, he/she will be able to work and earn their own living.
    4.
    Enter to A Cock's Cage
    The kid is guided to enter to a decorated cock’s cage. Inside the cage there are many items , such as book, jewelery, golden accessories (like ring, necklace,etc), and other useful items. The kid will then choose whatever he picks up. Should he/she picks a book, then people will believe that one day he/she will be working in an office or be a professor. If the kid chosses a cell-phone, he/she would one day be a technician or communication expert. The cage is depicting the real world, so the kid is entering the real world where through his/her intuation in her/his early age the kid chooses her/his own future .
    5. The father and grandfather will then throw udik-udik (coins and petal of flowers). It is a hope that one day the kid would become a generous person, helpful , kindhearted and in return he will have an easy way of living . In some occasion, the mother carries the kid and joins the father and grandfather to throw udik-udik.
    6.
    Bathed with Water with Sritaman Flowers
    The kid then bathed or cleansed with water with Sritaman flowers, consists of jasmine, magnolia,rose, and cananga. It is hoped that the kid in the future would contribute a good name to the family.

    Finally, the kid is dressed neatly and beautifully with a new dress. It is depicting that in the future the kid would enjoy a good and prosperous life . He/She could make the parents live happily ever after.

    The Kid is Dressed Neatly

    Before the Tedhak Siten ends, lunch is served and the whole family are happy and wish that God Almighty will bless them all.

    Jagad Kejawen.....

    BalasHapus
  10. Pangestika Tuhu Kristanti12 April 2009 21.03

    Pangestika Tuhu Kristanti
    2102408126
    Rombel:4


    Upacara Tedhak Siten

    Upacara tedhak siten di selenggarakan pada saat ana berusia kira – kira 9 bulan. Pada waktu itu anak secara resmi turun ke tanah atau menginjak tanah. Adapun tempat upacaranya di rumah orang tua anak yang bersangkutan. Upacara seperti ini yaitu upacara yang berwujud kenduri biasanya di selenggarakan di serambi rumah, rumah bagian depan at di pendapa, sedangkan keperluan lain yang ada rangkaiannya dengan upacara itu di selenggarakan di gandhok rumah, rumah bagian kabelakang. Beberapa pihak yang terlibat dalam upacara adalah si anak tersebut dan orang tua serta kakek dan nenek. Upacara ini juga melibatkan sanak keluarga dan tetangga. Perlengkapan kenduri terdiri dari nasi tumpen, gudhangan , jenang abang putih, jenang baro – baro, jajan pasar, sega gurih, dan ingkung ayam. Kelengkapan lainnya adalah jadah 7 tetel manca warni: merah, putih, hitam, kuning, biru, merah muda, dan ungu. Ada kembang setaman di letakkan di bokor, tangga yang terbat dari tebu rejuna, pranji (kurungan ayam jantan) yang di hias dengan janur kuning. Di sediakan pula padi kapas, beras kuning, sekar telon, bokor yang berisi perhiasan gelang, kalung, dan cincin. Upacara tedhak siten di laksanakan pagi hari. Menjelang pelaksanaa, para pinisepuh berkumpul di serambi rumah (rumah bagian depan) untuk kenduri (kepungan ambeng) yang di pimpin oleh Pak Kaum selaku pembaca doa. Sesudah itu di halaman rumah di selenggarakan upacar tedhak siten lengkap dengan ubarampe, sang anak segera di bawa keluar rumah di mana upacara di selengarakan. Mula – mula sang anak di tetah agar berjalan menginjak jadah aneka warna (tujuh tetel). Sesudah itu, di tetah memanjat tangga tebu, mulai dari anak tangga yang paling bawah sampai anak tangga yang paling atas. Begitu sampai di atas, lalu di turunkan lagi, seterusnya sang anak di masukkan ke dalam kurungan ayam jantan yang di dalamnya di taruh bokor – bokor yang berisi barang perhiasan agar sang anak bisa bermain dengan puas. Begitu usai bermain – main , anak di keluarkan dari kurungan ayam , lalu di mandikan dengan air dari dalam bokor yang telah di campur dengan kembang setaman. Tahap berikutnya, tubuh anak tersebut di keringkan dan di beri pakaian yang bagus Usai upacara tersebut, bokor yang berisi beras kuning dan beberapa uang logam beserta seluruh isinya di sebar di halaman. Ada beberapa pantangan yang harus di hindari, misalnya saja wanita yang menyusui bayinya tidak boleh makan yang serba daging agar tidak cepat datang bulan (menstruasi) lagi. Sesungguhnya ini secara implisit merupakan langkah antisipatif terhadap proses terjadinya kehamilan. Larangan lainnya berlaku untuk bayi yang masih lembut jangan di bawa berpergian. Beberapa perlengkapan yang di siapkan di dalam upacara tedhak siten mengandung lambang atau makna khusus. Jadah manca warni melambangkan dunia atau lingkungan hidup yang beraneka warna yang mau tidak mau kelak akan di tempuh sang anak. Kurungan ayam merupakan simbol bahwa dunia (alam) dimana kita hidup mengenal batas – batas. Manakala kita keluar dari rambu – rambu tersebut niscaya akan tertimpa bencana. Kuruangan aam juga di maksudkan untuk menghalangi ancaman bencana gaib yng mungkin akan mendera kehidupan sang anak. Tangga yang terbuat dari tebu mengandung makna keteguhan hati (tekad) untuk menjalani jenjang kehidupan hingga mencapai taraf keluhuran derajad maupun budi. Tebu bermakan keteguhan hati. Tebu berasal dari kata antebing kalbu, yakni keteguhan hati. Tebu Arjuna (rejuna) menyiratkan agar dalam menjalani jenjang kehidupan , sang anak senantiasa bersikap manis, mengalami nasib yang baik, dan serba menyenangkan. sesuai buku: upacara daur hidup di daerah istimewa yogyakarta jilid I, dinas kebudayaan provinsi diy, 2005

    BalasHapus
  11. Pangestika Tuhu Kristanti12 April 2009 21.12

    Pangestika Tuhu Kristanti
    2102408126
    Rombel:4


    Upacara Tedhak Siten

    Upacara tedhak siten di selenggarakan pada saat ana berusia kira – kira 9 bulan. Pada waktu itu anak secara resmi turun ke tanah atau menginjak tanah. Adapun tempat upacaranya di rumah orang tua anak yang bersangkutan. Upacara seperti ini yaitu upacara yang berwujud kenduri biasanya di selenggarakan di serambi rumah, rumah bagian depan at di pendapa, sedangkan keperluan lain yang ada rangkaiannya dengan upacara itu di selenggarakan di gandhok rumah, rumah bagian kabelakang. Beberapa pihak yang terlibat dalam upacara adalah si anak tersebut dan orang tua serta kakek dan nenek. Upacara ini juga melibatkan sanak keluarga dan tetangga. Perlengkapan kenduri terdiri dari nasi tumpen, gudhangan , jenang abang putih, jenang baro – baro, jajan pasar, sega gurih, dan ingkung ayam. Kelengkapan lainnya adalah jadah 7 tetel manca warni: merah, putih, hitam, kuning, biru, merah muda, dan ungu. Ada kembang setaman di letakkan di bokor, tangga yang terbat dari tebu rejuna, pranji (kurungan ayam jantan) yang di hias dengan janur kuning. Di sediakan pula padi kapas, beras kuning, sekar telon, bokor yang berisi perhiasan gelang, kalung, dan cincin. Upacara tedhak siten di laksanakan pagi hari. Menjelang pelaksanaa, para pinisepuh berkumpul di serambi rumah (rumah bagian depan) untuk kenduri (kepungan ambeng) yang di pimpin oleh Pak Kaum selaku pembaca doa. Sesudah itu di halaman rumah di selenggarakan upacar tedhak siten lengkap dengan ubarampe, sang anak segera di bawa keluar rumah di mana upacara di selengarakan. Mula – mula sang anak di tetah agar berjalan menginjak jadah aneka warna (tujuh tetel). Sesudah itu, di tetah memanjat tangga tebu, mulai dari anak tangga yang paling bawah sampai anak tangga yang paling atas. Begitu sampai di atas, lalu di turunkan lagi, seterusnya sang anak di masukkan ke dalam kurungan ayam jantan yang di dalamnya di taruh bokor – bokor yang berisi barang perhiasan agar sang anak bisa bermain dengan puas. Begitu usai bermain – main , anak di keluarkan dari kurungan ayam , lalu di mandikan dengan air dari dalam bokor yang telah di campur dengan kembang setaman. Tahap berikutnya, tubuh anak tersebut di keringkan dan di beri pakaian yang bagus Usai upacara tersebut, bokor yang berisi beras kuning dan beberapa uang logam beserta seluruh isinya di sebar di halaman. Ada beberapa pantangan yang harus di hindari, misalnya saja wanita yang menyusui bayinya tidak boleh makan yang serba daging agar tidak cepat datang bulan (menstruasi) lagi. Sesungguhnya ini secara implisit merupakan langkah antisipatif terhadap proses terjadinya kehamilan. Larangan lainnya berlaku untuk bayi yang masih lembut jangan di bawa berpergian. Beberapa perlengkapan yang di siapkan di dalam upacara tedhak siten mengandung lambang atau makna khusus. Jadah manca warni melambangkan dunia atau lingkungan hidup yang beraneka warna yang mau tidak mau kelak akan di tempuh sang anak. Kurungan ayam merupakan simbol bahwa dunia (alam) dimana kita hidup mengenal batas – batas. Manakala kita keluar dari rambu – rambu tersebut niscaya akan tertimpa bencana. Kuruangan aam juga di maksudkan untuk menghalangi ancaman bencana gaib yng mungkin akan mendera kehidupan sang anak. Tangga yang terbuat dari tebu mengandung makna keteguhan hati (tekad) untuk menjalani jenjang kehidupan hingga mencapai taraf keluhuran derajad maupun budi. Tebu bermakan keteguhan hati. Tebu berasal dari kata antebing kalbu, yakni keteguhan hati. Tebu Arjuna (rejuna) menyiratkan agar dalam menjalani jenjang kehidupan , sang anak senantiasa bersikap manis, mengalami nasib yang baik, dan serba menyenangkan. sesuai buku: upacara daur hidup di daerah istimewa yogyakarta jilid I, dinas kebudayaan provinsi diy, 2005

    BalasHapus
  12. NAMA : RAGIL MARGI RAHAYU
    NIM : 2102408069
    ROMBEL : 3



    L E L U N G I D A N
    (Lelandhepan, Lelimbangan)
    Kapendhet saking Panatacara Tuwin Pamedhar Sabda
    anggitanipun Rama Sudhi Yatmana,1994.


    LELUNGIDAN - 1

    Ha----- Aja ngandhakake utawa ngandhani apa bae kang ora dimangerteni.
    Na----- Nandur kabecikan bakal panen kabecikan.
    Ca----- Cipta, rasa, karsa, daya lan karya kudu sayeg saeka praya.
    Ra----- Ruwet rentenging donya iki jalaran urip ora padha nindakake kuwajibaning urip.
    Ka----- Kang wani iku kang wenang.
    Da----- Duwe sedya becik ora enggal kok tindakake iku padha karo ndhedher wiji laraning ati.
    Ta----- Tansah was-was tandha ora saras.
    Sa----- Senennging ati ndawakake umur.
    Wa---- Wong Lara ngarep-arep waras. Wong Waras apa pangarep-arepmu ?
    La----- Lembah manah agawe kuncaraning diri pribadi.
    Pa----- Pinuju bungah elinga susah, pinuju susah elinga bungah !
    Dha--- Dhedhasaring ngauri iku kudu gotong-royong.
    Ja----- Jeneng tresna kudu wani nglabuhi lara lan sengsaraning urip.
    Ya---- Yen wis janji kudu kokleksanani.
    Nya--- Nyampurnakake urip klawan sucining ati.
    Ma---- Momor, momot, momon

    BalasHapus
  13. NAMA : EMUT SUBEKTI NINGSIH
    NIM : 2102408029
    ROMBEL : 1

    WIRAYAT JATI

    Translation by M. M. Medeiros and Mastoni


    Anenggih punika pituduh ingkang sanyata, anggelaraken dunung lan pangkating kawruh kasampurnan, winiwih saking pamejangipun para wicaksana ing Nungsa Jawi, karsa ambuka pitedhah kasajatining kawruh kasampurnan, tutuladhan saking Kitab Tasawuf.

    Panggelaring wejangan wau thukul saking kaweningan raosing panggalih, inggih cipta sasmitaning Pangeran, rinilan ambuka wedha ing pangandikaning Pangeran dhumateng Nabi Musa, Kalamolah, ingkang suraosipun makaten:

    "Ing sabener-benere manungsa iku kanyatahaning Pangeran, lan Pangeran iku mung sawiji."

    Pangandikaning Pangeran ingkang makaten wau, inggih punika ingkang kawedharaken dening para gurunadi dhumateng para ingkang sami katarimah puruitanipun.

    Dene wonten kawruh wau, lajeng kadhapuk 8 pangkatan, sarta pamejanganipun sarana
    kawisikaken ing talingan kiwa.

    Mangêrtosipun asung pepenget bilih wedharing kawruh kasampurnan, punika boten kenging kawêjangaken dhateng sok tiyanga, dene kengingipun kawejangaken namung dhumateng tiyang ingkang sampun pinaringan ilhaming Pangeran, tegesipun tiyang ingkang sampun tinarbuka papadhanging budi pangangen-angenipun (ciptanipun).

    Awit saking punika, pramila ingkang sami kasdu maos serat punika sayoginipun sinembuha nunuwun ing Pangeran, murih tinarbuka ciptaning saged anampeni saha angecupi suraosing wejangan punika, awit suraosipun pancen kapara nyata yen saklangkung gawat.

    Mila kasêmbadanipun saged angecupi punapa suraosing wejangan punika, inggih muhung dumunung ing ndalêm raosing cipta kemawon.

    Mila inggih boten kenging kangge wiraosan kaliyan tiyang ingkang dereng nunggil raos, inggih ingkang dereng kepareng angsal ilhaming Pangeran.

    Hewadene sanadyana kangge wiraosing kaliyan tiyang ingkang dereng nunggil raos, wedaling pangandika ugi mawia dudugi lan pramayogi, mangertosipun kedah angen mangsa lan empan papan saha sinamun ing lulungidaning basa.

    Menggah wontening wewejangan 8 pangkat wau, kados ing ngandhap punika:

    Wewejangan ingkang rumiyin, dipun wastani: pitedahan wahananing Pangeran, sasadan pangandikanipun Pangeran dhateng Nabi Muhammad s.a.w. Makaten pangandikanipun:

    Sajatine ora ana apa-apa, awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhihin iku ingsun, ora ana Pangeran anging ingsun sajatine kang urip luwih suci, anartani warna aran lan pakartiningsun (dat, sipat, asma, afngal).

    Menggah dunungipun makaten: kang binasakake angandika ora ana Pangeran anging Ingsun.

    Sajatine urip kang luwih suci, sajatosipun inggih gesang kita punika rinasuk dening Pangeran kita, mênggahing warna nama lan pakarti kita.

    Punika sadaya saking purbawisesaning Pangeran kita, inggih kang sinuksma, tetep tinetepan, inggih kang misesa, inggih kang manuksma, umpami surya lan sunaripun, mabên lan manisipun, sayekti boten saged den pisaha.

    Wewejangan ingkang kaping kalih, dipun wastani: Pambuka kahananing Pangeran.

    Pamejangipun amarahakên papangkatan adeging gesang kita dumunung ing dalem pitung kahanan, sasadan pangandikanipun Pangeran dhateng Nabi Muhammad s.a.w. Makaten pangandikanipun: Satuhune ingsun Pangeran sajati, lan kawasan anitahaken sawiji-wiji, dadi padha sanalika saka karsa lan pêpêstheningsun, ing kono kanyatahane gumelaring karsa lan pakartiningsun, kang dadi pratandha.

    Kang dhihin,
    Ingsun gumana ing dalem awang-uwung kang tanpa wiwitan tanpa wekasan, iya iku alam Ingsun kang maksih piningit.

    Kapindho,
    Ingsun anganakake cahya minangka panuksmaningsun dumunung ana ing alam pasenedaningsun.

    Kaping telu,
    Ingsun anganakake wawayangan minangka panuksma lan dadi rahsaningsun, dumunung ana ing alam pambabaraning wiji.

    Kaping pat,
    Ingsun anganakake suksma minangka dadi pratandha kauripaningsun, dumunung ana ing alaming getih.

    Kaping lima,
    Ingsun anganakake angen-angen kang uga dadi warnaningsun, ana ing dalêm alam kang lagi kena kaumpamaake bae.

    Kaping enem,
    Ingsun anganakake budi, kang minangka kanyatahan pencaring angen-angen kang dumunung ana ing dalem alaming badan alus.

    Kaping pitu,
    Ingsun anggelar warana kang minangka kakandhangan sakabehing paserenaningsun. Kasebut nem prakara ing dhuwur mau tumitah ana ing donya iya iku sajatining manungsa.

    BalasHapus
  14. NAMA : RATRI DWI FITRIANA
    NIM : 2102408023
    ROMBEL : 1

    Geguritan (puisi jawa modern)

    GAZA

    Apa kang binabar ing bumi Gaza
    nyatakake yen akeh wong kang pracaya marang Allah
    sejatine atheis.....atheis!!
    ora wedi marang Allah mung ngumbar nafsu dur angkara
    karem ngumbar sak-seriking atine liyan kanthi gawe rajapati

    Israel-Palestina wiwit biyen anduweni bakat dadi satruning Allah
    sanadyan ing bumi kono akeh Nabi
    ora nate maelu perentahing Nabi lan Gusti
    supaya tumindak rukun lan bedhamen karo sapepadhane

    Sabendina prajurit Israel nyengkut bancakan bom lan roket
    Gaza dadi rengka, ajur, remuk, sumyur sawalang-walang

    Bom roket iku pancen bodho
    bodho, ora bisa milah milih mbedakake endi bocah, endi tua endi enom,
    endi lanang endi wadon endi sekolahan, endi ambulan endi rumah sakit

    Bom roket iku bodho
    Bom roket iku goblok
    ora weruh wong nangis mlayu dhelik ngungsi wedi lan wani urip apa mati

    Bom roket iku wuta
    ora bisa ndeleng lan mbedakake wong sipil lan militer apadene pejuang Hamas

    Nanging.....
    Bom roket iku ora salah
    Bom roket iku ora dosa ora culika
    kabeh hamung karana kadurakan lan kaculikaning manungsa
    kang nggawa lan migunakake bom lan roket
    Cubluke manungsa kang gawe sangsarane dhewe
    manungsa kang dadi budhak ciptaane dhewe

    Cubluke Israel-Palestina kang pada seneng congkrah
    tansah nyipta kasangsarane dhewe
    kabeh-kabeh anduweni sikap egois, anarkhis lan ironis
    ironis marga ngaku theis nanging atheis!


    --------------------------------------------------------------------------

    ZAMAN PALSU

    rambut palsu
    mripat palsu
    untu palsu
    irung palsu
    tangan palsu
    sikil palsu
    jantung palsu

    manungsa saya kumalungkung
    awit bisa mrawasa ciptane Pangeran
    ditekuk dibengkongake dijejekake diganti
    malah diedol ya ana
    ana aspal asli ning palsu

    eketan ewu palsu
    atusan palsu

    kembang palsu
    katresnan palsu
    janji palsu

    obat palsu
    dokter palsu
    dukun palsu
    ijasah palsu
    pengadilan palsu
    demokrasi palsu

    iki zamane zaman sarwa palsu
    sing palsu katon cekli
    sing palsu malah payu

    mbah wonten pundi sejatining kayekten?
    mbah wonten pundi dununging bebener?
    mbah wonten pundi ingkang sejati?
    jare simbah wus ilang digondhol asu!!

    BalasHapus
  15. NAMA : RATRI DWI FITRIANA
    NIM : 2102408023
    ROMBEL : 1

    Geguritan (puisi jawa modern)

    GAZA

    Apa kang binabar ing bumi Gaza
    nyatakake yen akeh wong kang pracaya marang Allah
    sejatine atheis.....atheis!!
    ora wedi marang Allah mung ngumbar nafsu dur angkara
    karem ngumbar sak-seriking atine liyan kanthi gawe rajapati

    Israel-Palestina wiwit biyen anduweni bakat dadi satruning Allah
    sanadyan ing bumi kono akeh Nabi
    ora nate maelu perentahing Nabi lan Gusti
    supaya tumindak rukun lan bedhamen karo sapepadhane

    Sabendina prajurit Israel nyengkut bancakan bom lan roket
    Gaza dadi rengka, ajur, remuk, sumyur sawalang-walang

    Bom roket iku pancen bodho
    bodho, ora bisa milah milih mbedakake endi bocah, endi tua endi enom,
    endi lanang endi wadon endi sekolahan, endi ambulan endi rumah sakit

    Bom roket iku bodho
    Bom roket iku goblok
    ora weruh wong nangis mlayu dhelik ngungsi wedi lan wani urip apa mati

    Bom roket iku wuta
    ora bisa ndeleng lan mbedakake wong sipil lan militer apadene pejuang Hamas

    Nanging.....
    Bom roket iku ora salah
    Bom roket iku ora dosa ora culika
    kabeh hamung karana kadurakan lan kaculikaning manungsa
    kang nggawa lan migunakake bom lan roket
    Cubluke manungsa kang gawe sangsarane dhewe
    manungsa kang dadi budhak ciptaane dhewe

    Cubluke Israel-Palestina kang pada seneng congkrah
    tansah nyipta kasangsarane dhewe
    kabeh-kabeh anduweni sikap egois, anarkhis lan ironis
    ironis marga ngaku theis nanging atheis!


    --------------------------------------------------------------------------

    ZAMAN PALSU

    rambut palsu
    mripat palsu
    untu palsu
    irung palsu
    tangan palsu
    sikil palsu
    jantung palsu

    manungsa saya kumalungkung
    awit bisa mrawasa ciptane Pangeran
    ditekuk dibengkongake dijejekake diganti
    malah diedol ya ana
    ana aspal asli ning palsu

    eketan ewu palsu
    atusan palsu

    kembang palsu
    katresnan palsu
    janji palsu

    obat palsu
    dokter palsu
    dukun palsu
    ijasah palsu
    pengadilan palsu
    demokrasi palsu

    iki zamane zaman sarwa palsu
    sing palsu katon cekli
    sing palsu malah payu

    mbah wonten pundi sejatining kayekten?
    mbah wonten pundi dununging bebener?
    mbah wonten pundi ingkang sejati?
    jare simbah wus ilang digondhol asu!!

    BalasHapus
  16. Nama : Puji Kurniawati
    NIM : 2102408110
    Rombel : 4


    BANJIRE WIS SURUT

    Banjire Wis Surut, kuwi buku kumpulan crita cekak anggitane J. F. X. Hoery, minangka salah siji saka atusan crita cekak kang ditulis wiwit taun 1970-an. Diterbitake dening Sanggar Sastra Pamarsudi Sastra Jawi (Bojonegoro) (PSJB) kanthi kerjasama karo Penerbit Narasi ing taun 2006. Didaftar jroning: ISBN 979-7564-92-4

    Ana 17 crita cekak kang dikumpulaké jroning kumpulan crita cekak iki, yakuwi:

    1. Angin wengi segara kidul, nyritakaké Anto kang lagi mulih saka Cepu menyang tanah klairané ing Pacitan lan patemoné karo Suryati, kenya ayu, putri pakliké dhéwé. (Kapacak ing Kalawarti Jaya Baya tanggal 6 Juli 1975).
    2.Sunar Dewanti, ngisahaké Pak Frans, guru kang ditugasi menyang Kalimantan, banjur kepéncut marang salah siji muridé kang peparab Sunar Dewanti. (Kapacak ing Mekarsari tanggal 1 Desember 1975]).
    3. Banjiré wis surut, crita tragedi si Midun tukang nglumpukaké pasir ing Bengawan Solo. (Kapacak ing Jaya Baya no.49 tanggal 3 Agustus 1975).
    4. Mojang Kamojang, crita roman patemon antarané Istanto karo Kurniasih Mojang Priangan kang nyata sulistya, nalika tugas sing Kawah Kamojang, Garut. (Kapacak ing Mekarsari no.13 tanggal 1 September 1978).
    5. Kasep, (Kapacak ing Mekarsari no. 4 tanggal 15 April 1979).
    6. Dudu salahku. (kapacak ing Jaya Baya no. 65 tanggal 12 Juli 1981).
    7. Panjaluke mbak Widya, (Kapacak ing Jaya Baya taun 1983).
    8. Lien Nio atimu putih. (Kapacak ing Jaya Baya no. 11 tanggal 11 Nopember 1984).
    9. Turis. (Kapacak ing Panjebar Semangat no.7 tanggal 14 Februari 1987).
    10. Gunung Lomo sinaput pedhut. (Kapacak ing Jaya Baya no.51 tanggal 19 Agustus 1990).
    11. Meja kursi. (Kapacak ing Jaya Baya no. 5 tangal 29 September 1996).
    12. Cacat. (Kapacak ing Damar Jati no.19 tanggal 1-15 Desember 2005)
    13. Lamaran. (Kapacak ing Damar Jati no. 25 tanggal 20 Juli 2006).
    14. Titising panyuwun. (Kapacak ing Jaya Baya no. 25 tanggal 17-25 Februari 2002).
    15. Ah!, (Kapacak ing Jaya Baya no. 2 tanggal 8 September 1991).
    16. Tsunami. (Kapacak ing Jaya Baya no. 26 tanggal 22 Maret 2003).
    17. Gambaré ora dadi mas!. (Kapacak ing Jaya Baya no. 02 tanggal 11 September 2005).

    Karya liyané :

    * Pagelaran, kumpulan geguritan.
    * Lintang abyor, antologi karo penulis liya.
    * Kabar saka Tlatah Jati, antologi karo penulis liya :
    * Blangkon, kumpulan crita cekak karo penulis Bojonegoro :
    * Bojonegoro Ing Gurit, kumpulan geguritan karo penggurit Bojonegoro.
    * Sosiawan-Sosiawan Kecil, kumpulan crita anak-anak.
    * Permaisuri Yang Cerdik, crita anak-anak
    * Sejarah Gereja Cepu (buku), bareng tim penulis sejarah gereja Cepu.
    * Sejarah Gereja Katolik Rembang (buku), Rembang
    * Sejarah Gereja Katolik Blora (buku), Blora
    * Sejarah Gereja Katolik Bojonegoro (buku), Bojonegoro
    * Sejarah Gereja Katolik Tuban (buku), Tuban.

    BalasHapus
  17. Khithoh Naeli Pratiwi16 April 2009 23.10

    Nama : Khithoh Naeli Pratiwi
    NIM : 2102408034
    Romb.: 02

    SEBELAS SARASILAH DAN BABAD CARINGIN

    Sarasilah Caringin

    Ini adalah trah dan sarasilah para leluhur di kawasan Caringin yang sejarahnya telah mewarnai corak kehidupan di tempat ini dan kehadirannya dirasakan melalui pengucapan nama penuh hormat serta diketahui melalui segala petilasan peninggalan mereka Berbagai tokoh dan nama keturunan telah hadir di Caringin baik ulama maupun prajurit, orang saleh maupun jawara dari trah Kalijaga dan Ngampel Denta, juga dari darah agung Siliwangi dan tidak ketinggalan pula para pahlawan perkasa dari Mataram disertai dengan banyak para tokoh dari wetan lainnya Mereka semua telah meninggalkan jejaknya di Bumi Caringin yaitu jejak dan tapak yang pantas dipelihara dan diikuti Demikianlah kini akan diuraikan secara rapi berurutan para nenek moyang yang dahulu telah membuat sejarah di kecamatan ini.

    Dari trah Kalijaga datanglah Eyang Sapujagad, yaitu Kyai Langlangbuwana yang menikah dengan Setiyadiningsih atau Hadityaningsih yaitu putri yang di petilasan Cileungsi disebut Kembang Cempaka Putih dan pada petilasan Babakan diberi gelar Dewi Kembang Kuning maka kedua suami istri inilah yang telah menurunkan Kyai Elang Bangalan yang telah datang dan seterusnya menetap di daerah Lemah Duhur.

    Kemudian daripada itu Elang Bangalanpun menurunkan empat orang anak yang tertua adalah Arya Sancang di Garut-Pameungpeuk diikuti oleh Eyang Badigul Jaya Pancawati, Ayah Ursi Pancawati dan Eyang Ragil Pancawati maka ketiga anak yang lebih muda itu turut menjadi cikal bakal Caringin serta meninggalkan kenangan di Pasir Karamat yang diluhurkan.

    Anak tertua Eyang Badigul Jaya adalah Ayah Iming, yaitu Kyai Haji Sulaiman yang makamnya masih dapat ditemukan di Kebun Tajur Anak yang kedua dinamakan Umaenah, yaitu istri Eyang Ranggawulung atau Rangga Agung maka suaminya itulah yang menjadi leluhur di Cimande-Tarik Kolot Anak yang ketiga dinamakan Romiah yang dinikahi oleh Eyang Buyut Umang, yaitu sebagaimana ia disebut di Caringin, karena di Cinagara ia disebut Aki Degle adapun Eyang Buyut Umang itu adalah putra Ki Kastiwa, cucu Ki Kaswita, cicit Suwita, dan turunan pahlawan Jaka Sembung, yaitu suami Roijah gelar Bajing Ireng sedangkan Eyang Buyut Umang sendiri juga telah menurunkan dua orang anak, yaitu Aki Eming yang dipusarakan di makam Gede di Tonggoh dan Aki yang dipusarakan di Cipopokol Hilir, Pasir Muncang Selanjutnya, anak keempat Badigul Jaya adalah Samsiah, yang menikah dengan Aki Kartijan dan anak kelima adalah Amsiah yang menikah dengan Bayureksa yang disebut juga Reksabuwana, yaitu putra Radyaksa, cucu Jayadiningrat dari Mataram ialah pahlawan perkasa yang petilasannya terdapat di Tanjakan Ciherang maka Bayureksa dan Amsiah menurunkan Ki Ranggagading dan Ki Kumpi yang kedua-duanya dimakamkan di kawasan Cigintung-Caringin Akhirnya, anak kelima Aki Badigul Jaya adalah ibu Esah, yang menikah dengan Aki Bangala yaitu putra Aki Jepra atau Ki Kartaran, dan cucu Aki Kahir, tokoh dunia persilatan.

    Selanjutnya, dari trah Raden Rakhmatullah Sunan Ngampel Denta diturunkanlah Ki Karmagada yang menurunkan Ki Karmajaya, yaitu ayahanda Ki Kartawirya yang berasal dari Jampang-Surade dan telah datang ke Lemah Duhur, untuk menetap di Legok Antrem adapun Ki Kartawirya itu disebut pula Haji Akbar ia menurunkan Marunda dan Marunda menurunkan Murtani dan seterusnya Murtani menurunkan Pitung, jago silat dari Rawa Belong.

    Diriwayatkan pula bahwa Ki Kartawirya memiliki istri bernama Nyi Antrem yang namanya telah diabadikan dalam nama Legok Antrem sasaka kami Maka Nyi Antrem itu pun berasal dari satu keturunan dengan suaminya sebab leluhurnya, yaitu Sekh Japarudin, juga berasal dari trah Ngampel Denta Sekh Japarudin menurunkan Ki Kartaji dan Ki Kartaji menurunkan Aji Tapak Ireng selanjutnya Aji Tapak Ireng menurunkan lima orang anak Pertama adalah Aji Wisa Ireng yang juga disebut Haji Aleman Kedua Aji Wisa Kuning, ketiga mbah Ambani, keempat Ki Anom dan kelima ibu Ucu yang diperistri oleh Ayah Haji Abdul Somad, leluhur di Cimande-Tarik Kolot Keluarga dan turunan inilah yang menjadi asal-usul masyarakat di Curuk Dengdeng maka dari Aji Wisa Irenglah ibu Antrem diturunkan ke dunia yaitu ibu Antrem yang telah dipusarakan di kawasan Legok Antrem.

    Adapun Ki Karmagada juga menurunkan anak lelaki adik Ki Karmajaya yang kemudian menurunkan Ki Jaka Kadir, yaitu tokoh yang dipusarakan di Leuweung Ki Maun, yang terletak di atas Legok Antrem Seterusnya Ki Jaka Kadir menurunkan Ki Jaka Bledek, leluhur kampung Bendungan di Kampung Tajur Demikianlah itu tentang para leluhur dan pendahulu yaitu mereka semua yang berasal dari trah Ngampel Denta.

    Seterusnya sebagaimana diriwayatkan oleh mereka yang mengerti sejarah mengalir pula darah leluhur Siliwangi pada diri para leluhur di Caringin mewarnai jalan kehidupan masyarakat dan memancarkan kesejatian rasa membangkitkan kesucian sikap dan menaikkan kebajikan laku Maka inilah keluarga para jawara yang menghubungkan Siliwangi dan Caringin menghubungkan masa lalu dan masa kini serta mengarahkan masa depan.

    Sang Ratu Jaya Dewata Prabu Siliwangi menikah dengan Nyi Ratu Subangkarancang dan menurunkan tiga orang anak, yaitu dua orang lelaki dan seorang wanita anak yang tertua adalah Pangeran Arya Santang, Panembahan Cakrabuwana anak yang kedua adalah Nyi Rara Santang ibunda Syarif Hidayatulah dan anak yang ketiga adalah Kian Santang atau Prabu Sagara atau Sunan Rakhmat Suci di gunung Godog yang disebut Sekh Kuncung Putih di Cibadak-Pangasahan maka ia itulah leluhur seorang tokoh bernama Elang Sutawinata.

    Adapun Elang Sutawinata yang disebut di atas menurunkan tujuh orang anak pertama adalah Jaka Sembung yang menikah dengan Roijah gelar Bajing Ireng kedua adalah Jaya Perkosa yang menjadi patih Prabu Geusan Ulun di Sumedang Larang seorang istrinya bernama Mulantri dan salah seorang anaknya pernah hadir di Caringin yaitu yang disebut Aki Palasara, disebut Aki Kabayan, disebut Ki Jambrong yang memiliki petilasan di Kebon Tajur, di atas Legok Antrem, lalu di Legok Jambrong dan juga memiliki petilasan di Legok Batang, di kawasan Citaman, di desa Tangkil Selanjutnya anak ketiga Elang Sutawinata adalah Aki Kahir yang nama-nama dan petilasan-petilasannya akan diuraikan di bawah anak keempat adalah Eyang Ranggawulung leluhur di Tarik Kolot anak kelima Aki Dato di Bantar Jati dan Pondok Pinang anak keenam Sekh Sake di petilasan di Citeureup dan anak ketujuh Pangeran Papag yang menikah dengan Sari(w)uni, putri Ki Hambali.

    Sembilan nama dan sembilan petilasan dimiliki anak ketiga Elang Sutawinata Aki Kahir di Bogor-Tanah Sareal, Sekh Majagung di Cirebon Pangeran Jayasakti di Batu Tulis, Gentar Bumi di Pelabuhan Ratu Aki Euneur di Pangasahan, Cikidang, Cipetir dan Eyang Kartasinga-Wirasinga di Tarik Kolot Aki Dalem Macan di Citeureup, Eyang Pasareyan di Cidahu, Cibening, Ciampea dan yang kesembilan dan terakhir adalah Ki Jambrong di Cirebon.

    Maka Aki Kahir menurunkan anak lelaki bernama Ki Kartaran yang berganti sebutan menjadi Ki Jepra sekembalinya dari pertempuran di Tegal Jepara ia dipusarakan pada dua petilasan di dua tempat sebuah di Kebun Raya Bogor dan sebuah lagi berupa makam putih di Cimande Hilir Ia menurunkan empat orang anak, seorang lelaki dan tiga orang wanita yang tertua adalah Aki Bangala yang menikah dengan uwak Esah yang kedua dalah Nini Sarinem di Ciherang-Limus Nunggal disebut Sri Asih di Cirebon dan Nini Sarem di Cileungsi suaminya adalah Kyai Ajiwijaya dari Plered-Purwakarta yang ketiga adalah Nini Sayem di Ciherang-Limus Nunggal yang menikah dengan Ki Puspa dari Cirebon yaitu tokoh yang dihubungkan dengan Kuda Puspagati dari petilasan Pasir Kuda di Lemah Duhur dan yang keempat adalah Nini Sarimpen di Garut yaitu istri Banaspati, seorang panglima Panembahan Sabakingkin dari Banten.

    Selanjutnya dikisahkan pula bahwa Rangga Wulung, anak keempat Elang Sutawinata menurunkan lima orang anak yang masing-masing disebut sebagai berikut:

    Aki Ondang, Aki Buyut, Aki Anom, Aki Suma dan Aki Ace dan diriwayatkan pula bahwa ketika Eyang Rangga Wulung memasuki Caringin ia diiringi oleh Ajengan Kuningan dan Ki Age yang keduanya dimakamkan di Kebun Tajur, di sebelah atas Legok Antrem Kemudian daripada itu berniatlah kami kini untuk mengurutkan garis keturunan Arifin yaitu seorang rekan pengawas di Bina Kertajaga Siliwangi Anom baik dari garis ayahnya maupun dari garis ibundanya.

    Para leluhur dari pihak ibunya adalah sebagai berikut:

    Elang Sutawinata menurunkan Ranggawulung, yang menurunkan Ki Ace, yang kemudian menurunkan Ayah Haji Abdul Somad, yang kemudian menurunkan Haji Ajid, yang menurunkan Hajjah Kuraisin, istri Ki Lurah Uji, yang menurunkan ibu Enen, anak angkat Haji Atap, istri bapak Ubeh Subandi.

    Sedangkan para leluhur dari pihak ayahnya adalah sebagai berikut:

    Elang Sutawinata menurunkan Aki Kahir, yang menurunkan Ki Jepra, yang kemudian menurunkan Nini Sayem di Limus Nunggal Selanjutnya Nini Sayem menurunkan Ki Rasiun, yang menurunkan Ki Sarian, yang menurunkan Ki Jaian dan Ki Jaiin Seterusnya Ki Jaiin menurunkan Ki Haji Muat yang menurunkan Ki Kaeji Haji Akhmali, yang dahulu memiliki Legok Antrem dan juga mendirikan persatuan pencak silat Hibar Karuhun Maka Haji Akhmali itu dahululah yang membawa pengaruh Tarik Kolot ke sekitar desa Cikalang dan dia adalah ayah Ki Haji Barnas, bapak Ubeh Subandi dan adik-adiknya Selanjutnya, dari Cikalang di desa Caringin kami mengalihkan uraian ke pemakaman tua di desa Cinagara, yang terletak dibawah pohon rindang di situ disemayamkan Mbah Dalem Cinagara dan Mbah Dalem Asihan, istrinya Seseorang meriwayatkan kepada kami tentang Mbah Dalem yang dikatakan berasal dari Jawa Timur dan disebut dengan nama Eyang Adeg Daha tetapi seseorang lainnya mengisahkan silsilah Mbah Dalem sebagai berikut:

    Dari trah Brawijaya, melalui trah Kalijaga diturunkan Raden Tresna yang disebut juga Pandewulung dari Kudus Ia menurunkan Sekh Japarudin dari Mataram yang menurunkan Sekh Sekh Abdul Muhi dari Pamijahan yang selanjutnya menurunkan Sekh Mohammad Abdul Sobirin, yaitu Mbah Dalem Cinagara pepunden masyarakat di Dukuh Kawung.

    Demikianlah itu Sarasilah Caringin sebagaimana telah diuraikan oleh Ki Jumanta dari Cikodok, yang sangat tekun mendalami sejarah sekarang diurutkan pula nama-nama tempat dan desa tempat para Karuhun di pusarakan dalam damai.

    Di Lemah Duhur dan Pancawati:

    Eyang Kartasinga, Ki Sarian dan Ki Rasiun di Tarik Kolot.

    Eyang Ranggawulung dan putra-putranya, beserta ayah Haji Abdul Somad di Tarik Kolot.

    Eyang Badigul Jaya, ayah Ursi dan Eyang Ragil di Pancawati.

    Eyang Rasiyem di Legok Mahmud.

    Aki Anyar dan Nini Siti Mastiyah di Tanjakan Saodah.

    Pangeran Jayakarta, putra Wijayakrama, yang memiliki petilasan di Pulo Gadung, berputra Eyang.

    Sagiri, yang petilasannya terdapat di Bojong Katon.

    Eyang Bangalan di Cikodok, Kampung Legok.

    Ki Jaka Kadir dan Ki Jaka Bledek di Legok Antrem.

    Nyi Antrem dan Ki Kartawirya di Legok Jambrong.

    Ajengan Kuningan, Haji Sulaiman ayah Iming, uwak Esah anak Badigul Jaya, Aki Age, Setyawati Kusumah dari Mataram dan Ki Jambrong anak Jaya Perkosa, semuanya di Kebun Tanjur.

    Di Cimahi Jaya:

    Tidak ada yang tercatat telah dipusarakan di tempat ini.

    Di Pancawati:

    Aki Ariyam dan Ki Suwita di Legok Nyenang.

    Di Ciherang Pondok:

    Nini Amsiah di tengah kawasan desa.

    Haji Abdul Kohar atau Mbah Ageng di perbatasan Ciawi.

    Nini Sarinem di Blitung-Cikeretek.

    Hadikusuma, putra Tubagus Gelondong di Cibolang.

    Di Muara Jaya:

    Batara Kresna, Aki Arya Kusuma di Rawayan.

    Adipati Wirasembada di Kampung Nyenang, dan mbah Muhi.

    Di Pasir Muncang:

    Aki Wirakerta dari Kuningan, Nini Antri, putri Ki Anyar, cucu Sekh Asnawi di Cipopokol Girang.

    Aki Aliyun di Cipopokol Hilir.

    Suryadiningrat, cucu Sekh Malik Ibrahim di Ciburial.

    Di Cinagara:

    Raden Suryapadang di Kampung Curuk Kalong.

    Mbah Dalem Cinagara dan Mbah Dalem Asihan di Dukuh Kawung.

    Di Tangkil:

    Aki Degel, Haji Muid, dan Ni Jabon, istri Suryadiningrat di Kampung Loji.

    Nini Rasa dan Ki Jambrong di Legok Batong, yang juga disebut Aki Palasara.

    Di Pasir Buncir:

    Batara Karang atau Pangeran Jayataruna dari Ponorogo.

    Di Ciderum:

    Bango Samparan dari Ponorogo, kakak dalang Asmorondono, dan Ki Kastiwa.

    Di Caringin:

    Galuh Pakuan atau Walasungsang atau Cakrabuwana; Ki Kartaji; Aji Tapak Ireng; Aji Wisa Ireng, dan Aji

    Wisa Kuning di Kampung Curuk Dendeng.

    Ki Umang, Aki Ranggading, dan Ki Kumpi di Cigintung.

    Di Cimande Hilir:

    Reksabuwana atau Bayureksa di tanjakan Ciberang, dan Eyang Bangala.

    Demikianlah selesai kami urutkan

    sarasilah, nama tokoh dan petilasan di Caringin

    Babad Caringin

    Ucapkanlah Asma Yang Maha Agung di Pasir Karamat kagumilah alam pada batu besar di Pancawati hormatilah peninggalan yang sangat tua di Pasir Kuda bersemadilah pada goa dengan air terjun di jurang Citaman pergilah menapak tilas kelima tempat Siliwangi di sepanjang Cisalada hingga ke Curuk Merot pelajarilah warisan Cimande pada guru yang rendah hati Kunjungilah Bumi Kawastu untuk merundingkan perjuangan datanglah ke Legok Antrem untuk mempererat persaudaraan dan dengarkanlah dengan teliti isi kisah babad Caringin yaitu Caringin Kurung dari masa lalu dan Caringin Kurung dari masa yang akan datang Kemudian dengan tekad membaja dan semangat membantu negara bersama-sama mengucapkan manggala, sebagaimana telah disusun di Sasaka Antrem:

    “Kertajaga Bumi Kawastu, Mugi rahayu di Legok Antrem, Mugi jaya di Tegal Laga, Mejangkeun teras hibar Karuhun”

    Semoga semua rela menata dengan jujur, Semoga memperoleh harta rohani dalam bejana budi pekerti yang mendatangkan ketentraman, yang mendatangkan kesejahteraan.

    Inilah riwayat babad Caringin, babad yang telah disampaikan dari yang tua kepada yang muda:

    Dari ketinggian di Sasaka Jati Pasir Karamat memandang ke bumi Pakuan memohon dan memperoleh terang batin: “Surya Padang Caang Narawangan” menghargai dengan hormat Bukit Baduga di Rancamaya menyaksikan dengan kagum Mandala Keratuan di Batu Tulis melayangkan pikiran ke Watu Gigilang, yang kini terletak di negeri Banten meneliti perjalanan sejarah di dataran yang berada di antara kedua gunung.

    Di sini pernah terjadi gejolak dan gemuruh peperangan ketika terdengar kabar berlangsungnya perang antara Pajajaran dan Banten juga ketika kemudian tentara Banten meliwati daerah menuju Cikundul untuk menyerbu Begitu pula para prajurit, perwira dan tokoh-tokoh persilatan yang turut mengalami api perubahan jaman dan bergantinya masa; seterusnya menanamkan ciri dan corak keperkasaan ketika bermukim di Caringin membanggakan keberanian dan kejantanan di samping ketakwaan dan kesalehan yaitu semangat keprajuritan sebagaimana terkandung dalam sasmita-kata:

    “Bojong Katon Pasir Bedil Lemah Duhur Pangapungan Pancawati Denda”

    Ratusan tahun yang lalu berdiri sebuah tangsi tentara Mataram yaitu di tempat yang sekarang disebut Pasar Caringin yaitu pada jalan yang menuju ke Maseng, Pasir Bogor, lalu Cihideung dan Kota Bogor Jauh sebelum jalan mulai menanjak dan berbelok-belok di situlah bersemayam Tumenggung Wiranegara pemimpin pasukan dari wetan yang gagah perkasa yang sedang berusaha keras menahan pengaruh dari kota di utara sebagai perwira Mataram dan sebagai kusuma bangsa sebagai tokoh perjuangan yang tak lelah berkarya.

    Kapan dan bagaimana para perwira Mataram tiba tentunya ditanyakan peristiwanya oleh banyak orang walaupun benar dan tidaknya itu masih sulit ditentukan tetapi beberapa bukti menunjukkannya sebagai kemungkinan.

    Pada tahun 1628 dan 1629 tentara Mataram dan Sunda datang menyerbu kedudukan Belanda di Negeri Betawi pada kedua peristiwa itu mereka akhirnya dipukul mundur Karena kalahnya persenjataan dan terbakarnya gudang-gudang makanan ingin kembali ke timur jalan laut terhalang armada kompeni maka terpaksa mengambil jalan darat di sepanjang pegunungan tengah pada peristiwa itulah mereka meninggalkan nama dan bekas.

    Rawa Bangke tempat gugurnya ribuan pasukan Matraman tempat mereka bermukim beberapa lama Ragunan yang bukan tidak mungkin berasal dari nama Wiragunan lalu adanya beberapa makam dan petilasan Kuno di Caringin seperti Bayurekso-Reksobuwono di tanjakan Ciherang ia di pusarakan dan ia disebut sebagai anak Radyaksa, cucu Jayadiningrat dari Kartasura.

    Kembali kepada periwayatan babad Caringin Kurung katanya tangsi tentara Mataram itu dikurung tembok dan di dalamnya ditanam pohon Caringin atau Beringin yang dengan demikian melahirkan nama Caringin Kurung Menurut kisahnya tempat itu pernah digadaikan kepada Belanda yang menolak untuk menyerahkan kembali ketika hendak ditebus karena itu muncul sengketa yang berkepanjangan yang akhirnya pecah menjadi suatu pertempuran panjang.

    Semua kekuatan pribumi baik yang gaib maupun nyata dikerahkan untuk merebut Caringin Kurung dan mengembalikan hak Wiranegara dari kampung Gembrong di belakang Maseng Arya Wiryakusuma membantu juga Suryakancana yang di luhurkan di kabupatian Bogor di Pasir Muncang-Muara Jaya tegak berdiri Batara Kresna Ki Kartaji, Aji Tapak Ireng dan Aji Wisa Ireng di Curuk Dengdeng tidak ketinggalan pula Galuh Pakuan yang dihadirkan untuk memperkuat seluruh pasukan-pasukan pribumi Jaka Kadir dan Jaka Bledek menahan jalan di Legok Antrem Eyang Bangala di Cimande Hilir, Ranggawulung di Pancawati serta Aki Ranggagading dan Ki Kumpi di Cigintung-Caringin hanya satu tokoh pribumi memilih untuk memihak Belanda yaitu Hadikusuma, putra Tubagus Gelondong, di Cikeretek-Cibolang Dalam adu senjata di hibar Caringin pada medan laga di bumi Pakuan itu karena kehendak Yang Maha Kuasa pasukan pribumi tak berhasil mencapai maksudnya Bersama dengan perjalanan waktu yang mengikis dunia kebendaan lenyap pula tempat dilingkup tembok dimana terdapat pohon beringin itu tetapi rupanya tetap dikenang lalu dilontarkan ke masa depan dijadikan ramalan melalui kata-kata orang tua :

    “Lamun geus ngadeg Caringin Kurung, didieu bakal rame, didieu bakal makmur”

    Demikianlah babad Caringin Kurung menurut penuturan Ki Jumanta benar tidaknya kiranya hanyalah Tuhan yang mengetahui tetapi satu hal saja hendaknya jangan dilupakan oleh para pewaris ini adalah tanah perjuangan, tanah keperwiraan dan tanah keperkasaan Ini adalah tanah orang yang beribadah, bekerja keras dan membangun kemuliaan Karena itu bangkitlah untuk Caringin, untuk tanah air dan untuk masa depan.

    BalasHapus
  18. Khithoh Naeli Pratiwi16 April 2009 23.26

    Nama : Khithoh Naeli Pratiwi
    NIM : 2102408034
    Rombel 02

    Rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat Pangruwa Ting Diyu.

    Dalam lakon wayang Purwa, kisah Ramayana bagian awal diceritakan asal muasal keberadaan Dasamuka atau Rahwana tokoh raksasa yang dikenal angkara murka, berwatak candala dan gemar menumpahkan darah. Dasamuka lahir dari ayah seorang Begawan sepuh sakti linuwih gentur tapanya serta luas pengetahuannya yang bernama Wisrawa dan ibu Dewi Sukesi yang berparas jelita tiada bandingannya dan cerdas haus ilmu kesejatian hidup. Bagaimana mungkin dua manusia sempurna melahirkan raksasa buruk rupa dan angkara murka ? Bagaimana mungkin kelahiran “ sang angkara murka “ justru berangkat dari niat tulus mempelajari ilmu kebajikan yang disebut Serat Sastrajendra.

    Ilmu untuk Meraih Sifat Luhur Manusia.

    Salah satu ilmu rahasia para dewata mengenai kehidupan di dunia adalah Serat Sastrajendra. Secara lengkap disebut Serat Sastrajendrahayuningrat Pangruwatingdiyu. Serat = ajaran, Sastrajendra = Ilmu mengenai raja. Hayuningrat = Kedamaian. Pangruwating = Memuliakan atau merubah menjadi baik. Diyu = raksasa atau keburukan. Raja disini bukan harfiah raja melainkan sifat yang harus dimiliki seorang manusia mampu menguasai hawa nafsu dan pancainderanya dari kejahatan. Seorang raja harus mampu menolak atau merubah keburukan menjadi kebaikan. Pengertiannya bahwa Serat Sastrajendra adalah ajaran kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk merubah keburukan mencapai kemuliaan dunia akhirat. Ilmu Sastrajendra adalah ilmu makrifat yang menekankan sifat amar ma’ruf nahi munkar, sifat memimpin dengan amanah dan mau berkorban demi kepentingan rakyat.

    Gambaran ilmu ini adalah mampu merubah raksasa menjadi manusia. Dalam pewayangan, raksasa digambarkan sebagai mahluk yang tidak sesempurna manusia. Misal kisah prabu Salya yang malu karena memiliki ayah mertua seorang raksasa. Raden Sumantri atau dikenal dengan nama Patih Suwanda memiliki adik raksasa bajang bernama Sukrasana. Dewi Arimbi, istri Werkudara harus dirias sedemikian rupa oleh Dewi Kunti agar Werkudara mau menerima menjadi isterinya. Betari Uma disumpah menjadi raksesi oleh Betara Guru saat menolak melakukan perbuatan kurang sopan dengan Dewi Uma pada waktu yang tidak tepat. Anak hasil hubungan Betari Uma dengan Betara Guru lahir sebagai raksasa sakti mandra guna dengan nama “ Betara Kala “ (kala berarti keburukan atau kejahatan). Sedangkan Betari Uma kemudian bergelar Betari Durga menjadi pengayom kejahatan dan kenistaan di muka bumi memiliki tempat tersendiri yang disebut “ Kayangan Setragandamayit “. Wujud Betari Durga adalah raseksi yang memiliki taring dan gemar membantu terwujudnya kejahatan.

    Melalui ilmu Sastrajendra maka simbol sifat sifat keburukan raksasa yang masih dimiliki manusia akan menjadi dirubah menjadi sifat sifat manusia yang berbudi luhur. Karena melalui sifat manusia ini kesempurnaan akal budi dan daya keruhanian mahluk ciptaan Tuhan diwujudkan. Dalam kitab suci disebutkan bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna. Bahkan ada disebutkan, Tuhan menciptakan manusia berdasar gambaran dzat-Nya. Filosof Timur Tengah Al Ghazali menyebutkan bahwa manusia seperti Tuhan kecil sehingga Tuhan sendiri memerintahkan para malaikat untuk bersujud. Sekalipun manusia terbuat dari dzat hara berbeda dengan jin atau malaikat yang diciptakan dari unsur api dan cahaya. Namun manusia memiliki sifat sifat yang mampu menjadi “ khalifah “ (wakil Tuhan di dunia).

    Namun ilmu ini oleh para dewata hanya dipercayakan kepada Wisrawa seorang satria berwatak wiku yang tergolong kaum cerdik pandai dan sakti mandraguna untuk mendapat anugerah rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat Diyu.
    Ketekunan, ketulusan dan kesabaran Begawan Wisrawa menarik perhatian dewata sehingga memberikan amanah untuk menyebarkan manfaat ajaran tersebut. Sifat ketekunan Wisrawa, keihlasan, kemampuan membaca makna di balik sesuatu yang lahir dan kegemaran berbagi ilmu. Sebelum “ madeg pandita “ ( menjadi wiku ) Wisrawa telah lengser keprabon menyerahkan tahta kerajaaan kepada sang putra Prabu Danaraja. Sejak itu sang wiku gemar bertapa mengurai kebijaksanaan dan memperbanyak ibadah menahan nafsu duniawi untuk memperoleh kelezatan ukhrawi nantinya. Kebiasaan ini membuat sang wiku tidak saja dicintai sesama namun juga para dewata.

    Sifat Manusia Terpilih.

    Sebelum memutuskan siapa manusia yang berhak menerima anugerah Sastra Jendra, para dewata bertanya pada sang Betara Guru. “ Duh, sang Betara agung, siapa yang akan menerima Sastra Jendra, kalau boleh kami mengetahuinya. “
    Bethara guru menjawab “ Pilihanku adalah anak kita Wisrawa “. Serentak para dewata bertanya “ Apakah paduka tidak mengetahui akan terjadi bencana bila diserahkan pada manusia yang tidak mampu mengendalikannya. Bukankah sudah banyak kejadian yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua”
    Kemudian sebagian dewata berkata “ Kenapa tidak diturunkan kepada kita saja yang lebih mulia dibanding manusia “.

    Seolah menegur para dewata sang Betara Guru menjawab “Hee para dewata, akupun mengetahui hal itu, namun sudah menjadi takdir Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa ilmu rahasia hidup justru diserahkan pada manusia. Bukankah tertulis dalam kitab suci, bahwa malaikat mempertanyakan pada Tuhan mengapa manusia yang dijadikan khalifah padahal mereka ini suka menumpahkan darah“. Serentak para dewata menunduk malu “ Paduka lebih mengetahui apa yang tidak kami ketahui”
    Kemudian, Betara Guru turun ke mayapada didampingi Betara Narada memberikan Serat Sastra Jendra kepada Begawan Wisrawa.

    “ Duh anak Begawan Wisrawa, ketahuilah bahwa para dewata memutuskan memberi amanah Serat Sastra Jendra kepadamu untuk diajarkan kepada umat manusia”
    Mendengar hal itu, menangislah Sang Begawan “ Ampun, sang Betara agung, bagaimana mungkin saya yang hina dan lemah ini mampu menerima anugerah ini “.
    Betara Narada mengatakan “ Anak Begawan Wisrawa, sifat ilmu ada 2 (dua). Pertama, harus diamalkan dengan niat tulus. Kedua, ilmu memiliki sifat menjaga dan menjunjung martabat manusia. Ketiga, jangan melihat baik buruk penampilan semata karena terkadang yang baik nampak buruk dan yang buruk kelihatan sebagai sesuatu yang baik. “ Selesai menurunkan ilmu tersebut, kedua dewata kembali ke kayangan.
    Setelah menerima anugerah Sastrajendra maka sejak saat itu berbondong bondong seluruh satria, pendeta, cerdik pandai mendatangi beliau untuk minta diberi wejangan ajaran tersebut. Mereka berebut mendatangi pertapaan Begawan Wisrawa melamar menjadi cantrik untuk mendapat sedikit ilmu Sastra Jendra. Tidak sedikit yang pulang dengan kecewa karena tidak mampu memperoleh ajaran yang tidak sembarang orang mampu menerimanya. Para wiku, sarjana, satria harus menerima kenyataan bahwa hanya orang orang yang siap dan terpilih mampu menerima ajarannya.

    Nun jauh, negeri Ngalengka yang separuh rakyatnya terdiri manusia dan separuh lainnya berwujud raksasa. Negeri ini dipimpin Prabu Sumali yang berwujud raksasa dibantu iparnya seorang raksasa yang bernama Jambumangli. Sang Prabu yang beranjak sepuh, bermuram durja karena belum mendapatkan calon pendamping bagi anaknya, Dewi Sukesi. Sang Dewi hanya mau menikah dengan orang yang mampu menguraikan teka teki kehidupan yang diajukan kepada siapa saja yang mau melamarnya. Sebelumnya harus mampu mengalahkan pamannya yaitu Jambumangli. Beribu ribu raja, wiku dan satria menuju Ngalengka untuk mengadu nasib melamar sang jelita namun mereka pulang tanpa hasil. Tidak satupun mampu menjawab pertanyaan sang dewi. Berita inipun sampailah ke negeri Lokapala, sang Prabu Danaraja sedang masgul hatinya karena hingga kini belum menemukan pendamping hati. Hingga akhirnya sang Ayahanda, Begawan Wisrawa berkenan menjadi jago untuk memenuhi tantangan puteri Ngalengka.

    Pertemuan Dua Anak Manusia.

    Berangkatlah Begawan Wisrawa ke Ngalengka, hingga kemudian bertemu dengan dewi Suksesi. Senapati Jambumangli bukan lawan sebanding Begawan Wisrawa, dalam beberapa waktu raksasa yang menjadi jago Ngalengka dapat dikalahkan. Tapi hal ini tidak berarti kemenanmgan berada di tangan. Kemudian tibalah sang Begawan harus menjawab pertanyaan sang Dewi. Dengan mudah sang Begawan menjawab pertanyaan demi pertanyaan hingga akhirnya, sampailah sang dewi menanyakan rahasia Serat Sastrajendra. Sang Begawan pada mulanya tidak bersedia karena ilmu ini harus dengan laku tanpa “ perbuatan “ sia sialah pemahaman yang ada. Namun sang Dewi tetap bersikeras untuk mempelajari ilmu tersebut, toh nantinya akan menjadi menantunya.

    Luluh hati sang Begawan, beliau mensyaratkan bahwa ilmu ini harus dijiwai dengan niat luhur. Keduanya kemudian menjadi guru dan murid, antara yangf mengajar dan yang diajar. Hari demi hari berlalu keduanya saling berinteraksi memahamkan hakikat ilmu. Sementara di kayangan, para dewata melihat peristiwa di mayapada. “ Hee, para dewata, bukankah Wisrawa sudah pernah diberitahu untuk tidak mengajarkan ilmu tersebut pada sembarang orang “.

    Para dewata melaporkan hal tersebut kepada sang Betara Guru. “ Bila apa yang dilakukan Wisrawa, bisa nanti kayangan akan terbalik, manusia akan menguasai kita, karena telah sempurna ilmunya, sedangkan kita belum sempat dan mampu mempelajarinya “.

    Sang Betara Guru merenungkan kebenaran peringatan para dewata tersebut. “ tidak cukup untuk mempelajari ilmu tanpa laku, Serat Sastrajendra dipagari sifat sifat kemanusiaan, kalau mampu mengatasi sifat sifat kemanusiaan baru dapat mencapai derajat para dewa. “ Tidak lama sang Betara menitahkan untuk memanggil Dewi Uma.untuk bersama menguji ketangguhan sang Begawan dan muridnya.
    Hingga sesuatu ketika, sang Dewi merasakan bahwa pria yang dihadapannya adalah calon pendamping yang ditunggu tunggu. Biar beda usia namun cinta telah merasuk dalam jiwa sang Dewi hingga kemudian terjadi peristiwa yang biasa terjadi layaknya pertemuan pria dengan wanita. Keduanya bersatu dalam lautan asmara dimabukkan rasa sejiwa melupakan hakikat ilmu, guru, murid dan adab susila. Hamillah sang Dewi dari hasil perbuatan asmara dengan sang Begawan. Mengetahui Dewi Sukesi hamil, murkalah sang Prabu Sumali namun tiada daya. Takdir telah terjadi, tidak dapat dirubah maka jadilah sang Prabu menerima menantu yang tidak jauh berbeda usianya.

    Tergelincir Dalam Kesesatan.

    Musibah pertama, terjadi ketika sang senapati Jambumangli yang malu akan kejadian tersebut mengamuk menantang sang Begawan. Raksasa jambumangli tidak rela tahta Ngalengka harus diteruskan oleh keturunan sang Begawan dengan cara yang nista. Bukan raksasa dimuliakan atau diruwat menjadi manusia. Namun Senapati Jambumangli bukan tandingan, akhirnya tewas ditangan Wisrawa. Sebelum meninggal, sang senapati sempat berujar bahwa besok anaknya akan ada yang mengalami nasib sepertinya ditewaskan seorang kesatria.

    Musibah kedua, Prabu Danaraja menggelar pasukan ke Ngalengka untuk menghukum perbuatan nista ayahnya. Perang besar terjadi, empat puluh hari empat puluh malam berlangsung sebelum keduanya berhadapan. Keduanya berurai air mata, harus bertarung menegakkan harga diri masing masing. Namun kemudian Betara Narada turun melerai dan menasehati sang Danaraja. Kelak Danaraja yang tidak dapat menahan diri, harus menerima akibatnya ketika Dasamuka saudara tirinya menyerang Lokapala.

    Musibah ketiga, sang Dewi Sukesi melahirkan darah segunung keluar dari rahimnya kemudian dinamakan Rahwana (darah segunung). Menyertai kelahiran pertama maka keluarlah wujud kuku yang menjadi raksasi yang dikenal dengan nama Sarpakenaka. Sarpakenaka adalah lambang wanita yang tidak puas dan berjiwa angkara, mampu berubah wujud menjadi wanita rupawan tapi sebenarnya raksesi yang bertaring. Kedua pasangan ini terus bermuram durja menghadapi musibah yang tiada henti, sehingga setiap hari keduanya melakukan tapa brata dengan menebus kesalahan. Kemudian sang Dewi hamil kembali melahirkan raksasa kembali. Sekalipun masih berwujud raksasa namun berbudi luhur yaitu Kumbakarna.

    Akhir Yang Tercerahkan.

    Musibah demi musibah terus berlalu, keduanya tidak putus putus memanjatkan puaj dan puji ke hadlirat Tuhan yang Maha Kuasa. Kesabaran dan ketulusan telah menjiwa dalam hati kedua insan ini. Serat Sastrajendra sedikit demi sedikit mulai terkuak dalam hati hati yang telah disinari kebenaran ilahi. Hingga kemudian sang Dewi melahirkan terkahir kalinya bayi berwujud manusia yang kemudian diberi nama Gunawan Wibisana. Satria inilah yang akhirnya mampu menegakkan kebenaran di bumi Ngalengka sekalipun harus disingkirkan oleh saudaranya sendiri, dicela sebagai penghianat negeri, tetapi sesungguhnya sang Gunawan Wibisana yang sesungguhnya yang menyelamatkan negeri Ngalengka. Gunawan Wibisana menjadi simbol kebenaran mutiara yang tersimpan dalam Lumpur namun tetap bersinar kemuliaannya. Tanda kebenaran yang tidak larut dalam lautan keangkaramurkaan serta mampu mengalahkan keragu raguan seprti terjadi pada Kumbakarna. Dalam cerita pewayangan, Kumbakarna dianggap tidak bisa langsung masuk suargaloka karena dianggap ragu ragu membela kebenaran.

    Melalui Gunawan Wibisana, bumi Ngalengka tersinari cahaya ilahi yang dibawa Ramawijaya dengan balatentara jelatanya yaitu pasukan wanara (kera). Peperangan dalam Ramayana bukan perebutan wanita berwujud cinta namun pertempuran demi pertempuran menegakkan kesetiaan pada kebenaran yang sejati.

    BalasHapus
  19. oleh Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa angkatan 2008 Dwiana Asih Wiranti / 2102408049 Agi Kustri Juniawan / 2102408050 Swadayani Nurlela / 2102408051 Siti Mutmainah / 2102408070 Amrih Setiowati / 2102408083 Dwi Retno Ayu Widyastuti / 2102408088 Riska Alviani / 2102408111 Melia Indriani / 2102408120 Ulfatul Faiqoh / 210240812115 Mei 2009 00.58

    Perjalanan Kepengarangan
    Sastra Jawa Modern Prakemerdekan
    oleh Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa angkatan 2008
    Dwiana Asih Wiranti / 2102408049
    Agi Kustri Juniawan / 2102408050
    Swadayani Nurlela / 2102408051
    Siti Mutmainah / 2102408070
    Amrih Setiowati / 2102408083
    Dwi Retno Ayu Widyastuti / 2102408088
    Riska Alviani / 2102408111
    Melia Indriani / 2102408120
    Ulfatul Faiqoh / 2102408121

    Sastra Jawa Modern muncul setelah pengaruh penjajah Belanda dan semakin terasa di Pulau Jawa sejak abad kesembilan belas Masehi. Para cendekiawan Belanda memberi saran para pujangga Jawa untuk menulis cerita atau kisah mirip orang Barat dan tidak selalu berdasarkan mitologi, cerita wayang, dan sebagainya. Maka, lalu muncullah karya sastra seperti di Dunia Barat; esai, roman, novel, dan sebagainya. Genre yang cukup populer adalah tentang perjalanan.
    Gaya bahasa pada masa ini masih mirip dengan Bahasa Jawa Baru. Perbedaan utamanya ialah semakin banyak digunakannya kata-kata Melayu, dan juga kata-kata Belanda. Pada masa ini (tahun 1839, oleh Taco Roorda) juga diciptakan huruf cetak berdasarkan aksara Jawa gaya Surakarta untuk Bahasa Jawa, yang kemudian menjadi standar di pulau Jawa.
    http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Jawa_Baru#Daftar_Cuplikan_Karya_Sastra_Jawa_Baru
    Sastra Jawa Modern berawal pada abad 19 yaitu pada masa kolonial Belanda. Saat itu berdirilah Lembaga Bahasa Jawa (Instituut Voor de Javaansche Taal) di Surakarta (1832) sebagai tempat pusat kajian bahasa dan naskah-naskah Jawa, Breda (1836) di Belanda dan Dellf (1843) di Swis. Kegiatan sastra yang dilakukan lembaga-lembaga tersebut yaitu menyiapkan bahan-bahan ajar berupa naskah. Naskah tersebut berbentuk prosa yang digubah dari karya-karya klasik menjadi karya baru (Tirto Suwondo, dkk: Antologi Biografi PENGARANG SASTRA JAWA MODERN, hal. 1).
    Awal perkembangan Sastra Jawa hanya terbatas pada naskah yang sederhana, barulah pada awal abad ke-20 berkembang dongeng / protonovel. Bahasa Jawa semakin berkembang dengan adanya Komisi Bacaan Sekolah dan Bacaan Rakyat pada 1908 (Pada 1917 komisi ini berubah menjadi Balai Pustaka. Namun sumber lain menyatakan bahwa pemindah namaan Balai Pustaka terjadi pada tahun 1911).
    Beberapa Pelopor Sastra Jawa Modern
    1.Ronggawarsito
    Tokoh penting pada perkaembangan susastra Jawa Modern. Beliau adalah seorang pegawai negara yang kerap bersinggungan erat dengan pemerintahan barat pada masa itu. Kedekatannya dengan orang-orang barat itulah yang akhirnya membuka pikirannya untuk menulis bentuk tulisan baruseperti sastra-sastra orang barat misalnya novel dan cerpen.
    2.C. V. Winter: Beliau adalah tokoh yang berhasil menulis kamus Jawa-Belanda
    3.A. B Cohen Stuart
    4.D. F Vander Pant
    5.R. M. A. Tjandranegara
    6.R. A. Sastradarma
    7.R. Sastrawidjaja
    8.R. Abdoellah Ibnoe Sabar: Cariyos Negeri Walandi (1876)
    9.R. A. Darmabrata
    10.Soerjawidjaja: Lelampahing Sarira
    11.Padmosoesastra
    Karangan-karangan Padmosoesastra yang berhasil terekam antara lain adalah Layang Pratama Basa (1898), Serat Warna Basa (1990), Serat Pati Basa (1912), Serat Bau Warna (1898), Serat Urapsari (1898), Serat Tata Cara, Serat Kancil Tanpa Sekar (1908), Kanda Bumi, Prabangkala, Rangsang Tuban (1912).
    (Tirto Suwondo, dkk: Antologi Biografi PENGARANG SASTRA JAWA MODERN, hal. 2).
    12.Raden Mas Purwalelana (jeneng sesinglon) : Lelampahaning Purwalelana 1875-1880
    http://sejarahsastrajawa.blogspot.com/2009/03/4-sastra-jawa-baru.html
    Karya-Karya Sastra Jawa Modern Prakemerdekaan
    Beberapa novel periode sastra Jawa modern prakemerdekaan adalah :
    1.Indiani : Adi Soendjaja
    2.Swarganing Budi Ayu : Ardjasoeparta 1923
    3.Saking Papa Dumugi Mulya : Asmawinangoen 1928
    4.Merak Kena Jebak : Asmawinangoen 1930
    5.Jejodhohan Ingkang Siyal : Asmawinangoen 1928
    6.Mungsuh Mungging Cangklakan : Asmawinangoen 1928
    7.Sri Kumenyar : Djajasoekarsa 1938
    8.Ngulandara : Djojoatmojo 1936
    9.Gambar Mbabar Wewados : Djaka Lelana 1932
    10.Sawitri : Endang Wahjoeningsih 1932
    11.Lelakone Bocah Kampung : Kasma Wiryasaksana 1926
    12.Tuwuhing Katresnan : Kartadirdja 1919
    13.Gawaning Wewatekan : Koesoemadigda 1929
    14.Sala Peteng : MT. Soephardi
    15.Serat Riyanto : RB. Soelardi 1938
    16.Serat Sarwata : R. B. Soelardi 1939
    17.Prawira Sudirja : Isin Ngaku Bapa (1918)

    Karya lain selain novel :
    1.Antologi Puspa Rinonce : Soetomo 1932
    2.Cerbung Sandhal Jinjit ing Sekaten Solo : Imam Supardi 1935
    3.Cerpen Man Kemidhi : Elly 1940
    4.Cerpen Kepaten Obor : Endang Wahyoeningsih 1931
    5.Cerpen Dayaning Lebaran : Krendhadigdaja 1941
    6.Majalah Jaya Baya
    (Tirto Suwondo, dkk: Antologi Biografi PENGARANG SASTRA JAWA MODERN, hal. 2).
    7.Majalah Panyebar Semangat : 1933
    (Suripan Sadi Hutomo: Telaah Kesusastraan Jawa, hal. 38)
    Penerbitan dan Percetakan Swasta
    Penerbitan- penerbitan swasta yang mengiringi perkembangan sastra Jawa Modern prakemerdekaan antara lain:
    1.Tan Koen Swie di Kediri
    2.Mardi Mulya di Surakarta
    3.Siti Syamsiah, Rusche, Sadu Budi, Kalimasada, Mars di Surakarta
    4.Van Dorp di Semarang
    5.G. Kolff dan Co di Surabaya
    6.Panjebar Semangat di Surabaya tahun 1933
    Ciri-Ciri Karya Sastra Jawa Modern Prakemerdekaan
    Adapun sebuah karya sastra bisa termasuk dalam periodisasi/ masa tertentu adalah karena terdeteksi lewat ciri-ciri yang menonjol. Pada karya sastra Jawa Modern prakemerdekaan terlihat cirri-ciri seperti:
    1.Cerita menggambarkan masyarakat di luar istana yang dipengaruhi oleh kehidupan pengarangnya yang sebagian besar adalah para priyayi. Sebagai contoh cerita Serat Riyanto)
    2.Berbahasa Jawa baru dengan tataran krama (Surakartanan), beberapa novel sudah menggunakan kata-kata asing seperti bahasa Melayu dan Belanda.
    3.Ditulis menggunakan huruf Jawa.
    4.Mengisahkan tentang perjalanan seperti dalam karangan R. Abdoellah Ibnoe Sabar: Cariyos Negeri Walandi (1876), dan Soerjawidjaja: Lelampahing Sarira
    (http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Jawa_baru#Daftar_Cuplikan_Karya_Sastra_Jawa_Baru)
    5.Mulai bergeser dari kebiasaan klasik yang menceritakan seputar cerita pewayangan menjadi cerita dalam kehidupan nyata tetapi masih dalam bentuk/ format yang sederhana (Tirto Suwondo, dkk: Antologi Biografi PENGARANG SASTRA JAWA MODERN, hal. 2)

    Daftar Rujukan
    Daftar Anggitan Sastra. Online at http://sejarahsastrajawa.blogspot.com/2009/03/4-sastra-jawa-baru.html [accesed 05/02/09].
    Hutomo, Suripan Sadi. 1975. Telaah Kesusastraan Jawa. Jakarta: Offset Bumirestu.
    Sastra Jawa Modern. Online at http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Jawa_Baru#Daftar_Cuplikan_Karya_Sastra_Jawa_Baru [accesed 05/02/09].
    Suwondo, Tirto. 2006. Antologi Biografi Pengarang Sastra Jawa Modern. Jogjakarta: Adi Wacana

    BalasHapus
  20. 1. Teguh Prasetyo (2102408026)
    2. Tsani Hidayah S.(2102408027)
    3. Siti Saparidah (2102408047)
    4. Friska Pratama (2102408053)
    5. Ari Fitriyani (2102408066)
    6. Silviana Dewi (2102408072)
    7. Ani Novita Sari (2102408086)
    8. Ketut Intan M. (2102408089)
    9. Fahrul M. (2102408091)
    10. Dani Afianto (2102408092)
    11. Amalia Nuraini (2102408112)

    Perjalanan Kepengarangan Sastra Jawa Modern Sesudah Kemerdekaan
    Pertumbuhan ke arah kedewasaan sastra modern mulai sesudah tahun 1950, ketika perjuangan untuk kemerdekaan telah selesai, sementara berlangsung suatu rangkaian perkembangan sosial dan politik yang baru. Sayang bahan-bahan dari periode 1940-1970 agak langka pada koleksi –koleksi yang ada di Barat. Oleh karena itu, sebagian besar survey ini didasarkan pada data yang dipinjam dari sumber-sumber Indonesia.
    Suripan Sadi Hutomo membedakan tiga periode pokok dalam sejarah sastra Jawa modern, yaitu :
    1. Periode Balai Pustaka (1920-1945) : genre novel diutamakan.
    2. Periode Perkembangan Bebas (1945-1966) : di samping novel juga cerita pendek dan puisi bebas dikembangkan sebagai genre penting.
    Perkembangan sastra didukung oleh tiga generasi penulis :
    a. Angkatan kasepuhan (telah tampil sebelum tahun 1945)
    b. Angkatan perintis (tampil tahun 1945 dan sesudahnya)
    c. Angkatan penerus (tampil tahun 1960 dan sesudahnya)
    3. Periode Sastra Majalah (1966-sekarang): eksplosi roman penglipur wuyung diikuti oleh peranan majalah-majalah berbahasa Jawa menjadi saluran publikasi terpenting.
    Sesudah revolusi, ketiga genre utama dalam sastra modern, yaitu novel, cerita, dan puisi bebas, mendapat perhatian sewajarnya dalam kalangan masyarakat yang lebih luas. Tiga faktor mungkin telah memainkan peranan dalam hal ini, yaitu :
    1. Revolusi sosial
    2. Meningkatkan kemampuan baca tulis
    3. Semakin sedikitnya sastra klasik yang beredar dalam masyarakat
    Para penulis muda dari generasi sesudah perang sebagian besar terlibat aktif dalam pendidikan, pers, dan radio. Banyak di antara mereka mulai menulis pada waktu masih sekolah atau kuliah. Generasi ini yang oleh Suripan disebut angkatan perintis atau generasi pelopor, dipimpin oleh Subagiya Ilham Natadijaya. Tokoh yang paling tua di antara pengarang-pengarang angkatan perintis adalah Any Asmara.
    Penyair-penyair yang termasuk angkatan penerus adalah Anie Sumarna, Priyanggana, Herdian Suharjana, Kus Sudyarsono, Susilomurti,dll.
    Kurun waktu setelah tahun1966 mulai dengan eksplosi roman penglipur wuyung atau roman picisan, yang mencapai puncaknya dalam tahun itu juga. Roman penglipur wuyung adalah buku kecil ukuran buku saku. Umumnya buku itu buruk mutu cetakannya dan dijual dengan harga murah. Isinya kerap kali terbatas pada kisah-kisah cinta atau tema-tema lainnya yang menggelitik.
    Akan tetapi, bukanlah tema, ukuran serta kualitas kertas percetakannya atau harga penjualan yang menentukan mutu sastra sebuah buku, melainkan cara pengarang menggarap temanya, menggunakan bahasa, dan kecermatan dalam gaya dan komposisi. Itulah yang tetap menjadi kriterium apakah sebuah buku harus dicap sebagai “roman picisan” atau bacaan kelas rendahan.
    Eksplosi roman picisan berlangsung dari tahun 1964-1968, dan memuncak pada tahun 1966. Tahun 1970 gelombang ini telah surut dan hampir-hampir tidak ada buku kecil lagi yang dicetak. Para penerbit menyatakan bahwa mencetak buku-buku kecil semacam ini pada saat ini tidak menguntungkan, tetapi mereka sudah dan akan selalu berkata demikian, bila hal itu dapat dipakai sebagai dalih untuk mengurangi honorarium pengarang. Pihak lain mengatakan bahwa penghapusan subsidi kertas dari pemerintah merupakan pukulan besar bagi pasaran buku. Akan tetapi, mungkin pula ada kejadian lain lagi yang mempunyai pengaruh besar. Sesuatu yang mencolok mata ialah kuatnya perkembangan pers bahasa Jawa yang mulai sejak tahun 1966.
    Sastrawan Jawa Modern Sesudah Kemerdekaan
    Beberapa sastrawan Jawa modern sesudah kemerdekaan, yaitu:
    1. Suparta Brata
    Suparta Brata lahir di Surabaya pada tahun 1932. Ia memulai kariernya sebagai seorang wartawan yang menulis untuk berbagai surat kabar dan majalah yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia.
    Akan tetapi, pada tahun 1958, ia memperoleh hadiah untuk novel terbaik dari Panjebar Semangat dengan bukunya Lara-lapane Kaum Republik (diterbitkan dalam bentuk buku di Surabaya, 1966), sebuah novel yang indah sekali yang mengupas psikologi sekelompok manusia yang terlibat dalam satu peristiwa dalam perjuangan kemerdekaan. Bersama-sama dengan dua buah buku lainnya, yaitu Kaduk Wani dan Kena Pulut, yang ditulis sebagai sambungannya, buku ini merupakan trilogi berjudul Kelangan Satang.
    Meskipun ia juga menulis cerita pendek, sandiwara, dan esei, Suparta Brata pertama-tama adalah seorang penulis novel. Caranya mengolah bahasa, dialog-dialog dan gaya penuturannya yang hidup, imajinasi dan kemampuannya membangun plot yang bagus membuatnya menjadi penulis novel Jawa terbaik pada zaman ini. Ia juga sangat produktif. Tema-tema pokoknya adalah cinta, kejahatan, dan perjuangan kemerdekaan. Tema-tema ini selalu digarap dengan perhatian sepenuhnya bagi watak manusia dan dengan lukisan tempat dan suasana yang sangat indah.
    2. Esmiet
    Setelah tahun 1960, sejumlah penulis muda, yang oleh Suripan disebut angkatan penerus, mulai tampil ke depan. Mereka lahir di antara tahun 1935 dan 1945. Karena dibesarkan dalam periode kemerdekaan, sedikit saja ingatan mereka tentang zaman penjajahan, atau mungkin tidak ada sama sekali. Salah seorang penulis yang terkemuka dari kelompok ini adalah Esmiet, seorang guru yang lahir di Mojokerto tahun 1938.
    Ia telah memperoleh beberapa hadiah untuk karyanya. Esmiet seorang penulis cerita pendek yang sangat produktif, tetapi juga menulis puisi dan novel. Di antara novel masa permulaannya dapat kita sebutkan Oyot Mimang (JB, 1966), Rokok Kretek Bale Kambang (PS, 1970), Inspektur Kikis Mungsuh Swara Kubur (PS, 1970), dan Godane Randa Halimah (PS, 1972).
    Novelnya yang terbaru yang berjudul Tunggak-Tunggak Jati (Jakarta, 1977) mengemukakan sebuah tema baru dalam penulisan novel Jawa bahwa kedudukan orang Tionghoa yang sudah membaur dalam masyarakat dan ekonomi pedesaan Jawa serta masalah-masalah yang timbul dari kawin campuran antara suku Jawa dan Tionghoa.
    3. Ag. Suharti
    Di antara para pengarang angkatan 1966, Ag. Suharti, yang lahir di Yogyakarta tahun 1920, menempati kedudukan yang agak tersendiri. Pada tahun 1975 ia menerbitkan novel Anteping Tekad, cerita tentang seorang gadis yang lari dari rumahnya untuk menghindari perkawinannya dengan orang kaya raya sedesanya yang sudah direncanakan orangtuanya. Sebagai pembantu rumah tangga kemudian ia mengetahui kehidupan sebuah keluarga modern yang tinggal di kota.
    Dalam buku ini digarap tema lama, tetapi para pelakunya adalah orang modern. Dalam hal-hal tertentu, novel ini boleh dianggap sebagai cermin masyarakat Jawa, tetapi cara hidup dan persoalan yang sangat kuno dan yang sangat modern kadang-kadang berdampingan. Novel lain karangan penulis ini ialah Mendung Kesaput Angin (BP, Jakarta 1980).
    Ciri-ciri Karya Sastra Modern Sesudah Kemerdekaan
    Sebuah karya sastra bisa termasuk dalam periodisasi atau masa tertentu adalah karena terdeteksi lewat ciri-ciri yang menonjol. Pada karya sastra Jawa modern sesudah kemerdekaan memiliki cirri-ciri seperti :
    1. Karya sastra tidak lagi tumbuh dalam istana, tetapi berkembang pula di tengah-tengah masyarakat umum.
    2. Berbahasa Jawa modern dengan tataran ngoko.
    3. Ditulis menggunakan huruf latin.
    4. Mulai bergeser dari kebiasaan klasik yang menceritakan seputar cerita pewayangan menjadi cerita dalam kehidupan nyata.

    BalasHapus
  21. HU… HU….ku, BUKAN HAIKU! PAKEM JAWA SASTRA/BUDAYA INDONESIA ASLI ”DALAM SEKAR GAMBUH MACAPAT

    oleh Ki Gambuh R Basedo

    begitu banyak digemari sajak atau kau sebut puisi haiku dari jepang saat ini
    Tapi secara pribadi saya melihatnya biasa biasa saja
    Justru menjadi luar biasa dan heran tercengang,ketika sastra dan budaya indonesia dilupakan
    Taukah kalian,ketika bangsa ini masih berupa kerajaan kerajaan ,sastra dan budaya indonesia sudah merekah,lebih lebih dipulau jawa
    Salah satu bukti adalah ”Sekar macapat”
    Mijil
    Asmarandhana
    Kinanthi
    Dandang gula
    Sinom
    Pangkur
    Pucung
    Gambuh
    Megatruh
    Semuanya menggunakan rumus hitungan matematika/ilmu pasti
    Guru lagu
    Guru wilangan
    Guru gatra
    Jadi makanya ketika Haiku muncul dan banyak dipelajari,membuatku tersenyum biasa biasa saja.karena sebelum Haiku jepang muncul
    Dijawa ratusan tahun yang lalu sudah ada, sastra/budaya yang melebihinya,baik estetika,makna,kaidah/pakem,sampai hitungan matematikanya hanya saja generasinya putus kini
    Sedikit ingin ku suguhkan rumus jawa yang mungkin mirip dengan Haiku dalam sekar gambuh

    Sekar gambuh dalam pakem aslinya harus terdiri dari
    5 kalimat dengan ketentuan
    8u
    10u
    12i
    8u
    8a

    Delapan,sepuluh,duabelas, dimaksud adalah suku kata ,sedang u dan i adalah hurup akhir atau jatuhnya suara akhir dalam kalimat
    Contoh
    SEKAR GAMBUH
    Bapak tani kabeh iku
    Saben dino sregep anenandur
    Lombok terong brambang kacang pohong pari
    Telo kentang datan kantun
    Kabeh kanggo uriping wong
    (Ini hanya sebagai pedoman saja, juga bisa dibikin syair dalam bhs indonesia sesuai dengan pedoman yang saya suguhkan,
    Begitu pula rumus sekar sekar yang lain ada dalam aturan/pakem yang sudah ditetapkan pasti
    Kenapa kita lupa bahwa INDONESIA KAYA BUDAYA,YANG BISA DIANGKAT,SEMENTARA TERHERAN HERAN SESUATU YANG KAU ANGGAP BARU?
    MARI KITA GALI DULU MILIK KITA,TUNJUKAN BAHWA BANGSA INI PUNYA SASTRA DAN BUDAYA YANG ADILUHUNG
    Sayang generasi terputus
    TULISAN INI DIMAKSUD UNTUK MENGINGATKAN KEMBALI PADA KITA
    Agar kita tak mudah ”terjajah”
    Bahkan bangsa kita ini terkesan ”MISKIN SASTRA DAN BUDAYA”
    Mulai dari diri kita masing masing,untuk menyelamatkan melestarikanya.
    ”OJO GUMUNAN”
    Lalu terjebak!

    BalasHapus
  22. HU… HU….ku, BUKAN HAIKU! PAKEM JAWA SASTRA/BUDAYA INDONESIA ASLI ”DALAM SEKAR GAMBUH MACAPAT

    oleh Ki Gambuh R Basedo

    begitu banyak digemari sajak atau kau sebut puisi haiku dari jepang saat ini
    Tapi secara pribadi saya melihatnya biasa biasa saja
    Justru menjadi luar biasa dan heran tercengang,ketika sastra dan budaya indonesia dilupakan
    Taukah kalian,ketika bangsa ini masih berupa kerajaan kerajaan ,sastra dan budaya indonesia sudah merekah,lebih lebih dipulau jawa
    Salah satu bukti adalah ”Sekar macapat”
    Mijil
    Asmarandhana
    Kinanthi
    Dandang gula
    Sinom
    Pangkur
    Pucung
    Gambuh
    Megatruh
    Semuanya menggunakan rumus hitungan matematika/ilmu pasti
    Guru lagu
    Guru wilangan
    Guru gatra
    Jadi makanya ketika Haiku muncul dan banyak dipelajari,membuatku tersenyum biasa biasa saja.karena sebelum Haiku jepang muncul
    Dijawa ratusan tahun yang lalu sudah ada, sastra/budaya yang melebihinya,baik estetika,makna,kaidah/pakem,sampai hitungan matematikanya hanya saja generasinya putus kini
    Sedikit ingin ku suguhkan rumus jawa yang mungkin mirip dengan Haiku dalam sekar gambuh

    Sekar gambuh dalam pakem aslinya harus terdiri dari
    5 kalimat dengan ketentuan
    8u
    10u
    12i
    8u
    8a

    Delapan,sepuluh,duabelas, dimaksud adalah suku kata ,sedang u dan i adalah hurup akhir atau jatuhnya suara akhir dalam kalimat
    Contoh
    SEKAR GAMBUH
    Bapak tani kabeh iku
    Saben dino sregep anenandur
    Lombok terong brambang kacang pohong pari
    Telo kentang datan kantun
    Kabeh kanggo uriping wong
    (Ini hanya sebagai pedoman saja, juga bisa dibikin syair dalam bhs indonesia sesuai dengan pedoman yang saya suguhkan,
    Begitu pula rumus sekar sekar yang lain ada dalam aturan/pakem yang sudah ditetapkan pasti
    Kenapa kita lupa bahwa INDONESIA KAYA BUDAYA,YANG BISA DIANGKAT,SEMENTARA TERHERAN HERAN SESUATU YANG KAU ANGGAP BARU?
    MARI KITA GALI DULU MILIK KITA,TUNJUKAN BAHWA BANGSA INI PUNYA SASTRA DAN BUDAYA YANG ADILUHUNG
    Sayang generasi terputus
    TULISAN INI DIMAKSUD UNTUK MENGINGATKAN KEMBALI PADA KITA
    Agar kita tak mudah ”terjajah”
    Bahkan bangsa kita ini terkesan ”MISKIN SASTRA DAN BUDAYA”
    Mulai dari diri kita masing masing,untuk menyelamatkan melestarikanya.
    ”OJO GUMUNAN”
    Lalu terjebak!

    BalasHapus