Senin, 30 Maret 2009

3. Sastra Jawa Pertengahan


Sastra Jawa Pertengahan muncul di Kerajaan Majapahit, mulai dari abad ke-13 sampai kira-kira abad ke-16. Setelah ini, sastra Jawa Tengahan diteruskan di Bali menjadi Sastra Jawa-Bali.
Pada masa ini muncul karya-karya puisi yang berdasarkan metrum Jawa atau Indonesia asli. Karya-karya ini disebut kidung.
Daftar Karya Sastra Jawa Tengahan prosa
Tantu Panggelaran
Calon Arang
Tantri Kamandaka
Korawasrama
Pararaton

Tantu Panggelaran adalah sebuah teks prosa yang menceritakan tentang kisah penciptaan manusia di pulau Jawa dan segala aturan yang harus ditaati manusia. Tantu Panggelaran ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan pada zaman Majapahit. Suntingan teks yang sangat penting telah terbit pada tahun 1924 di Leiden oleh Dr. Th. Pigeaud.
Tantu Panggelaran berisi tentang etiologi alam semesta. Tantu Panggelaran ditulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan etiologis, misalnya, mengapa ada gempa bumi, mengapa ada gerhana matahari, mengapa ada gunung-gunung yang tersebar di pulau Jawa, mengapa ada manusia di pulau Jawa, mengapa ada biji hijau, hitam, putih, tetapi tidak ada biji kuning, mengapa ada bahasa, mengapa manusia membuat rumah, pakaian, dsb. Pertanyaan-pertanyaan etiologis ini dijawab dalam cerita Tantu Panggelaran. Cerita yang menjawab pertanyaan etiologis ini banyak terdapat dalam dunia oriental kuna. Contoh yang paling mudah didapat adalah di dalam kitab suci umat Kristen (Alkitab). Di sana diceritakan juga, bahwa manusia dibuat dari tanah liat dan menurut rupa Tuhan, manusia semula berbahasa satu dan berkumpul bersama di Babel membangun menara (lihat artikel Zikkurat dalam Wiki Inggris), yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru bumi, dan pertanyaan-pertanyaan etiologis banyak dijawab dalam mitos-mitos tersebut.
Selain itu cerita ini mementingkan proses pengaturan alam semesta, dari dunia yang khaos menjadi dunia yang teratur (kosmos). Hal ini juga dapat ditemui dalam cerita-cerita orientalis kuna. Para Dewa sangat menghargai dunia yang teratur. Motif ini dijumpai dari cerita-cerita Yunani kuna sampai cerita-cerita India.
Juga terdapat motif "pembangunan masyarakat beradab" atau cerita etiologis tentang munculnya peradaban manusia. Hal ini juga dapat dibandingkan dengan Kodex Hammurabi di Babilonia yang berisi hukum-hukum bagi keteraturan masyarakat setempat.
Di samping itu terdapat perbedaan teologis antara cerita Jawa Pertengahan ini dengan teologi Hindu di India. Di dalam kisah ini diceritakan bahwa Batara Guru adalah ayah dari dewa-dewa yang lainnya.
Gunung menjadi tempat yang keramat, tempat para dewa. Motif ini juga terdapat dalam dunia teologis orientalis. Ishak dipersembahkan di gunung Moria (Yerusalem). Zarathustra atau Zoroaster ketika berkotbah juga naik ke gunung. Firaun membuat piramida yang juga melambangkan gunung. Agama masyarakat Indonesia kuna juga membuat punden berundak-undak yang juga melambangkan gunung. Dsb.
Kisah Tantu Panggelaran dapat dibagi menjadi beberapa Babak:
1. Awal Keberadaan Pulau Jawa
Pada mulanya pulau Jawa tidak berpenghuni dan dalam keadaan khaotis, karena pulau Jawa selalu bergoncang (bandingkan dengan batu apung yang bergoncang di atas permukaan air). Oleh karena itu, pulau Jawa membutuhkan gunung untuk menancapnya, sehingga tidak bergoncang lagi. Gunung tempat Batara Guru mengatur keadaan yang khaotis ini adalah Gunung Dihyang (atau Gunung Dieng, lihat artikel tentang Gunung Dieng). Proses pengaturannya berjalan sebagai berikut: para Dewa mengangkat puncak gunung Mahameru (Gunung Semeru) dari India dan ditempatkan di sebelah barat pulau Jawa. Namun yang terjadi adalah, bahwa pulau Jawa terjungkit dan sebelah timur pulau Jawa terangkat ke atas. Oleh karena itu para dewa memindahkannya ke sebelah timur, tetapi dalam perjalanan pemindahan gunung itu ke sebelah timur, gunung tersebut berceceran di sepanjang jalan, sehingga terjadilah gunung Lawu, Wilis, Kelut, Kawi, Arjuna, Kumukus dan pada akhirnya Semeru. Setelah itu keadaan pulau Jawa tidak bergoncang lagi.
2. Penciptaan Manusia
Setelah pulau Jawa tidak lagi bergoncang, Batara Guru ingin membuat manusia sebagai penghuni pulau Jawa. Untuk itu dia memerintahkan Batara Brahma dan Batara Wisnu menciptakan manusia. Mereka menciptakan manusia dari tanah yang dikepal-kepal lalu dibentuk manusia berdasarkan rupa dewa. Brahma menciptakan manusia laki-laki dan Wisnu menciptakan manusia perempuan, yang kemudian kedua manusia ciptaan para dewa tersebut dipertemukan dan mereka hidup saling mengasihi.
3. Proses Terjadinya Peradaban Manusia
Pada mulanya manusia telanjang karena tidak dapat membuat pakaian, tidak tinggal di dalam rumah, tidak dapat berbicara, oleh karena itu dapat dikatakan, bahwa manusia pertama yang tinggal di pulau Jawa tidak mempunyai peradaban. Untuk itu para dewa diberi tugas oleh Batara Guru untuk "memberi pelajaran" kepada manusia, supaya mereka dapat membuat pakaian, membuat rumah, dapat berbicara antara satu sama lainnya. Pada intinya para dewa mengajar manusia Jawa tentang budaya dan peradaban. Contoh yang dikutip dari kitab Tantu Panggelaran untuk Babak ini:
Demikianlah kata Bhatara Mahakarana (istilah lain dari Batara Guru):
Anakku, Brahma, turunlah engkau ke Pulau Jawa. Pertajamlah benda-benda tajam, misalnya: panah, parang, pahat, pantek, kapak, beliung, segala pekerjaan manusia. Engkau akan disebut pandai-besi. Engkau akan mempertajam benda-benda tajam itu di tempat yang bernama Winduprakasa. Ibu jari (kw. empu) kedua kakimu mengapit dan menggembleng, besi anak panah dikikir. Panah itu menjadi tajam oleh ibu jari kedua kaki, maka dari itu engkau akan disebut Empu Sujiwana sebagai pandai-besi, karena ibu jari/empu dari kakimu mempertajam besi. Oleh karena itu, tukang pandai-besi disebut empu, karena ibu jari kakimu menjadi alat bekerja. Demikianlah pesanku kepada anakku.
Lagi pesanku kepada anakku Wiswakarmma. Turunlah ke Pulau Jawa membuat rumah, biar dirimu ditiru oleh manusia. Sebab itu, engkau dinamai Hundahagi (membangun).
Adapun engkau Iswara. Turunlah ke Pulau Jawa. Ajarlah manusia ajaran berkata-kata dengan bahasa, apalagi ajaran tentang Dasasila (sepuluh hal yang utama) dan Pancasiska (lima hukum/tata tertib). Engkau menjadi guru dari kepala-kepala desa, sehingga engkau dinamai Guru Desa di Pulau Jawa.
Adapun engkau Wisnu. Turunlah engkau ke Pulau Jawa. Biarlah segala perintahmu dituruti oleh manusia. Segala tingkah lakumu ditiru oleh manusia. Engkau adalah guru manusia, hendaknya engkau menguasai bumi.
Adapun engkau Mahadewa, turunlah engkau ke Pulau Jawa. Hendaknya engkau menjadi tukang pandai emas dan pembuat pakaian manusia.
Bhagawan Ciptagupta hendaknya melukis dan mewarnai perhiasan, serta membuat hiasan yang serupa dengan ciptaan, menggunakan alat ibu jari tanganmu. Oleh karena itu engkau akan dinamai Empu Ciptangkara sebagai pelukis.


Calon Arang adalah seorang tokoh dalam cerita rakyat Jawa dan Bali dari abad ke-12. Tidak diketahui lagi siapa yang mengarang cerita ini. Salinan teks Latin yang sangat penting berada di Belanda, yaitu di "Bijdragen Koninklijke Instituut".
Diceritakan bahwa ia adalah seorang janda pengguna ilmu hitam yang sering merusak hasil panen para petani dan menyebabkan datangnya penyakit. Calon Arang mempunyai seorang putri bernama Ratna Manggali, yang meskipun cantik, tidak dapat mendapatkan seorang suami karena orang-orang takut pada ibunya.
Karena kesulitan yang dihadapi putrinya, Calon Arang marah dan ia pun berniat membalas dendam dengan menculik seorang gadis muda. Gadis tersebut ia bawa ke sebuah kuil untuk dikorbankan kepada Dewi Durga. Hari berikutnya, banjir besar melanda desa tersebut dan banyak orang meninggal dunia. Penyakit pun muncul.
Raja Airlangga yang mengetahui hal tersebut kemudian meminta bantuan penasehatnya, Empu Baradah untuk mengatasi masalah ini. Empu Baradah lalu mengirimkan seorang prajurit bernama Empu Bahula untuk dinikahkan kepada Ratna. Keduanya menikah besar-besaran dengan pesta yang berlangsung 7 hari 7 malam, dan keadaan pun kembali normal.
Calon Arang mempunyai sebuah buku yang berisi ilmu-ilmu sihir. Pada suatu hari, buku ini berhasil ditemukan oleh Bahula yang menyerahkannya kepada Empu Baradah. Saat Calon Arang mengetahui bahwa bukunya telah dicuri, ia menjadi marah dan memutuskan untuk melawan Empu Baradah. Tanpa bantuan Dewi Durga, Calon Arang kalah.
Sejak saat itu, desa tersebut pun aman dari ancaman ilmu hitam Calon Arang.


Serat Pararaton, atau Pararaton saja (bahasa Kawi: "Kitab Raja-Raja"), adalah sebuah kitab naskah Sastra Jawa Pertengahan yang digubah dalam bahasa Jawa Kawi. Naskah ini cukup singkat, berupa 32 halaman seukuran folio yang terdiri dari 1126 baris. Isinya adalah sejarah raja-raja Singhasari dan Majapahit di Jawa Timur. Kitab ini juga dikenal dengan nama "Pustaka Raja", yang dalam bahasa Sanskerta juga berarti "kitab raja-raja". Tidak terdapat catatan yang menunjukkan siapa penulis Pararaton.
Pararaton diawali dengan cerita mengenai inkarnasi Ken Arok, yaitu tokoh pendiri kerajaan Singhasari (1222–1292).[1][2] Selanjutnya hampir setengah kitab membahas bagaimana Ken Arok meniti perjalanan hidupnya, sampai ia menjadi raja di tahun 1222. Penggambaran pada naskah bagian ini cenderung bersifat mitologis. Cerita kemudian dilanjutkan dengan bagian-bagian naratif pendek, yang diatur dalam urutan kronologis. Banyak kejadian yang tercatat di sini diberikan penanggalan. Mendekati bagian akhir, penjelasan mengenai sejarah menjadi semakin pendek dan bercampur dengan informasi mengenai silsilah berbagai anggota keluarga kerajaan Majapahit.
Penekanan atas pentingnya kisah Ken Arok bukan saja dinyatakan melalui panjangnya cerita, melainkan juga melalui judul alternatif yang ditawarkan dalam naskah ini, yaitu: "Serat Pararaton atawa Katuturanira Ken Angrok", atau "Kitab Raja-Raja atau Cerita Mengenai Ken Angrok". Mengingat tarikh yang tertua yang terdapat pada lembaran-lembaran naskah adalah 1522 Saka (atau 1600 Masehi), diperkirakan bahwa bagian terakhir dari teks naskah telah dituliskan antara tahun 1481 dan 1600, dimana kemungkinan besar lebih mendekati tahun pertama daripada tahun kedua.
Pararaton dimulai dengan pendahuluan singkat mengenai bagaimana Ken Arok mempersiapkan inkarnasi dirinya sehingga ia bisa menjadi seorang raja.[1] Diceritakan bahwa Ken Arok menjadikan dirinya kurban persembahan (bahasa Sanskerta: yadnya) bagi Yamadipati, dewa penjaga pintu neraka, untuk mendapatkan keselamatan atas kematian. Sebagai balasannya, Ken Arok mendapat karunia dilahirkan kembali sebagai raja Singhasari, dan di saat kematiannya akan masuk ke dalam surga Wisnu.
Janji tersebut kemudian terlaksana. Ken Arok dilahirkan oleh Brahma melalui seorang wanita dusun yang baru menikah. Ibunya meletakkannya di atas sebuah kuburan ketika baru saja melahirkan; dan tubuh Ken Arok yang memancarkan sinar menarik perhatian Ki Lembong, seorang pencuri yang kebetulan lewat. Ki Lembong mengambilnya sebagai anak dan membesarkannya, serta mengajarkannya seluruh keahliannya. Ken Arok kemudian terlibat dalam perjudian, perampokan dan pemerkosaan. Dalam naskah disebutkan bahwa Ken Arok berulang-kali diselamatkan dari kesulitan melalui campur tangan dewata. Disebutkan suatu kejadian di Gunung Kryar Lejar, dimana para dewa turun berkumpul dan Batara Guru menyatakan bahwa Ken Arok adalah putranya, dan telah ditetapkan akan membawa kestabilan dan kekuasaan di Jawa.
Pendahuluan Pararaton kemudian dilanjutkan dengan cerita mengenai pertemuan Ken Arok dengan Lohgawe, seorang Brahmana yang datang dari India untuk memastikan agar perintah Batara Guru dapat terlaksana. Lohgawe kemudian menyarankan agar Ken Arok menemui Tunggul Ametung, yaitu penguasa Tumapel. Setelah mengabdi berberapa saat, Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk mendapatkan istrinya, yaitu Ken Dedes; sekaligus tahta atas kerajaan Singhasari.

Daftar Karya Sastra Jawa Tengahan puisi
Kakawin Dewaruci
Kidung Sudamala
Kidung Subrata
Kidung Sunda
Kidung Panji Angreni
Kidung Sri Tanjung

Kidung Sunda adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa Pertengahan berbentuk tembang (syair) dan kemungkinan besar berasal dari Bali. Dalam kidung ini dikisahkan prabu Hayam Wuruk dari Majapahit yang ingin mencari seorang permaisuri, kemudian beliau menginginkan putri Sunda yang dalam cerita ini tak memiliki nama. Namun patih Gajah Mada tidak suka karena orang Sunda dianggapnya harus tunduk kepada orang Majapahit (baca orang Jawa). Kemudian terjadi perang besar-besaran di Bubat, pelabuhan di mana orang-orang Sunda mendarat. Dalam peristiwa ini orang Sunda kalah dan putri Sunda yang merasa pilu akhirnya bunuh diri.
Di bawah ini disajikan ringkasan dari Kidung Sunda. Ringkasan dibagi per pupuh.
Pupuh I
Hayam Wuruk, raja Majapahit ingin mencari seorang permaisuri untuk dinikahi. Maka beliau mengirim utusan-utusan ke seluruh penjuru Nusantara untuk mencarikan seorang putri yang sesuai. Mereka membawa lukisan-lukisan kembali, namun tak ada yang menarik hatinya. Maka prabu Hayam Wuruk mendengar bahwa putri Sunda cantik dan beliau mengirim seorang juru lukis ke sana. Setelah ia kembali maka diserahkan lukisannya. Saat itu kebetulan dua orang paman prabu Hayam Wuruk, raja Kahuripan dan raja Daha berada di sana hendak menyatakan rasa keprihatinan mereka bahwa keponakan mereka belum menikah.
Maka Sri Baginda Hayam Wuruk tertarik dengan lukisan putri Sunda. Kemudian prabu Hayam Wuruk menyuruh Madhu, seorang mantri ke tanah Sunda untuk melamarnya.
Madhu tiba di tanah Sunda setelah berlayar selama enam hari kemudian menghadap raja Sunda. Sang raja senang, putrinya dipilih raja Majapahit yang ternama tersebut. Tetapi putri Sunda sendiri tidak banyak berkomentar.
Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil.


Kapal jung. Ada kemungkinan rombongan orang Sunda menaiki kapal semacam ini.
Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “jung Tatar (Mongolia/China) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” (bait 1. 43a.)
Sementara di Majapahit sendiri mereka sibuk mempersiapkan kedatangan para tamu. Maka sepuluh hari kemudian kepala desa Bubat datang melapor bahwa rombongan orang Sunda telah datang. Prabu Hayam Wuruk beserta kedua pamannya siap menyongsong mereka. Tetapi patih Gajah Mada tidak setuju. Beliau berkata bahwa tidaklah seyogyanya seorang maharaja Majapahit menyonsong seorang raja berstatus raja vazal seperti Raja Sunda. Siapa tahu dia seorang musuh yang menyamar.
Maka prabu Hayam Wuruk tidak jadi pergi ke Bubat menuruti saran patih Gajah Mada. Para abdi dalem keraton dan para pejabat lainnya, terperanjat mendengar hal ini, namun mereka tidak berani melawan.
Sedangkan di Bubat sendiri, mereka sudah mendengar kabar burung tentang perkembangan terkini di Majapahit. Maka raja Sunda pun mengirimkan utusannya, patih Anepakěn untuk pergi ke Majapahit. Beliau disertai tiga pejabat lainnya dan 300 serdadu. Mereka langsung datang ke rumah patih Gajah Mada. Di sana beliau menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak pulang dan mengira prabu Hayam Wuruk ingkar janji. Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya vazal-vazal Nusantara Majapahit. Hampir saja terjadi pertempuran di kepatihan kalau tidak ditengahi oleh Smaranata, seorang pandita kerajaan. Maka berpulanglah utusan raja Sunda setelah diberi tahu bahwa keputusan terakhir raja Sunda akan disampaikan dalam tempo dua hari.
Sementara raja Sunda setelah mendengar kabar ini tidak bersedia berlaku seperti layaknya seorang vazal. Maka beliau berkata memberi tahukan keputusannya untuk gugur seperti seorang ksatria. Demi membela kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi dihina orang Majapahit. Para bawahannya berseru mereka akan mengikutinya dan membelanya.
Kemudian raja Sunda menemui istri dan anaknya dan menyatakan niatnya dan menyuruh mereka pulang. Tetapi mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani sang raja.
Pupuh II (Durma)
Maka semua sudah siap siaga. Utusan dikirim ke perkemahan orang Sunda dengan membawa surat yang berisikan syarat-syarat Majapahit. Orang Sunda pun menolaknya dengan marah dan perang tidak dapat dihindarkan.
Tentara Majapahit terdiri dari prajurit-prajurit biasa di depan, kemudian para pejabat keraton, Gajah Mada dan akhirnya prabu Hayam Wuruk dan kedua pamannya.
Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit banyak yang gugur. Tetapi akhirnya hampir semua orang Sunda dibantai habisan-habisan oleh orang Majapahit. Anepakěn dikalahkan oleh Gajah Mada sedangkan raja Sunda ditewaskan oleh besannya sendiri, raja Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya perwira Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara maayt-mayat serdadu Sunda. Kemudian ia lolos dan melaporkan keadaan kepada ratu dan putri Sunda. Mereka bersedih hati dan kemudian bunuh diri. Semua istri para perwira Sunda pergi ke medan perang dan melakukan bunuh diri massal di atas jenazah-jenazah suami mereka.
Pupuh III (Sinom)
Prabu Hayam Wuruk merasa cemas setelah menyaksikan peperangan ini. Beliau kemudian menuju ke pesanggaran putri Sunda. Tetapi putri Sunda sudah tewas. Maka prabu Hayam Wurukpun meratapinya ingin dipersatukan dengan wanita idamannya ini.
Setelah itu, upacara untuk menyembahyangkan dan mendoakan para arwah dilaksanakan. Tidak selang lama, maka mangkatlah pula prabu Hayam Wuruk yang merana.
Setelah beliau diperabukan dan semua upacara keagamaan selesai, maka berundinglah kedua pamannya. Mereka menyalahkan Gajah Mada atas malapetaka ini. Maka mereka ingin menangkapnya dan membunuhnya. Kemudian bergegaslah mereka datang ke kepatihan. Saat itu patih Gajah Mada sadar bahwa waktunya telah tiba. Maka beliau mengenakan segala upakara (perlengkapan) upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan (niskala).
Maka raja Kahuripan dan raja Daha, yang mirip “Siwa dan Buddha” berpulang ke negara mereka karena Majapahit mengingatkan mereka akan peristiwa memilukan yang terjadi.
Analisis
Kidung Sunda harus dianggap sebagai karya sastra, dan bukan sebuah kronik sejarah yang akurat, meski kemungkinan besar tentunya bisa berdasarkan kejadian faktual.
Secara garis besar bisa dikatakan bahwa cerita yang dikisahkan di sini, gaya bahasanya lugas dan lancar. Tidak berbelit-belit seperti karya sastra sejenis. Kisahnya memadukan unsur-unsur romantis dan dramatis yang memikat. Dengan penggunaan gaya bahasa yang hidup, para protagonis cerita ini bisa hidup. Misalkan adegan orang-orang Sunda yang memaki-maki patih Gajah Mada bisa dilukiskan secara hidup, meski kasar. Lalu Prabu Hayam Wuruk yang meratapi Putri Sunda bisa dilukiskan secara indah yang membuat para pembaca terharu.
Kemudian cerita yang dikisahkan dalam Kidung Sunda juga bisa dikatakan logis dan masuk akal. Semuanya bisa saja terjadi, kecuali mungkin moksanya patih Gajah Mada. Hal ini juga bertentangan dengan sumber-sumber lainnya, seperti kakawin Nagarakretagama, lihat pula bawah ini.
Perlu dikemukakan bahwa sang penulis cerita ini lebih berpihak pada orang Sunda dan seperti sudah dikemukakan, seringkali bertentangan dengan sumber-sumber lainnya. Seperti tentang wafat prabu Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada, penulisannya berbeda dengan kakawin Nagarakretagama.
Kemudian ada sebuah hal yang menarik, nampaknya dalam kidung Sunda, nama raja, ratu dan putri Sunda tidak disebut. Putri Sunda dalam sumber lain sering disebut bernamakan Dyah Pitaloka.
Satu hal yang menarik lagi ialah bahwa dalam teks dibedakan pengertian antara Nusantara dan tanah Sunda. Orang-orang Sunda dianggap bukan orang Nusantara, kecuali oleh patih Gajah Mada. Sedangkan yang disebut sebagai orang-orang Nusantara adalah: orang Palembang, orang Tumasik (Singapura), Madura, Bali, Koci (?), Wandan (Maluku), Tanjungpura (Banjarmasin) dan Sawakung (?) (contoh bait 1. 54 b.) . Hal ini juga sesuai dengan kakawin Nagarakretagama di mana tanah Sunda tak disebut sebagai wilayah Majapahit di mana mereka harus membayar upeti. Tapi di Nagarakretagama, Madura juga tak disebut.
Kidung Sri Tanjung adalah merupakan karya orang Banyuwangi. Cerita ini termasuk cerita legenda pendirian kota Banyuwangi. Selain itu, cerita juga terkenal karena bisa dipakai untuk meruwat.
Ceritanya secara pendek adalah sebagai berikut: Adalah seorang ksatria bernama raden Sidapaksa yang pergi dari tempat tinggalnya, lalu mengabdi sang raja di negeri Sinduraja. Lalu, ia menikahi Dewi Sri Tanjung.
Maka suatu hari, raden Sidapaksa sangat marah, mengira istrinya berselingkuh. Lalu Sri Tanjung bersumpah bahwa apabila ia dibunuh, jika yang keluar bukan darah, tetapi air harum, maka dia tak salah.
Maka, benarlah, Sri Tanjung ditikam, tetapi yang keluar bukan darah segar, melainkan air yang berbau wangi. Maka sampai sekarang ibukota bumi Blambangan namanya Banyuwangi.

17 komentar:

  1. DIAH PUSPANITA UTAMI2 April 2009 03.04

    Rabu, 2009 Februari 25
    book report jawa kuna , interpolasi dan penanggalan uttarakanda

    The Dating of the Old Javanese Uttarakanda
    s.supomo, Australian National University

    Untuk waktu yang lama, sisipan dianggap sebagai semacam penyakit dalam literatur jawa kuno. Sekecil apapun gejalanya, penyunting selalu diharapkan berhati-hati dalam mendekati -sebuah kakawin dan harus cepat memutuskan: bagian-bagian yang dicurigai diletakkan didalam kurung kotak. Bagian yang sakit ini pada umumnya tidak tersentuh karena itu sudah diterima sebagai kebiasaan umum diantara generasi awal peneliti jawa kuno, seperti Kern, Juynboll dan Poerbatjaraka. Itu mungkin disebabkan oleh prasangka buruk terhadap apapun yang dianggap sebagai sisipan bagi murid jawa kuno (yang juga mendapat sanskrit dalam pendidikan mereka dan familiar dengan teori bahwa Uttarakanda adalah edisi terakhir dari teks asli Ramayana Valmiki. Hanya sedikit perhatian pada kerja salinan jawa kuna. Demikianlah meskipun keberadaanya telah diktahui setidaknya dari waktu pengumuman dari laporan Friederich’s di tahun 1849-50. Uttarakanda jawa kuna belum diterbitkan secara menyeluruh. Di lain pihak, sebagian besar adaptasi dari parwa epos Mahabharata yang sampai kepada kita, beberapa bagian dari mereka telah dipublikasikan, dan beberapa bagian dari mereka telah diterjemahkan dan didiskusikan.

    Didalam konteks literatur jawa kuno, pengertian atau paham bahwa uttarakanda adalah sisipan adalah tentu salah. Sanskrit Uttarakanda adalah edisi terakhir dalam Ramayana Valmiki, adalah benar. Karena ketika Uttarakanda diterjemahkan kedalam jawa kuna. Kepada seluruh maksud dan tujuan itu telah menjadi bagian dari epos Valmiki untuk hampir sepuluh abad. Jadi seorang penulis berkata dalam “exordium” Uttarakanda jawa kuna:

    Setelah Lengkapura diceritakan oleh bhagawan Valmiki, kemudian dia menggubah akhir dari Ramayana disebut Uttarakanda.

    Kenyataanya bahwa penyuntingan dan studi pembelajaran dari Uttarakanda jawa kuno telah diabaikan sangatlah disesalkan jika kita tidak menyadari bahwa pekerjaan itu adalah sumber primer dari cerita Arjunasasrabahu, satu dai empat siklus dari lakon wayang jawa baru. Itu adalah tujuan dari tulisan tersebut untuk memberi beberapa keterangan dalam satu aspek dai Uttarakanda jawa kuno, dengan harapan itu dapat membangkitkan minat pada pekerjaan ini.

    1. Didalam manggala atau exordium dari Uttarakanda jawa kuno, kami baca:

    Adalah sang pendeta yang sangat unggul…dialah bhagawan Valmiki namanya yang dijadikan sebagai dewa dari segala pujangga, hormatlah sebagai orang yang memberi berkah dalam menggubah cerita Uttarakanda… dan adalah seorang penguasa dunia di pulau jawa…dialah Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama namanya, akan memberi berrkah perlindungan pertolongan dalam penulisan cerita Ramayana.

    Dari kutipan diatas , jelaslah bahwa penulis tanpa nama Uttarakanda jawa kuna memilih Balmiki, itu untuk menyebut Valmiki, penulis cerita kuno epos Ramayana dan Dharmawangsa Teguh Anantawikrama, seorang penguasa dari kerajaan jawa di jawa timur, sebagai pelindungnya.

    Seperti dimohon menjadi petunjuk dalam Uttarakanda jawa kuna, nama Dharmawangsa Teguh Anantawikrama juga dimohon sebagai pelindung dalam terjemahan dari tiga terjemahan jawa kuna dari epos Sanskrit lainya, yaitu Adiparwa , Wirataparwa dan Bhismaparwa. Padahal Uttarakanda adalah bagian dari epos Ramayana, parwa ini adalah bagian dari epos Sanskrit terkenal lainya, Mahabharata. Bagian dari tiga parwa ini, enam atau mungkin tujuh parwa jawa kuna juga sampai pada kita (Sabhaparwa, Udyogaparwa, Asramawasikaparwa, Mausalaparwa, Prasthanikaparwa, dan Swargarohanaparwa), tetapi tidak ada nama raja yang disebutkan didalamnya.

    Sebelumnya satu dari tujuh kanda dari Ramayana dan Sembilan atau sepuluh dari delapan belas parwa dari Mahabharata telah sampai pada kita. Pertanyaan yang muncul apakah hanya mereka bagian dari epos yang telah diterjemahkan atau disalin kedalam jawa kuna atau apakah hanya mereka yang mampu bertahan dari seluruh terjemahan dari kedua epos?

    Sehubungan dengan Mahabharata , Berg berpendapat bahwa seluruh epos telah diterjemahkan kedalam jawa kuna tetapi beberapa parwa dari epos tersebut telah hilang. Pigeaud di lain pihak dengan pendek menjelaskan bahwa idak semua dari delapanbelas buku Mahabharata telah diterjemahkan kedalam prosa jawa. Sayangnya kita tidak mempunyai dokumen sejaman yang digunakan untuk mendebat atau melawan dua pendapat berbeda itu. Dukomen tertua berisi data yang dapat digunakan sebagai titik awal untuk menghasilkan diskusi dalam hal Korawasrama, sebuah risalah atau acuan bertanggal dari abad ke-16, sekitar enam abad setelah terjemahan epos itu sendiri.

    Berdasarkan Korawasrama, risalah itu adalah lanjutan dari Dwidasa parwa, yang terdiri dari delapan belas parwa, yaitu : Adhiparwa, Sabhaparwa, Udyogaparwa, Wirataparwa, Bhismaparwa, Dronaparwa, karnaparwa, Salyaparwa, Sauptikaparwa, Striparwa, Santiparwa, Anusasanaparwa, Uttarakanda, Aswamedhaparwa, Mausalaparwa, Prasthanikaparwa, Swargarohanaparwa dan Agastyaparwa.

    Seperti catatan Swellenggrebel, nama Dwidasaparwa dalam risalah itu nampaknya digunakan untuk menunjuk Mahabharara. Dia juga membenarkan bahwa wanaparwa dan Asramawasika parwa hilang dari daftar-daftar dan untuk membuat daftar turun temurun dari delapan belas parwa yang mengangkat Mahabharata lengkap. Uttarakanda dan Agastyaparwa ditambahkan.

    Seperti naskah dari dua parwa tambahan telah ditemukan dalam korpus dari naskah jawa kuno yang sampai pada kita, disana rupanya terdapat sedikit keraguan bahwa dua karya tersebut masuk dalam daftar sebab pengarang dari Korawasrama kenal akan keduanya. Itu diikuti sebuah perdebatan selanjutnya, bahwa 16 parwa lain yang disebutkan didalam daftar juga bagian dari literature yang masih ada hingga hari itu. Jika dalil itu benar, pendapat pigeaud bahwa tidak semua dari delapan belas buku Mahabharata telah diterjemahkan kedalam prosa jawa nampaknya benar.

    Situasinya bagaimanapun juga itu agak rumit, karena sementara tujuh dari tujuhbelas parwa hilang dari koleksi naskah jawa kuno di bermacam-macam perpus. Kedua parwa yang hilang dari daftar adalah bagian dari naskah yang masih ada dalam koleksi. Ini dapat diterjemahkan bahwa parwa-parwa yang masih ada pada saat itu.

    Mengingat fakta-fakta ini, yaitu bahwa pengarang dari daftar koramasrama emnambelas dari delapanbelas parwa dari Mahabharata dalam perjalananya dua naskah yang hilang adalah bagian dari naskah yang sampai pada kita, itu artinya bagi saya lebih masuk akal bahwa seluruh epos Mahabharata diterjemahkan kedalam jawa kuno. Tetapi beberapa dari parwa-parwa tersebut hilang seiring berjalanya waktu. Hal itu mungkin patut diperhatikan bahwa beberapa dari parwa yang hilang ini adalah bagian yang menceritakan perang besar dari keluarga Bharata. Mpu sedah dan panuluh, dua pujangga besar selama duabelas abad telah menyusun atau mengarang kakawin yang paling terkenal, Bharatayuddha, yang didasarkan pada perang keluarga Bharata. Hal itu mungkin yang popularitasnya luar biasa besar dan penghargaan yang tinggi kakawin ini dinikmati diantara orang Jawa dan Bali yang mungkin terhapus, membutuhkan untuk menulis kembali beberapa parwa-parwa menjadi subjek yang sama seperti kakawin.

    Pada akhirnya, kenyatan bahwa bagian pertama dan terakhir dari parwa-parwa yaitu Adiparwa dan Swargarohanaparwa berturut-turut diterjemahkan kedalam jawa kuna memperkuat argument diatas. Meskipun kita tidak dapat menyatakan dengan pasti parwa mana dalam Mahabharata yang diterjemahkan, karena hanya satu dari mereka yang diberi tanggal, ini lebih mungkin bahwa parwa-parwa diurutkan secara teratur, dari pertama hingga selanjutnya lebih baik daripada dengan acak. Ini selanjutnya meguatkan fakta bahwa Adiparwa, Wirataparwa dan Bhismaparwa semuanya menyebut nama Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama yang menandakan bahwa parwa tersebut diterjemahkan selama masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh. Di lain pihak, tidak disebutkan nama Dharmawangsa Teguh atau raja lain dalam Asramawasikaparwa atau Mausalaparwa atau Prasthanika parwa (Swargarohanaparwa, parwa terakhir tidak diumumkan begitu jauh). Apakah tidak disebutkan nama menandakan bahwa parwa-parwa terakhir dalam Mahabharata diterjemahkan selama masa peralihan yang kacau di Jawa Timur (yaitu setelah kematian Teguh th1017 tetapi sebelum Ailangga naik tahta th1035 )adalah pertanyaan yang sangat beresiko untuk dijawab.

    Dan saya berpendapat bahwa seluruh Mahabharata diterjemahkan kedalam jawa kuna dan oleh karena itu daftar parwa-parwa dari Mahabharata berdasarkan Korawasrama tidak lengkap. Di lain pihak, menyinggung Uttarakanda dalam daftar dari Dwidasaparwa berdasarkan Korawasrama rupanya untuk menunjukkan bahwa hanya satu kanda jawa kuna dari Ramayana yang diketahui oleh penulis dari Korawasrama. Karena ini cocok dengan fakta bahwa naskah yang ada hanya Uttarakanda adalah satu-satunya bagian Ramayana yang diterjemahkan kedalam bahasa jawa kuna. Dan faktanya adalah dalam jawa kuna kata parwa digunakan untuk menunjukkan prosa secara umum nampaknya menguatkan argument diatas. Seperti pemakaian tidak akan mungkin timbul banyak kanda yang ada sisi demi sisi dengan parwa-parwa baik dari awal.

    Karena Uttarakanda adalah terakhir dari tujuh tanda yang terdapat dalam epos Ramayana Valmiki, sedangkan dalam kasus Mahabharata , kita berpendapat bahwa parwa-parwa diterjemahkan dari parwa pertama dan seterusnya. Pertanyaan yang secara alami timbul mengapa bagian akhir dari epos Ramayana terjadi hanya satu-satunya itu dapat dikatakan merupakan pertama dan terakhir, diterjemahkan kedalam jawa kuna.

    Bagaimanapun ini tidak akan menjadi masalah, jika membutuhkan muncul untuk menterjemahkan Uttarakanda kedalam jawa kuna, ada sebuah buku yang berhadapan dengan pengembaraan Rama diceritakan dalam enam bagian pertama dari Ramayana Valmiki dengan demikian sesungguhnya dalam keadaan, seperti kakawin, yaitu Ramayana sudah ada lebih dari satu abad ketika salinan dari Uttarakanda dibuat.

    Ramayana jawa kuna sebagian besar adaptasi dari Ravanavadha (pembunuhan Ravana). Tujuh abad puisi Sanskrit ditulis oleh Bhatti (disini biasanya ditujukkan untuk Bhattikavya) dan walaupun bagian akhir dari kakawin berbeda dengan Bhattikawya. Berakhir seperti dalam karya Bhattikawya, yakni kembalinya Rama ke Ayodhya setelah kematian Ravana. Mengapa penulis tanpa nama dari Ramayana jawa kuna mengambil model dari karya Bhattikavya dan tidak Ramayana Valmiki, ini tidak jelas dan pertanyaanya mungkin tidak relevan bagi kita mengenai ini.

    Satu hal yang jelas bagaimanapun yaitu bahwa adaptasi Bhattikavya menunjukkan bahwa cerita Rama sangat popular di Jawa pada zaman dahulu. Ini juga bukti dari fakta bahwa beberapa bagian dari cerita dilukiskan di candi prambanan , yang dibangun sebelum penulisan Ramayana jawa kuna. Dan dari tulisan dikeluarkan oleh Dyah Balitung ,yang dipublikasikan oleh van Naerssen ini jelas bahwa pertunjukan Ramayana menunjukkan satu dari cirri-ciri favorit dalam peristiwa jawa pada zaman dahulu.

    Perkataan yang digunaan dalam tulisan macarita Ramayana. Van Naerssen berdebat bahwa dalam literatur jawa kuna macarita digunakan dalam merasakan penceritaan karya prosa. Jika argument ini benar, kita dapat menarik kesimpulan bahwa versi prosa cerita Rama sudah ada didalam zaman Balitung.

    Bagaimanapun, pendapat ini nampaknya tidak didukung adanya bukti. Seperti yang saya katakana sebelumnya, dalam jawa kuna kata parwa yang biasanya digunakan untuk menunjuk karya prosa, terutama dengan isi epos secara umum. Kata carita, dilain pihak, digunakan untuk menunjukkan cerita secara umum. Didalam kutipan diatas dari terjemahan Uttarakanda jawa kuna , untuk contoh, kami membaca ri telas ning Lengkapurakanda cinaritaken de bhagawan Balmiki. Sebagaimana karya valmiki yaitu bukanlah karya prosa, faktanya dimana penulis Uttarakanda jawa kuna harus disadar, cinaritaken dalam kutipan diatas tidak dapat diartikan “diceritakan dalam bentuk prosa”. Kata dasarnya carita ,karena itu dapat digunakan untuk menunjuk Sutasoma dan Arjunawijaya untuk mendukung saya.

    Dalam jawa kuna itu nampaknya tidak ada perbedaan dalam penggunaan antara cerita dan katha. Keduanya dapat digunakan untuk menunjuk prosa dan puisi. Dalam bait-bait dari Arjunawijaya, penulis dari Bali faktanya disebut Arjunawijaya, kakawin Arjunawijaya (naskah A) Arjunawijaya katha (naskah D). Dan satu naskah (F) sungguh menyebut cerita.

    Apapun kasusnya mungkin frase macarita Ramayana terjadi dalam tulisan diatas menunjukkan polpularitas dari kisah itu diantara orang jawa pada hari itu. Satu dari versi paling terkenal dari cerita Rama adalah Ramayana Valmiki. Epos ini juga mempertimbangkan buku suci dari umat Hindu. Kita boleh beranggapan bahwa orang pada jaman itu harus paham dengan versi dari cerita Rama. Ini menunjukkan bahwa mereka harus tahu cerita Rama setelah ia kembali ke Ayodhya (yang diceritakan kembali dalam Uttarakanda tapi tidak memaksakan tak hadir dari Ramayana kakawin). Ini dapat dimengerti pada saat itu, permintaan untuk sesuatu seperti tambahan untuk kakawin Ramayana timbul, mungkin suatu hari setelah kakawi asli dilupakan. Jadi Uttarakanda jawa kuna hadir untuk membuaat kakawin Ramayana lebih lengkap. Agaknya ini kemudian seperti pengulangan dari asal epos Ramayana disebutkan oleh Valmiki: orang merasa bahwa cerita tidak berakhir dengan pantas tanpa pahlawan kembali ke surga.

    BalasHapus
  2. NAMA : MARTINDA MUTIARA SAPUTRI
    NIM : 2102408119
    ROMBEL : 4

    CALIN ARANG

    Calon Arang adalah seorang tokoh dalam cerita rakyat Jawa dan Bali dari abad ke-12. Tidak diketahui lagi siapa yang mengarang cerita ini. Salinan teks Latin yang sangat penting berada di Belanda, yaitu di Bijdragen Koninklijke Instituut.

    Kisah ==

    Diceritakan bahwa ia adalah seorang [[janda]] pengguna [[ilmu hitam]] yang sering merusak hasil panen para [[petani]] dan menyebabkan datangnya [[penyakit]]. Calon Arang mempunyai seorang puteri bernama [[Ratna Manggali]], yang meskipun cantik, tidak dapat mendapatkan seorang suami karena orang-orang takut pada ibunya. Karena kesulitan yang dihadapi puterinya, Calon Arang marah dan ia pun berniat membalas dendam dengan menculik seorang gadis muda. Gadis tersebut ia bawa ke sebuah kuil untuk dikorbankan kepada Dewi Durga. Hari berikutnya, [[banjir]] besar melanda desa tersebut dan banyak orang meninggal dunia. Penyakit pun muncul.

    Raja [[Airlangga]] yang mengetahui hal tersebut kemudian meminta bantuan penasehatnya, [[Empu Baradah]] untuk mengatasi masalah ini. Empu Baradah lalu mengirimkan seorang prajurit bernama Empu Bahula untuk dinikahkan kepada Ratna. Keduanya menikah besar-besaran dengan pesta yang berlangsung tujuh hari tujuh malam, dan keadaan pun kembali normal.

    Calon Arang mempunyai sebuah buku yang berisi ilmu-ilmu sihir. Pada suatu hari, buku ini berhasil ditemukan oleh Bahula yang menyerahkannya kepada Empu Baradah. Saat Calon Arang mengetahui bahwa bukunya telah dicuri, ia menjadi marah dan memutuskan untuk melawan Empu Baradah. Tanpa bantuan Dewi [[Durga]], Calon Arang pun kalah. Sejak ia dikalahkan, desa tersebut pun aman dari ancaman ilmu hitam Calon Arang.


    == Perkembangan kisah ==

    Cerita ini dapat dibagi dalam beberapa babak:

    === Prolog ===

    Pada mulanya suasana di wilayah [[Kerajaan Daha]] sangat tentram. Raja di Daha bernama [[Airlangga]]. Di sana hidup seorang janda, yang bernama Calon Arang, yang mempunyai anak yang cantik, yang bernama Ratna Manggali. Mereka berdua tinggal di desa Girah, di wilayah Kerajaan Daha.

    === Awal Permasalahan ===

    Meskipun cantik, banyak pria di kerajaan tersebut yang tidak mau meminangnya. Ini disebabkan oleh ulah ibunya yang senang menenung. Hal ini menyebabkan kemarahan Calon Arang. Oleh sebab itulah dia membacakan mantra tulah, sehingga muncul mala-petaka dahsyat melanda desa Girah, dan pada akhirnya melanda Daha. Tulah tersebut menyebabkan banyak penduduk daerah tersebut sakit dan mati. Oleh karena tulah tersebut melanda Daha, maka Raja Airlangga marah dan berusaha melawan. Namun kekuatan Raja tidak dapat menandingi kesaktian Calon Arang, sehingga Raja memerintahkan Empu Baradah untuk melawan Calon Arang.

    === Siasat Empu Baradah ===

    Untuk mengalahkan Calon Arang, Empu Baradah mengambil siasat. Dia memerintahkan muridnya, Bahula, untuk meminang Ratna Manggali. Setelah menjadi menantu Calon Arang, maka Bahula mendapatkan kemudahan untuk mengambil buku mantra Calon Arang dan diberikan kepada Empu Baradah.

    === Epilog ===

    Setelah bukunya didapatkan oleh Bahula, Calon Arang pun ditaklukkan oleh Empu Baradah.



    Wayang Calonarang juga sering disebut sebagai Wayang Leyak, adalah salah satu jenis wayang kulit Bali yang dianggap angker karena dalam pertunjukannya banyak mengungkapkan nilai-nilai magis dan rahasia pangiwa dan panengen. Wayang ini pada dasarnya adalah pertunjukan wayang yang mengkhususkan lakon-lakon dari ceritera Calonarang. Sebagai suatu bentuk seni perwayangan yang dipentaskan sebagai seni hiburan, wayang Calonarang masih tetap berpegang pada pola serta struktur pementasan wayang kulit tradisional Bali (Wayang parwa).

    Pagelaran wayang kulit Calon arang melibatkan sekitar 12 orang pemain yang terdiri dari:

    * 1 orang dalang
    * 2 orang pembantu dalang
    * 9 orang penabuh

    Diantara lakon-lakon yang biasa dibawakan dalam pementasan wayang Calonarang ini adalah:

    * Katundung Ratnamangali
    * Bahula Duta
    * Pangesengan Beringin

    Kekhasan pertunjukan wayang Calonarang terletak pada tarian sisiya-nya dengan teknik permainan ngalinting dan adegan ngundang-ngundang di mana sang dalang membeberkan atau menyebutkan nama-nama mereka yang mempraktekkan pangiwa. Hingga kini wayang Calonarang masih ada di beberapa Kabupaten di Bali walaupun popularitasnya masih di bawah wayang Parwa.





    CALON ARANG
    I. Calon Arang membuat tulah di negeri Daha
    1. Adalah pemimpin di Daha. Tentram olehnya memerintah; damai negeri pada pemerintahannya. Maharaja Erlangga gelarnya, sangat baik budi.
    Adalah seorang janda, tinggal di Girah, Calon Arang namanya. Beranak perempuan satu bernama Ratna Manggali, sangat cantik rupanya. Lama tidak ada orang yang melamarnya. Semua orang di Girah, apalagi di Daha, tidak ada orang di daerah pinggiran, tidak ada yang berani melamar anak si janda itu yang bernama Ratna Manggali di Girah. Oleh karena terdengar oleh negeri, bahwa beliau (janda) di Girah itu melakukan yang cemar. Menjauhlah orang-orang melamar Manggali.
    Maka berkata si janda itu: “Aduh, ambillah anakku karena tidak ada orang yang melamar dia, cantiklah rupanya, bagaimana (sampai) tidak ada yang menanyai dia. Marah juga hatiku oleh (hal) itu. Aku akan membaca bukuku; jika aku sudah memegang buku itu, aku akan menghadap Paduka Sri Bhagawati; aku akan meminta anugerah untuk binasanya orang-orang senegeri.”
    Setelah dia memegang sastra itu, datanglah dia ke tempat pembakaran mayat, memintalah dia anugerah kepada Bathari Bhagawati, diiringi oleh semua muridnya. Demikianlah nama-nama siswa itu: Weksirsa, Mahasawadana, Lende, Guyang, Larung, Gandi. Mereka itulah yang mengiringi Janda Girah, bersama-sama menarilah di tempat pembakaran mayat. Datanglah Paduka Bhatari Durga bersama semua tentaranya, ikut bersama-sama menari. Memujalah yang bernama Calon Arang kepada Paduka Bhatari Bhagawati, berkatalah Bhatari: “Aduh, engkau Calon Arang, apa maksudmu datang kepadaku, sehingga engkau disertai oleh para muridmu semua untuk menyembahku?”
    2. Berkatalah janda itu menyembah: “Tuan, anakmu ingin meminta binasanya orang seluruh negeri, demikianlah maksudku.”
    Menjawablah Bhatari: “Aku memberi, tetapi jangan sampai ke tengah , (supaya) raja besar tidak marah kepadaku.”
    Patuhlah janda itu, berpamitan menyembahlah dia kepada Bhatari Bhagawati. Calon Arang diiringi oleh semua muridnya menari di Wawala selama tengah malam. Berbunyilah Kamanak-Kangsi , mereka bersama-sama menari. Setelah selesai menari, pulanglah ke Girah sambil bersorak-sorailah sesampainya di rumah mereka.
    Tidak lama kemudian, tulah menimpa orang-orang seluruh desa (daerah), sehingga banyak yang mati. Berangsur-angsur dimusnahkan. Calon Arang tidak berkata inilah saya.
    Maka tersebutlah Sang Pemimpin Daha, diperhadapkanlah dia di tempat duduk yang tinggi, Sri Maharaja Erlanggha.
    Memberitahukanlah patih, jika rakyatnya banyak yang mati, tulahnya panas-dingin (panas-tis). Menulahi satu hari dua hari kematian. Terlihat menyembah, Janda Girah itu, yang bernama Calon Arang, menari di Wawalu bersama semua muridnya. Banyak orang melihatnya. Demikianlah kata patih itu, semua datang dihadapannya, bersama-sama meninggikan dan mematuhi apa yang dikatakan patih.
    Berkatalah Sang Prabhu: “Hai, pegawaiku, cederai dan bunuhlah Calon Arang olehmu, jangan engkau sendiri, sengkau ditemani pegawai (lain).”
    3. Berpamitanlah pegawai itu menyembah kaki Sang Prabhu: “Mohon ijin hamba untuk membinasakan Janda Girah.” Pergilah pegawai itu. Tanpa berkendaraan, segera pergi ke Girah, pegawai itu menuju ke rumah Calon Arang ketika orang sedang tidur; tidak ada orang yang dalam keadaan bangun. Segera pegawai itu mengambil rambut janda itu, menghunus kerisnya ingin memotong si janda; beratlah tangan pegawai itu, terkejut dan bangunlah Calon Arang, keluarlah api dari mata, hidung, mulut dan telinganya, menyala-nyala menghanguskan pegawai itu. Salah satu dari pegawai itu mati. Yang lainnya menjauh cepat meninggalkan pegawai itu. Tanpa berkata-kata jalannya di jalan, segera pergilah ke kerajaan, memberitahukanlah pegawai itu tentang sisa kematian itu: “Tuan, tak berguna pegawai Paduka Sri Parameswara yang satu mati oleh mata Janda Girah itu. Keluar api dari perut, menyala menghanguskan pegawai Paduka Bhatara.” Berkatalah Sang Prabhu: “Sedih aku jika demikian pemberitahuannya.” Seketika itu juga pulanglah Sang Prabhu dari ruang penghadapan (Balairung). Sang Raja tidak berbicara. Berkatalah Janda di Girah. Bertambah besarlah kemarahannya oleh kedatangan pegawai itu, oleh utusan hamba Sang Prabhu. Berkatalah Calon Arang berseru kepada murid-muridnya mengajak datang ke tempat pembakaran mayat; dipegangnyalah lagi sastra (buku) itu. Setelah memegang mantra tersebut, diiringilah oleh para muridnya semua, datanglah di tepi kuburan tempat yang rindang oleh kepuh dililit kegelapan, daunnya rindang mengurai sampai tanah di bawahnya merata. Janda Girah itu duduk diterima oleh para muridnya semua. Memberitahukanlah Lende berkata: “Hai, Sang Janda, apa sebabnya tuan seperti akan memarahi Sang Pembawa Bumi? Jika demikian lebih baik mempunyai maksud kelakuan baik, menyembah kepada Sang Maharesi sebagai penunjuk jalan ke surga.” Maka berkatalah Larung: “Apa kesedihanmu kepada duka Sang Prabhu? Sebaliknya dipercepatlah perbuatan ke tengah.” Bersama-sama meninggikanlah mereka semua akan perkataan Larung, mengikutlah mereka kepada Calon Arang, kemudian berkatalah dia: “Sangat benar olehmu, Larung. Bunyikanlah Kamanak dan Kangsi kalian, sekarang menarilah masing-masing, ijinkan aku melihat perbuatan itu satu persatu. Sekarang mungkin sampai di perbuatan itu, kalian menarilah.”
    4. Seketika itu juga menarilah Guyang, tariannya mendekap-dekap, berteriak-teriak, terengah-engah dan berbusana; matanya melirik, menoleh kiri kanan. Menarilah Larung; gerakannya seperti macan yang ingin menerkam, matanya kelihatan memerah, benar-benar telanjang. Rambutnya berjalan cepat ke depan. Menarilah Gandi; melompat-lompatlah olehnya menari; rambutnya berjalan cepat ke pinggir. Memerah matanya kelihatan seperti buah janitri. Menarilah Lende; tariannya berjingkat-jingkat dengan kakinya. Tingkah lakunya menyala-nyala seperti api hampir menyala. Berjalan cepat rambutnya. Menarilah Weksirsa; menunduk-nunduk olehnya menari, menoleh-noleh; matanya terbuka tanpa berkedip. Rambutnya berjalan cepat ke samping, benar-benar telanjang. Mahisawadana menari berkaki satu; ia menyungsang menjulur-julur lidahnya; tangannya ingin memeras. Senanglah Calon Arang setelah mereka bersama-sama menari. Membagi tugaslah dia sesampai di istana . Mereka membagi tugas pergi ke lima daerah. Lende ke selatan, Larung ke utara, Guyang ke timur, Gandi ke barat. Calon Arang ke tengah bersama dengan Weksirsa dan Mahisawadana. Setelah mereka berbagi pergi ke lima daerah, Calon Arang datang ke tengah-tengah tempat pembakaran mayat itu, menemui mayat yang mati mendadak di hari ke-5 (kliwon). Dia memberdirikan, mengikat di kepuh, menghidupkan mayat itu, meniup-niupnya; Weksirsa dan Mahisawadana memelekkan mata (mayat itu). Menjadi hiduplah orang itu, sehingga berkatalah mayat itu: “Siapa tuan yang menghidupkan aku? Betapa besarnya hutangku; tak tahu aku membalasnya. Aku menghamba kepada tuan. Tuan, lepaskanlah aku dari pohon kepuh ini, aku ingin berbakti dan menghormat.” Berkatalah Weksirsa: “Engkau sangka (bahwa) engkau hidup? Biarlah aku memarang lehermu dengan parang.” Seketika itu juga diparanglah lehernya dengan parang, melesat leher mayat yang dihidupkannya itu. Terbanglah kepalanya; sampai dikeramaskan dengan darah oleh Calon Arang; menggumpallah rambutnya oleh darah. Ususnya menjadi kalung dan dikalungkannya. Badannya diolah dipanggang semua, menjadi korban para Bhuta (raksasa) yang berada di tempat pembakaran mayat, setelah itu Paduka Bhatari Bhagawati menyetujui (menerima) yang dikorbankan itu.
    5. Keluarlah Bhatari dari kahyangannya, kemudian berkatalah dia kepada Calon Arang: “Aduh, anakku Calon Arang, apa maksudmu memberikan korban kepadaku, (memberikan) bakti hormat? Aku menerima penghormatanmu.” Berkatalah Janda Girah itu: “Tuan, Sang Pemimpin Negeri membuat duka anakmu, aku memohon belas-kasih Bhatari, supaya Paduka Bhatari senang untuk membinasakan orang-orang senegeri, sampai ke tengah sekalian.” Berkatalah Bhatari: “Baik, aku mengabulkan, Calon Arang, namun engkau jangan lengah.” Berpamitanlah janda Girah itu menghormat Bhatari. Segera pergi menarilah dia di perempatan. Terjadilah tulah yang sangat hebat di seluruh negeri itu; terjadi tulah satu malam dua malam, sakitnya panas-dingin, orang-orang mati. Mayat-mayat yang ada di tanah lapang bertumpuk-tumpuk, yang lainnya ada di jalan, ada juga yang tidak terpelihara di rumahnya. Srigala-srigala meraung (membaung) memakan mayat. Burung-burung gagak berteriak-teriak tak putus-putusnya memakan mayat, bersama-sama mencucuk (memakan) mayat. Lalat-lalat beterbangan kian-kemari di rumah meraung-raung, rumah-rumah tak berpenghuni. Yang lainnya orang-orangnya pergi ke tempat jauh, pergi mengungsi ke daerah yang tidak terkena penyakit. Orang-orang yang sakit dipikul, yang lainnya ada yang mengasuh (momong) anaknya dan membawa barang-barang. Para Bhuta yang melihat berseru: “Jangan kalian pergi, desa (daerah) kalian sudah aman, tulah dan penyakit telah selesai, pulanglah kalian ke sini, hiduplah kalian di sini.” Setelah itu banyak kematian orang-orang di jalan yang diambilinya. Para Bhuta itu berada di rumah tak berpenghuni bersenang-senang, tertawa-tawa, bersenda-gurau, memenuhi jalan dan jalan besar. Mahisawadana memasuki rumah berjalan ke dinding, membuat tulah bagi orang serumah. Weksirsa memasuki tempat petiduran orang, berjalan bolak-balik, membuka rintangan/pintu, meminta korban darah mentah dan daging mentah: “Itu kesukaan saya, jangan lama-lama”, katanya. Tidak ada orang yang mati itu melawan tulah dan tingkah laku para Bhuta itu.
    II. Calon Arang terbinasakan oleh Tuan/Empu Bharadah
    1. Berjalanlah seorang pendeta ke tengah-tengah tempat pembakaran mayat, bertemulah dia dengan Weksirsa dan Mahisawadana, murid-murid Calon Arang. Setelah melihat Sang Pendeta itu, datang menciumlah murid-murid itu, dan menyembahnya, yaitu Weksirsa dan Mahisawadana. Berkatalah Sri Bharadah: “Hai orang-orang yang menyembahku, siapakah nama kalian; aku tidak tahu, beritahu aku.” Berkatalah Weksirsa dan Mahisawadana: “Tuan, kami Weksirsa dan Mahisawadana menyembah telapak kaki tuan. Murid-murid Sang Janda Girah. Kami meminta anugerah kepada Sang pendeta, lepaskanlah kami dari siksaan.” Berkatalah sang guru pendeta itu: “Tidak bisa kalian lepas dari siksaan dahulu jika Calon Arang belum dilepaskan dari siksaan dahulu. Berangkatlah kalian ke Calon Arang, berkatalah kalian, bahwa aku ingin berbicara.” Berpamitan menyembahlah Weksirsa dan berlutut, juga Mahisawadana. Nampak dari kejauhan Calon Arang sedang di kahyangan di tempat pembakaran mayat, baru saja pulang Paduka Bhatari Bhagawati dari percakapannya bersama dengan Janda Girah. Baru saja selesai Bhatari berkata: “Hai, Calon Arang, jangan lengah, akan surup/redup/terbenam (kalah) engkau.” Demikianlah kata Bhatari. Setelah itu datang Weksirsa dan Mahisawadana berbicara dahulu kepada Calon Arang; katanya jika Sang Pendeta Bharadah datang. Kata Calon Arang: “Hai, katanya Yang Mulia Bharadah datang; aku akan menemui/menjemput dia.” Pergilah Calon Arang, datanglah menerima Sang Mahasakti, menjemput Sang Pendeta, kata Calon Arang: “Tuanku, bahagialah Sang Pendeta yang kumuliakan, Sang Pendeta Bharadah, aku meminta anugerah kata-kata yang baik (rahayu).” Kata Sang Pendeta: “Lihatlah, aku memberi pengarahan pada tuntunan yang baik; janganlah engkau membuat sakit, yang mulia. Aku diceritai cerita sedih tentang engkau melakukan hal yang jelek membuat manusia banyak yang mati, membuat bumi langka/sepi, membuat dukanya bumi dan membunuh semua rakyat. Betapa banyak engkau membawa mala-petaka (membuat dosa) bagi bumi. Banyaklah orang-orang yang terkena tulah. Keterlaluan engkau membawa mala-petaka, membunuh orang-orang senegara. Tidak dapat engkau terlepas dari siksaan jika engkau sangat bermusuhan. Oleh karena itu, jika belum tahu jalan keluar untuk membebaskan diri, masakan engkau dapat lepas dari siksaan.” Berkatalah Calon Arang: “Permusuhan sangat besar dosaku pada rakyat; oleh karena itu lepaskanlah aku dari siksaan, hai Sang Pendeta, kasihanilah aku.” Berkatalah Sang Pendeta: “Tidak dapat aku melepaskan engkau.”
    2. Berkatalah Calon Arang, marah, menjadi besar dukanya Janda Girah itu: “Lihatlah, aku akan membuat gangguan besar kepadamu, jika engkau tidak tahu melepaskan aku. Engkau enggan melepaskan aku dari siksaan, lihatlah, aku sama sekali menghilangkan dosa. Aku akan meneluh engkau, hai Resi Bharadah.” Kemudian menarilah Calon Arang berbalik mengurai rambutnya, matanya melirik, tangannya menunjuk Sang Pendeta: “Matilah engkau nanti olehku, Pendeta Bharadah. Jika engkau tetap tidak tahu, hai Yang Mulia, pohon beringin besar ini, aku teluh, lihatlah, Empu Bharadah.” Seketika itu juga hancurlah sangat pohon beringin karena mata Calon Arang. Berkatalah Sang Pendeta: “Lihatlah, hai Wanita Yang Mulia, datangkanlah teluhmu lagi yang besar, masakan aku akan heran.” Kemudian semakin besarlah olehnya meneluh, keluarlah api dari mata, hidung, telinga, mulut, menyala-nyala membakar Sang Pendeta. Sang Pendeta tidak terbakar, damailah olehnya memperhatikan hidupnya rakyat. Berkatalah Sang Maha Sakti: “Tidak mati oleh teluhmu, hai Wanita Yang Mulia; aku tidak pergi dari hidup (mati). Semoga engkau mati oleh karena sikapmu itu.” Datanglah kematian Calon Arang. Menjawablah Sang Pendeta Bharadah: “Aduh, aku belum memberi pengarahan tentang kelepasan kepada Wanita Yang Mulia. Lihatlah sungguh hai Wanita Yang Mulia, engkau hidup lagi.” Datanglah kehidupan Calon Arang: marah memaki-maki Calon Arang, katanya: “Aku sudah mati, mengapa tuan menghidupkan aku lagi?” Menjawablah Sang Pendeta “Hai, Yang Mulia, aku membuat hidup lagi kamu, (karena) aku belum memberi pengarahan kepada engkau tentang kelepasanmu dan menunjukkan surgamu, serta menghilangkan rintanganmu.” Berkatalah Calon Arang: “Aduh, berbahagia jika demikian kata Sang Pendeta, lepaskanlah aku dari siksaan; aku menyembah pada telapak-kakimu, Sang Pendeta, jika engkau melepaskan aku dari siksaan.” Meminta dirilah Calon Arang kepada Sang Pendeta, diperkenankan dia mati yang sempurna (kelepasan) dan ditunjukkan surganya. Setelah Sang Pendeta Bharadah memberi pengarahan, Calon Arang menyembah kepada Sang Pendeta. Kata Sang Pendeta: “Lihatlah, lepaslah engkau, hai Wanita Yang Mulia.” Kematian Calon Arang menjadi lepas dari penderitaan, dibakar, roh Janda Girah oleh Sang Kekasih. Maka Weksirsa dan Mahisawadana bersama-sama turut selamat, berjalan menjadi Wiku oleh Sang Pendeta, oleh karena tidak dapat ikut kelepasan bersama dengan Janda Girah. Bersama-sama dijadikan Wiku oleh Sang Pendeta. Demikianlah cerita tentang Calon Arang.
    Teks Kawi:
    CALWAN-ARANG
    I. Calwan-arang adamêl pagêring ing nagara Daha
    1. Katakêna pwa sang nâtheng Daha. Inak denira amraboni mahâñakrawati; landuh ikang rat ring pamawanira. Mahârâja Erlanggyâbhisekanira, atyanta buddhi hayu dahat.
    Hana pwa ya rangda lingên, umunggwing kanang Girah, Calwan-arang pwa ngarannya. Manak taya strî sasiki mangaran ratna Manggalî, listuhayu rupanira. Masowe pwa tan hana wwang lumamare riya. Mwah wwang ing Girah, makanguni ing Daha, tan katakêna deseng paminggir, pada tan hana wani lumamara irikanânak sang rangda, mangaran ratna Manggalî ing Girah. Apan karêngö dening rat, yan hadyan ing Girah lakwagêlêh. Madoh wwang lumamareng sang Manggalî.
    Samangkana umojar ta sang rangda: “Uduh, mapeki ta ya anak inghulun dumeh yan tan hana wwang lumamare riya, hayu pwa rupanya, paran denya tan hana tumakwani riya. Sêngit juga hati mami denya. Nghulun mangke manggangsala pustaka-pinangkanghulun; yan mami huwus gumangsal ikang pustaka, nghulun umarêka ing padanira paduka çri Bhagawatî; nghulun amintânugraha ri tumpuraning wwang sanagara.”
    Ri huwusira gumangsal ikang çâstra, umara ta sireng çmasana, anêda ta sirânugrahawidhi ring paduka bhatarî Bhagawatî, iniring dening çisyanira kabeh. Kunang araning çisya: si Wökçirsa, si Mahisawadana, si Lêndê, si Guyang, si Larung, si Gandi. Ika ta kang umiring sang rangdeng Girah, samyangigêl pwa yeng çmasana. Mijil ta paduka bhatarî Durggâ kalawan wadwanira kabeh, sami milu umigêl.
    2. Mangastuti ta mangaran Calwanarang ri paduka bhatarî Bhagawatî, umojar pwa bhatarî: “Uduh, kita Calwanarang, apa sadhyanta marêkenghulun, matangyan kita dinuluring para çisyanta kabeh parêng manêmbah inghulun?”
    Umatur pwa sang rangda mangañjali: “Pukulun, atmajanira mahyun anêda tumpuraning wwang sanagara, mangkana gatininghulun.”
    Mangling pwa bhatari: “Lah maweh ingong, anghing haywa pati têkeng têngah, haywa patyagêng wuyungtânaku.”
    Mintuhu pwa sang rangda, mamit mangañjali ta sireng bhatarî Bhagawatî. Sang Calwanarang iniring dening çisyanira kabeh umigêl ta ngkaneng wawala sêdêng têngah wêngi. Muni tang kamanak kangsi, parêng pwa ya sama umigêl. Ri huwusnya mangigêl, mulih ta yeng Girah pada wijah-wijah pwa ta têkeng weçmanya.
    Tan suwe agêring tika wwang sadesa-desa, makweh pêjahnya. Animpal-tinimpal. Tan lingên iking Calwanarang.
    Wacananên çri nâtheng Daha, tinangkil sireng wanguntur, çrî mahârâja Erlanggha.
    Umatur ta ken apatih, yen wadwanira makweh pêjah, gêringnya panas-tis. Magêring sadina rong dina, paratra. Ikang katinghalan mangañjali, rangdeng Girah, mangaran Calwanarang, umigêl ngkaneng wawala têkaning çisyanira kabeh. Akweh wwang tumon iriya. Samangkana aturira ken apatih, samyak wwang ring panangkilan; samyaninggihakên yan tuhu mangkana kadyature ken apatih.
    Mojar ta sang prabhu: “E, kawulanigong brêtya, cidra pateni Calwanarang denta; haywa kita dawak, pakanti kita para brêtya.”
    3. Kapwâmwit ta kawula-brêtya mangastuti jêng sang prabhu: “Atêda patik haji cumidraheng rangdeng Girah.” Lumampah ta kawula-brêtya. Tan katakêneng hawan; çîghra prapteng Girah, cumunduk tang brêtya ing weçmanikeng Calwanarang sêdêng sirêping wwang nidra; tan hana swabhawaning wwang matanghi. Tandwa sang brêtya humulêng keça sang rangda, lumiga kadganya umahyun tumuwêkeng sang rangda; abwat pwa tangan sang brêtya, kagyat matanghi Calwanarang, mijil bahni sakeng mata, irung, tutuk mwang kupingnika, murub muntab gumêsêngi sang brêtya. Paratra ikang brêtya kalih siki. Wanehe tikang madoh magêlis palaywanikang brêtya. Tan lingên lakunyeng hawan, çîghra prapta pwa yeng kadatwan, umatur pwa sang brêtya çesanikang paratra: „Pukulun, tanpaguna. Paratra kalih siki brêtya paduka çrî parameçwara dening drêstinira rangdeng Girah. Mijil bahni sakeng garbha, muntab gumêsêngi brêtya paduka bhatara.“
    Mojar pwa sang prabhu: „Kepwan si ngong yan mangkanâturta.“ Lês umantuk sang prabhu sakeng panangkilan. Tan kawacanaha sang naranâtha. Lingên sang rangdeng Girah. Magêng awuwuh pwa wuyungnira dera kapareng brêtya, tur ta wadwa sang prabhu. Mojar ta sang Calwanarang masyangeng çisyanya majak mareng çmasana; lagi pwa ya ginangsal ikang çâstra. Ri huwusnya gumangsal ikang lêpihan, iniring pwa ya dening çisyanira kabeh, têka pwa ye tambinging sêma unggwan ri hêbning kêpuh winilêting karamyan, rwanya marênrêp rumêmbe têkeng kaçyapî i sornika maradin. I rika ta rangdeng Girah malinggih pinarêk dening çisyanira kabeh. Umajar pwa sira si Lêndê umatur: „E, sang rangda, punapa pukulun rehe kadi mangke ri dukani sang amawa-rat? Yan pwa inakaning lampah lêhêng umungsiya ulah rahayu, sumambaheng sang maharsi tumuduhakêna swargga.“
    Dadi umojar pwa si Larung: „Apa kasangsayaninghulun ri duka sang prabhu? Balik ta binangêt ikang ulah den têkêng têngah.“
    Samyaninggihakên ta sira kabeh sojarira Larung, tumurut ni Calwanarang, nêhêr mojar ta sira: „Ya dahat denteku, Larung. Lah unyakên kamanak kangsinta, lah ngwang pada umigêla sasiki sowang, ndak tinghalanya ulahta siki-siki. Mêne lamun têkeng karyya, lah parêng kita umigêla.“
    4. Saksana umigêl pwa si Guyang, pangigêlnya dumêpa-dêpa, angêpyak, angêdêpêk ahosyan karwa siňjang; matanya lumirik, panolihnya ngiwanêngên.
    Umigêl ta si Larung; tandangnya kadi sang mong umahyun dumêmaka, caksunyâsêmu mirah, mawuda-wuda ya. Mure rambutnya mangarêp.
    Umigêl ta si Gandi; lumumpat-lumpat pwa denyângigêl; umure keçanya mangiringan. Abang nayananyâsêmu mangganitri.
    Mangigêl si Lêndê; pangigêlnya ngijig-ijig karwa kengya. Aksinya dumilah kadi bahni meh murub. Umure romanya.
    Mangigêl si Wökçirsa; mangunduk-unduk pwa ya denya umigêl, lêwih tolih; netranya dumêling tan akêdep. Mure umiringan keçanya, mawuda-wuda ya.
    Si Mahisawadana umigêl masuku-tunggal; ya ta manungsang meled-meled lidahnya; tanganya kadyahyun manggrêmusa.
    Suka ta mangahira sang Calwanarang ri huwusnya sami umigêl. Adum sira bobohan yatanya têkeng nagara. Amaňcadesa denirâdum: si Lêndê kidul, si Larung lor, si Guyang wetan, si Gandi kulwan. Calwanarang i têngah kalawan si Wökçirsa mwang si Mahisawadana.
    Huwusnikâdum amaňcadesa, umareng têngahing çmasana sang Calwanarang, amanggih pwa ya çawaning kadadak ing tumpak kaliwon. Ya tikâdêgakêna, ingikêt pwa yeng kêpuh, ya tika huripakêna, binaywanbaywanya; si Wökçirsa mangêlekakên drêsti mwang si Mahisawadana. Maluy ahurip tikang wangke, dadi mojar tikang çawa: „Syapa pwangkulun humuripakêninghulun? Antyanta gunge hutanginghulun; tan wruh panahuraninghulun. Mami angawulaheng sira. Cinuculan pukulun sakeng witning kêpuh, nghulun mangabhyaktya mangarcana.“
    Mojar ta si Wökçirsa: „Demu sangguh ko maweta mahurip? Mangko ko ndak prang ing badama gulumu.“ Saksana pinrang gulunikeng badama, mêsat tênggêknikang byasu hinuripakênya. Mumbul ta rahnya; ya teka karamasakêna kang rudira de sang Calwanarang; magimbal pwa keçanira dening rudira. Ususnira makasawit mwang kinalungakênya. Lawayanya ingolah kinabasang kabeh, makacaruweng bhuta kabeh sahananing çmasana, makanguni paduka bhatarî Bhagawatî adinikanang cinarwan.
    5. Umijil ta sira bhatarî sangkeng kahyanganira, nêhêr mojar ta sireng Calwanarang: „Uduh, anakmami Calwanarang, apa kalinganta mangaturi caru inghulun, bhakti mangarcana? Atarima nghulun ri pangastutinta.“
    Umatur ta rangdeng Girah: „Pwangkulun, sang amawa rat dukeng tanayanta; mami anêda sih bhatarî, suka paduka bhatarî ri tumpuranikang wwang sanagara, depun têkeng têngah pisan.“
    Angling pwa bhatarî: „Lah, suka ingong, Calwanarang, anghing pwa kita haywa pepeka.“
    Mamwit pwa rangdeng Girah mangastuti bhatarî. Çîghra lêpas lampahira mangigêl ta sireng catuspatha.
    Magêring bangêt ikang sanagara; magêring sawêngi kalih wengi, panas-tîs laranya, paratra ikang wwang. Çawa haneng setra tumpuk, lyan haneng têgal, lyan haneng lêbuh, waneh lungkrah haneng weçmanya. Çrêgala ambahung mamangan kunapa. Gagak humung asêluran mamangan kunapa, pada pwa ya manucuk çawa. Lalêr mêngêng ing grêha mangrêng; pomahan suwung. Waneh wwangnya lungha mareng doh, mamet desa kang tan kamaranan umungsi. Ikang wahwagêring tinanggungnya, waneh hanângêmban anaknya mwang tinuntunika mapundut-pundut pwa ya.
    Mulat tang bhutânguwuh: „Haywa kita lungha, desanta huwus makrêta, maryyagêring kamaranan, wangsul ta kita marangke, mahurip ta kita.“ Ri huwusnya mangkana makweh paratreng hawan ikang wwang miyang apundut-pundut. Ikang bhuta haneng pomahan suwung pada wijah-wijah mapiñcul-piñcul masiwo-siwo ya, lyan i lêbuh mwang i marggâgung.
    Si Mahisawadana umañjinging weçma mahawan ing kikis, magêring tang wwang sagrêha. Si Wökçirsa mañjing ing paturwaning wwang, mahawan ing wire-wire, angungkab-ungkabi pangêrêt, maminta caru gêtih mantah daging mantah: „Iku kaptininghulun; haywa ta masowe“, lingnya. Tan katakêna ikang pêjah lyan magêring mwang tingkahing bhuta.
    II. Calwan-arang karuwat dening mpu Bharadah
    1. Lumampah ta sang jatiwara ring madyaning çmasana, kapanggih pwa ya si Wökçirsa kalawan Mahisawadana, çisyanikang Calwanarang. Satinghalnya sang jatiwara datang umarêk ta yeng sang mahâçanta, kalih mangastuti jêngnira, si Wökçirsa mwang Mahisawadana.
    Mojar ta sang çrî Bharadah: „E, wong-wong paran kita sumambahenghulun, kalawan sapeki namanta; katanwruhan nghulun, jateni mami.“
    Umatur pwa ya si Wökçirsa kalawan si Mahisawadana: „Pukulun, ature si Wökçirsa mwah si Mahisawadana sumambaheng talampakanira. Kaçisya pinakanghulun de sang rangdeng Girah. Nghulun anêda sihira sang mahâmuni, lukataninghulun.“
    Mangling pwa sang yogîçwara: „Tan kawaça pwa kita lukata dihin yan tan Calwanarang lukata dihin. Pamangkat kiteng Calwanarang, majara kita, nghulun mahyun mawacana.“
    Amwit angañjali si Wökçirsa tur anikêl, mwang Mahisawadana. Sang Calwanarang sêdêng mangayapeng kahyangan ing çmasana, wahu mantuk paduka bhatarî Bhagawatî sakeng sapocapan kalawan rangdeng Girah. Mawêkas bhatarînguni: „Eh, Calwanarang, haywa pepeka, meh surupanta.“ Mangkana ling bhatarî.
    Saksana datang si Wökçirsa mwang Mahisawadana umatur dumuhun i sang Calwanarang; aturnyeka yan sang yogîçwara Bharadah datang. Mangling pwa Calwanarang: „E, kalinganya warang Bharadah pwa ya datang; nghulun mangke sumapahe riya.“ Lumampah ta sang Calwanarang, rawuh pwa yeng ayunira sang mahâ wawal, sumapeng sang jiwâtma, sang rangdeng Girah, lingnira: „Pwangkulun, bahadya sang jatiwara waranginghulun, sang yogîçwara Bharadah, manêda nghulun pituturaneng rahayu.“
    Mangling ta sang munîndra: „Lah, nghulun mawaraheng nitiyogya; haywa ta kita pinahagêng wuyungta, warang. Nghulun katakêna dihin denta mati-mati janma lakwahêlêk, maweh kalêngkaning bhumi, magawe dukaning rat mwang amamati sarat. Pira-pira denta anadahi mala patakaning rat. Makweh ika wwang magêring. Kadalwan dentâmawa mala pâtaka, amatyani wwang sanagara. Tan kawaça kita lukata yan tan mahawan pati kalinganya. Iwa mangkana, yan durung wruh pasukwêtuning lumukat, masa kita lukata.“
    Mojar ta Calwanarang: „Kalinganyâgêng dahat pâtakamami ing sarat; yan mangkana lukatên nghulun, sang jatiwara; sihanta mawarangenghulun.“
    Mawacana ta sang munîndra: „Tan bisa nghulun lumukateng kita kadi mangke.“
    2. Mojar teki Calwanarang, krodha, magêng dukanira rangdeng Girah: „Ndya doninghulun mawarangeng kita, yan kita tan wruh manglukatenghulun. Lêmêh pwa kita nglukatenghulun, lah pisan-pisan nghulun angêmasana papapâtaka. Ndah têluh kita rêsi Bharadah.“ Nêhêr umigêl Calwanarang sumungsang umure keça, matanya lumirik, karanya tumuding i sang munîndra: „Pêjah si kita mangke deninghulun, yogîçwara Bharadah. Sugyan tan wruha kita, warang, iki groda magêng, nghulun têluhe, dêlêngên denta, mpu Bharadah.“ Saksana rêmêk tikang wrêksa groda deni sangêt drêstinikeng Calwanarang.
    Mangling pwa sang mahâmuni: „Lah, ni warang, têkakên manih panêluhta den asangêt, masa nghulun gawoka.“
    Nêhêr binangêt denira tumêluh, mijil tang bahni sakeng aksi, ghrana, karnna, tutuk, murub muntab ryanggâ sang jatiwara. Tan wighani pwa sang mahâ wawal: „Tan pêjah nghulun denta têluh, ni warang; kakukud huripta dening hulun. Mogha kita mati yeng pangadêganmwika.“ Yateka paratra sang Calwanarang. Dadi rumasa sang mahâmuni Bharadah: „Uduh, durung mami mawaraheng kalêpasan mareng ni warang. Lah wastu ni warang kita huripa manih.“ Ya teka mahurip Calwanarang: runtik manguman-uman iking Calwanarang, lingnira: „Nghulun huwus paratra, apa pwa pukulun denta huripakên manih?“
    Masama pwa sang munîndra „Eh, warang, doninghulun humuripakêneng kita muwah, durung hulun mawarang kiteng kalêpasanta mwang tumuduheng swargganta, kalawan makahilanganing wighnanta.“
    Mojar Calwanarang: „Uduh, kamahyangan si yan mangkana wuwus sang yogîçwara, lumukatenghulun; nghulun sumambaheng lêbutalampakanira sang jatiwara, yan kita lumukatenghulun.“ Umuhun ta Calwanarang i jêng sang munîndra, inuhutakên kalêpasanira mwang tinuduhakên swargganya. Ri wusira winarahan de sang çrî yogîçwara Bharadah, amwit sira Calwanarang mangastuti jêng sang prawara. Ling sang mahâmuni: „Lah, mêntas kita lukat, ni warang.“ Paratra Calwanarang siddha lukat, tununên, çawa sang rangdeng Girah de sang jiwâtma.
    Kunang si Wökçirsa mwang Mahisawadana samyasurud hayu, amalaku winikonana de sang mahâmuni, i rehanika tan kawaça tumûta lukat sarêng kalawan rangdeng Girah. Sami winikwan ta kalih de sang munîçwara. Tan warnnanên sang Calwanarang.

    BalasHapus
  3. NAMA : GERLIN ESTININGSIH
    NIM : 2102408109
    ROMBEL : 4

    Ken Dedes

    Ken Dedes adalah nama permaisuri dari Ken Arok pendiri Kerajaan Tumapel, atau yang kemudian terkenal dengan sebutan Singhasari.
    Daftar isi


    Perkawinan Pertama

    Menurut Pararaton, Ken Dedes adalah putri dari Mpu Purwa, seorang pendeta Buddha dari desa Panawijen. Pada suatu hari Tunggul Ametung akuwu Tumapel singgah di rumahnya. Tunggul Ametung jatuh hati padanya dan segera mempersunting gadis itu. Karena saat itu ayahnya sedang berada di hutan, Ken Dedes meminta Tunggul Ametung supaya sabar menunggu. Namun Tunggul Ametung tidak kuasa menahan diri. Ken Dedes pun dibawanya pulang dengan paksa ke Tumapel untuk dinikahi.

    Ketika Mpu Purwa pulang ke rumah, ia marah mendapati putrinya telah diculik. Ia pun mengutuk barangsiapa yang telah menculik putrinya, maka ia akan mati karena tikaman keris.

    Perkawinan Kedua

    Tunggul Ametung memiliki pengawal kepercayaan bernama Ken Arok. Pada suatu hari Tunggul Ametung dan Ken Dedes pergi bertamasya ke Hutan Baboji. Ketika turun dari kereta, kain Ken Dedes tersingkap sehingga auratnya yang bersinar terlihat oleh Ken Arok.

    Ken Arok menyampaikan hal itu kepada gurunya, yang bernama Lohgawe, seorang pendeta dari India. Menurut Lohgawe, wanita dengan ciri-ciri seperti itu disebut sebagai wanita nareswari yang diramalkan akan menurunkan raja-raja. Mendengar ramalan tersebut, Ken Arok semakin berhasrat untuk menyingkirkan Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes.

    Maka, dengan menggunakan keris buatan Mpu Gandring, Ken Arok berhasil membunuh Tunggul Ametung sewaktu tidur. Yang dijadikan kambing hitam adalah rekan kerjanya, sesama pengawal bernama Kebo Hijo. Ken Arok kemudian menikahi Ken Dedes, bahkan menjadi akuwu baru di Tumapel. Ken Dedes sendiri saat itu sedang dalam keadaan mengandung anak Tunggul Ametung.

    Keturunan Ken Dedes

    Lebih lanjut Pararaton menceritakan keberhasilan Ken Arok menggulingkan Kertajaya raja Kadiri tahun 1222, dan memerdekakan Tumapel menjadi sebuah kerajaan baru. Dari perkawinannya dengan Ken Arok, lahir beberapa orang anak yaitu, Mahisa Wonga Teleng, Panji Saprang, Agnibhaya, dan Dewi Rimbu. Sedangkan dari perkawinan pertama dengan Tunggul Ametung, Ken Dedes dikaruniai seorang putra bernama Anusapati.

    Seiring berjalannya waktu, Anusapati merasa dianaktirikan oleh Ken Arok. Setelah mendesak ibunya, akhirnya ia tahu kalau dirinya bukan anak kandung Ken Arok. Bahkan, Anusapati juga diberi tahu kalau ayah kandungnya telah mati dibunuh Ken Arok.

    Maka, dengan menggunakan tangan pembantunya, Anusapati membalas dendam dengan membunuh Ken Arok pada tahun 1247.

    Keistimewaan Ken Dedes

    Tokoh Ken Dedes hanya terdapat dalam naskah Pararaton yang ditulis ratusan tahun sesudah zaman Tumapel dan Majapahit, sehingga kebenarannya cukup diragukan. Namanya sama sekali tidak terdapat dalam Nagarakretagama atau prasasti apa pun. Mungkin pengarang Pararaton ingin menciptakan sosok leluhur Majapahit yang istimewa, yaitu seorang wanita yang bersinar auratnya.

    Keistimewaan merupakan syarat mutlak yang didambakan masyarakat Jawa dalam diri seorang pemimpin atau leluhurnya. Masyarakat Jawa percaya kalau raja adalah pilihan Tuhan. Ken Dedes sendiri merupakan leluhur raja-raja Majapahit versi Pararaton. Maka, ia pun dikisahkan sejak awal sudah memiliki tanda-tanda sebagai wanita nareswari. Selain itu dikatakan pula kalau ia sebagai seorang penganut Buddha yang telah menguasai ilmu karma amamadang, atau cara untuk lepas dari samsara.

    Dalam kisah kematian Ken Arok dapat ditarik kesimpulan kalau Ken Dedes merupakan saksi mata pembunuhan Tunggul Ametung. Anehnya, ia justru rela dinikahi oleh pembunuh suaminya itu. Hal ini membuktikan kalau antara Ken Dedes dan Ken Arok sesungguhnya saling mencintai, sehingga ia pun mendukung rencana pembunuhan Tunggul Ametung. Perlu diingat pula kalau perkawinan Ken Dedes dengan Tunggul Ametung dilandasi rasa keterpaksaan.
    (Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

    BalasHapus
  4. Nama : Nikmatul Hidayah
    NIM : 2102408114
    Rombel : 04


    KIDUNG SUDAMALA

    Sadewa merupakan tokoh utama dalam Kakawin Sudamala, yaitu karya sastra berbahasa Jawa Kuna peninggalan Kerajaan Majapahit. Naskah ini bercerita tentang kutukan yang menimpa istri Batara Guru bernama Umayi, akibat perbuatannya berselingkuh dengan Batara Brahma.
    Umayi dikisahkan berubah menjadi Rakshasi bernama Ra Nini, dan hanya bisa kembali ke wujud asal apabila diruwat oleh bungsu Pandawa. Maka, Sadewa pun diculik dan dipaksa memimpin prosesi ruwatan. Setelah dirasuki Batara Guru, barulah Sadewa mampu menjalankan permintaan Ra Nini.
    Sadewa pun mendapat julukan baru, yaitu Sudamala yang bermakna "menghilangkan penyakit". Atas petunjuk Ra Nini yang telah kembali menjadi Umayi, Sadewa pun pergi ke desa Prangalas menikahi putri seorang pertapa bernama Tambrapetra. Gadis itu bernama Predapa.
    Sadewa merupakan yang termuda di antara para Pandawa, yaitu sebutan untuk kelima putra Pandu,raja Kerajaan Hastinapura. Sadewa dan saudara kembarnya, Nakula, lahir dari rahim putri Kerajaan Madra yang bernama Madri (dalam pewayangan disebut Madrim). Sementara itu ketiga kakak mereka, yaitu Yudistira, Bimasena, dan Arjuna lahir dari rahim Kunti. Meskipun demikian, Sadewa dikisahkan sebagai putra yang paling disayangi Kunti.
    Nakula dan Sadewa lahir sebagai anugerah dewa kembar bernama Aswino untuk Madri, karena Pandu saat itu sedang menjalani kutukan tidak bisa bersetubuh dengan istrinya. Keduanya lahir di tengah hutan ketika Pandu sedang menjalani kehidupan sebagai pertapa.
    Meskipun Sadewa merupakan Pandawa yang paling muda, namun ia dianggap sebagai yang terbijak di antara mereka. Yudistira bahkan pernah berkata bahwa Sadewa lebih bijak daripada Brihaspati, guru para dewa.
    Sadewa merupakan ahli perbintangan yang ulung dan mampu mengetahui kejadian yang akan datang. Namun ia pernah dikutuk apabila sampai membeberkan rahasia takdir, maka kepalanya akan terbelah menjadi dua.
    Setelah kemenangan Arjuna atas sayembara memanah di Kerajaan Pancala, maka semua Pandawa bersama-sama menikah dengan Dropadi, putri negeri tersebut. Dari perkawinan tersebut Sadewa memiliki putra bernama Srutakirti.
    selain itu, Sadewa juga menikahi puteri Jarasanda, raja Kerajaan Magadha. Kemudian dari istrinya yang bernama Wijaya, lahir seorang putra bernama Suhotra.

    Sangkuni adalah paman para Korawa dari pihak ibu. Ia merupakan tokoh licik yang menciptakan permusuhan antara Pandawa dan Korawa, sehingga meletus perang saudara besar-besaran yang terkenal dengan sebutan Baratayuda.
    Melalui permainan dadu, Sangkuni secara licik berhasil merebut Kerajaan Indraprastha dari tangan para Pandawa. Setelah itu Pandawa dan Dropadi dihukum menjalani pembuangan selama 12 tahun di hutan, serta setahun menyamar.
    Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya, Sadewa berperan sebagai seorang gembala sapi bernama Tantripala. Ia menyadari bahwa penderitaan para Pandawa adalah akibat ulah licik Sangkuni. Maka ia pun bersumpah akan membunuh orang itu apabila meletus perang saudara melawan Korawa.
    Setelah masa hukuman berakhir, pihak Korawa menolak mengembalikan hak-hak Pandawa. Upaya perundingan pun mengalami kegagalan. Perang di Kurukshetra pun meletus. Meskipun jumlah kekuatan pihak Pandawa lebih sedikit, namun mereka memperoleh kemenangan.
    Pada hari ke-18 Sangkuni bertempur melawan Sahadewa. Dengan mengandalkan ilmu sihirnya, Sangkuni menciptakan banjir besar melanda dataran Kurukshetra. Sadewa dengan susah payah akhirnya berhasil mangalahkan Sangkuni. Tokoh licik itu tewas terkena pedang Sadewa.
    Sementara itu dalam pewayangan Jawa, Sangkuni bukan mati di tangan Sadewa, melainkan di tangan Bimasena.
    Dalam pewayangan Jawa, Sadewa dikisahkan lahir di dalam istana Kerajaan Hastina, bukan di dalam hutan. Kelahirannya bersamaan dengan peristiwa perang antara Pandu melawan Tremboko, raja raksasa dari Kerajaan Pringgadani. Dalam perang tersebut keduanya tewas. Madrim ibu Sadewa melakukan bela pati dengan cara terjun ke dalam api pancaka.
    Versi lain menyebutkan, Sadewa sejak lahir sudah kehilangan ibunya, karena Madrim meninggal dunia setelah melahirkan dirinya dan Nakula.
    Sewaktu kecil, Sadewa memiliki nama panggilan Tangsen. Setelah para Pandawa membangun Kerajaan Amarta, Sadewa mendapatkan Kasatrian Baweratalun sebagai tempat tinggalnya.
    Istri Sadewa versi pewayangan hanya seorang, yaitu Perdapa putri Resi Tambrapetra. Dari perkawinan itu lahir dua orang anak bernama Niken Sayekti dan Bambang Sabekti. Masing-masing menikah dengan anak-anak Nakula yang bernama Pramusinta dan Pramuwati.
    Versi lain menyebutkan Sadewa memiliki anak perempuan bernama Rayungwulan, yang baru muncul jauh setelah perang Baratayuda berakhir, atau tepatnya pada saat Parikesit cucu Arjuna dilantik menjadi raja Kerajaan Hastina. Rayungwulan ini menikah dengan putra Nakula yang bernama Widapaksa.
    (Dari Wikipedia Bahasa Indonesia,Ensiklopedia bebas)

    BalasHapus
  5. Nama : Puji Risqiati
    NIM :2102408098
    Rombel : 04
    Kitab Tantu Panggelaran
    oleh Tim Wacana Nusantara
    25 February 2009

    Ceritera Rakyat dalam Kitab Tantu Panggelaran
          Perkembangan karya sastra bangsa Indonesia seirama dengan perkembangan sejarahnya. Banyak sekali hasil karya sastra bangsa Indonesia masa lalu mempunyai nilai amat tinggi, bahkan menguraikan falsafath, dijadikan suri tauladan kehidupan masyarakat. Sedang karya sastra yang isinya berupa ceritera kebanyakan menjadi ceritera rakyat dituturkan uturn tumurun. Sebagai contoh adalah kitan Tantu Panggelaran.

         Menurut isinya kitab Tanu Panggelaran merupakan kumpulan ceritera pendek dan banyak yang menjadi ceritera rakyat, didongengkan orang tua sebelum anaknya tidur. Misalnya asal-usul Gunung Semeru, terjadinya gerhan bulan dan sebagainya. Kitab Tantu Panggelaran ditulis dengan huruf Jawa dan Bahasa Jawa Tengahan, yaitu bahasa Jawa antara bahasa Jawa Kuno dan bahasa Jawa sekarang dan berkembang mulai masa kejayaan Kerajaan Majapahit sampai Kerajaan Demak, Salah satu salinannya berupa naskah kuno disimpan di Perpustakaan Nasional, Bagian Naskah. Penulisannya berbentuk prosa. Sebagai contoh diberikan beberapa ceritera sebagai berikut:
    Asal-usul Gunung Semeru
          Pada waktu itu Pulau Jawa belum dihuni oleh manusia, bagaikan daun padi yang terapung dan terombang-ambing di tengah samudera. Kedudukannya tidak tetap dan selalu berubah arah. Batara Guru menciptakan manusia sejodoh di Pulau Jawa yang lalu beranak pinak. Sayang mereka masih telanjang, tidak dapat berbicara dan belum menetap dalam suatu rumah. Batara Guru memerintah kepada para dewa agar turun ke Pulau Jawa, mendidik manusia Jawa agar dapat membuat pakaian, rumah dan perabotannya dan cara hidup menetap seperti orang sekarang.

         Waktu itu penduduk belum merasa tenteram karena Pulau Jawa selalu berubah arah. Batara Guru menyuruh agar Pulau Jawa dipaku memakai gunung. Atas perintah itu, maka salah seorang dewa mencabut pundak gunung Mahameru dari tanah Hindustan di India. Puncak Mahameru dibawa terbang ke Pulau Jawa melewati Pulau Sumatera. Dalam perjalanan pemindahan gunung tersebut bagian Mahameru berguguran menjadi gunung-gunung yang berjajar sepanjang pulau Jawa antara lain Gunung Katong atau Lawu, Wilis, Kampud atau Kelud, Kawi, Arjuna (Arjuno) dan gunung Kemukus (Welirang). Tubuh Mahameru diletakkan agak miring dan menyandar pada gunung Brahma (Bromo) dan menjadi Gunung Semeru. Puncak Mahameru sendiri adalah Gunung Penanggungan atau Pawitra. 
    VR Van Romondt adalah juga arkeolog dan insinyur yang pernah melakukan penelitian di situs Penanggungan pada tahun 1936, 1937, dan 1940. Menurutnya bangunan punden berundak dan benda purbakala lainnya itu berfungsi sebagai tempat pemujaan nenek moyang pada akhir zaman Hindu. Pada tahun 1951 HG Quaritc Wales menyatakan bahwa memudarnya pengaruh kebudayaan Hindu Budha menyebabkan kebudayaan megalitik asli yang ritusnya adalah pemujaan arwah nenek moyang di puncak-puncak gunung tumbuh kembali. Hal itu ditandai dengan pembuatan bangunan pemujaan di lereng Gunung Penanggungan dan Candi Sukuh serta Candi Ceta di lereng Gunung Lawu.
    Pawitra sebagai gunung suci tempat berlangsungnya aktivitas keagamaan sudah berkembang sejak abad ke 10-11 M pada masa kerajaan Mataram Kuno. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya prasasti yang dikeluarkan oleh Sri Maharaja Rake Hino Pu Sendok pada tanggal 18 September 929 M. Prasasti tersebut berisi tentang dijadikannya Desa Cunggrang sebagai daerah yang bebas pajak (sima) dan penghasilan desa itu akan digunakan untuk pemeliharaan bangunan suci Sanghyang Dharmasasra ing Pawitra dan Sanghyang Prasada Silunglung. Kemudian aktivitas keagamaan di sana mulai marak pada abad 15 M,  masa kejayaan Majapahit hingga kemunduran pengaruh agama Hindu dan Budha di Jawa. Dalam babad Sangkala, bala tentara Demak pada tahun 1525-1527 berhasil merebut kota Majapahit dan Pawitra diduduki pada tahun 1543. Dengan pendudukan itu, berbagai macam kegiatan keagamaan yang telah berlangsung selama kurun waktu 500 tahun di Penanggungan akhirnya berakhir.  
    Sampai di bagian barat Pulau Jawa, Puncak Mahameru ditancapkan sebagai paku. Ternyata Pulau Jawa berat sebelah, bagian barat tenggara dan bagian timur mencuat ke atas. Maka bagian puncak Mahameru tadi dipasang dan diterbangkan ke bagian timur. Sepanjang penerbangan gunung tersebut rontok. Puncak-puncak rontokan itu antara lain Gunung Ciremai, Gunung Slamet, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Kelud, Gunung Lawu, Gunung Wilis, Gunung Anjasmara dan lain-lain. Kemudian puncak yang tersisa ditancapkan berupa Gunung Semeru, dari kata Mahameru. Mulai saat itu Pulau Jawa menjadi tenang kedudukannya seperti sekarang ini.

    Asal Mula Gerhana Bulan
         Ringkasan ceritera sebagai berikut: Maha Dewa mengetahui agar para dewa tidak dapat mati meskipun kena sakit, harus minum air penghidupan atau amrta. Amrta itu adanya di dasar lautan susu dalam suatu wadah. Seluruh dewa termasuk Maha Dewa tidak mampu mengambil amrta di dasar lautan susu. Sidang dewa memutuskan menunjuk raksasa maha besar untuk mengambilnya. Apabila raksasa itu berhasil, maka akan diberi kedudukan sama dengan dewa. Salah satu dewa menyampaikan tugas itu kepada raksasa. Sang raksasa menyanggupinya, kemudian mencabut puncak gunung untuk mengaduk (mengebur) lautan susu. Adukan (keburan) itu menimbulkan arus putar vertikal air lautan susu. Arus air lautan susu semakin lama semakin kencang dan kuat. Dengan kekuatan arus maha dahsyat, maka seua benda di dasar lautan hanyut terbawa putaran arus. Pada saat wadah amrta tampak di permukaan lautan susu, dengan secepat kilat disambar oleh sang raksasa. Kemudian wadah amrta dipersembahkan kepada para dewa.

         Setelah itu timbullah niar raksasa ingin tahu tentang amrta. Sang raksasa bertanya kepada salah satu dewa dan mendapat penjelasan bahwa amrta adalah air penghidupan. Barang siapa minum air penghidupan, maka ia akan hidup selama-lamanya meskipun tertimpa sakit. Mendengar penjelasan itu raksasa terkejut dan menyesal mengapa diserahkan kepada dewa. Timbul keinginan untuk memilikinya atau minimal ikut minum. Sang raksasa berusaha dapat mencuri amrta. Saat itu pula ia bermaksud minum amrta. Bersamaan dengan saat raksasa menenggak amrta, diketahui oleh Dewa Wisnu. Tanpa membuang waktu Wisnu melepaskan panah cakra tepat mengenai leher raksasa dan putus. Kepala Raksasa yang telah minum amrta tetap hidup dan terbang ke angkasa. Badan mulai dari leher yang belum terkena amrta, mati roboh ke bumi manjadi kayu. Oleh penduduk, kayu itu dijadikan bahan membuat “lesung” (tempat menumbuk padi).

        Kepala raksasa tanpa badan terus terbang mengelilingi bumi ingin membalas dendam. Ia bermaksud “nguntal” menelan tanpa dikunyah) bidadari. Sebab bidadari adalah isteri para dewa. Salah satu budadari adalah bulan. Maka kepala raksasa itu terus mengejar bulan. Pada saat tertentu bulan dapat terkejar dan “diuntal”. Saat itu terjadi gerhana. Karena raksasa tadi tidak punya badan (perut), maka bulan keluar lagi. Pada saat terjadi gerhana bulan seluruh penduduk kampung memukuli lesung (badan raksasa). Penduduk yakin, dengan memukul badan raksasa, maka karena merasa kesakitan raksasa mengurungkan memakan bulan. Sampai sekarang, apabila terjadi gerhan bulan tentu di perkampungan terdengar suara ramai orang memukul lesung atau titir kentongan.

    Menghentikan Jalannya Matahari
          Ceritera semacam itu termasuk ceritera klise, yaitu alur ceritera sama yang terdapat di berbagai belahan dunia, misalnya di Persia, Arab, Tibet, Indonesia dan lain-lain. Ringkasan ceritera yang terdapat dalam Tantu Panggelaran sebagai berikut:

         Seorang empu dari Kampung Tapawangkeng di wilayah Kerajaan Daha bernama Sameget Baganjing mempunyai pinjaman berupa makanan. Ia berjanji akan membayar hutangnya setelah matahari terbenam. Empu Sameget Baganjing tidak mempunyai uang membayar hutangnya setelah matahari terbenam. Agar tidak ditagih bayah hutang, maka matahari ditahan perjalanannya, sehingga matahari bersinar terus dan malam (magrib) tertunda datangnya. Padahal waktu itu Sang Raja sedang berpuasa dan akan berbuka setelah matahari terbenam. Sang Raja sudah merasa lapar sekali, tetapi matahari tidak bergerak menuju peraduannya. Setelah diselidiki ternyata matahari ditahan perjalanannya oleh Empu Sameget Baganjing yang tidak dapat bayar hutang. Akhirnya matahari terbenam dan Sang Raja dapat berbuka puasa.

          Banyak karya sastra lama semacam kitab Tantu Panggelaran itu tidak dituliskan nama pengarangnya. Pada umumnya isinya berhubungan dengan keagamaan, yaitu Hindu. Nilai sastranya sangat tinggi, gaya bahasanya indah. Naskah kuno semacam itu banyak disimpan, dirawat dan dilestarikan di museum seluruh Indonesia.

    Referensi
    Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1996. Khasanah Budaya Nusantara VII. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

    Penjelasan WF Stutterheim itu juga berdasar pada kitab Tantu Panggelaran. Dalam kitab Tantu Panggelaran disebutkan bahwa Bhatara Guru menugaskaan Brahma dan Wisnu untuk mengisi pulau Jawa dengan manusia. Karena pulau itu selalu di landa goncangan, maka para dewa memindahkan gunung Mahameru dari India ke Jawa. Dalam perjalanan pemindahan gunung tersebut bagian Mahameru berguguran menjadi gunung-gunung yang berjajar sepanjang pulau Jawa antara lain Gunung Katong atau Lawu, Wilis, Kampud atau Kelud, Kawi, Arjuna (Arjuno) dan gunung Kemukus (Welirang). Tubuh Mahameru diletakkan agak miring dan menyandar pada gunung Brahma (Bromo) dan menjadi Gunung Semeru. Puncak Mahameru sendiri adalah Gunung Penanggungan atau Pawitra. 
    VR Van Romondt adalah juga arkeolog dan insinyur yang pernah melakukan penelitian di situs Penanggungan pada tahun 1936, 1937, dan 1940. Menurutnya bangunan punden berundak dan benda purbakala lainnya itu berfungsi sebagai tempat pemujaan nenek moyang pada akhir zaman Hindu. Pada tahun 1951 HG Quaritc Wales menyatakan bahwa memudarnya pengaruh kebudayaan Hindu Budha menyebabkan kebudayaan megalitik asli yang ritusnya adalah pemujaan arwah nenek moyang di puncak-puncak gunung tumbuh kembali. Hal itu ditandai dengan pembuatan bangunan pemujaan di lereng Gunung Penanggungan dan Candi Sukuh serta Candi Ceta di lereng Gunung Lawu.
    Pawitra sebagai gunung suci tempat berlangsungnya aktivitas keagamaan sudah berkembang sejak abad ke 10-11 M pada masa kerajaan Mataram Kuno. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya prasasti yang dikeluarkan oleh Sri Maharaja Rake Hino Pu Sendok pada tanggal 18 September 929 M. Prasasti tersebut berisi tentang dijadikannya Desa Cunggrang sebagai daerah yang bebas pajak (sima) dan penghasilan desa itu akan digunakan untuk pemeliharaan bangunan suci Sanghyang Dharmasasra ing Pawitra dan Sanghyang Prasada Silunglung. Kemudian aktivitas keagamaan di sana mulai marak pada abad 15 M,  masa kejayaan Majapahit hingga kemunduran pengaruh agama Hindu dan Budha di Jawa. Dalam babad Sangkala, bala tentara Demak pada tahun 1525-1527 berhasil merebut kota Majapahit dan Pawitra diduduki pada tahun 1543. Dengan pendudukan itu, berbagai macam kegiatan keagamaan yang telah berlangsung selama kurun waktu 500 tahun di Penanggungan akhirnya berakhir.  
    Www.Impalaunibraw.or.id/artikel/25-lingkungan/9-ecolabel-atau-enviro.label.html
    Sejarah mencatat sejak zaman Majapahit, Blitar menjadi tempat ziarah penguasa di pusat. Ziarah ke tempat-tempat naga untuk tujuan keagamaan dan politik.
    Di bagian selatan Blitar, terdapat sisa-sisa bangunan candi yang dianggap penting oleh purbakalawan karena dikaitkan dengan tokoh pendiri dinasti Majapahit: Raden Wijaya alias Krtarajasa Jayawarddhana yang memerintah tahun 1293-1309 M. Sisa-sisa bangunan itu berada di sebuah tempat yang bernama Simping. Dulu di tempat ini terdapat sebuah arca setinggi 2 meter, yang sekarang berada di Museum Nasional Jakarta.
    Menurut Bernet Kempers (1959), ahli arkeologi dari Belanda, arca itu merupakan arca perwujudan Krtarajasa sebagai Dewa Siwa. Dalam kakawin Nagarakretagama disebutkan, Krtarajasa meninggal pada tahun Saka 1231 (1309 M) di-dharma-kan di Simping dengan sifat Siwaitis dan di Antapura dengan sifat Budhistis.
    Sisa-sisa bangunan suci yang masih tampak di Simping adalah struktur bagian bawah bangunan. Dulu bangunan suci ini juga rusak, saat Raja Hayam Wuruk (1350-1389) mengunjungi makam leluhurnya itu pada tahun Saka 1283 (1361 M). Dalam Nagarakretagama disebutkan, menara candi itu miring sehingga sang baginda memerintahkan untuk menegakkannya kembali. Hayam Wuruk berkunjung kembali ke Simping pada tahun Saka 1285 (1363 M) untuk memindahkan candi makam Kertarajasa.
    Di tengah struktur candi terdapat sebuah batu segi empat. Bagian atas batu terukir lukisan yang menggambarkan seekor kura-kura sedang membawa gunung di tengah punggungnya. Ular-ular naga membelit gunung tersebut. Lukisan itu melambangkan kisah Amertamanthana dari kitab Mahabharata (India). Amertamanthana menceritakan tentang terjadinya dunia ini melalui pengadukan laut susu untuk mendapatkan amerta, air kehidupan para dewa.
    Selain kisah Amertamanthana, di Jawa juga dikenal kisah serupa dengan versi lain. Dalam kitab Tantu Panggelaran, ada cerita pemindahan Gunung Mahameru (Meru) dari India ke Jawa atas perintah Batara Guru dengan menggunakan kura-kura sebagai alas dan ular sebagai tali. Gunung Mandara dalam kisah Amertamanthana disamakan dengan Gunung Mahameru, gunung suci bersemayamnya para dewa, juga sebagai lambang dunia ini. Pada masa itu Pulau Jawa goncang karena terapung di lautan. Para dewa berhasil mengangkat puncak Mahameru, sedangkan Dewa Wisnu menjelma menjadi ular besar untuk membelit Gunung Mahameru dan ditaruh di atas punggung kura-kura.
    //72.14.235.132/search?q=cache:tHM-magchFLEJ:jibis.pnri.go.id/aktivitas/berita/thn/2005/bln/07/tgl/27/id/

    BalasHapus
  6. Nama : Neni Kusuma Dewi
    NIM : 2102408123
    Rombel : 04


    SULUK SARIDIN (SYEKH JANGKUNG)
    MUQADIMAH
    Bismillah, wengi iki ingsung madep, ngawiti murih pakerti, pakertining budi kang fitri, sujud ingsun, ing ngarsané Dzat Kang Maha Suci.
    Artinya :
    Bismillah, malam ini hamba menghadap, mengawali meraih hikmah/ hikmah budi yang suci, hamba bersujud, di hadapan Keagungan Yang Mahasuci.
    Bismillah ar-rahman ar-rahim, rabu mbengi, malam kamis, tanggal lima las, wulan poso, posoning ati ngilangi fitnah, posoning rogo ngeker tingkah.
    Artinya :
    Bismillâh ar-Rahmân ar-Rahîm, Rabu malam Kamis, tanggal 15 bulan Ramadhan, puasa hati menghilangkan fitnah, puasa raga mencegah tingkah buruk.
    Bismillah, dhuh Pangeran Kang Maha Suci, niat ingsun ndalu niki, kawula kang ngawiti, nulis serat kang ingsun arani, serat Hidayat Bahrul Qalbi, anggayuh Sangkan Paraning Dumadi.
    Artinya :
    Bismillâh, wahai Tuhan Yang Mahasuci, niat hamba malam ini, hamba yang mengawali, menulis surat yang dinamai, surat Hidayat Bahrul Qalbi, untuk memahami asal tujuan hidup ini.
    Bismillah, dhuh Pangeran mugi hanebihna, saking nafsu ingsun iki, kang nistha sipatipun, tansah ngajak ing laku drengki, ngedohi perkawis kang wigati.
    Artinya :
    Bismillâh, wahai Tuhan semoga Engkau menjauhkan, dari nafsu hamba ini, yang buruk sifatnya, senantiasa mengajak berlaku dengki, menjauhi perkara yang baik.
    Bismillah, kanthi nyebut asmaning Allah, Dzat ingkang Maha Welas, Dzat ingkang Maha Asih, kawula nyenyuwun, kanthi tawasul marang Gusti Rasul, Rasul kang aran Nur Muhammad, mugiya kerso paring sapangat, kanthi pambuka ummul kitab.
    Artinya :
    Bismillâh, dengan menyebut nama Allah, Dzat Yang Maha Pengasih, Dzat Yang Maha Penyayang, hamba memohon, melalui perantara Rasul, Rasul yang bernama Nur Muhammad, semoga berkenan memberi syafaat, dengan pembukaan membaca ummul kitab.
    Sun tulis kersaneng rasa, rasaning wong tanah Jawa, sun tulis kersaneng ati, atining jiwa kang Jawi, ati kang suci, tanda urip kang sejati, sun tulis kersaning agami, ageming diri ingkang suci.
    Artinya :
    Hamba tulis karena rasa, perasaan orang tanah Jawa, hamba tulis karena hati, hati dari jiwa yang keluar, hati yang suci, tanda hidup yang sejati, hamba tulis karena agama, pegangan diri yang suci.
    Kang tinulis dudu ajaran, kang tinulis dudu tuntunan, iki serat sakdermo mahami, opo kang tinebut ing Kitab Suci, iki serat amung mangerteni, tindak lampahé Kanjeng Nabi.
    Artinya :
    Yang tertulis bukan ajaran, yang tertulis bukan tuntunan, surat ini sekadar memahami, apa yang tersebut dalam Kitab Suci, surat ini sekadar mengetahui, perilaku hidup Kanjeng Nabi.
    Apa kang ana ing serat iki, mong rasa sedehing ati, ati kang tanpa doyo, mirsani tindak lampahing konco, ingkang tebih saking budi, budining rasa kamanungsan, sirna ilang apa kang dadi tuntunan.
    Artinya :
    Apa yang ada di surat ini, hanya rasa kesedihan hati, hati yang tiada berdaya, melihat sikap perilaku saudara, yang jauh dari budi, budi rasa kemanusiaan, hilang sudah apa yang menjadi tuntunan.
    Mugi-mugi dadiho pitutur, marang awak déwé ingsun, syukur nyumrambahi para sadulur, nyoto iku dadi sesuwun, ing ngarsane Dzat Kang Luhur.
    Artinya :
    Semoga menjadi petunjuk, terhadap diri hamba sendiri, syukur bisa berguna untuk sesama, itulah yang menjadi permohonan, di hadapan Dzat Yang Mahaagung.
    01. SYARIAT
    Mangertiyo sira kabéh, narimoho kanthi saréh, opo kang dadi toto lan aturan, opo kang dadi pinesténan, anggoning ngabdi marang Pangeran.
    Artinya :
    Mengertilah kalian semua, terimalah dengan segala kerendahan jiwa, terimalah dengan tulus dan rela, apa yang menjadi ketetapan dan aturan, apa yang telah digariskan, untuk mengabdi pada Keagungan Tuhan.
    Basa sarak istilah ‘Arbi, tedah isarat urip niki, mulo kénging nampik milih, pundhi ingkang dipun lampahi, anggoning ngabdi marang Ilahi.
    Artinya :
    Istilah syarak adalah bahasa Arab, yang berarti petunjuk atau pedoman untuk menjalani kehidupan ‘agama’, untuk itulah diperbolehkan memilih, mana yang akan dijalani sesuai dengan kemampuan diri, guna mengabdi pada Keagungan Ilahi.
    Saréngat iku tan ora keno, tininggal selagi kuwoso, ageming diri kang wigati, cecekelan maring kitab suci, amrih murih rahmating Gusti.
    Artinya :
    Apa yang telah di-syari‘at-kan hendaknya jangan kita tinggal, selama diri ini mampu untuk menjalankan, aturan yang menjadi pegangan hidup kita, aturan yang sudah dijelaskan dalam kitab suci al-Qur’an, Itu semua, tidak lain hanya usaha kita untuk mendapat rahmat, dan pengampunan dari Yang Maha Kuasa.
    Saréngat iku keno dén aran, patemoné badan lawan lésan, ono maneh kang pepiling, sareh anggoné kidmat, nyembah ngabdi marang Dzat.
    Artinya :
    Syariat juga diartikan, sebuah pertemuan antara badan dengan lisan, bertemunya raga dengan apa yang dikata, ada juga yang memberi pengertian, bahwa syariat adalah pasrah dalam berkhidmat, menyembah dan mengabdi pada Keagungan Yang Mahasuci.
    Saréngat utawi sembah raga iku, pakartining wong amagang laku, sesucine asarana saking warih,
    kang wus lumrah limang wektu, wantu wataking wawaton.
    Artinya :
    Syari`at atau Sembah Raga itu, merupakan tahap persiapan, di mana seseorang harus melewati proses pembersihan diri, dengan cara mengikuti peraturan-peraturan yang ada, dan yang sudah ditentukan—rukun Islam.
    Mulo iling-ilingo kang tinebut iki, sadat, sholat kanthi kidmat, zakat bondo lawan badan, poso sak jroning wulan ramadhan, tinemu haji pinongko mampu, ngudi luhuring budi kang estu.
    Artinya :
    Maka ingat-ingatlah apa yang tersebut di bawah ini, syahadat dengan penuh keihklasan, shalat dengan khusuk dan penuh ketakdhiman, mengeluarkan zakat harta dan badan untuk sesame, puasa pada bulan ramadhan atas nama pengabdian pada Tuhan, menunaikan ibadah haji untuk meraih kehalusan budi pekerti.
    Limo cukup tan kurang, dadi rukune agami Islam, wajib kagem ingkang baligh, ngaqil, eling tur kinarasan, menawi lali ugi nyauri.
    Artinya :
    Lima sudah tersebut tidak kurang, menjadi ketetapan sebagai rukun Islam, wajib dilakukan bagi orang ‘Islam’ yang sudah baligh, berakal, tidak gila dan sehat, adapun, jika lupa menjalankan hendaknya diganti pada waktu yang lain.
    Syaringat ugi kawastanan, laku sembah mawi badan, sembah suci maring Hyang, Hyang ingkang nyipto alam, sembahyang tinemu pungkasan.
    Artinya :
    Syariat juga dinamakan, melakukan penyembahan dengan menggunakan anggota badan, menyembah pada Keagungan Tuhan, Tuhan yang menciptakan alam, Sembah Hyang, begitu kiranya nama yang diberikan.
    SYAHADAT
    Sampun dados pengawitan, tiyang ingkang mlebet Islam, anyekseni wujuding Pangeran, mahos sadat kanthi temenan, madep-manteb ananing iman.
    Artinya :
    Sudah menjadi pembukaan, bagi orang yang ingin masuk Islam, bersaksi akan wujudnya Tuhan, bersungguh-sungguh membaca syahadat, disertai ketetapan hati untuk beriman.
    Asyhadu an-lâ ilâha illâ Allâh wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah, Tinucapo mawi lisan, Sareh legowo tanpa pameksan, Mlebet wonten njroning ati, Dadiho pusoko anggoning ngabdi.
    Artinya :
    Asyhadu an-lâ ilâha illâ Allâh wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah, ucapkanlah dengan lisan, penuh kesadaran tanpa paksaan, masukkan maknanya ke dalam hati, semoga menjadi pusaka untuk terus mengabdi.
    Tan ana Pangeran, kang wajib dén sembah, kejawi amung Gusti Allah, semanten ugi Rasul Muhammad, kang dadi lantaran pitulungé umat.
    Artinya :
    Hamba bersaksi bahwa tak ada tuhan, yang wajib disembah, kecuali Allah swt, begitu pula dengan Nabi Agung Muhammad saw, yang menjadi perantara pertolongan umat.
    SHALAT
    Syarat limo ajo lali, kadas najis, badan kedah suci, nutup aurat kanti kiat, jumeneng panggonan mboten mlarat, ngerti wektu madep kiblat, sampurno ingkang dipun serat.
    Artinya :
    Lima syarat jangan lupa, badan harus suci dari hadats dan najis, menutup aurat jika tidak kesulitan, dilaksanakan di tempat yang suci, mengerti waktu untuk melakukan shalat, lalu menghadap kiblat, sempurna sudah yang ditulis.
    Wolu las kang dadi mufakat, rukun sahe nglakoni shalat, niat nejo, ngadek ingkang kiat, takbir banjur mahos surat, al-fatihah ampun ngantos lepat.
    Artinya :
    Delapan belas yang menjadi mufakat, rukun sahnya menjalankan shalat, niat melakukan shalat, berdiri bagi kita yang mampu, mengucapkan takbiratul ikhram membaca surat, al-Fatichah jangan sampai keliru.
    Rukuk, tumakninah banjur ngadek, aran iktidal kanti jejek, tumakninah semanten ugi, banjur sujud tumurun ing bumi, sareng tumakninah ingkang mesti, kinaranan ing tumakninah, meneng sedelok sak wuse obah.
    Artinya :
    Rukuk dengan tenang lalu berdiri, disebut i’tidal dengan tegap, hendaknya juga tenang seperti rukuk, lalu sujud turun ke bumi, bersama thumakninah yang benar, dinamakan thumakninah, diam sebentar setelah bergerak.
    Sewelas iku lungguh, antarane rong sujudan, tumuli tumakninah, kaping telulas lungguh akhir,
    banjur maos pamuji dikir.
    Artinya :
    Sebelas itu duduk, di antara dua sujud, disertai thumakninah, tiga belas duduk akhir, lalu membaca pujian dzikir.
    Limolas iku moco sholawat, kagem Gusti Rosul Muhammad, tumuli salam kang kawitan,
    sertane niat rampungan, tertib sempurna dadi pungkasan.
    Artinya :
    Lima belas membaca shalawat, kepada Rasul Muhammad, kemudian salam yang pertama, bersama niat keluar shalat, tertib menjadi kesempurnaan.
    ZAKAT
    Zakat iku wus dadi prentah, den lampahi setahun pindah, tumprap wong kang rijkine torah, supados bersih awak lan bondo, ojo pisan-pisan awak déwé leno.
    Artinya :
    Zakat sudah menjadi perintah, dilakukan setahun sekali, bagi orang yang hartanya berlimpah, supa bersih raga dan harta, jangan sekali-kali kita lupa.
    Umume wong dho ngenthoni, malem bodho idul fitri, zakat firah den arani, bersihaké badan lawan ati, zakat maal ugo mengkono, nanging kaprahing dho orak lélo.
    Artinya :
    Umumnya orang mengeluarkan, malam Hari Raya Idul Fitri, zakat fitrah dinamai, membersihkan raga dan hati, zakat harta juga begitu, namun umumnya pada tidak rela.
    Ampun supé niating ati, nglakoni rukun pardune agami, lillahi ta`ala iku krentekno, amrih murih ridaning Gusti, supados dadi abdi kang mulyo.
    Artinya :
    Jangan lupa niat di hati, menjalankan rukun fradhunya agama, karena Allah tanamkanlah, untuk mendapat keridhaan-Nya, supaya menjadi hamba yang mulia.
    PUASA
    Islam, balék, kiat, ngakal, papat sampun kinebatan, wonten maleh ingkang lintu, Islam, balék lawan ngakal, dados sarat nglampahi siam.
    Artinya :
    Islam, baligh, kuat, berakal, empat sudah disebutkan, ada juga yang mengatakan, Islam, baligh, dan berakal, menjadi syarat menjalankan puasa.
    Kados sarat rukun ugi sami, kedah dilampai kanthi wigati, niat ikhlas jroning ati, cegah dahar lawan ngombé, nejo jimak kaping teluné, mutah-mutah kang digawé.
    Artinya :
    Seperti syarat, rukun juga sama, harus dijalanlan dengan hati-hati, niat ikhlas di dalam hati, mencegah makan dan minum, jangan bersetubuh nomor tiga, jangan memuntahkan sesuatu karena sengaja.
    Papat jangkep sampun cekap, dadus sarat rukuné pasa, ngatos-ngatos ampun léna, mugiyo hasil ingkang dipun seja, tentreming ati urip kang mulya.
    Artinya :
    Empat genap sudah cukup, menjadi syarat rukunnya puasa, hati-hati jangan terlena, semoga berhasil apa yang diinginkan, tentramnya hati hidup dengan mulia.
    HAJI
    Limo akhir dadi kasampurnan, ngelampahi rukun parduné Islam, bidal zaroh ing tanah mekah,
    menawi kiat bandane torah, lego manah tinggal pitnah kamanungsan.
    Artinya :
    Lima terakhir menjadi kesempurnaan, menjalankan rukun fardhunya Islam, pergi ziarah ke tanah Makah, jika kuat dan hartanya berlimpah, hati rela menjauhi fitnah kemanusiaan.
    Pitu dadi sepakatan, sarat kaji kang temenan, Islam, balik, ngakal, merdeka, ananing banda lawan sarana, aman dalan sertané panggonan.
    Artinya :
    Tujuh jadi kesepakatan, syarat haji yang betulan, Islam, baligh, berakal, merdeka, adanya harta dan sarana, aman jalan beserta tempat.
    Ikram sertané niat, dadi rukun kang kawitan, wukuf anteng ing ngaropah, towaf mlaku ngubengi kakbah, limo sangi ojo lali, sopa marwah pitu bola-bali.
    Artinya :
    Ikhram beserta niat, menjadi rukun yang pertama, thawaf berjalan mengelilingi ka‘bah, lima sa’i jangan lupa, safa-marwah tujuh kali.
    02. THARIQAT
    Muji sukur Dzat Kang Rahman, tarékat iku sak dermo dalan, panemoné lisan ing pikiran, nimbang nanting lawan heneng, bener luputé sira kanthi héling.
    Artinya :
    Puji syukur Dzat Yang Penyayang, tarekat hanyalah sekadar jalan, bertemunya ucapan dalam pikiran, menimbang memilih dengan tenang, benar tidaknya engkau dengan penuh kesadaran.
    Tarékat ugi kawastanan, sembah cipto kang temenan, nyegah nafsu kang ngambra-ambra, ngedohi sipat durangkara, srah lampah ing Bathara.
    Artinya :
    Tarekat juga dinamakan, sembah cipta yang sebenarnya, mencegah nafsu yang merajalela, menjauhi sifat keburukan, berserah di hadapan Tuhan.
    Semanten ugi aweh pitutur, makna tarékat ingkang luhur, den serupaaken kados segoro, minongko saréngat dadus perahu, kang tinemu mawi ngélmu.
    Artinya :
    Kiranya juga memberi penuturan, makna tarekat yang luhur, diibaratkan laksana samudera, dengan syariat sebagai perahunya, yang ditemukan dengan ilmu.
    Mila ampun ngantos luput, dingin nglampahi saréngat, tumuli tarékat menawi kiat, namung kaprahé piyambak niki, supe anggenipun ngawiti.
    Artinya :
    Maka jangan sampai keliru, mendahulukan menjalani syariat, kemudian tarekat jika mampu, namun umumnya kita ini, lupa saat memulai.
    Mila saksampunipun, dalem sawek sesuwunan, mugiya tansah pinaringan, jembaring dalan kanugrahan,
    rahmat welas asihing Pangeran.
    Artinya :
    Maka setelahnya, hamba senantiasa memohon, semoga terus mendapat, lapangnya jalan anugerah, cinta dan kasih sayang Tuhan.
    SYAHADAT
    Lamuno sampun kinucapan, rong sadat kanthi iman, kaleh puniko dereng nyekapi, kangge ngudari budi pekerti, basuh resék sucining ati.
    Artinya :
    Jika sudah diucapkan, dua syahadat dengan iman, dua ini belumlah cukup, untuk mengurai budi pekerti, membasuh bersih sucinya hati.
    Prayuginipun ugi mangertosi, sifat Agungé Hyang Widhi, kaleh doso gampil dipun éngeti, wujud, kidam lawan baqa, mukalapah lil kawadisi.
    Artinya :
    Seyogyanya juga mengerti, sifat Keagungan Tuhan, dua puluh mudah dimengerti, wujud, qidam, dan baqa, mukhalafah lil hawâdis.
    Limo qiyam binafsihi, wahdaniyat, kodrat, irodat, songo ilmu doso hayat, samak basar lawan kalam,
    pat belas iku aran kadiran.
    Artinya :
    Lima qiyâmuhu bi nanafsihi, wahdaniyat, qodrat, iradat, sembilan ilmu, sepuluh hayat, sama&lsquo, bashar, kalam, empat belas qadiran.
    Muridan kaping limolas, aliman, hayan pitulasé, lawan samian ampun supé, banjur basiron madep manteb, mutakalliman ingkang tetep.
    Artinya :
    Muridan nomor lima belas, aliman, hayan nomor tujuh belas, kemudian samian jangan lupa, terus bashiran dengan mantab, mutakalliman yang tetap.
    Nuli papat kinanggitan, dadi sifat mulyané utusan, sidik, tablik ora mungkur, patonah sabar kanthi srah,
    anteng-meneng teteping amanah.
    Artinya :
    Kemudian empat disebutkan, menjadi sifat kemuliaan utusan, sidiq, tabligh tidak mundur, fathanah sabar dengan berserah, diam tenang bersama amanah.
    Kaleh doso sampun kasebat, mugiyo angsal nikmating rahmat, tambah sekawan tansah ingeti, dadiho dalan sucining ati, ngertosi sir Hyang Widhi.
    Artinya :
    Dua puluh sudah disebut, semoga mendapat nikmatnya rahmat, ditambah empat teruslah ingat, jadilah jalan mensucikan hati, mengetahui rahasia Yang Mahasuci.
    SHALAT
    Limang waktu dipun pesti, nyekel ngegem sucining agami, agami budi kang nami Islam, rasul Muhammad dadi lantaran, tumurune sapangat, rahmat lan salam.
    Artinya :
    Lima waktu sudah pasti, memegang kesucian agama, agama budi yang bernama Islam, rasul Muhammad yang menjadi perantara, turunnya pertolongan, rahmat, dan keselamatan.
    Rino wengi ojo nganti lali, menawi kiat anggoné nglampahi, kronten salat dadi tondo, tulus iklasing manah kito, nyepeng agami tanpo pamekso.
    Artinya :
    Siang malam jangan lupa, jika kuat dalam menjalani, karena shalat menjadi tanda, tulus ikhlasnya hati kita, mengikuti agama tanpa dipaksa.
    Ngisak, subuh kanthi tuwuh, tumuli luhur lawan asar, dumugi maghrib ampun kesasar, lumampahano srah lan sabar, jangkep gangsal unénan Islam.
    Artinya :
    Isyak, Shubuh dengan penuh, kemudian Luhur dan Ashar, sampai Maghrib jangan kesasar, jalanilah dengan pasrah dan sabar, genap lima disebut Islam.
    Kanthi nyebut asmané Allah, Sak niki kita badé milai, ngudari makna ingkang wigati, makna saéstu limang wektu, pramila ingsun sesuwunan, tambahing dungo panjengan.
    Artinya :
    Dengan menyebut nama Allah, sekarang kita akan mulai, mengurai makna yang tersembunyi, makna sesungguhnya lima waktu, karenanya hamba memohon, tambahnya doa Anda sekalian.
    ISYAK
    Sun kawiti lawan ngisak, wektu peteng jroning awak, mengi kinancan cahya wulan, sartané lintang tambah padang, madangi petengé dalan.
    Artinya :
    Hamba mulai dengan isyak, waktu gelap dalam jiwa, malam bersama cahaya bulan, bersanding bintang bertambah terang, menerangi gelapnya jalan.
    Semono ugi awak nira, wonten jroning rahim ibu, dewekan tanpa konco, amung cahyo welasing Gusti,
    ingkang tansah angrencangi.
    Artinya :
    Seperti itu jasad kamu, di dalam rahim seorang ibu, sendirian tanpa teman, hanya cahaya kasih Tuhan, yang senantiasa menemani.
    SHUBUH
    Tumuli subuh sak wusé fajar, banjur serngéngé metu mak byar, padang jinglang sedanten kahanan,
    sami guyu awak kinarasan, lumampah ngudi panguripan.
    Artinya :
    Kemudian shubuh setelah fajar, lalu matahari keluar bersinar, terang benderang semua keadaan, bersama tertawa badan sehat, berjalan mencari kehidupan.
    Duh sedulur mangertiya, iku dadi tanda lahiring sira, lahir saking jroning batin, batin ingkang luhur,
    batin ingkang agung.
    Artinya :
    Wahai saudara mengertilah, itu menjadi tanda kelahiranmu, lahir dari dalam batin, batin yang luhur, batin yang agung.
    ZHUHUR
    Luhur teranging awan, tumancep duwuring bun-bunan, panas siro ngraosaké, tibaning cahyo serngéngé,
    lérén sedélok gonmu agawé.
    Artinya :
    Zhuhur terangnya siang, menancap di atas ubun-ubun, panas kiranya kau rasakan, jatuhnya cahaya matahari, berhenti sebentar dalam bekerja.
    Semono ugo podho gatékno, lumampahing umur siro, awet cilik tumeko gedé, tibaning akal biso mbedakké, becik lan olo kelakuné.
    Artinya :
    Seperti itu juga pahamilah, perjalanan hidup kamu, dari kecil hingga dewasa, saat akal bisa membedakan, baik dan buruk perbuatanmu.
    ASHAR
    Ngasar sak durungé surup, ati-ati noto ing ati, cawésno opo kang dadi kekarep, ojo kesusu ngonmu lumaku, sakdermo buru howo nepsu.
    Artinya :
    Ashar sebelum terbenam, hati-hatilah menata hati, persiapkan apa yang menjadi keinginan, jangan tergesa-gesa kamu berjalan, hanya sekadar menuruti hawa nafsu.
    Mulo podho waspadaha, dho dijogo agemaning jiwa, yo ngéné iki kang aran urip, cilik, gedé tumeko tuwo, bisoho siro ngrumangsani, ojo siro ngrumongso biso.
    Artinya :
    Maka waspadalah, jagalah selalu pegangan jiwa, ya seperti ini yang namanya hidup, kecil, besar, sampai tua, bisalah engkau merasa, janganlah engkau merasa bisa.
    MAGHRIB
    Maghrib kalampah wengi, serngéngé surup ing arah kéblat, purna oléhé madangi jagad, mego kuning banjur jedul, tondo rino sampun kliwat.
    Artinya :
    Maghrib mendekati malam, matahari terbenam di arah kiblat, selesai sudah menerangi dunia, mega kuning kemudian keluar, tanda siang sudah terlewat.
    Duh sedérék mugiyo melok, bilih urip mung sedélok, cilik, gedé tumeko tuwa, banjur pejah sak nalika,
    wangsul ngersané Dzat Kang Kuwasa.
    Artinya :
    Wahai saudara saksikanlah, bahwa hidup hanya sebentar, kecil, besar, sampai tua, kemudian mati seketika, kembali ke hadapan Yang Kuasa.
    ZAKAT
    Lamuno siro kanugrahan, pikantuk rijki ora kurang, gunakno kanthi wicaksono, ampun supé menawi tirah,
    ngedalaken zakat pitrah.
    Artinya :
    Jika engkau diberi anugerah, mendapat rezeki tidak kurang, gunakanlah dengan bijaksana, jangan lupa jika tersisa, mengeluarkan zakat fitrah.
    Zakat lumantar ngresiki awak, lahir batin boten risak, menawi bondo tasih luwih, tumancepno roso asih,
    zakat mal kanthi pekulih.
    Artinya :
    Zakat untuk membersihkan diri, lahir batin tidak rusak, jika harta masih berlimpah, tanamkanlah rasa belas kasih, zakat kekayaan tanpa pamrih.
    Pakir, miskin, tiyang jroning paran, ibnu sabil kawastanan, lumampah ngamil, tiyang katah utang, rikab, tiyang ingkang berjuang, muallap nembé mlebu Islam.
    Artinya :
    Fakir, miskin, orang berpergian, ibn sabil dinamakan, kemudian amil, orang yang banyak hutang, budak, tiyang ingkang berjuang, muallaf yang baru masuk Islam.
    Zakat nglatih jiwo lan rogo, tumindak becik kanthi lélo, ngraosaken sarané liyan, ngudari sifat kamanungsan, supados angsal teteping iman.
    Artinya :
    Zakat melatih jiwa dan raga, menjalankan kebajikan dengan rela, merasakan penderitaan sesame, mengurai sifat kemanusiaan, supaya mendapat tetapnya iman.
    PUASA
    Posoning rogo énténg dilakoni, cegah dahar lan ngombé jroning ari, ananging pasaning jiwa, iku kang kudhu dén reksa, tumindak asih sepining cela.
    Artinya :
    Puasa badan mudah dilakukan, mencegah makam dan minum sepanjang hari, namun puasa jiwa, itu yang seharusnya dijaga, menebar kasih sayang menjauhi pencelaan.
    Semanten ugi pasaning ati, tumindak alus sarengé budi, supados ngunduh wohing pakerti, pilu mahasing sepi, mayu hayuning bumi.
    Artinya :
    Demikian pula puasa hati, sikap lemah lembut sebagai cermin kehalusan budi, supaya mendapat kebaikan sesuai dengan apa yang dingini, tiada harapan yang diinginkan, kecuali hanya ketentraman dan keselamatan dalam kehidupan.
    HAJI
    Kaji dadi kasampurnan, rukun lima kinebatan, mungguhing danten tiyang Islam, zarohi tanah ingkang mulyo, menawi tirah anané bondo.
    Artinya :
    Haji menjadi kesempurnaan, rukum lima yang disebutkan, untuk semua orang Islam, mengunjungi tanah yang mulia, jika ada kelebihan harta.
    Nanging ojo siro kliru, mahami opo kang dén tuju, amergo kaji sakdermo dalan, dudu tujuan luhuring badan, pak kaji dadi tembungan.
    Artinya :
    Tapi janganlah engkau keliru, memahami apa yang dituju, karena haji hanya sekadar jalan, bukan tujuan kemuliaan badan, jika pulang dipanggil Pak Haji.
    Kaji ugi dadi latihan, pisahing siro ninggal kadonyan, bojo, anak lan keluarga, krabat karéb, sederek sedaya, kanca, musuh dho lélakna.
    Artinya :
    Haji juga untuk latihan, perpisahanmu meninggalkan keduniaan, istri, anak, dan keluarga, karib kerabat, semua saudara, teman dan musuh relakanlah.

    Sumber: //alangalangkumitir.wordpress.com/2008/10/14/suluk-saridin-syekh-jangkung/

    BalasHapus
  7. Nur Fajarwati Halimah4 April 2009 00.41

    Nama :Nur Fajarwati Halimah
    NIM :2102408019
    Rombel:1

    KORAWASRAMA

    book report jawa kuna , interpolasi dan penanggalan uttarakanda

    The Dating of the Old Javanese Uttarakanda
    s.supomo, Australian National University

    Untuk waktu yang lama, sisipan dianggap sebagai semacam penyakit dalam literatur jawa kuno. Sekecil apapun gejalanya, penyunting selalu diharapkan berhati-hati dalam mendekati -sebuah kakawin dan harus cepat memutuskan: bagian-bagian yang dicurigai diletakkan didalam kurung kotak. Bagian yang sakit ini pada umumnya tidak tersentuh karena itu sudah diterima sebagai kebiasaan umum diantara generasi awal peneliti jawa kuno, seperti Kern, Juynboll dan Poerbatjaraka. Itu mungkin disebabkan oleh prasangka buruk terhadap apapun yang dianggap sebagai sisipan bagi murid jawa kuno (yang juga mendapat sanskrit dalam pendidikan mereka dan familiar dengan teori bahwa Uttarakanda adalah edisi terakhir dari teks asli Ramayana Valmiki. Hanya sedikit perhatian pada kerja salinan jawa kuna. Demikianlah meskipun keberadaanya telah diktahui setidaknya dari waktu pengumuman dari laporan Friederich’s di tahun 1849-50. Uttarakanda jawa kuna belum diterbitkan secara menyeluruh. Di lain pihak, sebagian besar adaptasi dari parwa epos Mahabharata yang sampai kepada kita, beberapa bagian dari mereka telah dipublikasikan, dan beberapa bagian dari mereka telah diterjemahkan dan didiskusikan.

    Didalam konteks literatur jawa kuno, pengertian atau paham bahwa uttarakanda adalah sisipan adalah tentu salah. Sanskrit Uttarakanda adalah edisi terakhir dalam Ramayana Valmiki, adalah benar. Karena ketika Uttarakanda diterjemahkan kedalam jawa kuna. Kepada seluruh maksud dan tujuan itu telah menjadi bagian dari epos Valmiki untuk hampir sepuluh abad. Jadi seorang penulis berkata dalam “exordium” Uttarakanda jawa kuna:

    Setelah Lengkapura diceritakan oleh bhagawan Valmiki, kemudian dia menggubah akhir dari Ramayana disebut Uttarakanda.

    Kenyataanya bahwa penyuntingan dan studi pembelajaran dari Uttarakanda jawa kuno telah diabaikan sangatlah disesalkan jika kita tidak menyadari bahwa pekerjaan itu adalah sumber primer dari cerita Arjunasasrabahu, satu dai empat siklus dari lakon wayang jawa baru. Itu adalah tujuan dari tulisan tersebut untuk memberi beberapa keterangan dalam satu aspek dai Uttarakanda jawa kuno, dengan harapan itu dapat membangkitkan minat pada pekerjaan ini.

    1. Didalam manggala atau exordium dari Uttarakanda jawa kuno, kami baca:

    Adalah sang pendeta yang sangat unggul…dialah bhagawan Valmiki namanya yang dijadikan sebagai dewa dari segala pujangga, hormatlah sebagai orang yang memberi berkah dalam menggubah cerita Uttarakanda… dan adalah seorang penguasa dunia di pulau jawa…dialah Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama namanya, akan memberi berrkah perlindungan pertolongan dalam penulisan cerita Ramayana.

    Dari kutipan diatas , jelaslah bahwa penulis tanpa nama Uttarakanda jawa kuna memilih Balmiki, itu untuk menyebut Valmiki, penulis cerita kuno epos Ramayana dan Dharmawangsa Teguh Anantawikrama, seorang penguasa dari kerajaan jawa di jawa timur, sebagai pelindungnya.

    Seperti dimohon menjadi petunjuk dalam Uttarakanda jawa kuna, nama Dharmawangsa Teguh Anantawikrama juga dimohon sebagai pelindung dalam terjemahan dari tiga terjemahan jawa kuna dari epos Sanskrit lainya, yaitu Adiparwa , Wirataparwa dan Bhismaparwa. Padahal Uttarakanda adalah bagian dari epos Ramayana, parwa ini adalah bagian dari epos Sanskrit terkenal lainya, Mahabharata. Bagian dari tiga parwa ini, enam atau mungkin tujuh parwa jawa kuna juga sampai pada kita (Sabhaparwa, Udyogaparwa, Asramawasikaparwa, Mausalaparwa, Prasthanikaparwa, dan Swargarohanaparwa), tetapi tidak ada nama raja yang disebutkan didalamnya.

    Sebelumnya satu dari tujuh kanda dari Ramayana dan Sembilan atau sepuluh dari delapan belas parwa dari Mahabharata telah sampai pada kita. Pertanyaan yang muncul apakah hanya mereka bagian dari epos yang telah diterjemahkan atau disalin kedalam jawa kuna atau apakah hanya mereka yang mampu bertahan dari seluruh terjemahan dari kedua epos?

    Sehubungan dengan Mahabharata , Berg berpendapat bahwa seluruh epos telah diterjemahkan kedalam jawa kuna tetapi beberapa parwa dari epos tersebut telah hilang. Pigeaud di lain pihak dengan pendek menjelaskan bahwa idak semua dari delapanbelas buku Mahabharata telah diterjemahkan kedalam prosa jawa. Sayangnya kita tidak mempunyai dokumen sejaman yang digunakan untuk mendebat atau melawan dua pendapat berbeda itu. Dukomen tertua berisi data yang dapat digunakan sebagai titik awal untuk menghasilkan diskusi dalam hal Korawasrama, sebuah risalah atau acuan bertanggal dari abad ke-16, sekitar enam abad setelah terjemahan epos itu sendiri.

    Berdasarkan Korawasrama, risalah itu adalah lanjutan dari Dwidasa parwa, yang terdiri dari delapan belas parwa, yaitu : Adhiparwa, Sabhaparwa, Udyogaparwa, Wirataparwa, Bhismaparwa, Dronaparwa, karnaparwa, Salyaparwa, Sauptikaparwa, Striparwa, Santiparwa, Anusasanaparwa, Uttarakanda, Aswamedhaparwa, Mausalaparwa, Prasthanikaparwa, Swargarohanaparwa dan Agastyaparwa.

    Seperti catatan Swellenggrebel, nama Dwidasaparwa dalam risalah itu nampaknya digunakan untuk menunjuk Mahabharara. Dia juga membenarkan bahwa wanaparwa dan Asramawasika parwa hilang dari daftar-daftar dan untuk membuat daftar turun temurun dari delapan belas parwa yang mengangkat Mahabharata lengkap. Uttarakanda dan Agastyaparwa ditambahkan.

    Seperti naskah dari dua parwa tambahan telah ditemukan dalam korpus dari naskah jawa kuno yang sampai pada kita, disana rupanya terdapat sedikit keraguan bahwa dua karya tersebut masuk dalam daftar sebab pengarang dari Korawasrama kenal akan keduanya. Itu diikuti sebuah perdebatan selanjutnya, bahwa 16 parwa lain yang disebutkan didalam daftar juga bagian dari literature yang masih ada hingga hari itu. Jika dalil itu benar, pendapat pigeaud bahwa tidak semua dari delapan belas buku Mahabharata telah diterjemahkan kedalam prosa jawa nampaknya benar.

    Situasinya bagaimanapun juga itu agak rumit, karena sementara tujuh dari tujuhbelas parwa hilang dari koleksi naskah jawa kuno di bermacam-macam perpus. Kedua parwa yang hilang dari daftar adalah bagian dari naskah yang masih ada dalam koleksi. Ini dapat diterjemahkan bahwa parwa-parwa yang masih ada pada saat itu.

    Mengingat fakta-fakta ini, yaitu bahwa pengarang dari daftar koramasrama emnambelas dari delapanbelas parwa dari Mahabharata dalam perjalananya dua naskah yang hilang adalah bagian dari naskah yang sampai pada kita, itu artinya bagi saya lebih masuk akal bahwa seluruh epos Mahabharata diterjemahkan kedalam jawa kuno. Tetapi beberapa dari parwa-parwa tersebut hilang seiring berjalanya waktu. Hal itu mungkin patut diperhatikan bahwa beberapa dari parwa yang hilang ini adalah bagian yang menceritakan perang besar dari keluarga Bharata. Mpu sedah dan panuluh, dua pujangga besar selama duabelas abad telah menyusun atau mengarang kakawin yang paling terkenal, Bharatayuddha, yang didasarkan pada perang keluarga Bharata. Hal itu mungkin yang popularitasnya luar biasa besar dan penghargaan yang tinggi kakawin ini dinikmati diantara orang Jawa dan Bali yang mungkin terhapus, membutuhkan untuk menulis kembali beberapa parwa-parwa menjadi subjek yang sama seperti kakawin.

    Pada akhirnya, kenyatan bahwa bagian pertama dan terakhir dari parwa-parwa yaitu Adiparwa dan Swargarohanaparwa berturut-turut diterjemahkan kedalam jawa kuna memperkuat argument diatas. Meskipun kita tidak dapat menyatakan dengan pasti parwa mana dalam Mahabharata yang diterjemahkan, karena hanya satu dari mereka yang diberi tanggal, ini lebih mungkin bahwa parwa-parwa diurutkan secara teratur, dari pertama hingga selanjutnya lebih baik daripada dengan acak. Ini selanjutnya meguatkan fakta bahwa Adiparwa, Wirataparwa dan Bhismaparwa semuanya menyebut nama Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama yang menandakan bahwa parwa tersebut diterjemahkan selama masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh. Di lain pihak, tidak disebutkan nama Dharmawangsa Teguh atau raja lain dalam Asramawasikaparwa atau Mausalaparwa atau Prasthanika parwa (Swargarohanaparwa, parwa terakhir tidak diumumkan begitu jauh). Apakah tidak disebutkan nama menandakan bahwa parwa-parwa terakhir dalam Mahabharata diterjemahkan selama masa peralihan yang kacau di Jawa Timur (yaitu setelah kematian Teguh th1017 tetapi sebelum Ailangga naik tahta th1035 )adalah pertanyaan yang sangat beresiko untuk dijawab.

    Dan saya berpendapat bahwa seluruh Mahabharata diterjemahkan kedalam jawa kuna dan oleh karena itu daftar parwa-parwa dari Mahabharata berdasarkan Korawasrama tidak lengkap. Di lain pihak, menyinggung Uttarakanda dalam daftar dari Dwidasaparwa berdasarkan Korawasrama rupanya untuk menunjukkan bahwa hanya satu kanda jawa kuna dari Ramayana yang diketahui oleh penulis dari Korawasrama. Karena ini cocok dengan fakta bahwa naskah yang ada hanya Uttarakanda adalah satu-satunya bagian Ramayana yang diterjemahkan kedalam bahasa jawa kuna. Dan faktanya adalah dalam jawa kuna kata parwa digunakan untuk menunjukkan prosa secara umum nampaknya menguatkan argument diatas. Seperti pemakaian tidak akan mungkin timbul banyak kanda yang ada sisi demi sisi dengan parwa-parwa baik dari awal.

    Karena Uttarakanda adalah terakhir dari tujuh tanda yang terdapat dalam epos Ramayana Valmiki, sedangkan dalam kasus Mahabharata , kita berpendapat bahwa parwa-parwa diterjemahkan dari parwa pertama dan seterusnya. Pertanyaan yang secara alami timbul mengapa bagian akhir dari epos Ramayana terjadi hanya satu-satunya itu dapat dikatakan merupakan pertama dan terakhir, diterjemahkan kedalam jawa kuna.

    Bagaimanapun ini tidak akan menjadi masalah, jika membutuhkan muncul untuk menterjemahkan Uttarakanda kedalam jawa kuna, ada sebuah buku yang berhadapan dengan pengembaraan Rama diceritakan dalam enam bagian pertama dari Ramayana Valmiki dengan demikian sesungguhnya dalam keadaan, seperti kakawin, yaitu Ramayana sudah ada lebih dari satu abad ketika salinan dari Uttarakanda dibuat.

    Ramayana jawa kuna sebagian besar adaptasi dari Ravanavadha (pembunuhan Ravana). Tujuh abad puisi Sanskrit ditulis oleh Bhatti (disini biasanya ditujukkan untuk Bhattikavya) dan walaupun bagian akhir dari kakawin berbeda dengan Bhattikawya. Berakhir seperti dalam karya Bhattikawya, yakni kembalinya Rama ke Ayodhya setelah kematian Ravana. Mengapa penulis tanpa nama dari Ramayana jawa kuna mengambil model dari karya Bhattikavya dan tidak Ramayana Valmiki, ini tidak jelas dan pertanyaanya mungkin tidak relevan bagi kita mengenai ini.

    Satu hal yang jelas bagaimanapun yaitu bahwa adaptasi Bhattikavya menunjukkan bahwa cerita Rama sangat popular di Jawa pada zaman dahulu. Ini juga bukti dari fakta bahwa beberapa bagian dari cerita dilukiskan di candi prambanan , yang dibangun sebelum penulisan Ramayana jawa kuna. Dan dari tulisan dikeluarkan oleh Dyah Balitung ,yang dipublikasikan oleh van Naerssen ini jelas bahwa pertunjukan Ramayana menunjukkan satu dari cirri-ciri favorit dalam peristiwa jawa pada zaman dahulu.

    Perkataan yang digunaan dalam tulisan macarita Ramayana. Van Naerssen berdebat bahwa dalam literatur jawa kuna macarita digunakan dalam merasakan penceritaan karya prosa. Jika argument ini benar, kita dapat menarik kesimpulan bahwa versi prosa cerita Rama sudah ada didalam zaman Balitung.

    Bagaimanapun, pendapat ini nampaknya tidak didukung adanya bukti. Seperti yang saya katakana sebelumnya, dalam jawa kuna kata parwa yang biasanya digunakan untuk menunjuk karya prosa, terutama dengan isi epos secara umum. Kata carita, dilain pihak, digunakan untuk menunjukkan cerita secara umum. Didalam kutipan diatas dari terjemahan Uttarakanda jawa kuna , untuk contoh, kami membaca ri telas ning Lengkapurakanda cinaritaken de bhagawan Balmiki. Sebagaimana karya valmiki yaitu bukanlah karya prosa, faktanya dimana penulis Uttarakanda jawa kuna harus disadar, cinaritaken dalam kutipan diatas tidak dapat diartikan “diceritakan dalam bentuk prosa”. Kata dasarnya carita ,karena itu dapat digunakan untuk menunjuk Sutasoma dan Arjunawijaya untuk mendukung saya.

    Dalam jawa kuna itu nampaknya tidak ada perbedaan dalam penggunaan antara cerita dan katha. Keduanya dapat digunakan untuk menunjuk prosa dan puisi. Dalam bait-bait dari Arjunawijaya, penulis dari Bali faktanya disebut Arjunawijaya, kakawin Arjunawijaya (naskah A) Arjunawijaya katha (naskah D). Dan satu naskah (F) sungguh menyebut cerita.

    Apapun kasusnya mungkin frase macarita Ramayana terjadi dalam tulisan diatas menunjukkan polpularitas dari kisah itu diantara orang jawa pada hari itu. Satu dari versi paling terkenal dari cerita Rama adalah Ramayana Valmiki. Epos ini juga mempertimbangkan buku suci dari umat Hindu. Kita boleh beranggapan bahwa orang pada jaman itu harus paham dengan versi dari cerita Rama. Ini menunjukkan bahwa mereka harus tahu cerita Rama setelah ia kembali ke Ayodhya (yang diceritakan kembali dalam Uttarakanda tapi tidak memaksakan tak hadir dari Ramayana kakawin). Ini dapat dimengerti pada saat itu, permintaan untuk sesuatu seperti tambahan untuk kakawin Ramayana timbul, mungkin suatu hari setelah kakawi asli dilupakan. Jadi Uttarakanda jawa kuna hadir untuk membuaat kakawin Ramayana lebih lengkap. Agaknya ini kemudian seperti pengulangan dari asal epos Ramayana disebutkan oleh Valmiki: orang merasa bahwa cerita tidak berakhir dengan pantas tanpa pahlawan kembali ke surga.

    BalasHapus
  8. NAMA : ANI NOVITASARI
    NIM : 2102408086
    ROMBEL: 03

    SERAT PARARATON


    Serat Pararaton, atau Pararaton saja (bahasa Kawi: "Kitab Raja-Raja"), adalah sebuah kitab naskah Sastra Jawa Pertengahan yang digubah dalam bahasa Jawa Kawi. Naskah ini cukup singkat, berupa 32 halaman seukuran folio yang terdiri dari 1126 baris. Isinya adalah sejarah raja-raja Singhasari dan Majapahit di Jawa Timur. Kitab ini juga dikenal dengan nama "Pustaka Raja", yang dalam bahasa Sanskerta juga berarti "kitab raja-raja". Tidak terdapat catatan yang menunjukkan siapa penulis Pararaton.

    Pararaton diawali dengan cerita mengenai inkarnasi Ken Arok, yaitu tokoh pendiri kerajaan Singhasari (1222–1292).[1][2] Selanjutnya hampir setengah kitab membahas bagaimana Ken Arok meniti perjalanan hidupnya, sampai ia menjadi raja di tahun 1222. Penggambaran pada naskah bagian ini cenderung bersifat mitologis. Cerita kemudian dilanjutkan dengan bagian-bagian naratif pendek, yang diatur dalam urutan kronologis. Banyak kejadian yang tercatat di sini diberikan penanggalan. Mendekati bagian akhir, penjelasan mengenai sejarah menjadi semakin pendek dan bercampur dengan informasi mengenai silsilah berbagai anggota keluarga kerajaan Majapahit.

    Penekanan atas pentingnya kisah Ken Arok bukan saja dinyatakan melalui panjangnya cerita, melainkan juga melalui judul alternatif yang ditawarkan dalam naskah ini, yaitu: "Serat Pararaton atawa Katuturanira Ken Angrok", atau "Kitab Raja-Raja atau Cerita Mengenai Ken Angrok". Mengingat tarikh yang tertua yang terdapat pada lembaran-lembaran naskah adalah 1522 Saka (atau 1600 Masehi), diperkirakan bahwa bagian terakhir dari teks naskah telah dituliskan antara tahun 1481 dan 1600, dimana kemungkinan besar lebih mendekati tahun pertama daripada tahun kedua.
    Daftar isi
    [sembunyikan]

    * 1 Pendahuluan
    * 2 Analisa naskah
    * 3 Referensi
    * 4 Bacaan lebih lanjut
    * 5 Lihat pula
    * 6 Pranala luar

    [sunting] Pendahuluan

    Pararaton dimulai dengan pendahuluan singkat mengenai bagaimana Ken Arok mempersiapkan inkarnasi dirinya sehingga ia bisa menjadi seorang raja.[1] Diceritakan bahwa Ken Arok menjadikan dirinya kurban persembahan (bahasa Sanskerta: yadnya) bagi Yamadipati, dewa penjaga pintu neraka, untuk mendapatkan keselamatan atas kematian. Sebagai balasannya, Ken Arok mendapat karunia dilahirkan kembali sebagai raja Singhasari, dan di saat kematiannya akan masuk ke dalam surga Wisnu.

    Janji tersebut kemudian terlaksana. Ken Arok dilahirkan oleh Brahma melalui seorang wanita dusun yang baru menikah. Ibunya meletakkannya di atas sebuah kuburan ketika baru saja melahirkan; dan tubuh Ken Arok yang memancarkan sinar menarik perhatian Ki Lembong, seorang pencuri yang kebetulan lewat. Ki Lembong mengambilnya sebagai anak dan membesarkannya, serta mengajarkannya seluruh keahliannya. Ken Arok kemudian terlibat dalam perjudian, perampokan dan pemerkosaan. Dalam naskah disebutkan bahwa Ken Arok berulang-kali diselamatkan dari kesulitan melalui campur tangan dewata. Disebutkan suatu kejadian di Gunung Kryar Lejar, dimana para dewa turun berkumpul dan Batara Guru menyatakan bahwa Ken Arok adalah putranya, dan telah ditetapkan akan membawa kestabilan dan kekuasaan di Jawa.

    Pendahuluan Pararaton kemudian dilanjutkan dengan cerita mengenai pertemuan Ken Arok dengan Lohgawe, seorang Brahmana yang datang dari India untuk memastikan agar perintah Batara Guru dapat terlaksana. Lohgawe kemudian menyarankan agar Ken Arok menemui Tunggul Ametung, yaitu penguasa Tumapel. Setelah mengabdi berberapa saat, Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk mendapatkan istrinya, yaitu Ken Dedes; sekaligus tahta atas kerajaan Singhasari.

    [sunting] Analisa naskah

    Beberapa bagian Pararaton tidak dapat dianggap merupakan fakta-fakta sejarah. Terutama pada bagian awal, antara fakta dan fiksi serta khayalan dan kenyataan saling berbaur. Beberapa pakar misalnya C.C. Berg berpendapat bahwa teks-teks tersebut secara keseluruhan supranatural dan ahistoris, serta dibuat bukan dengan tujuan untuk merekam masa lalu melainkan untuk menentukan kejadian-kejadian di masa depan.[3] Meskipun demikian sebagian besar pakar dapat menerima pada tingkat tertentu kesejarahan dari Pararaton, dengan memperhatikan kesamaan-kesamaan yang terdapat pada inskripsi-inskripsi lain serta sumber-sumber China, serta menerima lingkup referensi naskah tersebut dimana suatu interpretasi yang valid dapat ditemukan.[1]

    Haruslah dicatat bahwa naskah tersebut ditulis dalam pemahaman kerajaan masyarakat Jawa. Bagi masyarakat Jawa, merupakan fungsi seorang raja untuk menghubungkan masa kini dengan masa lalu dan masa depan; dan menetapkan kehidupan manusia pada tempatnya yang tepat dalam tata-aturan kosmis. Raja melambangkan lingkup kekuasaan Jawa, pengejawantahan suci dari negara secara keseluruhan; sebagaimana istananya yang dianggap mikrokosmos dari keadaan makrokosmos.[1] Seorang raja (dan pendiri suatu dinasti) dianggap memiliki derajat kedewaan, dimana kedudukannya jauh lebih tinggi daripada orang biasa.

    J.J. Ras membandingkan Pararaton secara berturut-turut dengan Prasasti Canggal (732), Prasasti Śivagŗha (Siwagrha) (856), Calcutta Stone (1041) dan Babad Tanah Jawi (1836). Perbandingan tersebut menunjukkan kesamaan-kesamaan yang jelas dalam karakter, struktur dan fungsi dari teks-teks tersebut serta kesamaan dengan teks-teks historiografi Melayu.

    BalasHapus
  9. Nama :ayu irawati
    Nim :2102408076
    rombel:03

    RANGGALAWE
    Ranggalawe (lahir: ? - wafat: 1295) adalah salah satu pengikut Raden Wijaya yang berjasa besar dalam perjuangan mendirikan Kerajaan Majapahit, namun meninggal sebagai pemberontak pertama dalam sejarah kerajaan ini. Nama besarnya dikenang sebagai pahlawan oleh masyarakat Tuban, Jawa Timur sampai saat ini.

    Daftar isi:
    1. Peran Awal
    2. Jabatan di Majapahit
    3. Tahun Pemberontakan
    4. Jalannya Pertempuran
    5. Silsilah Ranggalawe
    6. Versi Dongeng
    7. Kepustakaan
    1. Peran Awal

    Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe menyebut Ranggalawe sebagai putra Arya Wiraraja bupati Songeneb (nama lama Sumenep). Ia sendiri bertempat tinggal di Tanjung, yang terletak di Pulau Madura sebelah barat.

    Pada tahun 1292 Ranggalawe dikirim ayahnya untuk membantu Raden Wijaya membuka Hutan Tarik (di sebelah barat Tarik, Sidoarjo sekarang) menjadi sebuah desa pemukiman bernama Majapahit. Konon, nama Ranggalawe sendiri merupakan pemberian Raden Wijaya. Lawe merupakan sinonim dari Wenang, yang berarti "benang", atau dapat juga bermakna "kekuasaan". Maksudnya ialah, Ranggalawe diberi kekuasaan oleh Raden Wijaya untuk memimpin pembukaan hutan tersebut.

    Selain itu, Ranggalawe juga menyediakan 27 ekor kuda dari Sumbawa sebagai kendaraan perang Raden Wijaya dan para pengikutnya dalam perang melawan Jayakatwang raja Kadiri.

    Penyerangan terhadap ibu kota Kadiri oleh gabungan pasukan Majapahit dan Mongol terjadi pada tahun 1293. Ranggalawe berada dalam pasukan yang menggempur benteng timur kota Kadiri. ia berhasil menewaskan pemimpin benteng tersebut yang bernama Sagara Winotan.
    2. Jabatan di Majapahit

    Setelah Kadiri runtuh, Raden Wijaya menjadi raja pertama Kerajaan Majapahit. Menurut Kidung Ranggalawe, atas jasa-jasanya dalam perjuangan Ranggalawe diangkat sebagai bupati Tuban yang merupakan pelabuhan utama Jawa Timur saat itu.

    Prasasti Kudadu tahun 1294 yang memuat daftar nama para pejabat Majapahit pada awal berdirinya, ternyata tidak mencantumkan nama Ranggalawe. Yang ada ialah nama Arya Adikara dan Arya Wiraraja. Menurut Pararaton, Arya Adikara adalah nama lain Arya Wiraraja. Namun prasasti Kudadu menyebut dengan jelas bahwa keduanya adalah nama dua orang tokoh yang berbeda.

    Sejarawan Slamet Muljana mengidentifikasi Arya Adikara sebagai nama lain Ranggalawe. Dalam tradisi Jawa ada istilah nunggak semi, yaitu nama ayah kemudian dipakai anak. Jadi, nama Arya Adikara yang merupakan nama lain Arya Wiraraja, kemudian dipakai sebagai nama gelar Ranggalawe ketika dirinya diangkat sebagai pejabat Majapahit.

    Dalam prasasti Kudadu, ayah dan anak tersebut sama-sama menjabat sebagai pasangguhan, yang keduanya masing-masing bergelar Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka dan Rakryan Mantri Dwipantara Arya Adikara.
    3. Tahun Pemberontakan

    Pararaton menyebut pemberontakan Ranggalawe terjadi pada tahun 1295, namun dikisahkan sesudah kematian Raden Wijaya. Menurut naskah ini, pemberontakan tersebut bersamaan dengan Jayanagara naik takhta.

    Menurut Nagarakretagama, Raden Wijaya meninggal dunia dan digantikan kedudukannya oleh Jayanagara terjadi pada tahun 1309. Akibatnya, sebagian sejarawan berpendapat bahwa pemberontakan Ranggalawe terjadi pada tahun 1309, bukan 1295. Seolah-olah pengarang Pararaton melakukan kesalahan dalam penyebutan angka tahun.

    Namun Nagarakretagama juga mengisahkan bahwa pada tahun 1295 Jayanagara diangkat sebagai yuwaraja atau "raja muda" di istana Daha. Selain itu Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe dengan jelas menceritakan bahwa pemberontakan Ranggalawe terjadi pada masa pemerintahan Raden Wijaya, bukan Jayanagara.

    Fakta lain menunjukkan, nama Arya Wiraraja dan Arya Adikara sama-sama terdapat dalam prasasti Kudadu tahun 1294, namun kemudian keduanya sama-sama tidak terdapat lagi dalam prasasti Sukamreta tahun 1296. Ini pertanda bahwa Arya Adikara alias Ranggalawe kemungkinan besar memang meninggal pada tahun 1295, sedangkan Arya Wiraraja diduga mengundurkan diri dari pemerintahan setelah kematian anaknya itu.

    Jadi, kematian Ranggalawe terjadi pada tahun 1295 bertepatan dengan pengangkatan Jayanagara putra Raden Wijaya sebagai raja muda. Dalam hal ini pengarang Pararaton tidak melakukan kesalahan dalam menyebut tahun, hanya saja salah menempatkan pembahasan peristiwa tersebut.

    Sementara itu Nagarakretagama yang dalam banyak hal memiliki data lebih akurat dibanding Pararaton sama sekali tidak membahas pemberontakan Ranggalawe. Hal ini dapat dimaklumi karena naskah ini merupakan sastra pujian sehingga penulisnya, yaitu Mpu Prapanca merasa tidak perlu menceritakan pemberontakan seorang pahlawan yang dianggapnya sebagai aib.
    4. Jalannya Pertempuran

    Pararaton mengisahkan Ranggalawe memberontak terhadap Kerajaan Majapahit karena dihasut seorang pejabat licik bernama Mahapati. Kisah yang lebih panjang terdapat dalam Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe.

    Pemberontakan tersebut dipicu oleh ketidakpuasan Ranggalawe atas pengangkatan Nambi sebagai rakryan patih. Menurut Ranggalawe, jabatan patih sebaiknya diserahkan kepada Lembu Sora yang dinilainya jauh lebih berjasa dalam perjuangan daripada Nambi.

    Ranggalawe yang bersifat pemberani dan emosional suatu hari menghadap Raden Wijaya di ibu kota dan langsung menuntut agar kedudukan Nambi digantikan Sora. Namun Sora sama sekali tidak menyetujui hal itu dan tetap mendukung Nambi sebagai patih.

    Karena tuntutannya tidak dihiraukan, Ranggalawe membuat kekacauan di halaman istana. Sora keluar menasihati Ranggalawe, yang merupakan keponakannya sendiri, untuk meminta maaf kepada raja. Namun Ranggalawe memilih pulang ke Tuban.

    Mahapati yang licik ganti menghasut Nambi dengan melaporkan bahwa Ranggalawe sedang menyusun pemberontakan di Tuban. Maka atas izin raja, Nambi berangkat memimpin pasukan Majapahit didampingi Lembu Sora dan Kebo Anabrang untuk menghukum Ranggalawe.

    Mendengar datangnya serangan, Ranggalawe segera menyiapkan pasukannya. Ia menghadang pasukan Majapahit di dekat Sungai Tambak Beras. Perang pun terjadi di sana. Ranggalawe bertanding melawan Kebo Anabrang di dalam sungai. Kebo Anabrang yang pandai berenang akhirnya berhasil membunuh Ranggalawe secara kejam.

    Melihat keponakannya disiksa sampai mati, Lembu Sora merasa tidak tahan. Ia pun membunuh Kebo Anabrang dari belakang. Pembunuhan terhadap rekan inilah yang kelak menjadi penyebab kematian Sora pada tahun 1300.
    5. Silsilah Ranggalawe

    Kidung Ranggalawe dan Kidung Panji Wijayakrama menyebut Ranggalawe memiliki dua orang istri bernama Martaraga dan Tirtawati. Mertuanya adalah gurunya sendiri, bernama Ki Ajar Pelandongan. Dari Martaraga lahir seorang putra bernama Kuda Anjampiani.

    Kedua naskah di atas menyebut ayah Ranggalawe adalah Arya Wiraraja. Sementara itu, Pararaton menyebut Arya Wiraraja adalah ayah Nambi. Kidung Harsawijaya juga menyebutkan kalau putra Wiraraja yang dikirim untuk membantu pembukaan Hutan Tarik adalah Nambi, sedangkan Ranggalawe adalah perwira Kerajaan Singhasari yang kemudian menjadi patih pertama Majapahit.

    Uraian Kidung Harsawijaya terbukti salah karena berdasarkan prasasti Sukamreta tahun 1296 diketahui nama patih pertama Majapahit adalah Nambi, bukan Ranggalawe.

    Nama ayah Nambi menurut Kidung Sorandaka adalah Pranaraja. Sejarawan Dr. Brandes menganggap Pranaraja dan Wiraraja adalah orang yang sama. Namun, menurut Slamet Muljana keduanya sama-sama disebut dalam prasasti Kudadu sebagai dua orang tokoh yang berbeda.

    Menurut Slamet Muljana, Nambi adalah putra Pranaraja, sedangkan Ranggalawe adalah putra Wiraraja. Hal ini ditandai dengan kemunculan nama Arya Wiraraja dan Arya Adikara dalam prasasti Kudadu, dan keduanya sama-sama menghilang dalam prasasti Sukamreta sebagaimana telah dibahas di atas.
    6. Versi Dongeng

    Nama besar Ranggalawe rupanya melekat dalam ingatan masyarakat Jawa. Penulis Serat Damarwulan atau Serat Kanda, mengenal adanya nama Ranggalawe namun tidak mengetahui dengan pasti bagaimana kisah hidupnya. Maka, ia pun menempatkan tokoh Ranggalawe hidup sezaman dengan Damarwulan dan Menak Jingga. Damarwulan sendiri merupakan tokoh fiksi, karena kisahnya tidak sesuai dengan bukti-bukti sejarah, serta tidak memiliki prasasti pendukung.

    Dalam versi dongeng ini, Ranggalawe dikisahkan sebagai adipati Tuban yang juga merangkap sebagai panglima angkatan perang Majapahit pada masa pemerintahan Ratu Kencanawungu. Ketika Majapahit diserang oleh Menak Jingga adipati Blambangan, Ranggalawe ditugasi untuk menghadangnya. Dalam perang tersebut, Menak Jingga tidak mampu membunuh Ranggalawe karena selalu terlindung oleh payung pusakanya. Maka, Menak Jingga pun terlebih dulu membunuh abdi pemegang payung Ranggalawe yang bernama Wongsopati. Baru kemudian, Ranggalawe dapat ditewaskan oleh Menak Jingga.

    Tokoh Ranggalawe dalam kisah ini memiliki dua orang putra, bernama Siralawe dan Buntarlawe, yang masing-masing kemudian menjadi bupati di Tuban dan Bojonegoro.
    2009 April 5 07:55

    BalasHapus
  10. Pangestika Tuhu Kristanti7 April 2009 03.23

    Pangestika Tuhu Kristanti
    2102408126
    Rombel:4

    Kidung Ranggalawe
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Langsung ke: navigasi, cari

    Ranggalawe (lahir: ? - wafat: 1295) adalah salah satu pengikut Raden Wijaya yang berjasa besar dalam perjuangan mendirikan Kerajaan Majapahit, namun meninggal sebagai pemberontak pertama dalam sejarah kerajaan ini. Nama besarnya dikenang sebagai pahlawan oleh masyarakat Tuban, Jawa Timur sampai saat ini.
    Daftar isi
    [sembunyikan]

    * 1 Peran Awal
    * 2 Jabatan di Majapahit
    * 3 Tahun Pemberontakan
    * 4 Jalannya Pertempuran
    * 5 Silsilah Ranggalawe
    * 6 Versi Dongeng
    * 7 Kepustakaan

    [sunting] Peran Awal

    Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe menyebut Ranggalawe sebagai putra Arya Wiraraja bupati Songeneb (nama lama Sumenep). Ia sendiri bertempat tinggal di Tanjung, yang terletak di Pulau Madura sebelah barat.

    Pada tahun 1292 Ranggalawe dikirim ayahnya untuk membantu Raden Wijaya membuka Hutan Tarik (di sebelah barat Tarik, Sidoarjo sekarang) menjadi sebuah desa pemukiman bernama Majapahit. Konon, nama Ranggalawe sendiri merupakan pemberian Raden Wijaya. Lawe merupakan sinonim dari Wenang, yang berarti "benang", atau dapat juga bermakna "kekuasaan". Maksudnya ialah, Ranggalawe diberi kekuasaan oleh Raden Wijaya untuk memimpin pembukaan hutan tersebut.

    Selain itu, Ranggalawe juga menyediakan 27 ekor kuda dari Sumbawa sebagai kendaraan perang Raden Wijaya dan para pengikutnya dalam perang melawan Jayakatwang raja Kadiri.

    Penyerangan terhadap ibu kota Kadiri oleh gabungan pasukan Majapahit dan Mongol terjadi pada tahun 1293. Ranggalawe berada dalam pasukan yang menggempur benteng timur kota Kadiri. ia berhasil menewaskan pemimpin benteng tersebut yang bernama Sagara Winotan.

    [sunting] Jabatan di Majapahit

    Setelah Kadiri runtuh, Raden Wijaya menjadi raja pertama Kerajaan Majapahit. Menurut Kidung Ranggalawe, atas jasa-jasanya dalam perjuangan Ranggalawe diangkat sebagai bupati Tuban yang merupakan pelabuhan utama Jawa Timur saat itu.

    Prasasti Kudadu tahun 1294 yang memuat daftar nama para pejabat Majapahit pada awal berdirinya, ternyata tidak mencantumkan nama Ranggalawe. Yang ada ialah nama Arya Adikara dan Arya Wiraraja. Menurut Pararaton, Arya Adikara adalah nama lain Arya Wiraraja. Namun prasasti Kudadu menyebut dengan jelas bahwa keduanya adalah nama dua orang tokoh yang berbeda.

    Sejarawan Slamet Muljana mengidentifikasi Arya Adikara sebagai nama lain Ranggalawe. Dalam tradisi Jawa ada istilah nunggak semi, yaitu nama ayah kemudian dipakai anak. Jadi, nama Arya Adikara yang merupakan nama lain Arya Wiraraja, kemudian dipakai sebagai nama gelar Ranggalawe ketika dirinya diangkat sebagai pejabat Majapahit.

    Dalam prasasti Kudadu, ayah dan anak tersebut sama-sama menjabat sebagai pasangguhan, yang keduanya masing-masing bergelar Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka dan Rakryan Mantri Dwipantara Arya Adikara.

    [sunting] Tahun Pemberontakan

    Pararaton menyebut pemberontakan Ranggalawe terjadi pada tahun 1295, namun dikisahkan sesudah kematian Raden Wijaya. Menurut naskah ini, pemberontakan tersebut bersamaan dengan Jayanagara naik takhta.

    Menurut Nagarakretagama, Raden Wijaya meninggal dunia dan digantikan kedudukannya oleh Jayanagara terjadi pada tahun 1309. Akibatnya, sebagian sejarawan berpendapat bahwa pemberontakan Ranggalawe terjadi pada tahun 1309, bukan 1295. Seolah-olah pengarang Pararaton melakukan kesalahan dalam penyebutan angka tahun.

    Namun Nagarakretagama juga mengisahkan bahwa pada tahun 1295 Jayanagara diangkat sebagai yuwaraja atau "raja muda" di istana Daha. Selain itu Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe dengan jelas menceritakan bahwa pemberontakan Ranggalawe terjadi pada masa pemerintahan Raden Wijaya, bukan Jayanagara.

    Fakta lain menunjukkan, nama Arya Wiraraja dan Arya Adikara sama-sama terdapat dalam prasasti Kudadu tahun 1294, namun kemudian keduanya sama-sama tidak terdapat lagi dalam prasasti Sukamreta tahun 1296. Ini pertanda bahwa Arya Adikara alias Ranggalawe kemungkinan besar memang meninggal pada tahun 1295, sedangkan Arya Wiraraja diduga mengundurkan diri dari pemerintahan setelah kematian anaknya itu.

    Jadi, kematian Ranggalawe terjadi pada tahun 1295 bertepatan dengan pengangkatan Jayanagara putra Raden Wijaya sebagai raja muda. Dalam hal ini pengarang Pararaton tidak melakukan kesalahan dalam menyebut tahun, hanya saja salah menempatkan pembahasan peristiwa tersebut.

    Sementara itu Nagarakretagama yang dalam banyak hal memiliki data lebih akurat dibanding Pararaton sama sekali tidak membahas pemberontakan Ranggalawe. Hal ini dapat dimaklumi karena naskah ini merupakan sastra pujian sehingga penulisnya, yaitu Mpu Prapanca merasa tidak perlu menceritakan pemberontakan seorang pahlawan yang dianggapnya sebagai aib.

    [sunting] Jalannya Pertempuran

    Pararaton mengisahkan Ranggalawe memberontak terhadap Kerajaan Majapahit karena dihasut seorang pejabat licik bernama Mahapati. Kisah yang lebih panjang terdapat dalam Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe.

    Pemberontakan tersebut dipicu oleh ketidakpuasan Ranggalawe atas pengangkatan Nambi sebagai rakryan patih. Menurut Ranggalawe, jabatan patih sebaiknya diserahkan kepada Lembu Sora yang dinilainya jauh lebih berjasa dalam perjuangan daripada Nambi.

    Ranggalawe yang bersifat pemberani dan emosional suatu hari menghadap Raden Wijaya di ibu kota dan langsung menuntut agar kedudukan Nambi digantikan Sora. Namun Sora sama sekali tidak menyetujui hal itu dan tetap mendukung Nambi sebagai patih.

    Karena tuntutannya tidak dihiraukan, Ranggalawe membuat kekacauan di halaman istana. Sora keluar menasihati Ranggalawe, yang merupakan keponakannya sendiri, untuk meminta maaf kepada raja. Namun Ranggalawe memilih pulang ke Tuban.

    Mahapati yang licik ganti menghasut Nambi dengan melaporkan bahwa Ranggalawe sedang menyusun pemberontakan di Tuban. Maka atas izin raja, Nambi berangkat memimpin pasukan Majapahit didampingi Lembu Sora dan Kebo Anabrang untuk menghukum Ranggalawe.

    Mendengar datangnya serangan, Ranggalawe segera menyiapkan pasukannya. Ia menghadang pasukan Majapahit di dekat Sungai Tambak Beras. Perang pun terjadi di sana. Ranggalawe bertanding melawan Kebo Anabrang di dalam sungai. Kebo Anabrang yang pandai berenang akhirnya berhasil membunuh Ranggalawe secara kejam.

    Melihat keponakannya disiksa sampai mati, Lembu Sora merasa tidak tahan. Ia pun membunuh Kebo Anabrang dari belakang. Pembunuhan terhadap rekan inilah yang kelak menjadi penyebab kematian Sora pada tahun 1300.

    [sunting] Silsilah Ranggalawe

    Kidung Ranggalawe dan Kidung Panji Wijayakrama menyebut Ranggalawe memiliki dua orang istri bernama Martaraga dan Tirtawati. Mertuanya adalah gurunya sendiri, bernama Ki Ajar Pelandongan. Dari Martaraga lahir seorang putra bernama Kuda Anjampiani.

    Kedua naskah di atas menyebut ayah Ranggalawe adalah Arya Wiraraja. Sementara itu, Pararaton menyebut Arya Wiraraja adalah ayah Nambi. Kidung Harsawijaya juga menyebutkan kalau putra Wiraraja yang dikirim untuk membantu pembukaan Hutan Tarik adalah Nambi, sedangkan Ranggalawe adalah perwira Kerajaan Singhasari yang kemudian menjadi patih pertama Majapahit.

    Uraian Kidung Harsawijaya terbukti salah karena berdasarkan prasasti Sukamreta tahun 1296 diketahui nama patih pertama Majapahit adalah Nambi, bukan Ranggalawe.

    Nama ayah Nambi menurut Kidung Sorandaka adalah Pranaraja. Sejarawan Dr. Brandes menganggap Pranaraja dan Wiraraja adalah orang yang sama. Namun, menurut Slamet Muljana keduanya sama-sama disebut dalam prasasti Kudadu sebagai dua orang tokoh yang berbeda.

    Menurut Slamet Muljana, Nambi adalah putra Pranaraja, sedangkan Ranggalawe adalah putra Wiraraja. Hal ini ditandai dengan kemunculan nama Arya Wiraraja dan Arya Adikara dalam prasasti Kudadu, dan keduanya sama-sama menghilang dalam prasasti Sukamreta sebagaimana telah dibahas di atas.

    [sunting] Versi Dongeng

    Nama besar Ranggalawe rupanya melekat dalam ingatan masyarakat Jawa. Penulis Serat Damarwulan atau Serat Kanda, mengenal adanya nama Ranggalawe namun tidak mengetahui dengan pasti bagaimana kisah hidupnya. Maka, ia pun menempatkan tokoh Ranggalawe hidup sezaman dengan Damarwulan dan Menak Jingga. Damarwulan sendiri merupakan tokoh fiksi, karena kisahnya tidak sesuai dengan bukti-bukti sejarah, serta tidak memiliki prasasti pendukung.

    Dalam versi dongeng ini, Ranggalawe dikisahkan sebagai adipati Tuban yang juga merangkap sebagai panglima angkatan perang Majapahit pada masa pemerintahan Ratu Kencanawungu. Ketika Majapahit diserang oleh Menak Jingga adipati Blambangan, Ranggalawe ditugasi untuk menghadangnya. Dalam perang tersebut, Menak Jingga tidak mampu membunuh Ranggalawe karena selalu terlindung oleh payung pusakanya. Maka, Menak Jingga pun terlebih dulu membunuh abdi pemegang payung Ranggalawe yang bernama Wongsopati. Baru kemudian, Ranggalawe dapat ditewaskan oleh Menak Jingga.

    Tokoh Ranggalawe dalam kisah ini memiliki dua orang putra, bernama Siralawe dan Buntarlawe, yang masing-masing kemudian menjadi bupati di Tuban dan Bojonegoro.

    [sunting] Kepustakaan

    * Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
    * Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan. Yogyakarta: LKIS
    * Slamet Muljana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LKIS

    BalasHapus
  11. Nama:Ismi Nurzanah
    NIM:2102408040
    Rombel:02

    CERITA PANJI DALAM MASYARAKAT MAJAPAHIT AKHIR
    Sebagai suatu karya sastra yang berkembang dalam masa Jawa Timur, kisah Panji telah cukup mendapat perhatian para ahli. Ada yang telah membicarakannya dari segi kesusastraannya (Cohen Stuart 1853), dari segi kisah yang mandiri (Roorda 1869), atau diperbandingkan dengan berbagai macam cerita Panji yang telah dikenal (Poerbatjaraka 1968), serta dari berbagai segi yang lainnya lagi'.

    Menurut C.C.Berg(1928) masa penyebaran cerita Panji di Nusantara berkisar antara tahun 1277 M (peristiwa Pamalayu) hingga ± 1400 M. Ditambahkannya bahwa tentunya telah ada cerita Panji dalam Bahasa Jawa Kuna dalam masa sebelumnya, kemudian cerita tersebut disalin dalam bahasa Jawa Tengahan dan Bahasa Melayu. Berg (1930) selanjutnya bependapat bahwa cerita Panji mungkin telah populer di kalangan istana raja-raja Jawa Timur, namun terdesak oleh derasnya pengaruh Hinduisme yang datang kemudian. Cerita Panji akhirnya dianggap sebagai karya sastra yang kurang bermutu, dalam masa kemudian cerita tersebut dapat berkembang dengan bebas dalam lingkungan istana-istana Bali'.

    R.M.Ng.Poerbatjaraka membantah pendapat Berg tersebut, berdasarkan alasan bahwa cerita Panji merupakan suatu bentuk revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama (India). Berdasarkan relief tokoh Panji dan para pengiringnya yang diketemukan di daerah Gambyok, Kediri, Poerbatjaraka juga menyetujui pendapat W.F.Stutterheim yang menyatakan bahwa relief tersebut dibuat sekitar tahun 1400 M. Akhirnya Poerbatjaraka menyimpulkan bahwa mula timbulnya cerita Panji terjadi dalam jaman keemasan Majapahit (atau dalam masa akhir kejayaan kerajaan tersebut) dan ditulis dalam bahasa jawa Tengahan (1968:408--9). Penyebarannya ke luar jaws terjadi dalam masa yang lebih kemudian lagi dengan cara penuturan lisan. Dalam perkembangan selanjutnya cerita tersebut ditulis dengan huruf Arab-Melayu, dan cerita Panji dalam bentuk naskah Arab-Melayu itulah yang sangat mungkin diperkenalkan ke wilayah Asia Tenggara daratan (1968:409-10).

    Sebenarnya yang menjadi inti cerita dalam kisah-kisah Panji menurut Poerbatjaraka (1968) adalah;

    1. Pelaku utama ialah Inu Kertapati, putra Raja Kuripan,
    dan Candra Kirana putri Raja Daha.

    2. Pertemuan Panji dengan kekasih pertama, seorang
    dari kalangan rakyat, dalam suatu perburuan.

    3. Terbunuhnya sang kekasih.

    4. Hilangnya Candra Kirana, calon permaisuri Panji.

    5. Adegan-adegan pengembaraan dua tokoh utama, dan,

    6. Bertemunya kembali dua tokoh utama, yang kemudian
    diikat dengan perkawinan.

    Walaupun kisah-kisah Panji pada dasarnya memiliki 6 inti cerita, namun yang menjadi tokoh sentral dalam tiap kisah tetap sama yaitu tokoh Panji itu sendiri. Hal inilah yang sebenarnya cukup menarik untuk dibicarakan, karena dalam masa akhir Majapahit tokoh Panji tersebut kemudian diarcakan setara dengan arca-arca dewata Hindu atau Budha. Tokoh Panji dikenal dalam berbagai . kisah sebagai seorang pahlawan yang luhur budinya, tinggi kesaktiannya dan mengetahui berbagai bidang seni, pada pokoknya menggambarkan seorang ksatrya yang ideal dalam masanya.

    Pernyataan Lord Raglan (1965) tentang tokoh pahlawan yang muncul dalam cerita tradisi cukup menarik untuk disimak, menurutnya cerita pahlawan seperti itu bukanlah merupakan peristiwa sebenarnya dalam kehidupan seseorang, melainkan merupakan cerita peristiwa ritual dalam karier seorang pribadi ritual. Hal ini nampaknya tercermin pula dalam kisah-kisah Panji yang berkembang dalam masa Majapahit akhir. Tokoh Panji adalah seorang pahlawan, kata pahlawan dalam pengertian sekarang cukup luas artinya, antara lain adalah:

    1. Pendiri suatu agama atau suatu negara,

    2. Orang yang sangat sempurna, karena memiliki sifat luhur,
    seperti berani, pemurah, setia dan lain-lain,

    3. Pemimpin perang, dan yang gugur dalam peperangan,

    4. Tokoh utama dalam karya sastra (Baried 1987:16).

    Dalam hal Panji pengertian pahlawan kedua dan keempatlah yang kiranya sesuai dengan penggambaran tokoh tersebut. Sedangkan menurut kategori pahlawan sebagai "pelaku ulung" yang dikemukakan oleh Thomas Carlyle', sangat mungkin tokoh Panji termasuk kategori pertama yaitu pahlawan sebagai dewa, sebagaimana Odin dalam mitologi Skandinavia. Keadaan seperti itu masih belum nampak terbayang dalam kisah Panji yang berupa karya sastra, namun lain halnya dengan kisah Panji yang dipahatkan dalam beberapa bangunan suci dalam masa Majapahit akhir, nampak terkesan kuat bahwa tokoh tersebut tidak lagi semata-mats tokoh utama dalam karya sastra, tapi lebih merupakan tokoh ideal atau bahkan telah merupakan tokoh yang dipuja dan dimuliakan.


    NAFAS KEAGAMAAN DALAM KISAH PANJI

    Walaupun tidak secara tegas dinyatakan adanya ajaranajaran keagamaan dalam naskah-naskah Panji, namun dalam beberapa kisah diuraikan adanya kegiatan bernafaskan keagamaan dalam beberapa kisah Panji. Misalnya dalam cerita Panji Bali yang berjudul Geguritan PakangRaras diuraikan bawa sesaat sebelum Panji dibunuh oleh Gusti patih dari kerajaan Daha is bersamadi menyatukan pikiran, mengucapkan aji kamoksan :


    ... raden mantri ngrahasika
    mamusti maajeng kangin
    ngastawa Betara Surya
    kalih ring Sanghyang Tuduh
    sausane sapunika,
    nabda aris,
    "Inggih sampun tityang usan... "


    (...Raden Mantri memusatkan pikiran, beryoga menghadap ke timur, bersujud ke hadapan Dewa Surya, dan Tuhan Yang Maha Esa, setelah itu, lalu berkata, "Nah, hamba sudah selesai..." (Baried 1987:144).

    Apa yang dilakukan Panji tersebut sebenarnya adalah cermin kegiatan keagamaan sang tokoh Pahlawan. Jika disebut Dewa Surya sebagai dewa sesembahannya (ista-dewata) sangat mungkin karena sifat dan kedudukannya sebagai pahlawan yang mahir berperang dan selalu berjaya mengalahkan. musuh-musuhnya. Hal itu sangat sesuai dengan sifat Dewa; Surya yang dipuja sebagai dewa yang mempunyai baju perang yang sempurna, dan selalu berhasil mengalahkan musuh-musuhnya.

    Di dalam Panji Jayakusuma dinyatakan bahwa Panji adalah kekasih dewa. Pada saat ia mengalami kerisauan hati, kegoncangan pikiran serta kegelapan batin ia selalu memusatkan pikiran kepada dewanya. Narada (Dewa pembantu Batara Guru) kerap muncul menemui Panji untuk memberikan wejangan atau mengarahkan tindakan-tindakan apa yang seharusnya dilaksanakan oleh Panji (Poerbatjaraka 1968:132,135). Di dalam kisah yang sama diuraikan juga adanya peranan Dewa Wisnu dan Dewi Sri yang menjelma dalam diri dua bersaudara lelaki dan perempuan Sri dan Sedana (Poerbatjaraka 1968:123). Sementara dalam Hikayat Panji Kuda Semirang dikisahkan adanya peranan Batara Kala dan Batara Guru dalam serta dewa-dewa Hindu lainnya dalam cerita kelahiran Panji sebagai putra raja Kuripan (Poerbatjaraka 1968:1--6).

    Jika dalam beberapa kisah Panji yang telah diuraikan tersebut nafas Hinduisme sangat terasakan, karena adanya penyebutan dewadewa Hindu; lain halnya yang diuraikan dalam kisah Panji Malat. Dalam Malat dikatakan bahwa Raja Gegelang akan melakukan pemujaan di (Rabut) Palah, ia hendak mempersembahkan lukisan yang menggambarkan lakon Rajaparwata kepada dewa. Panji serta Gunungsari, adiknya, yang diminta untuk membuat lukisan tersebut (Poerbatjaraka 1968:346--7). Hal yang menarik adalah bahwa bangunan suci Palah tidak lain adalah Candi Panataran yang disebut dengan nama Palah juga dalam Nagarakrtagama (Nag. 61:2). Adanya pemujaan terhadap dewa dengan mempersembahkan lukisan lakon Rajapanvata cukup menarik untuk dibicarakan, karena sangat mungkin pernyataan tersebut sangat berkaitan dengan konsep Parwatarajadewa yang pernah dikaji oleh S.Soepomo (1972). Hal ini akan dibicarakan dalam uraian selanjutnya.


    RELIEF CANDI PADA BEBERAPA CANDI PERIODE MAJAPAHIT

    Relief cerita Panji yang dapat diketahui secara pasti hanyalah terdapat pada beberapa candi saja dalam masa Majapahit. Seringkali orang menyatakan bahwa ciri utama tokoh Panji dalam penggambaran relief dan arca adalah jika ada figur pria yang digambarkan memakai topi tekes, Topi Ags mirip blangkon Jawa, tapi tanpa tonjolan di belakang kepala (lebih mirip dengan bIangkon gaya Solo/Surakarta). Badan bagian atas tokoh tersebut digambarkan tidak mengenakan pakaian, sedangkan bagian bawahnya digambarkan memakai kain yang dilipat-lipat hingga menutupi paha. Pada beberapa relief atau arca ada yang digambarkan membawa keris yang diselipkan di bagian belakang pinggang, atau ada juga yang digambarkan membawa senjata seperti tanduk kerbau (sebagaimana yang dipahatkan pada Kepurbakalaan (Kep.) XXII/C.Gajah Mungkur Penanggungan) (Bernet Kempers 1959:325-6).

    Jika berpegangan pada tolok ukur bahwa tokoh Panji selalu digambarkan bertopi tekes, maka akan banyak tokoh Panji yang dijumpai dalam relief-relief candi jawa Timur. Karena tokoh Sidapaksa suami Sri Tanjung yang dipahatkan di Candi Surawarna, dan Jabung akan dianggap sebagai tokoh Panji. Demikian Pula tokoh Sang Satyawan yang dipahatkan pada pendopo teras II Panataran dan dua figur pria dalam relief cerita Kunjarakarna di Candi Jago akan dapat dianggap sebagai tokoh Panji.

    Lalu bagaimana penggambaran relief tokoh Panji yang dikenal dalam cerita Panji? Stutterheim (1935) secara gemilang telah berhasil menjelaskan satu panil relief dari daerah Gambyok, Kediri yang nyata-nyata menggambarkan tokoh Panji beserta para pengiringnya. Pendapat Stutterheim tersebut didukung oleh para sarjana lainnya, seperti Poerbatjaraka (1968) dan Satyawati Suleiman (1978).

    Penggambaran relilef Panji Gambyok tersebut menurut Poerbatjaraka sesuai dengan salah satu episode kisah Panji Semirang, yaitu saat Panji bertemu dengan kekasihnya yang pertama, Martalangu, di dalam hutan (1968:408). Pada panil digambarkan adanya tokoh pria bertopi tWs yang sedang duduk di bagian depan kereta, tokoh itu tidak lain ialah Panji. Sementara tokoh yang duduk si hadapannya di atas tanah ialah Prasanta. Tokoh paling depan di antara empat orang yang berdiri ialah Pangeran Anom, di belakangnya ialah Brajanata, saudara Panji berlainan ibu. la digambarkan tinggi besar dengan rambutnya yang keriting tapi dibentuk seperti telces. Dua tokoh berikutnya adalah para kudeyan yaitu, Punta dan Kertala. Dalam relief digambarkan bahwa keretanya belum dilengkapi kuda, karena sesuai dengan cerita bahwa mereka baru merencanakan akan membawa Martalangu ke kota malam itu. Sementara sikap kedinginan yang ditunjukkan oleh para tokoh adalah sesuai juga dengan cerita, yaitu mereka berada di luar saat malam yang dingin (Poerbatjaraka 1968:408).

    Dengan berpatokan pada penggambaran adegan relief tersebut dapatlah ditentukan bahwa, suatu panil relief yang menggambarkan cerita Panji jika dalam panil tersebut:

    1. Terdapat tokoh pria yang bertopi tekes, mengenakan kain sebatAs lutut atau lebih rendah lagi menutupi tungkainya dan kadang membawa keris di bagian belakang pinggangnya. Tokoh tersebut ialah Raden Panji.

    2. Tokoh selalu disertai pengiring berjumlah 1, 2, atau lebih dari dua. Para pengiring tersebut ialah saudara atau teman Panji. Biasanya ada di antara para pengiring ada yang berperawakan tinggi besar dengan rambut keriting, dialah Brajanata atau berperawakan lucu, pendek, gemuk, dengan rambut dikuncir ke atas dialah Prasanta.

    Sebenarnya 2 hal itulah yang dapat dijadikan tolok ukur/ciri-ciri apakah suatu panil relief yang dipahatkan pada sebuah jawa Timur merupakan cerita Panji atau bukan. Dalam cerita Sri Tanjung, tokoh Sidapaksa memang digambarkan bertopi tekes, ia tidak pernah diikuti oleh para pengiring. Demikian pula Sang Satyawan tidak pernah digambarkan dengan pengiring yang dapat diidentifikasikan sebagai tokoh Brajanata, Prasanta ataupun Punta dan Kertala. Sementara dua orang yang bertopi tekes yang dipahatkan dalam relief cerita Kunjarakarna di kaki I Candi Jago, jelas bukan menunjukkan tokoh Panji. Mereka nampaknya menggambarkan manusia biasa yang ditemui dalam perjalanan yakga Kunjarakurna.

    Dengan berpegangan pada dua tolok ukur tersebut dapat kiranya diketahui bahwa relief yang belum dikenal ceritanya pada pendopo teras II Panataran adalah cerita Panji pula. Apa yang pernah diduga sebagai cerita Sri Tanjung oleh Galestin (1936) dan Satyawati Suleiman (1981), karena terdapat penggambaran seorang perempuan yang menaiki ikan lumbalumba agaknya perlu ditinjau kembali. Sebab dalam cerita Sri Tanjung tokoh-tokoh utamanya tidak pernah diikuti oleh seorang pengiring. Pada relief belum dikenal di pendopo teras lI Panataran baik tokoh ksatrya yang memakai tekes ataupun tokoh putri selalu diikuti oleh para pengiring pria atau wanita.

    Mengenai adanya ikan lumba-lumba yang turut digambarkan, hal itu tidaklah dapat dianggap sebagai "atribut kuat" dari cerita Sri Tanjung. Sebab pada relief yang dipahatkan di Kep. LXV/C. Kendalisada di GunungPenanggungan terdapat pula penggambaran cerita Panji (hal itu dapat diketahui berdasarkan tolok ukur yang telah dikemukakan) yang memuat adegan adanya ikan lumba-lumba di laut 6 Selain itu terdapat pula penggambaran seorang putri dengan embannya. Dengan demikian terdapat satu hal lagi yang biasanya terdapat (bisa hadir atau tidak) pada penggambaran relief cerita Panji, yaitu adanya seorang putri kekasih Panji (Dewi Candrakirana). Ciri-ciri yang semuanya hadir dalam panggambaran relief cerita Panji terpahatkan pada dinding punden berundak Kep. XXIl/C.Gajah Mungkur. Pada kepurbakalaan tersebut digambarkan adanya tokoh Panji bertopi tikes dengan kain yang sedikit tersingkap ke atas, terdapat tokoh Brajanata yang berambut keriting, Prasanta yang berperawakan pendek gemuk, serta satu pengiring pria lainnya, serta tokoh putri kekasih Panji. Untuk panil relief tersebut dapatlah dengan tegas dikatakan sebagai penggambaran cerita Panji karena ciri-cirinya hadir terpahatkan. Begitupun relief yang terpahatkan pada dinding Kep. LX/C.Yuddha di Gunung Penanggungan jelas menunjukkan cerita Panji, karena semua tolok ukur/ciri pemahatan cerita Panji hadir terpahatkan.


    CERITA PANJI DALAM MAYSRAKAT MAJAPAHIT AKHIR

    Sejauh yang dapat diketahui berdasarkan data yang ada penggambaran tokoh bertopi tikes pertama kali muncul dalam relief cerita Kunjarakarna di Candi Jago. Candi tersebut dibangun untuk memuliakan raja WisUuwardhana dari Singhasari (1248-68 M) (Nag.41:4).

    Namun dalam tahun 1343 M Candi Jago mengalami perombakan pada bangunannya serta dilengkapi dengan penggambaran relief-relief cerita (Dumarcay 1968:71, 98). Penggambaran figur bertopi tikes selanjutnya muncul di Candi Jabung, yaitu tokoh Sidapaksa suami Sri Tanjung. Candi Jabung yang menurut Pararaton disebut Bajrajinapafmitapuri sangat mungkin dibangun dalam tahun 1354 M (Dumarcay 1986:98).

    Pada dinding pendopo teras 11 Panataran yang didirikan pada tahun 1375 M (Dumarcay 1986:98), terdapat tokoh sang Satyawan yang bertopi tekes. Selain itu terdapat pula tokoh yang belum dikenal dan bertopi tikes, sangat mungkin tokoh tersebut adalah Raden Panji sendiri. Di Candi Surawana terdapat pula penggambaran Sidapaksa yang bertopi tikes. Candi ini merupakan tempat untuk memuliakan Bhre Wengker dan didirikan sekitar tahun 1390 M (Dumarqay 1986:98). Pada candi yang sama terdapat pula tokoh bertopi tekes lainnya, menurut Satyawati Suleiman tokoh tersebut tidak lain dari Raden Panji dalam episode kisah jaruman Atat (1981:23).

    Penggambaran tokoh bertopi tikes selanjutnya kemudian banyak didapatkan pada dinding punden berundak di Gunung Penanggungan. Dalam hal ini tokoh tersebut tidak dapat ditafsirkan sebagai tokoh lain lagi, kecuali Raden Panji. Seperti telah dinyatakan oleh para ahli bahwa punden-punden berundak di Gunung Penanggungan banyak didirikan pada masa Majapahit akhir, dalam abad 15-awal abad 16 M (van Romondt 1951: lampiran E; Quaritch Wales 1953:125--7; Bernet Kempers 1959:99--101), maka nampaknya cerita Panji semakin populer dalam kalangan masyarakat Majapahit akhir.

    Memang sampai sekarang masih belum dapat diketahui secara pasti cerita Panji manakah yang dipahatkan di bangunanbangunan suci masa Majapahit akhir tersebut. Mungkin hanya satu panil cerita Panji saja yang dapat diketahui kisahnya, yaitu panil relief dari Gambyok yang berangka tahun 1335 S/1413 M. Poerbatjaraka menduga bahwa cerita Panji yang dipahatkan tersebut adalah cerita Panji Semirang (1968:408). Sementara masih banyak cerita Panji lainnya yang dipahatkan pada beberapa bangunan suci tapi masih belum dapat diketahui sumber ceritanya.

    Suatu pertimbangan yang mungkin dapat diterima adalah bahwa umumnya cerita yang dipahatkan di candi-candi mengandung ajaran keagamaan, suatu lambang yang bernafaskan keagamaan, bersifat pendidikan, atau kisah tentang tokoh agama. Demikian pula cerita Panji yang dipilih untuk dipahatkan pada bangunan-bangunan suci tentunya mempunyai misi keagamaan.

    Jika kembali pada pendapat Raglan dan Carlyle bahwa pahlawan dalam cerita tradisi sebenarnya sangat pekat dengan nafas keagamaan, dalam perkembangan selanjutnya pahlawan tersebut akhirnya dipuja sebagai dewa. Demikian pula halnya yang terjadi pada diri Raden Panji, semula ia adalah pahlawan dalam cerita susastra dan akhirnya pahlawan tersebut menjadi tokoh yang dipuja karena beberapa kelebihan yang dimilikinya. Tokoh Panji yang merupakan tokoh pahlawan ciptaan orang Jawa (bukan pahlawan dari epic India) semula hanya dikenal dalam karya sastra. Dalam perkembangan selanjutnya Panji kemudian dipahatkan pada dinding bangunan-bangunan suci, sebagaimana Arjuna dalam cerita Arjunawiwaha atau juga Kresna dalam Kresnayana.

    Akhirnya juga Raden Panji lalu diarcakan dalam bentuk arca perwujudan tiga dimensi. Salah satu arca Panji masih dijumpai dari Kep. XXIII/C.Selakelir di lereng barat laut Gunung Penanggungan. Arca tersebut berukuran 1.50 M dalam sikap berdiri, kedua tangannya berada di samping tubuh, mengenakan tekes dan selain juga kalung, upawita dari kain yang menjuntai hingga paha, serta sarung yang mencapai punggung telapak kaki. Bentuk arca seperti ini mengingatkan pada arcaarca perwujudan dari masa Majapahit akhir lainnya. Misalnya arca Siwa dari Mojokerto, tinggi 84.5 cm yang sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakarta (Krom 1923, III: Plaat 93; Bernet Kempers 1959:104, Plate 339), serta itu arca dewa dari Kep. III di Gunung Penanggungan.

    Arca-arca tersebut memang lebih berkesan static-kaku dan mengingatkan pada tubuh orang yang telah meninggal, sehingga sangat mungkin arca-arca tersebut sebenarnya merupakan arca peringatan bagi leluhur yang telah wafat dan dianggap telah bersatu dengan dewanya (van Romondt 1951:70).

    Seperti telah diuraikan terdahulu bahwa di dalam kisah Malat, Panji telah melukis lakon Rkjaparwata bagi pamannya raja Gegelang. Lukisan tersebut oleh sang raja akan dipersembahkan pada dewa yang bersemayam di Palah. Hal ini cukup menarik perhatian karena menurut Negarakretagama pupuh 61:2, Hayam Wuruk pada tahun 1361 M pernah berkunjung pula ke Palah untuk melakukan pemujaan kepada dewa.

    Menurut Nagarakrtagama pula dapat diketahui bahwa Hayam Wuruk setiap bulan ke empat tiap tahun ia melakukan perjalanan ziarah ke beberapa tempat suci untuk mencari keindahan dan untuk tujuan keagamaan. Kunjungannya ke Palah sebenarnya adalah untuk melakukan pemujaan pada kaki hyang Acalapati (Nag.17:4--5). Menurut Soepomo hyang Acalapati sebenarnya tidak lain adalah Dewanya gunung-gunung (1972:292). Dewa ini mempunyai berbagai sebutan misalnya disebut dengan Parwataraja dalam kakawin Arjunawijaya, Parwatandtha dalam Nagarakrtagama, Girindtha dalam Sutasoma.

    Sementara itu di dalam kitab Korawdsrama menyebut adanya ratu dari gunung-gunung yang disebut dengan Rdjaparwata (Soepomo 1972:281--90). Penyebutan Rkjaparwata dalam KorawcVrama ternyata sama dengan lakon yang dilukis Panji dalam cerita Malatjadi sangat mungkin sebenarnya Panji dan raja Gegelang memuja pula Dewa Gunung yang terdapat di Palah. Rdjaparwata sebenarnya adalah nama lain saja dari hyang Acalapati yang dipuja Hayam Wuruk di Palah, demikian menurut Nagarakrtagama.

    Soepomo menyimpulkan bahwa Parwatarajadewa dengan berbagai sebutannya yang berbeda dalam beberapa karya sastra Jawa Timur itu sebenarnya "Dewa Nasional" bagi orang Jawa yang bukan berasal dari pantheon India (1972:292--95). Hal ini agaknya sejalan dengan tokoh Panji yang merupakan tokoh "Pahlawan Nasional" bagi orang Jawa dalam masa Majapahit akhir. Panji akhirnya dipuja sebagai tokoh yang dekat dengan dewa-dewa, dialah yang dapat dianggap sebagai mediator untuk memuja dewa, karena ia sangat tepat menggambarkan lakon Rajapanvata yang akan dipersembahkan bagi dewa di Palah. Dewa itu tak lain adalah Dewa Gunung.

    Maka sangat tepat kiranya jika pada kepurabakalaankepurbakalaan yang terdapat di Gunung Penanggungan kerap dijumpai relief cerita Panji, bahkan ada juga yang diarcakan secara penuh. Secara tersirat Soepomo menyimpulkan bahwa sangat mungkin Dewa Gunung tersebut tidak lain adalah Gunung Penanggungan (1972:289-90). Gunung itu menurut kitab Tantu Panggelaran merupakan puncak Mahameru yang telah dipindahkan oleh para dewa ke jawa, dan kemudian dinamakan Pawitra (Pigeaud 1924:100). Di puncak gunung itulah para sang Dewa Gunung bersemayam, gunung itu dianggap suci karenanya banyak didirikan punden-punden berundak terutama pada masa Majapahit akhir. Penggambaran tokoh Panji pada kepurbakalaan di Gunung Penanggungan tentunya bertujuan untuk dapat dijadikan lambang manusia yang dekat dan disayangi dewa, dia juga memahami betul kehendak para dewa, terutama sang Dewa Gunung Rajaparwata.

    Penutup

    Berdasarkan data yang ada dapatlah diketahui bahwa penggambaran tojoh Panji dalam bentuk relief atau arca baru muncul ketika Majapahit telah melewati masa kejayaannya dalam abad 14 M. Penampilan tokoh tersebut dalam relief sangat mungkin dipengaruhi oleh figur-figur ksatrya yang telah dipahatkan sebelumnya, seperti Sidapaksa dan Sang Satyawan. Tokoh-tokoh itu digambarkan bertopi tekes, dengan pakaian sederhana tidak seperti tokoh-tokoh ksatrya dalam cerita epic India yang berpakaian lebih raya. Walaupun penggambaran Panji dalam bentuk relief hampir mirip dengan tokoh ksatrya lainnya (karena sama-sama bertopi t1kes), namun cerita Panji mempunyai on pemahatannya tersendiri, yaitu selalu hadirnya tokoh-tokoh pengiring, dan hal ini sesuai dengan jalan ceritanya.

    Mengenai dipahatkannya cerita Panji pada bangunanbangunan suci dalam bentuk candi ataupun punden berundak, sangat mungkin mempunyai alasan tertentu. Karena bangunanbangunan itu bersifat sakral, dipahatkannya cerita Panji tentunya mempunyai alasan keagamaan. Jadi tokoh Panji peranannya semakin bertambah, ia tidak saja dianggap sebagai tokoh sentral dalam karya sastra, tetapi juga akhirnya dianggap sebagai tokoh yang selalu dekat dan disayangi dewa. Hal ini terbukti dengan berhasilnya Panji melewati segala cobaan dalam kehidupannya, dan diakhir cerita ia dapat hidup bahagia dengan kekasihnya.

    Pargi mungkin juga dianggap:sebagai lambang manusia ideal, ia selalu dilindungi dewa dan ia dapat menjadi penghubung antara dunia manusia dan para dewa. Dengan ditemukannya relief Panji di Gunung Penanggungan semakin membuktikan bahwa Panji memegang peranan penting dalam hal pemujaan terhadap Dewa Gunung. Kesimpulan yang diperoleh dari cerita Malat menunjukkan bahwa Panji juga mengenal konsep Rdjaparwata atau Dewa Gunung dengan sebutan yang berbedabeda dalam berbagai karya sastra. Dalam hal ini Soepomo mengajukan dugaan bahwa Dewa Gunung yang merupakan Dewa Nasional bagi orang Jawa sangat mungkin Gunung Penanggungan.

    Akhirnya ada juga pendapat yang menyatakan bahwa penggambaran relief Panji pada kepurbakalaan-kepurbakalaan di Gunung Penanggungan, sebenarnya menunjukkan bangkitnya kembali dinasti Kadiri setelah sekian lama berada, di bawah kekuasaan raja-raja Majapahit keturunan Ken Angrok. Kerabat raja-raja Kadiri sangat mungkin memilih cerita Panji untuk dipahatkan pada bangunan suci, karena cerita Panji sebenamya menguraikan keagungan raja-raja Kadiri dan Janggala pada masa lalu (Satyawati Suleiman 1981). Apakah pendapat tersebut benar?, hal ini yang perlu dikaji lebih lanjut. Tetapi yang jelas pada masa Majapahit akhir peranan Raden Panji tidak hanya sebagai tokoh dalam karya sastra, tapi lebih bersifat keagamaan.

    BalasHapus
  12. Nama: Novita Mustikaningrum
    NIM : 2102408103
    Rombel: 04

    Swarloka di Gunung Penanggungan
    (tentang Tantu Panggelaran)

    Gunung Penanggungan (1.659 m.dpl) merupakan salah satu gunung yang terdapat di Jawa Timur tepatnya di Kabupaten Mojokerto. Dahulunya dikenal dengan nama Gunung Pawitra yang berarti kabut karena puncaknya yang runcing selalu tertutup kabut. Gunung dengan ketinggian 1.659 mdpl itu ternyata menyimpan banyak peninggalan-peninggalan kuno dari masa kerajaan Majapahit. Setidaknya ada 81 bangunan candi yang pernah berdiri di kawasan lereng Penanggungan. Dari angka tahun yang ditemukan di beberapa bangunan candinya, diketahui bahwa bangunan-bangunan tersebut didirikan antara abad X Masehi (Pemandian Jalatundo, 977 M) sampai dengan abad XVI Masehi.

    Mahameru, titik pusat alam semesta

    Sejak jaman agama Hindu dan Budha berkembang di Jawa, masyarakat sudah menganggap keramat gunung tersebut karena bentuk gunung Penanggungan yang lain daripada gunung-gunung lainnya. Dalam ajaran agama Hindu dan Budha dikenal adanya konsepsi makrokosmos (susunan alam semesta) bahwa alam semesta berbentuk lingkaran pipih seperti piringan dengan gunung Mahameru sebagai pusatnya. Mahameru yang dimaksud adalah gunung dalam konsepsi ajaran Hindu, yang dianggap sebagai titik pusat alam semesta. Pada mulanya Mahameru terletak di benua Jambudwipa (India). Benua tersebut merupakan tempat hidup manusia, hewan dan tumbuhan, sedangkan di lerengnya terdapat hutan lebat tempat tinggal berbagai binatang yang mempunyai mitos dan para pertapa.

    Saat itu, Mahameru sebagai pusat alam semesta merupakan tempat persemayaman para dewa. Persemayaman itu terletak di Kota Dewa Sudarsana dengan Dewa Indra sebagai rajanya. Di sekitar Sudarsana terdapat delapan sudut mata angin yang dijaga delapan dewa penjaga yang dinamakan Asta Dikpalaka atau Asta Lokapala. Di puncaknya terdapat empat puncak gunung yang lebih rendah di sekitarnya dan empat puncak lainnya di daerah yang agak jauh dari puncak Mahameru.

    Benua Jambudwipa dikelilingi oleh tujuh lautan dan rangkaian pegunungan. Di tepi samudera terluar terdapat dinding pegunungan yang tidak dapat didaki manusia yang disebut Chakrawala atau Chakravan. Matahari, bulan dan bintang beredar mengelilingi puncak Mahameru yang menjulang tinggi. Dan konon di langit di atas puncak Mahameru terdapat tujuh lapisan surga.

    Sebelumnya, Jambudwipa damai dan tenang, tetapi tiba-tiba tanahnya berguncang dan terombang ambing diterpa gelombang samudera. Akhirnya para dewa berusaha untuk memindahkan gunung Mahameru sebagai pusat alam semesta dari Jambudwipa ke pulau Jawa yang masih aman sebagai tempat kehidupan manusia yang baru.

    Konsep makrokosmos ini diyakini masyarakat Jawa Kuno pada periode Hindu Buddha pada abad VII-XV Masehi dan diejawantahkan pada berbagai wujud bangunan suci, penataan istana, susunan administrasi pemerintahan dan lain-lain. Konsep dasar bangunan candi yang ada di Pulau Jawapun secara umum menyesuaikan dengan konsep makrokosmos tersebut. Gunung Penanggungan dalam kepercayaan masyarakat Jawa adalah salah satu perwujudan konsepsi makrokosmos tersebut karena gunung tersebut diyakini sebagai salah satu puncak Mahameru yang dipindahkan oleh dewa penguasa alam.

    Makna Penanggungan dalam konsepsi masyarakat Jawa Kuno

    Kebakaran hutan yang cukup hebat di lereng Gunung Penanggungan sisi barat pada sekitar tahun 1920-an merupakan awal penemuan peninggalan-peninggalan kuno dari masa kejayaan Majapahit. Akibat kebakaran tersebut puluhan situs arkeologi dan ribuan artefak lainnya yang tersebar di lembah dan lereng sisi barat dan utara Penanggungan bisa terungkap. Pada tahun 1925 WF Stutterheim, arkeolog pertama yang mengadakan eksplorasi di gunung Penanggungan berhasil menjelaskan makna Penanggungan dalam masyarakat Jawa Kuno.

    Menurut WF Stutterheim, masyarakat Jawa mengangggap Gunung Penanggungan sebagai puncak Mahameru karena banyaknya bangunan suci keagamaan yang terdapat di sana. Bangunan suci itu berupa punden berundak, altar persajian dan goa pertapaan yang berfungsi sebagai pelataran tempat dijalankannya ritual-ritual keagamaan.

    Penjelasan WF Stutterheim itu juga berdasar pada kitab Tantu Panggelaran. Dalam kitab Tantu Panggelaran disebutkan bahwa Bhatara Guru menugaskaan Brahma dan Wisnu untuk mengisi pulau Jawa dengan manusia. Karena pulau itu selalu di landa goncangan, maka para dewa memindahkan gunung Mahameru dari India ke Jawa. Dalam perjalanan pemindahan gunung tersebut bagian Mahameru berguguran menjadi gunung-gunung yang berjajar sepanjang pulau Jawa antara lain Gunung Katong atau Lawu, Wilis, Kampud atau Kelud, Kawi, Arjuna (Arjuno) dan gunung Kemukus (Welirang). Tubuh Mahameru diletakkan agak miring dan menyandar pada gunung Brahma (Bromo) dan menjadi Gunung Semeru. Puncak Mahameru sendiri adalah Gunung Penanggungan atau Pawitra.

    VR Van Romondt adalah juga arkeolog dan insinyur yang pernah melakukan penelitian di situs Penanggungan pada tahun 1936, 1937, dan 1940. Menurutnya bangunan punden berundak dan benda purbakala lainnya itu berfungsi sebagai tempat pemujaan nenek moyang pada akhir zaman Hindu. Pada tahun 1951 HG Quaritc Wales menyatakan bahwa memudarnya pengaruh kebudayaan Hindu Budha menyebabkan kebudayaan megalitik asli yang ritusnya adalah pemujaan arwah nenek moyang di puncak-puncak gunung tumbuh kembali. Hal itu ditandai dengan pembuatan bangunan pemujaan di lereng Gunung Penanggungan dan Candi Sukuh serta Candi Ceta di lereng Gunung Lawu.

    Pawitra sebagai gunung suci tempat berlangsungnya aktivitas keagamaan sudah berkembang sejak abad ke 10-11 M pada masa kerajaan Mataram Kuno. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya prasasti yang dikeluarkan oleh Sri Maharaja Rake Hino Pu Sendok pada tanggal 18 September 929 M. Prasasti tersebut berisi tentang dijadikannya Desa Cunggrang sebagai daerah yang bebas pajak (sima) dan penghasilan desa itu akan digunakan untuk pemeliharaan bangunan suci Sanghyang Dharmasasra ing Pawitra dan Sanghyang Prasada Silunglung. Kemudian aktivitas keagamaan di sana mulai marak pada abad 15 M, masa kejayaan Majapahit hingga kemunduran pengaruh agama Hindu dan Budha di Jawa. Dalam babad Sangkala, bala tentara Demak pada tahun 1525-1527 berhasil merebut kota Majapahit dan Pawitra diduduki pada tahun 1543. Dengan pendudukan itu, berbagai macam kegiatan keagamaan yang telah berlangsung selama kurun waktu 500 tahun di Penanggungan akhirnya berakhir.

    Gunung Penanggungan sebagai pusat aktivitas keagamaan

    Ditemukannya 81 kepurbakalaan di Gunung Penanggungan semakin memperkuat anggapan masyarakat Jawa bahwa Gunung Penanggungan adalah gunung yang suci, tempat bersemayamnya para dewa. Tidak kurang dari 50 punden berundak dengan tiga altar sesajian di terasnya yang tersebar di lembah dan lereng Penanggungan. Relief-relief yang dipahat pada dinding-dindingnya, menggambarkan cerita Sudhamala (kisah ruwat Dewi Durga), Arjunawiwaha (perkawinan Arjuna dengan bidadari), adegan kisah Ramayana dan Mahabarata, cerita Panji (kisah roman antara putra mahkota Janggala dan putri Kediri) yang merupakan cerita lokal) dan banyak relief yang menggambarkan flora dan fauna.

    Benda-benda kepurbakalaan lain yang terdapat di Penanggungan adalah gentong-gentong batu yang diyakini sebagai tempat air untuk upacara keagamaan, gua-gua pertapaan, undak-undakan anak tangga batu untuk mendaki bukit, altar persajian tunggal, batu-batu yang dihiasi relief, dan pecahan gerabah dengan berbagai bentuk. Berdasarkan tafsiran dari berbagai bentuk peninggalan-peninggalan kuno tersebut dengan didukung uraian kitab kuno Negarakertagama, Arjunawiwaha, dan Tantu Panggelaran dapat diketahui bahwa dahulunya Gunung Pawitra merupakan pusat kegiatan kaum resi atau karsyan.

    Sebagai pusat keagamaan pada masa perkembangan Hindu dan Budha, kaum resi memegang peranan penting dalam upacara ritual. Para resi adalah orang yang sudah mengundurkan diri dari dunia ramai dan memilih untuk hidup menyepi pada tempat-tempat yang jauh dari keramaian, biasanya di gunung yang masih sepi dan asri. Gunung Pawitra dijadikan sebagai pusat aktivitas keagamaan tidak lain adalah karena anggapan bahwa Pawitra merupakan puncak Mahameru, titik pusat alam semesta yang dipindah ke Jawa. Dengan bermukim dan beribadah di bangunan-bangunan suci yang tersebar di lereng-lerengnya, maka para resi akan lebih mudah untuk berhubungan dengan dewanya di dunia Swarloka, tempat bersemayamnya para dewa dan Girinatha (Siwa).

    BalasHapus
  13. Latifah Nur Hasanah13 April 2009 19.36

    Nama :Latifah Nur Hasanah
    NIM :2102408125
    Rombel :4

    Sepintas Tentang Cerita Sri Tanjung

    Cerita Sri Tanjung adalah karya sastra yang ditulis di Banyuwangi pada abad ke 17. Saat itu Banyuwangi masih bagian dari kerajaan Blambangan, kerajaan terakhir di Jawa Timur. Ahli literatur Jawa asal Belanda, Dr. Theodoor Gautier Thomas Pigeaud, menempatkan cerita ini dalam kelompok karya-karya sastra yang diberi judul ‘Original Old Javanese and Javanese-Balinese exorcist tales and related literature in a bellestric form’. Yang dimaksud ‘Javanese-Balinese’ oleh Pigeaud adalah karya-karya sastra yang mengunakan bahasa jawa-tengahan, yang sumbernya berada pada kegiatan sastra di kerajaan Jawa Timur sampai Majapahit, dan kemudian berkembang di Bali (dan wilayah kekuasaan lainnya) semasa Watu Renggong memimpin kerajaannya di Gelgel. Karya ini satu kelompok dengan karya sastra macam Calon Arang, Sudamala, Wargasari, Nawa Ruci, Subrata, dan Sang Satyawan.

    Cerita Sri Tanjung diperkirakan telah lahir di Jawa Timur sekitar awal abad ke 13, dan kemudian ditransmisi secara lisan. Dalam proses itu, cerita ini terintegrasasi ke dalam kebudayaan Hindu-Jawa dengan menempatkan beberapa tokoh utama dari cerita ini sebagai keturunan dari Nakula dan Sahadewa. Misalnya pada relief di Batur Pendopo Candi Panataran-Blitar, di luar Sri Tanjung digambarkan pula tokoh bernama Sang Setyawan. Demikian pula pada Batur Candi Surawana, Para-Kediri, terdapat tokoh bernama Bubuk Sah-Gagang Aking. Dalam relief-relief tersebut terbabar kisah yang intinya mengenai pencarian kesempurnaan hidup.

    Satu hal penting dalam kisah Sri Tanjung, terdapat unsur ruwatan yang dalam bahasa Bali dikenal dengan panglukatan atau panyupatan atau pabayuhan, yaitu sebuah ritual yang diselenggarakan untuk melebur hal-hal negatif dalam diri sehingga diri ini menjadi lebih kuat dan suci. Unsur panglukatan ini juga menjadi tema utama di beberapa tempat pemujaan lain seperti Candi Tigowangi (1358) di Plemahan, Kediri; Candi Sukuh (1439), serta Candi Ceto di gunung Lawu, Jawa Tengah. Pada ketiga candi tersebut terdapat relief-relief cerita Sudamala, yaitu sebuah cerita yang memiliki hubungan erat dengan cerita Sri Tanjung, yang hingga sekarang masih diusung oleh masyarkat Bali saat pelaksanaan upacara panglukatan.

    Zaman sekarang, cerita Sri Tanjung masih hidup di tengah masyarakat di sekitar Banyuwangi sebagai sebuah dogeng yang menceritakan asal muasal nama 'Banyuwangi', yang berarti sungai yang harum.

    Di Bali, cerita Sri Tanjung pernah populer sebagai lakon dalam drama-tari Arja pada masa kejayaannya sekitar tahun 1970-an. Pada tahun 1980-an pun, di beberapa daerah di Bali, cerita ini masih banyak diangkat sebagai lakon pewayangan untuk upacara panglukatan.

    Sekarang, cerita ini sudah hampir terlupakan oleh masyarakat Bali. Bahkan, ada selentingan bahwa di sebuah desa di Bali, kisah Sri Tanjung ini dilarang untuk diceritakan. Entah apa alasannya. Yang pasti, kita hanya bisa berimajinasi tentang kekuatan yang tertkandung dalam cerita ini....

    BalasHapus
  14. rafika adeline15 April 2009 05.01

    Nama : Rafika Adeline
    Nim : 2102408129
    Rombel : 04







    KISAH RORO MENDUT
    Entah berapa kali Roro Mendut menolak pinangan seorang pria. Hal ini membuat kecewa para pria. Mereka menganggap Roro Mendut gadis yang sangat pemilih dan menentukan kriteria yang sangat tinggi bagi calon suaminya. Padahal, sebenarnya tidak seperti itu.
    Roro Mendut adalah seorang gadis yang cantik lahir batin. Ia tidak memilih pendamping hanya dari ketampanan, kekayaan, jabatan ataupun keturunan. Yang ia inginkan hanyalah lelaki saleh yang bias membahagiakannya di dunia dan di akhirat.
    Sampai saat ini, ia belum juga dipertemukan dengan lelaki saleh itu. Gunjingan pun datang darim berbagai sumber. Ada yang bilang Roro Mendut itu terlalu sombong, bahkan ada pula yang mengatakan bahwa ia terkena kutukan.
    Roro Mendut mencoba bertahan. Ia tidak mau memedulikan gunjingan – gunjingan tersebut. Tapi, sebagai manusia biasa, ia pun mempunyai kelemahan. Ia sering menangis memohon pertolongan yang Mahakuasa agar segera memberikan pendamping hidup terbaik baginya.
    Suatu hari Roro Mendut kedatangan dua orang tamu. Mereka adalah Ki Ageng Jiwanala, teman ayahnya dan putra lelaki setengah baya itu, Raden Kumuda. Ternyata, tujuan mereka datang adalah melamar Roro Mendut.
    Roro Mendut sungguh terkejut. Ia benar-benar tak menduga hal itu. Ia mengenal Raden Kumuda saat masih kecil. Yang ia tahu, pemuda itu adalah pemuda yang sangat baik, dan ia sangat mengaguminya. Kini, siapa sangka kalau pemuda tampan itu dating untuk melamarnya? Ini benar-benar suatu anugrah yang tak ternilai dari yang Mahakuasa. Mereka pun menikah dan hidup bahagia.
    Suatu hari, desa mereka kedatangan dua orang pesuruh dari Madura. Mereka adalah Kuda Panolih dan Kuda Santeran, keponakan patih Panjaringan dari Mataram. Mereka membuat kekacauan di desa itu. Mereka merampok, merampas, menzalimi penduduk. Tak ada yang berani melawan mereka karena keduanya sangat sakti.
    Melihat kemunkaran itu, Raden Kumuda tidak berdiam diri begitu saja. Ia pun mendatangi kedua orang itu dan memintanya untuk pergi meninggalkan desa. Tapi, keduanya adalah manusia-manusia yang sombong. Mereka tidak mau pergi. Mereka bahkan menantang Raden Kumuda.
    Pertarungan sengit pun tak bias dihindarkan. Raden Kumuda melawan para penjahat itu. Raden Kumuda bukanlah pemuda sembarangan. Ia memiliki ilmu yang sangat tinggi. Meskipun lawannya hebat, ia tidak mau mengatasi keduanya, hingga membuat kedua penjahat itu tewas. Desa itupun kembali aman dan tentram.
    Berita tewasnya Kuda Santeran dan Kuda Panolih tiba juga di telinga Patih Penjaringan. Patih Mataram ini marah. Ia berencana untuk menuntut balas atas kematian keponakannya.
    Untuk melancarkan rencananya, ia bekerja sama dengan Tumenggung Wiraguna, seorang lelaki setengah baya yang mata keranjang. Ia tahu bahwa di desa itu ada seorang gadis yang sangat cantik bernama Roro Mendut. Patih Penjaringan pun menawarkan gadis itusebagai hadiah bila Tumenggung Wiraguna mampu menghancurkan warga desa yang telah membunuh keponakannya.
    Tumenggung Wiraguna sangat tertarik dengan dengan penawaran itu. Ia pun membuat alas an pada Raja Mataram. Ia membuat fitnah bahwa kadipaten tempat tinggal Roro Mendut telah berkhianat pada Mataram. Karena itu, mereka harus segera menindaknya. Raja Mataram setuju dan mengirijmkan pasukan kesana.
    Dengan membabi buta, Patih Penjaringan mandapat kasempatan untuk meluapkan dendamnya. Dihabisinya seluruh lelaki yang ada di Pasantenan. Setelah itu, ia menawan semua wanita, termasuk Roro Mendut. Raden Kumuda yang ikut berjuang tak diketahui rimbanya. Entah selamat, entah wafat.
    Roro Mendut di bawa ke Mataram. Di sana, ia mendapat perlakuan istimewa dari Tumenggung Wiraguna. Lelaki mata keranjang itu benar-benar mabuk kepayang oleh kecantikan Roro Mendut. Ia memaksa Roro Mendut agar bersedia menjadi selirnya. Tentu saja, Roro Mendut menolak mentah-mentah. Mana mau ia menikah dengan lelaki kejam seperti Tumenggung Wiraguna? Lelaki kejam yang telah membantai seluruh warga desanya, termasuk suaminya.
    Meskipun menolak, Roro Mendut tetap mendapat perlakuan khusus dari sang Tumenggung. Lelaki itu tetap berharap, suatu hari nanti, hati Roro Mendut akakn luluh dan bersedia menjadi istrinya.
    Sementara itu, di sebuah rumah kayu sederhana, Raden Kumuda tergolek tak berdaya. Ia belum meninggal, namun tubuhnya penuh luka. Seorang lelaki bernama kanduruhan dari pati menyelamatkanya. Lelaki setengah baya itu menemukan Raden Kumuda yang terluka diantara ratusan bangkai pahlawan Pasantenan, lalu membawanya pulang untuk di obati.
    Setelah beberapa minggu dirawat, kesehatan Raden Kumuda pulihkembali. Ia berencana untuk mencari tahu keberadaan istrinya sekarang. Dari seorang penduduk Pesantenan yang masih hidup, ia mendapat kabar bahwa Roro Mendut ditangkap dan dibawa ke Mataram.
    Tanpa membuang waktu, lelaki perkasa itu segera pergi ke Mataram. Agar jati dirinya tidak diketahui orang, ia pun mengubah namanya menjadi pranacitra. Untuk memudahkan pencarian, ia pun melamar menjadi seorang abdi pada Tumenggung Wiraguna, orang yang mempunyai jabatan penting di Mataram. Karena kepandaiannya, Tumenggung Wiraguna tertarik dan menjadikan Pranacitra sebagai salah seorang tangan kanannya.
    Suatu hari Pranacitra mendapat sebuah tugas. Ia harus menagih pajak sebanyak seratus tail emas dari seorang wanita penjual rokok bernama Nini Sutra. Jika wanita itu tak mampu membayar, Pranacitra ditugaskan untuk menangkap wanita itu dan membawanya pada Sang Tumenggung.
    Pranacitra merasa bahwa Tumenggung Wiraguna telah berlaku semena-mena terhadap Nini Sutra. Tapi, ia tidak membantah. Ia akan menjalankan tugasnya dan kalau bisa ia akan menolong wanita itu.
    Pranacitra pun pergi ke rumah Nini Sutra. Ia mengetuk pintu. Tak lama pintu pun terbuka. Alangkah terkejutnya Pranacitra saat melihat sosok wanita yang sangat dikenalnya, wanita yang selama ini selalu bersemayam di dalam hatinya, Roro Mendut. Ternyata, Nini Sutra adalah istrinya, Roro Mendut.
    Roro Mendut sangat bahagia saat melihat Pranacitra. Ia sungguh tak menyangka, suami yang amat dicintainya itu ternyata masih hidup. Roro Mendut segera membawa suaminya masuk. Di dalam rumah mereka berbagi cerita, menumpahkan segala kerinduan di dalam dada.
    Dari cerita Roro Mendut, Pranacitra mengetahui bahwa sebenarnya Tumenggung Wiraguna bukanlah orang yang baik. Lelaki itu ingin menikahi Roro Mendut dengan paksa. Karena Roro Mendut selalu tidak mau, Tumenggung itu pun melakukan berbagai cara, di antaranya membebani Roro Mendut dengan pajak yang sangat besar. Bila ia tidak bisa, ia harus mau menjadi istri Tumenggung Wiraguna.
    Gigi Pranacitra gemeretak menahan marah mendengar cerita itu. Dari istrinya pula ia mengetahui bahwa Tumenggung Wiraguna dan Patih Penjaringan telah menyerang desa mereka hingga hancur.
    Pranacitra segera membuat rencana. Ia dan Roro Mendut harus segera pergi dari Mataram. Jika tidak, keselamatan mereka terancam.
    Pada suatu malam, mereka pun mengendap-endap pergi meninggalkan Mataram. Tapi, Tumenggung Wiraguna mengetahui rencana itu. Ia pun memerintahkan seluruh anak buahnya untuk mengejar lalu menangkap Roro Mendut dan Pranacitra. Penjagaan di ibu kota Mataram pun diperketat. Roro Mendut dan Pranacitra tak bisa keluar dari kota itu. Hingga akhirnya, anak buah Tumenggang Wiraguna berhasil menemukan mereka. Mereka pun dikepung.

    Pranacitra segera melawan mereka mati-matian. Ilmu kanuragannya memang sangat hebat. Namun lawannya bukanlah orang-orang sembarangan. Akhirnya mereka berhasil menangkap Pranacitra dan Roro Mendut. Tumenggung Wiraguna yang sangat kejam itu tak mengenal ampun. Ia menghukum mati Pranacitra dan Roro Mendut. Kedua orang itu pun akhirnya meninggal dunia demi mempertahankan cinta suci mereka.













    Sumber : Kumpulan cerita populer “IKHTISAR LEGENDA NUSANTARA, Cerita Rakyat Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali”

    BalasHapus
  15. Rizki Norfitriana15 April 2009 05.17

    Nama : Rizki Norfitriana
    NIM : 2102408059
    Rombel : 2

    Kidung Sunda

    Seorang pakar Belanda bernama Prof Dr. C.C. Berg, menemukan beberapa versi KS. Dua di antaranya pernah dibicarakan dan diterbitkannya:

    1. Kidung Sunda
    2. Kidung Sundâyana (Perjalanan (orang) Sunda)

    Kidung Sunda yang pertama disebut di atas, lebih panjang daripada Kidung Sundâyana dan mutu kesusastraannya lebih tinggi dan versi iniliah yang dibahas dalam artikel ini.
    2. Ringkasan

    Di bawah ini disajikan ringkasan dari Kidung Sunda. Ringkasan dibagi per pupuh.
    2. 1. Pupuh I

    Hayam Wuruk, raja Majapahit ingin mencari seorang permaisuri untuk dinikahi. Maka beliau mengirim utusan-utusan ke seluruh penjuru Nusantara untuk mencarikan seorang putri yang sesuai. Mereka membawa lukisan-lukisan kembali, namun tak ada yang menarik hatinya. Maka prabu Hayam Wuruk mendengar bahwa putri Sunda cantik dan beliau mengirim seorang juru lukis ke sana. Setelah ia kembali maka diserahkan lukisannya. Saat itu kebetulan dua orang paman prabu Hayam Wuruk, raja Kahuripan dan raja Daha berada di sana hendak menyatakan rasa keprihatinan mereka bahwa keponakan mereka belum menikah.

    Maka Sri Baginda Hayam Wuruk tertarik dengan lukisan putri Sunda. Kemudian prabu Hayam Wuruk menyuruh Madhu, seorang mantri ke tanah Sunda untuk melamarnya.

    Madhu tiba di tanah Sunda setelah berlayar selama enam hari kemudian menghadap raja Sunda. Sang raja senang, putrinya dipilih raja Majapahit yang ternama tersebut. Tetapi putri Sunda sendiri tidak banyak berkomentar.

    Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil.Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “jung Tatar (Mongolia/China) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” (bait 1. 43a.)

    Sementara di Majapahit sendiri mereka sibuk mempersiapkan kedatangan para tamu. Maka sepuluh hari kemudian kepala desa Bubat datang melapor bahwa rombongan orang Sunda telah datang. Prabu Hayam Wuruk beserta kedua pamannya siap menyongsong mereka. Tetapi patih Gajah Mada tidak setuju. Beliau berkata bahwa tidaklah seyogyanya seorang maharaja Majapahit menyongsong seorang raja berstatus raja vazal seperti Raja Sunda. Siapa tahu dia seorang musuh yang menyamar.

    Maka prabu Hayam Wuruk tidak jadi pergi ke Bubat menuruti saran patih Gajah Mada. Para abdi dalem keraton dan para pejabat lainnya, terperanjat mendengar hal ini, namun mereka tidak berani melawan.

    Sedangkan di Bubat sendiri, mereka sudah mendengar kabar burung tentang perkembangan terkini di Majapahit. Maka raja Sunda pun mengirimkan utusannya, patih Anepakěn untuk pergi ke Majapahit. Beliau disertai tiga pejabat lainnya dan 300 serdadu. Mereka langsung datang ke rumah patih Gajah Mada. Di sana beliau menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak pulang dan mengira prabu Hayam Wuruk ingkar janji. Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya vazal-vazal Nusantara Majapahit. Hampir saja terjadi pertempuran di kepatihan kalau tidak ditengahi oleh Smaranata, seorang pandita kerajaan. Maka berpulanglah utusan raja Sunda setelah diberi tahu bahwa keputusan terakhir raja Sunda akan disampaikan dalam tempo dua hari.

    Sementara raja Sunda setelah mendengar kabar ini tidak bersedia berlaku seperti layaknya seorang vazal. Maka beliau berkata memberi tahukan keputusannya untuk gugur seperti seorang ksatria. Demi membela kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi dihina orang Majapahit. Para bawahannya berseru mereka akan mengikutinya dan membelanya.

    Kemudian raja Sunda menemui istri dan anaknya dan menyatakan niatnya dan menyuruh mereka pulang. Tetapi mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani sang raja.
    2. 2. Pupuh II (Durma)

    Maka semua sudah siap siaga. Utusan dikirim ke perkemahan orang Sunda dengan membawa surat yang berisikan syarat-syarat Majapahit. Orang Sunda pun menolaknya dengan marah dan perang tidak dapat dihindarkan.

    Tentara Majapahit terdiri dari prajurit-prajurit biasa di depan, kemudian para pejabat keraton, Gajah Mada dan akhirnya prabu Hayam Wuruk dan kedua pamannya.

    Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit banyak yang gugur. Tetapi akhirnya hampir semua orang Sunda dibantai habisan-habisan oleh orang Majapahit. Anepakěn dikalahkan oleh Gajah Mada sedangkan raja Sunda ditewaskan oleh besannya sendiri, raja Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya perwira Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara mayat-mayat serdadu Sunda. Kemudian ia lolos dan melaporkan keadaan kepada ratu dan putri Sunda. Mereka bersedih hati dan kemudian bunuh diri. Semua istri para perwira Sunda pergi ke medan perang dan melakukan bunuh diri massal di atas jenazah-jenazah suami mereka.
    2. 3. Pupuh III (Sinom)

    Prabu Hayam Wuruk merasa cemas setelah menyaksikan peperangan ini. Beliau kemudian menuju ke pesanggaran putri Sunda. Tetapi putri Sunda sudah tewas. Maka prabu Hayam Wurukpun meratapinya ingin dipersatukan dengan wanita idamannya ini.

    Setelah itu, upacara untuk menyembahyangkan dan mendoakan para arwah dilaksanakan. Tidak selang lama, maka mangkatlah pula prabu Hayam Wuruk yang merana.

    Setelah beliau diperabukan dan semua upacara keagamaan selesai, maka berundinglah kedua pamannya. Mereka menyalahkan Gajah Mada atas malapetaka ini. Maka mereka ingin menangkapnya dan membunuhnya. Kemudian bergegaslah mereka datang ke kepatihan. Saat itu patih Gajah Mada sadar bahwa waktunya telah tiba. Maka beliau mengenakan segala upakara (perlengkapan) upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan (niskala).

    Maka raja Kahuripan dan raja Daha, yang mirip "Siwa dan Buddha" berpulang ke negara mereka karena Majapahit mengingatkan mereka akan peristiwa memilukan yang terjadi.
    3. Analisis

    Kidung Sunda harus dianggap sebagai karya sastra, dan bukan sebuah kronik sejarah yang akurat, meski kemungkinan besar tentunya bisa berdasarkan kejadian faktual.

    Secara garis besar bisa dikatakan bahwa cerita yang dikisahkan di sini, gaya bahasanya lugas dan lancar. Tidak berbelit-belit seperti karya sastra sejenis. Kisahnya memadukan unsur-unsur romantis dan dramatis yang memikat. Dengan penggunaan gaya bahasa yang hidup, para protagonis cerita ini bisa hidup. Misalkan adegan orang-orang Sunda yang memaki-maki patih Gajah Mada bisa dilukiskan secara hidup, meski kasar. Lalu Prabu Hayam Wuruk yang meratapi Putri Sunda bisa dilukiskan secara indah yang membuat para pembaca terharu.

    Kemudian cerita yang dikisahkan dalam Kidung Sunda juga bisa dikatakan logis dan masuk akal. Semuanya bisa saja terjadi, kecuali mungkin moksanya patih Gajah Mada. Hal ini juga bertentangan dengan sumber-sumber lainnya, seperti kakawin Nagarakretagama, lihat pula bawah ini.

    Perlu dikemukakan bahwa sang penulis cerita ini lebih berpihak pada orang Sunda dan seperti sudah dikemukakan, seringkali bertentangan dengan sumber-sumber lainnya. Seperti tentang wafat prabu Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada, penulisannya berbeda dengan kakawin Nagarakretagama.

    Kemudian ada sebuah hal yang menarik, nampaknya dalam kidung Sunda, nama raja, ratu dan putri Sunda tidak disebut. Putri Sunda dalam sumber lain sering disebut bernamakan Dyah Pitaloka.

    Satu hal yang menarik lagi ialah bahwa dalam teks dibedakan pengertian antara Nusantara dan tanah Sunda. Orang-orang Sunda dianggap bukan orang Nusantara, kecuali oleh patih Gajah Mada. Sedangkan yang disebut sebagai orang-orang Nusantara adalah: orang Palembang, orang Tumasik (Singapura), Madura, Bali, Koci (?), Wandan (Maluku), Tanjungpura (Banjarmasin) dan Sawakung (?) (contoh bait 1. 54 b.) . Hal ini juga sesuai dengan kakawin Nagarakretagama di mana tanah Sunda tak disebut sebagai wilayah Majapahit di mana mereka harus membayar upeti. Tapi di Nagarakretagama, Madura juga tak disebut.

    BalasHapus
  16. Nama : Puji Kurniawati
    NIM : 2102408110
    Rombel : 4


    Kidung Sudamala

    P. J. Zoetmulder (1983:540) membuat ikhtisar kidung Sudamala sebagai berikut. Adapun cerita Sudamala sebagai berikut: Dewi Umà hidup dalam sejenis makhluk jahat dengan memakai nama Ra Nini di perkebunan Gandamayu, karena ia terkena kutukan karena ia main serong. Ia harus menebus dosanya dan pada akhir tahun ke-12 ia akan dibebaskan oleh Bhaþàra Guru yang menjelma dalam diri Sahadeva, saudara bungsu kelima Pàóðava itu. Dua penghuni sorga lainnya yaitu Citrasena dan Citraògada sedang disiksa kerana sikapnya yang kurang hormat terhadap dewa yang sama dan dikutuk menjadi Kalàntaka dan Kalañjaya, dua makhluk jahat. Mereka menawarkan jasanya kepada Kaurava. Kuntì ibu para Pàóðava yang cemas mengenai nasib anak-anaknya yang sedang memerangi musuh-musuh yang demikian kuat itu, meminta kepada Ra Nini untuk membunuh Kalàntaka dan Kalañjaya. Sang Devì bersedia megabulkan permintaannya asal Kuntì menyerahkan Sahadeva kepadanya. Sampai dua kali Kuntì menolak permintaan tersebut, tetapi seorang pembantu Ra Nini, juga suatu makhluk jahat masuk ke dalam diri Kuntì dan dalam keadaan itu si pembantu berhasil membawa Sahadeva ke Gandamayu, di sana ia diikat pada sebatang pohon. Bermacam-macam makhluk jahat berusaha menakut-nakuti Sahadeva. Akhirnya Ra Nini nampak dalam wujudnya yang menggemparkan lalu memberi perintah kepada Sahadeva untuk mengusir setan dari tubuhnya. Sahadeva mengatakan bahwa ia tidak mempunyai kesaktian untuk berbuat itu, tetapi sang dewi mendesak dan menjadi marah sekali, sehingga hampir saja ia membunuh Sahadeva. Bhaþàra Guru yang menerima khabar dari Nàrada segera datang untuk membantu Sahadeva. Ia memasuki tubuh Sahadeva sehingga dia lalu dapat melakukan upcara pengusiran roh jahat dengan memusatkan segala tenàga batinnya serta mempergunakan mantra-mantra yang tepat diiringi persembahanbunga dan percikan air suci. Akibatnya sang dewi mendapatkan kembali kecantikan dan kecemerlangannya yang dahulu. Ia mengubah nama penebusnya dijadikan Sudamala ‘yang membersihkan segala noda dan kejahatan’, memberinya senjata-senjata untuk membunuh musuh-musuhnya lalu menganjurkan untuk pergi ke pertapaan Prangalas. Di sana ia akan menyembuhkan pertapa Tambapetra dari kebutaannya dan menikahi kedua puterinya. Kalikà, abdi Ranini yang juga kemasukan roh jahat, mohon anugerah yang sama seperti yang diterima majikannya, tetapi permohonan ini ditolak. Sêmar yang mengikuti Sahadeva memperolok-olok Kalikà sambil sambil melakukan pengusiran roh jahat yang hanya bersifat sandiwara.
    Sudamala mengikuti petunjuk Umà dan menuju Prangalas; di sana ia membebaskan Tambapetra dari kebutaannya dengan suatu upacara pensucian, yang sama seperti dilakukan sebelumnya, lalu menikahi kedua putri itu, Padapa dan Soka. Dalam pada itu Sakula tiba di pekuburan untuk mengikuti saudara kembarnya k alam maut. Setelah diberitahu oleh Kalikà apa yang telah terjadi ia menuju Pangralasa juga; disana Sudamala memberikan Soka, yang lebih muda di antara kedua istri itu, kepada Sakula. Bersama-sama mereka pulang untuk membantu saudara-saudaranya yang terlibat dengan pertempuran seru dengan pasukan makhluk-makhluk jahat yang dipimpin oleh Kalàntaka dan Kalanjaya. Kedua makhluk itu dibunuh oleh Sudamala. Mereka memperoleh kembali wujudnya semula sebagai makhluk-makhluk surgawi dan mengucapkan terima kasih kepada Sudamala yang telah membebaskan mereka daeri kutukan itu.


    Bila kidung Sudamala dapat dibandingkan dengan cerita wayang, yang kita kenal sekarang, maka kemiripan dalam ceritanya cukup menyolok. Teman Sahadeva sama dengan Sêmar yang dikenal dari wayang purwa, dan tidak hanya karena namanya sama. Ia memiliki sifat-sifat khas seperti layaknya seorang punakawan; dalam kisah-kisah epos Jawa Kuno mereka tidak muncul di tengah-tengah rekan-rekan yang mengitari para tokoh, namun kelihatan pada relief-relief dari jaman Majapahit. Sampai sekarang ini dalam repertoar wayang kita menjumpai lakon-lakon ruwat atau cerita-cerita yang dipentaskan untuk menghapus suatu kutukan jalau marabahaya yang menghancam atau mengimbangi kekuatan jahat yang muncul pada`peristiwa-peristiwa atau situasi-situasi tertentu.


    Kisah Sudamala dapat disebut sebuah lakon ruwat dalam bentuk kidung. Bahwa fungsi kidung ini sama dengan sebuah lakon ruwat jelasnya dari baris-baris terakhir; disana pengarang mengatakan, bahwa mereka yang mendengarkan atau membaca kidung ini akan dibebaskan (kalukat) dari mara bahaya dan kemalangan. Dengan demikian ajaran teologi yang di kandung dalam susastra ini adalah teologi pembebasan, yakni membebaskan manusia dari belenggu keduniawian.

    BalasHapus
  17. Meike Wulandari15 April 2009 23.11

    Meike Wulandari mengatakan...

    Meike wulandari
    2102408116
    rombel 4

    PROSA CALON ARANG

    I. Calon Arang membuat tulah di negeri Daha

    1. Adalah pemimpin di Daha. Tentram olehnya memerintah; damai negeri pada pemerintahannya. Maharaja Erlangga gelarnya, sangat baik budi.

    Adalah seorang janda, tinggal di Girah, Calon Arang namanya. Beranak perempuan satu bernama Ratna Manggali, sangat cantik rupanya. Lama tidak ada orang yang melamarnya. Semua orang di Girah, apalagi di Daha, tidak ada orang di daerah pinggiran, tidak ada yang berani melamar anak si janda itu yang bernama Ratna Manggali di Girah. Oleh karena terdengar oleh negeri, bahwa beliau (janda) di Girah itu melakukan yang cemar. Menjauhlah orang-orang melamar Manggali.

    Maka berkata si janda itu: "Aduh, ambillah anakku karena tidak ada orang yang melamar dia, cantiklah rupanya, bagaimana (sampai) tidak ada yang menanyai dia. Marah juga hatiku oleh (hal) itu. Aku akan membaca bukuku; jika aku sudah memegang buku itu, aku akan menghadap Paduka Sri Bhagawati; aku akan meminta anugerah untuk binasanya orang-orang senegeri."

    Setelah dia memegang sastra itu, datanglah dia ke tempat pembakaran mayat, memintalah dia anugerah kepada Bathari Bhagawati, diiringi oleh semua muridnya. Demikianlah nama-nama siswa itu: Weksirsa, Mahasawadana, Lende, Guyang, Larung, Gandi. Mereka itulah yang mengiringi Janda Girah, bersama-sama menarilah di tempat pembakaran mayat. Datanglah Paduka Bhatari Durga bersama semua tentaranya, ikut bersama-sama menari. Memujalah yang bernama Calon Arang kepada Paduka Bhatari Bhagawati, berkatalah Bhatari: "Aduh, engkau Calon Arang, apa maksudmu datang kepadaku, sehingga engkau disertai oleh para muridmu semua untuk menyembahku?"

    2. Berkatalah janda itu menyembah: "Tuan, anakmu ingin meminta binasanya orang seluruh negeri, demikianlah maksudku."

    Menjawablah Bhatari: "Aku memberi, tetapi jangan sampai ke tengah , (supaya) raja besar tidak marah kepadaku."

    Patuhlah janda itu, berpamitan menyembahlah dia kepada Bhatari Bhagawati. Calon Arang diiringi oleh semua muridnya menari di Wawala selama tengah malam. Berbunyilah Kamanak-Kangsi , mereka bersama-sama menari. Setelah selesai menari, pulanglah ke Girah sambil bersorak-sorailah sesampainya di rumah mereka.

    Tidak lama kemudian, tulah menimpa orang-orang seluruh desa (daerah), sehingga banyak yang mati. Berangsur-angsur dimusnahkan. Calon Arang tidak berkata inilah saya.

    Maka tersebutlah Sang Pemimpin Daha, diperhadapkanlah dia di tempat duduk yang tinggi, Sri Maharaja Erlanggha.

    Memberitahukanlah patih, jika rakyatnya banyak yang mati, tulahnya panas-dingin (panas-tis). Menulahi satu hari dua hari kematian. Terlihat menyembah, Janda Girah itu, yang bernama Calon Arang, menari di Wawalu bersama semua muridnya. Banyak orang melihatnya. Demikianlah kata patih itu, semua datang dihadapannya, bersama-sama meninggikan dan mematuhi apa yang dikatakan patih.

    Berkatalah Sang Prabhu: "Hai, pegawaiku, cederai dan bunuhlah Calon Arang olehmu, jangan engkau sendiri, sengkau ditemani pegawai (lain)."

    3. Berpamitanlah pegawai itu menyembah kaki Sang Prabhu: "Mohon ijin hamba untuk membinasakan Janda Girah." Pergilah pegawai itu. Tanpa berkendaraan, segera pergi ke Girah, pegawai itu menuju ke rumah Calon Arang ketika orang sedang tidur; tidak ada orang yang dalam keadaan bangun. Segera pegawai itu mengambil rambut janda itu, menghunus kerisnya ingin memotong si janda; beratlah tangan pegawai itu, terkejut dan bangunlah Calon Arang, keluarlah api dari mata, hidung, mulut dan telinganya, menyala-nyala menghanguskan pegawai itu. Salah satu dari pegawai itu mati. Yang lainnya menjauh cepat meninggalkan pegawai itu. Tanpa berkata-kata jalannya di jalan, segera pergilah ke kerajaan, memberitahukanlah pegawai itu tentang sisa kematian itu: "Tuan, tak berguna pegawai Paduka Sri Parameswara yang satu mati oleh mata Janda Girah itu. Keluar api dari perut, menyala menghanguskan pegawai Paduka Bhatara."

    Berkatalah Sang Prabhu: "Sedih aku jika demikian pemberitahuannya." Seketika itu juga pulanglah Sang Prabhu dari ruang penghadapan (Balairung). Sang Raja tidak berbicara. Berkatalah Janda di Girah. Bertambah besarlah kemarahannya oleh kedatangan pegawai itu, oleh utusan hamba Sang Prabhu. Berkatalah Calon Arang berseru kepada murid-muridnya mengajak datang ke tempat pembakaran mayat; dipegangnyalah lagi sastra (buku) itu. Setelah memegang mantra tersebut, diiringilah oleh para muridnya semua, datanglah di tepi kuburan tempat yang rindang oleh kepuh dililit kegelapan, daunnya rindang mengurai sampai tanah di bawahnya merata. Janda Girah itu duduk diterima oleh para muridnya semua. Memberitahukanlah Lende berkata: "Hai, Sang Janda, apa sebabnya tuan seperti akan memarahi Sang Pembawa Bumi? Jika demikian lebih baik mempunyai maksud kelakuan baik, menyembah kepada Sang Maharesi sebagai penunjuk jalan ke surga."

    Maka berkatalah Larung: "Apa kesedihanmu kepada duka Sang Prabhu? Sebaliknya dipercepatlah perbuatan ke tengah."

    Bersama-sama meninggikanlah mereka semua akan perkataan Larung, mengikutlah mereka kepada Calon Arang, kemudian berkatalah dia: "Sangat benar olehmu, Larung. Bunyikanlah Kamanak dan Kangsi kalian, sekarang menarilah masing-masing, ijinkan aku melihat perbuatan itu satu persatu. Sekarang mungkin sampai di perbuatan itu, kalian menarilah."

    4. Seketika itu juga menarilah Guyang, tariannya mendekap-dekap, berteriak-teriak, terengah-engah dan berbusana; matanya melirik, menoleh kiri kanan.

    Menarilah Larung; gerakannya seperti macan yang ingin menerkam, matanya kelihatan memerah, benar-benar telanjang. Rambutnya berjalan cepat ke depan.

    Menarilah Gandi; melompat-lompatlah olehnya menari; rambutnya berjalan cepat ke pinggir. Memerah matanya kelihatan seperti buah janitri.

    Menarilah Lende; tariannya berjingkat-jingkat dengan kakinya. Tingkah lakunya menyala-nyala seperti api hampir menyala. Berjalan cepat rambutnya.

    Menarilah Weksirsa; menunduk-nunduk olehnya menari, menoleh-noleh; matanya terbuka tanpa berkedip. Rambutnya berjalan cepat ke samping, benar-benar telanjang.

    Mahisawadana menari berkaki satu; ia menyungsang menjulur-julur lidahnya; tangannya ingin memeras.

    Senanglah Calon Arang setelah mereka bersama-sama menari. Membagi tugaslah dia sesampai di istana . Mereka membagi tugas pergi ke lima daerah. Lende ke selatan, Larung ke utara, Guyang ke timur, Gandi ke barat. Calon Arang ke tengah bersama dengan Weksirsa dan Mahisawadana.

    Setelah mereka berbagi pergi ke lima daerah, Calon Arang datang ke tengah-tengah tempat pembakaran mayat itu, menemui mayat yang mati mendadak di hari ke-5 (kliwon). Dia memberdirikan, mengikat di kepuh, menghidupkan mayat itu, meniup-niupnya; Weksirsa dan Mahisawadana memelekkan mata (mayat itu). Menjadi hiduplah orang itu, sehingga berkatalah mayat itu: "Siapa tuan yang menghidupkan aku? Betapa besarnya hutangku; tak tahu aku membalasnya. Aku menghamba kepada tuan. Tuan, lepaskanlah aku dari pohon kepuh ini, aku ingin berbakti dan menghormat."

    Berkatalah Weksirsa: "Engkau sangka (bahwa) engkau hidup? Biarlah aku memarang lehermu dengan parang." Seketika itu juga diparanglah lehernya dengan parang, melesat leher mayat yang dihidupkannya itu. Terbanglah kepalanya; sampai dikeramaskan dengan darah oleh Calon Arang; menggumpallah rambutnya oleh darah. Ususnya menjadi kalung dan dikalungkannya. Badannya diolah dipanggang semua, menjadi korban para Bhuta (raksasa) yang berada di tempat pembakaran mayat, setelah itu Paduka Bhatari Bhagawati menyetujui (menerima) yang dikorbankan itu.

    5. Keluarlah Bhatari dari kahyangannya, kemudian berkatalah dia kepada Calon Arang: "Aduh, anakku Calon Arang, apa maksudmu memberikan korban kepadaku, (memberikan) bakti hormat? Aku menerima penghormatanmu."

    Berkatalah Janda Girah itu: "Tuan, Sang Pemimpin Negeri membuat duka anakmu, aku memohon belas-kasih Bhatari, supaya Paduka Bhatari senang untuk membinasakan orang-orang senegeri, sampai ke tengah sekalian."

    Berkatalah Bhatari: "Baik, aku mengabulkan, Calon Arang, namun engkau jangan lengah."

    Berpamitanlah janda Girah itu menghormat Bhatari. Segera pergi menarilah dia di perempatan.

    Terjadilah tulah yang sangat hebat di seluruh negeri itu; terjadi tulah satu malam dua malam, sakitnya panas-dingin, orang-orang mati. Mayat-mayat yang ada di tanah lapang bertumpuk-tumpuk, yang lainnya ada di jalan, ada juga yang tidak terpelihara di rumahnya. Srigala-srigala meraung (membaung) memakan mayat. Burung-burung gagak berteriak-teriak tak putus-putusnya memakan mayat, bersama-sama mencucuk (memakan) mayat. Lalat-lalat beterbangan kian-kemari di rumah meraung-raung, rumah-rumah tak berpenghuni. Yang lainnya orang-orangnya pergi ke tempat jauh, pergi mengungsi ke daerah yang tidak terkena penyakit. Orang-orang yang sakit dipikul, yang lainnya ada yang mengasuh (momong) anaknya dan membawa barang-barang.

    Para Bhuta yang melihat berseru: "Jangan kalian pergi, desa (daerah) kalian sudah aman, tulah dan penyakit telah selesai, pulanglah kalian ke sini, hiduplah kalian di sini." Setelah itu banyak kematian orang-orang di jalan yang diambilinya. Para Bhuta itu berada di rumah tak berpenghuni bersenang-senang, tertawa-tawa, bersenda-gurau, memenuhi jalan dan jalan besar.

    Mahisawadana memasuki rumah berjalan ke dinding, membuat tulah bagi orang serumah. Weksirsa memasuki tempat petiduran orang, berjalan bolak-balik, membuka rintangan/pintu, meminta korban darah mentah dan daging mentah: "Itu kesukaan saya, jangan lama-lama", katanya. Tidak ada orang yang mati itu melawan tulah dan tingkah laku para Bhuta itu.

    [sunting] II. Calon Arang terbinasakan oleh Tuan/Empu Bharadah

    1. Berjalanlah seorang pendeta ke tengah-tengah tempat pembakaran mayat, bertemulah dia dengan Weksirsa dan Mahisawadana, murid-murid Calon Arang. Setelah melihat Sang Pendeta itu, datang menciumlah murid-murid itu, dan menyembahnya, yaitu Weksirsa dan Mahisawadana.

    Berkatalah Sri Bharadah: "Hai orang-orang yang menyembahku, siapakah nama kalian; aku tidak tahu, beritahu aku."

    Berkatalah Weksirsa dan Mahisawadana: "Tuan, kami Weksirsa dan Mahisawadana menyembah telapak kaki tuan. Murid-murid Sang Janda Girah. Kami meminta anugerah kepada Sang pendeta, lepaskanlah kami dari siksaan."

    Berkatalah sang guru pendeta itu: "Tidak bisa kalian lepas dari siksaan dahulu jika Calon Arang belum dilepaskan dari siksaan dahulu. Berangkatlah kalian ke Calon Arang, berkatalah kalian, bahwa aku ingin berbicara."

    Berpamitan menyembahlah Weksirsa dan berlutut, juga Mahisawadana. Nampak dari kejauhan Calon Arang sedang di kahyangan di tempat pembakaran mayat, baru saja pulang Paduka Bhatari Bhagawati dari percakapannya bersama dengan Janda Girah. Baru saja selesai Bhatari berkata: "Hai, Calon Arang, jangan lengah, akan surup/redup/terbenam (kalah) engkau." Demikianlah kata Bhatari.

    Setelah itu datang Weksirsa dan Mahisawadana berbicara dahulu kepada Calon Arang; katanya jika Sang Pendeta Bharadah datang. Kata Calon Arang: "Hai, katanya Yang Mulia Bharadah datang; aku akan menemui/menjemput dia." Pergilah Calon Arang, datanglah menerima Sang Mahasakti, menjemput Sang Pendeta, kata Calon Arang: "Tuanku, bahagialah Sang Pendeta yang kumuliakan, Sang Pendeta Bharadah, aku meminta anugerah kata-kata yang baik (rahayu)."

    Kata Sang Pendeta: "Lihatlah, aku memberi pengarahan pada tuntunan yang baik; janganlah engkau membuat sakit, yang mulia. Aku diceritai cerita sedih tentang engkau melakukan hal yang jelek membuat manusia banyak yang mati, membuat bumi langka/sepi, membuat dukanya bumi dan membunuh semua rakyat. Betapa banyak engkau membawa mala-petaka (membuat dosa) bagi bumi. Banyaklah orang-orang yang terkena tulah. Keterlaluan engkau membawa mala-petaka, membunuh orang-orang senegara. Tidak dapat engkau terlepas dari siksaan jika engkau sangat bermusuhan. Oleh karena itu, jika belum tahu jalan keluar untuk membebaskan diri, masakan engkau dapat lepas dari siksaan."

    Berkatalah Calon Arang: "Permusuhan sangat besar dosaku pada rakyat; oleh karena itu lepaskanlah aku dari siksaan, hai Sang Pendeta, kasihanilah aku."

    Berkatalah Sang Pendeta: "Tidak dapat aku melepaskan engkau."

    2. Berkatalah Calon Arang, marah, menjadi besar dukanya Janda Girah itu: "Lihatlah, aku akan membuat gangguan besar kepadamu, jika engkau tidak tahu melepaskan aku. Engkau enggan melepaskan aku dari siksaan, lihatlah, aku sama sekali menghilangkan dosa. Aku akan meneluh engkau, hai Resi Bharadah." Kemudian menarilah Calon Arang berbalik mengurai rambutnya, matanya melirik, tangannya menunjuk Sang Pendeta: "Matilah engkau nanti olehku, Pendeta Bharadah. Jika engkau tetap tidak tahu, hai Yang Mulia, pohon beringin besar ini, aku teluh, lihatlah, Empu Bharadah." Seketika itu juga hancurlah sangat pohon beringin karena mata Calon Arang.

    Berkatalah Sang Pendeta: "Lihatlah, hai Wanita Yang Mulia, datangkanlah teluhmu lagi yang besar, masakan aku akan heran."

    Kemudian semakin besarlah olehnya meneluh, keluarlah api dari mata, hidung, telinga, mulut, menyala-nyala membakar Sang Pendeta. Sang Pendeta tidak terbakar, damailah olehnya memperhatikan hidupnya rakyat. Berkatalah Sang Maha Sakti: "Tidak mati oleh teluhmu, hai Wanita Yang Mulia; aku tidak pergi dari hidup (mati). Semoga engkau mati oleh karena sikapmu itu." Datanglah kematian Calon Arang. Menjawablah Sang Pendeta Bharadah: "Aduh, aku belum memberi pengarahan tentang kelepasan kepada Wanita Yang Mulia. Lihatlah sungguh hai Wanita Yang Mulia, engkau hidup lagi." Datanglah kehidupan Calon Arang: marah memaki-maki Calon Arang, katanya: "Aku sudah mati, mengapa tuan menghidupkan aku lagi?"

    Menjawablah Sang Pendeta "Hai, Yang Mulia, aku membuat hidup lagi kamu, (karena) aku belum memberi pengarahan kepada engkau tentang kelepasanmu dan menunjukkan surgamu, serta menghilangkan rintanganmu."

    Berkatalah Calon Arang: "Aduh, berbahagia jika demikian kata Sang Pendeta, lepaskanlah aku dari siksaan; aku menyembah pada telapak-kakimu, Sang Pendeta, jika engkau melepaskan aku dari siksaan." Meminta dirilah Calon Arang kepada Sang Pendeta, diperkenankan dia mati yang sempurna (kelepasan) dan ditunjukkan surganya. Setelah Sang Pendeta Bharadah memberi pengarahan, Calon Arang menyembah kepada Sang Pendeta. Kata Sang Pendeta: "Lihatlah, lepaslah engkau, hai Wanita Yang Mulia." Kematian Calon Arang menjadi lepas dari penderitaan, dibakar, roh Janda Girah oleh Sang Kekasih.

    Maka Weksirsa dan Mahisawadana bersama-sama turut selamat, berjalan menjadi Wiku oleh Sang Pendeta, oleh karena tidak dapat ikut kelepasan bersama dengan Janda Girah. Bersama-sama dijadikan Wiku oleh Sang Pendeta. Demikianlah cerita tentang Calon Arang.
    Diperoleh dari "http://id.wikisource.org/wiki/Calon_Arang"
    Kategori: Prosa
    2009 April 2 06:24

    BalasHapus